"Kyungsoo? Kenapa kau tiba- tiba datang ke mari?" Kai kaget melihat Kyungsoo yang datang ke rumahnya secara tiba-tiba.

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya. "Apa aku tidak boleh main ke rumahmu? Padahal aku membawa kabar bahagia."

"Kabar bahagia apa?" tanya Kai antusias. "Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah dulu."

Kyungsoo mengangguk dan mengikuti Kai masuk ke dalam rumah.

"Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu minuman." Kai segera melesat ke dapur.

"Kai, jangan pakai es ya." pinta Kyungsoo.

"Terserah aku donk. Ini kan rumahku. Kau kira ini restoran?" sahut Kai dari dalam dapur.

Kyungsoo terkikik mendengar jawaban Kai.

Tak berapa lama, Kai muncul dengan dua gelas minuman berwarna kuning di tangan. Dalam salah satu gelas tersebut tak terdapa es batu seperti permintaan Kyungsoo.

"Nih, jus jeruk tanpa es." Kai menyodorkan gelas tanpa es batu tersebut pada Kyungsoo.

Kyungsoo menerima gelas tersebut dan langsung menyeruputnya. "Terimakasih."

Kai mendudukan tubuhnya di sebelah Kyungsoo. "Kau bilang punya kabar bahagia. Apa itu?"

Bukannya menjawab pertanyaan Kai, Kyungsoo hanya tersenyum. Membuat Kai semakin penasaran.

"Apa kau mendapat nilai terbaik di kampus?" tebak Kai.

Kyungsoo menggeleng menandakan tebakan Kai salah.

"Apa kau punya peliharaan baru? Terakhir kali kau memelihara anjing bernama King itu, nasibnya berakhir tragis."

Sekali lagi Kyungsoo menggeleng. Kai tampak berpikir keras.

"Apa kau dapat undian rumah dan mobil mewah? Atau berlibur ke luar negeri selama sebulan penuh gratis?" tebak Kai mulai ngasal.

Lagi-lagi Kyungsoo menggeleng.

"Apa donk? Jangan membuatku penasaran?" Kai mulai kesal dengan tingkah temannya ini.

Kyungsoo tersenyum manis sekali. "Sekarang aku punya pacar."

"Astaga! Kenapa jawaban seperti itu tak pernah terpikir olehku?" Kai menepuk dahinya sendiri. "Tapi, memangnya ada pria yang bersedia jadi pacarmu?"

"Yak! Apa maksudmu berkata seperti itu, Kai? Memangnya kau anggap aku tidak laku?" Kyungsoo menimpuk Kai dengan bantal yang tergeletak di sofa.

"Hehehe! Bukannya begitu, Kyungie-ku yang cantik. Tapi kan kau galak sekali."

Kyungsoo mengehentakan kakinya.

"Memangnya siapa laki-laki malang itu? Kenalkan padaku."

"Berhenti menyebutnya laki-laki malang. Justru dia sangat beruntung bisa mendapatkan hatiku. Karena aku tipe orang yang sulit untuk mempercayai cinta seorang laki-laki." jelas Kyungsoo.

Kai tertawa semakin keras. "Hahahaha!"

Sejenak mereka diam.

"Kau sudah mengenal orang itu. Justru aku ingin berterimakasih padamu karena secara tidak langsung kau telah membuatku mengenalnya." ucap Kyungsoo.

"Apa?" mata Kai membulat tak percaya. "Siapa maksudmu? Apa mungkin... Sehun...?"

Kyungsoo mengangguk.

Kai tertawa garing[?]. "Kau sedang tidak bercanda kan?"

"Tentu saja tidak. Sudah beberapa bulan ini aku berkencan dengan Sehun."

Kai menunduk seolah sedang memikirkan sesuatu.

Kyungsoo heran dengan perubahan sikap Kai yang mendadak itu. "Kau kenapa? Jangan bilang kau jatuh cinta padaku juga."

"Bukan begitu. Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis galak sepertimu."

"Lalu kenapa? Kenapa wajahmu mendadak kusut seperti itu?" Kyungsoo semakin bingung.

"Tidak." Kai menggeleng. "Aku hanya mengkhawatirkanmu."

"Mengkhawatirkan aku?"

Kai berbalik menatap Kyungsoo intens. "Kyungie, kau harus tau. Bahwa Sehun bukan orang baik. Ehm... maksudku dalam hal menjalin hubungan dengan seorang wanita."

"Dia baik koq."

"Iya. Jika dilihat dari luar. Apa kau tau seperti apa masa lalunya? Dia sering menjalin hubungan dengan banyak wanita, dan tak pernah ada yang bertahan lama."

"Itu kan masa lalu. Mungkin saja di masa kini..."

"Tidak. Aku tidak bisa membiarkan gadis baik sepertimu jatuh ke tangan Sehun." potong Kai.

Kyungsoo terlihat kecewa. "Tapi..."

"Kumohon, kali ini percayalah padaku." kata Kai dengan pandangan mata memohon.

