LAST LOVE TO DEATH

Chapter - 4

By Just KimZie

Annyeong…

Chingudeul, mianhae ni FF lama banget updatenya, entahlah FF ini benar-benar terlalu berat buat saya Hiks Hiks, tapi berhubung cinta saya yang terlalu besar untuk YunJae, Here they are….

Sankyu yang udah nyempetin Coment

Title : LAST LOVE TO DEATH/ Accuracy Of Death Ver YunJae

Pair : Yunjae, Sibum, Slight Yoosu, Shim Changmin and OC

Rating : Entahlah…kira-kira ada yang tau

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Warning : Thypos, OOC, jangan berharap sesuai dengan alur film aslinya, Shou-ai, Character Death and etc,

SEOUL 02 JANUARI 2011

02.00 PM

Kedua mahluk asing itu menatap kearah jendela sebuah apartemen yang mulai gelap, Yunho menghela nafasnya dan memalingkan wajahnya, sudah cukup untuk hari ini'batinnya, sang anjing menggoyangkan kedua telinganya, "Sangat manis" ledek Yunho.

"Hahahhaha..senang bertemu kawan lama rupanya" balas si anjing, Yunho merapatkan blazer hitamnya dan menjuntai, beberapa pedagang mulai menutup warungnya, perlahan ia membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi apartemen itu.

"Ada apa dengan Miharu?" Tanya sang anjing, keduanya memang bisa melihat kedalam daya imajiner sang calon kematian, Yunho menghela nafasnya dan berbisik lirih "dia menemuiku…..".

Flashback

05 Desember 2001

Yunho merapihkan seragamnya dan keluar membuka pintu, matanya menuju sesuatu yang tergeletak diatas sebuah dipan ia tersenyum kecut, hampir saja ia lupa kalau Jaejoong berada disini, perlahan ia mendekati laki-laki yang rupanya tertidur sangat lelap itu, ia berjongkok, mata bulat itu tertutup dengan sempurna, bibir merah itu pun berhenti mengeluarkan kata-kata kasar, lihatlah jung Yunho! Bukankah dia mahluk paling indah yang pernah kau lihat, tuhan benar-benar mengerahkan seluruh arsitek penciptaannya yang paling mahir untuk memahat mahluk indah seperti ini, perlahan tangan Yunho menyibak rambut halus yang menggerai diwajah Jaejoong.

"Ughh.." perlahan Yunho menghentikan gerakannya, khawatir gerakan lambatnya itu mengusik ketenangan tidur Jaejoong, ada desir aneh dalam hati dan dari bawah perutnya, desir cinta yang menggejolak, Ayolah Yunho'kalaupun kau melakukan sesuatu dia tidak akan tahu, tidak ada siapapun disini, dan satu hal yang pasti kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya, jantung Yunho tiba-tiba berdetak sepuluh kali dari kecepatan biasanya, ia semakin merapatkan tubuhnya, tangannya tidak berhenti menyentuh rambut-rambut depan Jaejoong, persetan dengan norma, persetan dengan kenormalan, dan satu hal lagi persetan dengan nalar, hey jangan pernah menggunakan nalar saat kau sedang jatuh cinta.

Yunho perlahan mendekatkan wajahnya, merasakan hembusan nafas Jaejoong yang begitu menggetarkan jiwanya, cukupkah? Tidak, gejolak jiwanya meminta hal yang lebih dari ini, dengan jantung berdebar keras ia memberanikan diri menempelkan bibirnya ke dahi putih yang laksana sutera lembut dikulit bibirnya, sang otak memakinya'hentikan bodoh, hentikan perbuatanmu itu sebelum kau tidak bia membendung hasrat lain yang siap datang melandamu, tapi hatinya tidak perduli, aliran nafsu cinta memenuhinya saat ini, mengecup dahi saja tidak membuat dahaganya terpuaskan, dengan penuh cinta ia kembali mendekatkan dirinya, dan lihatlah tuhan, apa yang akan ku lakukan'batinnya bersorak, kemenangan memenuhinya, sementara sang otak yang tadi berapi-api kini hanya bisa terdiam menghela nafasnya, pasrah mungkin, dan CHUUUU~~~ Yunho terus saja menempelkan bibirnya, ukuran bibirnya memang lebih besar daripada bibir Jaejoong yang mencebil, matanya terpejam menikmati sensasi aneh yang menyeruak tiba-tiba, perlahan gerakan tangannnya berubah menjadi sentuhan-sentuhan lembut.

