Halo, maaf nih kalau kelamaan hiatusnya. Niatnya sih pingin fokus ke UN dulu, tapi malah kena musibah tabrakan. Pergelangan tangan kananku retak dan nggak pewe buat ngetik, belum lagi harus nyari sekolah dulu. Jadi jangan heran kalau hiatus yang sudah terencana itu molor panjang. Oke deh, mungkin gaya penulisanku rada beda gara-gara sudah lama nggak main-main kata heh? #curhat sebentar
bleach © kubo tite and sister for karin © oppa panda/new pen name
tidak suka? tidak usah baca. simpel kan?
Prangg!
Tanpa sengaja aku memecahkan piring ketika hendak mengambil gelas kesukaanku. Mataku membelalak lebar dan tanganku menutup mulutku secara reflek. Pecahan-pecahan beling berserakan di sekitar lantai dapur, aku begitu panik saat mendengar suara panggilan dan derap langkah kaki yang menuju kemari. Bingung, aku takut jika seluruh anggota keluargaku akan memarahiku karena aku berulah lagi, tapi kali ini benar-benar tanpa unsur kesengajaan sama sekali. Duh… gimana ini?
Mataku bergerak-gerak gelisah, segera kuletakkan kembali gelas bergambar bola milikku dan bergegas pergi meninggalkan dapur sebelum ada yang melihatku. Aku ingin menangis saat bersembunyi di dalam kamar mandi yang merupakan tempat terdekat dari dapur. Kemarin kakakku marah gara-gara aku menumpahkan tinta pada tugas karikatur buatannya, padahal niatku waktu itu adalah mencelakakan seorang gadis yang semenjak dua tahun lalu telah menumpang hidup di rumah ini. Tapi hasilnya gagal total, belum sempat aku beranjak keluar dari kamar, kakakku sudah memergokiku dan memancarkan tatapan tajam berkilat. Lalu sekarang?
Pintu kamar mandi kubuka sedikit untuk memberiku celah agar dapat melihat siapa yang berjalan menuju dapur. Mataku menyipit kala melihat gadis itu yang pertama kali datang dan mulai membersihkan sisa-sisa pecahan sebelum terinjak orang. Tangannya dengan telaten memunguti pecahan tajam tersebut tanpa rasa takut sampai pada akhirnya―"Auw!" dia memekik pelan karena telapak tangannya tertusuk beling dan mengeluarkan darah cukup banyak. Mau tak mau aku menahan tawaku yang ingin meledak agar tidak ketahuan, sudah lama aku menunggu momen sejenis ini. Melihatnya menderita adalah salah satu tujuanku berbuat ulah, aku ingin keluargaku memarahinya dan menendangnya keluar dari rumah ini. Dan sepertinya sekarang ini aku sedang mendapat suatu hiburan gratis yang jarang terjadi. Whahahahaha!
"Rukia, ada apa ini?" sebuah suara baritone yang sangat kukenal tiba-tiba menyahut dari belakang. Dapat kulihat kakakku tengah berdiri dengan agak terkejut sambil memandangi apa yang tengah gadis itu lakukan. Buru-buru dia menyembunyikan tangannya yang terluka agar kakakku tak menyadarinya. Meski cukup jauh, aku masih bisa melihat tangan yang tersayat itu mencengkeram bagian belakang dress yang dia kenakan. Seketika darah merembes mengotori kain berwarna cerah tersebut dengan cepat, tanpa sadar aku sedikit meringis membayangkan betapa perihnya. Apa dia bodoh, lukanya kan bisa infeksi kalau dibiarkan begitu terus. Heh, tapi aku kok malah mencemaskannya sih? Biarkan saja lukanya memarah, apa urusanku?
"Wajahmu pucat begitu, kau terlihat seperti menahan sakit, apa ada yang terluka?" tanya kakakku lagi ketika menangkap perubahan aneh pada gadis itu. Memang sih dengan sekali lihat saja siapapun juga akan tahu kalau dia sedang kesakitan, raut mukanya tidak bisa berkata bohong meski dia mencoba bersikap sewajar mungkin. Aku yang bersembunyi ikut mengamatinya, dapat kulihat darah semakin menyebar pada dress miliknya dan hal itu membuatku takut. Aku memang membencinya, tapi bukan berarti aku tidak peduli dengan hal sepele yang jelas-jelas menjadi masalah saat ini. Bayang-bayang tetesan darahnya membuat kepalaku berdenyut nyeri, aku jadi teringat kenangan buruk tentang Ibu yang kehilangan banyak darah setelah jatuh dari pohon. Sekujur tubuhku mendadak merinding, niat baik Ibu yang ingin mengambilkan layang-layang untukku malah berubah petaka besar. Dan sekarang… darah dari telapak tangannya semakin mengucur deras. Waaa gawat!
