Disclaimer: I don't own Skip Beat!
Headnote:
Miko: gadis kuil di kuil shinto
Kagura-den: bangunan yang didedikasikan untuk Noh atau tarian kagura (awalnya merupakan tarian ritual yang dilakukan oleh miko yang dianggap keturunan Dewi Ame-no-Uzume, sekarang merupakan tarian-tarian ritual yang mengandung cerita legenda atau dewa-dewi shinto)
Otou-san: Ayah
Kekkai: sekat pelindung yang mengelilingi dan berfungsi melindungi suatu area dari kekuuatan supranatural, misal serangan yokai.
Honden: aula utama dalam kuil shinto, tempat tinggal kami (dewa, roh, atau kekuatan besar di alam yang dihormati dan dipuja), hanya dapat dikunjungi oleh pendeta dan orang-orang tertentu.
Haiden: oratori atau aula pemujaan, tempat para pemuja duduk dan melakukan pemujaan, bagian dari kuil shinto. Selain haiden dan honden, terdapat juga heiden dalam kuil shinto, berfungsi sebagai tempat sesajen dan orang untuk berdo'a kepada kami.
Shishinden: bagian dari Istana Dalam (Dairi) dalam Istana Heian (Daidairi) di Heian-kyo (ibukota Jepang pada masa Heian, sekarang disebut Kyoto). Tempat berlangsung upacara-upacara penting seperti penobatan kaisar dan pengangkatan putera mahkota.
Sakura Merah: disebut juga sakura darah karena warna bunganya yang lebih merah dari sakura kebanyakan. Ada kepercayaan bahwa sakura merah hanya bisa berbunga seperti itu jika tumbuh di atas mayat manusia.
Gerbang Surga
Bagian 04 : Sang Puteri, Kaisar, dan Ratu
Dua hari kemudian, Kyoko pulang lebih awal dari sekolahnya untuk mulai syuting Gate of Heaven. Ia mengendarai sepedanya langsung ke lokasi syuting di gedung Hayama. Gedung itu berjarak beberapa blok dari gedung Fuji, tempat dulu ia syuting Dark Moon.
Ia masih bisa bepergian dengan sepeda karena sepertinya, tidak ada seorang pun yang bisa menghubungkan Mio yang penuh harga diri dan fenomenal maupun Natsu yang karismatik dan sensual dengan sosok sederhana Mogami Kyoko. Yah, setidaknya saat ia sedang tidak marah.
Dan ia tak begitu keberatan dengan kondisi tersebut. Ia mencintai Mio dan Natsu. Itu benar. Dan setiap perilaku manusia selalu memiliki alasan—melihat pengalamannya dengan Mio, Setsuka Heel, dan Cain Heel. Sementara Natsu, ...yah, Nat-chan memang iblis kecil yang eksentrik. Nat-chan tak memerlukan alasan khusus untuk berbuat kejam.
Ia senang dan bersyukur atas pengalaman baru yang ia dapat dari peran-perannya. Bahkan peran-peran itu memberinya rasa bangga dan sedikit percaya diri saat ia melihat tanggapan orang-orang atas peran-peran itu. Jadi ia tak pernah keberatan untuk dihubung-hubungkan dengan mereka.
Tapi itu tak membuat Kyoko dapat membenarkan sikap dan perilaku jahat Mio dan Natsu, atau sikap tak peduli Setsu. Terlebih, ia masih bisa berkeliaran di tempat umum dengan bebas dan menggunakan kendaraan umum yang murah—atau lebih baik, bersepeda dengan gratis, sehingga ia bisa menabung untuk membeli kosmetik atau pakaian impiannya.
Jadi, ia cukup menikmati kebebasannya sekarang. Sebelum ia mencapai posisi tujuannya, aktris hebat, dan tak bisa merasakan lagi kebebasan yang sama—kebebasan yang hanya dimiliki aktris pemula. Amamiya pernah menyinggung hal itu. Walaupun mungkin, Kyoko akan lebih menikmati kebebasan untuk memerankan lebih banyak karakter. Ya, mungkin ia akan lebih menikmati hal itu.
Jadi, ia bersepeda dengan gembira, setidaknya sampai ia memasuki distrik tujuannya. Sebuah mobil terus-menerus menklaksonnya dan mengikutinya. Mobil itu menjajari sepedanya kemudian kaca jendelanya diturunkan, menunjukkan wajah mungil berbentuk hati.
"Kyoko-san!" Seyum lebar di wajah itu begitu ceria sampai-sampai hampir membutakan matanya. Untunglah ia sudah cukup 'berlatih' untuk menghadapi serangan sinar semacam itu dengan Tsuruga. Jadi ia hanya sedikit meringis dan berhasil meminggirkan sepedanya dengan selamat—yang, mengingat potensi penghancur—setidaknya bagi makhluk kegelapan seperti Kyoko—sinar itu, merupakan prestasi yang membanggakan.
"Haruka-san?" Kyoko menatap gadis itu dengan ragu. Sebelum ia memikirkan pertanyaan atau pernyataan apapun, aktris yang debut tiga tahun lalu itu membuka pintunya dan melangkah keluar.
