Disclaimer

Vocaloid belongs to Yamaha corp

Complicated

Chapter 4

Aku masih terpaku dengan yang dilakukan Len. Aku bersandar ke pohon, lalu duduk. Hanya gara-gara kejadian tadi, aku menjadi bertambah aneh. Jantungku berdebar tak keruan. Namun, segera aku mengontrol jantungku yang sedang aneh ini.

Setelah berhasil mengontrol, aku bangkit dari duduk dan berniat untuk pulang. Tiba-tiba, pintu sekolah bagian belakang terbuka. Siapa ya disana? Ah, aku tak mau peduli dan lanjut saja berjalan.

Dan pintu itu terbuka. Muncullah Shion sensei... Tunggu dulu! Shion sensei? Orang yang paling tidak ingin kutemui sekarang! Aku segera berpaling ke arah pintu.

"Oh, Kagamine. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Shion sensei menatap mataku dengan pandangan yang selalu membuatku risih.

"Bukan apa-apa. Aku akan pulang" jawabku sambil memalingkan wajah.

"Tak usah terburu- buru. Aku tak akan memakanmu sekarang," kata Shion sensei. Apa maksud perkataanya tadi? Tak akan memakanmu sekarang. Jadi, kalau bukan sekarang, nanti? Eh, apa maksudnya 'memakanmu'? Aku bergidik ngeri.

"Aku terburu-buru, sensei. Aku duluan." Kataku tanpa menatap Shion sensei.

"Kalau terburu-buru, biar aku antar. Aku bawa mobil." Tawar Shion sensei padaku.

"Hah? Tidak usah repot-repot! Aku bisa sendiri, kok. Terimakasih atas tawarannya." Balasku tak sabaran. Rasanya kaki sudah tak tahan untuk pergi dari sini.

"Aku tidak merasa repot. Aku mau kau kuantar. Tidak ada salahnya, kan, diantar?" Tanya Shion sensei. Aku menatap Shion sensei tanpa berkata apa-apa. Mendadak, aku menjadi sangat takut pada Shion sensei. Padahal saat dia pacaran dengan Miku dan aku ikut, dia sangat ramah dan tak membuatku takut. Sekarang, setelah putus dari Miku, ia sering menatapku dengan tatapan aneh yang membuatku takut. Dan kali ini aku benar-benar takut sehingga tanpa sadar, aku mengangguk pelan.

"Ayo ikut!" Ajak Shion sensei dan aku mengekornya dari belakang. Aku sengaja memperjauh jarakku dari Shion sensei. Sepertinya Shion sensei sadar aku memperjauh jarak, sehingga ia menengok ke belakang. Ia terkikik.

"Kau lambat, Kagamine..." Ujarnya sambil mendekatiku dan menarik tanganku. Aku merasa tak enak, tapi aku tak bisa melawan. Saat sudah sampai dekat parkiran, ia melepaskan tangannya dari tanganku.

"Jangan sampai yang tadi ada yang melihat, ya!" Bisik Shion sensei sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku tahu betul, banyak murid perempuan yang naksir dengan Shion sensei. Dan yang paling membuat cewek-cewek itu tergila-gila adalah saat ia mengedipkan sebelah matanya. Menurut Miku, itu kejadian langka dan beruntung bagi yang melihatnya secara langsung. Namun bagiku tidak beruntung sama sekali. Malah semakin aneh dan janggal saat ia melakukan itu.

Ternyata Shion sensei memarkir mobilnya cukup jauh dari pintu masuk utama sekolah. Jadi, tak akan banyak yang melihat siapa yang ada di mobil itu. Kami pun masuk ke mobil itu. Awalnya, aku membuka pintu tengah, namun Shion sensei mencegah dan membukakan pintu depan untukku. Dengan canggung, aku masuk ke mobil Shion sensei. Shion sensei menghidupkan mesin dan bertanya, "dimana rumahmu, Kagamine?"

"Di jalan x nomor 5" jawabku singkat.

"Oh, tidak begitu jauh." ujar Shion sensei sambil mulai menekan gas dengan kakiknya sehingga mobil berjalan. "kau lapar?" tanya Shion sensei.

"Tidak" jawabku. Lalu hening. Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan di mobil itu.

Kriiuuuuuuuukkkk...~

Duh! Itu suara perutku! Pasti Shion sensei mendengarnya! Aku membenamkan wajah dengan tasku. Malu.

