Author : Itami Shinjiru
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians
Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya. Beberapa OC baik karakter manusia atau makhluk mitologi diambil dari legenda dan mitologi nyata dengan pengubahan seperlunya.
Rated : T
Warning : Alternate Universe, Original Characters. Maybe contains some Out of Characters and Typographical Error
About this fic : Ini merupakan sekuel dari fic Paradox –by Itami Shinjiru
Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance. Little bit of Mystery
Any Little Note: Tebak sendiri POV dalam tiap chapter
~ PARADOX 2 ~
The Blood of Pomegranate
パラドックス 2 - ザクロの血液
CHAPTER EMPAT:
Let the Deads Stay Here
Gladiator's Colosseum, Takigakure
LAWANKU TERNYATA SEEKOR SCHEERA.
Panjangnya kira-kira sepuluh meter, jelas Scheera terbesar yang pernah kulihat. Aku curiga mereka menggunakan diet tambahan penggemuk atau apa, tapi Scheera itu tampak sehat dan ganas. Naga itu mempunyai tiga ekor yang masing-masing sepanjang tubuhnya: ekor paling kiri berupa thagomizer, ekor tengah berupa sengat seperti kalajengking raksasa, dan ekor paling kanan berupa godam seperti batu. Matanya empat, dua di masing-masing sisi kepalanya, dengan puluhan gigi setajam jarum di tengkorak sempitnya. Dua pasang sayapnya mengepak bergantian seperti sayap capung, dengan empat kaki berujung empat cakar melengkung seperti kait.
Yeah, dia benar-benar bisa membuat pemburu naga bergidik ngeri.
Tapi aku tidak.
Scheera langsung menembakkan bola api hijau, yang mestinya membuat musuhnya gatal-gatal sampai radang. Aku menghindar dengan melakukan gerakan meroda, dan dia menembakku terus. Tidak ada satupun yang mengenaiku.
Aku mengusap dahi. "Cuma segitu kemampuanmu?"
Scheera menggeram. Air liur berwarna hijau terang yang sekental agar-agar menetes pelan dari rahangnya, dan dia mendesing ke depan.
Aku berkelit tepat waktu sebelum dia mati-matian menguasai inersianya agar tidak menabrak dinding koloseum. Aku mengedikkan bahu, lantas menghindari semburan beruntun berikutnya. Scheera terbang, kali ini mencambukkan ketiga ekornya bergantian, dan aku menghindar dengan mudah, bahkan hampir memukul mata kirinya sebelum sengatnya menghunjam sesenti dari kaki kananku.
Penonton berteriak. Bukan sorakan untuk menyemangatiku, tapi sorakan kecewa.
"Darah!" Seru salah satu dari mereka.
Aku menggaruk kepala. "KALIAN INGIN DARAH?" Aku berteriak ke khalayak. "ITU YANG KALIAN MAU?"
"YA!" Sontak mereka mengangguk, berdiri sambil mengepalkan tinju ke udara, menghentak-hentakkan kaki. Entah kenapa penduduk Takigakure jadi kelihatan seperti binatang liar yang baru disuntik obat gila yang diramu oleh hantu stres.
Saat itulah si sialan itu menyerudukku dari belakang, membuatku terjerembab ke depan, nyaris mendarat dengan wajah lebih dulu. Untungnya tanganku sigap. Aku menghindar dari sengatan berikutnya dan mengambil kuda-kuda.
Penonton bersorak lagi. Mereka mungkin bakal melempariku dengan bungkus sushi atau apa kalau aku tidak segera menyelesaikan ini.
Rahang Scheera berasap. Aku tahu isyarat itu: satu tembakan besar.
Aku mengangkat tangan. "LIHATLAH!" Teriakku keras-keras. "KALIAN MAU SESUATU YANG EKSTREM?"
Penonton berteriak makin keras. Scheera menembakkan sebuah bola api yang mestinya bisa menghanguskan sebuah rumah dalam sekejap, tapi aku sengaja tetap diam di tempat. Beberapa penonton mulai memekik, sisanya berteriak. Aku? Tersenyum kecil saja.
Api itu mendekat. Makin lama makin ...
.
.
.
Bau.
.
VOOOOOOOOMMMM!
.
.
Api berkobar. Membakar tanah dan bebatuan, sebagian sampai membakar dinding koloseum di sebaliknya.
Tapi aku baik-baik saja, tuh. Sambil menahan seringai, aku menepuk-nepuk bajuku yang agak berdebu. Agak panas, tapi selain itu tidak terasa apa-apa. Hei, aku bertahan dari Amaterasu yang bisa membakar apapun. Api Scheera? Setitik lepuh pun tidak ada.
Naga itu menggeram, barangkali terkejut. Penonton bersorak. Kalau mereka mengira ini tipuan sihir atau apa, biar kutunjukkan. Aku mengeluarkan perkamen dari saku celanaku, melakukan handseal naga.
BOOFF!
Dalam sedetik aku sudah memegang sebuah sabit berwarna perunggu –gagangnya yang sepanjang 40 cm berwarna emas yang dibalut lilitan perban sutera berwarna merah darah, dan mata sabit itu tiga kali lebih besar dibanding arit yang biasa digunakan petani untuk membabat rumput, terbuat dari perunggu yang dicampur dengan titanium.
"Sini," aku mengayun-ayunkan sabitku. Bilahnya berkilauan diterpa sinar matahari siang, berkilat-kilat seolah begitu bersemangat menyambut korban pertamanya. Yah, kira-kira memang sudah setengah tahun aku tidak menggunakan senjata ini.
Scheera menggeleng, lantas mundur.
Aku tertawa renyah. "Apa? Kau menolak maju? Kalau demikian biar aku saja yang akhiri."
Aku menebas sabitku, dan naga itu terbelah dua kanan-kiri, ambruk dengan cipratan darah.
