"Baekhyunnie ~"
Baekhyun berbalik ketika sahabatnya itu memanggil, "Eoh?"
Junmyeon terkikik sembari terus merekam aktivitasnya dan Baekhyun siang itu dan mengunggahnya di instagram story.
"Lihat calon pengantin ini, saking senangnya sampai memborong banyak barang dalam waktu satu jam saja." kata Junmyeon.
"Hentikan bualanmu, Myeon. Setengah dari barang-barang ini adalah kau yang memaksanya untuk membeli." Baekhyun kemudian berusaha menutup lubang kamera iPhone Junmyeon dengan tangannya.
Selanjutnya Junmyeon hanya tertawa puas, setelah instagram storynya selesai diperbarui.
"Dasar maniak sosial media." Baekhyun mendengus.
"Tidak semaniak calon suamimu, tuan muda."
Junmyeon memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku celana, dan kembali menggandeng sahabatnya.
"Sepertinya aku butuh kopi."
"Sejak kapan kau suka kopi?"
Junmyeon menyipit, memandang aneh Baekhyun, "Semua aktor butuh kopi, Baekhyunnie."
"Oh, aku lupa kau sekarang adalah seorang aktor."
"Kau akan merasakannya sebentar lagi."
Baekhyun terseret tanpa perlawanan, dan tiba-tiba saja ia sudah duduk di depan Junmyeon, lengkap dengan satu cangkir machiato dan satu cangkir cokelat hangat.
Di saat Jumyeon menyibukkan diri dengan ponselnya—Baekhyun yakin kalau teman baiknya itu pasti sedang menyunting sesuatu, untuk memenuhi feeds instagramnya—Baekhyun, malah memenuhi pikirannya sendiri.
Bae Joohyun.
Celotehan Yerim tempo hari cukup membuatnya penasaran, namun ia tak sampai seberani itu untuk bertanya pada Chanyeol. Lagipula Baekhyun yakin, tunangannya itu akan berkilah jika itu adalah bukan sesuatu hal yang penting, atau bisa jadi Chanyeol juga akan mengalihkan pembicaraan mereka.
Tergelitik, Baekhyun akhirnya membuka suara.
"Myeon, kau tahu Bae Joohyun?"
Pandangan Junmyeon segera teralih.
"Oh, bebal Joohyun, maksudmu?"
Baekhyun menjawabnya dengan pandangan penuh tanya.
"Ada dua Joohyun yang kukenal, yang satu adalah Seo Joohyun, yang juga teman baik Chanyeol. Seo Joohyun, aktris dan model yang terkenal pintar itu, dan saat ini menjadi duta perdamaian di Korea Utara."
"Oh." Baekhyun mengangguk, ingat dengan wanita tinggi semampai dengan rambut sebahu berwarna cokelat tua itu. "Lalu Bae Joohyun?"
"Dia kebalikan dari Joohyunnie. Meski cantik, tapi hatinya bagai iblis, dan juga otaknya bagai tempurung katak tak berisi." Junmyeon menyesapkan machiatonya sejenak. "Kenapa tiba-tiba menanyakan Bae Joohyun?"
"Hanya bertanya."
Baekhyun berusaha mengalihkan pikirannya dengan mengaduk-aduk cokelat hangatnya.
"Eyh, kau tidak pandai berbohong, kau tau, Baekhyunnie?"
Baekhyun ragu untuk menceritakannya pada Junmyeon. Ia tak ingin dianggap terlalu cemburu, atau semacam itu.
"Ada hubungannya dengan Chanyeol?"
"Tidak."
"Ckk.." Junmyeon menggeleng dan dibalas oleh Baekhyun yang meringis. "Bebal Joohyun itu memang menyukai Chanyeol."
"Eoh."