"Kau lapar? Haha. Kalau lapar bilang saja! Bagaimana kalau makan dulu?" tawar Shion sensei.

"Ng..." perutku memang tak bisa diajak kompromi, tapi... "tak usah sensei... Ibuku sudah memasak di rumah. Beliau selalu tak senang jika aku makan diluar" jawabku jujur. Karena yaa... mama memang begitu!

"Yakin?"

"Yakin."

Krriiuuuuuuuk

Ya Tuhan! Maksudnya apa ini? Masa bunyi lagi? Aku berharap bisa menahannya.

"Ehm, begini Kagamine. Dulu ibuku juga tipe orang seperti itu. Aku mengerti perasaanmu. Tapi ibuku mengizinkanku untuk mengganjal perut dulu kalau mulai lapar di tempat lain saat tidak rumah. Aku yakin ibumu akan membolehkanmu mengganjal perut dulu,kan? Aku tahu caffe enak disekitar sini. Bagaimana?" tawar Shion sensei.

Aku bingung mau berkata apa. Tentu aku masih risih dengan Shion sensei. Tapi ajakan tadi benar-benar terlihat seperti Shion sensei yang dulu. Saat masih pacaran dengan Miku. Ramah, tapi tak memaksa seperti mengajakku pulang bareng tadi. Dan tawaran itu memang tak bisa dihindari karena aku benar-benar sangat lapar!

"Bagaimana?" tanya Shion sensei mebuyarkan pikiranku.

"Baiklah" jawabku. Shion sensei tersenyum, lalu melajukan mobilnya dengan cepat ketempat yang ia janjikan. Cafe yang katanya enak itu.

Akhirnya kami sampai. Ternyata, cafenya lumayan jauh dari sekolah. Setidaknya membutuhkan 25 menit menuju kesana.

Aku tak memedulikan nama cafenya Yang kutahu, bagian depan cafe itu bertema vintage. Terlihat betul dari warna-warna pucatnya dan design pintu seperti kayu dan dinding bata. Kalau sudah lapar, aku tak peduli lagi dengan yang lain sih. Tapi karena ini tempat yang baru kukunjungi, mau tak mau aku memerhatikannya sekilas.

Aku bergegas menyusul Shion sensei yang sudah duluan masuk. Ia duduk di sebuah meja yang dirancang untuk dua orang. Yah, namanya juga cafe-cafe, ya.

"Duduklah!" kata Shion sensei. Aku mengangguk singkat, lalu duduk di kursi di depan Shion sensei.

Seorang pelayan menyuguhkan buku menu pada kami. Tadinya, hanya diberi satu, tapi aku meminta satu lagi supaya tak usah bergantian dengan sensei. Karena dengan begitu, nanti kami seperti...ah! Lupakan!

Aku menjelajahi buku menu dengan bosan. Tak ada yang begitu menarik bagiku. Aku membuka halaman terakhir, lalu menemukan sesuatu yang menarik. Orange Parfait (A/N: menu ngasal). Kelihatan enak. Katanya Shion sensei mau traktir, tapi sepertinya aku tak mau traktiran. Uh, apalagi dari Shion sensei. Bukannya apa-apa, aku takut saja. Ya aku masih takut padanya walaupun sikapnya tadi mulai tak begitu menakutkan bagiku.

Aku merogoh tasku dan menemukan dompet. Ada 1900 yen. 100 yen untuk jus jeruk di kantin tadi. Lalu mataku kembali beralih ke Orange Parfait. 2500 yen. Hah? Uangku tidak cukup! Apalagi 2000 yen untuk 2 minggu. Aku miskin 2 minggu? Aku memang tak banyak jajan (hanya jus jeruk 100 yen tiap harinya) dan sadar ekonomi keluargaku tidak bisa dibilang kaya. Cukup pun mendekati. Tapi kalau ada keperluan mendadak akan susah.

"Kau pesan apa, Kagamine?" tanya Shion sensei di tengah-tengah kebingunganku.

"Aku pulang saja, sensei. Aku tak punya uang." jawabku.

"Biar aku yang traktir." kata Shion sensei.

"Tak usah, sensei. Aku akan pulang!"

