Yang pertama kali dilihat Kise saat ia membuka matanya adalah Momoi yang sedang memandangnya dengan mimik wajah khawatir.

"Momocchi?" pandangan Kise masih sedikit berputar. Dan ia merasa sangat asing dengan keberadaannya sekarang. "Dimana .."

"Kau ada didalam tenda, Ki-chan," Momoi menyentuh dahi Kise dengan telapak tangannya. "Kemarin demam mu tinggi sekali. Tapi syukurlah, sepertinya sekarang sudah menurun."

"Apa yang terjadi ?" Kise menatap Momoi, tapi gadis itu malah menatapnya seolah-oleh ia terkejut.

"Kau tidak ingat apa pun?"

"Samar-samar," Kise memijat kepalanya. "Terakhir yang kuingat, pandanganku berputar, lalu aku tertidur di punggung Aominecchi ... bukan?" tanya Kise, suaranya terdengar ragu-ragu.

"Lebih tepatnya kau pingsan," kata Momoi. "Kau tak sadarkan diri sejak kemarin malam, Ki-chan."

"Benarkah?" Kise sontak terbangun, tapi kepalanya yang terasa berat membuatnya jatuh terhuyung-huyung ke matras tipis yang ia tiduri sejak kemarin.

"Ki-chan, jangan memaksakan dirimu dulu," kata Momoi. "Sebaiknya kau tunggu disini, aku akan menyiapkan makanan untukmu."

Saat Momoi keluar, Kise menyadari sesuatu. Ia merogoh mantel dan celananya, tapi ia tidak bisa menemukan ponselnya. Kise terbangun, mengesampingkan kepalanya yang terasa berat itu. Ia mencari ponselnya didalam tenda, tetapi hasilnya nihil.

Ia berkata pada Kasamatsu untuk menghubunginya lagi nanti. Kise merasa tidak enak hati pada kaptennya itu, karena ia yakin bahwa Kasamatsu tengah khawatir padanya. Tapi sebenarnya, mengapa Kise begitu memaksakan diri untuk selalu mengabari Kasamatsu? Bukankah ia tidak harus melakukan hal itu?

"Kau mencari ini?" suara seseorang mengagetkan Kise dari belakangnya.

Kise sontak menoleh pada pemilik suara itu. "Aominecchi.."

Aomine memberikan ponsel yang ada pada genggamannya itu pada Kise. "Ponselmu terjatuh saat kami mencoba memindahkanmu kedalam tenda." katanya dengan wajah datar.

"Ah, terima kasih." Kata Kise.

"Mungkin kau ingin mengeceknya," kata Aomine, ia meneguk isi cangkir yang ia bawa. "Ponselmu tidak berhenti berdering sejak kau tidak sadarkan diri."

Saat mendengar itu, Kise cepat-cepat membuka ponselnya itu. 23 panggilan tidak terjawab dari Kasamatsu. Ternyata benar, Kasamatsu memang tengah khawatir padanya. Tapi ia tidak bisa menghubunginya sekarang, tidak didepan Aomine yang sedang menatapnya tajam.

"Telepon dari kaptenku, dan mungkin juga pesan dari penggemarku," kata Kise. "Aku akan membalasnya nanti."

"Kenapa kau tidak membalasnya sekarang?" tanya Aomine. "Mungkin saja kaptenmu itu sedang mengkhawatirkanmu."

Kise merasa ada sesuatu yang salah dengan nada Aomine. Tapi ia juga tidak tahu apa itu, atau mungkin hanya perasaannya saja.

"Kurasa aku bisa membalasnya saat kita di penginapan nanti," Kise memasukkan ponselnya kedalam sakunya. "Ngomong-ngomong, dimana Momocchi?"

"Satsuki sedang membantu Kagami," kata Aomine. "Kuharap mereka tidak membakar seisi bukit ini."

"Aku akan membantu mereka."

Kise hendak bangkit untuk berdiri sebelum Aomine menepuk bahunya dan mendorongnya untuk kembali duduk.

"Kau itu sedang sakit, bodoh," Aomine menatap Kise dengan tatapan yang tidak pernah dilihat Kise sebelumnya. Tatapan Aomine yang barusan dilemparkan padanya itu terasa begitu.. hangat. Meskipun ia menyembunyikannya dengan suaranya yang sama sekali tidak hangat.

"Aku tidak ingin virus-virusmu masuk kedalam makanan." Tambahnya cepat-cepat. Ia memalingkan pandangannya dari Kise.

Kise sedikit terkejut dengan sikap Aomine. Apa ini sungguh Aomine ? Mungkin ini hanya perasaan Kise, tetapi Aomine terlihat lebih dewasa daripada yang sebelumnya. Meskipun tidak secara total, tapi ada beberapa perubahan dalam dirinya. Dan seharusnya, Kise tidak boleh senang dengan hal itu.

Ia tidak bisa mengutuhkan perasaannya pada Aomine. Ia harus membuang hal itu. Ia tidak boleh kembali memandang Aomine. Tidak boleh.

.

.

"Jadi selama ini ada tangga di balik bukit ini?" tanya Hyuuga.

Riko tersenyum. "Benar sekali."

Saat ini, mereka sedang berjalan menuruni bukit dengan menggunakan tangga yang ada di baliknya. Sebenarnya, Riko dan Momoi memang sengaja membuat mereka melewati rute yang mereka buat.

"Jadi katakan padaku," Dia menatap pelatihnya itu. "Kenapa kau harus membuat kami berjalan menaiki bukit dengan rute yang aneh-aneh sementara kami bisa menaiki tangga ini?" nadanya terdengar seperti tidak terima.

"Karena aku tidak ingin tubuh kalian kaku jika kita hanya sekedar berlibur," kata Riko. "Ini hanya latihan kecil, dibandingkan dengan yang dulu. Selain itu, tubuh kalian juga harus dilatih agar terbiasa dengan segala macam cuaca atau iklim."

"Jangan khawatir, Hyuuga-san," kata Momoi. "Nanti malam kita semua akan bersenang-senang."

"Bersenang-senang?" tanya Kagami yang ada didepannya.

"Lho, Kagamin belum tahu?" tanya Momoi, yang dibalas dengan gelengan kepala dari Kagami. "Riko-san, apa kau belum memberitahu mereka?" Momoi menatap Riko.

"Tehee." Pelatih Seirin itu menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. "Aku lupa mengatakannya, maaf."

"Ternyata begitu ya," Momoi menghela nafasnya. "Jadi, karena sekarang tanggal 24, kita akan mengadakan acara kembang api nanti malam di lapangan yang ada di belakang penginapan. Untuk menyambut datangnya natal."

