.
.
.
Previous Chapter :
Chanyeol mengangguk, dan Tuan Park tersenyum. "Kalau begitu, kau harus bersiap. Kita berangkat satu jam lagi dan Luhan, untuk malam ini kau kubebaskan untuk menginap di rumah Sehun. Langsung berangkat sekolah dari rumah Sehun saja."
Luhan mengangguk senang. "Arraseo!" Kemudian Tuan Park menoleh ke arah Chanyeol. "Dan Chanyeol, kau kuijinkan untuk tidak masuk besok karena acara kita akan berlangsung sampai larut malam." Chanyeol memekik senang. "Yeah! Akhirnya membolos!"
Nyonya Park dan Tuan Park hanya menggelengkan kepalanya menatap Chanyeol. "Dasar anak nakal."
.
.
.
Chapter 4
.
.
Satu jam kemudian, Chanyeol sudah bersiap dengan kaos berwarna abu-abu dengan luaran kemeja bermotif kotak-kotak berwarna biru putih yang tidak dikancing, lalu bawahan celana jeans warna hitam polos. Ia memberikan sentuhan terakhir berupa snapback hitam polos bertuliskan 'XOXO' di depannya yang dipasang terbalik sehingga tulisan 'XOXO' itu menjadi di belakang. Sepatu Converse berwarna hitam menjadi pilihan Chanyeol.
Ia tersenyum sendiri melihat penampilannya di cermin. Ini memang gayanya ketika santai. Menurutnya, tidak harus menggunakan pakaian formal hanya untuk acara jodoh-menjodohkan kan? Lagipula, nanti juga yang berbincang hanya para orang tua sedangkan dirinya dengan Baekhyun akan tersingkirkan—Chanyeol mulai berpikir untuk kabur ke kamar Baekhyun dan tidur di sana.
Masih berkaca dengan soknya, tiba-tiba terdengar suara appa-nya yang memanggil namanya. Dengan cepat ia menyambar ponsel dan jam yang tergeletak di laci samping ranjang. Ia menyimpan ponsel di saku celananya, sedangkan jamnya ia pakai bersamaan dengan melangkahnya ia menuruni tangga. Begitu sampai di bawah, ia mendapati Luhan yang sudah bersiap dengan bagpack di punggungnya. Ia juga menemukan Tuan Park dan Nyonya Park yang sudah berdandan rapi.
"Luhan, kau boleh berangkat duluan karena Sehun sudah menunggu di luar. Jangan nakal dan bantu keluarga Oh, arra?" Ujar Tuan Park yang diangguki oleh Luhan. "Arraseo, appa!" Setelah itu, Luhan berpamitan dengan kedua orang tuanya, lalu menepuk pundak Chanyeol sebelum akhirnya melangkah keluar pintu rumah. Kemudian, Tuan Park dan Nyonya Park langsung menatap Chanyeol. "Sudah siap? Ayo berangkat."
Mereka sekeluarga bergerak sigap menuju mobil putih milik appa Chanyeol, lalu mobil itu dengan cepat melesat pergi meninggalkan rumah mereka menuju kediaman keluarga Byun. Di perjalanan, Chanyeol sendiri berusaha menyamankan dirinya. Tiba-tiba ia merasa gugup sendiri. Takut, dengan hal yang entah apa itu. Tidak tahu apa yang ia takutkan.
.
.
.
Ketika mobil keluarga Park sudah meninggalkan rumah, Luhan masih bersama Sehun di depan gerbang. Tubuh mungil Luhan tersandar di gerbang, dan Sehun duduk bersandar di motornya, menghadap tepat ke arah Luhan. Alis mata Sehun terangkat sebelah. "Well, Luhan, kau masih hutang penjelasan denganku. Tumben sekali kau menginap di rumahku."
"Pfft, apa itu penting sekali buatmu, huh?" Gumam Luhan sambil memutar bola matanya malas, tapi pada akhirnya ia menghirup nafas untuk mulai berbicara. Sehun sendiri hanya menghendikkan bahunya, alih-alih memfokuskan pendengarannya pada Luhan yang mulai berbicara. "Ternyata orang tuaku menjodohkan Chanyeol dengan Baekhyun. Hari ini adalah pertemuan besan, jadi ya karena hanya Chanyeol yang dijodohkan—demi apa aku tidak sudi dijodohkan—maka orang tuaku menyuruhku menginap di rumahmu. Lagipula kalau di rumah sendiri saja sepi, meskipun ada banyak maid berkeliaran di rumah ini..."
