SECRETUM
Baekhyun terlihat resah, gadis itu tampak tak tenang mengetukkan ujung sepatunya pada lantai tempatnya berpijak. Jarum jam telah menunjuk pada angka 4 sore, dan saat ini Baekhyun sudah berada di Seoul National HQ. Yaa hari ini dia ingin mencoba pulang ke rumahnya dengan menggunakan Subway atau MRT. Baekboom dan Yoona sempat melarangnya dan berkata akan menjemput Baekhyun, tetapi Baekhyun tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia hanya ingin belajar, ia ingin belajar bagaimana caranya menggunakan Subway atau Bus untuk pergi ke Universitasnya dan juga tempat lain ataupun sebaliknya.
Karcis yang dia beli sudah berada di tangannya. Gadis itu beberapa kali kembali melihat lagi petunjuk yang diberikan Baekboom tentang di station mana dia harus berpindah Subway supaya sampai di Hannam Station. Baekhyun memang belum memiliki KTA/ T-Money yang bisa ia gunakan untuk membayar Subway atau bus maka dari itu dia membeli karcis secara manual.
"Fighting B, kau pasti bisa. Ini hanya seperti kereta mainan tetapi dengan ukuran yang lebih besar. Benar" Gadis itu bergumam sendiri sembari menunggu kereta yang akan ia naiki datang. Tanpa tau jika seseorang sebenarnya berada di belakangnya dan tengah menahan tawa malihat betapa polosnya gadis itu.
Itu Sehun, si tampan bermarga Park itu sudah mengikuti Baekhyun sejak dari Universitas tadi setelah melihat Baekhyun berjalan menuju stasiun. Tidak bermaksud apapun, Sehun hanya khawatir dan akhirnya ia memilih meninggalkan mobilnya di depan gedung Fakultas dan mengikuti Baekhyun secara diam-diam. Sebenarnya ia sempat ingin menegur Baekhyun dan mengantarkannya pulang, namun setelah ia pikir-pikir, tidak ada salahnya untuk Baekhyun belajar menggunakan kendaraan umum sebab itu juga akan berguna untuk gadis itu nanti.
"Ya Mom?" Baekhyun terlihat mengangkat telfon yang baru saja masuk dalam ponselnya. Itu Yoona, wanita itu terdengar begitu mencemaskan Baekhyun di seberang sana.
"Tidak, tidak. Baekhyunie baik-baik saja. Mommy tenang saja, Baekhyunie tidak akan tersesat atau salah naik kereta" Sehun tanpa sadar ikut mengulas senyum mendengar percakapan Baekhyun dengan seorang wanita yang Sehun yakini pasti adalah ibu dari gadis itu.
"Yes Mom" Baekhyun segera mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas sebelum memasuki Subway yang dia tunggu.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, ia terlihat begitu rasah. Sedangkan Baekhyun berdiri tidak jauh di belakang Baekhyun. Pandangannya sama sekali tidak ia izinkan untuk terlepas dari gadis mungil yang terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya itu. Baekhyun benar-benar terlihat begitu kecil, terlepas dari ukuran badan gadis itu yang memang mungil, ekspresi wajah kebingungannya saat ini semakin meyakinkan beberapa orang jika gadis itu tidak lebih dari seorang siswa sekolah dasar yang baru pertama kali naik kendaraan umum.
Sehun tidak tahan untuk menahan kekehannya setiap kali menangkap Baekhyun yang berjengkit saat Subway yang mereka naiki berhenti di stasiun, gadis itu hanya tengah mengecek nama stasiunnya mungkin memastikan tentang kapan ia harus turun dan berganti subway.
"Permisi, permisi" Sehun sedikit kesulitan ketika tubuhnya sedikit terdorong oleh beberapa orang yang terlihat terburu menuruni Subway disalah satu stasiun. Pria itu mencoba melindungi seorang nenek yang kebetulan berada di dekatnya. Pria itu masih berusaha mencari keberadaan Baekhyun, namun matanya seketika melebar saat melihat tubuh mungil gadis itu terdorong hingga keluar dari kereta.
Sehun benar-benar merutuki beberapa orang yang tidak sabaran dan seenaknya sendiri, hingga tidak mementingkan keadaan orang sekitar. Subway hari ini memang terlihat lebih penuh dari biasanya. Sehun segera membantu nenek itu duduk di tempat yang baru saja kosong dan ia segera menerobos kerumunan beberapa orang yang menghalangi jalan pintu kereta. Tubuhnya bahkan hampir terjepit pintu Subway jika saja ia tidak cepat keluar dari sana.
Baekhyun hanya diam memandang kereta yang tadinya ia naiki berjalan meninggalkannya. Saat di dalam tadi banyak orang yang turun di stasiun itu sehingga ia beberapa kali terdorong dan berakhir terseret arus hingga keluar kereta.
Sehun segera mengedarkan kedua matanya, mencari sosok yang ia cari. Hingga saat dirinya berhasil menemukan sosok itu helaan nafasnya terdengar penuh kelegaan. Pria itu terkekeh geli melihat Baekhyun yang menatap kepergian kereta yang meninggalkannya dengan wajah memelas. Lantas pria itu segera menghampiri si mungil yang benar-benar terlihat menggemaskan saat ini.
Baekhyun terdiam memandang lesu pada kereta yang sudah pergi meninggalkannya.
"Keretanya meninggalkanmu?" Baekhyun mengangguk lesu ketika mendengar seseorang yang berdiri di sampingnya bertanya. Gadis itu tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, sebelum kemudian ia melebarkan mata setelah menyadari jika tidak seharusnya ada orang yang bertanya seperti itu padanya mengingat ia pergi sendiri tadi.
"Oh?!" Raut terkejut itu cukup menghibur. Sehun memberikan senyum termanis miliknya pada gadis yang masih melebarkan mata menatap padanya itu.
"Lain kali jangan berdiri di dekat pintu keluar, kau bisa terseret arus seperti tadi" Sehun meraih satu tangan Baekhyun dan segera menggandeng gadis itu untuk menuju kereta lain yang bisa membawa mereka menuju Hanam Station. Baekhyun hanya menurut, mau tidak mau ia harus mengakui jika dirinya cukup lega mendapati Sehun disana, sebab jika tidak ia pasti sudah berakhir dengan merepotkan Baekboom untuk menjemputnya dan akan berakhir dengan dirinya yang tidak akan pernah mendapat izin menggunakan kendaraan umum lagi di lain waktu.
"Apa yang Oppa lakukan disini?" Mengingat tempat tinggal Sehun yang dekat dengan Universitas tentu saja wajar jika Baekhyun bertanya tentang keberadaan Sehun disini. Terlebih seorang Oh Sehun tidak seharusnya menaiki kereta bawah tanah sebab kemanapun pria itu pergi ia tidak pernah meninggalkan mobil mewahnya.