"Kembang api?" tanya Murasakibara. "Aku tidak punya kembang api. Tapi aku mempunyai sekotak pocky. Apa itu berguna?"

"Kau bisa menyulut api pada pocky-mu," kata Midorima, merasa terganggu dengan pertanyaan bodoh Murasakibara. "Lalu kau bisa memakannya."

"Tidak ingin~" kata Murasakibara. "Tapi kau bisa mencobanya, Mido-chin."

"Hari ini posisi Cancer berada pada nomor 1 di Oha Asa," ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk panda dari saku mantelnya. "Aku membawa barang keberuntunganku."

"Tidak ada hubungannya, tahu!" sambar Kagami.

"Aku tidak berbicara padamu, kutu."

"Siapa yang kau panggil kutu, hah?!"

Dan begitulah keadaan mereka sepanjang perjalanan. Kebanyakan dari mereka membicarakan hal-hal yang kurang penting, seperti asal usul alis Kagami yang bisa terbelah dua. Yang tentu saja tidak ditanggapi Kagami dan langsung beralih ke topik tidak jelas yang lain, seperti legenda Maiubo.

Melewati tangga berkelak-kelok sepanjang 2 km juga menghabiskan tenaga yang cukup banyak meskipun mereka hanya berjalan. Alhasil, saat mereka sudah hampir sampai ke penginapan, mereka terlihat seperti zombi. Zombi dengan rambut yang berwarna-warni.

Kuroko yang sedari tadi tidak ikut-ikutan berbicara, menyadari ada sesuatu yang salah dengan Kise yang berada disebelahnya. Pemuda yang biasanya tampak ceria itu kini raut wajahnya sedikit muram, dan Kuroko tahu bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Kise-kun," panggil Kuroko. Tapi Kise tidak menoleh kearahnya, bahkan ia tidak meliriknya sedikitpun. "Kise-kun." Kuroko memanggilnya dengan sedikit keras, tapi sang ace Kaijou itu tetap berjalan tanpa menggubris panggilan Kuroko.

"Kise-kun." Kuroko akhirnya menarik lengan Kise yang membuatnya menoleh kearah Kuroko.

"Eh? Ada apa, Kurokocchi?" Kise tersenyum kearahnya, tapi Kuroko tahu senyum itu sedikit dipaksakan.

"Kau terlihat muram," kata Kuroko. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Ah, tidak," ia menundukkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Kuroko. "Hanya saja, aku rindu bermain basket. Rasanya ada yang kurang dari diriku jika aku tidak bermain basket, walaupun hanya sehari."

"Momoi-san memiliki lapangan basket didalam penginapannya," kata Kuroko. "Aku melihat Akashi-kun dan Midorima-kun sempat berlatih sebentar kemarin."

"Benarkah?" tanya Kise.

Kuroko menganggukkan kepalanya. "Kurasa tidak apa jika Kise-kun menggunakannya."

"Apa kau tidak ingin bermain, Kurokocchi?"

"Jika aku menemanimu bermain maka aku pasti kalah," kata Kuroko. "Kise-kun bisa mengajak Aomine-kun. Biasanya kalian selalu bermain one on one, bukan?"

"Kurasa aku tidak sedang tidak ingin bermain one on one." kata Kise, yang tentu saja sebuah kebohongan.

"Kalau begitu, kita bisa bermain basket bersama-sama." kata Kuroko.

"Ide yang bagus, Kurokocchi." Kise mengacak-acak rambut Kuroko.

"Baiklah, kita akan bermain basket!" seru Kagami.

Kise tersentak, ia langsung menoleh ke sumber suara yang ada dibelakangnya itu. "Kagamicchi? Sejak kapan kau ada dibelakangku?"

"Aku dibelakangmu sejak tadi. Kau masih linglung, ya?" Kagami mengetuk-ngetuk kepala Kise.

"Hentikan-ssu!" Kise menepis tangan Kagami.

"Aku lihat sedari tadi kau tidak berbicara," kata Kagami. "Apa kau masih demam?" Kagami refleks menempelkan telapak tangannya di dahi Kise, yang mendapat lirikan tajam dari Aomine.

"Kagami-kun, sebaiknya kau tidak melakukan hal itu." Kuroko yang meyadari lirikan yang dilempar oleh Aomine langsung menarik tangan Kagami dari dahi Kise.

"He? Kenapa?" Kagami memasang wajah bodohnya. Atau mungkin dia tidak peka dan memang bodoh.

"Karena—"

"Kise?"

Suara yang terdengar sangat familiar memotong ucapan Kuroko. Semuanya sontak menoleh ke sumber suara itu.

Aomine menatap figur pemilik suara itu dengan tajam. Entah mengapa hatinya jadi sedikit goyah karena Kise menatap orang itu dengan tatapan yang ... Entahlah. Yang jelas, cara Kise menatapnya dan menatap figur orang ini sangat berbeda.

Sementara itu, Kise mencoba berkedip. Ia meyakinkan dirinya bahwa orang yang berdiri beberapa kaki didepannya itu bukanlah halusinasinya. Setelah ia benar-benar yakin bahwa itu bukanlah halusinasi, ia berjalan maju beberapa langkah menghampiri sosok pria yang lebih pendek darinya itu.

"Kasamatsu... senpai ?"

.

.

"Tidak kusangka akan bertemu denganmu disini," Kasamatsu menendang-nendang tumpukan salju yang ada didepannya. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau berlibur di Kurokawa? Dan yang lebih penting, kau bahkan tidak menjawab telponku ataupun membalas pesanku."

"Maaf maaf," Kise menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku tidak sempat memegang ponselku sejak kemarin karena kami harus menaiki bukit untuk latihan." Tidak sepenuhnya kebohongan, karena memang ponselnya berada di tangan Aomine sampai Kise terbangun.

Kise tengah berjalan dengan Kasamatsu—hanya mereka berdua. Ia meminta teman-temannya untuk kembali ke penginapan terlebih dulu, dan ia berjanji akan menyusul mereka nanti. Awalnya Momoi menawarkan diri untuk menemani Kise karena ia khawatir Kise akan tersesat dalam perjalanan ke penginapan jika ia sendirian. Tapi Kasamatsu meyakinkan pemilik bola mata berwarna merah muda itu agar tidak khawatir karena ia akan menemani Kise sampai ke penginapannya. Lagipula Kasamatsu sudah hafal rute jalan di sekitar Kurokawa karena ia sudah cukup lama tinggal disini bersama keluarganya.

