With You (Together)

Maincast :

Bang Yongguk

Kim Himchan

Other cast :

Jung Daehyun

Yoo Youngjae

Choi Zelo

Moon Jongup

(cast akan bertambah searah alur cerita)

Rating : T

Disclaimer :

BAP's cast TS Entertaiment and another cast their own agency. This FF are Mine (Miyu a.k.a Himkyu) ^^

Important! :

Zelo's style terinspirasi dari One Shot's era

Yongguk's style terinspirasi dari 1004's era

.Himchan's style terinspirasi dari Badman's era

Youngjae's style terinspirasi dari 1004's era

Daehyun's style terinspirasi dari One Shot's era

Jongup's style terinspirasi dari Power's era

A/N :

Akan ada crossgender disini (pergantian gender) dari namja ke yeoja ^^ So dont be weird with the plot and the new character here.

Miyu ngetik pas lagi sakit lohhh :( Maaf kalau FF nya kurang maximal! Tapi readernim tetep semangat ya! Miyu aja semangat (walau sakit) apalagi readernim ^o^ *setel Power*

Let's enjoy the FF!

.

.

.

.

.

.

.

.


**Sebelumnya**

"Aku tak menangis karena kau membentakku, Yongguk-ah,"

"La-lalu?"

Himchan menurunkan tatapan sayu nya tak lagi memandang Yongguk. Sungguh lemas rasanya mengatakan hal ini...

Tapi ia harus mengatakannya...

.

.

.

.

.

"Tetaplah disisiku, Bang Yongguk."

.

.

.

.

.


Himkyu present :

WITH YOU (TOGETHER) Ch. 4


Yongguk mengerjab matanya pelan sembari mencerna untaian kalimat lembut -dan pilu- tersebut dari bibir merah Himchan. Namja itu terus memandang sayu dan tak mampu membalas tatapan Yongguk. Ia merasa, dirinya begitu memalukan meminta sesuatu yang tak biasa didengar oleh namja lainnya.

"B-Baiklah, Himchan. Sebaiknya kau masuk ke dalam." Yongguk meraih tubuh Himchan, merangkulnya pelan, merasa perlu melindungi namja itu. Yongguk baru menyadari namja di rangkulannya ini , tubuhnya bergetar hebat seperti ketakutan. Apa tindakannya sudah membuat Himchan ketakutan seperti ini?

.

.

.

.

.

.

Himchan duduk di ranjangnya. Sementara Yongguk memandangi Himchan dengan hati hati di ranjangnya sendiri. Menatap namja manis itu dengan ekspresi menyesal. Begitu ingin Yongguk merangkul namja itu lebih lama lagi -kalau memang itu dapat membuat Himchan tenang. Namun apa ia akan menerima sebuah pelukan dari namja yang sudah membentaknya tadi?

"Himchan-ah, jika kau memang tidak menangis karena aku membentakmu, lalu kenapa kau masih seperti ini? Aku cemas sekali."

Himchan tak mendongak sekalipun. Rasa takutnya, rasa traumanya, tiba tiba muncul hanya karena melihat pisau di balik semak semak itu. Itu yang membuatnya menangis karena ketakutan.

"A-aku..." Himchan sedikit ragu menjawab pertanyaan Yongguk. Konyol sekali bahwa namja galak yang tadi siang mengancam Yongguk, tiba tiba berubah selemah ini.

.

"Aku takut malam hari."

#Degg

Yongguk membulatkan bola matanya. Jawaban Himchan membuatnya semakin mencemaskan namja itu. Malam hari? Adakah alasan dari rasa ketakutannya pada waktu seperti itu?

"T-takut?"

.

.

.

.

.


**Flashback**

"Himchan-ya!"

"Umma!"

Himchan yang saat itu masih kanak kanak, merangkul seorang wanita paruh baya. Wanita cantik yang begitu mempesona. Senyum bagaikan malaikat, wajah cantik dan kulit putih itu, tampak menurun pada namja mungil di hadapannya.

Tak lain tak bukan...

Ia adalah Kim Jung Soo, ibu dari Kim Himchan.

"Aigoo... Lihatlah dirimu. Umurmu sudah 11 tahun, tapi tingkah manjamu seperti anak berumur 5 tahun."

"Umma, jahat! Aku kan anak umma yang paling disayang. Masa aku tak boleh merangkul umma ku yang juga paling kusayang." Himchan semakin mengeratkan pelukannya. Sementara sang umma mencium kening aegya nya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Bagaimana mungkin ia menolak rangkulan aegya semata wayangnya yang manis dan cantik ini?

#Grudukk

#Krakkk

"Astaga... Suara apa itu?!"

Jung Soo, menoleh cepat ketika suara gaduh yang berasal dari dapurnya muncul. Himchan juga ikut menoleh ketika perhatian sang umma tergantikan pada hal lain.

"Umma? Apa itu appa?"

Jung Soo mengangguk pelan. Ia yakin sekali suara itu bukan suara dari pintu utama dimana sang Nampyeon seharusnya masuk. Bukan lewat pintu dapur.

Namun apa daya, kecemasannya muncul, tapi ia tetap ingin menenangkan anaknya.

"Himchan, sekarang kita main petak umpet ya!"

"Petak umpet? Semalam ini? Umma! Lain kali saja!"

"Ani, Himchan.. Umma ingin main sekarang... Sekarang kamu cari tempat persembunyian yang tidak akan mudah umma temukan kau ya... Ingat! Kalau kau keluar dari persembunyian, itu berarti kau kalah!"

"Aku tak akan kalah dari umma!" dan secepat kilat Himchan berlari menjauhi Jung Soo. Ia begitu bersemangat mengikuti permainan ini. Walaupun sebenarnya, Jung Soo punya alasan lain kenapa ia memainkan permainan semacam ini di keadaan gelisahnya.

Jung Soo meneguk air ludahnya secara kasar. Lalu meraih sebuah pukulan baseball yang tak jauh dari jangkauannya. Iya berjalan pelan menuju pintu dapur.

.

.

.

.


"Umma? Kenapa lama sekali?" Himchan memandangi jam dinding. Sudah jam 9 malam. Sudah setengah jam Himchan berada di persembunyiannya, di sebuah lemari, lemari kamar ibunya.

Himchan yang merasa kegerahan bertahan terus di dalam lemari tersebut, akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Ada saatnya ia lebih menyerah saja kalau ibunya memakai cara curang untuk tidak mencarinya begini.