"Eish, hentikan cemburu butamu itu." Junmyeon menyundul dahi Baekhyun dengan telunjuknya. "Bebal Joohyun memang tidak punya malu, terus menguntit Chanyeol kemanapun dan kapanpun dia bisa, terus memberikan hadiah-hadiah tidak berguna, dan bahkan menyiptakan rumor sendiri tentang dirinya dan Chanyeol. Tapi yang terpenting adalah Chanyeol, hanya mencintaimu."
Sulit untuk Baekhyun menyembunyikan senyumannya.
"Baekhyunnie, aku sudah hampir empat tahun mengenal Chanyeol, dan tak pernah sekalipun aku mendapati Chanyeol tertarik, ataupun menjalin hubungan dengan wanita maupun pria. Setelah semuanya terbongkar, baru kusadari kalau Chanyeol menjaga cintanya untukmu. Baekhyunnie, kau sudah seberuntung itu, jadi tolong hentikan pikiran bodohmu itu."
Baekhyun menunduk, terdiam sejenak sembari mencari perkataan yang tepat untuk membalas sahabatnya.
"Pernikahan kalian hanya tinggal menghitung hari. Ketimbang harus memenuhi kepala kecilmu itu dengan hal yang membuatmu sakit kepala, lebih baik kau memikirkan hari pernikahanmu."
"Aku hanya tak ingin Chanyeol menyesal telah memilihku." Baekhyun angkat bicara.
Muka Junmyeon mengusut. Ia lalu sadar, pasti Baekhyun membaca semua kolom komentar yang ditinggalkan oleh netizen di segala portal berita perihal pernikahan kedua insan itu.
"Kalau boleh kusarankan, berhenti membaca berita tentangmu, dan Chanyeol. Itu hanya meracunimu, Baekhyunnie."
"Tapi yang mereka katakan benar, Myeon."
"Sebagian besar dari mereka hanya meracau karena tidak berhasil mendapatkan pria mapan seperti Park Chanyeol."
Baekhyun terpaksa mengangguk, tak ingin berdebat lebih dalam lagi dengan Junmyeon.
"Sudah jam tiga." ucap Junmyeon tiba-tiba, setelah memeriksa jam tangan mahalnya. "Aku harus bertemu dengan WO yang mengurusi pernikahanku, dan Yifan pasti akan memarahiku kalau aku terlambat." Junmyeon menandaskan machiatonya sebelum membantu Baekhyun menenteng belanjaannya.
"Aku bisa pulang sendiri, Myeon."
"Yakin?"
"Ya."
"Baiklah, aku akan mengantarmu menyengat taksi di depan."
Kedua lelaki dengan tubuh tidak terlalu tinggi itu kembali berjalan berdampingan. Junmyeon membantu Baekhyun memilih taksi eksekutif terbaik, dan memastikan sang supir mengetahui tujuannya.
"Salam untuk Yifan. Semoga semuanya lancar."
"Trims, Baekhyunnie." balas Junmyeon yang segera menutup pintu taksinya.
WO. Junmyeon dan Yifan sibuk menyiapkan pernikahan mereka bersama-sama. Melakukannya dengan berdiskusi berdua. Tapi mengapa Baekhyun merasa, ia tak pernah dilibatkan sedikitpun pada persiapan pernikahannya dengan Chanyeol?
Apa benar yang mereka katakan, Chanyeol hanya menganggap pernikahan ini lelucon?
.
Hello Again
.
"Sayang?"
Baekhyun baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah saat Chanyeol memanggilnya.
"Ya, Yeola?" jawabnya sembari berjalan menghampiri Chanyeol yang rupanya sibuk dengan puluhan kertas di meja kerjanya.
Chanyeol tidak begitu suka dengan penampilan Baekhyun. Rambut basah itu, bisa saja membuat tunangannya terkena flu kalau tidak segera dikeringkan.
"Mana handukmu?" tanya Chanyeol. Ia bahkan sampai lupa dengan tujuan ia memanggil sang pujaan hati.
"Handuk?"
Chanyeol berdecak, dan dengan gerakan cepat ia mendudukkan Baekhyun, kemudian menghilang mencari handuk kecil untuk mengeringkan rambut si manis itu.
