Yai! Ini chapter 4! Banzai! Temari-san akhirnya muncul juga. Review ya, review. Oh ya, gw nggak begitu pandai dalam hal-hal romantis jadi ni cerita lebih mirip bergaya komedi-romantis. Nggak penting banget yah? Ini chapter panjang banget 2 kali lipat lebih panjang dari biasanya. Maklum, fanfic ini mau fakum dulu seminggu. Jadi, puas-puasin baca ya. Jangan lupa review dan liat pengumuman yang ada di bawah.

Chapter 4 : She is coming!

'Dia akan datang!' Shikamaru berusaha menenangkan dirinya yang sudah ricuh nggak jelas di atas kasurnya. Sudah nggak kehitung berapa kali ia jatuh dari tempat tidur plus kepeleset di kamar mandi pas mau cuci muka. Moodnya hancur sehancur-hancurnya hari ini. Tadinya mau cuci muka malah balik tidur lagi. Jam weker sudah di-shuriken sampai nggak bernyawa. Tinggal ibunya saja yang belum disumpel mulutnya pakai kertas toilet.

"Shikamaru! Ayo bangun!" teriak ibunya mirip toa dari ruang makan. Shikamaru meringkuk di atas kasurnya dan menutup telinganya. Ia ingin hari ini nggak ada, ia ingin hanya tidur saja di kasur. Karena,...

Berita besar, besok ulangan semester kya! Gw belum belajar biologi! Mampus! Eh, salah ding, itu sih masalahnya author ya!

(Shikamaru: Lu jangan suka ngacak-ngacak naskah deh, nyusahin aja!)
(Pembaca: Iya tahu nih, dasar author sinting!)
(Purinsha: Huwee....maafkan aku! Iya-iya, lagi stress mau ulangan sich. Ya udah lanjut aja)

(Maksudnya) Berita besar, besok Temari akan tiba di Konoha.

Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mengerti dengan semua yang dirasakannya dan ia tidak mau mengerti semuanya. Cih, merepotkan.

"Shikamaru! Ayo bangun!" panggil ayahnya dari luar pintu. Shikamaru mengintip dibalik selimutnya dan menatap pintu. Sadar kalau bahkan sang ayah sampai harus turun tangan sendiri untuk membangunkannya.

Shikamaru akhirnya bangun, ia malas berurusan dengan ibu dan ayahnya yang nanti jadi khawatir bila ia tidak bangun-bangun. Kepalanya masih pusing dengan memar-memar (atau benjol) hadiah bogem dari lantai, semoga nggak ngaruh ke IQnya ya. Ia memijit kepalanya dan keluar kamar.

Di luar kamarnya ayahnya sudah menyambutnya dengan senyum. 'Akhirnya ni anak bangun juga', pikir sang ayah. Shikaku tidak bodoh, bahkan orang bodoh sekalipun akan sadar ada yang aneh dengan Shikamaru di beberapa hari terakhir ini. Moody dan emosian. Biasanya Shikamaru bagai buku yang tertutup dan sulit dibaca kini terbuka sepenuhnya dan mudah ditebak. Dan, Shikaku lega setelah menyadari alasannya bukan karena kepergian Asuma.

"Kepalamu kenapa?" tanya Shikaku melihat anaknya terus memijit kepalanya sepanjang perjalanan menuju ruang makan. Shikamaru mendesah.

"Tidak kenapa-kenapa," jawabnya dengan nada bosan seperti biasa namun Shikaku tahu betul ada yang tak beres. Tapi, ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. 'Paling 'penyakit' anak puber' batin Shikaku.

Selesai sarapan, (aslinya ibunya Shikamaru siap berkoar-koar melihat Shikamaru menyisakan makanannya, malah makannya dikit banget jadi diam saja saat melihat tampang campur aduk anaknya) Shikamaru pergi mengurus beberapa tugas sebagai seorang chuunin. Pergi ke tempat Hokage, ikut mengurus tek tek bengek urusan untuk festival dan hal-hal lainnya.

Tapi, cuma tubuhnya yang bekerja dan pikirannya sih sudah kemana tahu. Maka dari itu, ia terus menerus kena omel orang-orang di sekitarnya karena kelewat meleng, loading otaknya jadi lama (baca: lemot) dan linglung (bahasa lain: tulalit). Yang memaklumi keadaan dirinya cuma Godaime dan Shizune saja, yang beberapa hari ini senyum-senyum saja melihatnya. Shikamaru merasa aneh si dengan sikap kedua wanita itu, tapi ya sudahlah.