Ke pinggir jalan umum yang ramai.
Di tengah distrik industri hiburan.
Yang dipenuhi fans dan groupies dari pagi sampai malam—dari sudut matanya, Kyoko dapat melihat beberapa dari mereka mulai menunjuk ke arah Yumeno.
Dan membuat Kyoko menjerit ngeri dalam hati.
Dengan secepat kilat, Kyoko menahan pintu itu, mendorong Yumeno kembali ke dalam, mendorong sepedanya ke kursi belakang, duduk di samping Yumeno, dan berteriak pada sopir untuk segera melanjutkan perjalanan. Semuanya hampir secara bersamaan.
Begitu mereka berhasil lolos dari fans dan groupies gila itu, Kyoko bernafas lega.
"Kyoko-san, ada apa?" tanya gadis itu dengan polos. Sopir mobil itu, yang ternyata adalah manajer Yumeno, menatap simpati dan penuh terimakasih kepada Kyoko melalui kaca spoin tengah. Kyoko melesak di atas kursinya.
Bener bener deh! Kyoko tak bisa mengerti kenaifan aktris itu akan ketenarannya ataupun posisinya sebagai pemenang penghargaan aktris terbaik. Yumeno Haruka tampak sama sekali tidak menyadari semua itu—hampir melebihi ketidak-sadaran Tsuruga akan posisinya. Hampir. Karena gadis itu tidak tertawa kegirangan sementara mereka mengebut, berusaha melarikan diri dari fans—Hal yang justru dilakukan Tsuruga saat Kyoko menjadi manajer penggantinya.
Yumeno Haruka bersikap terlalu ramah dan mudah menerima orang lain. Hal itu terlihat dari bagaimana ia sangat mudah mempercayai dan mengakrabkan diri dengan Kyoko. Ia juga bersikeras dipanggil Haru-chan walaupun Kyoko berprinsip untuk bersikap sopan dan memanggilnya Yumeno-san—seperti caranya memanggil semua seniornya.
Setelah perdebatan yang cukup panjang dan melelahkan, mereka menyetujui panggilan 'Haruka-san.'
Benar-benar tipe gadis manis, polos, hangat, penuh bakat, dan menimbulkan rasa ingin melindungi. Gadis yang sangat mudah dicintai dan sulit dibenci. Bahkan saat ini, Kyoko tak bisa merasa marah padanya. Tidak jika gadis itu menatapnya dengan tatapan polos dan benar-benar mengkhawatirkannya, benar-benar tak mengerti. Kyoko hanya bisa merasa sedikit kesal.
"Jangan keluar mobil di jalan umum. Terutama di distrik ini dan di dekat kantor agensimu."
"Kecuali kalau aku sudah ada di tempat parkir khusus yang aman," Yumeno menutup mulutnya, seakan baru menyadari kesalahannya, "Maaf, aku terlalu senang melihatmu. Aku ingin menyapamu dan ku pikir kita bisa pergi bersama. Aku tak sadar. Padahal Tsukasa sering memperingatkanku. Tepat seperti kata-katamu tadi."
Pisau rasa bersalah menancap di perut Kyoko.
"Mmm...anu...soal Kasuga-san...," Sebenarnya aku tak perlu merasa bersalah, yang menggiringku kan Kasuga sendiri! "Sebenarnya dua hari yang lalu...," tapi tetap saja, rasanya ada yang salah.
"Kau dan Tsukasa pergi ke Ise?"
Oh, hebat! Sekarang rasanya pisau itu mengaduk-aduk isi perutnya. Kyoko mengangguk pelan dan kaku.
"Ooh, Tsukasa sudah menceritakannya. Kalian ke Kuil Amateratsu Omikami-sama kan? Tempat itu memang sangat cocok untuk membangun karakter Kaneda Himeko. Spirit di sana terasa sangat kuat kan? Itu sangat membantu dalam menangkap kesadaran dan semangat seorang miko. Ku dengar kau bahkan masuk ke ruang arsip dan Kagura-den sehingga kau harus melakukan harai, upacara penyucian diri. Tidak ada aktris yang seserius dirimu sampai bersedia melakukan semua itu. Aku juga pernah ke sana. Tapi itu hanya karena semua keluarga Kasuga pernah ke sana."
"Semua keluarga Kasuga?"
Yumeno tersenyum samar. "Yumeno Haruka hanya nama panggung. Namaku Kasuga Haruka."
Kyoko berkedip. Apakah ia benar-benar melihat ekspresi sedih dan terluka di wajah Yumeno? "Kalian... kakak-beradik? Bukan... berpacaran?"
"Kau pikir kami begitu?" Wajah Yumeno merona. Ia tersenyum malu dan berkata,
"Sebenarnya kami bukan kakak beradik sungguhan. Saat usiaku enam tahun, aku dan Tsukasa diangkat anak oleh keluarga Kasuga sebagai kakak-beradik. Tsukasa bilang, ayahku orang Skotlandia, sedangkan ibu Tsukasa orang Inggris. Ibuku dan ayahnya kakak beradik dan merupakan keluarga jauh klan Amagami. Jadi begitulah." Ia mengedikkan bahu.