"Kau lebih baik jangan mendekat ke sini, tempat ini mau kubersihkan dulu supaya tidak ada pecahan belingnya lagi. Bahaya kalau sampai terinjak olehmu dan adik-adikmu, sudah sana aku harus meneruskan pekerjaanku lagi," gagapnya dan berusaha menutupi darah yang menggenang di lantai agar tak terlihat oleh kakakku. Dia begitu kewalahan, bahkan dia sempat beberapa kali meringis menahan ngilu, lukanya semakin membengkak dan harus diobati secepatnya supaya tidak berakibat fatal. Aku meneguk ludahku secara susah payah, bisa-bisanya tadi aku tertawa padahal dia sudah berbuat sampai sejauh itu.
"Kalau butuh bantuan, aku ada di depan TV," kata kakakku pada akhirnya. Gadis tadi bernafas lega dan segera membuang pecahan piring yang berhasil dia kumpulkan ke dalam tong sampah. Setelah itu bergegas menekan telapak tangannya yang terluka sekuat mungkin untuk mengurangi pendarahan. Dia sampai menggigit bibir bagian bawahnya untuk meredam rintihan saat air kran mengalir membasuh darahnya. Matanya terpejam sedikit mengeluarkan air mata begitu tahu bekas sayatan beling tadi berubah biru. Aku yang tak tega segera menghampirinya tanpa sadar, namun dia malah terkejut dengan kehadiranku.
"Ka-Karin, aku akan membereskan piring yang tadi pecah kok, tolong jangan kau adukan pada Paman Isshin," pintanya memohon padaku. Apa gadis ini betul-betul sudah gila? Untuk apa aku harus mengadukan pada Ayah dalam kondisi seperti ini? Hanya orang keji saja yang akan melakukan tindakan itu. Heh?
Malam ini aku tidak bisa tidur karena terus kepikiran dengan luka gadis itu. Kalau boleh jujur, baru pertama kali ini aku merasa khawatir padanya. Padahal setiap hari aku selalu membentak, memaki, dan memperlakukannya seperti seorang pembantu yang tidak pernah becus dalam bekerja. Aku menggulingkan badanku ke arah samping, menghadap langsung pada saudara kembarku yang sudah terlelap karena kelelahan bekerja kelompok siang tadi. Kulirik jam dinding yang berdetak teratur mengisi keheningan ruangan ini, sudah pukul sepuluh malam tapi mataku tak kunjung terpejam sedari tadi. Akhirnya aku beranjak keluar dari kamar karena tak tahan, takut-takut berjalan perlahan menuju dapur untuk membasahi kerongkonganku yang kering.
"Maaf Momo, dress yang kau pinjamkan jadi kena noda darahku. Sudah kugosok dengan sabun tapi tetap saja tak bisa hilang bekasnya, kalau tabunganku sudah cukup akan kuganti dengan yang baru deh, aku janji."
Mendengar suara yang sangat familiar itu, buru-buru aku melangkahkan kakiku menuju teras samping rumah. Tempat itu adalah ruangan khusus untuk menjemur pakaian, tak heran kalau kau akan menemukan mesin cuci dan ember-ember di sana. Namun bukan cuma perkakas-perkakas itu saja yang tertangkap oleh indera pengelihatanku, melainkan sosok lain yang selama ini selalu kujahati juga tengah berdiri gelisah sambil mendekap dress yang tadi siang dia pakai. Hee? Berarti dress itu yang ada bekas darahnya dong?
"Besok aku akan cari ke butik yang menjual dress ini, kau boleh marah padaku tapi jangan mogok bicara ya," lirihnya pada seseorang di seberang sana, aku baru tahu kalau dia menelepon sahabatnya dan minta maaf karena dress pinjamannya kotor dengan noda darah, benar tidak sih? Kurasakan mataku memanas tak tahu kenapa, yang jelas aku mau menangis sekarang ini. Bukan karena aku ini cewek cengeng, tapi kok rasanya sedih mendengar percakapan via telepon barusan. Sudah mengambil alih tanggung jawabku yang harusnya membersihkan beling, tangannya bengkak karena terluka, masih mau menguras tabungannya untuk mengganti dress orang lain? Huweee… dia ini kenapa sih, jadi orang kok kebangetan baik begitu?
