Pamanku Ganteng Sekali
Naruto? Kishimoto-sama masih belum merelakannya pada orang lain .-,-
Fic ini? Ay^^
Halaman 4
.
Kebenaran
Sakura melepaskan pelukannya kepada Sasuke. Ia mengadahkan wajahnya, menatap kedua mata Sasuke yang berada lebih atas darinya. Sebuah senyum tulus terukir di sudut-sudut bibir Sakura. "Terima kasih, Sasuke-kun."
Sasuke balas tersenyum simpul. "Hn," kata Sasuke. "Pulanglah, sudah malam. Biar kuantar."
Sakura mengangguk. Kini mereka berjalan beriringan menuju rumah Sakura. Sasuke berjalan di sisi Sakura sambil meletakkan kedua tangannya di dalam saku celananya. Sesekali ia melirik Sakura di sebelahnya. Sakura nampak beberapa kali menggosok-gosokkan kedua tangannya, berusaha mengusir dingin yang mulai menjalari permukaan kulitnya.
"Pakailah," kata Sasuke. Ia membuka jaket yang dikenakannya dan menyampirkannya pada bahu Sakura.
"Eeh?" Sakura nampak sedikit terkejut. "Mmm... terima kasih, Sasuke-kun." Sakura mulai memakai jaket yang Sasuke berikan. Sasuke hanya melihatnya, walau segaris senyum simpul tertera di sudut bibirnya.
"Hn."
Kegemingan melanda perjalanan mereka. Hanya suara jangkrik-jangkrik yang kadangkala terdengar di kesunyian malam di antara mereka. Sakura berkali-kali berusaha membuka pembicaraan dengan Sasuke, hal ini terlihat dari beberapa kali mulutnya terbuka dan tertutup kembali sebelum mengeluarkan suara sedikit pun. Ia sama sekali tidak menemukan topik yang sesuai untuk diperbincangkan kala ini. Sasuke tersenyum melihat usaha keras Sakura yang nampaknya tergambar jelas di raut wajahnya.
"Kau sudah makan?" tanya Sasuke.
"Eh? Itu, maksudku sudah. Kau?" Sakura nampak gugup. Ini kali pertama mereka kembali berjalan bersama-sama sejak hubungan mereka berakhir. Meski Sasuke selalu bersikap seolah-olah tidak pernah putus darinya, Sakura dapat merasakan hubungan mereka yang merenggang. Namun tidak ia rasakan kali ini. Saat ini, ia merasa seperti baru pertama kali bertemu Sasuke dan ada degupan aneh di jantungnya yang serasa dipacu berdegup lebih kencang ketika berada di samping Sasuke.
"Hn, aku sudah makan," jawab Sasuke.
Sakura merentangkan kedua tangannya. "Hahhh~~~! Udara malam hari di Konoha ternyata segar juga ya?" Gadis berambut merah jambu itu menggulung lengan jaket yang dipakainya sebatas siku, mendekatkan kedua lengannya ke pipinya. "Brrr... dingin," katanya.
Sasuke menaikan sebelah alisnya. "Baka! Kau bisa sakit kalau begitu, Sakura!" Ia menarik kedua tangan Sakura yang masih menempel di pipi Sakura, ia turunkan lengan jaket yang dipakai Sakura hingga menutupi kedua tangan gadis itu secara sempurna.
"Eeeh? Sasuke-kun! Apa-apaan, sih!" ucap Sakura ketus. Namun sebagian hatinya menghangat menyadari perhatiaan Sasuke.
"Kau bisa sakit!"—Sakura tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" tanya Sasuke.
Sakura masih tersenyum ketika menjawab, "entahlah... Ne, Sasuke-kun, apa yang kaurasakan saat ini?" Sakura berhenti dari jalannya. Kini gadis itu menatap kedua mata hitam Sasuke dengan lekat.
Sasuke ikut menghentikan langkahnya dan balas menatap kedua bola mata kehijauan milik Sakura. "Hn?"