"Oh." Baiklah, itu bukan tanggapan yang cerdas.
Tapi penjelasan Yumeno menjelaskan warna mata dan kulit mereka, bagaimana tulang hidung yang terlalu jenjang untuk ukuran orang Asia malah terlihat bagus di wajah mereka, dan kebiasaan mereka mengedikkan bahu. Selain itu, sejak berpisah dengan Kuu-otou-san, Kyoko belum pernah lagi bertemu blasteran manapun. Ditambah lagi, ternyata di dunia nyata ada pasangan kakak-beradik yang seaneh Setsuka dan Cain Heels—Walaupun mereka hanya saudara sepupu. Omong-omong, ia merindukan Kuu-otou-nya.
Kyoko menggelengkan kepalanya dalam hati. Memfokuskan pikirannya.
"Eh, ... ehm," Kyoko berdeham, "Kau tak marah karena aku dan Kasuga pergi berdua saja ke Ise?"
"Oh, aku sedikit cemburu," aku Yumeno dengan malu-malu. "Tapi aku mengerti. Aku bisa membayangkan ia menyeretmu ke sana karena ia tak puas dengan interpretasimu tentang Kaneda Himeko. Jangan salah paham. Menurutku, kau aktris yang bagus. Tapi Kasuga sangat perfeksionis dan bisa sampai ke tingkat menjengkelkan. Dan dia bisa sangat terobsesi. Dia sulit dihentikan jika sudah memutuskan sesuatu. Belum lagi kau kan sudah punya Sang Tsuruga Ren! Aku melihat cara kalian saling menatap. Seakan hanya ada kalian berdua di dunia ini."
Yumeno menepuk tangannya dengan penuh mimpi romantis. Wajah Kyoko pucat pasi. Sebelum mengenal Tsuruga dengan baik, ia pasti akan marah atas tuduhan Yumeno padanya. Setahun yang lalu, ia akan masuk ke labirin penyangkalan karena betapa tidak masuk akalnya tuduhan itu. Bahkan bulan Februari lalu, ia masih bisa meringis dan ketakutan.
Tapi sekarang, ia merasakan teror murni yang sangat nyata. Ia berusaha mengabaikannya selama beberapa minggu terakhir ini, tapi pernyataan Yumeno mengingatkannya akan hal itu.
Setelah memerankan Setsuka Heel sebulan yang lalu, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah antara dirinya dengan Tsuruga. Perubahan itu terjadi tanpa mereka sadari dan tak bisa diperbaiki saat mereka menyadarinya. Rasa percaya dan kedekatan diantara mereka sudah melebihi senior-junior. Tapi kata 'pertemanan' terasa salah untuk mendeskripsikannya.
Dan semua itu terasa manis, hangat, dan nyaman. Ia tahu, itu bukan 'c' yang itu—semuanya terasa sama tapi berbeda dengan Shotaro. Tapi itu tak bisa disangkal. Dan nyata.
Terlalu nyata. Dan itulah yang mengirimkan serbuan rasa dingin di sepanjang tulang punggungnya. Juga membuatnya merasa frustrasi.
Ia ingin menyangkalnya. Mengatakan, Oh, itu kan tuntutan skenario, atau semacamnya. Hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Membuat dirinya merasa aman. Tapi itu akan membuat Haruka khawatir. Ia merasa bahwa Yumeno akan mencurigainya ingin merebut Kasuga—yang tentu saja tidak benar—lalu membencinya jika tidak mengiyakan tuduhannya. Kebencian wanita karena cinta bukanlah hal yang ingin dia hadapi untuk saat ini.
Dilema. Dan Kyoko yakin bahwa kebingungannya tampak jelas di wajahnya karena Yumeno menatapnya dengan khawatir. Lagi.
"Haru-chan, Kyoko-san kita sudah sampai," kata manajer Yumeno. Kyoko langsung mendesah lega saat Yumeno sibuk membereskan barangnya dan bersiap keluar dari mobil. Kyoko juga segera bersiap untuk keluar dan menurunkan sepedanya.
Untuk saat ini, ia sudah cukup bersyukur karena tak perlu memikirkan dilema yang itu.
-0-0-0-
"Kau benar-benar meninggalkan Ise dan mengikutinya ke Tokyo," komentar Tsukasa.
Seekor yokai bertubuh ramping melayang di hadapannya. Ia memiliki tiga ekor berbulu tebal yang berwarna jingga lembut, sama seperti rambutnya, dan berujung putih bersih. Ia memperhatikan seorang gadis berambut tembaga turun dari sebuah mobil.
"Ikiryo-nya menarik terlalu banyak yokai kegelapan. Bahkan setelah ia melakukan harai. Tak masalah jika ia selalu bisa mengendalikan mereka. Tapi saat ia melepas mereka, mereka bisa mengundang yokai kegelapan ke dalam kekkai terkuat—seperti di Kuil Ise—sekalipun," kata yokai itu.
