"KEKASIH GELAP"

Cast:

Kim Ryeo Wook (Ryeowook)

Choi Si Won (Siwon)

Kim Jong Woon (Yesung)

Choi/Kim Ki Bum (Kibum)

Rate:

T (Normal)

Chapter:

3 (Three)

Genre:

Drama – Hurt

Warning:

OOC – Typo – Genderswitch – etc

DON'T LIKE? DON'T READING!

HAPPY READING ~ ^^

.

.

.

"HARI KETIGA"

Kapal berlabuh di Pulau Jeju, pulau terbesar di Korea yang terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Yesung sudah mempersiapkan diri sejak pagi. Jeans biru, t-shirt hitam dan sepatu kets. Tampak segar dan muda.

"Kau betul-betul akan pergi?" Ryeowook meyakinkan.

"Ya, mengapa tidak?" jawab Yesung antusias.

"Tapi kau masih sakit."

"Apakah menurutmu aku masih tampak sakit?"

"Sedikit."

"Apakah dengan alasan sesepele itu aku harus tidur di kabin sepanjang hari dan melewatkan kesempatan menikmati pulau ini?

"Tapi…" Ryeowook ragu-ragu.

"Ayolah." Yesung menarik lengan Ryeowook. "Tidur bisa kulakukan dimana saja dan kapan saja. Sungguh bodoh bila aku harus melewatkan semuanya hanya demi sebuah tidur."

"Baiklah! Ayo, kita pergi!" Akhirnya Ryeowook menyambut uluran tangan itu dengan penuh semangat.

Gereja tua St. Paul berdiri di atas sebuah bukit, ada banyak pepohonan hijau di sekitarnya. Teduh, menawarkan kedamaian pada setiap orang. Dinding bangunan yang sebagian besar mengelupas, menampakkan bata merah berlapis lumut alami. Di bagian dalam ada altar sederhana dengan lilin di beberapa sudut. Deretan bangku-bangku tua berjajar rapi, siap menyambut siapapun yang datang.

Ryeowook berdiri mematung di ambang pintu gereja beberapa saat. "Aku ingin sendirian." katanya kemudian.

"Baiklah, aku tunggu kau di bawah." Yesung mengangguk maklum tanpa bertanya lebih jauh.

Yesung berjalan-jalan mengitari kawasan itu. Tidak banyak turis yang datang. Hanya ada beberapa pengunjung asing, selebihnya adalah pengunjung berparas Korea. Barangkali penduduk setempat. Sesaat Yesung menemukan seorang Ibu tampak sedang sibuk memperbaiki roda kereta dorong anaknya. Tapi dari apa yang di lakukannya, terlihat bahwa Ibu itu sama sekali tidak berpengalaman. Naluri Yesung segera tergerak.

"Ada yang bisa saya bantu, Ibu?" katanya menawarkan bantuan.

"Ini roda kereta dorong bayi saya tidak bisa bergerak, saya sudah kehabisan akal." keluh Ibu itu dengan logat Jeju yang khas.

"Akan saya coba memperbaikinya."

Yesung mengambil alih kereta dorong itu. Di telitinya sesaat dan di temukannya ada satu sekrup pengunci roda yang terlepas. Bila tidak di temukannya sekrup pengganti, harus di carinya alternatif lain.

"Anda berasal dari mana?" tanya Ibu itu sembari menggendong anaknya.

"Cheonan."

"Pelancongkah?" Yesung mengangguk singkat membenarkan perkataan Ibu itu.

"Anda pergi dengan siapa kesini?"

"Teman." Yesung menunjuk ke arah bukit. "Dia sedang ada disana."

Pada saat yang sama terlihat Ryeowook menuruni tangga bukit dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua.

"Diakah?" tanya Ibu itu menatap Ryeowook lebih lama. Yesung hanya bisa tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya lagi.

"Cantik sekali, pasti bukan teman biasa." tukas Ibu itu lagi.

Yesung tersipu dan mendadak gugup, kehilangan kata-kata. Ketika langkah Ryeowook makin mendekat, di sibukkannya diri dengan kereta dorong bayi itu.

"Annyeonghaseyo." Ryeowook memberi salam, Ibu itu membalas salam Ryeowook.