Hendak melangkah menemui ibunya, tiba tiba suara dari luar mengusik perhatiannya.

"Umma?!" Himchan masih tertarik dengan permainannya. Ia langsung mencari tempat yang lebih nyaman.

Kolong ranjang ibunya.

"Hihihi... Disini , umma tak akan menemukanku! Mungkin appa lagi ngajak ngobrol umma." gumam Himchan antusias.

Beberapa menit kemudian, sebuah suara pintu terbuka terdengar. Himchan berusaha menenangkan diri agar tak ketahuan sang umma.

"DIMANA KAU SEMBUNYIKAN PERHIASANMU?!"

#Degg

Suara mengancam yang terdengar mengerikan. Itu tentu bukan suara ayahnya, Kim Kangin. Himchan juga tak bisa mengintip dari bawah kolong, karena ia ketakutan.

"A...aku tak menyembunyikan apapun disini.." bata Jung Soo. Hatinya begitu gelisah dipandangi 2 pasang mata menakutkan di hadapannya.

"Jangan mencoba berbohong, nyonya! Atau akan ku gorok lehermu!"

#Deggg..

Himchan semakin menahan dekapan di mulutnya. Gorok? Itu bukan kata yang bagus untuk diucapkan pada seorang wanita cantik seperti Jung Soo.

"Boss! Aku menemukan kotak perhiasannya."

Himchan melihat sepasang sepatu besar tepat di sampingnya. Berdiri kokoh di hadapan lemari kamar ibunya. Untung saja Himchan memilih kolong ranjang sebagai tempat persembunyiannya.

"Sudah kuduga! Dasar wanita pembohong! Aku benar2 tak main main dengan ucapanku, wanita bodoh!"

.

.

.

.

#Seeeett

Suara menusuk.

Dan pekik lemah sang ibu.

Terdengar begitu menakutkan di telinga Himchan.

.

.

.

.

#Brukk

.

.

.

.

"Boss! Sebaiknya kita kabur dari sini!"

"Ya! Cepat !"

.

.

.

.

.

Himchan merinding ketakutan.

Tepat di depan matanya, ia melihat sang umma tersungkur jatuh. Dengan darah yang merembes dari pakaian kusutnya.

Tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk membekap mulutnya, ia gunakan untuk merangkak mencoba meraih tangan ibunya yang berlumuran darah itu.

.

.

.

.

"H-Himchan..."

"Umma..." Himchan menangis tersedu. Setelah memastikan perampok tersebut telah beranjak pergi, Himchan memberanikan diri keluar dari kolong ranjang tersebut.

Semakin ia mendekat pada sang ibu,

Semakin jatuh air matanya.

.

.

"Hiks.. Umma..." Himchan merangkul tubuh lemah sang ibu. Untung saja Himchan masih mendengar nafas sang umma. Walaupun sangaaaaaaat lemah..

"Maafkan umma..."

"Umma... Hiks"

#Seet

Himchan dengan beraninya menarik pisau yang bersarang di perut ummanya. Ia merasa bahwa benda itu yang membuat sang umma jadi begini. Jadi tak ada pilihan lain.

#Clingg

Silauan pisau perak itu , bercampur dengan lumuran darah, membuat tangannya bergetar memegangnya. Ia langsung menjatuhkannya, dan air mata semakin deras berderai.

"Himchan, dengarkan umma..."

Ummanya yang masih menahan sakit walaupun pisau sudah terangkat dari perutnya, karena darah nya yang justru tak mau berhenti muncul dari balik pakaian biru mudanya.

"Kau namja... Kau tak boleh menangis. Kau akan tumbuh dewasa menjadi seorang Kim Himchan yang kuat. Tak mudah menyerah. Dan namja yang hebat! Jadilah seperti ayahmu. Jangan lemah seperti umma."

"Hiks... Iya, umma" Himchan merangkul ibunya kembali. Tak peduli kini darah membasahi pipi putihnya.

Ummanya tersenyum membalas rangkulan sang aegya. Membelai sayang rambut pirang Himchan.

Untuk yang terakhir kalinya...

.

.

.

.

"UMMA!"

.

.

.

.

Dan semalaman itu, Himchan harus menjaga sang ibu yang telah tiada sampai sang ayah pulang.

Menunggu dalam tangisan dan rasa takut yang luar biasa.

Menumbuhkan rasa trauma berkepanjangan untuknya.

.

.

.

Ya.. Malam yang kelam.

Malam penuh kenangan yang patut dilupakan.

Itulah mengapa Himchan tak pernah mau berada di malam yang penuh keheningan.

Ada kalanya ingatan atas kesendiriannya tanpa sang ibu disisinya..

Membuatnya butuh pengganti peran seorang ibu untuknya.

Menemaninya setiap malam.

Siapakah itu?

.

.

.

.

.

.


**Unflashback/Now**

#Grebbb

"Hentikan, Himchan... Kumohon." Yongguk tak kuasa mengenggam tangan Himchan begitu erat ketika namja itu menjatuhkan air matanya semakin banyak. Sudah lama sekali sejak kejadian itu, Himchan menceritakan kisah kelamnya. Yongguk lah orang pertama yang kembali mendengarkan kisah tersebut.

"Kumohon... Lupakan kejadian itu, Kim Himchan. Ini akan semakin membuatmu sedih."

Yongguk bangun dari ranjangnya dan merangkul Himchan. Memeluknya seerat mungkin setidaknya memberikan kehangatan atas rasa takut dari Himchan. Namja itu perlu seseorang disisinya. Dan benarkah Bang Yongguk adalah jawaban atas pertanyaan tersebut selama ini? Mollayo~

Yongguk melepas rangkulannya, lalu memandang kedua bola mata Himchan intens. Mengusap butir air mata meyayat hati Yongguk yang melihatnya.

"Kau harus menjadi Kim Himchan yang hebat! Itulah yang ibumu pesankan , bukan? Jadi kau jangan sampai melanggarnya."

Himchan terisak lembut. Air matanya semakin jarang menjatuhkan diri. Rupanya Himchan sudah lebih tenang sekarang.

Ditambah senyuman meyakinkan dari Yongguk, semakin membuat Himchan tak kuasa ikut tersenyum. Sudah semestinya suasana menyedihkan ini, tergantikan.

"Yongguk-ah.."

"Eumm..."

"Terima kasih..."