"Oh, ayolah, Sasuke-kun, biar aku sudah paham arti 'hn' milikmu, tapi aku lebih suka kaujelaskan 'hn'mu itu dengan kata atau mungkin kalimat yang lebih jelas," cibir Sakura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau sudah tahu arti 'hn'ku kenapa kautanya lagi," kata Sasuke. Ia kembali melanjutkan jalannya meninggalkan Sakura di belakanganya.
Sakura berusaha mensejajarkan kembali dirinya dengan Sasuke. "Tunggu, Sasuke-kun!" Gadis itu kini berdiri di hadapan Sasuke, merentangkan kedua tangannya, memblokir laju Sasuke. "Jelaskan!" pinta Sakura sambil menatap serius ke arah Sasuke.
Sasuke menghela napasnya. Ia takut jika ia menjelaskan semuanya, maka tidak akan ada lagi Sakura di sisinya, ia tak ingin menghapus eksistensi gadis berambut sewarna bunga sakura itu dari kehidupannya, ia tak peduli jika ia terus terjebak pada ketidakpastian hatinya, ia hanya tak ingin kehilangan gadis itu. Walau ia tak tahu sebagai apa?
"Sasuke..."
"Apa?"
"Apa yang sekarang kaurasakan?" Sakura memperjelas pertanyaannya. Gadis itu kini menatap cemas ke arah Sasuke—seperti campuran rasa takut dan ketidaksiapan.
Lagi-lagi Sasuke menghela napasnya.
"Kau sudah tidak lagi menyukaiku, kan?" tanya Sakura.
"Kenapa kau menanggap seperti itu?"
"Selalu seperti itu."
"Apa?"
"Kau selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya," kata Sakura. Tersirat jelas di wajahnya ia kecewa akan jawaban Sasuke. "Ya sudah, lupakan saja pertanyaanku barusan." Sakura mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Sasuke.
"Berjanjilah tak akan pergi dariku!" kata Sasuke sambil menahan tangan Sakura.
"Eh?" Sakura berbalik dan menatap Sasuke yang kini menatap lekat dirinya.
"Berjanjilah!" ulang Sasuke. "Berjanjilah tidak akan pernah pergi dariku!"
Sakura menundukkan wajahnya. "Maaf," hanya kata itu yang digumamkannya. Sasuke mendengus pelan. Perlahan ia melepaskan pegangannya pada tangan Sakura. "Sudah kuduga, kau akan menjawab seperti itu."
Sasuke berbalik. Ia menatap ke arah langit malam. "Kau tidak pernah berusaha untuk tetap bersamaku—"
"—lalu kenapa kau melepasku?" potong Sakura. "Kau selalu seperti ini. Kautahu, aku dulu sangat menyukaimu. Tapi tidak pernah sekali pun kau berusaha membalas perasaanku. Kau selalu dengan sikap tak acuhmu padaku. Kautahu? Ketika kau memintaku menjadi kekasihmu, aku sangat bahagia. Aku tidak pernah bermimpi bahwa Sasuke Uchiha, pria yang kusuka sejak duduk di bangku Junior High School ternyata juga menyukaiku. Bahkan rasanya dihukum saat membersihkan gudang olahraga sekolah pun terasa menyenangkan jika bertemu denganmu yang sedang mengembalikan bola ke gudang. Aku tahu, bukan salahmu ketika orang tuaku menjodohkanku dengan pria lain. Tapi apa yang kaulakukan?" Sakura mendecih pelan, "kau hanya diam dan mengatakan, pergilah! Turuti perkataan orang tuamu. Kaupikir bagaimana dengan perasaanku saat itu, Sasuke-kun!"
Sasuke diam. Ia membiarkan Sakura mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya.
"Kau melepasku begitu saja..."
"Aku hanya tidak ingin menahanmu," kata Sasuke. "Entahlah, dulu rasanya egoku terlalu kuat untuk menahanmu. Aku terlalu egois untuk menyampingkan egoku dan memohon agar kau tetap di sisiku." Sasuke memasukkan tangannya kembali ke dalam saku celananya. "Maafkan, aku, Sakura..."