"Bukit itu?" Kasamatsu menunjuk bukit yang ada dibelakangnya, dan Kise menganggukkan kepalanya. "Aku pernah berlatih menaiki bukit itu sewaktu aku masih kecil. Dan aku hanya memerlukan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di puncaknya."

Kasamatsu melirik Kise yang ada disampingnya. "Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, Kise?"

"Baiklah, baiklah, kau menang," Kise menepuk lengan Kasamatsu. "Kemarin aku tidak enak badan, jadi—"

"Jangan coba berbohong padaku, Kise." Kasamatsu memperingatkan Kise.

Kise menatap Kasamatsu yang terlihat sedikit tegang. Dari cara Kasamatsu menatap dirinya, Kise mengerti bahwa kaptennya itu sangat mengkhawatirannya. Kise tidak bisa berbohong padanya, bukan? Apalagi saat ini Kasamatsu berada tepat didepan matanya. Kise tidak mempunyai pilhan lain selain berkata jujur

"Saat aku mendaki bukit kemarin, tubuhku terasa sangat menggigil meskipun aku memakai mantel. Kukira itu hanya pengaruh udara yang dingin, jadi aku tetap mendaki bukit," kata Kise. "Sesaat kemudian, kakiku terasa sangat kaku dan sulit digerakkan, jadi ..." Kise berhenti, ia menatap kasamatsu yang sedang memperhatikannya. Rasanya kata-kata yang ingin dikeluarkannya barusan sedang tersangkut di tenggorokannya.

"Jadi ?" tanya Kasamatsu.

"Aominecchi yang membawaku sampai ke puncak bukit," kata Kise, dan ia melihat Kasamatsu mengalihkan pandangannya darinya. "Momocchi berkata padaku bahwa aku tidak sadarkan diri sejak kemarin malam, dan aku baru terbangun tadi pagi."

Kasamatsu tetap tidak menoleh ke arah Kise, tapi Kise tahu bahwa kaptennya itu sedang mendengarkan ceritanya. "Ponselku terjatuh, jadi Aominecchi yang menyimpannya," kata Kise. "Ia baru mengembalikannya saat aku terbangun tadi."

"Maafkan aku karena tidak membalas pesanmu, atau tidak menjawab telpon darimu," kata Kise. "Maafkan aku karena sudah membuat Kasamatsu-senpai khawatir, aku hanya tidak ingin—"

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Kasamatsu memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya, tanpa menatap Kise.

"Kurasa sudah tidak apa-apa," kata Kise. "Aku merasa lebih baik."

"Syukurlah," kata Kasamatsu. "Aku senang kau baik-baik saja."

Kise memperhatikan kaptennya itu. Kasamatsu biasanya selalu menatapnya saat bercerita, dan ia tidak pernah tampak setegang ini. Apa mungkin ia sedang sakit?

"Kasamatsu-senpai, apa kau baik-baik saja?" Kise menyentuh pundak Kasamatsu dan menundukkan kepalanya untuk melihat kaptennya itu. Yang mengagetkannya adalah kedua mata Kasamatsu. "Matamu merah sekali, Kasamatsu-senpai! Apa kau sakit?"

"Tidak," jawab Kasamatsu pelan. "Aku hanya tidak bisa tidur sejak kemarin."

"Ehh? Kenapa?"

"Karena aku mengkhawatirkanmu."

"Kasamatsu-senpai..."

"Aku terus-terusan mendapat firasat yang tidak baik sejak kemarin," kata Kasamatsu "Setiap kali aku mencoba memejaman mataku, aku mendapatkan perasaan yang buruk tentangmu. Dan itu membuatku frustrasi."

"Seharusnya aku lega setelah melihatmu," gumamnya pelan. "Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku."

"Tunggu dulu, berhenti sebentar," Kise menarik pundak Kasamatsu, menghentikan pemuda itu berjalan lebih jauh. "Apa yang kau bicarakan, Kasamatsu-senpai?"

"Setelah aku mendengar ceritamu, kurasa kau memiliki teman-teman yang dapat diandalkan, Kise," Kasamatsu menoleh kearah Kise. "Tapi aku tidak tahu kenapa tubuhku menjadi begitu kaku saat kau menyebut Aomine."

Dan saat itu, Kise sadar akan sesuatu. Mungkin di mata Kasamatsu, Kise terlihat belum sepenuhnya berhenti memandang Aomine. Kasamatsu telah membantu Kise untuk melupakan perasaannya pada Aomine. Dan Kise terus berusaha untuk menjaga jaraknya dengan Aomine. Lagipula ia juga tidak mau perasaannya kembali ke Aomine.

"Kasamatsu-senpai, ini tidak seperti yang kau pikirkan," kata Kise. "Aku—"

"Aku tahu," Kasamatsu menatap Kise. "Aku tahu aku salah."

"Apa ? Tidak, kau tidak—"

"Aku tahu aku salah karena aku bersikap seperti ini. Seharusnya aku lebih bisa mengendalikan diriku sendiri." Kata Kasamatsu. "Aku tidak tahu mengapa, tapi aku tidak pernah bisa mengendalikan diriku jika sudah melibatkanmu, Kise."

"Aku tahu aku tidak berhak berbicara seperti ini, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghentikan hal ini," Kasamatsu menghela nafasnya sejenak. "Jika aku merasa cemburu, apakah itu wajar ?" Kasamatsu memandang Kise dalam-dalam. Pandangan yang benar-benar membuat Kise terpaku dan tidak bisa berkata apa pun lagi.

Kasamatsu benar-benar sukses membuat kedua pipi Kise berubah menjadi semerah tomat. Kise tidak bisa berbicara apapun lagi. Dia masih terpaku ditempatnya dengan degupan keras yang terasa didalam dadanya. Ia hanya terdiam disana, menatap Kasamatsu dengan linglung.

Kasamatsu yang menjadari ketegangan Kise, langsung menarik tangan pemuda itu untuk berjalan kembali.

"Maaf," gumamnya. "Abaikan saja kata-kataku tadi."

Apa ? Bagaimana bisa Kise mengabaikan hal itu ?

Kise menggenggam tangan Kasamatsu erat-erat, membuat pemuda itu menoleh padanya. "Seorang laki-laki tidak boleh menarik kata-katanya-ssu."

"Aku tidak menariknya," kata Kasamatsu. "Hanya saja, jika aku melihatmu tegang seperti itu, aku merasa seperti orang bodoh saat aku mengatakannya." Kasamatsu mengalihkan pandangannya dari Kise, berusaha menyembunyikan wajahnya yang perlahan memerah.