"Oppa?" Sehun menunjuk dirinya sendiri, Baekhyun mengangguk. "Umm.. Jika jawabannya adalah Oppa berada disini untuk mengikuti seorang gadis kecil yang terlihat begitu kebingungan saat menaiki subway apa Oppa akan dicap sebagai penguntit?" Wajah Baekhyun seketika langsung memerah mendengar jawaban Sehun.
Sehun mengikutinya? Sejak tadi?
"Jika kau ingin belajar menggunakan kendaraan umum harusnya kau meminta bantuan orang lain dulu untuk pertama kali B, bagaimana jika kau tersesat hm?" mereka masih terus berjalan menuju bagian lain stasiun.
"Beruntung aku melihatmu tadi jadi aku bisa mengikutimu, jika tidak apa yang akan kau lakukan?" Sehun membawa Baekhyun untuk berdiri di sebuah loket khusus yang berada di stasiun, pria itu berbicara pada salah satu petugas dan tampak memberikan black card miliknya pada petugas tersebut.
Baekhyun masih terdiam, tidak begitu mengerti dengan yang dilakukan pria itu. Tangannya masih berada di genggaman pria itu. Sesekali mereka akan saling pandang dan Sehun selalu terkekeh saat mata mereka bertemu.
Tidak butuh waktu lama dan petugas itu sudah mengembalikan blackcard milik Sehun dan juga satu lagi kartu berwarna putih.
"Kau bisa menggunakan ini untuk menaiki semua kendaraan umum yang akan kau gunakan hm?" Pria itu menyerahkan kartu tersebut pada Baekhyun, dan kini Baekhyun tau kartu apa itu.
"Oppa seharusnya tidak melakukan ini, aku masih belajar dan aku bisa mengurusnya nanti" Baekhyun tidak enak hati, Sehun sudah terlalu banyak membantunya.
"Tidak apa, ayo"
.
.
.
.
Chanyeol melemparkan dirinya di sofa ruang tengah apartementnya, hari ini cukup melelahkan untuk pria 33 tahun itu. Ia baru saja pulang dari Busan untuk mengecek proyek pembangunan hotel disana bersama dengan Baekboom.
Lantas tiba-tiba pikirannya kembali memutar ulang percakapannya dengan Baekboom saat makan siang tadi.
"Baekhyun memang gadis yang pendiam, dia sulit dekat dengan orang lain. Selama ini hanya padaku, Yoona dan Eomma dia bisa membuka diri. Dia sangat berharga untuk kami bertiga, Chanyeol-ssi. Aku cukup terkejut saat dia meminta nomor ponselmu padaku kemarin, adikku benar-benar mendatangimu?"
"Yaa, dia datang untuk berterimakasih padaku" Chanyeol tersenyum membayangkan wajah merona milik Baekhyun saat pertama kali ia menemukan gadis itu berada di depan kantornya.
"Biar ku tebak! Dia pasti terlihat seperti bocah tersesat dengan kerjapan polosnya? Benar kan?" Chanyeol terkekeh membenarkan.
"Dia terlihat begitu kebingungan, beruntung aku melihatnya di depan perusahaan saat itu" Keduanya sama-sama terkekeh membayangkan bagaimana wajah menggemaskan Baekhyun.
"Chanyeol-ssi, apa kau benar-benar tertarik dengan adikku?"
'adikmu yang mana?' tanpa sadar Chanyeol mengucap tanya itu di dalam hatinya.
"Maksudku, kau dan Yoona akan menikah karena sebuah perjodohan, apa kau sudah memiliki rasa padanya?"
'Ternyata Yoona yang sedang ditanyakan Baekboom' memangnya kau berharap siapa Chanyeol?
"Aku tidak tau, kami belum begitu dekat Baekboom-ssi" Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia sedikit tidak nyaman dengan pembahasan ini.
"Kau benar, kalian belum lama melakukan pendekatan. Mungkin aku yang terlalu terburu-buru menanyakan ini padamu. Tetapi aku memiliki satu permintaan padamu. Jika nanti kau benar-benar menikah dengan Yoona, kuharap kau menerima segala kekurangan adikku termasuk menerima keberadaan Baekhyun" Baekboom tertawa kering mencoba menghilangkan canggung yang tiba-tiba menyergap.
.
.
.
Chanyeol mengusap wajah lelahnya, pria itu sedari tadi tidak bisa berhenti untuk memikirkan kalimat Baekboom yang terakhir. Kenapa pula pria itu harus berpesan padanya untuk menerima keberadaan Baekhyun yang jelas-jelas tanpa di mintapun Chanyeol tidak akan pernah mempermasalahkan keberadaan Baekhyun. Bukankah Baekhyun keluarga Yoona juga? Chanyeol sudah tau tentang arti sebuah pernikahan salah satunya adalah menerima segala kekurangan yang dimiliki pasangan dan juga menerima semua keluarganya.
Apa ada sesuatu yang terjadi pada Baekhyun? Apa gadis itu baik-baik saja?
Chanyeol merogoh ponselnya yang berada di saku. Lantas mencari nomor ponsel seorang gadis yang beberapa hari terakhir selalu berputar-putar di pikirannya.
To Baekhyunie : Hay Baek, apa yang sedang kau lakukan sekarang?
(Delete)
To Baekhyunie : Baekhyun apa kau baik-baik saja?
(Delete)
To Baekhyunie : Selamat malam Baek, kau sudah tidur?
(Delete)
"Aaaggrr" Chanyeol berteriak kesal sendiri dengan dirinya yang begitu kaku sampai-sampai untuk mengirimkan sebuah pesan pada seorang gadis saja dia tidak tau apa yang harus pertama kali di katakannya. Pria itu mengubah posisinya menjadi tengkurap di sofa dan menenggelamkan kepalanya pada bantal yang ada disana.
To Baekhyunie : Hay Smurfin
(Send)
"Yak! Apa ini terkirim, bagaimana cara membatalkannyaaaa?" Siapapun tolong ingatkan pria ini jika dia benar-benar sudah keluar dari karakternya saat ini. Chanyeol berteriak pada ponselnya, merutuki segala kebodohannya hingga berakhir mempermalukan dirinya sendiri di depan seorang gadis berusia 17 tahun.
Ting..
Chanyeol kembali menyambar ponselnya yang tergeletak di atas karpet ketika sebelumnya dia sendiri yang melempar ponsel tersebut.
From Baekhyunie : Ahjussi?
"Kenapa dia hanya menjawab seperti ini? Aku harus menjawab apa?" Chanyeol benar-benar terlihat frustasi. Dia terlalu buta dengan hal-hal seperti ini.
To Baekhyunie : Apa ahjussi mengganggumu?