Satu detik.
Dua detik.
Tig–
"BUNUH! BUNUH! BUNUH!"
Penonton bersorak. Aku tersenyum kecil, mengangkat tangan. Mereka makin ramai. Aku mengalahkan seekor Scheera raksasa dengan sekali tindakan, hal yang pasti tidak pernah dilakukan peserta manapun. Mengingat itu, aku optimis bisa dapat uang banyak. Hahaha, bodoh ah.
Dari kejauhan, kulihat Fuu menggaruk kepala. "Baiklah," suaranya terdengar lagi, berusaha meredam antusiasme penonton. "Sambutlah juara kita, Deavvara-san!"
Penonton bersorak untuk kesekian kalinya. Kuharap Fuu –atau si pria bongsor kasar di depan itu- menyediakan minuman untuk mereka.
"Sudah selesai?!" Aku berteriak memprotes. "Aku berjalan jauh-jauh kemari dan cuma ini yang harus kuhadapi?"
"Idiot," Fuu menggerutu. "Baiklah, Deavvara-san! Panggil dia kemari!"
Pintu besi di sebelah barat bergetar. Tanah berderak, dan pintu tersebut menjeblak terbuka dengan kasar, langsung memuntahkan sosok raksasa. Badannya yang menggulung-nggulung sepanjang empat bus besar dilapisi armor dari tulang seperti lipan, hanya saja dia tidak punya kaki atau sayap samasekali. Naga ini mempunyai tiga kepala, masing-masing berrahang kokoh seperti tang dengan gigi-gigi berwarna kuning kecokelatan mengarah ke belakang. Mata bulat mereka berwarna merah darah dan di leher mereka, armor-armor tumbuh hingga melebihi batas, menjadikan mereka tampak seperti ular kobra raksasa yang punya tiga kepala dan perisai pelindung.
"Hoploces!" Pekik para penonton.
"Gilas!" Seru yang lain.
"Bunuh!" Teriak penonton yang berseberangan.
Hoploces menjulurkan ketiga lidah bercabangnya, mencoba menaksir kekuatan lawan. Aku sih, tenang-tenang saja.
"Bawakan aku seekor Jörmungandr!" Protesku, "apa ini?! Cacing berperisai berkepala tiga? Memuakkan!"
Penonton bersorak lagi. Entah mengejekku, entah mendukungku.
"MULAI!"
Hopocles menyemburkan api bersamaan, semburan tiga zat panas yang mencakup area yang begitu besar sampai dinding elemen tanah pun bisa terasa sia-sia. Aku hanya berdiri di tempat, membiarkan api itu melalap semuanya yang ada di sekitarku, meskipun itu berarti hanya debu, pasir, dan bebatuan.
Begitu api padam (sepertinya beberapa menit setelah itu) aku masih berdiri tegap dengan pakaian berasap, tapi tidak ada secuil tubuhku yang terasa panas atau lebam.
Para penonton berdecak kagum. Hoploces sampai harus menggeleng-gelengkan ketiga kepala mereka.
"Cacing baik," kataku, dan aku langsung melompat ke kepala tengah, meninju ubun-ubunnya teramat keras sampai rahang bawah kepala tengah menghantam lantai dengan suara berdebum, dan beralih ke kepala kiri. Dia memekik, dan aku mengayunkan sabitku melingkar ke bawah, memutus kepala kiri dengan sedikit usaha.
Darah mengucur seperti air mancur. Aku melompat ke kepala kanan dan bergelayut di jakunnya, berusaha mengindari air liurnya yang konon lebih lengket dari lem kayu. Dia berontak, tapi aku menusukkan sabitku ke tenggorokannya dan berseluncur ke bawah, menyobek lehernya dan berguling ke depan. Dua kepala sudah tumbang.
Kepala tengah meraung murka. Dia semburkan api lagi, begitu banyak sampai-sampai memenuhi dua pertiga lantai koloseum, membuat jelaga-jelaga hitam di dinding andesitnya. Tapi sia-sia –meskipun aku hanya diam di tempat, api seperti itu tidak ada artinya.
Dia akhirnya menyerang dengan kepala, menghunjamkan rahang mematikannya, tapi Hoploces itu hanya menggigit tanah. Aku melakukan handseal.
"為土: 大型茯苓課柱の術 !"
Doton: Cho Kajungan no Jutsu
(Elemen Tanah: Jurus batu pemberat super)
BUM!
Dia jatuh dengan kepala gepeng. Aku mengetuk-ngetuk ubun-ubunnya.
Hening sesaat, sebelum aku menghembuskan napas pelan dan menengadah ke hadirin.
"INI SAJA?"
.
Mereka bersorak lagi. Oh, sungguh merdu di telingaku. Aku menyeringai. Moga-moga saja aku tidak ketagihan acara gulat ala gladiator ini. Sepertinya hanya sesama Etatheon saja yang bisa membuatku bertahan selama lebih dari lima menit di arena ini.
.
"Dia membunuh dua naga ganas dalam waktu kurang dari dua puluh menit!" Pekik salah seorang penonton.
"Dia monster!" Seru yang lain sambil melempar sembarang benda ke arena.
"Dia keren!"
"Hebat, Deavvara-san!"
Aku nyengir. Kulihat diatas sana, Fuu menggaruk kepala. Ekspresi sedikit sebal tampak di wajahnya, tapi peduli amat.
"Deavvara-san menang lagi!" Serunya. Penonton meneriakkan namaku.
"Oh, belum selesai!" Dia mengumumkan lagi. "Sambutlah penantang baru kita! Juara bertahan selama lima minggu berturut-turut!"