"Lho? Karin kok―"
"Huweee… aku janji nggak akan nakal lagi kok sama Rukia-nee, bakalan jadi anak yang manis deh," tangisku pecah dan langsung menerjang gadis berparas manis itu dengan pelukan. Terisak hebat sembari mengusap-usap ingus pada bajunya tanpa sadar, iuh… sekali-kali jorok tidak apa-apa deh. Dan detik berikutnya yang aku tahu adalah kehangatan yang telah lama kurindukan dari sepasang lengan ramping miliknya, mirip sekali dengan Ibuku. Jemarinya yang lentik memainkan tiap helaian rambut hitamku dengan penuh sayang, sedikit kekehan ringan darinya mulai terdengar. Dia ketawa?
"Nggak apa-apa kok, asalkan kamu mau kupanggil Karin-CHAN, pasti aku maafkan, hihihi…"
Hah? Chan? Itu embel-embel 'oenyoe' banget gitu, masa dia serius ingin memanggilku seperti itu? Aku malu dong kalau sampai ada teman-temanku yang dengar, image yang sudah kubangun sedemikian lamanya bisa hancur! Dengan enggan, aku mengangkat kepalaku dan menatap mata bundar besar itu, warnanya bagus banget seperti langit malam. Bibirnya tersenyum tipis lalu mengedipkan sebelah matanya padaku, genit ah! Jawabanku?
"Iya, iya, aku mau…" cemberutku dan tawa kami berdua meledak bersamaan. Kalau lagi begini ternyata dia baik juga ya, mungkin aku yang keseringan menganggapnya gadis culun tidak berguna. Waaa… peran baikku mulai deh, hehehe.
*end of flash back
"Aduh…" rintihku karena tidak sadar telah membuk jari telunjukku berdarah. Keasikan mengenang masa lalu sih, sampai lupa kalau sedang membersihkan pecahan kaca. Habis situasinya kan sama baik dulu maupun sekarang, bedanya ya kalau saat ini aku sendiri yang membereskan. Perlahan aku memberanikan diri menatap tetesan darah yang mengalir pelan. Meringis sakit, luka kecil begini saja sudah perih sekali, bagaimana dengan bekas sayatan Rukia-nee waktu itu ya? Sampai bengkak juga…
"Cepat cuci tanganmu dan tempelkan plester, bisa kemasukan kumam tuh," sahut sebuah suara lembut. Tangan mungilnya ikut berpartisipasi denganku, memunguti satu per satu kaca-kaca tajam yang berkilau membahayakan. Aku menoleh padanya yang tersenyum ramah, dia tampak senang hari ini, ada apa? Mungkinkah nilai ulangannya dapat bagus? Tadi pagi kan dia bilang kalau hari ini akan ada ulangan harian, lalu nilai kakakku bagaimanan ya? Sudahlah, toh dia itu bodoh.
"Ngomong-ngomong, hari ini Rukia-nee masak banyak sekali, apa sedang mencoba resep baru dari club?" tanyaku membuka topik baru sembari mencuci bersih tanganku, mengeringkannya dengan handuk kecil dan mulai mengobrak-abrik kotak obat untuk menemukan plester luka. Kulihat dia masih membereskan kaca-kaca kecil yang kasat mata dengan cara menyapu lantai dapur hingga benar-benar bersih. Dia cantik sekali kalau sedang seperti itu, auranya keibuan.
"Soalnya akan ada teman kakak yang mampir ke sini nanti sore, aku juga berniat mengajaknya makan malam sekalian, kata Paman Isshin boleh kok," ucap Rukia-nee tanpa menghilangkan senyum manis yang setia bertengger menghiasi paras cantiknya. Aku sedikit mengernyit setelah mendengar penuturannya, temannya akan datang ke rumah? Mungkinkah mereka mengadakan kerja kelompok?
"Memang siapa sih or―" Tok tok tok!
"Dia sudah datang, aku akan bersiap-siap dulu, Karin-chan tolong bukakan pintu untuknya ya!" seru Rukia-nee girang dan bergegas naik ke lantai atas, lalu aku? Masih keheranan karena perubahan mimik Rukia-nee yang terlampau senang, aku berjalan dengan agak ogah-ogahan menuju pintu. Perlahan gagang pintu kutarik dan pintu setengah terbuka, mataku membelalak lebar melihat siapa yang datang. Momo? Bukan, kupikir yang Rukia-nee maksud adalah gadis bercepol yang pintar memasak itu, namun ternyata dugaanku salah. Ini temannya?