"Aku tak ingin mempelaiku jatuh sakit." kata Chanyeol, menjelaskan saat ia kembali dengan handuk hijau pucat di tangannya.
"Yeola, rambutku hanya basah."
"Dan itu akan membuatmu kedinginan kalau tidak segera dikeringkan."
Chanyeol dengan perlahan mengusapkan rambut Baekhyun dengan handuk di tangannya, berharap agar cepat mengering. Sedangkan Baekhyun sendiri terdiam, sembari mengamati beberapa kertas yang ada di depannya.
Baekhyun bukanlah orang bodoh yang tidak tahu kertas-kertas apa itu.
"Aku suka dengan yang ini." Baekhyun mengangkat foto buket bunga berwarna peach tosca yang ia pikir senada dengan busana yang akan ia kenakan di hari pemberkatan.
Mendengar itu, Chanyeol menghentikan usapannya.
"Eoh. Aku juga merasa itu lebih cocok untuk jasmu nanti."
Baekhyun kembali mengamati kertas lain, sedangkan Chanyeol melanjutkan pekerjaannya untuk mengeringkan rambut calon suaminya.
"Begitu banyak pilihan, tapi kenapa tak satupun yang kau diskusikan denganku?" Baekhyun membolak-balikkan pilihan dekorasi, hingga kue pernikahan di hadapannya. "Yeola, apa undangannya juga sudah kau sebarkan tanpa meminta pendapatku seperti apa?" bibirnya mengerucut kecewa.
"Maaf."
Penyesalan itu selalu datang di akhir. Seharusnya sedari awal, Chanyeol tidak berbuat sesuka hati, memesan undangan dengan serampangan, meminta Kibum menyiapkan jas pernikahannya, bahkan mereservasi aula pemberkatannya. Kalau dipikir-pikir, Baekhyun juga berhak tahu, seperti apa pernikahan mereka akan diselanggarakan nanti.
"Bagaimana kalau aku tidak memaafkanmu?"
Bagaikan petir di siang hari, Chanyeol ketakutan. Hingga ia membayangkan bagaimana bila Baekhyun mendadak kabur di hari pernikahan mereka? Bagaimana kalau Baekhyun menyesali keputusannya.
"Sayang."
Chanyeol membuang handuknya, dan beralih menarik Baekhyun ke pelukannya. Netranya saling bertemu. Ia tahu, Baekhyun menyembunyikan rasa kecewa dan amarahnya di balik mata cokelat yang menenangkan itu.
"Bohong kalau aku bilang aku tak kecewa denganmu, Yeola." Baekhyun merajuk, memainkan kerah piyama Chanyeol yang berwarna biru dongker. "Tapi, seharusnya aku sadar, akupun sudah mengecewakanmu, bertahun-tahun lalu. Mungkin rasa kecewaku ini tak seberapa, ketimbang rasa sakitmu dahulu.
"Sayang, aku benci dengan pikiranmu yang seperti itu. Maafkan aku, aku tak akan mengulanginya." tangannya semakin rapat mendekap pinggang mungil Baekhyun. "Baik kau, maupun aku, berhak untuk bahagia. Bukankah kau sendiri yang bilang kau ingin terus bahagia? Denganku?"
Baekhyun tersadar. Ia sendiri seperti tersihir. Dan mungkin Junmyeon benar, semua komentar netizen itu meracuni benaknya. Seharusnya ia mengisi hari-hari terakhirnya melajang itu dengan senyuman, dengan kebahagiaan.
Bersama Chanyeol, itulah yang ia impikan selama ini, kan?
Karena itu, Baekhyun membungkam Chanyeol dengan pelukan di leher si jangkung. Erat. Seolah-olah ia akan hilang bisa dilepaskan.
"Maafkan aku. Kelak, aku tak akan meracuni pikiran dan hatiku sendiri."
Chanyeol tidak mengerti, tapi iya kembali tenang saat Baekhyun memaafkannya.
.
Hello Again
.