"Kalau begitu, mengapa kau meninggalkannya sebelas tahun yang lalu?" tanya Tsukasa.
Yokai itu melirik Tsukasa dengan matanya yang berwarna kuning. Mata itu berkilat-kilat menyerupai lelehan magma. Ketiga ekornya bergoyang dengan anggun dan mengancam.
"Dan mengapa kau menginginkan kekuatan yang bukan hakmu?" Rasa jijik tergambar jelas melalui suara dan sikap tubuhnya.
Di balik senyum santainya, Tsukasa menyembunyikan amarah dan kegugupannya. Marah karena ia sudah cukup banyak menerima rasa jijik dan hinaan akibat tak memiliki kekuatan spiritual apapun. Dan gugup karena ia tak pernah ingin ada yang tahu bagaimana—atau lebih tepatnya, dari siapa ia mendapat kemampuan kotodama.
Kedua pertanyaan itu memiliki banyak jawaban berbeda. Tapi ada satu jawaban yang sama diantara jawaban-jawaban itu. Jawaban itu berhubungan dengan seorang pria yang sehangat matahari. Seorang pria yang meninggal sebelas tahun yang lalu.
"Kekuatan itu memungkinkan aku memberi perintah absolut. Bahkan kepada yokai berusia ratusan tahun sepertimu. Dan aku bahkan tak perlu tahu nama sejatimu. Untuk kekuatan sebesar itu, aku siap menanggung harga yang harus ku bayar." Kemampuan ini juga berlaku untuk manusia, hewan, dan benda apapun, tapi Tsukasa tak mengucapkan bagian terakhir itu.
"Tapi kau tak akan pernah bisa membayangkan, seberapa besar harga yang harus kau bayar untuk membengkokkan hukum alam." Yokai itu memperingatkan untuk terakhir kali sebelum ia mengikuti aktris bermata madu yang sejak tadi ia perhatikan.
Tsukasa menyetujui pendapat itu. Ia telah merasakan bagaimana kotodamanya mengerogoti kekuatan mentalnya. Tapi ia telah bertekad untuk menanggung akibat sebesar apapun jika itu berarti bisa melindungi Haruka dari kebusukan Amagami dan membalaskan dendam Kyoshiro. Ia juga telah berjanji untuk tidak dikalahkan oleh konsekuensi dari kotodamanya. Dan ia berniat untuk menepati janji itu—janji antara dirinya dengan seorang gadis egois yang selalu berusaha menyembunyikan perasaannya. Agar gadis itu tetap di sampingnya.
-0-0-0-
(Yurika berjalan menyusuri koridor menuju kamar Himeko.
Sebenarnya, Yurika dan Himeko bukanlah nama asli mereka. Itu merupakan nama miko mereka. Sebagaimana para puteri lainnya yang dipersembahkan ke kuil, mereka tak memiliki nama pemberian orang tua. Bahkan mereka tak memiliki hak untuk menggunakan nama keluarga.
Namun, sejak kecil, kedua gadis itu menunjukkan kekuatan spiritual yang sangat besar sehingga berhak menggunakan nama kuil, 'Kaneda', sebagai nama keluarga mereka.
Tapi Himeko berbeda, ia selalu berbeda dari miko manapun. Selain kekuatan spiritual yang sangat besar, ia memiliki karisma yang dibutuhkan seorang miko tertinggi. Sehingga sejak kecil, ia diharapkan dan dididik untuk menjadi miko tertinggi kuil Kaneda.
Yurika menemukan Himeko berdiri di balkon kamarnya, sedang menatap taman di hadapannya. Saat itu musim semi, aroma manis dan lembut sakura bercampur dengan aroma samar daun, air, dan tanah yang segar.
Yurika mengirim semua pelayan ke luar kamar dengan satu tatapan.
"Melihat sakura merah lagi?" komentar Yukari setelah mereka hanya tinggal berdua. Ia mengamati lantai balkon yang dipenuhi kelopak sakura berwarna merah muda pekat—terlalu pekat karena sakura normal berbunga merah muda pucat, hampir putih. Angin masih menerbangkan kelopak sakura baru ke balkonnya.)
Kyoko terus menatap pohon sakura di hadapannya. Ia menunduk dan diam-diam menarik nafas. Dalam pemunculan pertama ini, ia harus menegaskan kesan bahwa Himeko adalah seorang ratu atau dia gagal memerankan Himeko yang ingin disampaikan oleh Kasuga. Ia akan gagal sebagai aktris.
Ia memang tak pernah melihat langsung pembawaan seorang ratu yang sesungguhnya atau pembawaan miko tertinggi. Tapi, kunjungannya ke Ise membuatnya mengerti kebanggaan, tanggung jawab, dan kehormatan seorang miko. Dan ia mengenal seseorang dengan pembawaan semacam itu. Sangat mengenalnya. Seseorang itu ia panggil sebagai ibu.
("Aah," jawab Himeko tanpa berpaling, "Tidakkah kau menemukan banyaknya persamaan antara manusia dan bunga sakura?"