(Send)
Chanyeol menatap penuh harap pada layar ponselnya yang tidak ia izinkan mati walaupun hanya sedetik. Mungkin jika Sehun ada disana, adiknya itu akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Chanyeol saat ini.
Ting..
"Oh!" Pria itu terlihat begitu bersemangat, bahkan ia melupakan lelah yang sedari tadi bersarang di badannya. Melupakan niatnya untuk sejenak memejamkan mata ataupun membersihkan diri.
From Baekhyunie : Tidak, Baekhyunie baru selesai belajar, Baekboom oppa baru saja sampai rumah. Bukankah ahjussi pergi bersama Oppa?
Tarikan di sudut bibirnya menandakan jika pria itu sedang dalam keadaan hati yang baik.
To Baekhyunie : Yaa, Ahjussi baru saja sampai di Apartement. Apa yang kau lakukan sekarang?
Pria itu sesekali terlihat resah ketika pesan balasan dari Baekhyun belum juga ia terima.
From Baekhyunie : Uum berbalas pesan dengan Ahjussi? Hihi. Bersihkan diri Ahjussi terlebih dahulu, itu akan membuat lelah Ahjussi sedikit berkurang :)
Chanyeol kembali mengulas senyum setiap kali pesan dari Baekhyun masuk ke dalam ponselnya.
To Baekhyunie : Ide bagus.. Kalau begitu, selamat malam. Baekhyun.
From Baekhyunie : Selamat malam, Ahjussi :)
"Haruskah aku mengajaknya bertemu? Tetapi bukankah itu akan terdengar berlebihan?" Pria itu bergumam pada dirinya sendiri. "Okee, hanya satu kali"
To Baekhyunie : Baekhyun, Tunggu!
From Baekhyunie : Yaa?
Chanyeol kembali terdiam, terlalu bingung dengan keinginannya sendiri.
To Baekhyunie : Eemm.. Bagaimana dengan makan siang bersama? Besok?
(Send)
"Sial, apa yang kulakukan?!"
To Baekhyunie : Jika kau tidak keberatan, tentunya.
From Baekhyunie : Yaa Ahjussi.
Tanpa sadar Chanyeol melompat girang sembari berlari menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri setelah menerima balasan terakhir dari Baekhyun.
Kau sebahagia itu Yeol?
.
.
.
Baekhyun meletakkan kembali ponselnya setelah membalas pesan dari Chanyeol. Sebuah senyum cantik di bibirnya tak luput dari perhatian Yoona yang baru saja masuk ke dalam kamar putrinya itu.
"Apa Mommy melewatkan sesuatu?" Yoona mengambil alih sisir rambut dari tangan Baekhyun dan membantu merapikan rambut gadisnya itu.
"Huh?" Baekhyun memandang Yoona dari cermin meja riasnya.
"Kau terlihat sedang bahagia, Baby. Harimu menyenangkan?" Baaekhyun mengulas senyum dan mengangguk pada ibunya. Namun ketika mata mereka kembali bertemu, Baekhyun menyadari sesuatu. Menyadari kesalahannya, Yaa Baekhyun melakukan kesalahan.
'Maafkan Baekhyunie Mom'
Baekhyun membalik badannya dan segera memeluk Yoona, menenggelamkan wajahnya pada perut ibunya itu.
"Hey"
"Sebentar saja Mom, biarkan seperti ini" Yoona mengulas senyum lantas mengelus lembut surai panjang Baekhyun.
"B" Mereka masih berpelukan, Baekhyun merasa nyaman setiap ia mendekap tubuh hangat wanita yang melahirkannya itu.
"Hm?"
"Apa Baekkie sedang dekat dengan seorang pria?" Baekhyun melepas pelukannya dan kini memandang linglung pada ibunya.
"M-Maksud Mommy?" Bahkan ia sedikit tidak mengerti dengan dirinya yang tiba-tiba merasa ketakutan.
"Pria yang mengantarmu sore tadi, apa itu calon kekasih Baekhyunie?" Yoona menahan tawanya melihat wajah Baekhyun yang terlihat begitu ketakutan.
Baekhyun tidak bisa menyembunyikan raut kelegaannya ketika Yoona menyebut Sehun, entahlah. Baekhyun hanya merasa sulit mengendalikan perasaannya beberapa waktu terakhir ini.
"Mommy jangan mengada-ngada, Baekhyunie tidak ada hubungan apapun dengan Sehun Oppa" Baekhyun segera berdiri dan berjalan menuju tempat tidurnya, meninggalkan Yoona yang justru terkekeh menyebalkan di belakangnya.
"Ooh, Jadi namanya Sehun Oppa yaa?"
"Mommy~ Stop it. Baekhyun ingin tidur sekarang" Yoona kembali tertawa menghampiri Baekhyun dan membantu membenarkan letak selimut yang membungkus tubuh mugil putrinya.
"Eey kenapa malu-malu? Mommy tidak masalah jika Baekhyunie memiliki kekasih. Lagi pula dia pemuda yang tampan" Baekhyun memutar matanya malas, membuat wajahnya menjadi sasaran kecupan bertubi-tubi yang dilayangkan Yoona padanya akibat gemas.
"Mommy geli~"
"Baiklah, sekarang saatnya tuan putri pergi tidur hm?" Yoona merapikan beberapa anak rambut Baekhyun yang menjuntai menutupi wajah sebelum memberikan kecupan selamat malam pada kening Baekhyun.
"Temani Baekhyun tidur ya?"
"Huh?"
"Cepat naik Mom~" Baekhyun menggeser tubuhnya untuk menarik Yoona agar turut berbaring di tempat tidur miliknya. Gadis itu segera memeluk badan ibunya dan mulai memejamkan mata sebelum Yoona terdengar kembali menggodanya.
"Hey, bagaimana jika Sehun Oppa melihat Baekhyunnya masih suka merengek untuk di temani tidur hm?"
"Mommyyy~" Yoona terbahak sebelum menyamankan posisinya dan segera menepuk-nepuk punggung Baekhyun dengan penuh kasih sayang.
"Good night Baby"
"Good night, Mom"
.
.
.
Pagi ini Baekhyun memiliki janji untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Luhan dan beberapa temannya yang lain di Apartement Luhan.
"Baekhyun, apa benar kau berkencan dengan Sehun Sunbae?" Itu Sana, teman sekelas Baekhyun dan Luhan sekaligus teman sekelompok Baekhyun dan Luhan bersama dua mahasiswa lain yang belum datang sampai sekarang.
Luhan tersenyum pada Baekhyun yang menurut Baekhyun itu adalah senyum Luhan yang sangat menyebalkan setelah pertanyaan dari Sana mereka dengar.
"Ti-tidak, haha kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Luhan semakin terkekeh geli mendengar Baekhyun yang menjawab pertanyaan Sana dengan terbata-bata.
