Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.

Warning: OOC, lebayness, sinetroness, anehness, gajelasness, ganyambungness, dll.


Ginny mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja Gryffindor di Aula Besar. Harry dan Ron didepannya mengamatinya heran dengan mulut penuh makanan. Ginny menatap mereka kesal.

"Kau kenapa sih?" tanya Harry setelah menelan makanan dimulutnya.

Gadis yang juga adalah pacarnya itu langsung mendelik kearahnya, "Kalian tidak bertanya-tanya kenapa Hermione tidak turun untuk makan malam?"

Dua cowok itu sontak menggeleng bersamaan. Ginny makin geram.

"Kalian tidak ingat, dengan siapa dia diasrama Ketua Murid?"

Seolah batu seberat 1 ton jatuh diatas kepala Harry dan Ron. Hampir saja Ron menyemburkan makanan dimulutnya kalau saja Lavender tidak menahannya.

Waktu makan malam beberapa hari yang lalu, Professor McGonagall mengumumkan adanya Ketua Murid baru yaitu Draco Malfoy. Harry, Ron, dan Ginny menganga dan melihat kearah Hermione yang hanya mengangkat bahu. Jelas sekali aura permusuhan mereka masih ada meskipun kata maaf sudah terucap dari masing-masing.

"Bilang pada kami secepatnya jika si Malfoy itu bertindak macam-macam jika ia sekedar tidak memperbolehkanmu turun dan bergaul bersama kami lagi." Ujar Ron dengan serius waktu itu pada Hermione yang langsung disambut anggukan Harry dan Ginny. Hermione hanya mengangguk pelan mengiyakan.

"Lalu bagaimana?" tanya Lavender ikut menyahut diantara keheningan mereka, "Apa kita keasrama mereka sekarang?"

Ron mengangguk-angguk sambil menahan kesal, "Sudah jelas kan! Si Malfoy itu melarang Hermione untuk turun makan malam bersama kita!"

"Jangan menuduh dulu, Ron!" adiknya berhasil menahan gerakan-akan-berdiri Ron.

Tapi Ron sudah terlanjur kesal, "Kita hampiri saja mereka sekarang! Buat apa menunggu lagi?"

Ginny menoleh ke arah Harry yang menggeleng, "Kita lihat besok saja dulu."

.

Lavender Brown bersembunyi dibalik koridor didekat ruang asrama Ketua Murid pagi hari esoknya. Ia ikut penasaran juga karena Harry, Ron, dan Ginny benar-benar terlihat kesal. Ia pun menyanggupi saat mereka bertiga menugasinya memata-matai. Dan itulah yang ia lakukan sekarang.

Ia terhenyak saat dua orang memanjat keluar dari lukisan asrama Ketua Murid. Hermione dan Draco tentu saja. Mereka sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu sampai tertawa-tawa. Draco membantu Hermione menuruni lukisan dan menatap Hermione yang sedang berbicara.

Lavender mengernyitkan dahinya. Ia sering melihat tatapan seperti tatapan Draco pada Hermione. Tapi dimana? Kenapa pula tatapan itu seolah familiar sekali dimatanya? Ia terbelalak saat melihat Draco meraih tangan Hermione dan menggandengnya menuju Aula Besar. Dan yang digandeng, seolah tak masalah dan malah gadis itu tersenyum malu-malu. Setelah mereka menghilang di belokan, Lavender mengikutinya.

Pandangan mata Ginny, Harry, dan Ron menyambut Lavender yang baru datang ke Aula Besar dengan penasaran. Lavender bisa melihat Hermione duduk dibangku depan mereka.

"Darimana saja kau, Lav?" tanya Ginny berpura-pura.

Lavender membalas acting Ginny dengan cukup tenang, "Dari kamar mandi. Oh, aku merasa agak sedikit mual hari ini." ia lalu menjatuhkan diri disisi bangku sebelah Hermione.

"Memangnya kenapa?" kali ini Hermione bertanya dengan was-was sambil menoleh kearah Lavender disebelahnya. Ginny mendelik kearah Lavender menyiratkan agar ia membuat alasan yang masuk akal.

