Standard Disclaimer.
.
.
a EXO Fanfiction
by
Moonbabee
.
.
Jaman dahulu kala, menurut sebuah legenda langit dan bumi hidup berdampingan satu sama lain dengan baik, aman, sentosa dan sejahtera. Pada masa itu, hiduplah para Penjaga. Langit dan bumi ini punya sumber-sumber kekuatan yang jumlahnya dua belas. Nah dua belas sumber kekuatan ini diperintahkan untuk merawat sebuah Pohon Kehidupan.
Sayangnya, karena banyak yang iri dengki dan berhati penuh kejahatan, sebuah kekuatan dari negera api merah mengirim setan-setan jahanam yang menyelimuti hati Pohon Kehidupan.
Karena setan-setan jahanam ini, perlahan-lahan hati dari Pohon Kehidupan mongering. Tidak tinggal diam, menurut legenda, para Penjaga akhirnya memutuskan untuk membagi Pohon Kehidupan menjadi dua. Kedua bagiannya itu disembunyikan dengan aman.
Entah di dalam brankas bawah tanah atau di bawah bantal, bisa jadi. Karena dibagi menjadi dua bagian itu, tiba-tiba saja waktu dan dunia jadi kacau, terbalik, miring, parah, galau, gila, begajulan. Dua belas kekuatan itu terbagi dua dan terciptalah dua matahari yang serupa. Menuju dua dunia yang serupa tapi tak sama, para Penjaga ngaso-ngaso secara terpisah. Masing-masing dari mereka bisa berdiri di tanah yang sama, tetapi akan melihat langit yang berbeda. Mereka bisa melihat langit yang sama tetapi pada saat yang sama mereka berdiri di tanah yang berbeda.
Suatu hari nanti, bumi akan melahirkan "sesuatu" dibawah langit dua dunia yang terlihat sama itu. Saat itulah para Penjaga yang terpisah ini akan bertemu satu sama lainnya. Dan pada saat itu, kekuatan jahanam dari negara api merah akan dimurnikan, dan dua belas sumber-sumber kekuatan yang ada di bumi itu akan kembali bersatu dalam sebuah akar yang kuat di Pohon Kehidupan.
Dan pada saat itu, sebuah dunia baru yang diharapkan lebih baik akan tercipta!
…
EXO Fanfiction
By
Moonbabee
…
Luhan terbangun malam-malam karena mendengar sebuah isakan, desakan dan perlahan hampir membuatnya jatuh dari tempat tidur, sudah bersiap akan marah, memuntahkan semua kekesalan namun tertelan begitu saja ketika dia melihat butiran es yang berkilau keluar menuruni pipi bulan Xiumin, butiran berkilau itu adalah es, es yang menyerupai mutiara dengan kilauan indahnya.
Xiumin menangis, tangisan itu berupa isakan halus tapi menusuk sampai ke ulu hati, rasanya hati Luhan ikut merasakan kesedihan.
"X-Xiu-Xiumin"
Luhan menyentuh bahu Xiumin yang meringkuk seperti bayi disampingnya, tidak ada badai, udara dingin atau angin bertiup kencang, Luhan keheranan padahal Xiumin sedang menangis. "Lu-Hannn~"
"Kau sakit?" Luhan tidak tahu, ada apa dengan Xiumin yang tiba-tiba menangis tengah malam dan memanggilnya dengan panggilan sendu seakan Luhan tidak ada didepan matanya, apa karena ini akibat dari pertengkaran mereka? Tadi siang? Tapi toh Luhan tidak melakukan apapun, hanya diam saja. "Lu-Hannn~"
"Xiu ini aku, aku disini"
Luhan glagepan, ketika tangannya menyentuh langsung pada kulit Xiumin, rupanya kulit itu sangat dingin seperti Xiumin adalah manusia salju. Ah, makhluk ini memang memiliki kekuatan es kan. Tapi sekarang berbeda, Xiumin menggigil, tidak biasanya demikian.
"Apa kau sakit? Xiumin kau mendengar aku?"