Yongguk semakin tersenyum lebar. Menampakkan mata sipitnya yang memberikan nilai plus ketampanannya. Himchan bahkan tak menyangka senyum angelic itu terpatri pada namja di hadapannya.

Ini mengingatkannya pada mendiang ibunya.

.

.

.

.

.

.

"Aku bersedia menjadi pembantumu, Yongguk."

"Mwo?!"

Yongguk serius menatap Himchan. Bagaimana mungkin di waktu seperti ini masih membahas masalah tadi siang?!

"Oh ayolah Himchan-ah... Aku hanya bercanda! Jangan ungkit-"

"Ani... Aku justru tak bercanda dengan ucapanku."

Himchan memang serius mengucapkannya. Tampak sekali wajah serius , tanpa senyum, muncul secara tiba tiba.

"Seharian ini, aku banyak merepotkanmu walaupun aku baru mengenalmu. Sudah marah marah padamu. Mengeluh. Merendahkanmu. Mengumpatmu. Mengejekmu...

Tapi kau masih sabar dengan senyummu, menemaniku kemana aku pergi. Dan dengan sabar menerima semua egoku." Himchan menghela nafas pelan. "Kau sudah banyak berbuat baik padaku. Sekarang dan seterusnya, aku membalas nya dengan menjadi pembantumu."

"Himchan-ah, bagaimana mungkin aku tega menyuruh2mu? Kumohon, aku tak serius dengan ucapanku tadi siang! Jadi kau juga tak usah serius dengan hal ini."

"Bang Yongguk, kau mengatakan kalau aku harus menjadi namja yang hebat. Tidak lemah. Dengan cara begini, aku akan menjadi namja yang lebih kuat dan mencoba sepertimu yang dipandang 'hebat' oleh orang lain!"

Yongguk menatap penuh namja di hadapannya. Walaupun sulit mencerna arti kalimat yang Himchan lontarkan, namun apa daya... Namja itu sudah keras kepala.

"Baiklah... Jika memang itu membuatmu senang."

Dan beberapa detik kemudian, senyum Himchan tersungging.

Mengawali kedekatan Himchan dan Yongguk,

Sebagai majikan dan bawahan.

.

.

.

.

.

.

"Masalah bola kristal itu, aku akan menggantinya."

"Tidak usah, Himchan. Lagipula, jika aku menahan bola kristal itu pun, tak akan bisa mengembalikan noonaku."

Himchan memiringkan kepalanya tanda bingung. Yongguk justru jadi salah tingkah karena ucapannya yang tanpa sadar keluar sendiri dari mulutnya.

"Noona? Jadi itu dari noonamu?"

Yongguk menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sembari terkekeh tak jelas.

"Hehehe... Sudahlah.. Tidak penting untuk dibahas."

Himchan mengangguk pelan. Tak ada masalah apabila Yongguk tak ingin membahas tentang keluarganya. Namun hal yang disayangkan, karena ia sendiri sudah begitu penasaran dengan kehidupan pribadi namja sekamarnya tersebut.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak tidur, Yongguk?"

Yongguk menatap bingung Himchan. Sebenarnya rasa kantuknya sendiri memang sudah hilang semenjak mencemaskan Himchan dari tadi. Melihat Himchan menangis, dirinya jadi tak kuasa menahan rasa kantuknya terlebih dahulu daripada ia melihat Himchan menangis lagi tanpa ia ketahui.

"Aku ingin menunggumu tidur, Himchan. Jadi kalau kau ingin aku tertidur, kau harus tidur duluan."

"Tskk... Aku tidak mood tidur jam segini. Aku biasa tidur tengah malam."

Jari lentik Himchan menunjuk pada jam dinding. Masih menunjukkan jam 8 malam. Bukankah terlalu awal untuk tidur?

"Kalau begitu , aku tak akan tidur juga sampai tengah malam."

"Yak! Keras kepala sekali! Dimana mana majikan tidur duluan!" Himchan masih bersih keras menuntut Yongguk. Tampak keduanya masih ribut atas 'siapa yang akan tidur lebih dahulu'. Aigoo...

Yongguk terkekeh melihat sikap Himchan yang lagi lagi menjadi galak. Ini sedikit menenangkannya, karena kesedihan Himchan berangsur tak tampak. Lebih baik melihat Himchan marah terus daripada melihatnya menangis.

Itulah yang Yongguk pikirkan kali ini.

#Kruyuk #Kruyuk

Yongguk mendekap perutnya. Suara itu jelas terdengar dari perutnya yang kelaparan. Selama latihan tadi, ia hanya meminum sebotol air pemberian Himchan. Setelah itu, ia harus berantem dengan namja tersebut, dan membuat moodnya rusak hanya untuk sekedar pergi ke kantin mencari makanan.

"Kau lapar?"

Yongguk memalingkan pandangannya. Malu saja jika orang lain melihatnya tampak kelaparan tak karuan begini. Apalagi Himchan kini malah terkekeh memandanginya.

"Arraseo, akan kubuatkan makanan untukmu, tuan.."

"Tunggu, Himchan!"

Yongguk tak bisa menahan kembali Himchan yang sudah keras kepala lebih memilih pergi ke dapur kecil di kamarnya. Entah apa yang akan ia masak, Yongguk pun bingung juga. Tak ada bahan makanan apapun yang ia miliki.

.

.

.

.

.


"Chaaaa... Silahkan dimakan,tuan!" Himchan memandang bangga kedua piring ditangannya. Ia sedikit menggeser meja beroda di samping nakas Yongguk dengan kakinya, tepat di hadapan ranjang Yongguk. Meletakkan 2 piring tersebut begitu apik dan segelas susu hangat. Semua hidangan menakjubkan tersebut, membinarkan mata Yongguk seketika.

"I-ini kau semua yang membuatnya? Ta-tapi aku tak menyimpan bahan makanan apapun di kulkas."

"Aku tau ... Dan betapa bodohnya kau tak menyimpan makanan apapun di kulkasmu. Bagaimana kalau malam seperti ini, kau kelaparan,eoh? Apa gunanya ada dapur di kamar mu seperti ini." Himchan mendengus memandangi Yongguk. Sementara namja di hadapannya pun masih sibuk menciumi 2 hidangan di hadapannya. Air liurnya ingin menetes saat itu juga.

"Tenang saja... Aku tak akan meracuninya. Lagipula itu hanya makanan sisa tadi pagi. Aku tak mood menghabiskannya, jadi kubungkus saja."

