Chapter 4 : Devils Beside Her

"Ne, orang-orang menyebut kami jelmaan iblis, nona. Tidak banyak orang yang berani sepertimu. Terutama seorang gadis."

Sakura tersenyum manis lalu berkata, "Kalian hanya jelmaan iblis. Tentu saja aku tak perlu takut. Karena aku.." Sakura terdiam sesaat.

"Sudah melihat iblis yang sesungguhnya," lanjutnya dengan nada dan ekspresi yang berubah datar.

Ya, iblis mengerikan yang justru melindungiku..


Ever After

Naruto milik Masashi Kishimoto

Pair : SasuSaku, NaruHina, SaIno, GaaMatsu

Rated T

Genre : Romance/Friendship/Family

Warning : Typo & OOC

.

.

Kediaman Haruno sore ini tampak sibuk. Beberapa koper dan box berjejer di ruang tamu, tampak pula Haruno senior yang sedang mengecek kembali perlengkapan dan peralatan yang akan mereka bawa selama ekspedisi. Sakura duduk di antara kedua orang tuanya sambil menonton acara musik di TV. Tak lama kemudian suara ketukan pintu pun terdengar.

"Ah, Sakura-chan tolong bukakan pintunya. Ada barang yang harus ka-san ambil di kamar," kata Mebuki sambil melangkah ke kamar mereka.

"Hai, ka-san."

Sakura-pun beranjak menuju pintu dan membukanya perlahan. Bukannya menyapa, Sakura justru terdiam menatap siapa yang berdiri di depannya. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan apa yang dilihatnya adalah nyata. Dan, yak! Tentu saja itu nyata. Pintu yang sudah setengah dibuka, kembali ditutupnya, lalu Sakura berjalan menjauhi pintu dan duduk kembali di samping Kizashi.

"Sakura, ada apa? Apa yang datang tadi bukan jemputan kami?" tanya Kizashi penasaran melihat putrinya mematung di sebelahnya.

Sakura menoleh perlahan menghadap Kizashi lalu memeluknya erat

"Tou-san, aku menyayangimu. Maafkan semua kesalahanku selama ini. Saku tau pasti selama ini Saku sudah menyusahkan ka-san dan tou-san. Tapi percayalah, Saku sangat menyayangi kalian."

"Sakura, ada apa denganmu? Apa kau sakit?" Kizashi tampak khawatir.

"Daijobu. Hanya saja, seperti ada aura jahat yang mengikutiku tou-san," jawab Sakura dengan wajah memelas.

Tok tok tok..

"Sakura, bukankah tadi ka-san sudah memintamu untuk membukakan pintu? Bagaimana kau ini?" Mebuki tampak kesal dan mendekat ke arah pintu untuk melihat tamunya.

"Wah, kalian sudah datang!Selamat datang. Kami-sama, kenapa anak itu membiarkan tamu berdiri lama di depan pintu?! Ayo, bawa barang kalian masuk," Mebuki menyapa dengan riang.

"Hn. Arigatou ba-san," jawab salah satu tamu sambil mengikuti Mebuki masuk dan membawa barang-barangnya.

"Kau sudah datang, keriput?" Sasori yang baru saja keluar dari dapur ikut bergabung dengan yang lain di ruang tamu diikuti oleh Gaara.

"Hei, begitukah caramu menyambutku muka bayi?" balas Itachi sambil melemparkan ras ranselya pada Sasori.

Dengan sedikit menggerutu Sasori membuang tas Itachi ke lantai lalu dimainkan dengan kakinya tanpa mempedulikan death glare dari Itachi. Sakura yang memang sudah lama mengenal Itachi pun maju dan memberikan pelukan ringan pada Itachi.

"Selamat datang, Itachi-nii. Kenapa tidak bilang kalau Itachi-nii yang akan tinggal di sini? Aku kan jadi penasaran," kata Sakura dengan sedikit menggembungkan pipinya karena kesal.

Sasori dan Gaara yang merasa agak terusik dengan pelukan antara Sakura dan Itachi segera menarik adik mereka itu lalu didudukkan di sofa dekat mereka.