"Oh." Sehun mengangguk ala kadarnya, kemudian ia mendengus pelan. "Ngomong-ngomong Chanyeol, dia memang manusia paling idiot yang pernah kukenal, astaga. Pemikirannya itu sempit sekali, ckck. Aku bahkan curiga jika otaknya itu tertukar dengan otak udang."
Dan secepat Sehun menghentikan ucapannya, secepat itu pula kepalan tangan Luhan melayang hingga sampai ke kepala Sehun dengan dramatis. Yang dipukul Luhan hanya mengusap kepalanya pelan. "Sakit, hyung!"
"Bicaramu tidak sopan—tapi ada benarnya juga sih." Ujar Luhan, memberikan cengiran bodohnya di akhir kalimatnya. Lagi-lagi Sehun mendengus. "Dasar. Tapi entah, si Chanyeol itu... apa yang dipikirkannya sampai-sampai tidak bisa berpikir jika ia mencintai Baekhyun juga, pfft. Pikiran ingin menjadi namja sukses itu benar-benar hal terbodoh sedunia untuk dijadikan pertimbangan atas memulai suatu hubungan."
"Tidak tahu," Gumam Luhan, gemas juga dengan dongsaengnya sendiri. "Dia memang bodoh. Semoga saja otaknya bisa kembali berjalan dengan benar dalam waktu dekat. Tapi setidaknya bersyukurlah dia masih mau menerima perjodohannya, atau kalau tidak kau akan merelakanku untuk menggantikan Chanyeol menikah."
Sehun bergidik pelan, tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa namja manis di hadapannya itu. Diam-diam Luhan sendiri juga bergidik, membayangkan jalan hidupnya jika harus menikah dengan Baekhyun dan merelakan hatinya untuk meninggalkan Sehun. Hah, untung saja itu tidak terjadi."
"Baiklah-baiklah, salamkan ucapan terima kasihku untuknya." Ujar Sehun kemudian, dan ia menyeringai sambil berdeham pelan. "Jadi, Park Luhan, karena kau akan berada di rumahku malam ini, bukankah seharusnya kau berada dalam kendaliku?"
Sebelum Luhan menangkap maksud dibalik perkataan Sehun, Sehun lebih dulu melangkah mendekatinya. Tubuh Sehun tercondong ke arahnya dan namja tampan nan tinggi itu mengecup bibirnya sekilas sebelum berbisik di telinga Luhan. "Bersiaplah untuk malam ini, sayang."
Dan kaki Luhan sukses menghantam keras tulang kering Sehun.
.
.
.
Baekhyun masuk ke rumahnya dengan mata yang hampir tertutup karena mengantuk, tapi kemudian matanya terbuka lebar mendapati appa dan eomma-nya sedang duduk serius di ruang tamu. Dan kedatangan Baekhyun disambut baik oleh mereka. "Baekhyun! Lepas dahulu sepatunya dan ayo duduk, kami mau bicara denganmu."
Dengan menurut, Baekhyun melepaskan sepatunya, lantas menaruh sepatunya ke dalam rak yang tersedia di samping pintu masuk. Setelah itu, ia masuk dan mendatangi tempat appa serta eomma-nya berada, memilih duduk di samping sang appa.
Tuan Byun mulai membuka mulutnya. "Begini, Baekhyun. Kami langsung pada intinya saja. Malam ini, besan appa akan bertamu dan kau pasti tahu maksudnya, kan? Kau akan dijodohkan. Kau juga boleh menolak kalau kau mau, tidak apa-apa. Kami tidak memaksamu. Tapi selebihnya kami berharap kau mau menerimanya. Tenang saja, lagipula dia teman sekelasmu, jadi kau pasti sudah kenal baik dengannya."
"Hah? Besan? Oh, ya sudah—tunggu, DIJODOHKAN?" Rasa kantuk yang tadi ia rasakan sudah tak berbekas, menghilang entah kemana, digantikan rasa terkejut yang teramat sangat. Ugh, ayolah, ini sudah tahun 2014 dan keluarganya masih berpikir untuk menjodohkannya? Ia memang tidak pernah pacaran tapi itu bukan berarti ia tidak laku, ya Tuhan.