Semua orang yang sudah menyebabkannya jadi begini, dengan kata lain Naruto, Sakura, Chouji dan Ino terus-terusan mendekatinya dengan berbagai cara, kelihatannya mereka ingin minta maaf tapi caranya itu lho mengganggu banget. Belum lagi Sai, akh! Shikamaru nggak ingin mengingat dia. Caranya meminta maaf, gila banget. Bukannya dimaafin ya Shikamaru jadi tambah keki sama dia. Katanya sih dia baca dari buku "Memperbaiki Hubungan dengan Teman Sebaya". Gila kali ya tuh orang. Begini caranya meminta maaf (anak-anak yang baik jangan ditiru ya):

Pertama, Sai memunculkan dirinya mendadak di depan Shikamaru yang lagi meleng di jalan. Sudah tahu, akhir-akhir ini Shikamaru jadi bego banget, gara-gara kaget dia jatuh nyungsep ke selokan. Sai sama sekali nggak menawarkan bantuan, apalagi minta maaf, cuma melihat Shikamaru dengan pandangan yang sulit diartikan. Sudah keki karena kecebur di got (dan diketawain sama banyak orang di jalan) Sai malah terus menerus mengikuti Shikamaru seharian. Terus menerus minta maaf tapi tampangnya itu lho! Sama sekali nggak merasa bersalah. Dan ketika berusaha mengusir Sai, Shikamaru yang tidak memandang ke depan jalan jadi nabrak pohon. Terima kasih banyak. Eh, ngetawain lagi tuh anak. Dia malah bilang, "aku baca di buku, kalau kau sedang jatuh cinta semua hal jadi aneh. Jadi wajar saja ada kejadian seperti nabrak pohon atau kecebur ke got". Eh buset ni anak, kurang ajar banget sich!

Shikamaru mendesah menyingkirkan bayangan Sai dibenaknya, bikin sebel saja. Tugas hari ini sudah selesai, hebat ia bisa menghindari omelan dari semua orang hari ini. Tinggal besok.

Wajah Shikamaru kembali memerah mengingat hari esok. Temari akan datang, Temari akan datang, Temari akan datang, kalimat itu berulang di benaknya bagai CD yang rusak dan mengulang terus. Oh God! Bagaimana ia harus bersikap? Padahal dulu ia baik-baik saja, tapi terima kasih karena sekelompok orang idiot sudah membuatnya jadi aneh begini. Ukh, hanya dengan memikirkan Temari saja wajahnya memanas dan hatinya berdebar kencang, bagaimana bila ia bertemu gadis itu? Meledak? Mungkin saja.

Shikamaru menghela napas dan segera pulang ke rumah. Hari sudah sore, ia bahkan lupa menyerahkan catatan laporan mengenai persiapan festival ke Godaime (mari kita lupakan Tsunade yang sedang merengut kesal karena nggak kebagian dialog di chapter ini). Saat makan malam, Shikamaru hanya makan sedikit lagi. Mau tidak mau, ibuya jadi khawatir. Sedangkan, ayahnya hanya tersenyum maklum ke Shikamaru.

Kemudian, sehabis mandi Shikamaru pergi tidur. Tapi, sama sekali tidak bisa tidur. Sama sekali tidak bisa. Dirinya gugup bukan main, author nggak perlu bilang kan seberapa banyaknya Shikamaru keseledot jatuh dari tempat tidur? Belum lagi kaki nendang tembok dan nabrak pinggir tempat tidur (Shikamaru: *ngomong ke author*Lu dendam apa sih ke gw?). So, badannya Shikamaru ngilu semua persis kayak dia barus selesai melaksanakan misi tingkat B.

Pagi datang, matahari sudah mengintip di ufuk timur dan terima kasih sekali, Shikamaru sama sekali tidak tidur. Tidak perlu ditanya, tubuhnya sekarang capeknya bukan main. Secara mental khususnya.

"Kenapa sih hari ini matahari harus terbit?" keluhnya segera bangun dari tempat tidur tapi langsung kepeleset gara-gara kakinya terbelit selimutnya sendiri.

