"Kita bertujuh berasal dari alam semesta yang berbeda beda. Tak ada satupun dari kita yang tinggal di dimensi yang sama. Tapi kita mempunyai 2 orang tua yang sama."
Solar menoleh ke arah Ice, pemuda itu menyadarinya dan segera mengangguk. Tangannya tergerak ke atas bersamaan dengan air yang ada di atas meja itu ikut naik ke udara, membentuk sebuah layar dengan gambar seorang pria tampan yang mempunyai lingkaran suci di atas kepalanya serta wanita cantik yang memakai gaun hitam.
Gempa terdiam, ia tahu siapa wanita itu tapi ia tak tahu siapa pria disebelahnya."Ayah dan ibu kita. Ayah adalah seorang malaikat yang memiliki kedudukan tinggi di surga. Sedangkan ibu hanyalah seorang manusia biasa." Mata Gempa melembut melihat senyuman tipis di wajah ibunya. Namun matanya kembali terbelalak setelah sadar akan perkataan Ice tadi."M-malaikat?" Semuanya mengangguk pelan serentak.
"Kami berenam di besarkan oleh ibu, tak ada yang tahu keberadaan ayah saat itu. Ibu mungkin tahu, tapi ia tak mau mengatakannya pada kami." Gempa menyadari perubahan wajah mereka yang menjadi muram dan masam.
Thorn mengadap ke atas.
"Kami membenci ibu kami sendiri."
Seketika pemuda beriris emas itu terdiam, masih mencoba mencerna apa yang barusan Thorn katakan.
Kata demi kata mereka lontarkan untuk merangkai sebuah peristiwa yang sama sama mereka alami. Sebuah cerita tentang mereka serta ibu mereka. Wajah Gempa perlahan memucat mendengarkan kalimat kalimat yang tak diduga keluar dari mulut mereka sendiri.
Gempa merasakan mulutnya terkunci saat mendengar cerita mereka. Hanya Taufan dan Solar yang tersenyum, tapi ia bisa melihatnya dengan jelas, senyuman itu cuma kebohongan belaka.
"Ya, dimata ibu, kami hanya sebuah boneka mainannya. Boneka yang dibuat untuk pertunjukkannya." Tambah Halilintar, tatapannya sangat membunuh. Tersirat rasa benci yang mendalam disana.
Sungguh Gempa tak pernah menyangka kalau ibunya adalah orang yang seperti itu. Padahal rupanya sangat menawan dan sempurna, membuat lelaki manapun bisa jatuh tunduk kepadanya. Yah, kecuali anak anaknya.
"Lalu.. ibu ada dimana?"
Pandangan mereka semua seketika menggelap, iris milik mereka langsung menyala. Blaze pun menghampiri Gempa dengan senyuman lebarnya, senyuman yang lebih mengarah ke psikopat. Di pegangnya bahu pemuda beriris emas itu dan mendekatkan wajah mereka. Mempertemukan mata mereka berdua
"Kami membunuhnya."
Seketika jantung Gempa berhenti berdetak sesaat. Iris oranye yang didepannya membulat sempurna, seakan akan memberitahu dirinya bahwa hal yang Blaze katakan barusan bukan hal yang menyedihkan, namun menyenangkan.
Gempa melihat ke orang orang yang masih ada di dalam ruangan itu. Halilintar hanya melipat tangannya di dada dengan mata yang tertutup, Taufan menopang dagu dengan senyuman liciknya, Ice tersenyum tipis dengan iris birunya yang menyala, Thorn malah tersenyum psikopat seperti Blaze, dan Solar hanya duduk dengan mata yang tertutup serta senyuman tipis yang terukir di wajahnya.
"B-bagaimana mungkin... kalian tega membunuh ibu kalian sendiri..?" Semuanya hanya diam, tak ada satupun yang mau merespon pertanyaan Gempa. Pemuda itu segera berdiri dan berjalan mundur."Ini gila. Kalian membunuh ibu kalian, ibu kita semua! Kalian semua sudah gila!"bentak Gempa dan segera berlari dari ruangan itu. Ia harus pergi dari tempat aneh itu, orang orang itu memang mencurigakan sejak awal.
Seketika ia berhenti hingga terjatuh saat Halilintar sudah berada di depannya."Mau kemana kau?"tanyanya dengan nada yang dingin serta tatapan mata yang tajam. Keringat Gempa perlahan turun ke pipinya."A-aku ingin kembali ke tempatku!"jawabnya dengan lantang dan kembali berdiri.
Thorn seketika langsung berdiri dan mengerahkan tangannya ke arah Gempa. Akar akar berduri segera menjalar ke tubuh pemuda itu, mengeratkan agar Gempa tak bisa lari kemanapun. Pemuda itu semakin takut karena tindakan ini. Ia mencoba memberontak melepaskan diri, namun duri duri akar itu semakin membuatnya sakit.
Gempa menutup matanya erat erat. Memohon agar ia bisa lepas dari situasi yang membahayakan ini. Seketika iris emasnya menyala terang, ia bisa merasakan energi aneh yang menyebar di seluruh tubuhnya.
Sepertinya tuhan mendengarkannya.