Tahukah kau? Seberapa tipis jarak antara nafsu dan cinta, tidak ada yang pernah mengukurnya, karena selalu ada nafsu dalam setiap cinta, dan sebaliknya selalu ada cinta terserpih dalam setiap nafsu sekalipun tidak pernah kau sadari, sang pecinta akan selalu dipenuhi oleh nafsu terhadap obyek cintanya,,jadi jangan pernah menyelahkan nafsu saat cinta membutakanmu…..

Jaejoong bersorak kegirangan dalam hati, akhirnya kau mengakuinya juga jung Yunho!, ia berusaha menahan posisinya agar Yunho tidak mengetahui kalau ia telah terjaga saat Yunho mengecup dahinya, Jaejoong merasakan jantungnya ikut berdebar, bagaimanapun penantiannya setahun terbayar sudah, entahlah rasa sakit dan merana yang ia rasakan lenyap seketika, mungkin inilah indahnya saat kau mengetahui rasa cintamu berbalas, dalam hati Jaejoong menunggu apa yang akan Yunho lakukan selanjutnya, dengan penuh rasa ngilu karena menahan posisi yang sama selama hampir 1 menit tidak ia hiraukan.

Yunho mengangkat bibirnya dan menatap wajah Jaejoong yang masih saja terlelap 'dasar putri tidur'gumamnya, perlahan ia menarik tubuhnya kedapur dan kembali dengan susu dan bubur dinampan, ia tidak mungkin membangunkan Jaejoong, biarlah ia beristirahat disini, toh keluarganya juga tidak pernah perduli apakah Jaejoong pulang kerumah atau tidak, dengan langkah hati-hati ia menaruh nampan itu disebelah dipan dan menyelimuti Jaejoong, setelah puas menatap wajah itu Yunho beranjak menuju pintu dan menutupnya sepelan mungkin, tanpa ia sadari wajah Jaejoong yang tersenyum saat ia membalikan tubuhnya menuju pintu. "One sweet day…" gumamnya seraya menarik selimut lebih panjang untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Yunho memegangi bibirnya sendiri, rasanya bibir Jaejoong masih menempel erat disini'batinnya, perlahan ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri, Yunho tidak tahu akan bersikap apa pada Jaejoong saat ia pulang nanti, bisa saja anak itu sudah pulang, tapi biarlah setidaknya mulai saat ini aku akan berusaha untuk lebih jujur terhadap perasaanku sendiri. Langkahnya terasa ringan saat ini, senyum benar-benar menjadi penghias bibirnya saat ini, aura cerah menyelimutinya, Yunho tidak menyadari tatapan kebencian yang diarahkan kepadanya, tatapan seorang gadis yang rupanya telah menjadi saksi bisu perbuatan Yunho barusan, tatapan kebencian seseorang yang merasa tersakiti, merasa terkhianati dan merasa terabaikan, diatas cinta keduanya, tatapan itu menghujam punggung Yunho seakan rasa bencinya mampu menusukkan berjuta jarum kesinisan kesana, perlahan ia mengusap matanya yang tiba-tiba basah dan bergumam lirih "Aku benci padamu..Jung..Yunho".

End of flash back

"Jadi, kau menyukainya"

Yunho menghembuskan nafas getir, ia memang menyukai Jaejoong, mencintainya malah, tapi semua itu terlambat, ia rupanya terlalu bebal mengartikan perasaannya sendiri terhadap Jaejoong yang ia kira selama ini hanya rasa sayang seorang sahabat terhadap sahabatnya sendiri, entah apa yang menghalangi semua ini, satu hal yang Yunho yakini pada awalnya, dari awal ia bertemu dengan anak laki-laki itu ia sudah merasa tertarik, melihatnya membuatnya selalu ingin berada disebelahnya, matanya selalu ingin melihatnya, selalu ingin tahu segala sesuatu mengenai seorang bocah laki-laki yang bernama Kim Jaejoong.