"Oh kau tidak tahu, semalam ada makanan yang tidak cocok untuk lambungku. Dan aku baru ingat tadi pagi." Jawab Lavender sempurna. Harry dan Ron menghembuskan napas lega terlalu berlebihan sehingga Hermione menoleh.

"Ada apa sih?" tanya si Ketua Murid heran dengan kelakuan aneh teman-temannya. Dan makin heran lagi saat mereka menggeleng bersamaan dengan gerakan yang sama.

Ginny mengutuki sikap pacar dan kakaknya itu, "Tidak ada apa-apa, Mione. Kau tenang saja. Paling mereka hanya sedikit tegang dengan kelas ramalan hari ini. iya kan Ron? Harry?" Dan Ginny benar-benar ingin mengutuk mereka berdua saat mereka kembali melakukan gerakan bersamaan. Mereka sama-sama mengangguk.

"Okeee…" Hermione masih menatap mereka dengan kening berkerut lalu memutuskan untuk beranjak menuju kelas Telaah Muggle. Ia tidak tahu bahwa 4 pasang mata mengikuti gerakannya menjauh dan serentak menoleh kearah Lavender. Meminta laporan hasil mata-mata.

"Jadi bagaimana?" tanya Ginny penasaran. Lavender berdeham dan mulai menjelaskan semua yang ia lihat tadi. Dari mulai mereka keluar dari asrama Ketua Murid, tawa mereka, tatapan aneh Draco pada Hermione, sampai ekspresi muka Hermione saat sang pangeran Slytherin menggandeng tangannya.

"Oh tidak!" Ginny menyandarkan kepalanya pada Harry disebelahnya. Terlihat menyesal setelah mendengar semua kata-kata Lavender, "Mereka…..tidak mungkin….." kalimat Ginny terhenti dan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Harry hanya mengelus rambut belakang Ginny sambil menatapnya sayang.

"AAAAAHHHHH!" Lavender memekik cukup keras sampai membuat beberapa anak diantara mereka menoleh kearahnya. Tapi gadis itu sama sekali tidak peduli, ia malah sangat menggebu-gebu untuk mengemukakan sesuatu pada Harry, Ron, dan Ginny.

"Ada apa sih, Lav?" tanya Ron.

Lavender menunjuk-nunjuk kearah Harry dengan kata-kata tertahan, "Tatapanmu….pada….Ginny….tadi…"

"Apa?" Harry kini cukup ngeri dengan jari telunjuk Lavender yang terus-menerus menunjuk-nunjuknya. Sementara Ginny mulai penasaran.

"…sama persis seperti tatapan Draco pada Hermione yang kulihat tadi pagi. Yang tidak bisa ku definisikan!" suara berbisik Lavender terdengar seperti petir ditelinga mereka bertiga.

"Tidak….mungkin…." Sekarang Ron lah yang berbicara terbata-bata, "INI benar-benar mustahil!"

Tatapan mereka menerawang, otak mereka merencanakan hal-hal yang mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya.

.

"AW!" Lavender mengerang dilantai didepan ruang ramalan saat Blaise Zabini keluar.

Blaise kaget, "Oh, ada apa Brown?"

"Oh, Blaise." Lavender memasang tampang kesakitan yang luar biasa, "Kakiku terkena pecahan kaca. Kau bisa lihat?"

Cowok Slytherin itu menunduk menatap kaki Lavender yang berdarah berkat sayatan kaca yang dibuat-buat oleh Lavender. Luka itu terlihat sangat meyakinkan sehingga Blaise mempercayainya, "Aku antar kerumah sakit? Kau bisa berjalan?"

Lavender mengangguk pelan lalu Blaise memapahnya untuk berjalan menuju rumah sakit. Sementara itu..

"Sendirian, Malfoy?"

Harry dan Ron menghadang jalan Draco yang hendak keluar dari ruang ramalan yang sudah sepi, ia tidak tahu bahwa Blaise sudah disabotase oleh Lavender. Draco mengernyit. Seolah tahu ada yang tidak beres.