"Tapi, appa... Dijodohkan, astaga yang benar saja. Aku tidak mau appa..." Lanjut Baekhyun, takut-takut menatap appa-nya. Nyonya Byun menghela nafas. "Ayolah, Baekhyun... Semua ini sudah direncanakan sejak lama sekali. Appa dan eomma sudah berencana membantu keluarga Park yang rencananya akan memberi beasiswa yang sangat banyak agar orang-orang pintar di luar sana namun tidak punya banyak uang dapat bersekolah di sekolah milik mereka. Dan mereka juga tidak mau menurunkan kualitas sekolah serta segala peralatan sekolah, yang tentu saja itu membutuhkan banyak dana. Pokoknya mempertahankan keelitan di sekolah mereka juga. Maka dari itu, untuk mendapatkan dana-nya, appa dan eomma kembali memutuskan untuk bekerja sama dengan mereka. Appa juga akan mendapat keuntungan dengan mempromosikan perusahaan kita itu dan mengecap nama baik perusahaan kita. Serta bagi murid-murid yang lulus dengan nilai baik dapat ditarik menjadi trainee dan menjadi pekerja di perusahaan kita itu. Kami memutuskan berbesan, menjodohkanmu dengan anaknya. Dengan ini bisa menaikkan kualitas sekolah mereka, juga nantinya pasti sekolah kita akan berisi anak-anak berprestasi. Kami sangat berharap padamu. Ayolah. Lagipula anak dari keluarga Park itu baik, kok. Kau pasti kenal anaknya, kan?"
"Tentu saja aku tidak—tunggu, keluarga Park?" Protes Baekhyun terhenti dan lagi-lagi rasa keterkejutan menghantamnya. Di sekolahnya memang banyak yang bermarga Park, tapi kalau satu kelas... Satu kelas, yeah. Siapa lagi kalau bukan—
"—Park Chanyeol?"
Tuan dan Nyonya Byun mengangguk bersamaan, menatap penuh harap kepada Baekhyun. Tapi Baekhyun sendiri justru membeku. Astaga. Ya Tuhan. For God sake. Oh my fucking God. Dari sekian banyak manusia yang ada di Korea Selatan ini, dan Park Chanyeol-lah yang akan jadi suami masa depannya, begitu? Dan, tunggu, mereka tidak salah menjodohkannya dengan... namja? Baekhyun tentu saja tidak keberatan kalau orang yang dimaksud itu Park Chanyeol, tapi kewarasan orang tua-nya lah yang Baekhyun ragukan. "Appa, eomma, kalian tidak salah menjodohkanku dengan namja?"
"Ehm... tidak sih. Sebenarnya kalau dilihat dari segi manapun, kau itu manis kok. Cocok untuk Chanyeol. Lagipula kan Chanyeol gay, jadi kau tidak akan lama menjadi normal." Ujar Tuan Byun dan Baekhyun menganga lebar. Demi seluruh gay di seluruh dunia, ia baru kali ini menemukan orang tua yang dengan teganya menjerumuskannya ke dalam dunia yang melenceng. Lalu, hey, bagaimana orang tuanya dapat menyimpulkan secara sepihak? Ah, lupakan. Orang tuanya sengaja membuatnya melenceng atau bagaimana, eh? Yah, meskipun pada kenyataannya ia sudah melenceng, sih. Jadi...
"Bagaimana, Baekhyun sayang?" Tanya sang eomma, penuh harap. Tuan Byun juga menatap Baekhyun dengan tatapan memohon. Tidak butuh sedetik untuk mendapatkan jawaban penuh kebahagiaan—atau kelebayan? —yang teramat sangat. "TENTU SAJA AKU MA—ehm, baiklah, aku mau."
Ya, tidak apa-apa. Baekhyun berharap dalam hati agar keputusan yang ia ambil ini tidak salah. Meskipun orang tuanya agak, uhm, tidak waras, tapi ia bersumpah orang tuanya di atas segala-galanya. Bahkan untuk kebahagiaannya-pun. Ini semua untuk appa, eomma, keluarganya, dan niat baik keluarga Park. Lagipula keputusan appa dan eomma-nya itu juga termasuk mulia, membantu sekolah milik keluarga Park untuk menyekolahkan anak-anak pintar yang tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah. Jadi, Baekhyun bertekad, ini bukan untuk seorang Park Chanyeol, tapi untuk tekad mulia orang tuanya.
Diam-diam Baekhyun berdoa agar Chanyeol tidak mencampakkannya dan memilih untuk dengan Luhan, seperti kejadian-kejadian di sinetron. Pfft, Baekhyun sudah diracuni sinetron.