Setelah kepeleset lagi di kamar mandi, ketukar antara pasta gigi dengan krim cuci muka, dan salah memakai sabun dengan cairan pembersih kamar mandi (badannya Shikamaru jadi mirip karbol, oh ya, padahal kan karbol itu panas ya kalau kena kulit? Tapi, orang Shikamarunya juga nggak sadar, jadi dianya juga nggak merasakan apa-apa. Mati rasa mungkin, he...he...he...), Shikamaru segera memakai baju yang juga pakainya terbalik, mengambil beberapa peralatan ninja secara asal dan menuju ruang makan.

Shikaku, ayahnya nyaris tertawa melihat tampang anaknya yang sudah kacau nggak keruan. Sudah bau karbol, muka capek dengan lingkar hitam dimatanya, pakai bajunya kebalik pula. "Shikamaru! Kenapa bau badanmu mirip pembersih kamar mandi?!" keluh ibunya yang bahkan bisa mencium bau karbol yang menyengat sampai tercium ke dapur.

"Sana mandi lagi! Terus pakai parfum. Masa' iya kamu jemput Kazekage-sama dan saudara-saudaranya dengan bau nggak keruan kayak begitu!" omel ibunya. Shikamaru mendesah dan kembali mandi (kali ini benar pakai sabun mandi) dalam hati ia menyesal, harusnya tadi ia cuci muka saja tidak perlu mandi.

Begitu selesai memakai parfum, Shikamaru kembali ke meja makan yang dengan indahnya disambut oleh tawa Shikaku yang meledak. Ayahnya sudah tak kuat menahan geli dari tadi.

"Shikamaru, kamu pakai apa?! Ini kan bau pengharum ruangan! Kamu ini! Masa' kamu bisa ketukar antara parfum sama pengharum ruangan?! Aduh! Mata kamu itu ditaruh dimana?! Baunya nyengat banget lagi!" omel ibunya dari balik dapur. Shikaku masih ngakak di meja makan.

Shikamaru mengendus dirinya sendiri (Author : jangan jijik ya, bau diri sendiri ini), memang benar ia tadi salah pakai parfum malah jadi pengharum ruangan plus bau karbol itu tidak sepenuhnya bisa hilang. Kalau Kiba ada di sini, mungkin ia sudah pingsan kebauan sendiri.

Shikaku yang kini sudah berhenti tertawa meski masih cekikikan berdiri dan menarik anaknya. Shikamaru tadinya mau protes, ia bukan anak kecil lagi, sekarang ia akan sungguhan pakai parfum benaran.

"Sini! Kalau kamu dibiarin sendiri lagi, bisa-bisa kamu ketukar parfum sama penyemprot nyamuk lagi (baca: baygon, eh emang ada ya baygon di Jepang? Ya udahlah sepele)," kata Shikaku masih tertawa-tawa kecil sambil menarik lengan anaknya ke kamarnya. Setelah dituntun untuk ganti baju dan pakai parfum dengan benar (yang lagi-lagi Shikamaru nyaris tertukar parfum dengan minyak kayu putih yang sudah terlanjur tumpah sebagian ke tubuhnya, author nggak tahu disana ada minyak kayu putih atau nggak, tapi anggap saja begitu) Shikamaru dan Shikaku segera kembali ke ruang makan.

Di ruang makan, Shikamaru nggak kalah linglungnya dengan yang tadi. Mulai dari menjatuhkan piring, mau menyendok kuah sup menggunakan sumpit, makanan harusnya masuk mulut malah nyaris mencelat ke hidung, mematahkan sumpit, bekas piring dan mangkuk yang harusnya dimasukkan ke bak cuci piring malah mau dimasukkan ke tempat sampah. Ibunya Shikamaru jadi curiga apa anak semata wayangnya ini berubah jadi idiot atau autis ya? (jadi bareng gitu sama Tobi *author kabur dikejar-kejar Tobi/Madara Uchiha)

Setelah pamitan pada orangtuanya – Shikaku masih berusaha menahan tawa dan ibunya berpikir untuk membawa Shikamaru ke psikiater nanti – Shikamaru segera menuju gerbang utama Konoha. Setelah nyasar nggak jelas karena kena amnesia mendadak, kena siram orang yang sedang menyiram tanaman – yang anehnya bisa nyasar ke dia, lagi apes saja kali ya? – dan nabrak tiang listrik 2 kali, Shikamaru akhirnya sampai di depan gerbang utama Konoha yang besar dan megah.