"Ada apa?"

Sebelum Draco menyadari apa yang terjadi, ia sudah jatuh terjerembap dilantai dan nyaris saja kepalanya membentur bangku. Ron telah memukul wajahnya. Ia mencoba bangkit dan menggeram kearah si rambut merah.

"Apa-apaan…." Sebelum tangan Draco melayang kewajah Ron, Harry menahannya dengan tangannya yang bebas.

"Tak perlu membalasnya, Malfoy. Kau pantas menerimanya."

Draco mendelik kearahnya lalu melepaskan pegangan tangan Harry, "Dan jelaskan ada apa."

Ron yang luar biasa marah dan kesal langsung menyahutinya, "ADA APA KATAMU? JAUHI HERMIONE!"

Draco yang tadinya heran lalu mengangguk-angguk mengerti maksud kemarahan Ron dan Harry yang tiba-tiba. Ia tersenyum menyeringai namun hal itu malah makin menyulut kemarahan Ron yang memukulnya lagi. Dan tak bisa dihindari, mereka bertigapun terlibat dalam perkelahian yang sengit sampai Ginny tiba-tiba datang menengahi mereka.

"CUKUP!" teriak Ginny.

Mereka berhenti menghentikan gerakan saling pukul mereka yang kini menyebabkan bekas-bekas merah yang nantinya akan menjadi lebam di wajah masing-masing. Ginny menarik Harry dan Ron menjauh dari Draco. Gadis itu menatap mereka satu persatu dengan geleng-geleng kepala tak percaya.

"Kenapa harus pakai acara pukul-pukulan segala sih?" Ginny kini sudah mirip seperti Mrs. Weasley saat sedang murka.

"Bukannya kau sendiri yang bilang bahwa kita harus membereskan hal ini?" ujar Ron sambil menunjuk kearah Draco. Ginny menatap ketiganya bergantian sambil terus menggelengkan kepalanya tak habis pikir.

"Tapi bukan begini caranya Ron!" gadis berambut merah itu pergi meninggalkan mereka bertiga dengan wajah yang amat kesal sementara para cowok itu mengaduh pada luka di wajah mereka.

"Jauhi Hermione!" Geram Ron pada Draco sebelum berlalu mengikuti adiknya.

.

Hermione tidak bertemu dengan Draco lagi setelah pagi itu mereka berangkat bersama ke Aula Besar untuk sarapan, apalagi ia memilih untuk tidak beranjak dari perpustakaan di jam makan siang. Ia menengok berkali-kali kearah meja Slytherin yang berada dipojok, mencari keberadaan si Ketua Murid laki-laki.

"Kau cari siapa?" Ginny bertanya pada Hermione yang sedang menoleh kearah pintu Aula Besar dengan wajah was-was.

Gadis itu menatap Ginny dengan pandangan yang aneh, "Oh, tidak. Hanya saja daritadi aku tidak melihat Draco. Begitu juga Harry dan Ron. Kemana mereka?"

"Mereka sedang kena hukuman di ruang ramalan." Sahut Ginny enteng. Tentu saja ia berbohong. Tapi akhir-akhir ini ia sudah sangat lihai. Tepatnya sejak bersama-sama berjuang bersama Harry dan Orde.

Hermione hanya mengangguk-angguk.

Malam harinya, Draco tidak kembali ke asrama Ketua Murid.

"Apa ia bermalam di asrama Slytherin?" tanya Hermione dalam hati. Ah! Buat apa juga ia memikirkan cowok itu?

Dan kenapa juga ia jadi sering memikirkan cowok itu?

Hermione menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat saat satu anggapan muncul dibenaknya. Ia memilih untuk keluar dari asrama itu dan pergi berpatroli. Dengan harapan ia mungkin akan bertemu dengan Draco..

.