Kise menyadari Kasamatsu yang sedang mencoba menyembunyikan wajahnya darinya. Ia tersenyum. Ternyata kaptennya juga mempunyai sisi seperti ini.

"Kasamatsu-senpai, aku terkejut kau bisa berkata seperti itu," kata Kise. "Tapi aku senang Kasamatsu-senpai bisa mengatakannya."

"Aku juga senang." Gumam kapten Kaijou itu.

"Kenapa ?"

"Karena kau senang. Itu sudah cukup untukku."

Lagi-lagi Kasamatsu sukses membuat wajah Kise bertambah merah. Kapten Kaijou itu tertawa saat menyadari betapa merahnya wajah Kise.

"Ada apa, Kise ?" tanyanya. "Apa seseorang barusan melempari wajahmu dengan bubuk tomat ?"

Kise berdecak sebal mendengar ucapan kaptennya itu. Ia hanya terdiam, tidak membalas ucapan Kasamatsu. Ia melepaskan tangannya dari Kasamatsu dan berbalik memunggunginya. Ia berjalan menjauh dari Kasamatsu, kemudian tiba-tiba ia berjongkok dan menundukkan kepalanya.

"Kise ?" panggil Kasamatsu. Ia mendatangi pemuda berambut blonde itu. "Ada apa ?"

"S-sakit .." gumam pemuda itu lirih. Ia terisak seakan sedang menahan tangis.

"Kise, kau kenapa ?" tanya Kasamatsu, kekhawatiran menghiasi suaranya. Ia langung menunduk untuk melihat pemuda itu. "Apa kakimu—"

PLUK!

Sebuah lemparan bola salju sukses mendarat di dada Kasamatsu.

Kise bangkit dan berlari menjauh dari Kasamatsu. "Kau kena, Kasamatsu-senpai!" Ia tertawa melihat Kasamatsu yang termakan jebakannya.

Dari jauh, Kise dapat melihat Kasamatsu menyeringai kepadanya. Ia melihat Kasamatsu mengambil segumpal salju dan membentuknya menjadi sebuah bola. "Bersiaplah, Kise." Katanya sambil melempar-lempar bola saljunya keatas.

"Kejar aku kalau kau bisa." Kise menjulurkan lidahnya pada Kasamatsu. Ia berlari secepat yang ia bisa, menjauhi Kasamatsu yang mengejarnya sambil membawa bola salju.

.

.

Kise sedang berjalan melewati koridor saat ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Kuroko.

From: Kurokocchi

Kise-kun, kau bisa ke lapangan basket terlebih dahulu. Pelatihku meminta untuk berkumpul. Mungkin kami akan terlambat sebentar. Kalian bisa bermain tanpa kami. Kami akan segera kesana jika sudah selesai.

Kise menutup ponselnya itu. Kuroko sudah memberitahunya saat ia berpapasan dengannya tadi. Jadi mungkin pesan yang barusan didapatkannya itu merupakan kesalahan jaringan yang membuat pesan itu tertunda.

Kise menatap sebuah pintu besar yang ada didepannya itu. Pintu itu terbuat dari logam, berbeda dengan pintu-pintu lain yang ada di penginapan itu. Ada celah terbuka dalam pintu itu, mungkin seseorang lupa tidak menutupnya dengan rapat.

Saat Kise hendak membuka pintu itu lebih lebar, ia mendengar suara decitan sepatu dan suara pantulan dari bola basket. Ia mengintip dari celah pintu itu untuk melihat siapa yang ada di dalamnya. Hanya ada Aomine dan Momoi di lapangan itu, dan mereka tengah berbicara satu sama lain.

Kise bersembunyi di balik pintu itu. Ia tidak berani masuk. Ia takut mengganggu pembicaraan Momoi dan Aomine. Mungkin ia akan menunggu hingga Kuroko atau yang lainnya datang.

"—diamlah, Satsuki. Aku tidak ingin membahas Kise."

Eh?

"Dengarkan aku, Dai-chan," kata Momoi. "Kau tidak bisa seperti ini selamanya. Setidaknya kau harus mengatakan sesuatu padanya."

Apa yang sedang mereka bicarakan ?

Kise memutuskan untuk mengintip mereka dari celah pintu itu.

"Aku tidak perlu mengatakan apapun padanya." Kata Aomine. Aomine mendribble bola basketnya dan langsung menembakkannya kedalam ring.

"Dai-chan, kumohon, kau tidak bisa—"

"Satsuki," potongnya. "Jangan membuatku mengulangi kata-kataku."

"Aku merancang liburan ini untuk sebuah reuni, Dai-chan," kata Momoi. "Aku ingin semuanya bisa seperti dulu. Aku ingin kita bisa mempunyai momen seperti dulu. Tapi hal itu tidak bisa terjadi jika kau dan Ki-chan seperti ini."

"Dengar, aku sudah berusaha menghilangkan perasaan ini," kata Aomine. "Tapi aku benar-benar tidak bisa menghilangkannya."

Perasaan?

"Dai-chan..."

"Ternyata benar," kata Aomine. "Aku membencinya."

Eh ?

Kise menekan dadanya yang tiba-tiba kini menjadi sakit. Ia tidak bisa berpikir jernih. Pandangannya menjadi kabur karena air mata yang yang menggenang di pelupuk matanya. Bibirnya bergetar. Ia mencoba menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang hampir meleleh itu, tapi hasilnya nihil.

Air mata yang ditahannya sekuat tenaga itu menetes. Bahkan lebih deras dari yang ia bayangkan. Tapi ia cepat-cepat menghapusnya. Ia tidak ingin seseorang melihatnya seperti itu. Dan terlebih lagi, ia sudah cukup mendengar pembicaraan Momoi dan Aomine.

Kise berbalik lalu berjalan dengan menundukkan kepalanya. Rasa sakit yang ada di dadanya ini membuatnya sulit bernafas. Sesak dan sakit. Itulah yang dirasakan Kise. Ia mencoba mengabaikan hal itu dan tetap berjalan sampai akhirnya ia menabrak seseorang.

"Kise-kun ?"

Suara Kuroko. Kise cepat-cepat mengedip-ngedipkan kedua matanya, berusaha menyembunyikan matanya yang mungkin sudah sedikit memerah.

Kise mendongakkan kepalanya. "Ah, Kurokocchi, Kagamicchi." kata Kise.

"Kenapa kau berada disini, Kise-kun?" tanya Kuroko.

"Apa kau tidak ikut bermain?" tambah Kagami.