Setelah itu, Baekhyun masuk ke kamarnya dengan rasa gugup yang teramat sangat. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana Chanyeol akan datang ke rumahnya, lalu berbincang dengannya atau orang tuanya, lalu perjodohan itu—asdfghjkl. Bayangkan saja, setelah kejadian memalukan di sekolah tadi dengan ia yang keceplosan mengatakan kalau ia menyukai Chanyeol, lalu malamnya ia dijodohkan, begitu? Mungkin—mungkin—Dewi Fortuna sedikit berpihak padanya.
Rasa gugup itu justru semakin menjadi, sehingga akhirnya Baekhyun memutuskan menyalakan AC-nya—yang seharusnya hanya boleh dinyalakan saat malam hari (tapi Baekhyun tidak peduli, sebenarnya)—karena ia baru sadar akan keringat yang sudah mengalir di pelipisnya. Lalu ia melempar tasnya dengan sembarang ke atas sofa di pojok ruangan kamarnya, dan ia melangkah dengan malas menuju lemari pakaian. Untuk saat ini, ia memilih memakai baju kemeja santai berbahan tipis dengan warna coklat, lalu celana pendek sedikit di atas lutut yang sedikit kebesaran berwarna putih.
Ia mencoba menidurkan dirinya di ranjang, dan meraba-raba laci di samping ranjangnya. Mendapat ponsel yang tadi ia taruh di atas laci, kini ia memilih membuka ponselnya sejenak. Siapa tahu ada notif baru. Dan ternyata memang benar. Lima line, dua bbm, tiga mention twitter, delapan pesan facebook dan enam puluh tujuh notif facebook. Oh, ada juga sembilan pesan snapchat, empat skype, dan tujuh instagram. Ugh, berapa lama Baekhyun tidak membuka notif di ponselnya?
Ia melihat-lihat notifnya. Dan seperti biasa, sebagian besar adalah dari temannya yang sesama SONE, fans SNSD. Apa? Tidak salah kan kalau namja mengidolakan yeoja? Dan, oh ayolah, siapa yang tidak suka SNSD...
Sebenarnya Baekhyun sangat ingin membuka notif itu satu persatu, tapi masalahnya, di notif bagian bbm, ada sesuatu yang menarik. Bahkan lebih menarik daripada semua berita-berita tentang SNSD yang paling baru dari teman-temannya. Sebuah pesan atas nama Park Chanyeol, dengan isi pesan sebuah 'titik'. Iya, titik seperti ini '.' —mengerikan, bukan.
Oke, itu memang khas Park Chanyeol. Lebih tertarik untuk memulai percakapan dengan sebuah titik daripada sekedar mengetikkan kata 'Hai'. Tapi sebenarnya hal ini sudah lebih cukup. Cukup membuatnya teriak-teriak sambil lompat-lompat di atas kasur. Bilang saja Baekhyun berlebihan, itulah Baekhyun. Ini bukan pertama kalinya Chanyeol mengirimkan sebuah pesan padanya. Chanyeol dan Baekhyun memang sering berkirim pesan. Hanya saja, biasanya membahas pelajaran. Pekerjaan rumah. Dengan Chanyeol yang meminta—memaksa—Baekhyun memfoto hasil pekerjaan rumah Baekhyun. Baekhyun juga memberikannya dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati yang dilanjutkan dengan merenungi Chanyeol yang memang nampak begitu jelas, memanfaatkan Baekhyun untuk hal yang diinginkannya.
Baekhyun sakit hati tapi entah mengapa ia tidak bisa berhenti, untuk sekedar memenuhi semua keinginan Chanyeol. Bukan berarti Baekhyun tidak pernah mencoba. Baekhyun sangat-sangat sering mencobanya, tapi lagi-lagi juga yang terjadi, Baekhyun kembali jatuh kepada Chanyeol. Dan kegagalan itu benar-benar membuat pasrah.
Kembali ke saat ini, jari Baekhyun bergerak lincah di atas layar iPhone 5s nya, menjawab pesan Chanyeol. Setelah memastikan terkirm, ia melempar ponselnya itu dengan sembarang ke sebelahnya, lalu memejamkan matanya. Memikirkan apa yang telah terjadi, yang akan terjadi selanjutnya. Dengan perasaan takut yang tiba-tiba melanda dirinya. Bagaimana jika Chanyeol mengira Baekhyun yang menginginkan perjodohan ini? Atau bagaimana Chanyeol yang akan menolaknya dengan alasan Luhan? Shit, memikirkannya membuat kepala Baekhyun berdenyut sakit, dan membuat Baekhyun masuk ke alam mimpinya tanpa sadar. Mengabaikan ponselnya yang bergetar—ia memang membuat ponselnya dalam mode getar—menandakan sebuah notif masuk.
