~o~
Saksi
XX - 02
By Vira D Ace
Bungou Stray Dogs by Asagiri Kafka and Harukawa35
Rating: T
Genre: crime-friendship
Warn: OOC (maybe), typo yg tak sengaja terketik, ga bermaksud menyindir siapapun, alur (mungkin) kecepetan, dll
DLDR
~o~
"D-dazai...?"
Aku tidak percaya ini. Suara itu, aku masih mengenalnya dengan jelas—itu suara Dazai, dan tidak berubah sejak terakhir kali aku bertemu dengannya.
...tapi itu tidak mungkin. Bukankah Dazai sudah...
"Yeah, ini aku," suara itu membuyarkan lamunanku. Nada bicaranya riang seperti biasa.
"I-ini benar-benar kau?!" tanyaku tak percaya.
"Mhm~" dapat kudengar ia bergumam mengiyakan.
"T-tapi kau sudah..."
"Simpan itu untuk nanti," potongnya, "kau di mana sekarang?"
"D-di kampus..." jawabku terbata, "kau di mana?!"
"Aku nggak bisa memberitahumu sekarang..."
Aku menggigit bibir bawah. "K-kalau begitu kita bertemu di Jalan X!" seruku, "datang, ya?!"
Sejenak ada keheningan di seberang sana, sebelum Dazai akhirnya berkata 'ya', lalu memutuskan telepon. Aku cepat-cepat kembali ke tempat dudukku tadi dan mengambil tasku.
"Lho, mau ke mana?" Tachihara menatapku dengan tatapan curiga.
"Urusan," balasku acuh sebelum pergi dari sana.
~o~
Dia di sana.
Aku bisa melihatnya berdiri di dekat halte setelah berbelok dari Jalan Y. Perlahan kuperlambat laju motorku, lalu mematikannya tepat di depan halte. Aku membuka helmku.
"Dazai!" panggilku padanya.
Ia menoleh. dapat kulihat senyum merekah di wajahnya sebelum dia berlari ke arahku. Aku turun dari motorku setelah memarkirnya di pinggir trotoar.
"Kau ke mana saja?!" seruku setengah kesal—walau setengahnya lega, sih.
Dazai hanya tersenyum. Jari telunjuk kanannya diletakan di depan bibir. "Nanti dulu. Nggak aman kalau kita bicara di sini," ucapnya.
Alisku mengernyit.
"Kalo nggak salah di dekat sini ada cafe," Dazai menarik tanganku, "kita bicara di sana saja—jarang ada mata-mata di tempat seperti cafe dan semacamnya."
Mata-mata?
Hei, apa maksudnya? Banyak pertanyaan berseliweran di kepalaku. Soal Dazai, kehadirannya setelah 2 tahun dinyatakan telah meninggal, dan maksud kata-katanya, tidak ada yang kumengerti.
Namun aku tetap mengikuti langkahnya menuju cafe yang belum pernah kudatangi. Aroma kopi dan roti menguar ketika kami memasuki bangunan bernuansa klasik itu. Dazai memilihkan tempat yang berada di pojokan bangunan—memang apa yang mau ia bicarakan padaku? Atau memang fetishnya Dazai memang seperti itu?
"Nona, vanilla lattenya dua, ya?" pesan Dazai ketika seorang waitress datang dan menawarkan menu cafe mereka pada kami.
"Baiklah," waitress itu mencatat pesanan Dazai, lalu pergi.
Setelah waitress itu sudah benar-benar pergi, Dazai menatapku. "Jadi, apa yang mau kau tanyakan tadi?" tanyanya tenang.
Aku meneguk ludah. "Kau... ke mana aja selama ini?" tanyaku pelan, "katanya kau sudah mati..."
"Aku sembunyi," ucap Dazai.
Alisku naik satu. "Maksudmu?"
"Aku tahu ada yang menguping pembicaraan kita di teras rumahmu dua tahun lalu, makanya aku cepat-cepat pulang," ujarnya santai, "dan aku tahu sudah ada yang mengutak-atik motorku sebelum aku keluar—mereka jelas tidak akan melepaskan target mereka yang baru mereka ketahui setelah dua tahun mencari—jadi aku mencoba untuk mengecoh mereka.
"Sebelum masuk di jalan tol, aku mencoba untuk memelankan laju motorku tanpa mengerem. Agak sulit juga, tapi pada akhirnya motorku berhenti berjalan. Aku turun sebentar untuk mengecek, dan tebakanku tepat—ada bom diselipkan di dekat mesin dan roda belakang motorku. Dari bentuknya, aku yakin kalau ini akan meledak setelah aku mengerem.
"Jadi aku mencari-cari sesuatu di dekat tempatku berhenti, apapun, yang penting bisa membuat motorku mengerem secara otomatis kala aku menginginkannya. Begitu menemukannya, aku memasangnya di motorku lalu lanjut berjalan."
"Tunggu, tunggu," aku memotong ucapan Dazai, "kalau kau bisa melakukan itu, kenapa kau tidak melepaskan bomnya?"