Sedangkan Baekhyun rasanya ingin mencubit pipi Luhan hingga melar sebab sahabatnya itu tidak membantu sama sekali.
"Tetapi beritanya sudah tersebar di kampus. Kau tau kan Sehun Sunbae itu termasuk populer, dan karena itu hubungan kalian banyak di bicarakan. Kau sangat beruntung Baek, banyak gadis-gadis lain yang cemburu padamu" Luhan sudah tidak dapat menghentikan tawanya, gadis itu terbahak sambil berjalan menuju dapur untuk membuatkan mereka minuman.
"Ap-Apa? Tapi aku memang tidak berkencan dengan Sehun Oppa, kami hanya berteman Sana-ya" Baekhyun sebisa mungkin tetap fokus untuk menulis beberapa poin penting untuk pekerjaan kelompok mereka.
"Benarkah? Tetapi kalian benar-benar terlihat sangat dekat Baek. Kau kesini juga di antar Sehun Sunbae bukan?" Itu benar, Baekhyun memang di antar Sehun saat datang ke tempat Luhan. Itupun karena Sehun bersikeras untuk menjemput Baekhyun. Dan Baekhyun tidak bisa untuk menolaknya. Sehun terlalu banyak berbuat baik padanya.
"Aahh y-ya" Baekhyun tertawa kering, dia benar-benar bingung harus menanggapi seperti apa.
"Doakan saja Sana, mungkin mereka masih malu-malu untuk mengakuinya saat ini" Baekhyun memicing pada Luhan yang baru saja kembali dari dapur dengan minuman dan beberapa snack untuk mereka. Namun hanya dibalas dengan juluran lidah oleh sahabatnya itu. "Selamat pagi menjelang siang pria tua pemalas" Luhan melirik Kris yang baru saja turun dari kamarnya. Sedangkan Baekhyun dan Sana segera berdiri untuk membungkuk memberi salam pada Kris.
"Oh! Baekhyun dan—" Kris menggantung kalimatnya, ia tidak begitu hafal nama mahasiswanya ataupun teman-teman Luhan.
"S-Sana Sir" Sana membungkuk sekali lagi untuk memberi salam pada Kris kakak Luhan sekaligus salah satu dosen mereka di Universitas.
"Aah Yaa, sedang bekerja kelompok?" Meskipun baru bangun tidur, aura tegas dan berwibawa dari pria itu tidak berkurang sedikitpun, meskipun begitu Kris adalah seorang pribadi yang ramah.
"Yaa, Sir" Sana kembali menjawab.
"Baiklah, Lanjutkan dan jangan sungkan Sana, Baekhyun?" Keduanya mengangguk serempak, Kris melanjutkan langkahnya menuju dapur dan Luhan kembali menyusul kakaknya.
"Astaga, apa yang Gege lakukan? Sudah ku bilang berhenti melakukan kebiasaan buruk itu" Baekhyun dan Sana saling pandang sebelum terkekeh dengan gelengan kepala mendengar suara melengking milik Luhan.
"Dia benar-benar cerewet pada siapapun" Baekhyun bergumam.
"Maka dari itu aku sempat heran kalian bisa bersahabat Baek. Kau begitu pendiam sedangkan Luhan? Kau lebih tau tentangnya dari pada aku" Baekhyun ikut tertawa mendenger kalimat Sana. "Dia bahkan mengomeli Mr. Kris, Ya Tuhan" Baekhyun kembali tersenyum. Suara Bel mengintrupsi obrolan mereka.
"Biar aku yang membukakan pintu sepertinya itu Hanbin dan Bobby, sebagai gantinya bisakah kau memintakan aku minum lagi pada Luhan, aku sungkan dengan Mr. Kris jika kesana" Baekhyun tersenyum dan mengangguk.
Baekhyun meraih gelas minum Sana yang sudah habis padahal Luhan baru saja memberikannya pada mereka "Anak itu kehausan?" Gadis cantik itu terkekeh.
"Gege~" Luhan merengek sebab Kris sama sekali tak mebgindahkannya.
"Apa? Kau tidak lihat aku sedang sarapan?" Kris masih melanjutkan kegiatannya menyantap satu cup es krim vanila degan irisan buah strawberry menjadi topingnya.
"Jam berapa ini Tuan Dosen? Sarapan itu di lakukan di pagi hari dan kau melakukannya ketika waktu makan siang bahkan akan segera tiba tiga jam lagi. Dan Oh! Lihatlah, Gege mulai kembali pada kebiasaan buruk Gege, sarapan macam apa ini?" Luhan menyambar Cup es krim kakak laki-lakinya dan berganti menyuapkan es krim tersebut pada mulutnya sendiri, membuat Kris molotot tajam pada adiknya yang sangat menyebalkan.
"Sebenarnya kau itu menurun sikap siapa sih Han? Kau benar-benar cerewet, benar kan Baekhyun?" Baekhyun yang sejak tadi berdiri di ujung penghubung dapur dengan ruang tengah apartement Luhan terperanjat ketika Kris tiba-tiba menariknya dalam perdebatan antara kakak beradik tersebut.
"Oh kau disini? Kau membutuhkan sesuatu Baek?" Luhan meletakkan cup es krimnya pada meja dan Kris segera mengambilnya lagi.
"Sana ingin menambah minum" Baekhyun menghampiri Luhan dan menyerahkan gelasnya.
"Dia kehausan?" Luhan tertawa kembali mengisi gelas tersebut dengan orange juice, sekaligus membuatkannya untuk Bobby dan Hanbin yang baru saja tiba.
"Ahjussi sarapan dengan es krim?" Baekhyun memang bukan type seseorang yang senang ikut campur dengan urusan orang lain, terlebih orang itu bukan siapa-siapanya. Tetapi gadis itu tidak bisa menahan untuk tidak bertanya saat melihat Kris terlihat begitu laham menyantap satu cup es krim berukuran jumbonya.
"Benar Baek, tidak sadar umur sama sekali. Semakin tua bukannya menjaga kesehatan malah sembarangan" Tentu saja itu bukan Kris yang menjawab.
"Luhan benar Ahjussi, seharusnya Ahjussi tidak boleh melakukan hal itu. Kata Mom, sarapan sangat penting dan tentu saja itu harus dengan makanan yang benar" Entah hal apa yang menuntun gadis itu untuk menghampiri Kris yang berada di meja makan dan tangannya mulai sibuk mengoleskan selai strawberry pada satu lembar roti tawar, sedangkan Luhan hanya tersenyum kemudian berbicara tanpa suara pada Kris untuk mengantarkan minuman teman-temannya dulu.