Krrriiuuuuuuuuuuuuuuuuuk

Berbunyi lagi! Kini lebih panjang. Mau ditaruh kemana mukaku sekarang? rasanya perutku berkata beda dengan mulutku.

"Dengan perut seperti itu, akan sulit jika terus mengelak" ujar Shion sensei tersenyum kecil. Menyebalkan!

Seperti kata Shion sensei tadi, aku tak bisa mengelak, "yaa... baiklah. Aku pesan orange parfait". Shion sensei menjentikkan jarinya, lalu memanggil pelayan dan mengatakan pesananku dan pesanannya. Aku tak begitu peduli apa pesanannya, kalau Miku pasti sudah mencatatnya dan di lain waktu akan membuatkan makanan yang sama untuk Shion sensei.

"Tenang saja. Di cafe ini tak kenal kata lama." ujar Shion sensei dan aku hanya memutar bola mata sebagai balasannya. Aku terlalu malas berbicara dengannya.

Mataku menjelajah seluruh isi cafe hingga menemukan seorang anak laki-laki duduk sendiri. Dia sangat mirip seseorang. Rambutnya pirang, matanya sapphire. Mengingatkanku pada... Eh!? Itu benar-benar Len! Sudah tanpa seragam tergantikan oleh kemejaputih dan rompi orange dan dasi hitam yang dipasang tidak begitu rapih. Ia sedang berkutat dengan laptop. Entah apa yang ditulisnya, namun disamping laptop tersebut terdapat sebuah notes kecil berwarna cokelat yang dibiarkan tergeletak. Yang kulihat selanjutnya adalah Len menutup laptopnya, berdiri dan pergi. Untuk apa ia kesini? Apa yang ditulisnya tadi? Uh, aku benar-benar ingin tahu.

"Silahkan" seorang pelayan menyajikan pesananku dan pesanan Shion sensei. Aku menyicipi sedikit orange parfait dan terkejut oleh sensasi rasa jeruk yang benar-benar enak. Aku menyicipi sesendok lagi.

"Enak?" tanya Shion sensei. Aku mengangguk. Lalu, mataku kembali melihat ke arah Len tadi keluar. Len sudah benar-benar tak terlihat. Mungkin sudah pulang. Mataku beralih ke meja Len yang tadi. Masih ada notes cokelat. Masih ada? Ketinggalan, ya?

Aku penasaran. Mendadak kata-kata Len terngiang di kepalaku.

'Gadis yang banyak tanya'

Tadinya aku berniat mengambil notes Len, tapi setelah mengingat perkataan Len, aku mengurungkan niatku sesaat. Ya, sesaat. Karena aku tidak tahan! Aku selalu ingin tahu dan banyak tanya. Aku berniat mengambilnya untuk dikembalikkan besok. Caranya adalah berpura-pura ingin ke toilet.

"Ng... sensei. Aku ke toilet dulu, ya." ujarku meminta izin. Shion sensei mengangguk. Aku pun bangkit tak lupa membawa tas. Tas untuk menyelipkan notes.

Aku berjalan mendekati meja Len tadi, lalu menyambar notes itu dengan cepat sehingga tak ada yang menyadari aku melakukan itu. Lalu, aku mencari toilet dan masuk ke toilet hanya untuk mencuci tangan. Setelah itu, kembali ke tempat duduk. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku menghabiskan makananku dengan cepat. Aku penasaran dengan isi buku Len.

Setelah selesai, ternyata Shion sensei juga baru selesai. Sepertinya aku makan terlalu cepat. Tapi, aku tak peduli. Shion sensei bangkit dan membayar sementara aku disuruh ditunggu diluar.

Selama perjalanan, kami hanya diam. Aku tak berniat membuka pembicaraan sama sekali sedangkan Shion sensei fokus menyetir.

Tak lama kemudian, kami sampai di depan rumahku. "Terimakasih sensei" ujarku.

"Bukan masalah. Sama-sama Rin" balas Shion sensei. Aku terpaku. Kenapa Shion sensei memanggil nama depanku. Rasanya aneh dan...aku tak suka. Sangat berbeda sensasinya dengan saat Len memanggil nama depanku.

"Aku duluan, Shion sensei" aku menekankan kata 'Shion sensei' sebagai tanda kalau aku tetap menganggapnya sensei. Tidak lebih. Tanpa menunggu jawaban, aku membuka pagar rumahku dan cepat-cepat masuk ke rumah.