Muncul sebuah batu besar dari tanah di tempat Halilintar berdiri. Namun pemuda itu memiliki refleks yang cepat sehingga ia bisa menghindarinya. "Apa itu..?" gumam Ice yang ikut berdiri. Mereka semua langsung terkejut saat menyadari apa yang baru terjadi.
Gempa menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari ikatan akar. Tubuhnya sama sekali tak terkena tusukan apapun, akar akar itu bisa ia robek dengan mudah.
Seketika Solar dengan sigap menahan tangan Gempa dan mendorongnya ke lantai lalu mempelintir tangannya. Wajah pemuda itu semakin pucat saat tangannya sudah terkunci, namun kakinya tidak. Tangannya yang satu lagi segera mencengkram tangan Solar yang membuat fokus pemuda itu menjadi hilang. Kaki Gempa segera mencekik Solar dari belakang, membuat pegangan pada dirinya spontan lepas.
Gempa segera berbalik dan melempar Solar ke atas meja yang langsung tatapan mata tertuju pada hal itu. Tanpa membuang kesempatan, pemuda beriris emas yang menyala itu langsung meninju tanah yang membuat keenam orang itu terperangkap dalam bongkahan batu yang kuat.
Nafasnya tersenggal senggal, semuanya tertegun dan wajah mereka sama sama syok.
"Woahh.. Kau diluar pemikiranku, Gempa!" Taufan yang sama sekali tidak takut justru berseru dengan riang, matanya berbinar binar dengan senyuman lebarnya.
Semuanya hanya terdiam, merasa terkalahkan oleh pemuda itu. Kecuali pemuda dengan topi yang menghadap kiri itu, ia hanya tertawa lebar.
"Tapi kau tahu.." seketika senyumannya memudar, menjadi seringaian.
"Serangan seperti ini tak akan mempan kepadaku.."
Gempa spontan melompat menjauh saat mendengar suara bisikan pas dibelakang telinganya. Taufan sedang tersenyum licik dengan tubuhnya yang melayang."Gempa, biar kuberi tahu satu hal. Kami bukan musuhmu, kami saudaramu. Kau tak mau mempercayai kami? Padahal kita semua mempunyai wajah yang sama, dan kau juga mempunyai kekuatan seperti kami. Apa bukti itu masih kurang?"
Taufan segera mendekati pemuda itu dan memegang kedua bahunya."Tenanglah.."perintahnya dengan mata birunya yang menyala seketika. Gempa seakan akan terhipnotis hingga matanya kembali normal. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat ke sekelilingnya.
"A-ada apa ini?!"
Taufan terdiam sebentar."Kau tak ingat?" Pemuda itu kembali menatap Taufan lalu menggeleng."Bukankah kalian sedang menceritakan soal ibu?" Semuanya melihat satu sama lain, lalu kembali melihat Gempa yang hanya mengerjapkan matanya."A-apa..?" gumamnya dengan wajah yang mulai berkeringat.
Seketika batu batu yang menahan ke enam orang itu langsung lepas dan hancur. Thorn spontan menghampiri Solar yang sepertinya pingsan di atas meja. Menggendongnya dan melempar tatapan tajam ke arah Gempa sebelum berlari ke lantai atas.
Ice diam sebelum akhirnya memilih untuk mengejar pemuda beriris hijau tadi. Gempa melihat ke yang lain, mereka semua membuang muka.
"Hei.. apa yang terjadi?"tanya Gempa mulai tak tenang dengan tingkah yang ia dapatkan dari yang lain.
Taufan segera menggeleng pelan dan tersenyum."Tak perlu dipikirkan." Ia pun segera menoleh ke arah Blaze.
"Blaze, kau ingin bermain bukan? Ajaklah Gempa, mungkin ia ingin melihat sekeliling istana ini?" Senyuman Blaze langsung merekah. Tanpa basa basi ia segera menarik tangan Gempa keluar.
"Oi, oi! Tunggu!"
Taufan hanya melambai lambai ke arah mereka berdua dengan senyuman lebarnya hingga perlahan hilang. Wajahnya berubah datar dan alisnya turun, 11 12 dengan ekspresi Halilintar. Ia pun menoleh ke kakak tertuanya.
"Apa benar dia memang ada itu?"
Halilintar mengangkat bahunya."Tapi, dilihat dari tindakannya tadi, sepertinya dia belum sadar dan tak bisa mengendalikannya." Tangan Taufan segera terangkat dan memegang kepala bagian belakangnya."Dia sampai bisa mengecohkan kita semua, dan teknik serta kekuatan itu.." Pemuda beriris merah itu hanya menghelakan nafasnya lalu berlalu.
"Kau takut?"
Halilintar menoleh kebelakang, mendapati seringaian Taufan sangat lebar dengan matanya yang menyipit."Aku tak perlu berurusan dengan orang sepertimu, Taufan." Pemuda itu kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang sedikit pun."Kau selalu saja dingin." komentar Taufan dengan wajah yang terlihat tak senang. Namun kakak tertua sama sekali tak mengacuhkan dirinya.
Seiring dengan menghilangnya Halilintar, wajah Taufan pun kembali menjadi datar.
Ia menunduk dan menatap telapak tangannya.
"..."
TO BE CONTINUED.
Terima kasih yang sudah setia membaca cerita gaje ini :3
Mohon maaf jika ada typo.
Silahkan review~