"Ahjussi suka strawberry?" Baekhyun beralih memandang Kris dan pria itu mengangguk. "Baekhyunie juga sangat menyukai strawberry" Lantas tawa kecil Baekhyun menular pada pria berkebangsaan China itu. Baekhyun kini sudah sibuk mengiris tipis beberapa buah strawberry dan menatanya di atas roti yang sudah ia lapisi selai.
"Mommy sering membuatkan ini jika Baekhyun sedang malas sarapan, ini untuk Ahjussi" Baekhyun tersenyum, Kris tertegun oleh mata khas anak anjing di depannya.
Sebuah memori lama terlintas di benaknya. Dulu seseorang juga sering membuatkannya sarapan dengan bentuk seperti ini.
"T-terimakasih Baekhyun" Baekhyun tersenyum, lantas berdiri dan meninggalkan Kris untuk bergabung dengan Luhan dan lainnya.
.
.
.
.
Di belahan lain di kota yang sama, tepatnya di sebuah ruangan bergaya mewah dengan beberapa rak buku berjajar rapi di salah satu sisi ruangan, seorang pria tampan tampak bersemangat dengan tumpukan berkas yang temakin bertambah sejak tadi.
Tak ada alasan khusus untuk hal itu. Chanyeol hanya merasa jika hari ini suasana hatinya terasa sangat baik, hingga pekerjaan menumpuk yang biasanya membuatnya muak kini terasa menyenangkan.
"Sesuatu yang baik sedang terjadi? Benar?" Itu Jongin pria yang sudah selama lima tahun terakhir menjadi sahabat dekatnya. Pria itu menjabat sebagai manajer keuangan di perusahaanya sejak ayah Jongin, manajer sebelumnya memasuki masa pensiunnya.
"Huh? Tidak juga, kenapa?" Chanyeol masih membagi fokusnya pada berkas-berkas yang di periksanya, salah satunya adalah laporan bulanan yang di bawa Jongin dari bagian keuangan siang ini.
"Oh" Jongin beroh ria. "Kalau begitu kurasa kau harus memeriksakan kesehatanmu atau paling tidak aku harus berhati-hati saat berada di dekatmu mulai sekarang" Chanyeol berkerut kening, sedangkan Jongin menyeringai ke arahnya.
"Bicara yang jelas Kim!"
"Senyummu sejak pagi tadi terlihat menyeramkan Yeol? Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya huh?" Chanyeol hanya berdecak tidak berminat menjawab pertanyaan Jongin. Pria itu lantas melirik jam di pergelangan tangannya dan senyuman yang Jongin maksud terulas kembali di wajah tampannya.
Jongin bergidik ngeri sebelum berdiri dari duduknya. "Kudengar cafetaria hari ini menyediakan Kimchi Jjigae yang sangat lezat, tinggalkan sejenak pekerjaanmu dan ayo makan siang disana" Chanyeol menutup berkas yang sudah selesai ia periksa dan menyambar jasnya. Jongin menunggu.
"Aku akan makan diluar" Dan tanpa bersalah Chanyeol mengatakan hal itu.
"Sialan! Lalu untuk apa aku sejak tadi menunggumu hah?" Jabatan sudah tidak lagi penting saat mereka hanya berdua.
"Aku tidak memintamu untuk menungguku" Jongin hampir saja mengunyah ponselnya karena terlalu geram dengan sahabatnya itu.
"Lalu aku makan siang dengan siapa?" Chanyeol memutar matanya malas.
"Seingatku sebelum-sebelumnya kau juga sering makan siang tanpaku Kim, lalu apa masalahnya sekarang?" Keduanya menyusuri koridor yang menghubungkan ruangan Chanyeol dengan lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar.
"Kau makan siang dengan siapa? Aku ikut ya?"
"Tidak!" Chanyeol tidak gila untuk mengajak Jongin makan siang bersamanya dan Baekhyun.
"Memangnya kau akan pergi dengan siapa? Calon istrimu itu?"
"Bukan"
"Kalau begitu tidak ada masalah bukan? Aku ikut yaa? Yaa? Yaa Chanyeol" Chanyeol memandang jijik pada Jongin yang merengek disampingnya. Beberapa karyawan terlihat memperhatikan keduanya. "Chanyeol—"
"Terserah kau saja lah! Dan berhenti merengek seperti itu, kau benar-benar menjijikkan!" Jongin bersorak penuh kemenangan, tidak mengindahkan beberapa karyawan yang menahan tawa melihat mereka.
Chanyeol memijat kening, lantas mengetikkan sebuah pesan untuk Baekhyun yang sebelumnya sudah mengirimkan alamat tempatnya berada dimana Chanyeol akan menjemputnya disana.
To Baekhyunie : Ahjussi berangkat dari kantor sekarang, dan ada seseorang yang merengek menyebalkan memaksa untuk ikut bersama kita, tak apa kan?
Chanyeol dan Jongin segera menaiki mobil Chanyeol.
Ting.
From Baekhyunie : Yaa Ahjussi, hati-hati di jalan.
Chanyeol mengulas senyumnya setelah membaca sederet pesan dari Baekhyun, lagi-lagi Jongin memandang ngeri pada Chanyeol. Hey, asal kalian tau! Chanyeol bukan seseorang yang mudah tersenyum seperti ini, dan menurut Jongin itu cukup mengerikan melihat pria itu tersenyum sepanjang hari.
.
.
.
"Kau benar-benar tidak ingin Oppa jemput?" Baekhyun sedang berbicara dengan Sehun melalui sambungan telepon.
"Yaa Oppa, Baekhyunie akan berangkat dengan Luhan. Oppa tidak usah menjemput kemari" Baekhyun menjawab dengan suara lembutnya, tanpa tau jika pria yang sedang berbicara dengannya tengah menahan nafas mendengar suaranya di seberang sana.
"Baiklah, kabari Oppa jika kau membuthkan apa-apa dan nanti sepulang kuliah eemm, bisakah Oppa mengantarmu pulang? Sekaligus ada cafe yang baru saja buka di dekat kampus, kata temanku es krim disana sangat enak, bagaimana" Baekhyun mengulas senyum dan mengangguk sebelum menyadari jika Sehun tidak bisa melihatnya.
"Tentu, Oppa" Dan dengan itu sambungan mereka terputus. Baekhyun kembali masuk ke dalam apartement Luhan setelah sebelumnya izin keluar untuk mengangkat telepon.
"Kau benar-benar tidak ingin makan siang bersama disini Baek? Kita bisa berangkat bersama setelah makan siang" Itu Luhan, Baekhyun memang masih di tempat Luhan bersama teman-temannya yang lain. Kris meminta mereka untuk makan siang disini saja, lagipula kelas mereka juga di mulai setelah makan siang nanti dan kebetulan itu adalah kelas Kris.
Tetapi karena Baekhyun sudah memiliki janji terlebih dahulu dengan Chanyeol, gadis itu tidak bisa ikut bersama mereka.