Pintu berderak terbuka. Aku melemaskan leher, sabitku kusampirkan di punggung seperti pedang biasa. Dan dari kegelapan ruangan sebelah sana … muncullah seseorang berpostur tinggi besar, dengan cadar menutupi mulut dan hidungnya, dan pakaian aneh menutupi rambutnya. Jubah hitamnya berkibar seirama angin, dan mata hijaunya menatapku seperti menatap gundukan uang.
Aku mendecih. "Goton no Kakuzu."
Dia berhenti. "Deavvara," katanya, "sepertinya kau bukan penduduk lokal."
"Tentu saja, bodoh!" Aku mencibir. "Kau tenar. Sepenjuru Takigakure pasti mengenalmu … terlebih kau buronan internasional. Aku masih tidak mengira kenapa Madara tidak memanfaatkanmu saat Perang Dunia Naga Keempat atau saat perekrutan anggota-anggotanya, tapi lupakanlah."
Kakuzu menggeram. "Perang itu punya orang lain," kilahnya, "lagipula keuntungan apa yang bisa kudapatkan. Tsuki no Me jelas rencana yang berlebihan. Agak terlalu dipaksakan –aku lebih suka realitas manis yang memperbolehkanku mendapatkan apapun dengan usahaku sendiri. Itu lebih menarik dan menantang, dan hasilnya lebih riil."
"Jangan ceramah," aku mengacungkan sabitku.
Fuu sendiri garuk-garuk kepala karena kedua finalis kali ini sudah bicara banyak bahkan sebelum pertarungan dimulai. Aku sendiri, mau tak mau meningkatkan kewaspadaanku. Dia lumayan bagus. Kakuzu menguasai lima elemen dan dia berkali-kali lolos dari kematian. Sepertinya dia mengklon sel Zechuan atau apa, tapi semoga aku bisa mengetahuinya dalam pertarungan kali ini.
Gadis berambut biru kehijauan itu menghela napas malas. "Baiklah. Hadirin sekalian! Pertarungan terseru sepanjang sejarah! Goton no Ka-"
Kakuzu berpindah langsung ke hadapanku dalam sedetik, dan dia mengayunkan tinju elemen tanahnya. Aku menamengi diri dengan sabitku dan –BUM!
Tanah sekeliling meretak, tapi aku baik-baik saja. Dia menghempaskan diri ke belakang dan menyemburkan lima bola api sekaligus, tapi aku menangkis semuanya dengan mudah. Kakuzu melakukan handseal.
"原水: 水龍イルの術 !"
Suiton: Suiryuudan no Jutsu
(Elemen air: Jurus Naga Air)
Sebentuk naga China merembes dari lantai arena, membesar dan meninggi hingga matanya menyala kuning. Dia menerjang, tapi dengan sekali sabetan sabit, naga air itu pudar, pecah jadi ratusan galon air yang membasahi dinding koloseum.
"STOP!" Fuu memekik-mekik dengan megaphone sampai sound systemnya berdenging. "Aku bahkan BELUM bilang mulai!"
"Sekarang sudah," seruku, dan Kakuzu mengeluarkan kunai. Kami bertubrukan dengan senjata masing-masing, lalu terhempas ke belakang. Sejenak kupertimbangkan apakah ada bagusnya kalau kukeluarkan wujud naga sejatiku biar dia langsung kejang-kejang, tapi … tidak ah. Semua penonton bisa-bisa kabur, lagipula wujud nagaku tidak selincah wujud manusia. Meskipun itu artinya aku bisa meluluhlantakkan koloseum ini dalam dua menit, sih.
Naruto's Home
Aku kasihan padanya.
.
Dari tadi dia mengurung diri di kamar, padahal di Perpustakaan Alexandriana dia menjelaskan kalau kami harus segera pergi ke Takigakure. Mungkin dia sedang berkemas? Memangnya apa yang dibutuhkan, sih? Dari tadi, buku-buku tentang Gaya Koroiois jadi lahapannya, padahal menurutku itu tidak terlalu penting, meskipun … aku juga penasaran bagaimana bisa menghancurkan medan gaya itu. Memangnya siapa yang kira-kira paling tahu soal sesuatu yang begitu tua dan kuno … spesialis sesuatu yang purba selain informasi tertulis yang harus dicari di perpustakaan?
Kemudian sebuah ide terbetik di benakku.
Aku melakukan Shunshin, dan langsung berada di ruang tamu rumah Sasuke.
Persis ketika aku muncul, dia datang dibalik pintu, dan mengangkat alis kanannya.
"Ada apa?"
"Pertanyaan yang sangat klise," sambutku. "Baru dari mana kau?"
"Kau tak perlu tahu," jawabnya seperti biasa. Dia melirik jam dinding. "Sekarang jam makan siang. Moga-moga kau tidak kemari karena tidak ada makanan di rumahmu."
Aku mengibas tangan. "Tentu saja ada! Tapi sedikit makanan boleh juga, aku lapar."
Itu melenceng dari apa yang ingin kukatakan, tapi si Pantat Ayam mengajakku ke dapur. Dua menit kemudian, aroma ramen pedas menguar dan tiga mangkuk disajikan oleh … Itachi?
"Sejak kapan kau suka memasak?" Sergahku. Kakak Sasuke itu hanya mengedikkan bahu, dan ikut duduk di meja makan.
"Ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Draco P?" Dia langsung menanyakan intinya selagi sumpitnya mengaduk-aduk kuah berikut gulungan mi.
Aku menekur ke kuahnya yang berwarna merah seperti lava. "Ada … tapi bisa kita bicarakan nanti. Mari makan dulu."
.
.
.
Baiklah, mungkin kulewatkan saja bagian seruput-menyeruput kuah atau kunyah-mengunyah. Intinya, ramen buatan Itachi sangat pedas. Mungkin dia terinspirasi dari panas api kedelapan Etatheon atau spesies Burning Dragon.
.
.
.
"Jadi?" Itachi lagi-lagi menginterogasiku.