"Ya.." ucapnya pendek, sang anjing mengerti dan menggoyangkan kembali kedua telinganya, "Lalu bagaimana nasib gadis malang itu"

"Terluka,,Miharu sangat terluka, aku tahu itu, dibalik sikap dinginnya aku sangat mengerti dia yang paling kecewa…"

Flashback

05 Desember 2001

Yunho bergegas berjalan keruang guru, songsaenim menyuruhnya membawa buku tugas sebagai pengganti ketidakhadirannya dikelas, sebagai ketua kelas ia memang selalu diandalkan oleh semua guru, dengan penuh kepayahan Yunho mengangkat setumpuk buku dan berjalan perlahan keluar dari ruang guru..

BRAKKKKK

Miharu menatapnya dengan tatapan dingin, Yunho mengernyit dan segera merapihkan buku yang berserakan dilantai, dengan cepat Miharu membantunya dan menundukkan kepalanya, "Mian".

"Gwencana.." balas Yunho, ia tidak tega memarahi gadis ini sekalipun ia sudah membuatnya susah payah, tidak sopan rasanya memarahi seorang gadis, tanpa sepatah katapun Miharu melewatinya dan berjalan tergesa menuju kelas, Yunho menggelengkan kepalanya tidak heran anak itu benar-benar sulit ditebak.

TENG TENG TENG

Yunho menghela nafasnya lega, akhirnya selesai juga hari ini'batinnya lelah, dari awal hanya raganya saja yang ada disekolah, seluruh pikirannya masih tertinggal dirumahnya, ah apa bocah brengsek itu masih tidur, atau ia sudah kabur? Tanpa sadar batinnya menebak-nebak pertanyaan yang semu, tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya dari bel berbunyi, sadar sudah tidak ada orang dikelas, Yunho segera berdiri dan merapihkan seragamnya, ia menoleh dan menatap Miharu dengan senyum kecil, "Kau belum pulang?" tanyanya ramah.

Miharu menatapnya dingin tanpa ekspresi, terlihat ada orang lain dalam wajah itu, Yunho mengeraskan sedikit suaranya, karena ia yakin Miharu sedang melamun "Miharu-shiii…."

Sadar akan keadaan, Miharu merubah ekspresi wajahnya dan tersenyum manis, Yunho menghela nafas dan berjalan mendahului Miharu sebelum langkahnya menuju pintu gadis itu berteriak "Yunho-shii,,kalau kau tidak keberatan, ikut aku sebentar"

"Eh"

"Ada yang ingin kutunjukkan padamu"

Yunho menoleh dan menatap Miharu yang rupanya sudah berjalan mendekatinya, merasa heran tanpa merasa curiga sedikitpun Yunho berjalan dibelakang Miharu.

"Ayo masuk" tawar Miharu.

Yunho menatap audi hitam dihadapannya, pandangannya kembali pada Miharu, rasa risih menyeruak kedalam dadanya, berbagai pertanyaanpun keluar dari benaknya, Miharu menatap Yunho tidak sabaran.

"Jebal,,Jung Yunho, aku janji tidak akan lama..." pintanya, Yunhopun dengan canggung ikut masuk dan duduk dengan gugup disebelah Miharu, jangan salahkan dirinya yang terlahir di keluarga tidak mampu, bahkan untuk menaiki sebuah mobil mewah seperti ini tidak berani ia bayangkan, seumur-umur ia hanya bisa naik bis, Miharu melirik kearah Yunho dan menatapnya sinis, dalam hati ia memaki laki-laki tampan disebelahnya, seandainya ia tidak mempunyai hubungan yang terlalu dekat dengan kim Jaejoong Miharu yakin ia bisa sedikit lebih menyukai Yunho. Mobil berjalan tanpa suara, baik Yunho dan Miharu tampaknya tidak mau berbasa basi mengobrol atau mengakrabkan diri lebih jauh, setelah melewati beberapa blok mereka sampai disebuah kawasan industry terbesar di Chungnam, setelah berputar-putar mobil itu berhenti didepan sebuah bangunan tinggi dengan papan nama yang bertenggger dengan angkuh bak prasasti yang berkilau diterpa cahaya matahari, Yunho menyipitkan matanya, mencoba melihat lebih detail

KIM FAMILY HOSPITAL

Mobil audi itu berhenti tepat didepan papan nama itu, Yunho terkagum-kagum melihat sebuah rumah sakit besar dengan para perawat dan dokter yang berlalu lalang dengan pakaian kerjanya.