"Maaf Lu, aku sudah memiliki janji lain" Luhan dan yang lain termasuk Kris terkekeh gemas melihat wajah memelas Baekhyun.
"Tidak apa, kau di jemput?" Baekhyun mengangguk.
"Kau di jemput Sehun Sunbae ya Baek?" Jelas itu adalah Sana, gadis itu memang sangat senang bergosip jadi tidak heran dia begitu excited dengan hubungan Baekhyun dan Sehun yang memang sedang menjadi pembicaraan para gadis-gadis lain di Universitas. Sehun itu populer, tentu saja.
"Ahh? Tidak" Baekhyun tertawa canggung karena pertanyaan Sana, Luhan hanya terkekeh menyebalkan.
"Tidak usah malu-malu Baek, aku akan menjadi pendukung kalian karena kalian benar-benar terlihat serasi, benar kan Lu?" Baekhyun semakin memerah, Luhan mengangguk menyetujui sedangkan Hanbin dan Bobby hanya manatap gemas pada Baekhyun. Kris masihlah menjadi pihak pengamat interaksi para muda-mudi disana.
"T-tapi aku memang tidak di jemput Sehun Oppa" Baekhyun nyaris merengek, namun gadis itu menahannya.
Luhan semakin terkekeh sebelum menghampiri sahabatnya itu. "Baiklah, jadi siapa yang menjemputmu hm? Jika tidak ada aku bisa mengantarmu B"
"Tidak perlu Lu, seseorang sudah menjemputku dan aku akan ke bawah sekarang" Baekhyun meraih tasnya dan memakai backpacknya di punggung.
"Seseorang huh?" Luhan menyeringai, mereka sudah berjalan keluar apartement, Luhan mengantarkan Baekhyun sampai depan. Sebelumnya Baekhyun sudah berpamitan pada Kris dan teman-temannya.
"M-maksudku samchon Lu"
"Kau memiliki samchon?" Luhan mengeryit.
"I-Iya, kakak dari ibuku" Luhan mengangguk dan melambai pada Baekhyun setelah sahabatnya itu memasuki lift.
.
.
.
Chanyeol bersandar pada mobilnya, Baekhyun bilang dia akan segera keluar. Sedangkan Jongin masih berceloteh dengan segala pemikirannya, pria berkulit Tan itu menjulurkan kepalanya dari dalam mobil melalui jendela berbicara pada Chanyeol yang bersandat pada pintu mobil tampak tak mengindahkan segala pertanyaannya.
Itu dia..
Di depan sana, Baekhyun baru saja keluar dari gedung apartemet, gadis itu melambai pada Chanyeol sebelum membawa lanngkahnya sedikit berlari. Baekhyun tertegun, Chanyeol tersenyum teduh menahan gemas akan tubuh mungil Baekhyun yang terlihat begitu anggun dengan floral dress khas seorang Byun Baekhyun dengan jaket jeens melengkapinya. Dua selempang backpack hitam yang dibawa gadis itu bertengger di kedua bahunya.
"Wow, Who is she?" Chanyeol tidak menjawab, pria itu segera membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Baekhyun.
"Selamat siang, Baekhyun" Baekhyun tersenyum, Chanyeol membalas.
"Selamat siang, Ahjussi" Pria itu lantas berlari memutar untuk kembali ke kursi kemudi setelah memastikan Baekhyun nyaman dengan posisinya.
"Wow, apa itu tadi?" Baekhyun terlihat terkejut ketika tiba-tiba Jongin memekik kegirangan.
"Diam atau kau ku tinggal disini" Sedangkan Chanyeol mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Hay, Banny. Kim Jongin" Jongin mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Baekhyun, dan Baekhyun menyambutnya. "Tapi jangan memanggilku ahjussi seperti kau memanggilnya, aku tidak setua itu. Kau tau? aku memang lahir di tahun yang sama dengan Chanyeol, tapi percayalah aku lebih pantas di panggil Oppa, bagaimana? Setuju?" Chanyeol memutar bola mata malas di balik kemudi.
"Oppa juga memanggilku Banny di pertemuan pertama kita, Luhan juga begitu dulu"
"Huh?" Jongin tidak begitu mengerti dengan maksud Baekhyun. "Baiklah, tidak perlu di lanjutkan. Jadi, siapa namamu Banny?"
Baekhyun mengerjap.
"B-Byun, Byun Baekhyunie" Jongin mengeryit.
Chanyeol terkekeh. "Tidak pakai ie Baek"
"Ahh, yaa Baekhyun, hanya Baekhyun, Oppa" Baekhyun tersenyum canggung, terlebih pada panggilan oppa yang dia sematkan untuk nama Jongin. Tapi bagaimana lagi? Akan sangat tidak sopan jika Baekhyun menolaknya.
"Okay! Jadi.. kau keponakannya Chanyeol atau apanya?" Chanyeol hampir tersedak ludahnya sendiri sedangkan Baekhyun sedikit melebarkan mata mendengar pertanyaan Jongin.
Benar, bagaimana dia menjawabnya? Tidak mungkin bukan jika Baekhyun menjawab jika dia adalah putri dari calon istri Chanyeol? Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba perasaan asing itu datang lagi?
"Emm a-aku" Baekhyun bingung.
"Baekhyun adalah adiknya Yoona Jong" dan Chanyeol sedikit membantu, yaa hanya sedikit sebab Baekhyun justru merasakan perasaan tercubit di dalam hatinya.
Jongin tidak berkomentar lagi, pria itu hanya mengangguk-angguk dengan bibir berbentuk O besar.
Mereka sampai di tempat makan siang. Kali ini Chanyeol yang memilih tempatnya. Restoran Jepang langganan pria itu menjadi tujuan.
"Kau menyukainya?" Chanyeol tersenyum mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang duduk di sampingnya sedangkan Jongin berada di depan mereka.
Gadis itu mengangguk tersenyum. Kali ini Jongin mengakui jika Baekhyun benar-benar gadis yang menarik. Gadis itu begitu anggun dalam setiap tingkah lakunya. Bahkan ketika makan dengan lahapnya, Baekhyun tidak sedikitpun meninggalkan kesan anggun yang melekat pada dirinya.
Chanyeol masih belum berniat mengalihkan tatapannya pada Baekhyun yang terlihat menikmati makan siangnya, sedangkan diam-diam jongin tersenyum melihat sahabatnya yang terlihat hilang kendali atas dirinya itu.
"Baekhyun sangat cantik, benar kan Yeol"
"Uhuk" Chanyeol tersedak sisa makanan yang masih ia tahan di mulut sejak tadi.
"Astaga, Ahjussi" Baekhyun sigap memberikan minum untuk Chanyeol, gadis itu menepuk lembut punggung bangian atas pria yang dia panggil Ahjussi tersebut. "Sudah lebih baik?" Chanyeol mengangguk, Baekhyun masih menatapnya khawatir.