Sakura tersenyum miris. "Sudahlah, apapun yang terjadi, semua itu sudah terjadi. Aku sudah menerima keputusan orang tuaku atas perjodohan itu," kata Sakura. "Aku sudah memaafkanmu dari jauh-jauh hari. Hanya saja, hatiku rasanya belum lega jika belum menumpahkan apa yang pernah kurasakan saat itu."
"Aku mengerti."
"Rasanya lega setelah mengatakan semua hal itu padamu," kata Sakura sambil menghela napasnya.
"Apa itu berarti kau tidak lagi menyukaiku?"
Sakura berbalik menghadap Sasuke. Ia perhatikan Sasuke dengan seksama. "Entahlah. Perlu waktu untuk melupakanmu. Kau cinta pertamaku, asal kautahu. Hanya saja, sulit rasanya berdamai atas apa yang pernah kauperbuat kepadaku," jelas Sakura.
Sasuke tersenyum. "Kau pun cinta pertamaku, Nona Jidat Lebar."
Sakura mendelik sebelum tertawa kecil. "Kalau kita masih pacaran, sudah kupastikan hubungan kita akan putus saat ini juga, Tuan Chicken-butt!"
Sasuke tersenyum simpul. Ia merangkul bahu Sakura dengan tangan kanannya. "Baiklah, bagaimana kalau kita berdamai?" tanyanya. Sakura melirik Sasuke dengan pandangan sedikit cems. "Sebagai sahabat tentunya?" imbuh Sasuke.
Sakura tersenyum lega. "Tentu! Omong-omong, kau tidak membawa mobil, Sasuke-kun?"
"Aku memarkirnya di jalan depan rumah pamanmu," balas Sasuke acuh tak acuh.
"Oh... eh? Maksudmu?" Sakura mengingat-ingat kejadiaan di taman. Rasanya Sasuke datang lebih lambat darinya. "Kau turun di depan rumah pamanku, lalu mengikuti sampai ke taman dan membiarkanku menunggu selama 10 menit padahal kau ada di sana?"
"Tepat sekali."
"Baka Uchiha!"
.
.
Sakura keluar dari kamarnya ketika jam telah menunjukkan pukul 9 pagi. Hari ini ia ada mata kuliah pagi jam 10—satu kelas dengan Sasuke. Semalam Sasuke bilang akan menjemputnya pukul setengah 9 . Ketika memasuki ruang makan, Kakashi sudah berada di meja makan sambil membaca sebuah buku yang semalam dibacanya. Aroma ayam gorang yang menggugah selera membuat Sakura memuji dalam hati kepiawaian Kakashi dalam hal masak-memasak—yang ia sendiri bahkan tidak bisa.
Sakura mengambil tempat di seberang Kakashi. Ia melirik dari sudut matanya bahwa Kakashi kini nampak serius membaca bukunya sampai-sampai tidak mengacuhkan kedatangannya di meja makan.
"Wow! Sepertinya ayam gorengnya enak, Paman!" seru Sakura.
Kakashi tidak memalingkan wajahnya dari balik buku yang dibacanya. Ia hanya berkata, "hm."
Sakura mulai kesal, tetapi ia abaikan perasaan kesalnya untuk hal cukup sepele ini. Sakura mulai memakan sarapannya. Sesekali ia melirik Kakashi yang masih serius berkutat dengan buku bacaanya. Piring di hadapan Kakashi yang masih bersih menandakan pria bermata berlainan warna itu belum memulai sarapannya.
"Paman, paman tidak makan dulu?"
"Hm."
"Paman, lebih baik paman makan dulu," kata Sakura di sela-sela suapan sarapannya.
Kakashi mengangkat wajahnya dari balik buku. "Kau cerewet sekali sih, Sakura?"