Himeko terdiam beberapa saat, seakan menunggu jawaban. Kemudian ia berbalik dan menatap Yurika, membuatnya sedikit tersentak akibat rasa terkejut—atau takut?—dan memberinya dorongan untuk berlutut. Tapi Yurika berhasil menolak dorongan itu dan hanya sedikit meringis.
Sikap tubuh Himeko penuh dengan harga diri dan kuasa—atas orang lain dan dirinya sendiri. Dihiasi pembawaan arogan, simpati secukupnya, dan tanpa belas kasih. Ditambah tatapan yang tidak menerima bantahan. Tapi begitu anggun dan agung.
"Mereka sama-sama lambang dari kefanaan. Usia yang pendek untuk menunjukkan keindahannya. Setidaknya, di jaman penuh konflik seperti sekarang ini." Ada ketidak-setujuan dan cemooh dalam kata-katanya. Tapi Himeko mengucapkannya tanpa emosi, seakan sekadar membicarakan cuaca.
"Yagaru-sama meminta kehadiranmu di Honden," kata Yurika begitu ia mendapatkan kembali kendali dirinya. Yagaru adalah guru semua miko muda, kepala dari para tetua.
"Yang Dipertuankan Perdana Menteri Kiri." Himeko mengumumkan klien yang akan ia temui di Honden. Melalui tatapan mereka, Yurika tahu bahwa Himeko telah meramalkan kunjungan ini dalam mimpinya. Yurika mengangguk, mengiyakan.
Himeko kembali menatap sakura merah tanpa membalik tubuhnya. Sehingga Yurika dapat melihat profil wajahnya dari samping.
"Sepertinya, sakura merah akan mekar di Shishinden," Kelopak mata Himeko sedikit turun, menyembunyikan bola matanya dengan lembut ke balik bulu matanya yang rapat. Menyembunyikan seluruh ekspresi yang tersisa dari wajahnya.
"Kau tak tahu siapa yang ingin disingkirkan Fujiwara no Daiounji no Yotsuhisa?" Yurika menyebut gelar sang Perdana Menteri Kiri. Rasa terkejut tergambar jelas dalam nada suaranya.
"Lebih mudah melihat pengaruh kematian Arahiko no Ni no Miya terhadap perguliran kekuasaan di kekaisaran ini daripada melihat di mana darah beliau ditumpahkan atau tubuh beliau dikuburkan."
Arahiko no Ni no Miya adalah pangeran kedua, saingan utama pangeran ketiga yang didukung Perdana Menteri Kiri setelah kematian putra mahkota.
"Miya...-sama...?" Suara Yurika tercekat di tengorokannya. Yurika tak pernah bertemu langsung dengan sang Pangeran. Tapi ia banyak mendengar kisah tentang prestasi Miya-sama yang membuatnya dikagumi dan disukai banyak pejabat dan abdi istana. Rasa kagumnya semakin bertambah setelah ia melihatnya melintasi sando ke haiden musim gugur lalu.
Yurika tahu bahwa Himeko mengamati reaksi dan ekspresi wajahnya. Mungkin menikmati semua itu. Tapi ia tak bisa mempedulikan hal itu lebih dari keselamatan Miya-sama.
"Apakah kau akan mencegah mereka membunuhnya?" Harapan melayang-layang tak pasti di hati Yurika. Bagaimanapun, yang dihadapinya adalah Himeko.
"Haruskah?" Himeko kembali menatap Yurika. Tatapan matanya tak dapat dibaca. "Aku memang bosan melihat mayat, dengan atau tanpa darah, berkeliaran dalam mimpiku. Berakhirnya perang panjang tahun lalu bahkan tak terlalu mempengaruhi hal itu. Dia hanya akan menjadi satu dari sekian banyak."
"Dia pangeran." Yurika menggertakkan giginya, tak menyetujui pandangan Himeko.
"Dan sudah menjadi tugasku untuk memastikan Kaneda memiliki pengaruh terbesar dalam pemerintahan." Yang berarti ia akan melakukan apapun—termasuk membantu Perdana Menteri Kiri—jika itu perlu dilakukan. Dan Himeko membiarkan pikiran itu tercermin di matanya, tersampaikan dengan jelas pada Yurika.
Lalu ia melintasi kamarnya menuju koridor panjang yang langsung menghubungkan kamarnya dengan Honden. Seakan sebelumnya mereka hanya membicarakan tentang dekorasi kamar atau kue manis untuk menemani upacara minum teh—bukannya rencana pembunuhan seorang pangeran oleh seorang perdana menteri.
Setelah Himeko keluar dari kamarnya, Yurika mendongkakkan kepalanya. Matanya menyipit menahan air mata frustrasi, berpura-pura menatap satu titik di langit-langit. Tubuhnya gemetar dan kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Ia menghela nafas panjang dan berat, kemudian mengikuti Himeko.)
"Dan, CUT!" teriak sutradara Aoyama dari sisi panggung. "Kerja bagus, anak-anak! Kemarilah! Kita akan memeriksa hasil rekamannya untuk memutuskan adegan mana yang perlu diulang untuk mendapat sudut yang lebih baik."