"Mianhae, Anda harus menunggu dulu. Teman Anda ini sedang memperbaiki kereta dorong bayi saya."

"Gwenchana." Ryeowook tersenyum. Di belainya anak dalam pelukan Ibu itu. "Putra Ibu ini berapa umurnya? Tampan sekali."

"Lima belas bulan, namanya Lee Donghae."

"Donghae-ah, mau ikut ahjumma jalan-jalan?" ajak Ryeowook pada anak itu.

"Dia sekarang sedang belajar untuk berjalan." Ibu itu menurunkan Donghae dari pelukannya. "Tapi anak ini sangat malas. Dia tidak mau melangkah jika tidak ada sesuatu yang menarik hatinya, dia baru mau berjalan sendiri bila menginginkan sesuatu. Akibatnya, sampai sekarang dia belum lancar berjalan sendiri."

"Jinjja? Kalau begitu, tunggu sebentar."

Ryeowook beranjak dan membeli beberapa balon beraneka warna. Sesaat kemudian, dengan balon tersebut di rayunya laki-laki kecil itu untuk berjalan ke arahnya. Berhasil! Donghae bersorak melihat balon yang di bawa Ryeowook. Sigap di ulurkannya tangan mencoba menjangkau balon-balon itu. Langkah kecilnya tertatih-tatih mendekati Ryeowook yang ada di depannya.

Setiap kali hampir terraih, Ryeowook menjauh lagi sehingga memacu Donghae untuk terus melangkah mendekat. Begitu terus hingga beberapa putaran. Dan laki-laki kecil itu tidak putus asa, dengan semangat penuh terus di kejarnya Ryeowook dan mencoba meraih balon yang di inginkannya. Ibunya dan Ryeowook terus memanggil-manggil nama Donghae untuk memberikan semangat.

Sesaat kemudian tampak langkah anak itu makin membaik. Keseimbangannya terjaga membuat langkah kecilnya makin mantap dan tidak goyah. Di belakang, ibu Donghae mengikuti langkah putranya sembari bertepuk tangan memberi semangat. Di kejauhan Yesung mengamati adegan itu. Rupanya dia sudah selesai memperbaiki kereta Ibu tersebut.

Sebentar kemudian Ryeowook menghentikan langkahnya, di tunggunya Donghae. Dengan sigap, laki-laki kecil itu meraih balon impiannya dan bersorak kegirangan. Ryeowook tertawa dan meraih anak itu dalam pelukannya. Mendadak kemudian Ibu Donghae mengambil sebuah kamera polaroid dari dalam tasnya.

"Kebetulan saya membawa kamera ini. Mari saya foto kalian, nanti gambarnya bisa kalian bawa pulang sebagai kenang-kenangan." katanya sembari mendorong Yesung ke arah Ryeowook dan Donghae untuk ikut berfoto.

Dengan langkah ragu-ragu, Yesung menempatkan diri di samping Ryeowook. "Ah, mana boleh begitu! Kalian ini kan sepasang kekasih, haruslah tampak mesra." seru Ibu itu.

Mendengar hal itu, mendadak pipi Yesung dan Ryeowook merona dadu. Mereka tampak tersipu dan salah tingkah. Sebelum mereka sempat berpikir lebih jauh, begitu saja Ibu Donghae mengambil tindakan sebagai layaknya pengarah gaya. Di aturnya lengan Yesung sedemikian rupa untuk memeluk Ryeowook dan Donghae. Salah tingkah keduanya makin menjadi, tapi instruksi "sang pengarah gaya" sungguh tidak dapat di tolak. Pasrah saja mereka berdua mengikuti arahan Ibu Donghae.

"Kalian ini sepasang kekasih, tapi tampak malu-malu begitu. Aneh sekali." komentar Ibu Donghae sembari bereaksi dengan kameranya.

Tak lama kemudian beberapa lembar foto tercetak sempurna. Begitu bagus adegan dalam foto itu. Yesung memeluk Ryeowook yang sedang menggendong Donghae. Ketiganya tertawa lepas menampakkan kebahagiaan, di latar belakangi balon warna-warni yang melengkapi gambaran kebahagiaan itu.