Aku menyesap habis minuman dinginku dan memintanya bersabar. "Jadi begini … kalian tahu soal Gaya Koroiois?"
"Naga-naga tertentu memilikinya," jawab Sasuke datar. "Kebanyakan sudah punah."
"Kalian tahu dampak apa yang diakibatkan gaya itu pada naga yang memilikinya?" Aku memburu pertanyaan. Sebenarnya aku sudah melihatnya sendiri, tapi apakah kedua bocah Uchiha ini tahu lebih banyak dari itu?
Itachi menaruh tangan kanannya di dagu. "Menurut penjelasan Ayah, Gaya Koroiois mengakibatkan semua serangan—hampir semua serangan yang ditujukan ke si pemilik tidak akan mempan. Semacam tertahan perisai tak kasat mata atau apa."
"Omong-omong Uchiha Fugaku kemana?" Tanyaku.
"Rapat dengan tetua desa untuk mengambil tindakan," jawab Sasuke, "kabarnya Pararryon telah kembali—salah satu yang tertua diantara Naga Gatpura, padahal kukira semua Naga Gatpura sudah mati. Menyebalkan saja. Hermes memberitahu kami baru-baru ini, dan setelah itu Ayah mulai panik."
Aku manggut-manggut. "Dia mungkin tahu betapa berbahayanya Pararryon itu. Dia merencanakan pembangunan sebuah planet baru khusus untuk dihuni naga. Rencana yang gila."
Kedua Uchiha bersaudara menatapku dengan penasaran. "Darimana kau–"
"Terakhir kali Pararryon berada di Menara Anglelo, dekat Otafuku Gai. Aku bahkan sempat berseteru dengannya, bersama Ardhalea dan Kurama dan Demetra …" aku menggaruk kepala, "dia memang punya itu. Medan gaya itu begitu kuat sampai-sampai sebagian besar serangan kami tidak bisa memecahkannya."
"Jadi … kau mau berunding," tebak Sasuke.
"Lebih tepatnya," aku bersiap-siap memojokkan mereka, "aku ingin bertanya pada kalian. Kalian tahu lebih banyak tentang kekuatan-kekuatan kuno dibanding klan lain, kan? Misalnya sejarah Shinjuu bangka itu, atau Rinnegan dan Mangekyo Sharingan Abadi dan semacamnya. Jadi … kurasa kalian mengetahui sesuatu yang lebih tentang Gaya Koroiois? Seperti yang dicantumkan dalam Tablet Batu Uchiha?"
Dahi Itachi berkerut. "Tablet itu cuma bisa ditafsirkan sepenuhnya dengan Rinnegan."
Aku melongo, ketinggalan satu fakta penting. Tingkatan tertinggi Sharingan di Perkampungan Uchiha cuma sebatas Mangekyo Sharingan saja, hanya cukup untuk membaca separuh –atau bahkan kurang- isi tablet batu. Bahkan Madara yang berkesempatan mengungkap dua pertiga isinya tidak menyinggung kekuatan Koroiois.
"Apa dua atau lebih kekuatan Mangekyo Sharingan tidak bisa saling membantu?" Tanyaku, masih belum puas.
Itachi menggeleng. "Sebelum Sasuke membangkitkan Mangekyo, aku dan temanku, Uchiha Shisui, pernah mencobanya. Tapi tidak berhasil. Sekarang Uchiha Shisui sudah meninggal di akhir Perang Dunia Naga Keempat, jadi pengguna Mangekyo di perkampungan ini memang tinggal kami berdua."
"Duh. Dimana kita bisa menemukan orang yang mempunyai Rinnegan?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Kau lupa? Orang itu sudah ada –dia menguasai lima elemen berikut pengembangannya, jutsu-jutsu tingkat tinggi, dan hewan panggilan yang begitu banyak. Dia bahkan terlibat dalam perang sebelumnya, di kubu baik kita. Hei, jangan katakan kau melupakannya samasekali, Otak Udang!"
Aku menggaruk kepala. "Aku tidak ingat."
Itachi menghela napas. "Uzumaki Nagato," jawabnya. "Sekarang dia di Amegakure, bersama teman-temannya. Nah, kalau kau tidak keberatan, aku bisa memanggilnya kemari dan menyuruhnya membaca Tablet Batu Uchiha –dengan persetujuan seluruh tetua desa."
Aku bangkit dari kursi. "Kabari saja aku kalau dia sudah bisa menerjemahkan semuanya."
"Mau kemana kau?"
"Ardhalea menyuruhku ke Takigakure," aku merengut. "Entah untuk apa, tapi sepertinya ada sesuatu yang penting. Jadi … soal Tablet Batu Uchiha kuserahkan saja pada kalian," tanpa basa-basi lagi, aku melakukan Shunshin, kembali ke rumah.
.
.
.
Kosong.
Aku celingukan, tapi tidak ada siapa-siapa. Kurama dan Demetra mestinya sudah berisik di halaman depan, tapi hanya desiran angin yang bersuara. Apa jangan-jangan Ardhalea sudah pergi duluan karena tidak sabar menungguku yang pergi entah kemana? Dia memang aneh, sih.
Daripada penasaran, akhirnya aku berjalan ke kamar orangtuaku (yang sekarang sudah jadi kamarnya) dan memutar gagang pintu.
.
Dia disana, sedang mengaduk-aduk lemari ibuku. Beberapa stel pakaian tegeletak begitu saja di lantai. Bagiku masalahnya bukan itu.
Ardhalea memunggungiku, sedang mematut-matut salah satu pakaian, tapi dia telan—
.
"ENYAH KAU!" Gelegarnya.
"HEI!" Aku memrotes, langsung memalingkan wajahku, "SALAH SIAPA LUPA MENGUNCI PIN-"
BUK! Sebongkah buku seberat barbel menghantam kepalaku sampai aku jatuh tersungkur ke depan, dan kudengar bunyi pintu dibanting persis di belakang punggungku.
