"Sasuke, tunggu!" Derap langkah keduanya terdengar ke seluruh penjuru korridor yang sepi. Langkah Sasuke terhenti sesampainya di depan ruangan manager rumah sakit yang kemudian dibukanya hingga menimbulkan debaman keras. Menampakkan Sai yang tengah asyik menyesap minuman di mejanya.
"Ada perlu ap—"
Sasuke mencengkram kerah baju Sai hingga ia tercekik dan tak dapat bernapas dengan baik.
"Apa yang kau lakukan, brengsek?!" Ia lantas menghempaskan tubuh Sai ke lantai, pemuda pucat itu terbatuk lantaran kekurangan oksigen. Sementara Ino terdiam melihat kakak-beradik itu.
"Apa maksudmu?" Sai bertanya balik.
"Kau dan segala peraturan sialanmu itu membuat banyak pasien hampir mati! Ini yang kau sebut kepentingan perusahaan? Dasar bodoh! Ini hanya kepentinganmu sendiri!"
Sai terkaget dengan penuturan sang kakak.
"Kau pikir dengan mengusir seluruh pasien yang habis masa tunjangannya akan menguntungkan perusahaan? Dasar tidak punya akal sehat dan hati nurani!" Pekik Sasuke.
Ino terdiam.
"Asal kau tahu, kau bisa saja membuat dan menegakan peraturan bodohmu di sini tapi ingat, akulah pimpinanmu dan aku berhak mengeluarkanmu dari sini jika aku mau apapun alasanmu tak akan menjadi hambatan bagiku meskipun kau adik kandungku!" Sasuke meluapkan segala kekesalannya pada Sai.
Sai ciut, "a-aku—"
"Jika kau masih ingin berada di tempat ini, pakailah hati nurani dan akal sehatmu, bodoh!"
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke meninggalkan ruangan. Disusul Ino yang mengekorinya, sementara Sai mengintrospeksi dirinya sendiri.
"Ino ..." Panggil Sasuke yang berjalan cepat di depan Ino.
"Ya?"
"Segera siapkan operasi untuk pasienmu itu. Kau harus segera menyelamatkan nyawanya."
Ino hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sasuke.
"Tunggu apa lagi? Ini adalah perintah langsung dari pimpinan. Tak usah lagi kau hiraukan peraturan sialan mengenai tunjangan itu. Segeralah lakukan pembedahan!"
Ino tersenyum, "baik. Tapi—"
"Apa lagi?"
"Aku ingin kau yang menjadi asisten bedahku."
.
Alles is Lifde
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Seluruh peralatan bedah berikut ruangannya telah disiapkan, pun pasien telah siap dilakukan prosedur bedah. Tinggal menunggu dokter pengampunya saja. Sasuke sudah steril dan siap dengan pakaian serba hijaunya tengah melangkah menuju ruang pembedahan. Di depan ruangan tersebut Ino sudah menunggu, lengkap dengan setelan hijau khususnya.
"Ada yang mau kutanyakan padamu, Sasuke." Akua Ino mengilat, Sasuke tenang menunggu pertanyaan yang Ino maksud.
"Kenapa kau tiba-tiba saja memutuskan untuk mengoperasi pasien tanpa tujangan?"
Di balik masker bedahnya, Sasuke tersenyum simpul.
"Sudah tugas seorang dokter menangani pasien bagaimanapun kondisinya."
"Tapi—peraturan itu?" Ino agak ragu.
"Urusanku dan Sai. Kau tak perlu memikirkannya."
Ino terpekur kala Sasuke berjalan mendahuluinya hendak memasuki ruangan bedah.
"Tunggu apa lagi? Ayo laksanakan tugas kita!" Mendengar ajakan Sasuke, Ino menoleh dan menyusulnya memasuki ruangan.
.
Operasi berlangsung dengan baik, kondisi pasien perlahan mulai stabil dibanding sebelumnya. Ino sudah berada di depan ruang operasi dengan snelli-nya. Sasuke berjalan ke arah Ino.
"Kerja yang bagus, Ino. Kau dokter yang berbakat." Puji Sasuke.