"Uhuk... uhuk..." Sakura tersedak suapannya ketika Kakashi membalas perkataannya dengan nada cukup sinis. Buru-buru gadis itu mengambil air putih di sebelah piringnya dan meminumnya dengan pelan. "Ada apa sih dengan paman?"
"Aku hanya bilang, kau ini cerewet sekali sih?" Kakashi mulai menyendok nasi dan lauk ke piringnya. "Kurasa bukan urusanmu aku mau makan sekarang atau kapanpun," katanya.
Sakura sedikit terkejut dengan balasan Kakashi yang masih dengan nada sinis. "Terserah paman," katanya kesal.
Sakura merasa moodnya pagi ini hampir rusak akibat sikap pamannya yang tiba-tiba menjadi sinis kepadanya. Padahal baru semalam pamannya yang ganteng itu menenangkannya. Ketika Sakura menyudahi sarapannya, terdengar suara deru mobil yang ditepikan di depan rumah pamanya. Dengan segera Sakura melangkahkan kakinya menuju halaman untuk melihat siapa yang datang.
Jaguar hitam Sasuke kini sudah berada di depan rumah Kakashi. Ia menurunkan kaca mobilnya agar dapat melihat Sakura yang berada di halaman rumah.
"Tunggu sebentar lagi, Sasuke-kun!" seru Sakura. Ia segera mengambil tasnya dan ketika ia berpamitan dengan Kakashi, Kakashi menatapnya dengan tajam.
"Siapa yang di luar sana?"
"Oh... hari ini, Sasuke menjemputku," jawab Sakura.
"Aku tidak bertanya namanya, aku tanya siapa dia?"
Sakura mengernyitkan alisnya. "Maksud paman?"
"Kautahu maksudku, Sakura," kata Kakashi.
Sakura mendengus pelan. "Dia mantanku," balas Sakura ketus.
"Kalau begitu, kenapa dia masih menjemputmu?" Kakashi masih berdiri menghalangi jalan Sakura.
"Paman ini kenapa sih?" tanya Sakura kesal.
"Jawab pertanyaanku, Sakura!"
"Oke! Apa salahnya sih kalau mantan kita menjemput kita? Mungkin paman juga pernah kan menjemput mantan pacar paman?" Sakura malas mendengar jawaban dari Kakashi. "Nah, kalau tidak ada pertanyaan lagi, aku berangkat," kata Sakura.
Sakura melewati Kakashi yang masih diam berdiri di hadapannya.
'Salah, karena itu berarti ia masih menyimpan harapan kepadamu, Sakura!'
"Ada apa? Lama sekali?" tanya Sasuke ketika Sakura masuk ke dalam mobilnya.
"Entahlah, pagi ini pamanku aneh sekali," balas Sakura.
.
.
Kakashi membalik-balik halaman buku yang dibacanya dengan gusar. Sejak semalam, ia tidak bisa berkonsentrasi atas apa yang sedang dikerjakannya. Pikirannya terus menerus terbagi, antara kegiatannya dan—Sakura. Ya, sejak ia melihat Sakura berpelukan dengan pria yang baru saja menjemputnya tadi pagi, Kakashi merasa kesal bukan kepalang. Apalagi Sakura sendiri yang mengatakan bahwa pria itu adalah mantan kekasihnya.
Kakashi menutup buku yang dibacanya dengan sedikit kasar. Ia menghempaskan tubuhnya melesak ke dalam sofa di ruang duduk. Sungguh ia tidak pernah menyangka bahwa ia benar-benar akan merasakan sesuatu hal aneh akibat tunangannya itu.
Kakashi bukanlah pria remaja yang baru tahu perasaan menyukai lawan jenis. Ia telah beberapa kali menjalin hubungan dengan gadis-gadis. Hanya saja kali ini lain. Masalahnya adalah gadis itu adalah tunangannya. Egonya sebagai seorang pria sedikit terusik ketika mendapati tunangannya—calon tunangannya—memiliki kemungkinan menyukai pria lain.