(Shikamaru: Gw dianiaya! Gw panggil polisi nih?! Masa' dari tadi gw dibego-begoin terus sih! Gw kan jenius tahu!)
(Purinsha: Sabar aja, yang penting kan jadi tokoh utama iya nggak? *author segera kabur ketika sadar Shikamaru beneran telepon polisi dan melapor atas pencemaran nama baik)

Lupakan saja author yang sekarang sedang bingung bagaimana caranya persidangan kasus perdata, mari kita lanjutkan ceritanya....

(Lanjut) Tak disangka di sana sudah ada Naruto. Menyadari kehadiran Shikamaru, Naruto segera menoleh dan hendak menyapanya namun kaget melihat tampang Shikamaru yang kusut dan nggak keruan.

Wajah yang kelihatan luar biasa capek (anggap saja di seakan baru selesai main gulat dengan 20 pegulat professional), basah dari wajah sampai dada, handsaplast di dahi dan pipi, lingkar hitam di matanya (hasil dari kepeleset di kamar mandi) dan bau badan yang tadi sudah dijelaskan oleh author.

Naruto masih shock, secara komikal bola matanya jadi putih dan menonjol keluar. "Shi...Shikamaru, kau kenapa?" tanya Naruto ketakutan nggak jelas. Shikamaru menatapnya dengan tatapan super capek. "Tidak apa-apa," ia masih berpikir apa ia harus balik lagi ke rumah dan ganti baju?

"Gaara lama ya," kata Naruto mengubah topic pembicaraan. Terungkap sudah kenapa bocah ramen ini sudah nangkring di sini pagi-pagi. Shikamaru jadi panik. Waduh! Apa ia harus pulang dan anti baju? Sempat tidak ya? Nanti rombongan Kazekage-sama keburu datang – Shikamaru lupa sama sekali mengenai jurus teleportasi.

Dan benar saja, di ujung penglihatan mereka, rombongan itu sudah datang. Naruto langsung berwajah sumingrah dan lari menuju Gaara. Gaara yang kaget dan ingin berbalik menghindari (Naruto sudah kayak banteng aja sich) Naruto sudah telat duluan. Naruto memeluk Gaara (atau lebih tepatnya menubruk). Kini mereka berdua berakhir di tanah dengan Naruto ada di atas Gaara (banzai untuk penggemar NaruGaa!!).

"AAAHHHH!!! AKHIRNYA KAU DATANG! TAHU NGGAK SICH? AKU TUH SUDAH LAMA BANGET NUNGGUIN KAU DARI TADI! DATANGNYA LAMA BANGET SICH!? GIMANA KABARMU? SAMPAI KAPAN DI SINI? NANTI, KITA HARUS MAIN BARENG YA!" teriak Naruto bagaikan pakai pengeras suara yang max banget (yang sebenarnya khusus untuk dialog ini Naruto sudah meminjam tanpa ijin alias nyolong toa dari masjid dekat rumah author dan sekarang author lagi dimarahin sama Pak Ustad). Gaara yakin ia nyaris tuli (bahasa halusnya, budek lah) kalau Naruto tidak segera berhenti bicara. Kalau Gaara belum berubah, masih pembunuh berdarah dingin ia yakin Naruto sudah tidak akan bernyawa sekarang.

"Naruto, bisakah kau berdiri?" tanya Gaara memandang Naruto dingin. Naruto cengengesan dan segera melompat berdiri. Kankurou dan Temari yang melihat persahabatan 'aneh bin ajaib tapi nyata' kedua remaja itu hanya bisa mengeleng-geleng kepala.

"Akh! Shikamaru! Buset, kau kenapa!?" pekik Kankurou kaget melihat penampilan chuunin tersebut.

Shikamaru melirik ke arah sebaliknya. Bagaimana tidak, ia tidak tahan! Hatinya berdebar kencang seakan siap meledak melihat Temari ada di depannya. Kulit Temari yang putih, rambutnya yang pirang, kimono hitamnya yang memperlihatkan lekuk indah tubuhnya, mata berwarna indigonya, semuanya nyaris membakar dada Shikamaru. Ya ampun, tabung pemadam kebakarannya dimana ya? Bisa gawat kalau sampai kebakaran beneran nih.