"Aku sedang tidak enak badan, jadi aku akan beristirahat sebentar di kamar," jawab Kise. "Kalian bisa bermain tanpaku." Kise tersenyum pada mereka.

"Sayang sekali, padahal aku berniat untuk mengalahkanmu hari ini." kata Kagami.

Kise tertawa. "Maafkan aku, Kagamicchi. Mungkin lain kali kita bisa bermain bersama." Ia menepuk pundak Kagami.

"Baiklah, aku kembali dulu. Kalian bersenang-senanglah!" Kise melambai kearah Kuroko dan Kagami lalu segera berlari hingga tidak terlihat lagi di koridor.

"Aneh sekali," kata Kagami. "Bukankah dia yang mengajak kita bermain?"

"Benar," jawab Kuroko. "Matanya sedikit aneh ketika aku melihatnya tadi."

"Apa maksudmu?"

"Kise-kun mungkin bisa berbicara bohong, tapi matanya tidak akan pernah bisa memungkirinya."

.

.

Matahari telah menidurkan dirinya dibalik bukit-bukit di Kurokawa. Senja telah lama terlewatkan. Langit terlihat cukup terang karena bulan masih menyinarinya. Ribuan bintang-bintang mengedipkan-ngedipkan cahayanya, seakan memberi pertanda bahwa tidak akan ada salju yang turun.

Semuanya sedang menyiapkan acara mereka malam ini. Festival Kembang Api. Begitulah Momoi dan Riko menyebutnya. Meskipun bukan festival besar seperti yang diselenggarakan di kota, tetap saja acara ini memerlukan kembang api untuk meramaikan suasananya.

Berkotak-kotak kembang api telah ditata secara tidak rapi oleh Murasakibara dan Aomine. Mereka tidak peduli dengan tata letak atau kerapian. Toh pada akhirnya juga akan dipakai. Jadi mereka tidak perlu repot-repot menatanya terlebih dahulu.

Momoi, Riko dan Kagami sedang sibuk membuat makanan ringan untuk mereka. Kagami tidak ingin memakan camilan hangus atau camilan berbau busuk jika yang memasak hanya mereka berdua, jadi ia mendampingi mereka. Dan seperti biasa, Akashi dan Midorima masih bergelut dengan shogi. Kiyoshi dan Hyuuga sedang pergi membeli minuman diluar. Sedangkan Kuroko, dia menghilang. Atau tidak ditemukan. Atau tidak terlihat.

"Ngomong-ngomong," Momoi melepas sarung tangannya setelah meletakkan beberapa adonan kue kedalam oven. "Dimana Ki-chan ? Aku tidak melihatnya sejak tadi."

"Dia berkata dia sedang tidak enak badan," jawab Kagami. "Mungkin ia sedang beristirahat di kamarnya."

"Jadi Kise-kun belum sembuh sejak kemarin ?" tanya Riko.

"Entahlah." Kagami mengangkat kedua bahunya.

"Tunggu," kata Momoi. "Bukankah tadi Ki-chan mengajak kalian bermain basket? Apa dia tidak datang?"

"Dia datang," jawab Kagami. "Tapi setelah itu ia kembali. Ia berkata bahwa ia sedang tidak enak badan."

Momoi memiliki perasaan yang tidak enak karena Kagami berkata seperti itu. "Kalau begitu, kalian tolong lanjutkan ini semua," Momoi melepas celemeknya. "Aku akan memanggil Midorin." Momoi segera menuju ke halaman belakang rumahnya, meninggalkan Kagami dan Riko yang kekurangan tenaga kerja dalam menangani camilan mereka.

Ia melihat Midorima dan Akashi yang sedang bermain shogi dalam ke—tidak—tenangan karena suara yang ditimbulkan oleh Murasakibara yang sedang memakan snacknya dan Aomine yang sedang bermain dengan bola basketnya. Momoi menghela nafasnya, ternyata teman-temannya tidak terlalu berubah.

"Midorin," Momoi menepuk pundak pemuda berambut hijau itu. "Bisakah—"

"Aku menolak." Kata Midorima.

"Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku." Protes Momoi.

"Hm, pergerakan yang bagus, Shintarou." Kata Akashi.

"Giliranmu, Akashi."

"Midorin, kau mengabaikanku!"

"Ada apa, Momoi?" tanya Midorima sambil membenarkan posisi kacamatanya.

"Sepertinya Ki-chan masih belum sembuh," kata Momoi. "Bisakah kau melihat keadaannya? Kagamin berkata dia berada dikamarnya."

"Akashi dan aku sedang berada di tengah permainan kami," kata Midorima. "Bagaimana kalau sebentar lagi? Aku tidak bisa meninggalkan—"

"Aku akan menggantikanmu, Midorima-kun." Potong sebuah suara, yang sudah bisa ditebak siapa pemiliknya

"Tetsu-kun!" teriak Momoi. "Kau mengagetkanku."

"Teriakanmu juga mengagetkanku, Momoi-san."

"Menggantikanku?" tanya Midorima. "Apa kau bisa bermain shogi, Kuroko?"

"Kurasa aku bisa," jawab Kuroko. "Yang lebih penting, kau harus melihat keadaan Kise-kun terlebih dahulu, Midorima-kun."

"Tetsuya benar, Shintarou," kata Akashi. "Sebaiknya kau memeriksa keadaan Ryouta. Bagaimana jika Ryouta tiba-tiba bunuh diri di kamarnya?"

"Akashi-kun, jangan mengatakan hal seperti itu!" seru Momoi.

"Akashi-kun ada benarnya," kata Kuroko. "Bagaimana jika tiba-tiba ada sebuah meteor jatuh di kamar Kise-kun?"

"Kau juga sama tidak masuk akalnya, Kuroko!"

.

.

Kise terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya dengan malas, perlahan melirik ke arah jam yang terpasang di dinding. Pukul 9 malam. Pasti ia sudah tidur cukup lama sedari tadi. Benar, tidur. Tidur bisa membantunya melupakan kejadian sore tadi, meskipun ia kembali mengingatnya saat ia terbangun. Dan itulah yang terjadi padanya saat ini.

Kise melihat kearah jendela. Langit-langit akan terlihat gelap jika saja bulan tidak menyinarinya.

Sepertinya salju tidak akan turun hari ini.

Kise meraih jaketnya, lalu memakainya. Itulah saat ia menyadari ada makanan diatas mejanya. Beberapa mangkuk dan piring yang tertutup tergeletak begitu saja di mejanya. Kise bahkan tidak repot-repot untuk membuka makanan itu karena ia sedang tidak berselera makan saat ini. Mungkin ia akan memakannya nanti.