"Cih! Kalian ini tidak bisa melihatku senang walau cuma sebentar. Dasar merah sialan!" gerutu Itachi lalu mendekati orang yang datang bersamanya.

"Ne, Sakura-chan dan Gaara, kenalkan ini adikku yang paling bodoh, Uchiha Sasuke."

"Cih, kalau aku bodoh, lalu kau apa? Idiot?" balas Sasuke dan dihadiahi jitakan kecil di kepalanya.

"Ah, baiklah kami harus berangkat sekarang. Baik-baiklah kalian di rumah, ne? Dan untuk kalian para lelaki, tolong jaga Sakura," kata Mebuki sambil memeluk Sakura hangat. Keempat pemuda yang dimaksud segera mengangguk lalu bersama dengan Sakura mengantar keluarga mereka.

"Baiklah, aku akan memberi tau kamar kalian. Sasuke akan menempati kamar tamu di depan kamar Gaara. Dan Itachi kamarmu di samping kamarku. Kalian bisa membereskan barang-barang sekarang. Kalau ada yang kalian butuhkan, katakan saja pada kami," ucap Sasori sambil berjalan menuju kamarnya.

"Sasuke, kamarmu di atas. Di depan kamar yang dipasangi police line itu," jelas Itachi yang memang sering menginap di rumah keluarga Haruno.

"Hn."

.

.

Malam itu kelima penghuni rumah ditambah dengan Roger sedang bersantai di ruang tengah. Sakura bermain dengan Roger, Sasuke duduk di sofa sambil memperhatikan Itachi dan Sasori yang sedang bertarung sengit di hadapan papan catur, dan Gaara yang duduk di dekat Sakura, sedang usil memainkan ekor Roger yang bergerak ke sana kemari. Semuanya tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai tanpa sengaja..

Kriuuk..

Siiing..

Sakura yang sedang asyik bermain dengan Roger tampak tak menyadari perubahan keadaan di sekitarnya. Keempat lelaki di sekitarnya saling pandang satu sama lain, sampai akhirnya Gaara mendesah malas. Gaara merapatkan tubuhnya pada Sakura lalu menarik-narik kecil rambutnya.

"Hm? Ada apa Gaara?" tanya Sakura sambil tersenyum. Gaara hanya menatapnya dengan datar tanpa menjawab.

"Ish, kau ini kenapa? Cepat katakan," Sakura yang mulai penasaran mengalihkan seluruh perhatiannya pada Gaara.

"Saku.." Gaara menggantungkan kata-katanya, lalu dengan suara rendah menambahkan, "Lapar.."

Sakura yang sedang memproses kata-kata Gaara hanya terdiam.

Kriuuk..

Mata Sakura membulat dengan sempurna lalu mengedarkan pandangannya ke tiga lelaki lain yang ada di sana sambil menahan tawanya. Sasuke membuang muka dan salah satu tangannya memegangi perutnya sendiri. Sakura bisa melihat semburat merah yang bertengger manis di wajah stoic Sasuke. Wajah Itachi dan Sasori pun tampak memerah dengan pandangan tetap terpaku pada papan catur. Padahal Sakura yakin mereka sudah tidak melanjutkan permainan. Dan terakhir Gaara yang memandangnya dengan datar, tapi tatapan Gaara selalu bisa terbaca oleh Sakura. Ya, tatapan mata memelas.

"Buahahahhaha.. Astaga.. Hahahaha.. Kenapa tidak bilang dari tadi? Hahahaha.."

"Ne, maafkan aku karena lupa kalau di rumah ini hanya aku yang bisa masak. Baiklah, kalian mau aku masakkan apa?" tanya Sakura yang mulai bisa meredam tawanya.

"..."

Kriuuk..

"Hmppf.. Baiklah, baiklah. Aku akan masak sekarang. Bisa aku minta kalian membereskan ruangan ini dan meja makan?" tanya Sakura lagi sambil beranjak menuju dapur. Sasori dan Itachi segera membereskan catur mereka, sedangkan Sasuke dan Gaara beranjak ke meja makan dan mengatur piring serta sendok untuk makan mereka.