"KIM FAMILY HOSPITAL,,adalah cabang industry dari keluarga Kim Young Woon, penyokong sekaligus pemilik yayasan KIM, dengan putri yang berjumlah 5 orang dan putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal seluruh perusahaan Kim, yang aku yakin kau mengenal siapa dia kan…."

"Jadi apa maksudmu" potong Yunho, Miharu tersenyum kecut "Baiklah, kurasa kau cukup pintar Jung Yunho, aku suka sikap terus terang dan cepat tanggapmu itu, jelas sudah siapa Kim Jaejoong, dia bukan anak laki-laki biasa" tandasnya, Yunho terdiam seraya kembali menatap kearah rumah sakit itu, entah kenapa ada rasa perih dihatinya, Miharu kembali melanjutkan ucapannya

"Jauhi dia Jung Yunho, Jaejoong mempunyai masa depan dan tanggung jawab yang besar karena dialah satu-satunya anak laki-laki dikeluarga Kim,,,".

Yunho menatap Miharu dengan pandangan sedikit tersinggung, "Jadi kau mengajakku hanya untuk membicarakan itu, sayang sekali Miharu-shii, aku bukan tipe anak yang suka memanfaatkan kekayaan sahabatnya sendiri"

Miharu tergelak tibat-tiba, "Sahabat? Kau pikir aku bodoh hah, aku tahu matamu tidak menatapnya sebagai sahabat tapi lebih pada seorang kekasih, jangan munafik Yunho-shii aku tahu kau menyukainya, kau pikir apa hubungan kalian akan lancar, rasa cintamu hanya akan membuat hidup Jaejoong menderita!"

Yunho merasakan panas pada jantungnya, amarahnya seakan siap meledak kapanpun dengan tangan mengepal ia menatap Miharu yang terlihat jijik dihadapannya "Miharu-shii,,,aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, tapi aku hanya menganggap kim Jaejoong sebagai seorang teman, tidak lebih!" sentaknya, dengan marah ia membuka pintu dan berjalan menjauhi mobil dan rumah sakit itu, Miharu tersenyum dalam mobil perlahan ia menggumam "Baiklah Jung Yunho, kita lihat seberapa jauh kau akan bertahan" dan KLIK dengan senyum kemenangan ia menekan ponselnya, setelah menunggu beberapa saat tangan mungilnya memutar kembali ucapan Yunho barusan

"Miharu-shii,,,aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, tapi aku hanya menganggap kim Jaejoong sebagai seorang teman, tidak lebih!"

"Hahahaha, siapa yang pintar disini hemmm" ucap Miharu lebih kepada dirinya sendiri, perlahan ia melirik kearah kaca spion, punggung Yunho terlihat mengecil, senyum sinis terulas dibibirnya "Jalan" perintahnya, tanpa diperintah yang kedua kali mobil mewah itu berjalan menjauhi Rumah Sakit mewah itu.

06 Desember 2001

Jaejoong memasuki ruangan kelas dengan hati berdebar, kemarin ia sengaja pulang lebih awal dari rumah Yunho, pertahannya tidak cukup kuat untuk menghadapi laki-laki itu mengingat apa yang sudah Yunho lakukan padanya, walaupun Yunho tidak mengetahui kalau ia terjaga tapi rupanya Jaejoong terlalu pengecut untuk menganggapnya tidak ada apa-apa, senyuman terhenti dibibirnya saat melihat sosok itu menunduk memegangi sebuah buku tebal, perlahan ia memegangi jantungnya yang melompat-lompat ia berhenti sejenak dan memasang wajah datar seperti biasanya, padahal sungguh Jaejoong ingin melompat layaknya seorang kangguru saking girangnya, perlahan ia mendekati laki-laki tampan itu dan duduk dihadapannya memandangnya dengan wajah datar seperti biasa berbanding terbalik dengan jantungnya yang hampir menggelepar.

