Title: Red Velvet
Disclaimer: I'm not owned Harry Potter. JK Rowling owned!
Pairing: Draco Malfoy x Harry Potter (Drarry)
Genre(s): Romance, Friendship.
Warning(s): Slash, AU, Ooc, typo(?) etc.
Summary: Akankah hubungan Harry dan Draco semanis Red Velvet?
O
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
O
Scorpy menapakkan kakinya keluar kelas, dengan wajahnya yang lebih sumringah dan cerah. Yeah, kalian tahu sendiri apa yang menyebabkannya begitu nampak berbeda.
Hari pertamanya di sekolah begitu tak terduga oleh Scorpy. Ia pikir begitu membosankan. Namun nyatanya tidak. Di kelas, ia dapat berkenalan dengan semua teman barunya, bermain-main, dan belajar bersama. Tapi, ada satu hal yang membuatnya merasa ada yang aneh di rongga hatinya.
Rasa apa, Scorpy? Rasa suka? Haha.. Salahkan masa-masa pubertasnya yang mendorong hormon testosteronnya bekerja. Hhh, sepertinya Scorpy menaruh hati pada Lily.
Aku akan memberitahu kalian. Seharian di sekolah tadi, Scorpy tak sedikitpun melepas pandangannya ke Lily. Tersenyum-senyum sendiri bak orang gila. Ia tak memperhatikan penjelasan guru-gurunya tentang pelajaran yang diajar. Konyol.
Lily yang merasa diawasi oleh sepasang mata biru es keabu-abuan itu mengernyit keras. Ia memberanikan diri menanyakan apa yang ada yang salah dengannya kepada Scorpy. Hanya ucapan kaliamat 'Tidak. Tidak ada' yang keluar dari mulut bocah laki-laki di hadapan Lily itu.
Oh, lupakan itu.
Saat ini Scorpy tengah berjalan menuju gerbang sekolah. Ia adalah murid terakhir yang keluar dari kelasnya dan kelas-kelas lain.
Saat ia hendak melewati gerbang sekolah, langkahnya terhenti ketika telinganya mendengar suara tawa dari orang yang telah membuatnya berbunga-bunga.
"Lily?" ucap Scorpy bingung seraya berbalik arah menuju posko security yang berada sepuluh langkah dari tempat Scorpy berpijak.
Ia melihat Lily tengah berbincang dengan satu-satunya security yang dimiliki Hogwarts Primary School. "Lily. Kau belum pulang?"
Lily terkejut melihat Scorpy yang muncul secara tiba-tiba. "Er, Scorpy, kau mengagetkanku saja!" ujarnya dengan tatapan horror. "Aku masih menunggu kakak. Sebentar lagi pasti datang." lanjutnya.
Scorpy ber-oh ria. Tatapannya beralih ke seorang pria berbadan gemuk di samping Lily.
"Dia Hagrid, Scorpy. Hagrid, kenalkan, dia Scorpy." ucap Lily mengerti akan makna pandangan yang dilontarkan Scorpy ke Hagrid.
Hagrid mengulurkan tangannya kepada Scorpy, pertanda ingin berjabat tangan. "Hagrid."
Dengan senang hati Scorpy menerima uluran tangan yang berkali-kali lipat lebih besar dari tangannya. "Scorpy."
Lily tersenyum melihat Hagrid punya teman baru. "Jadi, Scorpy, Hagrid ini temanku. Kau tahu? Dia seperti body-guardku saja." ucapnya seraya tertawa kecil.
Scorpy mengangguk pelan mendengar pernyataan dari Lily.
"Aku dengar-dengar, kau murid baru di sini, Scorpy?" tanya Hagrid yang tengah melepaskan topinya, memperlihatkan rambutnya yang lebat.
Scorpy lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Oh, sifat Malfoynya ia aktifkan. Memang, kata kakaknya, ia harus bersikap dingin dengan orang yang belum ia kenal dekat. Itulah perintah kakaknya. Namun, Scorpy membuat prinsip sendiri, bahwa harus bersikap hangat kepada orang-orang tertentu. Contoh, sikapnya pada Harry yang telah entah kenapa membuatnya nyaman bersama Harry.
"Aku harap kau bisa menjadi murid pintar ya, Scorpy." kata Hagrid dengan melemparkan senyum dari balik brewoknya.
Scorpy membalas senyuman Hagrid tipis. "Terimakasih, Hagrid."
Hati Lily bersorak riang melihat Hagrid begitu mudahnya bercengkrama dengan Scorpy.
Tapi, omong-omong... "Scorpy, kau tak pulang?" tanya Lily sembari menautkan kedua alisnya.
Yang ditanya mengangkat alis kanannya. "Kakakku belum menjemputku. Sama sepertimu."
Lily mengangguk pertanda mengerti diiringi dengan seruan Oh.