"Dan membiarkan mereka yang sudah tahu identitasku mengincarku di manapun dan kapanpun, bahkan sampai ikut membahayakan orang di sekitarku?" Dazai bertanya balik. "Nggak, makasih. Lebih baik aku pura-pura mati demi keamanan bersama."
Aku tertegun. Pemikiran Dazai benar-benar luas untuk seukuran anak SMA dua tahun lalu.
"Perlu kulanjutkan?"
"S-silahkan..."
"Baik," Dazai mengambil napas. "Lalu aku masuk ke jalan tol, lalu berjalan dengan motorku di pinggiran jalan yang gelap. Aku menunggu waktu yang tepat untuk melompat, dan begitu aku mendapatkannya, aku melompat. Dan, boom! Motorku meledak. Aku bersyukur memilih tempat yang gelap, hingga mereka tidak sadar kalau aku sudah kabur. Mereka terlalu bego hingga mengira kalau jasadku ikut meledak—tapi ayolah, walaupun jasadku meledak sekalipun, pasti ada bekasnya!—dan hanya melapor ke sekolahku dan keluargaku kalau aku sudah mati karena kecelakaan.
"Lalu aku kabur ke berbagai kota—kalau aku sudah nggak merasa aman, ya aku pindah ke kota lain. Aku beberapa kali berganti identitas supaya nggak ketahuan," Dazai diam sebentar, "tapi ada satu hari, pas aku balik ke kota lama kita, aku ngeliat orang tuaku pergi bawa koper dari rumah—entah mereka mau ke mana, aku nggak tau. Jadi aku ke sana. Kubuka pintu rumahku pakai kunci serep yang masih kusimpan, lalu aku pergi ke kamar Kakak.
"Aku yakin ada sesuatu yang Kakak simpan dan punya hubungan dengan semua ini. Dan bener aja, aku nemu sebuah dokumen penting," Dazai meraih tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah map coklat, "baca, dan kamu bakalan tau apa rencana pemerintah sebenarnya—tapi kusarankan kau membacanya di kost, biar nggak ketahuan."
Aku mengangguk, lantas menerima map itu dan memasukannya ke dalam tasku.
Seorang waitress mendatangi meja kami dengan membawa dua gelas vanilla latte, lalu menyajikannya pada kami dan berlalu.
"Sekarang aku yang tanya," sejenak Dazai menyesap minumannya, "apa yang kau lakukan selama dua tahun ini?"
"Aku ngambil fakultas Ilmu Sosial dan Politik buat kuliah," jawabku.
"Eh?"
"Jangan salah sangka dulu," potongku, "aku masuk ke sana karena lebih gampang mencari informasi soal apa yang kau ceritakan kepadaku dua tahun lalu. Aku juga masuk klub jurnalistik karena kebetulan klub jurnalistik Universitas Bungou sering mengadakan wawancara dengan para pejabat negara untuk blog koran kampus—apalagi aku adalah mahasiswa yang fakultasnya berhubungan sama politik, jadi aku lebih banyak ditugaskan untuk itu. Semuanya bisa kulakukan tanpa dicurigai."
Dazai mangut-mangut. "Kau nekat juga, ya..."
"Seengaknya apa yang kulakukan ada hasilnya," kukeluarkan buku catatan bersampul coklat milikku dari dalam tas, "kau boleh membacanya kalau mau—semua yang kudapatkan ada di sana, termasuk foto bukti yang tak sengaja kutemukan ketika sedang di tempat wawancara."
"Makasih," Dazai menerima buku itu, "bakalan kubaca di rumah nanti."
Aku mengangguk, lantas mulai menyesap minuman yang dipesankan Dazai.
"Omong-omong, kita kayak mafia lagi tukaran informasi aja," Dazai terkekeh kecil.
Mendengarnya membuatku ikut terkekeh.
Lalu kami mulai mengobrol santai. Apa yang kulewati selama dua tahun ini, semua kuceritakan—begitu juga dengan Dazai dan kisahnya. Kami terkadang tertawa akibat ucapan masing-masing, mirip seperti ketika aku dan Dazai masih SMA dulu, membuatku merasa nostalgia seketika.
Mendadak aku ingat ketika SMA, aku dan Dazai kadang tidak akur—bahkan terkadang sampai berkelahi dan berakhir di ruang BK dengan Pak Nathaniel selaku guru agama merangkap guru BK sebagai pembimbing. Lalu sekarang kami kembali akur setelah dua tahun berlalu, membuatku tidak ingin kehilangan hal ini lagi.
Entah kenapa tiba-tiba aku merasa hal ini tidak akan bertahan lama. Entahlah, aku hanya... dapat firasat buruk.
Matahari telah condong ke barat, ketika aku dan Dazai memilih untuk berpisah dan pulang ke tempat masing-masing.
~tbc~
Yo, Vira balik lagi. Adakah yang kangen? :v /slap
Harusnya ini chapter udah update rabu kemaren, tapi ku lupa terus tiap mau ngepublish, jadi ya baru hari ini :"v
Makasih buat yang udah baca, dan silahkan menunggu chapter selanjutnya :)
-Vira D Ace-