#Glekk

Yongguk langsung mendongak cepat. Ia bahkan menjauhkan diri dari hidangan yang ia cium tadi. Hidangan tadi pagi? Ini makanan BEKAS?

"INI NAMANYA RACUN, EOH! Bagaimana bisa kau menghidangkan makanan sisa tadi pagi? Ingin membunuhku,hah?!"

Himchan memutar bola matanya jengah. Sudah ia duga namja itu begitu kontra dengan makanan sisa. Tapi jika ia belum mencoba hasil ciptaannya -lebih tepatnya hasil rombakannya-, bukanlah saat yang tepat untuk menghinanya dulu.

"Pabo! Belum dirasa sudah mengeluh! Kau justru akan membunuh dirimu sendiri jika tak makan apapun! Kantin sudah tutup! Mau makan dimana lagi,hah?! Di mimpimu?!" bentakan Himchan seolah memekakkan telinga Yongguk saja. Tak kuasa menahan bentakan demi cacian Himchan, ia hanya bisa menghela nafas pasrah dan mulai menyendok makanan di salah satu piring yang bentuknya seperti bihun. Jika ia mati pun, setidaknya perutnya sudah diisi oleh makanan.

.

.

.

#Slurppp

Seuntai bihun habis disedotnya kedalam mulut Yongguk. Mengunyahnya perlahan lalu menahannya.

#Singg

Mata Yongguk melotot seketika.

"Wae? Apa sudah basi?" ucap Himchan. Apa tidak seharusnya ia menanyakan pertanyaan macam itu sebelum Yongguk memakannya? -_-

"I-ini..."

Mulut Yongguk seolah digembok oleh rasa makanan buatan Himchan.

"I-ini...

.

.

ENAKKKKK!" dan pada akhirnya, namja kelaparan itu pun dengan buasnya menyendok bihun bihun di piring tersebut. Lalu memakan menu kedua di piring lainnya, yang tampak seperti Kimbab.

Himchan tersenyum antusias. Mata kucingnya muncul menampakkan raut senangnya ketika hasil masakannya dipuji oleh Yongguk. Ini merupakan hasil masakan yang dicoba oleh orang lain selain ayahnya pertama kali.

"Astaga... Apa yang kau masukkan kesini, Himchan? Bumbu ramen?! Kenapa masakannya jadi lebih enak dari yang kumakan di kantin?!" Yongguk menuntut keras Himchan atas masakannya tersebut.

"Ani... Aku hanya mencampurkan beberapa makanan menjadi satu. Tapi untuk kimbab, aku hanya memanaskannya."

"Tapi masakan yang satu ini , lebih enak dari kimbabnya. Memang berapa makanan yang kau campur? "

"Hihihi... 3 masakan dalam 1 piring. Aku hanya sedikit berkreasi saja agar kau tak bosan dengan makanan di kantin."

Yongguk tertawa senang mendengarnya. Tenaganya kembali pulih, dan ia begitu bersemangat. Tak peduli makanan apa saja yang dicampurkan Himchan, tapi masakan kreasi Himchan...SUNGGUH LEZAT!

"Ibumu pasti mengajarkan banyak hal padamu. Jarang jarang ada namja yang bisa masak sepertimu." ucap Yongguk sembari menghabiskan susu cokelatnya.

#Deghh

Ibu?

Masakan?

Oh tidak...

Himchan teringat kembali dengan kenangan dimana sang ibu mengajarkannya bagaimana cara hidup mandiri. Termasuk memasak.

"Ia berperan banyak untukku...dan aku justru kehilangan dirinya." air mata Himchan hampir jatuh di sudut matanya. Yongguk segera menghentikan tegukannya. Ia terkejut bukan main ketika melihat perubahan Himchan 180 derajat dari sebelumnya.

"H-himchan, a-aku..."

Himchan tersenyum miris. Menyeka air matanya yang hampir keluar. Ia begitu bodoh ingin menangis lagi ketika namja di hadapannya akan mencemaskannya bukan main. Begitu merepotkan jadinya.

"Gwaenchana... Aku akan berusaha mengingat permintaanmu untuk melupakan semua kenangan buruk itu."

Yongguk tersenyum lega. Mendengar ucapan Himchan, membuat hatinya terasa hangat dan nyaman kembali.

#TOK #TOK

Yongguk dan Himchan menoleh pada pintu kamar mereka. Sebuah ketukan memecahkan keheningan, dan menjadi perhatian keduanya.

.

.

.

.

.

.


"YAK YAK! APA APAAN KAU MASUK SEENAKNYA SAJA KE KAMARKU, YOO YOUNGJAE?!"

Yongguk mencoba menahan kehadiran Youngjae yang secara tiba tiba masuk seenaknya saja ke dalam kamarnya tanpa meminta ijin pada pemiliknya.

Youngjae yang saat itu masih mengenakan piyama kuning dan selop kuning. Ia bahkan membawa bantal. Jangan lupakan tataan rambut habis bangun tidur, langsung duduk di ranjang Yongguk. Matanya pun seperti setengah mengatup.

"Yongguk-ah! Malam ini aku tidur di tempatmu, nee?!" Youngjae hendak merebahkan diri di atas ranjang luas milik Yongguk. Namun hal itu tak terjadi karena Yongguk langsung menahan tubuh Youngjae dan menariknya berdiri menjauhi ranjangnya.

"Apa apaan ini?! Masuk seenaknya saja, lalu mau tidur di ranjangku tanpa izin!" Yongguk merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi Youngjae kembali menjamahi ranjangnya. Seperti ada tanda 'forbidden' tertulis di rentangan tangannya kali ini.

"JAHAT SEKALI KAU, YONGGUK-AH! Beraninya kau melarang ketuamu sendiri!"

"dan kau beraninya masuk ke kamar orang lain yang jelas pemiliknya tak mengijinkan!"

Youngjae yang sudah setengah mengantuk , hanya mendengus mendengarnya. Namun bukan Youngjae jika ia langsung mematuhi Yongguk untuk pergi. Ia melirik pada ranjang Himchan. Dan saat itulah ia langsung melempar diri ke atasnya.

"Kalau begitu, bolehkan aku tidur bersamamu, Himchan-ah?"

Himchan yang sedari tadi hanya duduk terdiam di ranjangnya, melihat keributan di hadapannya, hanya mengerjab pelan kedua matanya tanda bingung.