Wajahku seperti baru dihadap-hadapi oleh mulut seekor Wyvern. "Kenapa juga kau harus mencoba-coba pakaian?!" Aku masih berkilah, barangkali dia bisa mendengar dari dalam sana. "Kau bahkan bisa mengganti kostum dengan sangat mudah waktu bertarung dengan Laramidia waktu itu!"
Dia tidak menjawab. Aku menyerah, menunggu dia keluar, tapi lima belas menit kemudian tidak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka.
Aku mengetuk pintu pelan-pelan. "Boleh aku masuk sekarang?"
Tidak ada jawaban. Aku tidak sabar, jadi kubuka saja dengan waswas, tapi dia sudah memakai pakaiannya lagi, dengan wajah semerah lobster rebus.
Aku menenggak ludah. "Tidak biasa-biasanya kau mengganti pakaian."
Dia menekur ke lantai.
"Takigakure, ingat?" Aku mengalihkan pembicaraan. "Kenapa Kurama dan Demetra lama sekali, sih? Aku sampai sempat memberitahu hal ini pada Sasuke dan Itachi dan meminta mereka memecahkan misteri Gaya Koroiois dengan Tablet Batu Uchiha –kalau itu bisa dilakukan."
Dia mulai berfokus lagi. "K-kau pergi ke Perkampungan Uchiha barusan?"
Aku mengangguk malas. "Tapi karena Tablet Batu Uchiha hanya bisa diterjemahkan sepenuhnya dengan Rinnegan, jadi tidak ada yang bisa. Itachi berjanji memanggil Nagato dari Amegakure. Dia punya Rinnegan, siapa tahu dia bisa."
Ardhalea mematung. "T-terimakasih."
Aku mengangguk sekali. "Tidak masalah. Hanya saja Ardhalea ... kalau ini memang sangat penting, kenapa kita tidak pergi tanpa Kurama dan Demetra –langsung ke Takigakure? Kau bisa melaju diatas lima ratus kilometer perjam, kan? Dan kenapa pula kau harus mencoba-coba pakaian ibuku –kalau kau mau, lebih baik kita sekalian pergi ke toko."
Dia terdiam. Lagi-lagi.
Aku menghela napas berat. "Akhir-akhir ini kau aneh sekali. Setelah ..." aku menjentikkan jari. "Setelah pertarungan dengan Pararryon sialan itu. Memangnya ... ada masalah?" Tanyaku takut-akut.
Butuh lima menit sebelum dia menjawab.
"Naruto," bisiknya, "jangan katakan ini pada siapapun."
Aku mengernyit, tapi mengangguk juga.
Dia mendesah. "Kau tahu Saxoen Angelo yang kita hadapi tempo hari."
"Ya," sambarku cepat, "yang berwarna hijau, yang punya Gaya Koroiois juga. Kau berusaha membujuknya waktu itu tapi tidak berhasil."
Dia mengangguk. "Disitu masalahnya. Kau tahu ... naga itu menyemburkan apinya langsung padaku. Aku tidak terluka, tidak samasekali, seperti yang biasa terjadi. Kau tahu Etatheon mampu menoleransi api sepanas apapun –bahkan lava atau aliran piroklastik. Tapi api Saxoen Angelo sepertinya punya kekuatan lebih dari sekedar membakar atau mengelupasi," ceritanya takut-takut.
"Biar kutebak ... itu melemahkanmu."
Ardhalea menatapku tajam. Aku bergeser darinya beberapa senti, tapi pandangannya melunak. Mata abu-abunya berkaca-kaca.
"Bukan cuma melemahkan," isaknya. "Api itu menghapus seluruh kekuatanku!"
Sekarang giliranku tertegun. "Bagaimana BISA?"
"ENTAHLAH!" Pekiknya. "Malam itu aku langsung merasa sangat lelah, tidur terlalu nyenyak, kemudian ketika bangun ... inderaku melemah. Aku mencoba di halaman belakang untuk berubah jadi seekor naga –wujudku yang sesungguhnya, tapi tidak berhasil! Bahkan sekedar mempunyai sayap atau tanduk saja tidak! Sekarang bahkan pedang dan belatiku hilang! Aku tidak bisa lagi mengganti pakaian semudah itu –atau mempunyai kemampuan apa-apa!" Dia meremas tangannya, airmatanya merembes dari kelopaknya.
"Yang tersisa dariku cuma ..." dia meraba dadanya, menyembulkan tonjolan kecil berwarna merah yang berkilauan memantulkan sinar matahari. Aku tahu persis apa itu. Darah Delima, dengan versi lebih kecil. Tapi kenapa disitu?
Dia meraba pinggangnya. "Ketujuh berlianku masih ada ... tapi tertanam di kulit dan tidak berfungsi apa-apa."
"Jadi itu sebabnya kau menolak bertarung di Alexandriana," aku manggut-manggut mengerti. "Juga saat kau menghabiskan sarapan lebih banyak atau alasanmu membawa Kurama dan Demetra."
Dia mengangguk pelan. "Naruto ... kalau Deavvara sampai tahu ..."
"Dia kakak yang baik," potongku. "Dia akan mengerti. Dia juga merawat Saxoen Angelo, barangkali Deavvara tahu semacam penawar."
"Justru aku mengkhawatirkannya. Kalau Saxoen Angelo kecil sudah bisa menyemburkan api dan dia terkena semburannya ..."
Aku tersenyum getir –soalnya bagaimanapun situasinya, pasti akan lucu melihat Deavvara kebingungan gara-gara kekuatan Etatheonnya hilang- walau aku tidak berharap itu terjadi, sih. Bisa-bisa dia langsung menyembelih Saxoen Angelo kecil yang malang itu dan menjadikannya kudapan.