Saat hendak melepas sepatu, aku disambut oleh mama yang sudah berdiri di depan mataku.

"Tadi siapa?" tanya mama. Duh, pasti mama marah karena aku diantar oleh lelaki tak dikenal.

"Itu..." saat aku hendak menjawab, mama sudah duluan brerkicau.

"Tadi mama lihat dari depan pintu kau diantar orang. Sepertinya tampan ya, Rin! Mama akan senang kalau dia adalah calon menantu mama!" ujar mama. Aku melongo. Mama berpikiran seperti itu?

"Jangan harap, ma" balasku malas.

"Ya sudah, makan dulu Rin!" perintah mama.

"Nanti ya! Aku masih kenyang" ujarku lalu meninggalkan kamar dan menuju ke kamarku yang ada dilantai dua.

Aku langsung meloncat ke kasur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Lalu, aku membuka tasku dan mengaduk-aduknya mencari notes Len.

Akhirnya aku mendapatkan notes dan membuka halaman pertama.

This book belongs to Len.

Bahasa inggris. Aku membuka halaman-halaman selanjutnya. Semuanya berbahasa inggris! Aku tak bisa bahasa inggris, mana bisa kubaca.

Aku teringat kamus elektronik milik papa. Papa adalah seorang pekerja kantoran di kantor perusahaan milik Australia. Kadang-kadang, papa akan pergi ke Australia. Dan juga saat liburan, papa pernah mengajakku dan mama ke Australia. Oh ya, aku anak tunggal.

Karena bekerja di perusahaan Austraia, papa dengan semangat mendalami bahasa inggris namun tak memaksaku belajar bahasa inggris. Akhirnya aku juga tak tertarik dan tak pernah belajar bahasa inggris. Dan papa mempunyai kamus elektronik canggih yang disimpan di kamarnya.

Aku berjalan menuju kamar orangtuaku. Mama tak disana. Mngkin sedang nonton siaran masak memasak di tv. Aku mencari di tempat biasa papaku menyimpanya. Beliau bilang, aku dizinkan meminjanya untuk belajar. Didalam peti besar adalah tempat papa menyimpannya. Di dalamnya berisi kamus dan kamus elektronik. Aku mengambilnya.

"Pa, pinjam ya!" gumamku membawa kamus elektronik tersebut lalu berjalan cepat ke kamarku.

Aku meloncat lagi ke kasurku dan menulis apa yang ada di halaman pertama di kamus elektronik.

'This book belongs to Len'

Muncul artinya.

"Buku ini milik Len"

Lalu?

Kubuka halaman berikutnya karena penasaran.

'I'll go to Japan. I was angry because mom. she told me everything. And that's hurt.'

Setelah mengartikan halaman pertama, aku terpaku. Kenapa Len? Sesuatu yang dikatakan ibunya membuatnya marah dan menyakitkan.

Hm. Aku penasaran dan tak sabar membaca lagi.

...To be continued...

A/N: chapter 4 akhirnya datang! Cepet ya? Idenya muncul terus sih. Maaf kalau bahasa inggrisnya salah di chapter ini dan (mungkin) chapter2 berikutnya. Author ngga tahan ngga nulis. Chapter berikutnya akan datang sekitar 2 minggu lagi. Tolong bersabar ya! Untuk yang sudah review, terimakasih. Kalian sangat membuat author semangat. Author berharap makin banyak yang review. Hehe. Author akan membalas review kalian tapi untuk yang chapter 3 saja ya. Oke...

Namikaze Kyoko: Wah firasatmu sama kuatnya dengan Rin! Anda benar. Gampang ketebak, ya? Walau Meiko udah ingat, sepertinya temen2 yg lain belom ingat. Kasihan Rin Btw, Sudah di update nih :D

airi shirayuki: sudah di update :D

akanemori:ahaha. Anda benar sekali. Rin emang kepo di fic ini. Iya, kaito suka rin. Ceritanya ketebak ya? Author akan berusaha supaya walau gampang ketebak, bisa dinikmati ceritanya. Oke, sudah di update nih :D

Sallinarr3:sudah update nih. Makasih udah review :D

BerlianaDeceiver1224:Oke, sudah di update nih :D

Dah, selesai bales2 reviewnya. Jangan lupa, kalau udah baca, REVIEW. Thx :D