"Nugu?" tanya Himchan. Rupanya ia belum mengenal Youngjae.

"HAHAHA.. Bahkan Himchan tak mengenalmu, Jae-ah! SEKARANG PERGI DARI SINI!" Yongguk menarik tangan Youngjae kasar dari posisi rebahannya. Namun Youngjae terus menahan posisinya. Keributan tak terelakkan antara keduanya membuat Himchan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kenapa jadi ribut begini?

"YAK! RANJANG INI MILIK KIM HIMCHAN-SSI! BUKAN MILIKMU, BANG YONGGUK! Jadi biar aku minta izin padanya! BUKAN PADAMU!"

Yongguk melepas tarikannya, dan bertolak pinggang. "Geurae! Sekarang coba kau tanyakan sendiri, pada Himchan. Apa dia mau satu ranjang dengan orang asing sepertimu?!"

Youngjae mendengus kesal dipanggil 'orang asing' terus oleh Yongguk. Merasa ditawarkan dengan penawaran bagus, ia langsung membuat sebuah rencana.

Sedikit merapikan rambutnya yang berantakan dan menepuk kedua pipinya yang tembam. Ia membuat sebuah ancang ancang.

Berhadapan dengan Himchan. Dan memandangnya dengan mata yang berbinar.

"Kim Himchan-ssi... Namaku Yoo Youngjae! Aku adalah ketua kelasmu. Apa kau tak melihat kehadiranku di kelas ?" Youngjae tersenyum antusias dengan tatapan yang manja. Himchan hanya terkekeh canggung dibuatnya. "N-nee.. Kalau begitu, maafkan aku , ketua." Himchan menunduk kepalanya memberi tanda hormat.

Youngjae mengibaskan tangannya maklum. "Tak usah terlalu formal begitu. Panggil aku Youngjae-ah saja, nee?" senyum penuh keramahan ditampakkan Youngjae. Himchan mengangguk mengerti.

"Nah, kau sudah mengenalku,kan? Lalu bagaimana kalau aku ijin seranjang denganmu malam ini saja... Jebal! Neee... Neee.." tak disangka, seorang ketua kelas seperti Youngjae, harus menaruh sementara posisi nya kali ini, demi menarik perhatian Himchan. Ia tak malu beraegyo, bahkan memukul gemas tangan Himchan. Segala tindakan imutnya, seolah membuat Himchan merasa iba juga.

"Sudahlah, Yongguk-ah.. Hanya semalam kok. Lagipula , ranjang ini terlalu luas untuk ditiduri sendiri."

Yongguk menganga. Ia tak percaya ia bisa kalah dari ketua kelasnya sendiri. Well... Memang Youngjae terkenal pintar dalam menarik perhatian siapapun. Tentu saja karena pesonanya. Itulah banyak namja yang mengidolakannya.

"YEY! GOMAWO , HIMCHAN-AH! HAHAHA... LIAT WAJAHMU YANG JELEK ITU BANG YONGGUK!" Youngjae menertawakan ekspresi Yongguk lalu memeletkan lidahnya tanda kemenangan. Melihat keangkuhan namja menggemaskan itu, membuat Yongguk ingin sekali melayangkan satu pukulan ke kepalanya sebagai pengantar tidur.

Namun tentu saja... Jika ia lupa posisi Youngjae itu apa di kelasnya.

"Terserah kau saja..." Yongguk pun menghela nafas pasrah dan langsung beranjak ke ranjangnya tanpa mau meneruskan perdebatan. Hanya membuatnya semakin pusing kepala.

Youngjae tersenyum senang dibuatnya dan kembali merebahkan diri.

Terkecuali Himchan yang masih berada di posisi duduknya.

"Memangnya kenapa dengan kamarmu, Youngjae-ah?"

Youngjae yang merasa terusik tidurnya, membuka matanya kembali. Agak tidak sopan juga tidak menjawab seseorang yang sudah memberi ijin ia tidur di ranjangnya.

"Aku terkena mimpi buruk. Entahlah, akhir akhir ini aku sering terkena mimpi buruk. Dan itu tidak membuatku nyaman." jawab Youngjae setengah berbisik. Berharap yang dikatakannya tak terdengar oleh Yongguk yang sudah terlelap di ranjang seberang.

"Jadi aku perlu seseorang yang setidaknya mau menemaniku tidur."

"Memangnya kau tidak memiliki teman sekamar?"

"Ani... Aku memilikinya. Tapi ia jarang tidur di kamarku."

Himchan dibuat bingung dengan peryataan Youngjae. Ia mencoba menebak nebak , penyebab teman sekamar Youngjae tak mau tidur di kamarnya.

"Memangnya siapa teman sekamarmu?"

Youngjae memutar posisi tidurnya, sehingga ia berhadapan dengan langit langit kamar Yongguk. Menerawang jawaban yang ia akan lontarkan.

"Choi Zelo."

#Deggg

Zelo?

Tunggu... Bukankah itu namja bengal yang menggodanya tadi siang? Bagaimana mungkin seorang namja seramah Youngjae , bisa sekamar dengan namja mengerikan itu?

"entah kemana lagi namja itu pergi. Beberapa malam, ia selalu tak ada di kamarnya. Jadi tak ada gunanya meminta bantuan padanya. Dasar anak keparat..."

"Kau tak takut padanya?" Himchan menoleh pada Youngjae yang masih merebah dengan senyum mengembang. Begitu antusias membahas 'siapa itu Zelo?'

"Takut? Aigoo... Kenapa aku harus takut padanya? Memang dia adalah preman tersohor sekolah ini. Tapi bagaimana pun, aku ini sunbaenya! Kami juga jarang bertemu karena namja itu selalu memiliki tempat 'bersembunyi' selain kamar kami. Jadi itu tidak membuatku khawatir."

Sunbae? Tunggu... Jadi Zelo itu adik kelasnya?! Apakah itu berarti Himchan merupakan sunbae Zelo?! Lalu kenapa Himchan malah takut pada namja mengerikan itu? Well... Namja itu memang punya aura 'mistis' bagi Himchan, sepertinya.

"Kau kenapa, Himchan? Kau seperti penasaran sekali padanya?" Youngjae akhirnya angkat bicara memecahkan keheningan ketika Himchan tak bertanya apapun padanya. Himchan masih sibuk dengan kelebat pertanyaan yang masih tak sanggup diucapkannya.

Namun ada satu hal yang mengganjal.

Zelo mengingatkannya dengan seseorang...