Lalu pagi hari keesokan harinya,

Draco Malfoy, Harry Potter, dan Ron Weasley menjadi pembicaraan hampir semua anak di Hogwarts. Terutama sang Ketua Murid. Bagaimana tidak, mereka muncul di Aula Besar dengan wajah dipenuhi lebam dan luka membiru. Hermione sempat terdiam saat melihat ketiganya yang kini sudah duduk di meja asrama mereka masing-masing. Ia menatap Harry dan Ron meminta penjelasan.

"Ya, kami bertengkar." Jawab Ron singkat. Hermione membelalakkan matanya.

"A-Apa?"

Ginny memandang sahabatnya it, "Oh, sudahlah Hermione. Bukankah tidak aneh kalau mereka bertengkar? Toh mereka juga tidak pernah akur."

Jantung Hermione seolah lompat dari tubuhnya. Ia merasa terluka. Entah mengapa.

"Kenapa?"

Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hermione saking shocknya. Ia menatap siapa saja yang ada disana. Kembali meminta penjelasan.

"Sudah jelas bukan. Kami tidak suka Malfoy menjadi ketua murid. Apalagi harus berbagi asrama denganmu, Hermione. Kalau perlu, Gryffindor dan Slytherin berperang karena itu."

Penjelasan Ginny justru malah membuatnya tidak percaya. Ada apa? Kenapa? Bukankah setelah jatuhnya Voldemort seharusnya mereka sudah berbaikan? Dan menjalani kehidupan normal tanpa adanya perbedaan..

Lalu kenapa seperti ini?

Hermione tidak kuat, ia lalu beranjak dari bangkunya.

"Kau mau kemana?" tanya Lavender yang hanya dijawab Hermione dengan menunjuk arah kamar mandi perempuan.

Dan disanalah semua tumpah. Gadis itu juga tidak tahu mengapa jadi begini. Dadanya sesak mendengar kenyataan itu.

Teman-teman Gryffindornya tidak menyukai Draco Malfoy menjadi Ketua Murid bersama dirinya.

Ia sesenggukan menahan luka yang menyayat dihatinya.

"Ada apa denganmu, Hermione?" ia benar-benar tak bisa berpikir jernih saat ini. kepalanya pusing, matanya berputar, lalu semua gelap.

.

"Hermione, kau bisa mendengarku?"

Lamat-lamat Hermione mendengar sebuah suara memanggilnya bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Luna?" Hermione sedikit kaget menatap Luna Lovegood sedang berlutut disampingnya, "Sedang apa kau disini?"

"Sedang mencoba membangunkanmu." Jawab Luna polos, "Sekarang sudah jam 10. Baju dan badanmu jadi basah karena kau pingsan dilantai kamar mandi. Sudah jam berapa kau tak sadarkan diri? Apa kau ingat?"

"Pertanyaan yang aneh." Batin Hermione. Tapi beruntung bahwa gadis itu bisa mengingatnya.

"Kira-kira 2 jam mungkin. Aku tidak yakin." Si Ketua Murid mencoba mengubah posisinya menjadi duduk. Luna membantunya.

"2 jam? Oh, kau berarti tidak ikut kelas transfigurasi. Sama sepertiku."

"Oh, Astaga!" Hermione menepuk dahinya lalu beralih pada gadis disampingnya, "Kau sendiri kenapa tidak ikut pelajaran?"

Luna menatapnya dengan mata terbelalak seperti biasa, "Tak usah khawatirkan aku. Aku hanya sedang berkeliling saat aku sadar aku kehilangan banyak waktu karena tangga-tangga itu sungguh tidak bersahabat denganku. Mereka sering mengarahkanku ke lantai yang lebih tinggi."

Mau tak mau Hermione tersenyum sambil berdiri.

"Oh, kau mau kembali ke asrama?"

Hermione mengangguk, "Ya. Asrama Gryffindor." Luna mengangguk-angguk lalu mengantarkan si Ketua Murid ke asrama singa emas.


okaaaayyyyy! after I posted this chapter, I felt like "YEAH!"

maaf kalo chapter ini hampir semua karakter OOC. tadi diatas sudah ada warningnya yaaa :)

aku mohon review dari kalian semua. dan makasih udah mau baca dan kasih review di chapter sebelumnya.

merci :))