"Foto yang bagus. Kalian tampak seperti keluarga muda yang bahagia." ucap Ibu Donghae melihat hasil karyanya. Di ambilnya sebuah foto untuk dirinya sendiri. Selebihnya di berikannya pada Ryeowook. "Akan kusimpan sebagai kenang-kenangan, siapa tahu kita akan berjumpa lagi."

"Gamsahamnida." Ryeowook menerima foto itu.

"Kali ini bolehlah kupinjamkan Donghaeku pada kalian, tapi suatu saat nanti kalian akan berfoto dengan Donghae kalian sendiri." Ibu itu mengerling penuh arti.

Ryeowook tercenung. Kalimat itu seakan menyentuh hatinya. Donghaeku sendiri? Mungkinkah kumiliki seorang putra dalam kehidupanku di masa nanti? Mereka lalu berpisah. Ibu Donghae pamit dan menjauh. Dari dalam kereta dorongnya, Donghae melambai-lambaikan tangan kecilnya.

"Anak kecil yang bersemangat." gumam Ryeowook membalas lambaian itu. Di simpannya kesedihan berpisah dengan laki-laki kecil itu.

"Kau yang mengubahnya." tukas Yesung mengamati Donghae yang makin menjauh. "Bertemu denganmu membuat kemalasannya berubah menjadi semangat yang luar biasa."

"Sebenarnya dia bukan anak pemalas, tapi seorang anak dengan tipe orientasi. Artinya, dia mau melakukan sesuatu karena ada tujuan tertentu yang akan di raihnya. Donghae bukan tipe anak yang mau melakukan sesuatu tanpa alasan."

"Bukan tipe anak yang mau melakukan sesuatu dengan sia-sia begitu saja."

"Tidak seperti kita."

"Ya, kita melakukan sesuatu dengan sia-sia, menjalani hidup tanpa arah."

"Kita tidak punya tujuan, bahkan tidak tahu apa yang sesungguhnya kita inginkan."

"Jadi, kita tidak lebih pintar dari anak berusia lima belas bulan?"

Keduanya saling berpandangan, lalu mengangkat bahu bersamaan dan tertawa lepas. Lebih untuk menertawakan diri sendiri. Tawa yang pahit dan getir.

.

.

.

Di lorong kabin, di depan pintu kamar, serumpun bunga mawar merah muda menyambut kedatangan mereka. Begitu cantik dan segar rumpun bunga itu dengan tetesan embun di antara helai-helai kelopaknya.

"Pasti untukmu." tebak Yesung tepat. Ryeowook meneliti kartu pengirim yang terselip di bunga itu.

Kutunggu di Mediterranean.

Terrace, deck 12.

Lalu sebuah paraf khas yang amat di kenalnya, Choi Siwon. Tentu saja, siapa lagi?

"Apakah aku harus menemuinya?" gumam Ryeowook ragu-ragu.

"Seharian kau bersamaku, tentunya dia sudah menahan kecemburuannya sedemikian rupa." Yesung menahan tawa. "Jadi, kalau kau tak menemuinya, pasti imajinasi negatifnya akan melantur kemana-mana dan membuatnya membara. Lagipula, perempuan mana yang mampu menolak rayuan bunga seindah ini?"

"Sialan kau!" sembur Ryeowook melempar bantal kearah Yesung.

Dengan mudah Yesung berkelit. Sigap di tangkapnya bantal itu dan di lemparkannya balik kearah Ryeowook. Sesaat kemudian perang bantal pecah dan ruangan kamar itu penuh dengan hamburan tawa dari keduanya.

.

.

.

Makan malam sudah lama berlalu di Mediterranean Terrace, namun beberapa tamu terlihat masih menikmati dessert-nya atau barangkali semacam late supper. Beberapa orang ada yang memilih wine.

Di teras itu embusan angin malam begitu lembut. Langit sungguh cerah sehingga membuat bulan tampak begitu bercahaya, di lengkapi dengan taburan kerlip bintang di sekelilingnya. Hujan yang semalam begitu deras, sungguh tak bersisa sedikitpun malam ini. Malam yang begitu sempurna. Siwon sudah menunggu di meja sudut ketika Ryeowook muncul di ambang pintu.