"Entahlah... Tapi aku merasa aku pernah bertemu dengannya." gumam Himchan. Namun gumamannya sangat pelan sehingga Youngjae pun tak dapat mendengarnya.

"Sudahlah jangan dibahas lagi anak itu. Aku harap kau segera tidur, Himchan-ah... Karena besok akan ada mata pelajaran MTK, dan aku tak mau terlambat ke kelasnya."

Himchan mengangguk menyetujui perintah Youngjae.

.

.

.

.

.

Walaupun ia sendiri masih penasaran.

Mengingat ketika pertemuannya dengan Zelo , dan ekspresi datarnya saat itu.

Mungkinkah Zelo pernah ada di masa lalunya?

.

.

.

.

.

.


**1 jam yang lalu**

Daehyun dan Zelo berjalan beriringan menuju keluar asrama. Tepat saat itu, keadaan Asrama begitu sepi dikarenakan waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Dimana peraturan asrama mengatakan bahwa pada jam tersebut, semua siswa sudah diharuskan berada di kamar mereka.

Tidak untuk Zelo, karena namja tersebut harus dicegat Daehyun dan musti mengikutinya di malam hari yang dingin keluar asrama. Dengan langkah yang begitu malas diajak melangkah saja, Daehyun terus mengeluh. Namun namja yang berjalan di samping Daehyun, yang lebih malas dari dokter itu sendiri, hanya memandang langkahnya dengan pandangan jengah dan bibir maju saking kesalnya. Cemberut. Zelo memasang ekspresi tersebut ketika Daehyun terus mengomel.

"Bagaimana bisa kau menjatuhkan pisau bedahku, hah?! Asalkan kau tau bahwa pisau itu lebih berharga dari benda apapun yang kumiliki. Karena pisau itu, aku bisa jadi dokter sekarang."

"..."

"Kenapa kau tak menaruhnya saja di meja , hah?! Kenapa kau menaruh nya di jendela, pabo?! Tanganmu itu iseng sekali menyentuh barang orang,eoh!"

"..."

"Bagaimana kalau ada yang mengambilnya?! A-atau ada yang terluka karena pisau itu?! Itupun juga properti milik asrama! Aku hanya meminjamnya! Aku bisa dituntut!"

Pisau ... Pisau ... Pisau...

Zelo merasa kenyang mendengar kata itu terulang terus di otaknya. Namun Daehyun masih melengos membicarakan alat itu. Tak wajar sekali seseorang seperti Daehyun begitu mencintai alat tajam yang siap melukai siapapun tersebut.

Zelo dan Daehyun kini berhenti di suatu taman.

Dimana mereka mengira 'benda berharga' Daehyun berada.

"Kau harus mencarinya! Atau pintu ruang kesehatan akan selalu tertutup untukmu!" bentak Daehyun namun tetap dengan suara pelan. Namja itu terus mendekap jaket tebalnya dan matanya melempar tuntutan pada Zelo di balik kacamatanya.

"Arraseo,hyung." Zelo yang sudah setengah mengantuk, tak kuasa hanya bisa mematuhi. Mengurusi namja tua sok disiplin dan muka tampan namun selalu galak itu, hanya membuat Zelo jadi mudah mengalah.

Daehyun dan Zelo menulusuri setiap tempat.

Daehyun mencari ke kotak sampah.

Mencari di bawah kolong bangku taman.

Air mancur.

Lapangan.

Tunggu? Bukankah posisi yang ia cari sudah kelewat jarak dari posisi pisau nya seharusnya jatuh? Kini posisi sebagai dokter si Daehyun benar benar diragukan oleh Zelo. Ckckck..

Zelo yang melihatnya hanya menggeleng maklum. Kalau sudah gelisah, namja tampan itu pasti tak akan berpikiran lurus. Namun untuk Zelo, ia selalu berpikir lebih jernih. Ia langsung memilih semak semak di dekat air mancur yang tepat di bawah jendela ruang kesehatan berada. Tak salah lagi pisau berharga milik Daehyun berada disana. Ia hanya perlu merangkak, mengorek ngorek , untuk mendapatkannya. Walaupun agak sulit karena suasana yang gelap tanpa penerangan.

Ia merangkak masuk ke dalam semak semak dan mengorek tanah , semoga saja ia bisa menemukan pisau bedah milik Daehyun.

#Clingg

Sebuah silauan logam tampak tak jauh dari posisinya. Walaupun ranting ranting semak agak menganggunya untuk merangkak lebih dalam, namun tubuh kurusnya tak membuatnya kesulitan. Ditambah kakinya yang panjang yang bisa mendorong tubuhnya semakin ke dalam semak.

"Got you!" Zelo saking bersemangatnya, merentangkan tangannya itu hingga menembus semak. Memperlihatkan pisau perak yang tersilaukan oleh cahaya bulan.

.

.

.

.

.

"KYAAAAAAAA!"

.

.

.

.

.

Zelo yang terkejut akan suara teriakan tersebut. Segera berdiri menembus semak semak. Tak peduli pakaiannya dipenuhi dedauan dan ranting patah yang menggantung di sana sini.

"Aigoo.. Suara apa itu?" Zelo menoleh kanan kiri. Ia tak menemukan siapapun.

Merasa biasa saja. Karena ia pun juga tak muda ditakuti hanya karena suara aneh yang tiba tiba muncul tadi, ia berjalan keluar dari semak semak dan berlari menyusul Daehyun yang masih sibuk mencari pisaunya di...lapangan sekolah? -_-

.

.

.

.

"HYUNG! AKU MENEMUKANNYA!"

"Kyaaaa... My lovely knife "

Daehyun meraih pisau itu dan mengelap manja pisau itu agar sisa tanah di pisaunya tak menempel.

"Gomawo, Zelo-ah! Fiuhh... Ternyata kau bisa jadi namja berguna juga." Daehyun menepuk bangga bahu Zelo. Namja tinggi tersebut dengan kasarnya hanya menepis dan mendengus kesal atas sikap sok memanjakan dari Daehyun. Daehyun hanya terkikik melihatnya.

"Baiklah... Kajja! Kita kembali ke dalam asrama." Daehyun hendak melangkah kembali ke dalam asrama. Namun Zelo masih dalam keterdiamannya. Sebenarnya ia sedang tidak memikirkan kembali atau tidaknya ke dalam asrama.

Ia memikirkan hal lain.