Kyungsoo terdiam memikirkan kata-kata Kai. Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering. Sekilas ia melihat caller ID yang terpampang di layar, kemudian menekan tombol jawab.

["Kau di mana chagi? Tadi aku menjemputmu ke kampus, namun kata beberapa temanmu kau sudah pulang dari tadi?"] ujar suara di seberang sana.

"Aku di rumah Kai." jawab Kyungsoo singkat.

["Di rumah Kai? Sedang apa kau di sana? Jangan bilang kalau kau selingkuh dengannya!"]

"Tidak. Untuk apa aku selingkuh dengannya. Aku hanya berkunjung, bagaimana pun dia temanku juga. Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumah temanku. Kau ini overprotective sekali."

["Iya-iya. Maafkan aku. Ehm, hari ini kita jadi kan makan malam bersama?"]

Kyungsoo menngangguk. Namun segera ia sadar bahwa Sehun tak akan melihat anggukannya. "Iya. Aku akan menemui sekarang. Kau di mana?"

["Aku ada di halte dekat kampusmu."]

"Baiklah kalau begitu. Aku ke sana sekarang." Kyungsoo kemudian memutus sambungan teleponnya.

"Siapa? Sehun?" Kai menatap Kyungsoo curiga.

Kyungsoo mengangguk. "Kai, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sehun sedang menungguku."

Kai menghela nafasnya. "Terserah kau saja. Tapi aku harus ingat berhati-hatilah jika kau bersamanya. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu."

"Aku akan selalu menjaga diriku."

Kyungsoo meniggalkan rumah Kai. Dia memilih naik taksi untuk menuju halte di dekat kampusnya, menemui Sehun. Dalam perjalanan ia terus memikirkan perbincangannya dengan Kai. Apa benar jika Sehun adalah orang yang tidak bisa serius saat menjalin hubungan dengan seorang wanita? Selama ini ia tak pernah sekalipun menaruh curiga padanya. Ia juga terlihat sangat baik. Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak mungkin Sehun adalah orang seperti yang Kai katakan padanya. Ia percaya sekali pada kekasihnya itu. Apakah cinta telah membutakan matanya? Entahlah.

Ketika turun dari taksi, ia langsung menangkap sosok Sehun yang duduk sendiri di halte. Tanpa ragu lagi, Kyungsoo langsung menghampirinya. "Kau sudah menunggu lama?"

Sehun mendongakkan kepalanya. "Lumayan. Tapi tak masalah, meskipun aku harus menunggu seribu tahun, asalkan kau akan kembali padaku."

Kyungsoo menggembungkan pipinya. "Dasar tukang rayu."

"Kau habis dari rumah Kai?" tanya Sehun.

Kyungsoo mengangguk. "Memangnya kenapa? Kau cemburu?"

Sehun menggeleng. "Tentu saja tidak. Dia adalah sahabat baikku. Aku percaya padanya. Hanya saja..."

Kyungsoo memandang wajah Sehun penasaran.

"Kukira dia pasti sudah mengatakannya."

"Apa maksudmu?"

Sehun memalingkan wajahnya. "Pasti dia telah mengatakan tentang masa laluku."

"Kenapa kau bisa tau?" Kyungsoo sedikit terkejut..

Sehun menyunggingkan sedikit senyumnya. "Aku sudah mengenal Kai lama sekali. Bahkan sejak kami masih kecil. Aku tidak heran jika dia akan melarangmu untuk menjalin hubungan denganku. Apalagi kau juga sahabatnya. Dia pasti tidak ingin sahabatnya terkena racunku."

Kyungsoo menunduk. Ia menunggu apa yang akan dikatakan Sehun selanjutnya. Apa mungkin yang dikatakan Kai benar.

"Dulu aku memang punya beberapa pacar dan semuanya hanya bertahan beberapa bulan saja." Mau tak mau Sehun harus mengakuinya. "Jika kau menemukan foto mantan pacarku, jangan kaget. Karena aku tak pernah serius dengan mereka semua."

"Dulu kau tak serius. Sekarang mana kutau kau serius atau tidak." Kyungsoo membuang muka.

"Apa maksudmu?"

"Kurasa peringatan Kai ada benarnya juga. Kau menebar cinta di mana-mana."

Sehun kesal. "Kau pasti sudah terpengaruh oleh Kai. Asal kau tau, aku hanya serius menjalin hubungan ini denganmu."

Kyungsoo bingung antara harus mempercayai ucapan Sehun atau tidak.

"Apa perlu aku mengambil pisau untuk membuktikannya?" tantang Sehun.

"Untuk apa? Apa kau mau bunuh diri untuk menunjukkan perasaanmu?"

"Bukan. Tapi untuk membunuhmu lebih dulu."

Kyungsoo tertawa.

"Aku sangat mencintaimu Kyungsoo." Sehun merengkuh Kyungsoo dalam pelukannya. "Saranghae..."

"Nado saranghae..."

.

.

.

.

.

"Kau mau berangkat sekarang?" tanya Yixing saat melihat suho bersiap-siap.

"Tentu saja."