Sedangkan sang pelaku utama hanya terkekeh dalam diam penuh kemenangan. Jongin, benar-benar.
"Mangkannya Yeol, jika sedang makan fokuslah pada makananmu bukan pada yang lain" Baekhyun mengeryit tidak mengerti, Chanyeol melotot tajam pada Jongin yang kembali terbahak menyebalkan.
Ingatkan Chanyeol untuk tidak lagi mengizinkan Jongin mengikutinya lagi atau semuanya akan kacau seperti saat ini.
"Minum lagi?" Chanyeol menerima segelas air putih yang diberikan Baekhyun lagi padanya.
"Aku harus segera kembali ke kantor, siang ini ada meeting penting. Baekhyun senang bertemu denganmu dan sampai bertemu lagi Bunny" Baekhyun mengengguk dengan senyum manisnya, Jongin buru-buru keluar sebelum Chanyeol protes.
"Bukankah Jongin Oppa satu kantor dengan Ahjussi? Apa Ahjussi ada meeting penting juga?" Dalam hati, Chanyeol sedang mengumpati Jongin mati-matian, temannya itu benar-benar, astaga.
"Tidak, itu hanya meeting divisi dan Ahjussi tidak perlu ikut" Baekhyun kembali mengangguk. Mata mereka bertemu dan itu benar-benar membuatnya gugup. Terlebih Baekhyun baru menyadari jika kursinya dan kursi Chanyeol berjarak begitu dekat. Kemana saja ia sejak tadi?.
"Baekhyun"
"Ya?"
Keduanya kembali terdiam, mata mereka saling bertemu dan tidak ada dari keduanya yang berniat untuk melepas tautan itu.
"Aku akan langsung kembali ke Fakultas setelah ini Joy, Yaa Yaa" Keduanya sama-sama menoleh. Itu Sehun, dengan beberapa temannya yang baru saja muncul dari tangga yang menghubungkan lantai satu restoran dengan lantai dua tempat mereka berada saat ini.
Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya, sepertinya sedang menelepon seseorang.
Baekhyun dan Chanyeol saling saling pandang. Kemudian entah apa yang dipikirkan keduanya, mereka mengendap untuk segera menyembunyikan diri di balik celah kecil yang membatasi ruangan tempat makan dengan koridor yang akan membawa mereka menuju toilet.
Keduanya berdiri di celah sempit itu, Bahkan Baekhyun dapat merasakan hembusan nafas Chanyeol yang menerpa keningnya.
Hening, suara berisik dari para pengunjung restoran yang memang hanya beberapa di lantai dua tidak begitu terdengar.
"Ahjussi?" Baekhyun bersuara lirih.
"Y-Ya?" Chanyeol balas lirih pula.
"K-kenapa kita harus bersembunyi?" Benar! Kenapa mereka harus bersembunyi?
Entah apa yang mereka rasakan, tetapi keduanya sama-sama terengah dan masing-masing benar-benar dapat mendengar suara nafas lawannya.
"Ee, Ahh, Ahjussi kira kau tidak ingin Sehun salah paham" Jantung Baekhyun sudah berdetak tak karuan, suara berat Chanyeol benar-benar terasa sangat dekat. Chanyeol menelan kering ludahnya, dan bahkan ia bisa mendengar dengan jelas tegukan ludahnya.
"H-haruskah kita menyelinap keluar?" Chanyeol kembali bersuara lirih, nyaris berbisik.
"Y-Ya?" Nafas Baekhyun terangah, gadis itu mendongak dan detik berikutnya matanya teralih pada bibir Chanyeol yang menghembuskan nafas berat. Jarak keduanya begitu dekat.
"A-apa kau gugup?" Chanyeol sama halnya, bibir tipis berwarna pink itu benar-benar menarik perhatiannya. Sesekali mata mereka bertemu, namun seakan ada gravitasi yang menarik mereka, mata itu kembali tertuju pada bibir lawan.
Baekhyun meneguk ludahnya kasar, ini benar-benar mendebarkan. Kedua wajah itu mendekat, Chanyeol bergantian menatap mata Baekhyun dan bibir gadis itu. Begitupula yang Baekhyun lakukan.
Jarak semakin menipis dan hanya beberapa mili meter lagi maka kedua benda kenyal itu pasti sudah saling bertemu sebelum Chanyeol kembali memundurkan kepalanya.
"A-apa kau ada kuliah setelah ini?" Mereka kembali bertatapan.
"Y-Ya" Baekhyun kembali menjawab. Kedua netra itu kembali saling menatap.
Chanyeol menangkup satu sisi wajah Baekhyun, ibu jarinya bergerak mengusap keringat kecil yang bersarang di pelipis Baekhyun.
"A-aku akan mengantarmu s-sampai ke Universitas" Suara Chanyeol semakin berat dan rendah. Baekhyun sampai memejamkan matanya sejenak mendengarnya. Nafas beraroma mint menerpa penciuman Baekhyun. Membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat lagi.
"Ya, Ahjussi" Balas Baekhyun pelan, nyaris mendesah.
Keduanya masih bertatapan, Baekhyun merasa terkunci oleh dua manik tegas milik Chanyeol. Pria itu mendekat, hidung mereka bersentuhan dan detik berikutnya dua bibir itu sudah saling bertemu.
Keduanya masih diam, hanya menempelkan bibir masing-masing yang membuat Chanyeol hampir mengerang akibat rasa frustasi.
Ini pertama kali baginya.
Jangat tertawa!
Chanyeol tau dia begitu terlambat. Jadi jangan tertawa!
Memang benar, mana ada pria berusia 33 tahun yang baru saja merasakan ciuman pertamanya?
Chanyeol bergerak perlahan, mulai melumat lembut bibir tipis milik Baekhyun. Sedangkan Baekhyun tengah mati-matian menahan gugup. Gadis itu memejamkan mata, dan mencoba bergerak secara amatiran mengikuti gerakan Chanyeol. Menikmati ciuman hangat itu di tempat persembunyian meraka yang terasa konyol.
"Itu ciuman pertamaku" Adalah kata pertama yang diucapkan Chanyeol setelah tautan mereka terlepas. Baekhyun terbelalak, namun detik berikutnya ia menunduk dengan rona merah yang terlihat jelas di kedua pipinya.
"Begitupun denganku, Ahjussi" entah mengapa, Chanyeol merasakan kebahagian luar biasa mendengar jawaban Baekhyun. Setidaknya dia melepaskan yang pertama untuk mendapatkan yang pertama pula.
"Kita pergi dari sini, perlahan" Baekhyun mengangguk, dan keduanya segera menyelinap keluar dengan hati-hati, tanpa mengundang perhatian orang lain.