"Tumben kau kemari?" tanya Yifan yang menyiapkan sebotol bir untuk teman baiknya.
Hari bahkan belum malam, namun Chanyeol, dan juga Yifan, merasa ini adalah waktu yang tepat untuk sekedar menikmati alkohol.
"Baekhyun yang akan menyelesaikan tugasku mengurus dekorasi siang ini."
"Oh, benar." Yifan menyerahkan botol berwarna hijau gelap itu pada Chanyeol. "Myeon yang menemaninya hari ini."
"Ya."
Chanyeol menyentuh botol itu dan meminum isinya barang tiga teguk.
"Aku merasa Baekhyun tak bahagia."
Yifan memutuskan untuk mendengarkan curahan Chanyeol terlebih dahulu, sebelum menanggapinya.
"Mungkin salahku, yang terburu-buru mengajaknya menikah. Mungkin sebaiknya kita memulainya dengan perlahan. Luka hatinya mungkin belum sembuh benar, ditambah dengan perkataan terakhirku sebelum perpisahan kami, beberapa tahun lalu."
Chanyeol kembali menjeda.
"Awalnya ia berkata ia bahagia, dan ia akan terus bahagia selama ada aku di sisinya. Tapi, aku merasa itu ia lakukan hanya untuk menenangkanku. Pada akhirnya, rasa bersalah ini muncul lagi."
"Chanyeol, kuberitahu sesuatu."
Chanyeol menatap Yifan, menunggunya berucap.
"Seseorang telat memenuhi komentar menyakitkan di seluruh berita mengenai Baekhyun. Beberapa diantara membanding-bandingkan Baekhyun dengan Myeon, juga Baekhyun dengan Bae Joohyun. Mungkin jika masalah Myeon, semuanya terhapus karena tunanganku itu, seringkali membagi kebersamaan mereka di sosial media. Tapi mengenai Bae Joohyun.."
Tangan Chanyeol terkepal, menahan dirinya untuk tidak segera pergi mencari wanita itu dan menghajarnya hingga babak belur.
"Kau tahu betapa Joohyun terobsesinya denganmu."
"Komentar itu.."
"Myeon menduga, Joohyun yang melakukannya, seperti yang sudah-sudah."
Kepala Chanyeol menguap, dan ia segara meredamkannya dengan berteguk-teguk bir hingga botol itu kosong.
"Aku tak ingin mengatakan ini, tapi aku kuatir Joohyun akan menemui Baekhyun."
"Yifan, tolong jangan menakutiku."
"Maaf, mungkin itu hanya bualan atas kekhawatiranku." Yifan menepuk pundak Chanyeol. "Tenang saja, Myeon akan selalu di samping Baekhyun. Dengan begitu, Joohyun tak akan bertindak gegabah kepada Baekhyunmu."
.
Hello Again
.
Di sisi lain, Baekhyun, Junmyeon, beserta Kibum sedang menikmati masa istirahat mereka setelah berkutat dengan persiapan dekorasi pernikahan Baekhyun. Kibum sengaja membawa mereka ke tea salon favoritnya, dimana mereka sepakat memilih Earl Grey dan sepaket kudapan sebagai teman bersantai.
"Aku selalu mengira, Chanyeol adalah orang terakhir yang akan melepas masa lajangnya." Kibum memulai berbicara setelah menyesap Earl Grey tanpa gulanya.
"Yifan juga berkata hal yang sama." lanjut Junmyeon yang mengoleskan sconenya dengan selai raspberry. "Suatu keajaiban kalau ternyata Chanyeol menemukan tambatan hatinya yang rupanya sahabatku sedari lama."
Baekhyun tersipu sembari mengaduk tehnya dengan krim.
"Eyh, Baekhyun, cobalah kau berbagi tips bagaimana caramu menjerat Chanyeol hingga berapa tahun." goda Kibum yang langsung mendapatkan jitakan dari sepupu iparnya.
"Dasar bodoh, untuk apa kau menanyakan hal itu kalau Jonghyun hyung sendiri seperti diguna-guna olehmu."