.
.
.
Keluarga Park bersama-sama memasuki rumah keluarga Byun. Tuan Byun dan Tuan Park sudah menyambut di ruang tamu. Mereka sama-sama menyapa dengan formal, dan duduk bersama di sofa ruang tamu. Chanyeol mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah ini. Bukan apa-apa, sebenarnya ia mencari keberadaan Baekhyun. Tapi rasa penasaran sepele itu berbuah besar. Karena belum saja salah satu dari orang tua Baekhyun atau orang tuanya membuka mulut untuk memulai pembicaraan, mulutnya justru terbuka dengan tidak sopannya memulai pembicaraan. "Baekhyun di mana?"
"Oh!" Nyonya Byun nampak membulatkan mulutnya sedangkan Nyonya Park mulai tertawa. "Ya Tuhan, Chanyeol. Belum ada satu menit kau masuk di rumah ini dan kau sudah menginginkan Baekhyun? Tenanglah, Baekhyun tidak akan pergi ke mana-mana, sayang."
Wajah Chanyeol memerah hingga telinga, menampar dirinya secara mental. Sialan, bagaimana bisa pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya? Tapi kemudian Tuan Byun menjawab pertanyaan Chanyeol. "Baekhyun ada di kamarnya, mungkin masih tidur. Satu jam yang lalu aku dan istriku sudah sampai berdemo di depan kamar Baekhyun untuk membangunkannya, tapi si babi itu memang susah untuk dibangunkan. Kau bisa menyusulnya ke atas, pintu kamar yang berwarna biru."
Pernyataan dari Tuan Byun sudah sangat jelas, tapi hal itu justru membuat Chanyeol menganga. Bahkan Chanyeol mulai curiga apa namja tua di hadapannya itu benar-benar appa Baekhyun. Karena ia baru kali ini menemukan seorang appa menjuluki anaknya sendiri dengan sebutan babi. Yeah, setidaknya lebih baik dirinya yang dipanggil jerapah oleh appa-nya. Ugh.
Menelan rasa gelinya itu bulat-bulat, Chanyeol kemudian mengangguk sopan dan meminta ijin kepada appa-nya untuk menyusul Baekhyun. Appa Chanyeol sendiri malah menunjukkan senyuman lebarnya. Dan Chanyeol sukses tersandung di kaki tangga kedua ketika suara appa-nya menggema di ruang tamu. "Ingat, Yeol. Kau belum menikah dengan Baekhyun. Jangan bercinta dulu, tahan nafsumu ya nak."
Chanyeol mulai berpikir bahwa keluarganya dengan keluarga Baekhyun sebenarnya sama-sama tidak waras.
Memilih mengabaikannya, Chanyeol cepat-cepat menaiki tangga. Sekilas ia mendengar appa-nya mulai membahas sesuatu. Sepertinya rencana untuk kedepannya. Atau mungkin bisnis. Entahlah, Chanyeol masa bodoh dengan itu semua. Yang ia pedulikan adalah pintu berwarna biru yang nampak di penglihatannya setelah Chanyeol menaiki kaki tanggga terakhir. Tanpa keraguan, ia melangkah mendekati pintu biru itu, dan mengetuk pintunya pelan sambil memanggil Baekhyun, tidak terlalu keras.
"Baekhyun..."
Tidak ada jawaban, dan Chanyeol pikir Baekhyun memang tidur. Ia mencoba membuka pintunya. Tapi pada kenyataannya pintunya terkunci. Pfft. Chanyeol mendengus gemas. Bocah ini entah tidur atau apa, sengaja untuk menghindari malam ini atau bagaimana? Sok punya privasi, pula, gumam Chanyeol dalam hatinya. Ugh, salahkah orang punya privasi dengan mengunci pintu kamar?
Ia berpikir sejenak, sampai akhirnya ia mencoba membuka laci yang tersedia di dekat kamar Baekhyun. Mungkin ada kunci cadangan atau semacamnya. Dan benar saja, tidak sampai satu menit dan Chanyeol sudah menemukan sebuah kunci. Di laci paling atas. Semoga saja itu memang kunci cadangan kamar Baekhyun. Dengan segera ia mencoba memasukkan kunci tersebut ke lubang kunci pintu kamar Baekhyun tersebut. Dan, yeah, pintunya terbuka.