Yunho yang sadar sedang diperhatikan berusaha lebih serius membaca buku dihadapannya, padahal sungguh ia tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun melihat sederetan rumus-rumus Fisika yang sedang menari-nari diatas lembaran buku, perlahan ia sedikit meninggikan buku itu berusaha menutupi wajah Jaejoong dengan buku tebal itu, berhasil? Sepertinya tidak, Yunho memaki Jaejoong dalam hati, kenapa mahluk menyebalkan ini selalu saja bisa memporakporandakan pertahannya, 'fokus Yunho, jangan biarkan setan itu menguasaimu lagi'perintah batinnya, tapi otaknya malah memutar kembali adegan yang terjadi dirumahnya kemarin, bagaimana saat bibirnya menyentuh dahi mulus itu, dan jangan pernah lupakan lembutnya bibir cherry Jaejoong yang sumpah lebih lembut dari marshmallow yang sering ia makan sewaktu masih bocah dulu, aishhh'

BRAKK

Yunho akhirnya terpaksa meletakkan buku itu dengan suara yang kasar, Jaejoong menatapnya datar seperti biasa.

"Waeyo?".

Yunho mendecakkan lidahnya dan kembali mengangkat buku itu dan berusaha membacanya lebih serius, Jaejoong berusaha menyembunyikan senyum gelinya, ia tahu Yunho salah tingkah karenanya, 'rasakan kau'batinnya geli. Perlahan ia berdiri dan mendekatkan kepalanya kearah Yunho

"Gomawo…" bisiknya tepat 5 centi dari telinga Yunho, Yunho tergidik pelan ia merasakan desiran halus mengalir keurat nadinya, perlahan ia membuka kacamatanya dan melirik kearah Jaejoong yang sudah melangkah menuju kursinya, desiran halusnya terhenti saat matanya bertemu dengan mata Miharu yang menatapnya penuh kebencian, Yunho seakan bisa membaca mata Miharu yang kelam.

End of flashback

SEOUL 02 JANUARI 2011

08.00 PM

"Jae…".

"…..".

"Jae-ahh…".

"…..".

"Yah, Kim Jaejoong, ppalli!".

"…..".

Siwon menatapnya malas, sudah kesekian kalinya Jaejoong seperti ini. Entah apa yang ada dibenak laki-laki ini sebenarnya, hidupnya seakan sudah tidak berguna lagi. Perlahan Siwon mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, polos hanya satu kata yang bisa ia ucapkan, Jaejoong rupanya benar-benar sudah tidak mempunyai tujuan hidup lagi bahkan sekedar untuk memberikan nuansa kehidupan pada tempat tinggalnya sendiripun ia tidak berniat, mata Siwon tertumbuk pada sebuah foto buram disamping blazer Jaejoong, dengan pelan ia menarik blazer itu dan menyimpannya diatas kursi, perlahan ia menghela nafasnya dan kembali memandangi wajah Jaejoong yang masih terlelap, bahkan dalam keadaan tertidur seperti itupun Jaejoong tidak tenang.

'sudah hampir 10 tahun, apakah kau masih juga melupakannya, Boo'

Siwon mengusap matanya yang tiba-tiba panas, ingatannya melayang jauh saat ia berusaha memberikan semangat pada laki-laki cantik ini, yah selain Yunho yang kini sudah tiada, jauh sebelujm Yunho datang Siwonlah yang lebih dahulu bersama Jaejoong, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai partner dalam segala hal, yah Siwonlah orang yang paling tahu sepak terjang Jaejoong diluar rumah, dengan kondisi keluarganya yang merupakan salah satu keluarga terpandang di Chungnam wajar Jaejoong tidak mempunyai banyak teman, hanya Siwonlah yang betah menjadi sahabatnya karena sifat keduanya yang bisa dibilang hampir sama dalam hal bergaul yah keduanya merupakan pewaris dari keluarga Kim dan Choi yang terpandang, siapa yang menyangka dua tuan muda yang berasal dari keluarga berkelas tidak lebih dari para pembuat onar, kemudahan uang dan kekuasaan yang mereka dapatkan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang seenaknya dalam bertindak.

Siwon menarik selimut Jaejoong dan menatapnya kesal, Jaejoong yang rupanya sudah terusik tidurnya hanya menghela nafasnya dan kembali memejamkan matanya

"Mau apa kau kemari?".

"Sinis sekali, apa begini cara menyambut teman hemm".

"Siapa yang menyuruhmu datang, cih dasar merepotkan" gusar Jaejoong dan kembali menarik selimutnya, tapi dengan kuat Siwon menahannya dan melemparkannya kepinggir ranjang dengan cepat ia menarik gorden kamar dan

SREKKKK

"Yahh..Choi Siwon…tutup cepatt! Brengsekk".

