BLEACH milik Tite Kubo

.


Aneh. Sangat aneh. Itu yang dipikirkan warga sekolah. Sudah 2 minggu berlalu setelah Rukia menghentikan aksi bolosnya. Hari pertama gadis itu kembali ke sekolah tidak menghasilkan keributan apapun. Itu aneh yang pertama. Aneh selanjutnya yang jauh lebih aneh lagi, meski esoknya Ichigo dan Rukia tetap bertengkar tapi ada yang berbeda.

Pertengkaran mereka kali ini lebih kalem. Selain itu, mereka bahkan sering terlihat ke kantin bersama-sama. Makan di satu meja tanpa ada usaha saling membunuh. Oke, saling membunuh memang dilebih-lebihkan. Tapi mengingat sejauh ini mereka bahkan tidak betah berada di satu kelas dan tiba-tiba makan berdua adalah suatu keajaiban.

Tidak hanya itu, Ichigo dan Rukia pun mulai sering terlihat pulang berdua! Jalan kaki, kok. Tidak pegangan tangan atau saling rangkul juga. Cuma jalan biasa. Tapi tetap saja.

Banyak yang berpikir Ichigo dan Rukia sudah berbaikan dan perlahan akan membuat suasana sekolah menjadi aman dan damai. Sehat sentosa. Namun, tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa ini adalah pertanda buruk. Pikir mereka mungkin akan terjadi badai, tornado, gunung meletus, kiamat atau apa lah.

"Wah, kalian sudah tidak musuhan lagi, nih?" Tanya Kanō suatu ketika setelah melihat Rukia kembali dari kantin membawa camilan juga minuman kotak untuk memakannya bersama Ichigo sambil mengobrol (ya, mengobrol!) diiringi sedikit cekcok yang tidak pernah bertahan lama.

Ditanya seperti itu, lantas keduanya saling tatap sebelum menjawab, "Kami tidak pernah musuhan, kok."

Seisi kelas yang mendengarnya merasa seperti dijatuhi batu seberat 10 ton dan dengan kompak membatin, "Tidak pernah musuhan GUNDULMU!"

Sisi baiknya, sekolah tidak perlu segaduh kemarin-kemarin.

.

Beberapa kali Ichigo ikut ke rumah sakit menjenguk Hisana (yang tentunya sudah bangun dan kata dokter sudah sedikit membaik) bersama Rukia sepulang sekolah. Kunjungan pertamanya mengharuskan Ichigo untuk mengucek mata selang 1 menit selama 1 jam. Wanita itu nyaris sama persis dengan Rukia. Hanya saja dengan wajah yang lebih dewasa, sikap lemah lembut dan anggun. Juga dengan pipi yang lebih tirus dan kulit yang lebih pucat karena sakit.

Tapi mau sebagaimanapun miripnya mereka, Ichigo tidak sampai salah membedakan. Katanya dalam hati, "Tentu saja! Rukia yang segarang itu mana bisa membuat orang mengira dia Kak Hisana! Tidak mungkin, lah. Ha!"

Tidak sadar beberapa saat lalu dirinya bingung kenapa Rukia ada dua.

"Ichigo-kun teman pertama Rukia yang aku temui hahaha. Aku senang sekali bisa berkenalan dengan temanmu, Rukia-chan. Lain kali perkenalkanlah teman-temanmu yang lain," ujar Hisana suatu waktu. Alamak, suaranya tidak pernah membuat Ichigo tidak berdebar saking merdunya. Jika Hisana adalah seorang penyanyi, Ichigo rasa dia akan menjadi pengagum nomor satu wanita itu. Bukan berarti Ichigo menyukainya dalam konteks romantis. Sungguh, tidak. Karena menurut Ichigo, siapapun juga akan menyukai suara Kak Hisana. "Pantas saja Nii-sama bisa takluk begitu!"

Ya, meski tidak tahu kenapa, Ichigo juga memanggil Byakuya dengan sebutan Nii-sama. Rukia benar-benar menularkan virus Nii-sama dengan baik.