Kakinya mulai melangkah masuk, setelah itu menutup pintunya dengan perlahan. Ia sempat melihat kunci asli kamar Baekhyun berada tergantung di paku yang sepertinya sengaja ditancapkan di samping pintu kamar. Begitu ia berbalik, ia mendapati sebuah pemandangan yang membuatnya terpaku sesaat. Seorang Byun Baekhyun dengan wajah polos dan imut di atas rata-rata, memeluk guling dengan possesive dan tubuhnya ditutupi selimut hingga sepinggang.
Chanyeol bersumpah, ia tidak tahu Baekhyun bisa menjadi seimut ini.
Mengenyahkan rasa gemasnya pada Baekhyun, Chanyeol mulai melangkah mendekati ranjang. Ia duduk dengan perlahan di pinggiran ranjang, mencoba tidak membangunkan Baekhyun. Tatapannya menjelajah di wajah Baekhyun. Kelopak mata yang tertutup dengan bulu mata lentik menghiasi kelopak mata itu, hidungnya yang berukuran, ehm, standar, pipi Baekhyun yang sedikit berisi, dagunya yang lancip, poni yang menutupi keningnya... Lalu bibir tipisnya yang menggoda untuk dicium. Diam-diam Chanyeol berpikir untuk mencuri sebuah ciuman—dan pikiran itu segera ia lempar sampai jauh. Wow, pervert-kah ia?
Mau dalam keadaan sadar atau tidak, sebenarnya Baekhyun sudah menarik segala perhatian Chanyeol untuk terus berpusat kepadanya.
Tangan kanan Chanyeol terulur, menyingkap poni yang menutupi kening Baekhyun. Namun kemudian yang terjadi adalah tangannya itu justru merambat ke kelopak mata Baekhyun yang tertutup, lalu ke pipi Baekhyun yang sedikit memerah itu, dan tidak tahu bagaimana kini sudah sampai ke bibirnya. Mengusapnya dengan lembut, sangat lembut dan pelan, bahkan sampai hampir tidak tersentuh sama sekali. Seperti Baekhyun adalah porselen rapuh yang akan hancur jika ia menyentuhnya sedikit erat.
Tatapan Chanyeol tiba-tiba beralih ke arah iPhone Baekhyun yang tergeletak di sisi kosong bagian ranjang, di samping Baekhyun. Tampak menggiurkan untuk dibuka. Dan ngomong-ngomong, ia teringat satu pesan yang ia kirimkan kepada Baekhyun. Pesan yang sempat ia kirim saat ia berbaring di ranjang rumahnya, setelah mendengar penuturan appa-nya atas rencana malam ini. Dan Chanyeol tiba-tiba berpikiran, mungkin di iPhone Baekhyun ada sesuatu.
Berterima kasihlah pada rasa penasaran itu, karena tangan kanan Chanyeol yang tadi masih berada di wajah Baekhyun, kini berganti fungsi untuk mengambil iPhone Baekhyun. Ia menekan tombol lock di bagian atas sebelah kanan, dan iPhone Baekhyun-pun menyala. Ia menggeser jarinya di atas layar iPhone Baekhyun, kemudian ia sadar telah melupakan satu hal.
Password.
Shit, geram Chanyeol dalam hati. Ia mencoba berpikir, mencari kemungkinan empat angka apa yang digunakan Baekhyun untuk mengunci iPhone-nya. Tanggal lahir Baekhyun? Ouch, ternyata bukan. Gabungan nomor absennya dengan Baekhyun? Hmm, bukan juga—dia memang kegeeran. Mungkin tanggal lahirnya dirinya? Pfft, percaya diri sekali—eh, tunggu. Berhasil. Terbuka. Jadi—?
Wow.
Tiba-tiba saja dia ingin berteriak kegirangan. Eh.
.
.
.
TBC
.
.
.
...lagi asik-asiknya malah tbc ya kan ya...
(yang ngebuat aja ngerasa pfft /slapped)
HEY HEY YUHUUU
Karena suasana hati saya lagi bagus, saya berniat buat ngupdate ini ceritaaaa~
Mungkin chapter depan bakalan end, atau mungkin dua chapter lagi, entahlah.