"Jadi sekarang kau mengaduk-aduk lemari untuk mengganti pakaianmu?"
Dia mengangguk malu. "Mau bagaimana lagi."
Aku meregangkan punggungku. "Dalam perjalanan ke Takigakure, kita bisa mampir ke toko busana," aku berjalan hingga wajah kami berhadapan. "Jangan khawatir begitu. Semua akan baik-baik saja."
Dia menahan isaknya. "Bagaimana kau tahu."
"Karena aku sudah pernah mengalaminya," aku memegang tangannya, meremasnya kuat-kuat. "Waktu ... mencarimu."
Tangisnya mereda. Aku mencabut tisu dan mengelap airmatanya. "Setidaknya Taijutsumu masih bagus. Aku akan membantu sebisaku. Aku ... aku janji."
Dia memelukku.
"Seumur hidupku aku tidak pernah merasa begitu tak berdaya," cicitnya di dekat telingaku. "Ini hal yang ... baru."
Aku membalas dekapannya. "Lebih baik kau bersikap terbuka," balasku. "Oya. Apa ... ehm. Apa berlian-berlian itu selalu ada di tubuhmu saat kau mewujud jadi manusia –sebelum kau kehilangan kekuatanmu?"
Dia menggeleng pelan. "Manusia ya manusia, Naruto," dia melepaskan dekapannya, membuka-buka buku tentang Saxoen Angelo. "Aku menemukannya. Disini tertulis bahwa api dari naga jenis ini mampu mencuci bersih seluruh chakra tubuh naga manapun. Saxoen Angelo berburu dengan cara itu: dia menyemburkan apinya ke naga lain, dan membuat naga itu tidak bisa lagi menyemburkan api atau apapun kemampuannya. Dia akan dengan mudah membunuh dan memakan korban tanpa perlindungan, tanpa perlawanan berarti," jelasnya.
"Mencuci bersih seluruh chakra tubuh naga manapun," aku membeo. "Kok bisa kau terpengaruh?"
Dia mendengus. "Hei. Dalam definisi terlonggar pun, aku naga."
"Lalu penawarnya?" Aku mengganti topik pembicaraan. Ardhalea menggeleng lemas.
"Sejauh ini belum ada yang menemukannya."
"Bagaimana dengan Gaya Koroiois?"
"Nihil," katanya lesu. "Aku tidak menemukan sesuatu yang berarti selain daftar naga yang memilikinya. Dikatakan bahwa ninjutsu dan senjutsu tidak berarti untuk perisai tak kasat mata itu."
Aku menepuk dahi. "Dan senjutsu juga? Tch, firasat burukku jadi kenyataan! Lantas bagaimana kita bisa menyerangnya? Taijutsu sama saja bunuh diri!"
.
"Hei yang di dalam!" Sebuah seruan yang akrab di telingaku mendadak bergema. "Tunggangan sudah datang, ayo berangkat!"
"Kurama dan Demetra," cetus Ardhalea. Dia bangkit, memeriksa tas kulitnya, "aku sudah siapkan semua perbekalanku. Sebaiknya kita cepat."
Ketika kami menghambur ke beranda, dua naga oranye itu sudah siap –tanpa pelana, tali kekang, atau sanggurdi, tapi setelah mengenal mereka selama lebih dari tiga ratus tujuh puluh hari, aku yakin Kurama dan Demetra tidak akan berbuat senekat itu –misalnya menjatuhkan kami dari ketinggian dengan meniru gaya manuver Vereev atau Rodrigues raksasa.
"Takigakure?" Selidik Demetra begitu Ardhalea melompat ke punggungnya.
Aku mengangguk. "Itu tempat yang belum pernah kita kunjungi, kan?"
"Desa itu selalu mendapat nilai F saat inspeksi," celetuk Kurama. Sedetik kemudian, dia meralat, "kalau saja ada inspeksi tahunan tiap desa. Ayo berangkat untuk … ehm. Sebenarnya ini misi untuk apa, sih?" Dia menelengkan kepalanya.
Aku melirik Ardhalea, tapi dia hanya tersenyum simpul. "Mencari sesuatu yang berharga. Deavvara sudah menemukannya dan dia ingin hanya kita yang melihatnya."
Aku memaksakan diri tertawa. "Semoga saja kakakmu tidak bertindak macam-macam di desa penjahat itu."
Kurama dan Demetra menghentakkan keempat kaki mereka nyaris bersamaan ke tanah padat, membubung ke angkasa dalam hitungan detik.
Takigakure
"Ada yang punya camilan?" Aku menggerung ke penonton. Sudah setengah jam sejak Kakuzu memasuki arena dan bertarung melawanku, tapi satu-satunya kerusakan yang dihasilkannya adalah beberapa goresan di lengan dan kaki, jubah yang sedikit compang-camping, dan cadar yang sepertiga robek. Oh, dan semua benda itu miliknya.
"Kau membuatku bosan," aku duduk bersila di arena, sabit tergenggam di tangan. Aku bisa saja mengakhiri ini dengan menumbuhkan sayap dan tanduk, menghancurkan koloseum dengan sekali tebasan, tapi itu tidak etis. Bisa-bisa malah aku tidak terima uang honornya. Bicara soal uang, perutku mulai lapar. Aku melirik ke lorong baja, dan aku hampir bisa mendengar suara Angelo kecil itu yang merengek-rengek minta disuapi.
"Tidak ada pertarungan tanpa pemenang," Kakuzu masih berusaha bangkit. Dia jago lima elemen, tapi semua serangannya kutangkis dengan sabit dan api-api sederhana.
Aku mendengus bosan. "Aku tidak punya waktu! Kalau kau masih bisa mengeluarkan jutsu, cepat keluarkan sekarang!"