PLUKKK

Wajah Jaejoong memerah saat bantal yang dilempar Siwon telak mendarat diwajahnya, Siwon segera menarik kursi dan duduk disebelah Jaejoong.

"Ada apa?".

Siwon tersenyum mengejek dan mengambil foto yang tergeletak disamping meja, Jaejoong terdiam

"Sudah 5 tahun, apa kau sama sekali tidak ingin melihatnya".

"Bukan urusanmu…".

"Ayolah Kim Jaejoong berhenti bersikap seperti bocah, membuatku sebal saja".

"Hebat sekali Host itu, dia benar-benar sudah merubahmu Siwon".

"Berhenti memanggilnya seperti itu, memangnya kau pikir kau ini apa hah?".

Jaejoong terdiam melihat amarah diwajah Siwon, yeah ucapannya keterlaluan memang, tapi siapa suruh dia mengganggu tidurnya sepagi ini, Siwon memalingkan wajahnya sebal. Jaejoong mengangkat tangannya dan beranjak bangun dari kasur.

"Oke,, mian, aku tidak bermaksud menjelekkan Kibum sungguh!".

"…".

"Hm, araso, aku juga Host seperti Kim Kibum, tapi jangan paksa aku menyukainya karena dia sudah mengambil sahabatku titik!" sentak Jaejoong gusar dan segera menuju kamar mandi, Siwon menggelengkan kepalanya, seulas senyum terukir "Dasar bocah" gumamnya. Perlahan ia berdiri dan melempar beberapa foto buram ditangannya, foto yang mungkin sering dilihat oleh pemiliknya tapi terlalu munafik untuk mengakui, Siwon merasakan panas menyembur didadanya saat kembali melihat foto itu, wajah-wajah dalam foto itu membuat ingatannya kembali kemasa-masa kelam Jaejoong.

Yunho memandangi jendela apartemen itu tanpa ekspresi, sang anjing hitam kembali menyalak

"Siapa Siwon?".

"…".

Yunho terdiam tidak menjawab, perlahan ia membalikkan badannya dan menyentuh jantungnya yang terasa panas tiba-tiba, 'kenapa masih terasa sakit seperti ini'gumamnya

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?".

"Tidak ada apa-apa, tugas pertama dimulai".

"Menyebalkan" sungut si anjing.

Yunho terdiam mendengar gerutuan sang anjing, ia sungguh tidak berminat menceritakan hubungan mereka dengan Siwon, tidak untuk kali ini, setidaknya Yunho harus memastikan dulu satu hal yang mengganjal dipikirannya, semoga saja perasaan ini salah'batinnya…

Flashback

31 Desember 2001

Para murid seakan tidak sabar lagi menunggu waktu sekolah usai, yah siapa yang tahan duduk-duduk belajar sementara pikiran seolah melayang kemana-mana.

"Sial, kenapa Lee Sonsaeng harus datang sih".

"Ne, menyebalkan! Padahal pacarku sudah menungguku".

"Biar kusumpahi situa Bangka itu sembelit".

"Hahahaha…setuju".

Yunho hanya mengurut dada mendengar teman-teman sekelasnya menggerutu saat Lee Sonsaeng berjalan menuju kelas, padahal jam terakhir ini memang jadwalnya mengajar, ia tidak merasa heran dengan keadaan seperti ini, lihat saja separuh kelas sudah kosong, beberapa anak mungkin sudah berkeliaran dijalanan, dimall bahkan ditempat-tempat perayaan, yah hari ini adalah tahun baru, Chungnam selalu ramai bila masa tahun baru tiba, perayaan tahun baru disini tidak kalah meriah dengan Seoul, perlahan ia melirik kursi Jaejoong, kosong! Tidak heran bocah brengsek itu pasti sudah berkeliaran entah dimana, Yunho kembali merubah posisi duduknya, Lee Sonsaeng sudah tiba dipintu kelas tapi pikiran Yunho seakan sudah melayang entah kemana, aishh focus Jung Yunho'geramnya.

10 menit

Beberap siswa menguap secara sengaja, bahkan beberapa anak sudah membereskan bukunya padahal sonsaeng tua itu belum selesai mencatat pelajarannya.