Seorang pemuda bertubuh tinggi tampak tersenyum menyeringai padaku, dia mulai melepas topi yang menyembunyikan setengah wajahnya. Kini aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa dari seseorang yang Rukia-nee maksud dengan teman. Rambut spike putih, mata tajam berwarna keemasan, tubuh atletis yang terlihat begitu berotot juga dandanan casual yang tampak cocok untuknya. Mungkin kakakku akan kalah gaya jika lawannya adalah pemuda sekeren ini. Aku meneliti sekilas penampilan keseluruhannya, yang terlintas dalam benakku saat ini hanyalah satu kata… tampan.
"Hai, aku mencari Rukia," dia berkata dengan suara rendah, seakan-akan ingin menunjukkan sisi elegan dari dirinya. Coba kutebak, tak ada buku pelajaran ataupun tas ransel yang berisi barang-barang untuk kerja kelompok. Datang sendirian, berdandan rapi, lalu cowok pula. Ada beberapa pemikiran yang bergelayut memenuhi kepalaku, termasuk segala kemungkinan yang sebisa mungkin kutepis jauh-jauh. Biasanya kalau sudah begini, otak kita akan secara otomatis mengarah pada hal bernama… kencan?
"Maaf, kau temannya Rukia-nee?" tanyaku pelan. Bukannya memperhatikanku tapi dia malah melongokkan kepalanya ke dalam, aku pun mengikuti arah pandangnya karena ingin tahu. Dan apa?
"Kau cantik, sayang," gumamnya membuatku melotot. Sa-sayang?
*normal pov
"Dia bercerita semua tentangmu, bahkan perasaanmu padanya yang tak pernah berubah sampai sekarang."
Gadis berambut coklat susu itu menangis, ingin mengelak apa yang barusan dia dengar dari pemuda berstatuskan pacarnya. Tapi dia tahu bahwa dia tak mampu, semua yang terlontar dari mulut Ichigo adalah benar. Inoue, gadis bertubuh aduhai itu merosot ke tanah, membiarkan pemuda tampan tadi melihat sisi lemahnya selama ini. Percuma, dia bukanlah tipikal gadis tangguh yang dapat dengan mudahnya menyembunyikan sakit hati. Tangisnya semakin pecah kala Ichigo tidak berbuat apa-apa untuk membantu menopang bebannya, membiarkannya terduduk merasakan dingin permukaan tanah pada kulitnya.
"Aku mau pulang," pamit Ichigo kemudian, tanpa memandangnya pula. Apa pemuda itu lupa kalau dia ini adalah kekasihnya? Inoue semakin kencang menangis, dia butuh pelukan, butuh kasih sayang dari kekasihnya untuk saat ini. Tanpa sadar sepasang mata aqua green yang terus memperhatikannya sedari tadi, mulai melangkah mendekat. Menyentuh pelan pundak ringkih yang bergetar karena sesenggukan, mengusap puncak kepala dari gadis yang dulu pernah dia cintai, dulu.
"Nah kan, kalau kau bohong terus, beginilah akibatnya," pemuda tadi berkata lembut, membiarkan gadis bermanik abu itu memeluk erat kakinya. Gadis itu membutuhkan sandaran, mungkin dia bersedia mendengarkan curahan hati mantan kekasihnya sebagai seorang pemuda baik-baik.
Ichigo membelalak kaget. Dia baru pulang ke rumah dengan badan dan pikiran yang capek semua, sekarang malah harus bertemu dengan orang ini? Apa yang pemuda brengsek itu lakukan, ini rumahnya, tidak seharusnya dia berlagak sok seperti itu. Dan apa-apaan lagi itu, tangan busuknya dengan lancang merangkul pundak Rukianya? Berani sekali dia, mau mati heh?
"Yo, aku akan menemani Rukia makan malam, kau tidak keberatan bukan?" pancing pemuda berambut putih tadi, sepertinya dia berhasil membakar emosi Ichigo yang kini meledak-ledak.
"Shirosaki Hichi!" geram Ichigo berkilat marah.
continued on chapter 5
Sudah tahu kan siapa cowok berambut putih itu?
Mind to review? Review please…