Bukan hanya Ichigo yang mengunjungi Hisana, sebaliknya Rukia pun terkadang main ke rumah Ichigo. Berkenalan dengan Karin dan Yuzu, adik kembar Ichigo dan juga ayah cowok itu. Paman Isshin sangat baik. Pria itu langsung membuat Rukia merasa ada di rumah … dengan seorang ayah sungguhan.

Kendati Paman Sōjun menjadikan Rukia sebagai salah satu anggota keluarga Kuchiki, frekuensi pertemuan mereka yang tidak seberapa membuat Rukia masih segan untuk benar-benar menganggapnya ayah. Pria itu bahkan terlampau sering mengingatkan Rukia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan paman karena Rukia kerap lupa dia harusnya memanggil Paman Sōjun dengan sebutan Ayah (bahkan setelah sekian lama Rukia menyandang nama Kuchiki, gadis itu tetap belum terbiasa).

Tapi Paman Isshin memberi kesan yang berbeda bahkan dari pertama kali Rukia mengunjungi rumah Ichigo. Rukia tidak pernah tahu bagaimana rasanya bersama ayah kandung karena dia bahkan belum bisa mengingat apapun saat ayahnya meninggal. Hanya saja, jika ayah kandungnya benar-benar masih hidup, Rukia pikir rasanya pasti setidaknya sehangat rangkulan Paman Isshin. Atau lebih.

Pernah suatu kali entah pada kunjungan Rukia yang ke berapa di rumah keluarga Kurosaki terjadi semacam keributan kecil yang asalnya bukan karena pertengkaran rutin antara Ichigo dan Rukia. Sore itu tanpa diundang maupun memberi kabar, teman-teman laki-laki Ichigo yang sekelas dengan mereka datang begitu saja.

Benar-benar sebuah kunjungan yang mengejutkan. Masalahnya, waktu itu Rukia sedang tengkurap di kasur dalam kamar Ichigo sambil menggambar Chappy di buku tugas Ichigo. Tentu saja cowok itu kesal. Membuat mereka rebutan buku di kasur. Sampai tiba-tiba pintu kamar Ichigo menjeblak terbuka dan masuk segerombolan anak laki-laki yang berteriak, "ICHIGOOOOO~~"

Saking kagetnya, Rukia dan Ichigo yang sedang rebutan buku sampai terlonjak. Berakhir dengan Rukia yang terjungkal ke sudut kasur bagian dalam. Kepalanya bahkan terantuk dinding dengan keras. Dan Ichigo nyaris menindihnya. Tapi jika dilihat dari arah pintu, posisi mereka benar-benar membuat salah paham. Uryū Ishida lah yang berteriak, "APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

Lantas mereka berbondong-bondong menggotong Rukia dan menyeret Ichigo ke ruang tengah. Uryū, Renji, Tōshirō, Sado, Ikkaku dan Ashido berdiri membelakangi Rukia seolah melindungi gadis itu dan bersamaan memelototi Ichigo.

"Apaan, sih! Aku tidak melakukan apa-apa! Mana nafsu aku sama Cebol itu! Tjih, dia bahkan lebih rata dariku!"

Rukia merasakan dahinya berkedut. Lantas dia melongok di antara kaki-kaki teman kelasnya dan mengepalkan tinju dan berusaha meraih Ichigo namun tertahan kaki-kaki lain dan mulai mengomel, "Heh! Kau bilang apa tadi? Jangan asal bicara, ya! Kumakan kau!"

Keenam teman mereka akhirnya ikut ramai juga. Antara sibuk menahan Rukia yang melongok dari bawah mereka, menahan Ichigo dan menahan diri karena kaki mereka terasa geli. Bahkan Isshin Kurosaki yang sudah pulang pun tidak dapat meredam keributan sampai Karin berteriak marah dan menendang mereka semua (bahkan juga ayahnya) keluar rumah.


A/N:

maaf kalau ada kesalahan dan gak jelas begini. saya lagi buru-buru jadi bingung mau nanggapin review (tapi saya baca kok). makasih untuk segala bentuk dukungan kalian :)