Kakuzu berdiri, tapi mendadak badannya menegang. Keningnya berkerut, dan dia mundur selangkah. Mata hijaunya memindai seisi koloseum. Aku sendiri mengernyitkan dahi.
"Aura hantu," desisnya.
Aku nyaris tertawa. "Hantunya adalah aku yang mati disini karena bosan!" Pekikku, dan dengan satu ayunan sabit, aku nyaris mengiris dinding koloseum jadi dua. Dia menghindar, tapi kali ini raut wajahnya tidak dibuat-buat.
"Deavvara!" Serunya. "Kau tidak memanggil hantu kemari, kan?"
"Apa sih maksudmu?" Sentakku. "Kalau kau memang sudah tidak bisa bertarung, menyerahlah sana!"
DRAK!
Sebuah benda berbentuk persegi panjang mendadak membobol tanah, muncul dari lantai koloseum begitu saja. Aku mengernyit, soalnya bahkan dari jarak seperti ini, benda itu kelihatan seperti peti mati. Hanya saja ... siapa sih yang mau memanggil peti mati? Memangnya mau menggunakan zombie untuk bertarung?
"Kakuzu," geramku, "mestinya kau keluarkan ini dari tadi agar kau tidak terlihat lemah!"
Kakuzu malah tampak bingung. "Bukan aku yang melakukan ini!"
Aku menggaruk kepala. Para penonton juga menunjukkan ekspresi heran dan menuding-nuding peti, jadi sepertinya ini memang bukan bagian dari pertunjukan. Spekulasi itu makin jelas ketika kulihat raut wajah Fuu juga tidak berbeda. Dia turun dari tempat pengawasannya, mendarat di lantai koloseum, dan berteriak dengan alat pengeras suaranya.
"SIAPA YANG MEMANGGIL ORANG MATI KE ARENA? ITU MELANGGAR PERATURAN!"
Baik aku dan Kakuzu tidak menjawab apa-apa. Fuu mendecih, lantas melempar pandangan ke penonton, tapi tidak ada yang mengaku. Aku melirik peti itu dengan sudut mata. Peti mati cokelat muda polos tanpa ukiran apapun, berbentuk balok dengan tutup tanpa keterangan mayat ... lebih mirip sebuah jutsu daripada ulah iseng. Tapi jutsu apa yang bisa menghidupkan orang mati? Satu-satunya yang terlintas di benakku hanya Ryuumei Tensei no Jutsu yang dilakukan Ryuuzetsu-Sara-Artemis untuk menghidupkan Ardhalea dan Rinne Tensei no Jutsu yang hanya bisa dilakukan oleh pengguna Rinnegan –itupun tidak butuh peti mati sebagai alat untuk mengantar tubuh hidup ke tempat yang diinginkan.
Bulu kudukku berdiri. Aku ingat satu jutsu lagi.
.
Masalahnya, seharusnya tidak ada yang menggunakannya ...
.
KRIEEETT...
.
Tutup peti mati itu membuka sendiri, jatuh berdebam di lantai koloseum. Semua mata menatap ke dalamnya dengan penasaran, tapi aku sendiri nyaris tidak bisa bernapas begitu tahu apa –lebih tepatnya siapa- yang ada di dalam sana.
Seseorang yang sudah mati. Dia pernah jadi musuhku –mestinya sekarang tidak, tapi barangkali dia masih menganggapku makhluk jahat nomor wahid. Aku pernah bertarung dengannya, nyaris menghabisi nyawanya.
Dia seorang ayah dari anak yang telah menyelamatkan dunia dalam perang keempat.
.
.
.
TRANG-TRENG
.
Sabitku jatuh berkelotakan di lantai koloseum. Sebutir keringat dingin meluncur lewat pipi kiriku.
Sosok itu ... tidak mungkin aku tidak ingat. Aku meneguk ludah yang terasa seperti kotoran Tailtorn. Peti itu mendadak menghilang secara ajaib, dan sekarang semua orang di koloseum bisa melihatnya. Laki-laki berambut kuning jabrik panjang, jubah putih dengan motif api berwarna oranye. Di punggungnya terdapat tulisan.
'YONDAIME HOKAGE'.
Pelan, dia membuka mata. Mata biru langit dengan pupil hitam, sama seperti yang pernah kulihat tujuh belas tahun yang lalu. Hanya saja sekarang bola matanya tidak berwarna putih, tapi hitam.
Dia mengerutkan alis. "Ortodox."
Rahangku mengeras, tapi aku memaksakan diri mengangguk. Aku mafhum, dia tidak mengetahui nama asliku. Tapi satu kata pertama yang meluncur dari mulutnya itu membuat semua manusia di koloseum seakan menciut sepersekian senti. Aku mengedarkan pandangan berkeliling untuk memastikan, dan setiap kali mataku menatap seseorang, dia langsung merinding ketakutan. Hei, memangnya kekuatanku masih sejahat itu?
Mata itu memindai sekelilingnya, terkejut menemukan seorang lansia bercadar dan berjubah hitam berdiri tak jauh di depan kanannya.
"Takigakure?" Selidiknya. "Kapan ini?"
"Tujuh belas tahun setelah kematianmu," jawabku. "Namikaze Minato, Si Kilat Kuning."
Fuu mengucek-ucek matanya. "Apa-apaan ini?! Kenapa Hokage Keempat bisa nongol tiba-tiba di wilayah–"
"Aku juga tidak tahu," aku memotong perkataannya lantang. "Tapi aku tahu jutsu apa ini."
"Edo Tensei," mendadak Kakuzu angkat bicara juga. Aku mengangguk sekali, berjalan pelan ke arah mayat hidup itu.