Kyoko dan aktor lainnya berkumpul di depan monitor kecil yang memutar adegan tadi.
"Saat kau menatap Yurika untuk pertama kalinya, Kyoko-kun, itu sangat bagus. Entah kenapa rasanya lebih pas dan kesannya lebih kuat daripada kesan saat pemotretan. Memang agak beda dari saat kita latihan membaca naskah minggu lalu, tapi Haru-chan, improvisasimu sangat mengagumkan," bahas Aoyama
Kyoko dan Yumeno mengucapkan terima kasih atas tanggapan itu sebelum salah satu asisten Aoyama meneruskan,
" Sayangnya, sudut yang kita dapat kurang bagus untuk menangkap ekspresi kalian."
"Benar. Kita akan mengulang adegan itu, saat Himeko menyembunyikan ekspresinya, dan adegan solo Yurika. Kita perlu meng-close-up ekspresi kalian," kata Aoyama.
Setelah beberapa arahan, para make-up artis segera menghampiri para pemain untuk memeriksa penampilan mereka dan memperbaikinya jika perlu. Sementara staff panggung dan pencahayaan mengecek kembali semua kelengkapan, tampilan artistik, dan keamanan setting.
Kemudian, mereka pun mengulang adegan-adegan tersebut.
Menjelang jam empat sore, Tsuruga sampai di lokasi syuting. Yang mengejutkan, ia datang bersamaan dengan Tsukasa. Mereka langsung menghampiri Aoyama, Kyoko, Yumeno, dan yang lainnya, yang sedang mengamati adegan dalam Honden—saat Himeko bersama semua miko tinggi menerima kunjungan Perdana Menteri Kiri—setelah Aoyama memanggil mereka untuk bergabung.
Pada adegan itu, Himeko meminta sang perdana menteri untuk menunggu sampai bulan baru selanjutnya. Baik Himeko maupun sang perdana menteri duduk di balik tirai sementara para miko muda dan abdi perdana menteri duduk di luar tirai.
Tsukasa mengamati adegan itu dengan wajah datar. Saat matanya dan Kyoko beradu, ia menyeringai. Kyoko dapat melihat rasa terhibur menari di matanya. Dan jantung Kyoko kehilangan satu ketukan dalam ritmenya.
Tidak, tidak. Jangan singgung soal Ise. Jangan di depan Tsuruga. Kumohon, tutup mulut playboy itu, do'a Kyoko dalam hati.
Setelah malam syukuran Dark Moon, satu hal yang sangat jelas bagi Kyoko: Tsuruga tidak bisa mentoleransi sikap ceroboh juniornya dalam hubungan pria-wanita. Terutama jika juniornya itu adalah wanita. Ia mengerti maksud baik Tsuruga untuk mencegahnya terlibat skandal. Bagaimanapun, posisinya sebagai aktris pemula masih terlalu lemah untuk menghadapi skandal.
Selama produksi B.J., hal itu diperparah perannya sebagai kakak yang mengidap sister-complex kronis. Lebih dari dua kali, ia melihat sikap over-protektif dan super-posesif Cain saat Setsu didekati pria, bahkan saat mereka tidak sedang memerankan Cain dan Setsu. Setiap kalinya, ia melihat kilasan Raja Setan atau Kaisar Malam. Cukup menyiksa untuk membuat Kyoko bersumpah tak akan lengah terhadap pendekatan pria mana pun.
Sepertinya, do'a Kyoko terjawab karena Tsukasa malah tenggelam dalam diskusi dengan Aoyama.
-0-0-0-
"Himeko-mu lebih bagus daripada saat kita membaca naskah," komentar Ren.
Mogami berpaling menatapnya, "Benarkah?" tanyanya penuh semangat. Ren tersenyum dan mengangguk.
"Iya. Aku tak sabar untuk segera berhadapan langsung dengan Himeko-mu," jawab Tsuruga dengan tulus. Senyum cerah dan lebar terkembang di wajah Mogami. Pipinya bersemu akibat rasa senang dan malu-malu. Seakan memenuhi harapan Ren adalah tujuan hidupnya.
Ren meringis. Seandainya gadis itu tahu betapa besar pengaruh ekspresi itu pada dirinya, tubuhnya, terutama hatinya. Seandainya gadis itu tahu apa yang ia harapkan darinya saat ini. Gadis itu pasti akan lari ketakutan menjauhi dirinya. Padahal seharusnya, ia bertugas untuk memerankan Sakuragi Kyoshi sebagai aktor profesional dan melindungi gadis itu dari Amagami.
"Apakah...apakah kau lebih menyukai Himeko yang ini?" tanya Mogami penuh harap. Ia menatap Ren dengan lurus dan mata yang jernih seakan jawabannya berarti segalanya bagi gadis itu. Dan sesuatu dalam diri Ren terlepas. Ia sudah terlalu lama menahan diri. Ia bahkan menahan diri saat sesi pemotretan mereka bersama.