"Luhan~ hiks… Luhan~" satu keping serupa batu permata jatuh dari balik kelopak indah Xiumin yang terpejam. Jatuh menimpa kulit Luhan yang langsung menembus kemudian hilang. Baiklah, Luhan mulai takut. Yang tadi itu apa?
Lelaki itu melihat pada lengan dimana kepingan itu menembus, apa itu semacam air suci yang akan tercampur pada darahnya? Apa setelah ini Luhan akan menjadi seorang mate? Dia akan menjadi omega? Seperti cerita fanfiksi buatan penggemar Kpop?
Tidak, Luhan terlalu manly untuk menjadi uke, atau menjadi omega, atau apapun itu yang biasa digunakan untuk sebutan pihak yang lemah. Hell, melihat bagaimana Xiumin saja, sudah bisa dipastikan kalau dalam hubungan semacam itu, Xiumin adalah yang diserang.
"Luhan~~"
Bodoh, tidak ada waktu untuk berfikiran seperti itu Luhan. Dipukulnya kepala Luhan oleh diri sendiri. Lagipula memang kau berniat memiliki hubungan dengan mahkluk sejenis alien ini?
"Tidak"
"Jangan pergi. Luhan~~" kepingan itu semakin banyak, semakin deras hinga Luhan sadar, itu bukanlah kepingan mantra atau apapun yang tadi telah disebutkan. Itu adalah air mata Xiumin. "Aku tidak akan pergi Xiumin, kemarilah" manusia es, tentu sjaa jika menangis, air matanya berupa es.
Anehnya, saat Luhan merengkuh tubuh dingin itu, dirinya tidak merasakan apapun, seakan panas tubuhnya menghangatkan Xiumin, membakar lelaki yang lebih kecil darinya dan membuatnya meleleh, pasalnya lama-kelamaan Luhan merasakan dirinya seperti memeluk bongkahan es, Xiumin seperti mulai mencair.
Angin besar tiba-tiba datang, memporak-porandakan keadaan. Luhan tidak peduli apapun. Toh barang-barang di sini semuanya barang murah yang sudah kuno, maka Luhan mengeratkan pelukannya pada Xiumin, bertindak bahwa dia melindung si mata cantik dari angin besar, supaya dia semakin tidak menggigil.
"Aku akan melindungimu Min…
.
.
Tabrakan tidak bisa terelakan. Angin topan melanda Beijing tanpa aba-aba. Menurut ramalan cuaca, hari ini sampai dua hari kedepan, cuaca akan sangat cerah dan indah. Tidak ada berita mengenai akan terjadinya angin topan atau bencana alam semacamnya, semua terjadi begitu saja. Untuk ukuran angin topan, rasanya ini terlalu aneh.
Petir menyambar-nyambar menakutkan bersama gulungan angin yang menyapu kota, ini seperti keadaan yang dibuat-buat. Beberapa hari lalu, salju turun begitu saja padahal musim dingin masih lama. Ada apa?
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Isu-isu mengenai untuk pemujaan dan persembahan beredar dikalangan netizen. Itu semua berasal dari laporan NASA yang mengatakan jika bencana aneh yang melanda China tidak bisa di deteksi satelit atau alat canggih apapun.
Ini seperti yang terjadi di Jepang, hujan ikan atau hujan es di Indonesia. Untuk ukuran Negara tropis, mustahil es berjatuhan, atau bagaimana bisa ikan menjadi hujan.
Seorang lelaki keluar begitu saja dalam keadaan baik-baik saja melalui salah satu pintu mobil yang terhimpit antara truk dan bahu jalan. Meregangkan sedikit ototnya dia berlari menembus keadaan.
"Kalian akan melukai manusia yang tidak bersalah. Dasar bodoh"
Umpatnya, ia menendang puing-puing truk dan menemukan seorang pria tergeletak di dalam bersimbah darah. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi" seketika darah langsung hilang, si laki-laki tergeletak dipinggir jalan, terlindungi kabut bening bersinar kebiruan.
.
.