Jam dinding di ruang duduk menunjukkan pukul dua siang. Biasanya Sakura sudah berada di rumah di jam-jam segini. Sebuah pikiran praduga muncul di benak Kakashi: Sakura mungkin saja kini sedang berkencan dengan pria berambut hitam itu. Kakashi mendengus pelan. "Tch! Kenapa aku jadi memikirkan Sakura seperti ini?"
"Aku pulang!" seru Sakura ketika membuka pintu depan rumah yang tak terkunci. Gadis berambut sebahu itu muncul dari ruang depan sambil membawa sebuah boneka beruang berukuran besar.
"Apa itu?" tanya Kakashi.
"Ini?" Sakura mengerling ke arah boneka beruang di tangannya.
"Iya."
"Oh, ini hadiah dari Sasuke," kata Sakura. "Dia bilang, hubungan kami cocok jika diibaratkan dengan boneka ini."
Kakashi mulai menyesal menanyakan boneka itu kepada Sakura. Ia memandang remeh boneka beruang itu. "Perhatian sekali mantanmu itu."
"Tidak juga. Sasuke itu orangnya agak dingin dan sering tak acuh kepada sekitarnya," kata Sakura. "Tapi dia juga terkadang bisa menjadi orang paling baik dan romantis di dunia." Sakura terkikik kecil membayangkan Sasuke ketika dulu masih menjadi kekasihnya. "Ah, aku jadi ingat hal-hal dulu."
"Ingat kalian itu sudah putus," kata Kakashi.
"Aku tahu kok," bantah Sakura. "Lagipula paman ini aneh sekali sih, seperti tidak suka jika aku dan Sasuke menjalin hubungan baik."
"Memang aku tak suka," jawab Kakashi acuh tak acuh. Ia kembali menekuni bukunya yang sempat ia tutup.
"Kenapa paman tidak suka?"
"Tidak suka ya tidak suka."
"Tapi harus ada alasannya kan?" tanya Sakura.
"Memangnya semua hal itu perlu dengan alasan?" Kakashi balik bertanya kepada Sakura.
"Tentu saja!" jawab Sakura sengit.
"Tak ada," kata Kakashi singkat. Ia menenggelamkan dirinya dalam buku yang dibacanya.
"Pokoknya harus ada!"
Kakashi diam. Ia berusaha tak menggubris perkataan Sakura.
"Jawab aku, Paman!"
"Tidak," jawab Kakashi.
"Harus dijawab!"
"Tidak mau."
"Pokoknya paman harus menjawabnya!"
"Apa aku salah jika tidak suka melihat tunanganku bersama dengan mantan pacarnya?" Kakashi meletakan buku yang dibacanya dan menatap Sakura tajam. Sinar keterkejutan yang terpancar dari kedua mata Sakura menyadarkannya akan sebuah kesalaha fatal. "Lupakan," katanya.
"Apa maksud Paman?"
"Kubilang lupakan." Kakashi beranjak dari duduknya. Sakura menjatuhkan boneka beruangnya ke sembarang arah sebelum menahan lengan Kakashi.
"Apa maksud Paman?" tanyanya. "Siapa? Siapa tunanganku? Paman mengetahuinya?" Sebuah kesadaran menghantamnya, bagaimana jika tunangannya itu adalah... "Atau paman adalah..."
Kini sebuah kejelasan mulai tergambar di benak Sakura. Mulai dari perkataan orang tuanya bahwa tunangannya berada di Konoha. Lalu Kakashi yang tiba-tiba dikenalkan kepadanya sebagai pamannya yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. Usia Kakashi yang hanya terpaut lima tahun darinya. Ia merasa bodoh baru menyadari semua itu sekarang.
TBC
.
.
Hihihi... Maap ya aku kelamaan sangat meneruskan fic ini.
Aku sadar kok. dan makasih banget untuk semua yang udah tetap mau meneruskan membaca fic ini. :3 hug all deh.:)
Ohya, aku sengaja buat Kakashi ga jauh beda ama Sakura, Cuma terpaut 5 tahun, XD
Ay^^10052011