"Kau kemana saja seharian ini? Aku rindu sekali." sambut Siwon meraih Ryeowook dalam pelukannya.

Dengan lembut Ryeowook berkelit. "Chisatgae. Kalian kemana?"

Siwon mengeluh. "Kibum mual sepanjang hari. Jadi, kami di kapal terus. Dia tidak mau turun, tapi juga tidak mau kutinggal. Jadi, begitulah…aku bagai terpenjara."

"Mengapa mengeluh? Itu bawaan bayi, anakmu, hasil karyamu. Sudah sepantasnya kalau Kibum melibatkanmu untuk ikut menanggungnya." kata Ryeowook ringan.

"Solidaritas peremupan?"

"Mungkin."

"Apa yang kau lihat disana?" Siwon mengalihkan pembicaraan.

"Aku bertemu dengan seseorang."

"Nuguya?" tanya Siwon menyelidik

"Namanya Donghae." Ryeowook terdiam sesaat. "Dia menyadarkanku bahwa apa yang kulakukan selama ini tidak jelas arahnya, hanya kesia-siaan belaka." katanya kemudian.

"Kau mendapatkan cintaku." Siwon meraih jemari Ryeowook, meremasnya dengan lembut. "Apakah itu sesuatu yang sia-sia bagimu?"

Ryeowook tercenung. Kebimbangan menguasainya hingga dia kehilangan kata-kata. "Aku…" katanya tak selesai.

"Aku mencintaimu, apakah itu tidak cukup?" Siwon mempererat genggamannya.

"Jinjja?" tanya Ryeowook ragu.

"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya? Apa kau memerlukan pengesahan secara hukum, begitu?"

Ryeowook terkejut. Di tatapnya Siwon tepat di manik mata, mencoba mencari kesungguhan di balik mata itu.

"Bila itu kau dapatkan, apakah itu jaminan kebahagiaanmu?" Siwon membalas tatapan tajam itu. "Bila ya, baik! Akan kulakukan!"

"Jeongmal?" Ryeowook meyakinkan.

"Ne!" jawab Siwon pasti. "Aku mencintaimu maka akan kulakukan apapun keinginanmu. Tentu dengan segala keterbatasanku. Kalau kau ingin pernikahan yang sah, akan kulakukan untukmu. Tapi, harus kau sadari bahwa aku tidak mungkin menceraikan Kibum. Karena itu, posisimu adalah nomor dua dan karenanya…mianhae, kau harus terima kenyataan bahwa tidak mungkin bagimu untuk kutampilkan di depan umum. Kau bersedia?"

Ryeowook terhenyak. Semacam inikah posisi yang di tawarkan Siwon untuknya?

"Itu realitasnya." lanjut Siwon seakan membaca isi benak gadis itu. "Karena itu, lihatlah hatimu sendiri. Pertimbangkanlah apakah ini kebahagiaan yang kau cari itu."

Ryeowook termenung sejurus lamanya. Lalu di lihatnya dirinya sendiri. Inikah kebahagiaan yang di inginkannya selama ini? Meraih cinta dalam genggaman tapi menyembunyikan diri sedemikian rupa? Benarkah ini yang di inginkannya? Siapkah dia dengan semua ini?

Ryeowook belum selesai dengan pertimbangan-pertimbangan itu ketika mendadak kemudian alarm kapal berbunyi nyaring.

"Kebakaran!" teriak seseorang entah siapa.

Seketika itu juga keributan membuncah. Kepanikan melanda dan membuat para penumpang tak terkendali bergerak untuk menyelamatkan diri tak tentu arah. Kekacauan berserakan dimana-mana berbaur dengan jerit dan tangisan. Ryeowook masih dalam keterkejutan dan belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi ketika Siwon meloncat dan melepaskan genggaman tangannya begitu saja.

"Kibum!" seru Siwon keras dan bagai gerak refleks dia segera berlari mencari istrinya. Sama sekali tak di pedulikannya Ryeowook yang pada detik yang lalu ada dalam pelukannya.