Baekhyun menunggu di mobil, sedangkan Chanyeol menyelesaikan pembayarannya.
.
.
.
Keduanya sampai di depan Universitas Baekhyun setelah melewati perjalanan yang sangat canggung. Setelah kejadian tadi, mereka seakan bisu dan memilih bungkam selama di dalam mobil.
"Ahjussi, aa" Baekhyun menggigit bibir bawahnya.
"Y-Ya, tentu. A-apa Ahjussi perlu menjemputmu nanti?" Baekhyun menggeleng.
"Tidak, itu akan sangat merepotkan, Ahjussi langsung pulang saja setelah dari kantor" Baekhyun mencoba tetap tersenyum meskipun ia benar-benar gugup.
"Baiklah" Chanyeol mengangguk, lantas Baekhyun segera keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada mobil Chanyeol yang beralalu.
Gadis itu tersenyum lagi setelahnya berbalik dan berjalan menuju Fakultasnya.
.
.
.
.
.
Matahari sudah berubah warna menjadi kemerahan. Sore itu terasa begitu hangat, seharusnya. Tetapi di sebuah rumah megah tempat kediaman keluarga Byun, suasana tegang justru sangat terasa mencekam.
Disana, Yoona tengah bersimpuh memohon pada sang kepala keluarga untuk sedikit memberikan belas kasih padanya.
"Ku mohon Appa, jangan lakukan itu" Wanita itu menangis tersedu di bawah kaki ayahnya. Kalimat permohonan tak henti ia ucapkan.
"Seharusnya aku dulu benar-benar membunuh anak haram itu!" Kalimat menyakitkan dari mulut pria paruh baya itu benar-benar menghujam hatinya.
"A-aku akan mengurus Baekhyun hiks, aku berjanji ini tidak akan terulang appa. Tetapi kumohon jangan memindahkan Baekhyun hiks. Jangan pisahkan aku dengan putriku"
Plakk!
Satu tamparan keras kembali di terima wanita itu.
"Kau benar-benar anak tak tau diri Yoona! Kau fikir mukaku ini terbuat dari apa hah?! Apa yang harus kukatakan pada keluarga Park hah?!"
Ini berawal dari ibu Chanyeol yang sempat menanyakan tentang Baekhyun siang tadi. Wanita paruh baya itu baru tau dari Sehun jika keluarga Byun memiliki satu putri lagi selain Yoona dan Nyonya Park sempat mengutarakan harapannya untuk keluarga Byun bisa mengajak Baekhyun pada makan malam yang memang akan mereka adakan dua hari lagi.
Tuan Byun marah oleh hal itu dan sepulang kerja tadi pria paruh baya itu berkata akan memindahkan Baekhyun keluar negeri.
"Bersyukurlah aku tidak membunuhnya sekarang. Aku hanya malas memandang wajahnya dan mengasingkannya keluar negeri adalah yang terbaik untuk keluarga kita!" Finalnya, pria paruh baya itu pergi dari sana dan menuju kamarnya, meninggalkan Yoona yang masih bersimpuh di lantai dengan nyonya Byun yang mulai memeluknya.
Dan juga seorang gadis yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan mereka. Baekhyun berdiri disana, di depan pintu mendengar semuanya.
Gadis itu lantas berbalik dan berlari keluar dengan deraian air matanya. Berharap dapat kembali pada Sehun yang baru saja mengantarnya. Namun sayang, pria berawajah tampan itu sudah pergi.
Baekhyun menangis, dengan penuh kesakitan ia berjalan menyusuri jalanan komplek dan segera menghentikan taksi setelah tungkainya mencapai jalan raya.
Gadis itu menyebutkan alamatnya pada supir taksi dengan tergagap.
Baekhyun takut.
Baekhyun takut jika harus meninggalkan ibunya disini.
Baekhyun takut untuk hidup sendiri di negeri orang tanpa Yoona.
Baekhyun takut, dia teringat saat Yoona harus melanjutkan pendidikannya di negeri orang dulu. Dia takut berpisah dengan ibunya, lagi.
Sepanjang perjalanan gadis itu terus menangis. Jam digital pada mobil taksi tersebut menunjukkan angka 17.00, matahari masih menyisakan sinarnya. Sore ini cukup cerah, namun tidak untuk hati gadis itu.
Baekhyun sampai di tempat tujuannya setalah menempuh perjalanan sekitar 30 menit. Saat ini gadis itu tengah memencet bel pada salah satu unit apartement itu.
Bibirnya bergetar karena tangis. Wajahnya sedikit pucat akibat rasa takut yang ia rasakan. Air mata masih mengalir dari kedua matanya.
Pintu itu terbuka. Menampilkan tubuh tegap seorang pria. Pria itu menatap cemas pada Baekhyun yang terlihat kacau di depannya.
Lantas yang ia lakukan hanya membawa tubuh mungil itu kedalam dekapan.
"Ahjussi hiks" Baekhyun membalas dekapan Chanyeol. "Ahjussi" Chanyeol nyaris mengeram marah, kenapa lagi lagi ia harus menemukan Baekhyun dengan keadaan sekacau ini?
"Usstt, Kau sudah disini, tak apa. Aku bersamamu. Tidak apa B, semua akan baik-baik saja" Kalimat itu bagaikan mantra, membawa sebentuk hawa sejuk yang begitu menenangkan. Baekhyun terisak, menenggelamkan kepalanya pada dada tegap pria yang mencuri ciuman pertamanya itu.
.
.
.
TBC
.
.
AHJUSSIIIIIII!
KENAPA MANIS BANGET SIH YEOL? Kamu yang ciuman sama Baekhyun aku yang deg degan setengah mampus hiks.
.
.
Bagaimana?
Silahkan di review, targetnya masih sama dengan Chapter kemarin yaa..
Mau sekedar mengingatkan.
Kalian gak ada yang anti dengan HunBaek kan? Kalau ada, silahkan bersiap untuk meninggalkan Story ini wkwkwk. Sebab mulai Chapter ini dan kedepan akan banyak banget moment HunBaek disini. Meskipun tidak akan sebanyak Moment Chanbaek (Ya iyalah kan emang ini FF ChanBaek) tapi emang di FF ini akan banyak moment HunBaeknya, jadi jangan kaget dan Have Fun yaa guys :*
Maaf untuk Typo ataupun untuk plot cerita yang membosankan.
Terimakasih yang udah review di Chapter-Chapter sebelumnya. Yang udah Follow dan Fav juga, makasih banyak cintaa :*
Doain yaa semoga akunya gak gampang terserang males ataupun kehabisan ide wkwkwk.
Oh Yaa, ini spesial buat malem minggu para Jomblo wkwkwk.
Selamat malam minggu guys :*
.
.
See You