Sepuluh detik kemudian, terdengar bunyi klakson mobil dari arah depan gerbang.
Tin.. Tin..
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Di balik jendela kaca—dengan warna senada warna badan mobil—yang tertutup terdapat seorang pemuda yang menoleh ke arah Hagrid, Scorpy, dan Lily.
"Oh! Itu kakakku sudah menjemputku. Aku duluan ya, Hagrid, Lily." kata Scorpy melangkahkan kakinya menuju mobil yang telah menantinya.
Dari balik kaca yang terbuka, Scorpy melemparkan lambaian tangan kepada Hagrid dan Lily. Tentunya dibalas dengan perlakuan yang sama oleh keduanya.
Lily penasaran siapa kakak Scorpy yang sekilas terlihat oleh lempengan hijaunya itu. Rasa-rasanya ia pernah melihat deh.
Kring Kring.
Lamunan Lily seketika buyar ketika ia mendengar dering lonceng sepeda.
"Lils, Harry menjemputmu!" kata Hagrid seraya menunjuk arah Harry berada. Ia mengantar Lily sampai ke depan gerbang, lalu ia berbincang-bincang dengan Harry sejenak. "Hai, Harry."
Harry tersenyum "Halo, Hagrid,"
"Hari ini, Lily punya teman baru, lho, Harry."
Harry mendelik ke arah Lily. "Oh, benarkah itu, Lils?" yang dibalas anggukan oleh Lily. "Laki-laki atau perempuan, Lils?" tanya Harry curiga.
Lily menjadi kikkuk saat itu juga. "Ng... Eh... Per.."
"Laki-laki, Harry." sambar Hagrid. Ah, Lily tak kuat lagi.
"Hmm.. Laki-laki, eh, Lils?"
"Oh, sudahlah, kak... Apa salah Lily punya teman laki-laki?" rengek Lily.
"Tidak. Tidak salah, kok. Hanya saja... Awas ya kalau kalian pacaran!" kata Harry yang mengacungkan jari telunjuknya di hadapan wajah cantik Lily.
Lily menggulingkan lempengan hijau di dalam matanya diikuti desahan nafasnya. Harry pikir Lily suka apa itu namanya? Pacaran? Cuih. Lily termasuk orang yang sangat selektif dalam hal percintaan. Perlu digaris bawahi kata 'sangat' tersebut. Lagian, apa Harry lupa ya jika Lily masih kecil, imut, dan inosen?
"Aku masih kecil, kakak. Aku tak mau pacaran." ucap Lily diakhiri dengan bibirnya yang dimanyunkan.
"Bisa saja kan?" ujar Harry memojokkan Lily. Merasa dipojokkan, Lily mengambil jalan pintas dengan bertanya... "Lalu, kenapa sampai saat ini kakak tidak mempunyai pacar, huh?" Lily menyunggingkan seringai bibirnya.
Telak! Sekarang Harry yang mulai kikuk. Iris hijaunya terlihat memincing ke atas kanan, mencoba merogoh alasan yang dapat menjawab pertanyaan sial dari adik sedarahnya itu.
Oh, dan sepertinya Hagrid mulai tak diacuhkan oleh mereka berdua.
"A- Aku masih mementingkan pekerjaan, Lils!" terdengar suara Harry yang begitu gugup.
"Hey! Kalian ini! Apa tak pulang?" celetuk Hagrid kepada kakak-adik yang tengah beradu mulut.
Harry dan Lily tertawa bebangeran. Setelah Hagrid berkata begitu, mereka berdua baru menyadari jika mereka menghabiskan waktu lima menit hanya untuk bersilat lidah. Oh, Tuhan.
"Maaf, Hagrid. Ok ok, kita pulang." pungkas Harry, dan langsung kembali ke rumah mereka dengan Lily yang ia bonceng.
-oOo-
Gesekan sepatu dengan lantai yang berubin hijau laut terdengar menggema mengisi keseluruh ruangan yang luas. Ayunan tangan ke depan dan ke belakang secara bergantian menerpa angin yang bergeming. Senyuman yang penuh arti terpatri di bibir tipis sang pemiliknya.
Scorpius menuju kamarnya dengan tetap memasang wajah bak malaikat. Ia membelakangi Draco yang sedari tadi menerka dan menebak arti mimik wajah sang adik. Kasmaran rupanya, batin Draco.
Saat Scorpius tertelan oleh pintu yang terbuka dan memasuki kamar mewahnya. Meletakkan tas sekolahnya di meja belajarnya, lalu diikuti melepas seragamnya yang tertera di seluruh anggota badannya dengan pakaian santai namun tetap terlihat mahal.
"Scorpy." Ia dikejutkan oleh suara baritone dari kakaknya yang memasuki kamarnya.