Pemuda itu segera beranjak keluar dari kamar dan menuju ke halaman belakang. Ia akan melewatkan festival kembang api jika ia terlambat datang. Tiba-tiba sebuah pemikiran terbesit di kepalanya. Apa Aominecchi juga akan datang ?

Mungkin pemuda itu hanya akan bersikap biasa padanya, atau mungkin bersikap menyebalkan seperti Aomine pada umumnya. Tapi Kise tidak bisa menyikapi hal itu dengan normal seperti yang dulu. Tidak setelah Aomine berkata bahwa ia membencinya.

Kise menghentikan langkah kakinya.

Benar juga, pikirnya.

Ia tidak bisa bersikap normal setelah mendengar Aomine berkata seperti itu. Hatinya sudah sakit hanya dengan pemikiran yang seperti itu. Ia tidak ingin bertemu Aomine. Tidak sekarang. Ia belum benar-benar memulihkan fisik dan mentalnya.

Kise membalikkan kakinya kearah yang berlawanan. Ia keluar dari penginapan, membawa kakinya berjalan menuruti kata hatinya. Mungkin ia akan mencari udara diluar sebentar. Ia sedang tidak ingin bertemu Aomine jika ia datang ke festival. Dan ia juga tidak ingin berada didalam kamar seharian. Berjalan-jalan diluar mungkin akan membantu meringankan pikirannya. Yang bagi Kise, memulihkan perasaannya.

.

.

Baru beberapa menit berlalu setelah Midorima meninggalkan tempatnya untuk memeriksa keadaan Kise. Pria berambut hijau itu tampak khawatir. Kotak P3K yang dibawanya tampak tidak tergunakan sama sekali. Dan hal itu otomatis memberi firasat buruk bagi Momoi.

"Dia tidak ada di kamarnya."

Bola mata Momoi hampir keluar dari matanya karena ia membuka matanya begitu lebar. Ia terkejut mendengar ucapan Midorima. Momoi mungkin akan lebih lega jika Kise tetap beristirahat di kamarnya—meskipun kondisinya sedang tidak baik—daripada mendengar berita bahwa Kise tidak ada di kamarnya. Ternyata instingnya jauh lebih buruk daripada dugaannya.

"Bukankah tadi Kagamin berkata dia berada di kamarnya?"

"Dia tidak ada di kamarnya," ulang Midorima. "Tapi aku tidak memeriksa penginapan ini. Kurasa lebih baik jika membiarkan kalian tahu terlebih dahulu."

Tanpa pikir panjang, Momoi langsung berdiri. "Aku akan mencari Ki-chan."

"Aku akan membantumu, Momoi-san." Riko beranjak berdiri dan mereka berdua segera meninggalkan halaman belakang.

Akashi menatap Aomine dari sudut matanya. Mungkin hanya Akashi yang menyadari bahwa sesungguhnya pemuda bermata biru gelap itu tampak gelisah. Sayangnya, Aomine tidak menyadari bahwa aktingnya tidak cukup bagus untuk mengelabui Akashi. Dan Akashi paham akan hal itu. Ia menghela nafasnya sebelum ia melirik kearah Kagami.

"Kagami-kun," panggil Akashi. "Aku yakin Ryouta sedang berada di luar sana. Jika cedera kakinya kambuh, mungkin ia memerlukan bantuanmu untuk kembali kesini. Jadi, aku ingin kau pergi mencarinya."

Kagami melotot mendengar Akashi yang baru saja memberikan perintah seperti itu padanya. Sebenarnya Kagami tidak takut untuk membantah perintah Akashi meskipun perintahnya absolut. Ia tidak ingin menuruti permintaan itu, tapi ia tahu bahwa Akashi benar.

"Baiklah, aku—"

"Biar aku yang mencarinya."

Akashi hampir menyeringai saat mendengar suara yang memotong ucapan Kagami itu. Aomine—tanpa berkata apapun lagi—langsung berjalan melewati Akashi dan Kagami.

Kagami berdecak. "Apa-apaan dia itu."

"Akashi," Midorima menatap mantan kaptennya itu. "Ini semua idemu, kan?"

"Aku hanya membantu Daiki untuk berjalan satu langkah lebih maju dari posisinya, Shintarou," Kata Akashi sambil meletakkan satu bagian shoginya lebih maju. "Kurasa tidak ada yang salah, selama itu semua masih terkendali."

"Aka-chin," panggil Murasakibara yang sedang mengunyah pocky nya. "Apa mereka akan baik-baik saja?"

"Kurasa begitu." Kata Akashi. "Aku tidak akan bertaruh pada apapun. Jjika Daiki masih mementingkan keegoisannya, terpaksa ia harus mundur. Kecuali jika ia ingin dirinya dihancurkan." Lagi-lagi, Akashi mendemonstrasikan ucapannya lewat shogi. Dan Murasakibara tidak mengerti apa yang dibicarakan temannya itu.

"Aku tidak mengerti." Murasakibara mengangkat kedua bahunya. "Pemikiran Aka-chin terlalu tinggi."

"Itu karena kau tidak bisa memahaminya, dasar monster pocky." Ejek Midorima.

"Tapi kurasa mereka akan baik-baik saja," kata Kuroko sebelum Murasakibara sempat membalas ucapan Midorima. Ia tidak ingin pembicaraan mereka menjadi perang dunia ketiga. "Aomine-kun pasti mempunyai alasan dibalik sikapnya pada Kise-kun selama ini."

Akashi menyeringai. "Aku tahu."

Kuroko beralih menatap Midorima yang tampak tidak tenang ketika ia menatap layar ponselnya. "Ada apa, Midorima-kun?"

Midorima menutup ponselnya. "Virgo berada di posisi terbawah hari ini."

.

.

Kise menggiring kakinya berjalan ke sebuah taman yang berada tidak terlalu jauh dari penginapan. Ia melihat sekeliling taman itu, meskipun tatapannya kosong. Ada sepasang ayunan di taman kecil itu, jadi Kise memutuskan untuk duduk di salah satu ayunan itu.

Ponselnya bergetar dalam sakunya sejak tadi. Mungkin teman-temannya sudah menyadari bahwa ia meninggalkan penginapan, dan itu membuatnya merasa bersalah. Seharusnya ia meminta izin untuk keluar terlebih dahulu tadi. Tapi jika mengetahui kondisinya, mungkin Momoi tidak akan membiarkannya berkeliaran sendirian. Pro dan kontra mulai muncul dalam dirinya. Tapi pikirannya terlalu lemah untuk sekedar menghiraukan hal itu, jadi ia mengabaikannya.