"Oh, sebenarnya Jonghyun tidak secinta itu kepadaku."
"Yah, dan Jonghyun hyung juga tidak pernah menciptakan lagu romansa untukmu."
"Oh ayolah, Myeon. Lagu-lagu itu hanya bualan yang membuatku ingin muntah."
"Tapi kau menyukainya." Junmyeon menyuapkan sconenya. "Ibaratkan kau yang terlalu menyukai cheesecake. Meski perutmu sudah terisi penuh hingga mual, kau pasti akan memakannya."
Baekhyun tertawa mendengar perselisihan kedua saudara itu.
"Tolong ingatkan aku untuk merobek jas pernikahanmu nanti malam, Myeon."
"Tolong ingatkan aku untuk mengirimi banyak film porno untuk suamimu malam ini, Bummie."
"Ya!" Kibum melemparkan buntalan tissue ke muka Junmyeon dengan muka merah.
"Dan aku tak sabar melihatmu berjalan terseok-seok keesokan harinya."
"Myeon, aku curiga kau memiliki dendam kesumat padaku."
Junmyeon mengendik, "Mungkin."
"Kau—"
Belum selesai Kibum berkelakar, suara denting hak tinggi perempuan itu menghentikannya.
"Oh, halo kalian."
Suara nyaring itu terdengar, dan Baekhyun segera menamatkan pandangannya pada sosok perempuan itu.
"Seingatku, aku tidak mengundang seorang wanitapun di klub gay milikku." Kibum berkata dengan nada arogan, dengan ia yang berdiri perlahan.
"Kim Kibum, lama tak berjumpa denganmu. Rupanya masih sibuk dengan klub homo-mu, eoh?" sang wanita dengan angkuhnya berjalan, memutari meja milih ketiga lelaki itu. Bibirnya yang dipoles merah mengutas senyuman mengejek, dan dengan sengaja pula ia mengarahkan pandangan hina, terutama bagi Baekhyun.
Baekhyun tidak paham mengapa wanita yang begitu kurang ajar mendatangi mejanya itu mengarahkan tatapan membunuh kepadanya. Seingatnya, ia tak pernah sekalipun mengenal seorang wanita sosialita sebelumnya.
"Oh aku lupa, Kim Junmyeon, juga seorang homoseksual, bukan? Beruntung Wu Yifan yang tampan itu mau denganmu. Mungkin juga karena popularitasmu yang lumayan itu."
Junmyeon ikut berdiri, dan menghadapi wanita itu dengan tatapan tak kalah sadis.
"Apa maumu, Bae. Joo. Hyun.?"
Nama itu.
Nama yang begitu ingin diketahui Baekhyun.
Namun Baekhyun menyesal, seharusnya ia tak perlu sepenasaran itu.
"Tidak ada." Joohyun lalu berjalan mendekati Baekhyun yang terdiam bagaikan mumi. "Hanya kebetulan saja aku lewat, dan melihat gerombolan kalian di sini. Dan rupanya, ada anggota baru di klub homoseksual ini, eh?"
"Kau seharusnya sadar, kau tak diterima di meja ini, Joohyun." tangkis Kibum.
Joohyun tertawa kecil, "Baiklah baiklah, tak perlu seposesif itu, Kim Kibum. Aku tak akan menyakiti anggota barumu ini, si Byun Baekhyun yang begitu termasyur di semenanjung Korea pada beberapa hari ini."
"Joohyun, sebaiknya kau pergi sebelum aku meminta pelayan mengusirmu dari sini." ancam Junmyeon yang hanya ditertawai Joohyun.
"Kim Junmyeon dan segala ancamannya." Joohyun mendengus. "Kalau begitu sampai jumpa. Dan siapa tahu, kita akan kembali bertatap muka, Byun Baekhyun."
Sekujur tubuh Baekhyun mendingin.
Ia sungguh tak ingin mendapatkan rival yang sekuat itu.
TBC