Ia tahu Yashiro mengawasi mereka dengan mata penuh mimpinya. Ia bisa merasakan senyum lebar konyolnya tanpa perlu melirik wajahnya. Hanya dengan diam terpesona pada makhluk mungil dihadapannya, ia yakin telah menambah daftar panjang 'sikap bodoh Tsuruga Ren menyangkut Mogami Kyoko'. Ia dapat membayangkan Yashiro dengan senang hati menambahkan kejadian ini pada daftar itu.
Tapi, demi Tuhan, ia sudah tak peduli. Ia bahkan tak bisa memikirkannya. Sesuatu dalam cara gadis itu menatapnya dan cara matanya berbinar menghentikan kerja otaknya.
"Tentu saja...," jawab Ren dengan senyum menggoda, tak membuang waktunya dengan senyum pangeran yang sopan.
Semua emosi meninggalkan wajah Mogami. Ren tahu gadis itu merasakan bahaya kemudian mulai panik. Tapi ia tak akan membiarkan Mogami lolos begitu saja sementara ia sendiri tersiksa karena gadis itu.
"...aku sangat suka..." Ia tahu dengan jelas bahwa ucapannya bermakna ganda. Ren mengelus pipinya dengan punggung telunjuknya, menyelipkan anak rambut yang liar ke belakang telinganya. Kemudian membelai garis rahangnya. Tatapannya mengikuti gerakan jarinya kemudian mengelus bibirnya sementara jarinya berhenti di bawah dagunya. Gadis itu gemetar di bawah tatapannya.
Dan Ren berharap, gadis itu gemetar dengan alasan yang sama sekali berbeda. Sementara mereka berada di tempat lain. Dalam situasi yang sangat berbeda. Semuanya tak berhubungan dengan akting. Semuanya berhubungan dengan mereka berdua. Hanya mereka berdua.
Sorot tak pasti di mata madu gadis itu melenyapkan sihir apapun yang mengikat Ren. Otaknya kembali bekerja. Ia pasti sudah membiarkan pikirannya tercermin di matanya. Dan membuat gadis itu ketakutan. Dengan sekuat tenaga, ia menarik diri dari Mogami.
"...Himeko-mu akan jadi lawan yang menarik untuk Kyoshi-ku," dengan susah payah ia mengatakan hal itu dengan nada menantang. Sementara hatinya berkata, Aku menyukaimu. Aku menyukaimu. Aku menyukaimu.
Mogami cemberut. Mata emasnya menyipit. Ia pasti akan menuduhnya playboy dan menceramahinya lagi tentang sikap sopan orang Jepang dan sikap profesional. Seakan Ren bermaksud menjadi playboy dan tidak bersikap seperti aktor Jepang profesional saja!
Tapi jika yang dituduhkan Mogami benar, itu hanya karena kesalahan gadis itu sendiri. Kenapa gadis itu harus begitu manis? Bahkan sekarang, saat ia sedang cemberut?
Dan ia pasti akan mencium bibir kecilnya itu untuk menghentikan ceramahnya. Seharusnya gadis itu menciumnya—yang pasti akan lebih efektif—daripada mengkuliahinya. Efektif untuk apa? Dia tak ingin memikirkannya lebih jauh. Tidak dengan situasi seperti sekarang. Jadi, untuk mencegah hal itu, ia menimpali ceramah Mogami tanpa melihat ke arahnya.
Untunglah Aoyama sudah memutuskan adegan mana yang perlu direkam ulang. Mogami kembali ke panggung, sementara Ren mengganti kostumnya.
Setelah ini, ia akan melakukan adegan saat ia menyelinap ke depan kamar Himeko dan bertemu dengannya sebagai Sakuragi Kyoshi. Kemudian lompat ke adegan saat Himeko pertama kali menerima kunjungannya ke Honden sebagai Arahiko no Ni no Miya yang dilanjutkan dengan perdebatannya dengan Himeko di Honden—tentu saja dari balik tirai.
-0-0-0-
Menjelang tengah malam, Kyoko mondar-mandir di ruang gantinya. Ia masih menunggu di sana walaupun pengambilan gambarnya selesai setengah jam yang lalu. Sesekali ia berhenti, berbisik kepada diri sendiri, lalu berteriak, menangis, dan menggeram pelan.
Tsuruga Ren sudah tahu. Kyoko tak tahu bagaimana seniornya itu mengetahuinya. Tapi Kyoko yakin bahwa Tsuruga, entah bagaimana, sudah mengetahui tentang perjalanan ke Ise.
Pasti. Karena satu-satunya alasan lain yang mungkin membuatnya marah adalah kejadian di ruang gantinya pada hari pemotretan. Tapi hari itu, Tsuruga bersikap biasa di luar sikap diamnya. Ia bahkan sudah bersikap ramah kepadanya pada hari pembacaan naskah.
Kyoko memang ketakutan karena sikap diam Tsuruga. Tapi bukan karena mencurigai sikap diam itu sebagai amarah. Lagipula, tak satupun ikiryo-nya merasakan kemarahan dari Tsuruga saat itu. Dia hanya takut Tsuruga akan terus mendiamkannya seperti itu. Seakan dia tak ada.