Sosok tinggi berjubah hitam muncul bersama putaran angin yang berperan sebagai kaki, ia mendekat pada sosok mungil yang berpakaian sama, yang lebih tinggi menurunkan tudung jubah, sehingga terlihatlah wajah tampan dengan tato berwarna hijau di sudut mata kirinya.
"Kembalilah" ia mendesis, menarik dagu yang lebih kecil membuatnya mendongak. "Kalian tidak akan pernah bersatu, cinta kalian hanya akan membuat salah satunya mati. Tidakkah kau ingat bagaimana kematiannya?"
Ada kesedihan yang memancar pada kedua mata itu. Mengingat bagaimana belahan jiwanya mati dan dia tidak bisa berbuat apa-apa, seperti separuh dari jiwanya juga ikut pergi. "Aku akan memaafkanmu jika kau kembali sekarang, bersamaku."
"Aku tidak mau." Suara si mungil begitu lemah tapi sangat jelas kalau dia menentang. "Tidak ada yang bisa melarangku pergi. Aku… sudah menemukan Luhan"
Tato pada sudut mata itu berkilau, tapi sama sekali tidak terlihat seperti warnanya, tidak bersinar hijau melainkan hitam, gambaran kegelapan serta kemarahan yang teramat sangat, tekanan pada dagu semakin diperkuat, cairan perak itu meleleh dari sana.
Aromanya begitu manis, sehingga yang lebih tinggi mendaratkan lidahnya disana. Menyecap lelehan perak yang langsung menambah asupan tenaga, selain itu juga wajahnya terlihat semakin tampan. Sangat berbanding pada si mungil yang perlahan mengkeriput, bibirnya memucat, tenaga semakin hilang.
"Kau akan mati perlahan dengan begini. Dan satu hal yang harus kau ingat. Dia bukan Luhan."
"Kalau dia bukan Luhan, lalu kenapa kau marah aku menemuinya? Bertemu dengannya dan bahkan mendapatkan pelukan darinya"
Si tampan menggertakan giginya, tanda dia semakin marah. "Itu karena kau belahan jiwaku"
"Soul tidak akan pernah menghisap paksa nyawa Matenya"
"Itu karena kau membangkang"
"Luhan~"
.
.
Cahayanya kehijauan, hari dimana Luhan terbangun bersama kamarnya yang mega brantakan, dari balik tirai cahaya itu datang kemudian pergi, sosok Xiumin bangun dengan perlahan. Mata indahnya terlihat lelah, di kedua pipinya terdapat luka yang mulai mengering serta lelehan perak berkilau.
"Luhan"
Suaranya lemah memanggilnya. Tangan kecil itu mencoba menggapai, seperti tidak sadar Luhan segera menangkup tangan kecilnya. Kenapa dia seperti di hipnotis? Seperti ia tidak sadar. "Jangan pergi"
Sekali lagi angin bertiup kencang tapi tidak selama seperti semalam, hanya beberapa detik kemudian ia seperti terbakar. Xiumin secepat yang dia bisa menarik Luhan, memeluk tubuhnya. Dan Luhan merasakan sebuah kesejukan.
"Apa jika aku pergi kau akan menhancurkan dunia?"
"Bukan aku Lu, tapi mereka"
.
.
Tubuh Luhan jatuh kelantai saat sebuah tendangan cukup keras menimpa kakinya. "Yaiss" ia mengerang. Di dapatinya sang adik sedang menatap sinis lagi remeh. "Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain tidur dan bermalas-malasan?"
"Tidur?"
Jadi yang tadi itu mimpi? Sosok si mata cantik itu hanyalah mimpi? Khayal belaka?
"Apa anda masih melindur putera mahkota?"
Sindiran itu sungguh memuakan. "Ada apa kau memanggilku kemari?" tanyanya sinis.
Ia melempar satu tumpuk uang di atas meja lalu duduk di kusri dengan kaki di naikan diatas meja. "Besok malam ada acara besar pertemuan para pebisnis. Jangan datang, katakan pada pengacara jika kau menolak"
"Kenapa aku tidak boleh datang?" Luhan menatap uang di atas meja, jadi itu sogokan untuknya supaya dia tidak menghadiri acara penting semacam pertemuan bisnis.