Dan dia harus tanyakan sekarang agar tak ada orang yang mengetahuinya.

Mumpung dalam keadaan sepi begini.

.

.

.

.

"Hyung?"

Daehyun menghentikan langkahnya. Lalu menoleh pada Zelo yang tak mengubah langkahnya sama sekali.

"Mwo?"

"Soal jantungku..."

Daehyun melihat ekspresi penasaran Zelo. Sementara namja tinggi itu hanya mendekap dadanya.

"Jantungmu sakit?"

"Ani... Soal kau bilang 'aku sedang menyukai seseorang'.. Kenapa kau memikirkan hal itu?"

Daehyun tersenyum antusias. Sudah seharuskah ia membahas hal ini? Well... Zelo tak suka dengan pembahasan berbau 'Cinta' atau sejenisnya. Namun tampaknya, hal itu sudah dilupakan Zelo.

"Nee.. Ada beberapa kemungkinan jantungmu berdegup kencang begitu." Daehyun mendekati Zelo. "Pertama, kau merasa takut atau cemas. Aku kenal betul sekali kau. Kau sangat suka hal hal berbau menantang dan tak mencemaskan hal yang paling ditakutkan orang lain sekalipun. Kau terlalu berani."

Zelo mengangguk bangga. Walaupun sebenarnya Daehyun merasa berat hati memberi pernyataan seperti itu.

"Kedua, kau memiliki kelainan atau penyakit jantung. Itu sepertinya tak mungkin. Karena aku tau kau orang sehat. Dan kau tidak memiliki garis keturunan yang terkena jantungan juga."

"Ketiga, kau sedang malu ketika berhadapan dengan orang yang...kau sukai. Seseorang jika malu dengan seseorang ia kagumi, ia sukai, namun hanya disimpan perasaan tersebut dalam hatinya. Jantungnya akan berdegup kencang. Sekalipun ia terus mengelak bahwa ia tak menyukainya, itu berarti benar! Ia suka orang itu. Perasaan tidak bisa menipu ketika merespon lewat fisik sekalipun."

Zelo membuang muka kesal. Agak malas membahas hal ini. Namun kenapa? Kenapa yang dikatakan Daehyun hampir benar? Walaupun dalam dirinya mengatakan ia membenci Moon Jongup, sunbaenya itu, perasaannya justru berkata lain. Dan itu terespon jelas setiap kali ia menatap kehadiran Jongup. Bahkan ketika untuk pertama kalinya Jongup menyentuhnya tadi pagi, jantungnya berdegup kencang. Sekalipun Zelo sendiri bingung kenapa jantungnya (untuk pertama kalinya juga) merespon tak jelas begini pada seorang namja?

Mungkinkah ia menyukai Jongup?

Mungkinkah? Ta-tapi ia namja , bukan? Zelo tak mau jadi orang aneh dan tidak normal begitu!

"Kenapa,huh? Kau tak perlu mengelak lagi bahwa kau sedang menyukai seseorang. Tapi siapa orang itu, yang masih kuherankan." Daehyun memandang selidik Zelo. Namja tinggi di hadapannya sudah diam 1000 bahasa setelah mendengar pernyataan ketiga Daehyun.

"Aku ngantuk,hyung... Sebaiknya kita ke dalam." dan Zelo -seperti biasa- hanya merespon sedikit lalu melenggang pergi. Kalau membahas masalah yang -ia pikir- tidak penting, sebaiknya disudahi saja. Dan Daehyun benci ketika apa yang sudah ia jelaskan panjang lebar, hanya direspon begitu.

"YAK! DASAR KAU ANAK TAK TAU DIRI! KAU YANG BERTANYA, TAPI KAU JUGA YANG TIDAK ANTUSIAS!" Daehyun memberi pose ingin melempar pisaunya ke Zelo. Namun namja tinggi itu sudah menghilang di balik pintu asrama.

.

.

.

.

.

.

.

.


Keesokan paginya,

Keadaan asrama kembali dipenuhi para siswa seperti biasa. Siswa yang berlalu lalang di depan sekumpulan pintu kamar. Hanya sekedar menyapa teman setetangga mereka, atau mencari kamar mandi, karena tak mau menunggu teman sekamar mereka yang sedang memakai kamar mandi lebih dahulu.

.

Seorang namja tampan dengan senyuman berseri dan jas lab yang selalu menjadi hal wajib untuk dipakainya setiap pagi, berjalan dengan berwibawa.

"Selamat pagi, Dokter Jung."

"Selamat pagi, hyung."

Semua sapaan itu ia dapat ketika ia melewati beberapa siswa di lorong sekolah. Ia tersenyum bangga ketika semua siswa begitu menghormatinya sebagai dokter asrama.

Masih beberapa langkah menuju ruang 'kebesarannya', ia dikagetkan dengan seseorang.

Ia berpapasan dengan Yoo Youngjae. Tentu saja membuat semangat paginya meletup letup. Namja mempesona itu sama sekali tak melakukan respon apapun kecuali hanya menatap malas pada Daehyun.

"Selamat pagi, Youngjae-ah! Bagaimana tidurmu?"

Youngjae memberikan ekspresi datar yang tidak senang. Sungguh bertolak belakang dengan kepribadian Youngjae yang notabene selalu bersemangat dan berseri seri sama halnya dengan yang Daehyun lakukan pagi ini.

"Ada apa, Youngjae-ah? Nan Gwaenchana?" Daehyun memegang kedua bahu Youngjae dan menelusuri ekspresi yang diberikan si namja imut di hadapannya.

Tak diduga, Youngjae malah menepis tangan kokoh Daehyun.

"Aku baik baik saja... Sejak kapan hyung mempedulikanku?"

#Degg

Sungguh memukul batin Daehyun saat ini. Youngjae tampak kesal namun apa daya , Daehyun yang tak tau apa apa, jadi bertanya sendiri. 'Apa yang tidak ia pedulikan dari Youngjae?' Daehyun merasa dirinya sudah banyak peduli pada Youngjae. Apalagi yang kurang?

"Hyung bilang kalau hyung akan jadi dokter pribadiku. Menjagaku terus jika aku sedang kenapa napa. Akan selalu berada disisiku. Tapi kenapa ketika aku sedang terkena mimpi buruk lagi dan ingin ditemani hyung, Hyung justru tidak ada untukku?!" suara Youngjae agak berat. Sepertinya menahan apa yang ada di dalam hatinya. Menahan rasa marahnya pada si dokter ,Jung Daehyun.