Ia bahkan sempat berpikir bahwa sikap marahnya lebih baik daripada sikap diamnya. Setidaknya itu berarti sesuatu. Itu berarti Tsuruga menanggapi keberadaannya.
Tapi tetap saja. Saat Tsuruga mengeluarkan senyum Kaisar Malam-nya, Kyoko tahu ada yang salah. Tsuruga terus melancarkan godaannya walaupun telah melihat ia panik. Ia hanya berhenti saat Kyoko diliputi perasaan tak jelas yang membuatnya ketakutan. Perasaan tak jelas yang berhubungan dengan gelenyar hangat di dadanya dan tungkai yang mati rasa.
Jadi, Tsuruga pasti berniat menghukumnya dengan kemunculan Kaisar Malam. Itu berarti Tsuruga marah kepadanya. Dan tak ada alasan lain yang lebih masuk akal selain perjalanan ke Ise.
Kyoko kembali mondar-mandir di ruangannya dengan gelisah. Sesekali ia membuka pintunya dan mengintip ke ujung koridor. Berharap melihat Tsuruga melintas dari studio ke ruang gantinya.
Ia bertekad akan menjelaskan kejadian itu kepadanya kemudian meminta maaf karena telah menyembunyikan hal itu darinya. Ia juga akan menambahkan pendapat Yumeno untuk meredam kemarahannya.
Wajah Kyoko bersemu. Tidak, tidak, ia tak akan menyebutkan komentar Yumeno tentang hubungan mereka. Itu hanya akan membuat Tsuruga bertambah marah. Ia tak ingin menambah sesi pertemuan dengan Kaisar Malam. Tidak, terima kasih.
Membayangkan harus menghadapi Kaisar Malam membuat Kyoko gemetar dan menggulung ketakutan seperti tupai kecil.
Kemudian ia mendengar langkah kaki dan suara yang menyerupai suara Tsuruga dari arah ujung koridor. Kyoko segera merangkak ke pintu. Ia menelan ludah sebelum mengintip ke balik pintu.
Tidak ada siapapun di sana. Kyoko berdiri kemudian membuka pintunya lebar-lebar. Ia berlari ke ujung koridor dan tak menemukan siapapun di sana. Pintu ruang ganti Tsuruga masih tertutup. Dan dari celah jendela di atas pintu, Kyoko tahu lampu di ruangan itu masih padam.
Kyoko menghela nafas dan kembali ke ruangannya. Saat memasuki ruangannya, ia merasakan angin dingin menyapu tengkuknya. Kyoko berbalik sambil mengelus tengkuknya untuk mengusir rasa dingin. Ia melihat ke atas dan menemukan AC ruangannya di-set pada temperatur terendah .
Kyoko melintasi ruangan dan mengambil remote control untuk menaikkan temperatur AC. Kemudian setetes cairan dingin menetes ke pipinya. Kyoko mendongkak dan melihat darah menetes dari langit-langit kamarnya.
"Kau tertangkap," geram sebuah suara yang dalam seakan teredam sesuatu dari bawah kakinya sementara Kyoko merasakan benda berlendir, dingin, dan menjijikkan mengelus kakinya.
Kyoko menunduk. Benda itu melingkari dan mencengkram pergelangan kakinya dengan batang-batang yang menyerupai jemari yang membusuk. Di samping benda itu, terbuka lubang tipis menyerupai seringai dengan gigi-gigi tajam. Di antara rambut hitam berantakan, sepasang mata ungu gelap menatap langsung ke mata Kyoko.
Mata Kyoko terbelalak.
AN/: Hehe, first cliffhanger end.
Perubahan rencana dalam urutan kejadian. Gimana pun, fic ini bergenre romance. Kalo ga gini, bisa-bisa aku bakal menerlantarkan bagian romance dari fic ini.
Tapi, Kyoko bakal tetep bertemu lagi ama Yui kok! Adegan dari yang udah aku janjiin di bagian 03 bakal tetep ada. Tapi akan ada kejadian-kejadian penting lainnya di antaranya. Jadi sabar aja.
Voidy: Makasih udah nge-review juga atas pujiannya *blush* Genre fic supranatural yang aku pake di fic ini ngga cuma mengacu sama setan. Banyak kekuatan-kekuatan aneh yang aku definisikan sebagai supranatural di fic ini. Dan, ya, Kyoko di fic ini agak beda dari Kyoko original terutama dari awal-awal Skip Beat! Aku mengembangkan Kyoko ini dari chapter terakhir Skip Beat! yang kubaca (177) dan aku akan berusaha agar Kyoko ga terlalu OOC.
Aku akan berusaha menyelesaikan fic ini. Dukungan dan pembaca yang menunggu lanjutan fic akan menjadi bahan bakar yang sangat berarti buat semangatku. Jadi aku selalu menyambut review dari kalian.
Terakhir, Happy Independent Day! Dirgahayu HUT NKRI ke -66. Dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
Dengan tulus,
E.C.