"Apa bisa jika kau berangkat lebih siang?" Yixing berusaha mencegah Suho. "Aku harus membeli kebutuhan bulan ini di pasar. Aku tak tega jika harus meninggalkan Luhan sendiri di rumah."

Suho menolak. "Jika aku terlambat, gajiku akan dipotong."

"Kalian jangan mengkhawatirkan aku." tiba-tiba saja Luhan muncul di antara mereka. "Ikat saja aku." Luhan menyerahkan tali itu pada Yixing.

Yixing menerima tali itu dan meletakannya di meja. "Apa perasaanmu hari ini baik-baik saja?"

Luhan mengangguk.

"Ibu mau pergi ke pasar sebentar."

"Aish, Yixing. Apa kau setega itu meninggalkan putrimu sendiri?" Suho terlihat kesal.

"Aku akan baik-baik saja. Kalian tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku tidak akan membuat masalah. Kalian ikat saja tubuhku."

Yixing berfikir sejenak. "Baiklah, kalau begitu kau tiduran saja di ranjang. Ibu akan mengikatmu. Jika ada apa-apa kalian teriak saja."

Luhan mengangguk mengerti.

Suho mengikat Luhan. "Apa kita harus meninggalkannya?" Suho menatap Yixing tak yakin.

"Kalian pergilah. Aku tak apa-apa." Luhan terus meyakinkan.

Dengan berat hati, akhirnya Suho dan Yixing meninggalkan Luhan sendiri di rumah.

Luhan terus membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang. Sudah beberapa lama ia menunggu, tapi Yixing belum juga tiba di rumah. Ia sudah sangat lelah sekali tidur dalam posisi terikat seperti ini.

"Air... Aku mau minum air..."

Luhan kehausan dan terus menyebut air. Hingga ia merasa lelah dan tertidur.

"Di mana aku?" Luhan mengigau dalam mimpinya.

Ia sedang menggendong anaknya di tengah padang pasir yang luas sambil terus mencari air. Ia melihat ada seorang laki-laki tengah berada di padang pasir itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menghampiri laki-laki itu. Betapa terkejutnya bahwa laki-laki itu ternyata Huang Wufan. Wufan memandang Luhan dengan tatapan tajam, membuat Luhan ketakutan.

"Tuan besar Huang, tolong aku..." Luhan memohon padanya.

Wufan tak menjawab, ia terus memandangi Luhan.

"Tuan besar Huang, kumohon tolonglah." pinta Luhan sekali lagi. "Putriku kehausan. Dia ingin minum."

Di saat yang bersamaan, Kai datang ke rumah Luhan dengan sekotak kue kesukaan Luhan.

"Luhan, kau di mana?" Kai menjelajahi setiap sudut rumah Luhan. "Kenapa sepi sekali? Bibi Yixing dan paman Suho ke mana?" gumam Kai.

"Tolong... Tolong aku..." teriak Luhan dari dalam kamarnya.

Kai tersentak. Ia bergegas menuju kamar Luhan untuk melihat keadaannya.

"Tolong..." Luhan terus berteriak.

"Luhan! Apa yang terjadi?" Kai menghampiri Luhan dan melepas ikatannya. "Bangunlah, Luhan. Ada apa denganmu?"

Kai berusaha membangunkan Luhan. Perlahan Luhan membuka matanya. "Kai..." ucap Luhan lirih.

Kai mengangguk sekilas. "Kenapa kau diikat? Paman Suho dan bibi Yixing ke mana?"

Luhan memperhatikan sekelilingnya. "Tidak ada pasang pasir?"

"Tidak ada."

"Air!" teriak Luhan tiba-tiba. Ia langsung berlari ke luar rumah. "Aku mau minum air."

"Luhan kau mau ke mana?" Kai berusaha mengejar Luhan.

Namun Luhan tak menghiraukan Kai. Ia terus berlari dan berlari. Langkah Luhan terhenti ketika ia melihat seorang pria sedang mencuci mobilnya. "Aku mau minum air." Luhan langsung merebut slang air yang digunakan oleh pria itu dan meminum airnya.

"Celaka! Si gila datang mau merebut bayi.' pria itu segera menghindar dari Luhan.

Tak puas hanya meminumnya, Luhan menyiramkan air itu ke tubuhnya. "Kai, apa kau juga haus?" tanya Luhan pada Kai yang sedari tadi mengikutinya di belakang.

"Kyaaa..." seru Kai ketika ia merasa tubuhnya basah kuyup.

Ia segera membalas menyiram tubuh Luhan. Dan mereka pun berbalas saling menyiram.

Sejenak Kai tersenyum menatap Luhan. Andaikan saja malaikat di hadapannya ini tau bahwa Kai sangat mencintainya.

.

.

.

.

.

~~~~~ Bersambung ~~~~~

.

.

.

Chapter ini berhenti sampai di sini dulu. Kapan-kapan dilanjutkan lagi kalau saya ada waktu. Terimakasih banyak bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun selalu kutunggu. Zaijian ^^