"Kemarin aku datang ke ruang kesehatan hyung, tapi kau tak ada! Apa kau tega meninggalkanku tanpa aku tau?! Hyung janji tidak akan pulang ke rumahmu sebelum aku yang mengetahuinya. Hyung ingin berbohong padaku?!"

Untung saja keadaan di tempat mereka berada, sedang sepi dari siswa lainnya. Namun bentakan Youngjae yang mengisi keheningan di tempat itu.

Daehyun jadi merasa terpojok. Apa yang Youngjae katakan cukup benar apabila Daehyun meninggalkan ruang kesehatan malam kemarin karena sedang mencari 'pisau' nya. Tapi alasan meninggalkan itu yang salah. Rupanya Youngjae salah mengira. Dan ini justru membuat Youngjae merasa 'dibohongi'

Daehyun memang ingat, ketika Youngjae mengatakan ia sangat takut dengan mimpi buruk. Dan Daehyun menawarkan diri untuk menjadi seseorang yang setia mendampinginya agar ia tak terkena mimpi buruk. Selalu. Bahkan selamanya.

"So...soal itu..."

"Sudahlah,hyung! Aku malas berbicara denganmu!" Youngjae meneruskan kembali langkahnya , meninggalkan Daehyun yang masih melamun dengan kesalahan yang diperbuatnya.

"Menemanimu selalu. Selamanya? Dengan cara seperti apa lagi agar kau yakin padaku Youngjae? Aku tau aku salah kemarin. Aku harus memperbaikinya..."

.

.

.

.

.


Youngjae merasa pening kepalanya. Jalannya pun agak limbung. Entah kenapa hal ini terjadi. Yang pasti ia jadi sangat lelah. Apa ia perlu ke ruang kesehatan? Ah... Tidak! Tidak disaat ia habis membentak Daehyun.

"ITU DIA YOUNGJAE SUNBAE!"

Sosok 3 namja berwajah manis, berlari mendekati Youngjae yang masih melangkah limbung. Mereka tampak antusias sembari membawa buku tulis,kertas, dan pulpen, entah untuk apa semua itu.

"Permisi, sunbae!" namja berambut hitam membungkuk hormat. Kedua teman lainnya ikut membungkuk. Youngjae hanya membalas tatapan heran melihat kehadiran ketiga hoobaenya itu. Mereka tampak bersemangat sekali sepagi ini.

"Sunbae! Kami dari ekskul wartawan sekolah! Kami mau sedikit mewawancarai tentang sunbae yang merupakan namja yang diidolakan di sekolah ini." ucap namja berambut hitam itu dengan antusiasnya. Senyum lebar tersungging jelas di wajahnya.

"Yak! Jimin-ah , seharusnya kita memperkenalkan diri dulu! Ingat peraturan no. 3 , bahwa seorang wartawan harus memperkenalkan diri sebelum memberi ijin wawancara." perintah namja berambut cokelat terang di sampingnya.

"Ishh... Kalian berisik sekali! Nee... Saya Jeon Jungkook , dan ini adalah kedua teman saya, Jimin dan Taehyung. Kami dari ekskul wartawan sekolah untuk angkatan kelas 2. Mohon partisipasi nya, sunbae." dan ketiganya melakukan bow -lagi-.

Youngjae yang saat itu sedang sangat tidak bersemangat, dimana juga kepalanya yang seperti berputar putar. Jadi tidak konsentrasi.

"Maafkan sunbae! Tapi lakukan wawancara lain waktu saja."

"Tapi, sunbae! Kita harus memberikan berita ini nanti siang. Jadi tak ada waktu wawancara lagi, sunbae!" rengek Taehyung menarik narik tangan Youngjae dengan gemas. Berharap apa yang ia lakukan bisa menarik simpati.

"Nee , sunbae! Kami tak mau mendapat hukuman dari Jin hyung, ketua kami! Please, sunbaee.." Jungkook justru memberi raut memohon pada di hadapan Youngjae.

"Sunbae! Kami baru direkrut ke dalam ekskul. Jadi kami mohon bantuannya untuk memberikan sedikittttt saja tentang profile , sunbae." Jimin juga ikut memberikan raut memelas.

Youngjae semakin dibuat pusing karena tingkah sok memelas ketiga hoobaenya itu. Ia tak punya tenaga untuk melawan.

"kumohon... N-nanti s-saja..."

.

.

.

.

.

.

#Brukkk

.

.

.

.

.

"SUNBAENIMMMMM!"

.

.

.

.

.

.


TBC/END?

Ciee Youngjae sakit nih? Samaan dong :P /Plak/

Konflik sudah mulai bermunculan!

Tapi genre tidak akan pernah berubah ^^ (Paling nambah genre jadi Drama /plak)

Pertanyaan pertanyaan readernim terjawab sudah di chapter ini.

Soal Youngjae sekamar sama siapa.

Masa lalu Himchan. dll

Pertanyaan lain tentang chapter ini, akan terjawab di chapter selanjutnya (mungkin)

Akan banyak masa lalu lainnya loh...

Stay tune^^

Miyu mau mengucapkan terima kasih untuk :

BabyHimmie , Global Fanfiction, Jang Taeyoung, Jaylyn Rui, Nixs Peach, RJunkey, RaniJung Xoins, amalia1993, angelHimes, aspirerainbow, babyyming, bright16, illaa28, lovara, ,rizanoviyanti5,sasukegmpaselleh,lovejeje, mokythatha, sellyapril, suyanq, tiggerccino98,sayaorchestra, Kkamjongie, BangHim Childhood,Jae Mi Lindudtsz, yerizel98, HyunKi2204, Finda DaeJae, maya22dj, jae1994, suholicious, himechan, angelHimes, BabyHimmie, OhSooYeol, Dragonius Meidi Lee dan para Guest ^^

makasih juga yang udah dukung FF ini di FB, Twitter, Line, BBM :D

Walaupun masih pemula dalam pembuatan chapter, tapi Miyu akan berusaha sebaik mungkin ;)

Ada yang perlu ditanyakan atau kritik tertentu? Review nee... biar Miyu bisa perbaiki apa yang jadi kekurangan disini^^

.

.

.

.

.

mohon doanya biar Miyu cepet sembuh ya :D

SARANGHAEYO BABYs ! SARANGHAEYO READER-NIM \(≧o≦)/

MAY TO REVIEW?