Jadi jadi dan jadiiiii, gimana nih chapter? Jelek? Bagus? Aneh? Asurd? Gila?-_-
Tolong tulis komentar kalian dalam kotak review please? Heheh, soalnya SOALNYA, kalo review-nya makin banyak, pasti saya bakal lebih cepet buat updet.
Ini juga chap-nya udah saya panjangin, soalnya yang chap kemaren pendek banget kan ya HEHE.
Lagipula yang ngebaca udah banyak banget, masa yang review cuma... yah, dan orangnya juga muter itu itu aja. Yang setia buat review tiap chap, MAKASIH BERAT MUAH SALAM KETJUP DARI SAYA *dihajarmasa*
SOOOOOO, WANNA GIVE ME REVIEW?
.
.
Answer of Review :
Baby Crong : Aww iya dumz mereka kan onjoeeeh *jambakrambutbaekyeol/?* Acie Chan ada yang gemes noh kkk~ Yehet makasih yaa :3 Ini udah lanjut yaa
parklili : Yeyy haha(?) Hmm, buat itu, di chap ini kejawab yaa. Maaf kalo misalnya reaksi Baek ga seasik yang kalian bayangkan:" Ini dilanjuut
sogogirl94 : ehmm untuk bener atau gaknya sih saya gatau-_- tapi semoga janganlah :v yaa bisa aja sih ntar kalo mereka pisah terus waktu ketemuan bisa jadi lovey dovey, tapi kalo nggak gimana tuh-,- iyaa kamu kalo review panjang :3 tau tuh si chan, katanya bingung gitu, kampret kan, mungkin memang harus dipelet dulu *sodorinpeletikan* chap ini ada hunhan sedikiiiiiiiiiiiiiiit banget ya ga sih hahaha-,- terpaksa saya rombak ulang ceritanya soalnya pada minta hunhan keke, dan hasilnya aja DIKIT BANGET pfft habisnya saya bingung sih mau diapain ntu HunHan lol.
Yeollbaekk : Hmm di sini udah kejawab ya gimana reaksinya Baekhyun. Maap banget kalo mengecewakan huhuhu T.T ini dilanjut yaaa
JonginDO : Yeyy haha ini updet lagi nih.-. Yaaaah ditanyain beginian-_- Maap tapi nggak ada hiks, saya ga berani bikin part nc padahal saya suka banget kalo baca yang begituan HAHA *digampar*
Kim Bo Mi : Aww dibilang bagus ya Tuhan karya seabsurd ini kkk makasih banget ngahaha:'3 Kekeke, ChanLu di sini kakak-adek yaa huehue.
Guest : Heheheh udah cepet kan updetnya._. Huehe makasiiih
neli amelia : Yeyey emang jodoh ga kemana kok:3 Kekeke, tunggu aja dulu, nikmati aja Chan yang emang rada nyebelin wkwks ntar juga kejawab kook ga lama lagiii. Ini udah diupdet yeaa, ga lama kan ya ini?.-.
Shouda Shikaku : Yeyy ini juga udah updet lagi wkswks. Ciecie eperiwer-_- Wth kampret moment hahaha xD betewe BETEWE, itu real moment yang saya alamin hahaha (kampret moment in real life jadiin inspirasi fanfic gaapa kali ya wks) Terhempas ke dasar samudra? Ke genteng aja gimana *digampar* Well, emang di sini keluarganya rada rada, edan gitu hahah. Ini udah yaa, makasih semangatnya, cemungudh juga buat kamuh.-.
: Wkwk banyak banget yang ngomong jodoh ga kemana.-. Iyaa jodoh ga kemana kokk, ini udah dilanjut yaaa
Ririn Cross : Kasih pelet ikan aja ;_; Biar greget gitu haha *digampar* Chan emang bikin susah wks/? Harus gimana biar dia suka sama Baek *lahyangbikinceritamalahtanya/slapped* Iyawww ini udah lanjuut
Ririn Cross Ngga log-in {(?) -_-} : Ya Tuhan saya ngakak-_- Waktu baca review kamu sebelumnya sih biasa aja, eh begitu yang review ga login ini masuk saya baru nyadar kalo typo wkwk. Chan cinta Chan, Baek sama siapa dong(?) Ngetiknya pelan-pelan aja, ga usah semangat-semangat, gaada yang ngejar kok-_-
wangjey : Aww makasihh hohoh. Iyaa gaada sesi bikin sakit hati kok, ini sweet ;_;
shin il kwang : Yahh malah ikutan labil juga ini anak-_- Iyaa saya memang kalo mau publish cerita yang chaptered itu biasanya buat sampe setengah jalan cerita, ntar update nya sekalian sambil ngelanjutin ceritanya. Jadi misalkan nanti chapternya baru sampe dua atau tiga, di file punya saya itu udah the end GITUU. YAY *prokprok* Nah, itu dia biasanya saya juga kadang sebel sama author yang kebanyakan publish fanfic, fanficnya sih bagus banget tapi kalo dibiarin nggantung gitu rasanya...-_- Kkk, well, ini udah updet yaaa
Yongbekyu : Aww dibilang menarik astagaastaga makasihhh. Hmm, karakter Baekhyun itu... Yah, intinya ga gampang nangis nangis cuma gegara cinta (tapi ntar liat deh gimana akhirnya HAHA), pokoknya gitulah haha saya aja bingung ngejelasinya gimana-_- Kkk, ini updet yaa.