"Shikamaru, kau kenapa?" tanya Temari yang tanpa Shikamaru sadari sudah ada di depan dirinya. Kaget bukan main, Shikamaru mundur ke belakang tapi dengan begonya keserimpet kakinya sendiri dan jungkir balik di tanah. Temari jadi terdiam. Bahkan Gaara dan Naruto serta Kankurou jadi diam. Ini anak kenapa ya?

"Ti..tidak.., tidak apa-apa," kata Shikamaru nervous. Suara Temari itu menggaung di telinganya. Terdengar indah dan sekejap membuat wajahnya merah padam.

"Oh ya?" tanya Temari curiga. "Ini bau apa sih? Kenapa kau bau karbol, sama pengharum ruangan dan minyak kayu putih?" tambah kunoichi itu mengipas tangannya di depan hidungnya hendak mengusir bau aneh yang tercium olehnya.

"O...oh..ya?" respon Shikamaru dan segera berdiri. Malu bener (baca: tengsin), Shikamaru mengutuk dirinya bisa kelihatan sebego ini di depan Temari. Tapi, author ternyata nggak memberi ampun (Shikamaru : sialan ni author kurang ajar, gw laporin beneran nih ke kantor polisi!), linglungnya Shikamaru kumat dan tambah parah pula. Karena malu dan bingung harus berbuat apa, Shikamaru berbalik dan berjalan karena hanya memandang ke bawah terus, ia berakhir menabrak tembok gerbang. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik.

Suer, hidung Shikamaru sampai merah karena sakit. Suara "JEDUK!"nya saja keras banget. Shikamaru meringkuk kesakitan sambil menggosok hidungnya. Temari jujur tadinya ingin ketawa namun nggak jadi melihat kebodohan Shikamaru kayaknya kelewat parah.

"Ah! Kau! Jangan-jangan kau mata-mata yang menyamar jadi Shikamaru! Uwa..brengsek!" teriak Naruto dari kejauhan menambah ramai suasana. "Secara nggak mungkin Shikamaru jadi sebego ini," tambahnya.

Shikamaru yang berubah jadi moody langsung merasa sakit hati. Dikatain bego oleh orang bego macam Naruto di depan Temari! Sorry saja, tapi sumpah Shikamaru nggak rela.

"Kurang ajar! Siapa yang kamu bilang bego!" bentak Shikamaru ke Naruto, lupa Temari masih ada dekat dengannya.

"Kau pasti mata-mata! Aku sudah curiga dari kemarin-kemarin! Kau pikir bisa menipuku apa!" seru Naruto. Sementara Gaara hanya diam dan Kankurou tidak mau ikut-ikutan.

"Enak saja! Dasar idiot! Kalau punya otak itu dipakai! Mata-mata darimananya!" balas Shikamaru yang jadi emosian. Temari memandangnya kebingungan, baru pertama kali ini ia melihat Shikamaru seperti ini, jangan-jangan memang mata-mata?

Nauto menghampiri Shikamaru. Wajahnya terlihat kesal sekarang. "Kau akan kubawa ke Tsunade-baachan, lihat saja! Akan kubuktikan kalau kau bukan Shikamaru!"

Shikamaru benar-benar ingin sekali meng-kagekubhisibari Naruto dan mencekiknya sampai mati. "Buktikan saja! Dasar bodoh, aku ini Shikamaru yang asli!"

"Entahlah, menurutku kau memang bukan seperti Shikamaru yang biasanya," tambah Temari yang cukup membuat Shikamaru shock. Sementara Naruto memajang senyum kemenangan.

"O...Oh ya? Dimananya?" Shikamaru berusaha menghapus rasa nervousnya yang berakhir dengan kegagalan.