Ino tersenyum simpul, "kau juga, terimakasih sudah bersedia menjadi asisten bedahku." Sasuke mengangguk lalu melirik jam dinding yang berada di depan ruangan bedah.
"Mau minum kopi denganku?" Ajak Sasuke.
Dokter berambut pirang itu mengerutkan keningnya, "tumben mengajakku minum kopi?"
"Mau atau tidak? Jika kau tidak mau, aku akan memaksamu. Aku sedang tidak menerima penolakan."
Ino mengedikkan kedua bahunya lalu terkekeh, "let's go."
Keduanya lantas berjalan menuju kafetaria milik rumah sakit.
.
Ino menyesap long black-nya, sementara Sasuke mengunci pandangan pada kopi miliknya yang sama sekali belum ia sentuh. Melamun.
"Kau kenapa? Ada masalah?" Tanya Ino sukses membuat Sasuke tersadar dari lamunannya.
"Tidak."
"Lalu?"
Pemuda tampan itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ada yang ingin kukatakan." Ino terdiam menunggu Sasuke membuka mulutnya. "Aku minta maaf."
Ino menelengkan kepalanya, "untuk?"
"Mengenai sikapku kepadamu sebelumnya. Aku tidak bermaksud seperti itu."
Gadis beriris sebiru lautan itu langsung mengerti maksud Sasuke, "aku paham. Aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar padamu."
"Kau pantas melakukan itu padaku."
"Ng?"
"Aku—semua orang tidak pernah ada yang bertindak seperti mu padaku sebelumnya, Kau berani menghardikku, mengatakan akalku dan hatiku sudah hilang ditelan bumi. Tapi karena itu, akhirnya aku sadar diamku selama ini terhadap peraturan yang telah Sai berlakukan justru akan membuat orang lain salah paham padaku."
Ino tersenyum, baru pertama kali ia mendengar Sasuke berterus terang panjang-lebar seperti ini.
"Pasien tunjangan yang waktu itu kita permasalahkan, sebenarnya sudah ku urus. Aku membawanya ke klinik pribadiku dan memberikannya perawatan intensif. Karena aku tahu, peraturan rumah sakit ini tidak dapat dibantah karena aku tidak memiliki wewenang untuk itu. Aku tidak pernah bermaksud menelantarkan pasien dengan tunjangan yang habis itu."
"Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku waktu itu?"
"Karena saat itu aku merasa aku tidak perlu menjelaskan, dan aku tidak mau ada orang lain ikut campur."
Ino terdiam mendengarkan Sasuke. "Lalu?"
"Perkataanmu waktu itu, membuatku berpikir banyak. Aku merasa bersalah karena tidak pernah memberikan penjelasan mengapa pasien dengan tunjangan itu kami keluarkan dan bagaimana nasibnya setelah itu. Saat aku memikirkan lagi semuanya, kali ini ada baiknya jika aku memberikan penjelasan agar orang lain tidak salah paham terhadapku."
Sasuke melirik Ino, "sekarang.. apakah kau masih berpikir bahwa hati dan akal sehatku sudah hilang ditelan bumi?"
Dokter bermarga Yamanaka itu tertegun sejenak, ia sama sekali tidak menyangka Sasuke ternyata melakukan hal yang sama sekali tidak diduganya.
"Tidak. Semua hal ini sudah cukup merubah pemikiranku terhadapmu, Sasuke."
Sasuke menghela napas lega, "syukurlah. Aku pikir kau membenciku." Ino tersenyum simpul.
"Awalnya iya, sekarang tidak." Ino melirik arloji miliknya yang sempat ia masukkan ke kantong snelli-nya, "sudah waktunya aku bekerja lagi. Terimakasih sudah mengajakku minum kopi, sampai jumpa!" Ia bergegas meninggalkan Sasuke yang masih termenung di tempat, memerhatikan kepergiannya.
Sasuke mengusap wajahnya, ia bersyukur sudah dapat memperbaiki hubungannya dengan Ino. Gadis itu berhasil mengubah sudut pandang dan pola pikirnya.
"Hn.. Yamanaka Ino.." Gumamnya.
TBC