Di kursinya Ryeowook duduk membeku dalam keterkejutan yang panjang. Reaksi spontan yang barusan di lihatnya pada diri Siwon adalah realitas. Suatu kenyataan yang menghanguskan bangunan mimpi dan harapan yang selama ini di susunnya satu demi satu. Hangus sudah.

Akankah kapal ini hangus juga seperti mimpiku barusan? Ryeowook membiarkan pertanyaan itu berlalu begitu saja. Demikian juga kekacauan dan kepanikan yang melanda di sekelilingnya, sama sekali tidak di hiraukannya. Dia tetap berdiam diri di kursinya, menikmati embusan dingin angin malam.

Sesaat di rasakannya kesedihan itu, bagai ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Tapi ternyata hanya sesaat, selebihnya seperti ada kelegaan mengalir dalam benaknya. Lalu sesuatu seperti melepaskannya dari sebuah beban, simpul jeratnya terlepas dan dia bagai melayang ringan. Apakah itu?

"Ryeowook-ah." Sebuah tepukan di bahu mencairkan kebekuan gadis itu. Refleks dia menoleh. Yesung berdiri di belakangnya dengan raut muka penuh kekhawatiran yang tak tersembunyikan. "Gwenchanayo?"

"Ne." Ryeowook mengiyakan. "Ada kebakaran?"

"Aniyo." Yesung menggeleng. "Hanya ada sedikit asap di dapur. Barangkali masakan hangus atau apalah, tapi rupanya seorang penumpang yang kebetulan melihat itu panik dan langsung mengaktifkan alarm. Sekarang sudah teratasi."

Ryeowook melihat sekelilingnya. Benar juga, situasi yang tadi begitu kacau dan hiruk pikuk, kini telah tenang kembali. Meskipun menyisakan meja dan kursi yang porak poranda.

"Selendangmu." Yesung mengulurkan selendang dan mengalungkannya pada bahu Ryeowook. "Kau selalu lupa membawanya, sementara angin malam begitu dingin. Jadi, kupikir kau pasti akan memerlukannya."

"Gomawo." bisik Ryeowook nyaris tanpa suara. Di rasakannya hangat menyentuh bahunya, bukan karena balutan selendang itu, tapi lebih karena getar yang menyertai gerakan selendang itu. "Mengapa kau selalu menemukan aku?"

Yesung kemudian duduk di samping Ryeowook, sekilas terlihat dia begitu terkejut mendengar pertanyaan gadis itu. "Kau curiga aku mengikutimu?"

Ryeowook menggeleng. Dia tidak memerlukan jawaban lebih lanjut. Dia tahu Yesung tidak mungkin melakukan itu. Kartu yang menyertai rangkaian mawar merah muda untuknya tadi tentulah merupakan petunjuk yang jelas bagi Yesung untuk menemukannya di teras ini.

"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?" tanya Ryeowook kemudian.

"Apa itu?"

"Aku…ingin bersandar di bahumu. Bolehkah?"

Yesung tertegun. Sesaat di tatapnya Ryeowook tepat di manik mata gadis itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tapi Ryeowook tak mampu menunggu lebih lama. Dia benar-benar goyah sekarang, pertahanannya sudah sampai di ujung jalan dan dia sungguh memerlukan sandaran itu.

Pada detik selanjutnya begitu saja di rebahkannya diri pada bahu Yesung. Lalu di luar kendalinya, bening air matanya menetes jatuh. Begitu saja di lepaskannya beban itu, pelepasan diri dari suatu jerat. Dan bahu Yesung membantunya melakukan itu. Bahu yang hangat dan kokoh. Hati laki-laki itu tersentuh dan tanpa sadar tangannya bergerak ke kepala Ryeowook. Membelai helaian rambut halus gadis itu dengan lembut dan perlahan.

.

.

.