25 menit

Beberap anak menelungkupkan kepalanya dimeja, beberapa terlihat pasrah karena memang mereka harus mengikuti pelajaran ini sampai selesai.

35 menit

Lee sonsaeng sudah mulai kembali ketempat duduknya, Yunho dan murid yang lainnya membereskan catatannya hingga…

TENG TENG TENG

"Yunho-shii,,,"

Yunho membalikkan badannya dan menatap Miharu dengan pandangan datar, yah Yunho sudah menyerah untuk bersikap ramah pada gadis ini, Miharu yang sadar sambutan Yunho tidak terlalu baik merasa gugup tiba-tiba.

"Ano…apa kau ada acara nanti malam?" tanyanya gelisah.

"Apa?" jawab Yunho kaget, lebih tepatnya tidak percaya, apa urusan Miharu dia ada acara atau tidak.

"Aishh..tidak perlu sekaget itu Yunho-shii, aku hanya bertanya" gerutu Miharu, Yunho menghela nafasnya bingung, "Tidak ada waeyo?".

Miharu menyeringai senang "Aku mengundangmu untuk datang ke rumahku, keluargaku akan mengadakan acara nanti malam, semua teman dikelas ini kuundang ko,".

Yunho menyipitkan matanya heran, tapi Miharu dengan cepat menyerahkan selembar kartu berwarna coklat ketangannya dengan senyum aneh Miharu menatap Yunho "Aku harap kau bisa datang Jung Yunho" sahutnya seraya berjalan menjauhi Yunho yang terdiam dengan kartu coklat ditangannya.

31 Desember 2001

07.00 PM

Yunho terduduk didepan pelataran rumahnya seraya menimbang undangan bersampul coklat ditangannya, pikirannya masih berkutat antara menghadiri acara orang kaya seperti ini atau memilih tidur dirumah, semenjak ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Yunho tidak pernah merayakan acara tahun baru, paling ia hanya ikut acara makan malam bersama keluarga Park yang selama ini sudah ia anggap sebagai sudara terdekatnya.

PLUKK

"Hyung….hari ini umma memasak bulgogi, cepat ganti bajumu ppalli…".

Yunho tersenyum melihat Yoochun yang bertengger di tembok pembatas antara rumahnya dengan rumah keluarga Park, kembali ia melirik sampul undangan coklat ditangannya dan menggeleng 'ia bukanlah tamu penting dalam acara ini, datang atau tidak bukan sesuatu yang berharga bagi Miharu toh selama ini ia tidak bergitu dekat dengan gadis itu.

"Hyung…!".

"Ne, telingaku masih normal Chunie'aah.." gerutu Yunho gemas, Yoochun sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, usia yang tidak terlalu terpaut jauh membuat mereka dekat secara personal, lagipula Yoochun memang anak tunggal sama seperti Yunho. Yunho menghampiri Yoochun yang menelungkupkan kedua tangannya, ia terkekeh pelan "Ppalli hyung, umma dan appa sudah menunggumu".

"Ah, aku selalu merepotkan kalian seperti ini, memalukan" ucap Yunho tidak enak,

"Aishh,, Hyung bicara apa kau, cepat ganti baju sana, telat sedikit jangan salahkan kau hanya dapat ramyun" selorohnya seraya membalikkan tubuhnya, Yunho tersenyum dalam hati ia masih bersyukur ada orang-orang yang begitu sayang kepadanya seperti mereka.

~TBC~

VOILAA….

TBC again, mungkin saya bakal lama apdet ni FF, soo terus kasih semangat ya dan bagi reader yang merasa FF ni banyak kekurangannya mohon dibantu… dengan masukan-masukan dan petuah-petuahnya bagi yang merasa sudah cukup mohon dibantu do'a supaya saya cepat-cepet dilamar Jaejoong ~plakkk direbus Yunho hhahahahaa

Gomen ne, saya ba bales Reviewnya tapi sumpah, suer,,, say abaca ko review chingu semua,

Special Thanks To

acchan lawliet , zero BIE, Hyukkie Akira, Sasusaku Hikaruno-chan,Zhie Hikaru

Keep RnR ya chingu dan buat yang Silent Review mohon do'anya semoga ide saya ga mampet,, hehehe