Ia membuka ponselnya. Ada 3 pesan. Ia membuka pesan pertama.

From: Kasamatsu-senpai

Kise, apa kau bebas malam ini? Maaf jika aku tiba-tiba bertanya seperti ini. Aku hanya ingin tahu... Mungkin jika kau bebas malam ini, aku akan mengajakmu untuk berkeliling Kurokawa malam ini. Tapi jika kau sedang sibuk, mungkin kita bisa melakukannya lain kali.

Kise masih tetap memasang wajah datarnya. Pandangannya tetap kosong, seakan-akan ia tidak membaca pesan itu. Lalu ia membaca pesan kedua.

From: Momocchi

Ki-chan! Kau ada dimana? Kami semua khawatir kepadamu! Aku bertemu Kasamatsu-san tetapi ia juga tidak tahu kau berada dimana. Apa kau tersesat? Apa cederamu kambuh lagi ? Kami sedang mencarimu, jadi tolong beritahu dimana posisimu, kami akan segera kesana. Tolong balas secepatnya, Ki-chan!

Ternyata dugaannya benar. Pasti mereka semua khawatir kepadanya. Seberat apapun hatinya saat ia membaca pesan-pesan itu, ia tidak sanggup membalasnya. Ia langsung melanjutkan ke pesan selanjutnya.

From: Aominecchi

Oi, Kise! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Kau tidak tahu udara sedang dingin seperti ini? Bagaimana jika kau sakit lagi? Kau dimana ? Aku sedang mencarimu sekarang. Cepatlah kembali jika kau tidak ingin mati kedinginan!

"Aominecchi.."

Mungkin jika dilihat sekilas, Aomine memang tampak seperti sedang menceramahi Kise. Tapi dibalik kata-katanya yang kasar itu, Kise tahu Aomine tengah khawatir padanya. Dan itu membuat Kise bingung. Bukankah Aomine membencinya? Mengapa Aomine mengirimkan pesan seperti itu padanya?

Sisi lain dari Kise berkata bahwa mungkin Momoi menyuruh Aomine untuk mencarinya. Mana mungkin Aomine memberinya pesan seperti itu setelah ia berkata bahwa ia membencinya? Apalagi Kise mendengar Aomine berbicara seperti itu dengan telinganya sendiri. Yang jelas, Kise tidak tuli.

Aomine membingungkannya. Membuatnya senang dan sedih disaat yang sama. Kenapa dia harus bersikap seperti itu? Kenapa ia terus-terusan memasang topeng didepan Kise ? Kenapa Aomine tidak mau jujur sejak awal?

Matanya mulai berair hanya dengan memikirkan hal itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi dadanya terasa semakin sakit saat ia melakukan hal itu. Sekuat apapun Kise menahannya, air mata itu perlahan mengalir membasahi kedua pipi dan dagunya. Ia menutupi wajahnya saat air matanya terjatuh setetes demi setetes. Tetesan air mata itu perlahan membasahi layar ponselnya yang masih memperlihatkan pesan dari Aomine.

"Hei," seseorang tiba-tiba menepuk kepalanya. "Kau disini rupanya."

Kise mendongakkan kepalanya dan bertemu pandang dengan sepasang mata berwarna kelabu yang menatapnya. Kise tercengang. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari orang yang menatapnya dengan hangat itu. Orang itu sudah jelas tahu bahwa Kise tengah menangis karena air matanya tidak kunjung berhenti mengalir hingga saat ini.

Ponsel Kise tiba-tiba bergetar. Dua pasang mata itu otomatis mengalihkan pandangan mereka ke ponsel itu. Sebuah telepon dari Aomine. Dan Kasamatsu mengerti, pemuda itu pasti menangis karena Aomine.

"Kasamatsu-senpai," gumamnya lirih. "Aku ..."

Kasamatsu hanya berdiri disana. Memandang Kise yang matanya berkaca-kaca.

"Kau mungkin ingin mengangkatnya," Kasamatsu mengusap-usap rambut Kise pelan. "Dia mungkin khawatir padamu." Ia tersenyum pada Kise. Tapi Kise tahu, itu bukanlah senyuman yang tulus. Dan Kise merasa bersalah saat Kasamatsu tersenyum seperti itu padanya.

"Maafkan aku," Kise menundukkan kepalanya. Ia menutupi wajahnya karena air matanya kini mengalir lebih deras daripada sebelumnya. Ia benci dirinya sendiri. Ia benci menjadi selemah ini. Ia benci karena ia telah mengecewakan Kasamatsu yang selama ini bersikap sangat baik padanya. "Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.."

Kasamatsu dapat mendengar isak tangis disela-sela kata-katanya tadi. Kise terlihat begitu rapuh saat ini. "Untuk apa kau meminta maaf, Kise?" Kasamatsu melingkarkan tangannya di pundak Kise sambil menepuk-nepuk kepala pemuda itu. "Kau bisa menangis, jika itu bisa membuatmu lega. Kau tidak perlu menahannya. Aku disini, Kise. Bukankah sudah kukatakan kalau kau bisa mengandalkanku?"

Kise tidak mempunyai waktu untuk terkejut saat Kasamatsu—setengah—memeluknya. Ia menerima hal itu, karena itu yang dibutuhkannya saat ini. Tempat untuk bersandar. Ia tidak butuh hiburan, atau apapun. Ia hanya membutuhkan suatu hal yang sederhana. Tanpa sadar, ia membenamkan kepalanya di dada kaptennya itu, isakannya terdengar semakin keras saat ia menggumamkan kata maaf berulang kali.

"Apa yang kau bicarakan," kata Kasamatu. "Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku hanya karena kau menangis didepanku."

"Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku tidak bisa menenangkanmu."

Saat melihat Kise, Kasamatsu tahu bahwa Kise tidak bisa mengalihkan perasaannya dari Aomine. Kise tidak bisa melupakan Aomine semudah itu. Ucapan maaf yang berulang kali keluar dari bibir Kise sudah menjelaskan semuanya. Dan Kasamatsu paham akan hal itu. Tapi Kasamatsu tidak ingin Kise mengetahui bahwa Kasamatsu menyadari hal itu, jadi ia bersikap seolah-olah ia tidak mengerti apa yang dibicarakan kouhai nya itu.