Masakan Sakura kali ini tidak berlebihan seperti biasanya. Maklumlah, Sakura harus memasak makanan yang cepat tapi tetap penuh gizinya. Setelah menyelesaikan masakannya, Sakura berbalik untuk memanggil salah satu dari mereka untuk membantunya membawakan sayur dan lauk ke meja makan. Ternyata mereka berempat sudah duduk rapi di meja makan, seolah menanti jatah makanan hari ini. Gaara dan Itachi yang melihat Sakura langsung membantunya menata menu makanan mereka di meja.

"Itadakimasu," ucapan selamat makan serempak membuka acara makan mereka kali itu. Acara makan yang hening, entah karena memang sudah aturan di meja makan, atau karena mereka sibuk dengan urusan perut masing-masing.

Setelah acara makan selesai, Sakura membuatkan mereka jus tomat. Yah, karena itu satu-satunya buah yang tersedia di lemari pendingin. Oke, Sakura harus mengagendakan untuk belanja kalau tidak mau orang-orang di rumah itu kelaparan dalam beberapa hari kedepan.

"Besok kita harus belanja Saso-nii," kata Sakura sambil duduk di samping Sasori. Sedangkan yang diajak bicara hanya melirik sekilas lalu mengangguk.

"Ah, Sasuke-san, kau yang kemarin ada di pohon bersama laki-laki kuning itu kan? Kau sekolah di mana?"

"Sasuke bersekolah di Konoha High II, Saku-chan. Jadi Saku-chan dan Sasuke pernah beremu sebelumnya?" tanya Itachi penasaran.

"Hm. Aku sempat dicegat dan dipalak oleh teman-temannya. Mereka anak buahmu kan?" tanya Sakura polos.

Krak!

Krak!

Prang!

"Kyaaa! Nii-chan! Tanganmu berdarah!" Sakura histeris sambil memegangi pergelangan tangan Sasori.

"Maaf, tanganku licin," ujar Sasori dingin. Sakura berlari menuju lemari untuk mencari kotak P3K.

Yah, sepeninggalan Sakura, aura ruangan berubah beku. Itachi dan Gaara meletakkan gelas mereka yang tampak retak. Sasori hanya diam. Satu hal sama yang mereka lakukan adalah memandang Sasuke dengan tatapan dingin, menusuk, dan sengit.

"Itachi, pastikan dirimu bukan gay. Karena mungkin kau yang akan menjadi Uchiha terakhir setelah ini. Jadi kau harus bisa 'berkembang biak' dengan baik. Apa kau keberatan kalau aku mengeliminasi salah satu Uchiha?" suara Sasori terdengar tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari Sasuke.

"Aku tak keberatan, Sasori. Lakukan. Aku akan menonton dan tak akan melakukan apapun untuk mencegahmu. Berani-beraninya bocah berandalan tengik seperti mereka mengganggu Sakura-chan," ekspresi Itachi pun sama dengan Sasori.

"Kau butuh pisau daging atau linggis?" Gaara ikut menimpali.

Glek!

Baiklah Sasuke, apa riwayatmu akan tamat sampai di sini? Lihatlah bahkan aniki-mu tak membelamu. Sebesar itukah pengaruh seorang Haruno Sakura? Ya, salahkan anak buahmu yang salah memilih mangsa. Haruno Sakura memang tampak seperti anak kucing yang manis. Tapi kalau kau jeli melihatnya, akan terlihat serigala-serigala lapar yang siap menerkammu jika kau berani mengusik kucing kecil itu. Sakura adalah anak emas yang dilindungi oleh sahabat-sahabat Sasori, yang membentuk kelompok Akatsuki. Rajin berkelahi dan punya pengaruh besar di Konoha, itulah Akatsuki. Dan siapapun yang berani mengusik Sakura, pasti akan berhadapan dengan Akatsuki, sama seperti Menma yang pernah dihajar habis-habisan setelah membuat Sakura terpuruk. Iblis? Ya, Akatsuki memang iblis Konoha.

-TBC-


Aku mengaku salah! Maaf karena sudah menunggu lama. Ternyata ceritanya masih perlu diutak-atik lagi.

Again, terimakasih sudah mengikuti, riview, dan memberi dukungan untuk Ever After. Aku tersanjung ternyata kalian suka cerita ini.. Arigatou!