"Baumu seperti karbol, tambah pengharum ruangan dan minyak kayu putih. Menurutku itu sangat un-Shikamaru-ish," jelas Temari bergaya bahasa inggris. Naruto nggak mengerti tapi Shikamaru ya. Shikamaru kebingungan bagaimana ia harus menjelaskan semua ini. Wong dirinya sendiri saja tidak mengerti kenapa ia bisa jadi seperti ini gimana ia bisa menjelaskan ke orang lain apalagi Temari?
(Note: Un-Shikamaru-ish itu artinya sangat tidak seperti Shikamaru yang biasanya)

"Oh yeah. What do you know? Bahkan aku sendiri juga don't understand about it! Holly shit! Ok, memang aku jadi linglung, moody, emosian, aneh, mirip orang idiot yang lebih idiot dari Naruto. But, for my shadow's sake! Aku ini Shikamaru!" oceh Shikamaru yang otaknya mulai konslet alhasil kata-katanya jadi kecampur-campur antara dan .

Temari mendelik. 'Dia beneran Shikamaru?' pikirnya aneh. Naruto hanya cengo, otaknya ngadat nggak bisa mengerti ucapan Shikamaru barusan. Gaara stay cool, author nggak tahu dia ngerti kata-kata Shikamaru atau nggak, sementara Kankurou juga nggak ngerti. Pembaca juga mungkin nggak ngerti ya? ^_^

"Aku ada perlu dengan Tsunade-sama, bisakah kalian potong pembiaraan ini untuk nanti saja?" akhirnya sang Kazekage sendiri yang harus menyelesaikan pembicaraan yang mulai ngalor ngidul nggak jelas itu.

Temari dan Kankurou mengangguk. Sementara Naruto dan Shikamaru menenangkan diri mereka sendiri. Akhirnya, rombongan ini berjalan menuju kantor Hokage. Jika ada pembaca yang bertanya-tanya kenapa seorang Kazekage hanya disambut oleh Shikamaru seorang, jawabannya adalah Gaara tidak suka dengan keramaian atau penyambutan yang meriah. Cukup memperlakukannya seperti biasa. Begitulah. (Bilang aja author males nulis keadaaan kayak gitu. Ribet, sich. *author dilemparin kulit pisang sama pembaca)

Diperjalanan menuju kantor Hokage, Naruto dan Shikamaru sama-sama bungkam. Naruto masih curiga dengan Shikamaru dan Shikamaru sendiri sedang pusing dengan keberadaan Temari yang dekat dengannya. Wajahnya masih merah dan detak jantungnya mulai hilang control.

"Kenapa kau bau karbol dan pengharum ruangan?" tanya Temari tidak tahan dengan keheningan yang menguasai mereka. Shikamaru yang berjalan di depannya tersentak dan kebingungan harus menjawab apa.

"Jangan-jangan kau ketukar antara sabun mandi dan karbol pembersih ruangan. Terus malah pakai pengharum ruangan bukannya parfum. Ha...ha...ha...," Naruto jadi geli dengan bayangannya sendiri. Ia memegangi perutnya dan sebisa mungkin untuk tidak ngakak di tengah jalan seperti ini. 'Tidak mungkin, kan' batin Naruto, tapi sayangnya kata-katanya itu tepat sekali.

Shikamaru berusaha menyembunyikan kekagetannya karena kata-kata Naruto yang tepat sasaran. Ia juga membayangkan mengapa ia sama sekali tidak ngeh ketukar pakai karbol bukannya sabun mandi (gelo, jelas-jelas karbol tuh panas). Padahal kan baunya itu.,,,

Temari dan Kankurou ikutan tertawa memikirkan kata-kata Naruto. Sementara Gaara hanya tersenyum tipis namun sejujurnya ia juga merasa geli.

'Sial, minggu ini akan berubah menjadi neraka,' batin Shikamaru menangis.

Segitu aja chapter 4. Sori banget ya untuk fansnya Shikamaru. Emang Shikamaru di sini OOC banget tapi nggak apa-apa kan? Sekali-kali.

Oh ya, pengumuman-pengumuman! Telah ditemukan anak hilang....eh bukan-bukan! Maksudnya, pengumuman, berhubung gw sang author minggu depan ulangan semester, chapter 5 akan diupdate sekitar tanggal 13 atau 14 Juni. Bisa lebih cepat kalau author lagi males belajar atau lagi stres ulangan. Maaf ya, tapi saya berjanji sumpah Shikamaru kesamber gledek (Shikamaru: lho kok gw sih!?) gw akan menyelesaikan fanfic ini.

Review!