Scorpy mengernyitkan dahinya tak acuh. "Iya, kak. Ada apa?" lalu melemparkan dirinya ke atas ranjangnya—tempat tidur—yamg empuk nan nyaman. Dengan posisi tengkurap, ia membaca sebuah buku bacaan yang ia ambil tadi dari rak buku.
Draco mendudukkan dirinya di samping anak kecil duplikasi darinya. Menghela nafas sejenak sebelum mulai mewawancarai Scorpius. "Scorpy, bagaimana hari pertamamu di sekolah?"
Mata Scorpy tak dialihkan ke Draco. Ia tetap melirik buku yang tengah ia baca dalam hati. "Biasa saja. Teman baru, guru baru, kelas baru, semua serba baru."
"Tak ada lagi?" Draco melanjutkan pertanyaannya kembali sembari menyipitkam kelopak matanya.
Mulut Scorpy bergerak layaknya seorang yang tengah membaca namun tak bersuara, dan berhenti sejenak. "Tidak."
"Jangan bohong." ucap Draco sebelum merebut paksa buku yang Scorpy baca. Dibalas dengan decakan lidah Scorpy yang kesal.
"Tidak, kak. Tidak ada yang spesial. It's feel flat." kata Scorpy dengan nada yang datar.
"Kau terlihat begitu bahagia sedari tadi aku lihat. Pasti ada sesuatu."
Scorpy gugup didekati kakaknya yang curiga. "Ng... Itu, itu karena aku punya segala hal yang baru." jawab Scorpy terdengar sangat berbohong.
"Pembohong yang bodoh." Draco memang handal dalam memojokkan seseorang yang ia tahu berbohong. Scorpy saja dibuatnya memproduksi keringat dingin.
Anak kecil berambut pirang itu masih terlihat gugup. Kalau sudah begini, ia tak bisa berbohong lagi. Ia mengubah posisinya tadi menjadi bersandar ke sandaran ranjang, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Draco menarik sedikit ujung bibirnya ke atas, pertanda puas dapat memojokkan situasi seperti ini. Huft, Wicked Malfoy! "Jadi?"
"Jadi apa?" tanya Scorpius basa-basi, atau lebih spesifiknya pura-pura tak tahu-menahu kemana arah pembicaran Draco.
Draco yang mendengarnya hanya bisa menggulingkan kedua bola matanya. "Cepat jawab, atau kau mau aku memaksamu pindah sekolah, huh?"
Sejenak Scorpy tercekat. Dia tahu kakaknya bercanda, tapi intonasi nada perkataan kakaknya terdengar seperti sumpah tak terlanggar. Pindah sekolah? Hei! Hari pertama baru saja Scorpy lewati di sekolah barunya itu. Draco aneh. "I swear! Aku bahagia karena punya teman baru di sekolah, dan mereka baik," ia berhenti berucap sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sebelum dengan cepat ia merebut bukunya kembali yang direbut Draco tadi. "Tak ada yang lain." Scorpy mulai melanjutkan kegiatan membacanya yang tertunda.
"Ok, teman baru. Termasuk anak perempuan berambut merah itu?"
Mata Scorpius sukses membulat penuh, membuat pupil matanya mengecil. Ia pikir Draco tak tahu, apa? Jika tadi saat Draco menjemputnya, melihatnya begitu akrab dengan seorang gadis sebayanya dengan pria berawakan besar di samping gadis itu.
Oh, dan sepertinya Draco pernah melihat gadis kecil itu. Ingatan yang tajam! Gadis kecil yang pernah datang ke rumahnya bersama si Potter itu. Ia tak sudi adiknya berteman dengan adik Potter itu. Benarkah itu, Draco? Bukankah kau menyukai Harry?
Satu detik, dua detik... Tiga, empat, lima...
"Scorpy?"
"Ya! Dia termasuk!" jawab Scorpius mantap—dan tentu saja berbohong. Draco mengangkat alis kanannya melihat tubuh adiknya—Scorpy—menegang.
"Benarkah? Hmmm... Teman? Okay. Aku percaya," ucap Draco membuat Scorpius menghela nafas lega. Ia tak dapat pungkiri, kenapa Draco terlihat menginterrogasinya? "Oh, Scorpy. Kau ingat kan kalau keluarga kita tak boleh berhubungan dengan sembarang orang?"
Rasa lega yang tadi menyelimuti Scorpius, sekejap menghilang. Ia dibuat tercekat oleh kakaknya itu. Ia mengganggukkan kepalanya sembarang. Membuat Draco menyunggingkan seringai puasnya.
Merasa puas telah 'mewawancarai' Scorpius, ia meninggalkan adiknya yang masih betah berkutat dengan bacaannya.
-oOo-
Selimut biru nampak bersua dengan senja, sang surya sudah saatnya untuk mengizinkan rembulan menerangi malam hari yang akan datang.