"Karena kau bukan pebisnis Luhan"
Suara seorang wanita terdengar dari arah samping. Wanita yang masih cantik meski sudah berumur. Itu ibunya.
"Bukan pebisnis atau, kalian takut aku merusak nama baik?"
Tentu saja, alasan klise semacam dia bukan pebisnis adalah sesuatu yang sangat konyol di telinganya. Dia memang bukan pebisnis tapi orangtuanya adalah pebisnis, toh adiknya juga seorang pemula, masih awam untuk di ikut sertakan, maka apa lagi selain kau tidak pantas Luhan adalah kalimat tersembuyi dari kau bukan pebisnis.
"Jadilah anak baik Luhan"
Luhan kecil menatap ibunya, ibunya akan pergi bersama ayah dan sang adik, tapi dengan kejam dia tidak di ajak.
"Tapi aku takut mama, aku tidak kenal siapapun disini. Ini tempat asing"
Wanita muda itu mengambil dompetnya, memberikan beberapa lembar uang pada sang anak kemudian sedikit mendorong bocah lelaki itu masuk. Itu adalah taman bermain, tapi bukan taman bermain untuk anak seusia Luhan – lima tahunan, melainkan anak-anak SD yang tubuhnya sudah terlihat besar-besar, kemungkinan mereka kelas tiga atau empat.
"Gunakan uang itu untuk membeli apapun, jangan cengeng. Mereka tidak akan nakal padamu kalau kau punya uang"
"Tidak mau, aku tidak mau uang. Aku mau sama mama"
"Pergilah Luhan, mama harus pergi dengan ayah dan adikmu."
"Aku akan menjadi anak baik. Tidak akan ada yang macam-macam denganku selama aku punya uang"
Katanya kalau dia punya uang tidak akan ada yang nakal padanya, nyatanya, Luhan kecil mendapati punggungnya di pukul dan tangannya diinjak menggunakan sepatu. Ibunya berbohong. Justru karena dia punya uang jadi Luhan hanya di jadikan sebagai dompet.
Setiap kali ibunya akan pergi bersama ayah dan adiknya, Luhan di ajak ke taman dan di beri sejumlah uang, disana uang Luhan di minta anak-anak lain, jika tidak Luhan akan di pukul.
.
.
"Apa ada payung kecil?"
Luhan bertanya balik saat si cantik petugas bank menanyakan hadiah apa yang dia inginkan. Sebagai seorang nasabah Luhan mendapatkan semacam hadiah setelah menabung. Dan karena saat ini hujan maka dia ingin payung.
"Tidak ada tuan"
"Kalau begitu aku pergi"
"Eh tuan, tapi."
"Ku rasa dia sudah sangat kaya, dia selalu menolak mengambil hadiah yang ditawarkan" salah seorang petugas lainnya berkomentar saat sosok nasabah setia yang setiap bulan selalu menabung di bank mereka. "Hmm, kurasa begitu. Dia bisa saja mengambil mobil jika dia mau, lihat ini."
Ia menunjukan sebuah nama.
"Luhan?"
"Ia baru saja menabung seratus juta"
"Itu setiap bulan?"
"Terkadang dalam seminggu dia melakukannya enam kali"
"HAA?"
.
.
Ketika tubuhnya jatuh terduduk, bunyi air jatuh masih terdengar jelas, tapi tidak lagi menimpa dirinya, dia mendongak. Mendapati sosok dalam mimpinya. Tapi dia menggenakan pakaian seperti manusia biasa, hanya saja cenderung kekanakan. Ia mengenakan pakaian kodok dengan kaos oranye di dalamnya.
"Luhan bisa sakit. Jangan hujan-hujanan"
"Kau bisa bicara?"
"Luhan menangis?"
"Kau Xiumin?"
.
.
Selamat untuk EXO yang baru merilis The War – Power of Music. Sukes selalu untuk EXO. Aku suka banget MVnya. Oh my god itu SEHUN GANTENG BANGEDDDD. Di waktu muncul 9 orang, kok itu ada spacenya ya. Apa itu untuk para mantan?
.
.
.
Bee