TO BE CONTINUE~

Yuhuuu~ Freaky datang membawa chapter 3 XD Sebelumnya Freaky minta maaf karena chapter yang ini pendek pake banget -_-V Idenya kesedot(?) untuk chapter 4 alias chapter terakhir dari FF ini dan special chapter yang akan datang XD Kok ada special chapter? Anggap itu bonus dari Freaky buat para readers yang udah memberikan review di FF ini XD

Dan Freaky membawa cast baru (cameo lebih tepatnya XD ) yaitu LEE DONG HAE XD Tadinya Freaky kepengen pake Eunhyuk buat di jadiin anak kecil itu cuman setelah Freaky gak sengaja liat foto-foto Donghae yang imutnya hasemeleh banget jadi Freaky pun berubah pikiran XD Emaknya Donghae siapa? Silahkan para readers bayangkan seorang PARK JUNG SOO alias LEETEUK yang cantik itu jadi emak-emak XD Tadinya pengen pake KIM HEE CHUL cuman dia kelewat cantik dan terlalu galak buat sang pangeran ikan dari Mokpo XD

Okelah, Freaky mau jawab dulu pertanyaan-pertanyaan dari para readers semua ^o^

EternalClouds2421: Yesung mulai suka gak sama Ryeowook? Hmmm, silahkan kamu tebak sendiri XD Freaky udah kasih petunjuknya di chapter ini XD Gomawo udah review ^o^

R'Rin4869: Alurnya emang sengaja Freaky bikin lambat dan scene-nya sedikit, biar imajinasi para readers itu bisa ngebayangin kalo diri mereka menjadi seorang Kim Ryeowook XD Gomawo udah suka sama FF ini dan gomawo udah review ^o^

ChoiMerry-Chan: Kapan hubungan gelap SiWook akan terbongkar? Temukan jawabannya di chapter depan XD Gomawo udah review ^o^

Wookwook: Eits, Ryeowook gak Freaky jadikan yeoja perebut suami orang yah disini XD Dia disini hanya terjebak dalam cinta yang semu *ceileh* yang di berikan oleh Siwon XD Gomawo udah review ^o^

Jung hyo ra: Tulisan Freaky gak berubah kok, hanya ingin mencoba sesuatu yang baru dan beda dari FF yang pernah Freaky buat sebelumnya XD Siwon udah ngambil keperawanan Ryeowook belum? Yap! Si kuda mesum itu udah ngambil keperawanan di...bibir Ryeowook umma XD Tapi keperawanan yang satunya lagi hanya bisa di ambil sama Yesung appa *smirk* XD Gomawo udah review ^o^

Kirefa: "Hanamizuki" terpaksa di hapus karena Freaky kehabisan ide T^T Ending FF itu? Berhubung Freaky pecinta official couple di SJ jadi kamu pasti udah tau endingnya kayak gimana *wink* XD Nanti klimaksnya Kibum bakalan tau perselingkuhan suaminya? Hmmm, Freaky gak bisa jawab sekarang XD Naik rate? Tidak, Freaky kapok bikin yang aneh-aneh XD Gomawo udah review ^o^

TokTok: Kerjaannya Yesung appa? Yah setara kayak Siwon cuman kurang sukses aja sih XD Gomawo udah review ^o^

Hmmm, banyak yang nanya kira-kira FF ini akan berakhir dengan SiWook apa YeWook XD Dan Freaky hanya bisa menjawabnya dengan satu kalimat...

R-A-H-A-S-I-A XD

Sebelumnya Freaky mau minta maaf karena banyak yang minta SiBum moment-nya di tambah tapi Freaky malah menambah YeWook serta SiWook moment dan berhubung stok idenya lagi habis jadi...yah gitu deh XD Oh iya, ada yang pengen berteman sama Freaky Virus? Follow Twitter Freaky di cloudee3424 ^o^ Freaky ganti akun dan username soalnya XD (Cek bio Freaky untuk lebih lanjut XD ) I wanna say...

BIG THANKS TO :

Meyy, meidi96, Guest 4, Reeeee, Nasumichan Uharu, cartwightelfsuju . shawolshinee, EternalClouds2421, purpleaddict, Veeclouds, FikaClouds, ryeofha2125, 2kim, R'Rin4869, najika bunny, ChoiMerry-Chan, wookwook, Hyeojin08, dyahYWS, ryeosomnia, jung hyo ra, Kirefa, TokTok, Yulia CloudSomnia

Mau tahu ending FF ini kayak gimana? XD Jangan lupa untuk...

REVIEW JUSEYO~ ^^

-FREAKY VIRUS-