Sepasang adik-kakak tengah asik berbincang ringan di ruang tengah rumah mereka. Dengan televisi yang menampakkan salah satu seri TV dari negri paman Sam.
"Lils. Boleh kau beritahu kakak tentang teman barumu itu?" tanya Harry seraya mencomot kripik kentang dari kemasan makanan ringan di genggaman adiknya.
Lily sudah menduga jika kakaknya akan menanyakan hal itu. Dengan malas, Lilypun menjawab pertanyaan dengan mulut yang tengah menumbuk makanan renyah-kripik kentang-. "Yah, dia pirang, runcing, sedikit tirus. Dan kurasa dia mirip dengan kak Draco."
Harry yang sedari tadi asyik memakan kripik dengan pandangan lurus ke televisi, seketika tersedak. "Bagaimana kau tahu si Malfoy itu? Dan apakah anak itu bernama Scorpy?" segelas air putih di atas meja ia ambil untuk ia minum.
Lily mengernyitkan alis dan dahinya. Merutuki mulutnya yang kelewat ceplos. "Eh, itu.. Anu.. Ng.. Kak Pansy.. Kak Pansy yang memberitahuku. Dan soal anak itu, ya dia namanya Scorpy. Kakak kok tahu"
"Oh, rupanya Pansy sudah berkenalan dengannya," Lily cekikik mendengar ujaran kakaknya. "Aku menolongnya kemarin saat di taman." lanjut Harry.
"Oh! Jadi kakak meninggalkanku karena dia?" Lily meletakkan makanan ringannya menjauh, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Terlihat mulutnya juga manyun.
Dengan satu tarikan nafas, Harry menjelaskan panjang kali lebar ke adiknya yang tengah dirundung masa labil. "Lils, kemarin dia terjatuh saat sedang berlari. Dan kulihat, lututnya berdarah deras. Kakak merasa iba, hingga kakak membawanya pulang ke rumahnya. Dan mengobati lukanya."
Lily mengibaskan rambut merahnya tak hirau. "Lily tak mau tau." Dan Harrypun hanya dapat menggulingkan bola matanya.
Sekali lagi, dan berulang kali, Harry harus tabah dengan adiknya yang ngambek.
Seri TV yang masih bersiar memunculkan sekelompok pemuda-pemudi yang tengah bernyanyi di sebuah gedung kosong.
Dan, matahari telah terbenam. Langit sudah mulai biru gelap. Sore senja pamit pulang, dan biru malam mulai datang.
-oOo-
Selasa pagi. Seperti biasa dan terbiasa. Harry sudah siap untuk mengantar adiknya belajar ke sekolah. Dan tentu saja pergi ke tempat kerjanya.
"Lily. Hurry up!" teriak Harry dari pinggir jalan komplek depan rumahnya dengan sepeda yang berada di sampingnya.
Dari balik pintu rumahnya, Lily muncul dengan langkah yang tergesah. "Maaf, kak." Lilypun melangkah menuju kakaknya yang telah menunggunya dari tadi. Namun langkahnya terhenti ketika dilihatnya sosok yang baru ia kenal kemarin berdiri di samping mobil hitam di depan rumahnya beberapa langkah.
Scorpius. Dan tampaknya, ia juga menatap Lily. Ia menuju ke Lily. Hanya butuh tujuh langkah dari rumahnya, kini ia sudah di hadapan Lily dan Harry.
"Lily? Kak Harry?"
"Scorpy? Jadi kau tinggal di sini. Pantas saja, kau mirip dengan kakakmu." ucap Lily mengangguk.
"Kalian kakak-beradik? Tidak mirip. Hanya matanya saja yg persis." Harry menyungging senyum mendengar ketidaktahuan Scorpy.
"Aku mirip ayahku. Lily mirip ibuku. Hanya saja, mata ibuku mewarisi kedua anaknya ini, Scorp." Scorpius bersahut Oh.
"Scorpy! Cepat! Jangan sampai kau telat hanya gara-gara mereka." Draco tiba-tiba berkata pedas. Ia berdiri agak menjauh dari mereka bertiga.
"Maaf soal kakakku. Aku duluan ya." Scorpiuspun berbalik arah menuju kakaknya yang sudah memasuki mobilnya, dan iapun juga masuk mobil.
Harry yang melihat mobil hitam yang sudah melesat pergi, memasang wajah kesal. Berbeda dengan Lily yang tersenyum ringan. Tanpa basa-basi, mereka juga ikut melesat pergi. Tentu saja dengan sepeda.
O
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
O
Footnote:
Chapter 4 updated! Maaf, membuat kalian menunggu terlalu lama *digampar*
Terimakasih yang masih setia dengan fic absurd ini. Kalian semangatku, okay!
Mind to review ^_^