Kasamatsu tidak ingin Kise merasa bersalah padanya. Karena Kasamatsu tahu, perasaan tidak bisa dipaksakan. Dan ia tidak ingin memaksa Kise. Ia sudah cukup nyaman jika ia bisa mendampingi Kise seperti saat ini. Ia senang karena ia bisa mendampingi Kise disaat ia rapuh. Meskipun itu artinya Kasamatsu juga merapuhkan dirinya sendiri. Tentu saja Kasamatsu tidak ingin Kise mengetahui hal itu. Itu hanya akan membuatnya menjadi semakin bersalah. Dan melihat air mata Kise sudah cukup menyakitkan bagi Kasamatsu.

Kegetiran. Hal itu yang dirasakan kapten Kaijou saat ini. Rasa sakit yang ada didalam dadanya sekarang bertambah berat karena mengetahui kenyataan yang pahit baginya. Tapi ia menelan kepahitan itu, karena ia ... menyayangi Kise.

Ternyata kau tidak akan pernah bisa berhenti memandangnya, Kise ..

Sayangnya, mereka berdua bukanlah orang yang menerima kepahitan malam itu. Sepasang mata berwarna biru gelap memancarkan amarahnya. Bahkan pemiliknya sendiri tidak tahu kenapa ia merasa seperti itu. Ia hanya berdiri dari kejauhan saat melihat mantan rekannya itu bersandar di dada kaptennya saat ini.

Senyumannya memancarkan kepahitan. Gertakan giginya seperti sedang menahan amarahnya. Ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia tidak tahan melihat pemandangan seperti itu didepan matanya.

Apa yang ku khawatirkan tadi ..

Ia tengah menyeringai sekarang.

Ternyata dia baik-baik saja

.

.

"Dai-chan," panggil Momoi. "Bukankah tatapanmu pada Kasamatsu-san tadi sedikit menyeramkan? Apa kau merasakan sesuatu?"

"Apa yang kau bicarakan, Satsuki?"

"Dai-chan, kau ini benar-bernar tidak peka, ya," tukas Momoi. "Apa kau tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan Ki-chan? Kalian berdua terlihat tidak cukup akur."

"Berisik," kata Aomine. "Diamlah, Satsuki. Aku tidak ingin membahas Kise."

"Dengarkan aku, Dai-chan," kata Momoi. "Kau tidak bisa seperti ini selamanya. Setidaknya kau harus mengatakan sesuatu padanya."

"Aku tidak perlu mengatakan apapun padanya." Kata Aomine. Aomine mendribble bola basketnya dan langsung menembakkannya kedalam ring.

"Dai-chan, kumohon, kau tidak bisa—"

"Satsuki," potongnya. "Jangan membuatku mengulangi kata-kataku."

"Aku merancang liburan ini untuk sebuah reuni, Dai-chan," kata Momoi. "Aku ingin semuanya bisa seperti dulu. Aku ingin kita bisa mempunyai momen seperti dulu. Tapi hal itu tidak bisa terjadi jika kau dan Ki-chan seperti ini."

"Dengar, aku sudah berusaha menghilangkan perasaan ini," kata Aomine. "Tapi aku benar-benar tidak bisa menghilangkannya."

"Dai-chan..."

"Ternyata benar," kata Aomine. "Aku membencinya."

"Kau tidak bermaksud seperti itu. Apa aku benar, Dai-chan?" tanya Momoi. "Kumohon, tidak bisakah kau berbicara jujur padaku? Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu, Dai-chan?"

Aomine tahu, Momoi pasti akan tetap mengganggunya jika ia tidak berkata apa pun padanya. Mungkin hal itu sangat memalukan untuk dikatakan bagi Aomine, jadi ia memalingkan wajahnya.

"Aku benci ketika dia menjadi takut padaku, Satsuki." Kata Aomine. "Aku benci ketika ia bersikap begitu lepas dengan semuanya, tetapi tidak padaku. Aku benci ketika ia membuatku menjadi begitu gugup saat bersamanya. Aku benci ketika aku melihatnya bersama orang lain. Dan yang paling menjengkelkan adalah, aku bahkan tidak tahu kenapa aku membenci hal-hal itu."

Momoi sebenarnya terkejut mendengar Aomine berbicara seperti itu. Tapi ia tersenyum. Setidaknya, Aomine telah merasakan sesuatu.

"Apa kau puas?" tanya Aomine. "Sekarang, jika kau tidak keberatan, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku sudah kenyang dengan celotehanmu."

Sekarang giliran Momoi yang menuruti perkataan sahabatnya itu. Ia menatap punggung Aomine dari jauh, sebelum ia memutuskan untuk memberinya nasehat kecil.

"Kurasa kau harus lebih mendengarkan perasaanmu daripada isi kepalamu, Dai-chan."

.

.

a/n:

HAIHAIHAI LAMA NGGAK UPDATE T_T

Belepotan ya? Maaf ini ngebut bikinnya. Maaf kalo jelek T_T

Maaf kalau ada typo atau kesalahan yang lainnya T_T

Langsung aja, ini balasan reviewnyaa:

Kiwok: Iya, saya juga ngerasa itu Mr. Oyakoro bagiannya dikit banget, susah sih karakternya T_T maaf yak. Btw, ini lanjutannya ! Terima kasih sudah mampir ^^

DevilFujoshi: endingnya ... emmm, sama siapa ya? Tergantung Kise ya, dia lebih pro siapa gitu saya juga gak paham hahahaa XD Terima kasih sudah membaca ^^

Chesee-ssu: Aomine kebal banget sama perasaannya sendiri, saya juga bingung dia harusnya diapain biar sadar T_T Kasamatsu ngenes sih aslinya disini hahaha /plak sip, ini sudah apdet~ Terima kasih sudah nge-review ^^

moutonshot: Kuroko kan kadang suka iseng, jadi ngisengin mereka gitu XD Kasamatsu emang keren, gak kayak aomine ya, dia terlalu pekok gak mau ngakuin perasaannya sendiri T_T mau saya bikin kesiksa dulu itu orang ngahahaha /ketawa setan/ /plak. Eniwei, terima kasih sudah membaca ^^

shiro yuki: terima kasih ^^ ini sudah di apdet, semoga suka ya ! T_T

ai selai strawberry: endingnya ... endingnya ... emm, apa ya? XD tergantung Kise aja soal ending, saya nggak ikut campur /eh XD Terima kasih reviewnya btw ! XD

.

Seperti biasa anda bisa menyampaikan kritik atau saran tentang cerita ini ^^

Terima kasih bagi semua pembaca, termasuk silent reader! Terima kasih sudah mampir! ^^

Mind to Review?Saya ingin mengetahui pendapat kalian tentang cerita ini