Sniaanggrn : Emang tuh haha, keluarganya gaada yang waras nanti. Keluarganya Baek juga sebelas duabelas ama keluarganya Chan wks.
Syifa Nurqolbiah : Hmm... Yaa baca aja ini ntar sampe end, kan bakal kejawab nanti hoho. Dia kan emang bodo wkwk. Betewe, "...kok chanyeol jdi bodoh yah?smpe gatau dia tuh suka chanyeol/engga?..." Itu ngapa jadi Chan suka ama Chan-_- Chan ama Baek kali ah-,- Typo yang bagus nak/? Heheh, ini udah lanjut yaaa
Nenehcabill : Wew review anda banyak :3 Iya Chan sweet sih, tapi abis itu ditinggal gitu aja, bareng Luhan pula-_- Bayangin aja gimana tuh Baek patah hatinya wks, lololol. Kkk, pantengin aja deh yaa. Tapi maap kalo ntar reaksinya Baek ga sebagus yang kamu pikirin :v IYAAA KENAPA HARUS BAEK YANG DIPINDAH KE EXO-M WAEWAEWAE HIKS. Ntar dia makin jauh dari Chan hueeee-_- Ini udah lanjut yaaa.
KT CB : Iyaa iyaa, wew terharunya;_; Apa selama itukah saya ngeupdatenya?-_- Iyaa kemaren udah mulai ChanBaek moment, hmm chap ini termasuk ada ga sih heheh-_- KALO AMPE NTU CEO BENERAN MISAHIN, KITA SEMUA HARUS DEMO'-' Sabar sabar, Chan emang nyebelin sii haha. Iyaa iya iya-,- Sungkem dulu aja gimana nih wks.-. Yaelah Baek punya sayaaa *dijambakChan* Ehm oke. Soo ini udah lanjut yaaa semoga memuaskan ajadeh :v
VAAirin : Aaaa makasih hehe. Iyaa ini gaakan complicated, tenang aja. Selain ga tega juga saya ga punya banyak waktu buat mikir gimana alur yang complicated hahah-_-
ShinJiWoo920202 : Kata si Baek dia ga mau nolak perjodohannya soalnya dia bilang kesempatan belum tentu datang dua kalii:'D *hastagBaekhyunteguh/?* Kkk, ini lanjut yaaa.
KaiSooCouple : Aww kkk, ini udah lanjut yaaa
hunniehan : Kalo ga tbc apaan dong, abc gitu? *digampar* kenapa kenapa kenapa anda unyu sekali-_- Kalo banyak kenapa sih namanya penasaran-,- Betewe dibilang bagus aaaahahaha ini padahal .sekali lololol muucih yaaaaa, whatthe puppyeyesdanjatuhcintadanjatuhtidakbisabangkitlagi sebenernya saya curiga kamu abis kerasukan apa :v Iyaaaw makasih semangatnya mumumu :3 ini udah dilanjut yaww
septhaca : Kkk-_- Biarkan HunHan berkarya...dengan sodom-menyodomi (APAINI) *ditendang*
nur991fah : Tuh Yeol gua bilang juga apa jangan php kasian kan si Baek-,- sekarang kena omel noh haha(?)
aireyer : Aww haha, pengganti kopi nih biar ga ngantuk kkk. Cie baca ini malem-malem hoho. Luuuuuhaaaan saya kangen kamu aww *okesebaiknyalupakan* Aciee kk, ChanBaek emang greget as always :3 Iyaa cemungudh juga buat kamuu, makasih semangatnya heheh.