"Jutsu yang menghidupkan kembali orang mati dengan cara menaruh sebagian materi genetik yang bisa diidentifikasi –terutama darah, dan menyatukannya dalam tubuh hidup manusia lain sebagai cetak biru, kemudian diselubungi oleh abu dan membentuk rupa persis seperti manusia yang dikehendaki berdasarkan materi genetiknya," jelasku panjang lebar. "Jutsu ini dibuat oleh Senju Tobirama, dan disempurnakan oleh Orochimaru –tapi Edo Tensei sekalipun dilarang karena praktik penggunaannya begitu mengerikan."
"Minato," kataku begitu kakiku hanya berjarak tiga meter dari kakinya. "Siapa yang melakukan ini padamu?"
Dia mengedikkan bahu. Sang Hokage Keempat mengangkat tangan kanannya, menggerak-gerakkan jemarinya. "Rasanya aneh, hidup lagi setelah dorman untuk sekian lama," dia memandang langit, kemudian menatapku penuh curiga. "Apa yang kau lakukan disini, Ortodox? Kau menginginkan pertandingan ulang?" Dia menghunus pedangnya—yang keluar entah dari mana. Pedang abu-abu seperti katana dengan gagang berwarna biru.
Aku tertawa kecil. "Padahal aku hanya sempat mewujud jadi manusia selama beberapa menit, tapi tak kusangka kau masih mengingatnya. Ini cerita yang panjang, Minato. Sampai matahari terbit keesokan harinya pun masih belum selesai, tapi akan kupersingkat."
"Jangan disini!" Fuu mendadak bersua, sudah berada persis di sampingku. Aku tidak akan protes kalau dia bicara biasa. Masalahnya, megaphone-nya masih berada di dekat mulutnya.
"Aku tahu," ujarku sambil bersungut-sungut. "Aku akan pergi –setelah kau beri aku uang honornya!"
SLAP!
Minato merangsek ke depan, nyaris memotong hidungku dengan pedangnya.
"WOI!" Aku memekik lebih keras daripada yang kuniatkan. "Kenapa masih bawa-bawa senjata saat mati, sih?!"
"Mana kutahu!" Kilahnya. Langkahnya tidak teratur, tapi dalam tiga detik dia berpindah ke belakangku, menghunus senjatanya. Aku menghindar, dan detik berikutnya dia berada di depanku, dan aku menangkis kunai itu dengan tangan kosong. "Ortodox! Sebaiknya kau mempunyai penjelasan yang cukup masuk akal sebelum pedang ini menembus perutmu!"
Sabitku berbenturan dengan pedangnya. "Heh. Jadi kau menyimpan dendam padaku?"
Dia menatapku tanpa ekspresi, tapi kemarahan tersembunyi dibaliknya.
Aku mengangguk, lantas sibuk menangkis serangannya lagi. "Kau tidak—atau belum dikendalikan! Sepertinya aku harus menemukan orang yang menghidupkanmu dan mendampratnya sampai puas!"
Minato mengumpulkan chakra angin di tangan kanannya, menghunjamkannya ke perutku. Sialnya, aku sekalipun terlalu terpana sampai-sampai tidak punya cukup waktu untuk mengelak. Pusaran itu menggilas perutku dan aku jatuh terguling. Tidak berdampak apapun, tapi terkena satu Rasengan rasanya sakit dan aneh semenjak setahun lalu Naruto menghajarku dengan Wakusei Rasengan.
Aku mengusap bibir. "Sudah lama tidak merasakan yang seperti itu."
Dia menancapkan satu senjata andalannya ke tanah –Hiraishin Kunai, persis di depanku. Sekejap saja, pria itu sudah berdiri di depanku, mengayunkan tangan untuk Rasengan kedua, tapi kali ini aku siap. Aku mencabut sabit dan berhasil menamengi diri dari Rasengan tanpa terdorong ke belakang, dan dia menyerangku dengan kunai biasa.
"Naruto!" Seruku ditengah-tengah dencangan dua senjata kami. Mata birunya membesar.
"Dimana dia sekarang?"
"Konohagakure!" Aku berteriak lagi. "Sekarang anakmu telah menjadi pahlawan dunia, Minato!"
Dia mengernyit, tapi tubuhnya segera berpindah ke belakangku dan senjatanya nyaris menusuk punggungku. "Ardhalea menepati janjinya!" Aku berteriak lagi, "dia membesarkan anakmu sampai mandiri! Mengawasinya terus-menerus hingga Jiraya dari Myobokuzan datang untuk menyampaikan takdir yang sesungguhnya! Dia berkelana melintasi separuh dunia untuk menemukan Paradox bersama teman-temannya dan akhirnya mereka berdua bertemu! Delapan Etatheon sudah menyatu seperti sediakala!"
Kening Minato berkerut. Aku khawatir dia kebingungan gara-gara terlalu banyak informasi yang mesti diterimanya dalam hitungan detik, tapi kemudian dia mengangguk. "Apa Droconos bebas dari Altar Segel?"
"Kuberitahu kau!" Seruku. Ini mungkin saat yang tepat untuk menginformasikan khalayak Takigakure berita yang sesungguhnya. "Perang Dunia Naga Keempat telah usai setahun lalu! Kubu baik –Lima Negara Besar beserta Etatheon dan Klan Uchiha serta anakmu, berhasil mengalahkan Uchiha Madara, Uchiha Obito, dan Laramidia!"
"Lima Negara Besar?!" Pekiknya. "M-mereka bisa bersatu—tunggu!" Protesnya tiba-tiba. "Uchiha Obito dan Uchiha Madara mestinya sudah mati!"
"Muridmu masih hidup!" Seruku. "Dia diselamatkan Madara yang sudah jadi kakek-kakek selepas Kakashi dan Rin meninggalkannya, kemudian meneruskan ambisi Madara—Proyek Mata Bulan, melancarkan Mugen Tsukuyomi yang membawa seluruh dunia ke dalam tabir mimpi tak berbatas! Styx membangkitkan Madara lagi, dan mereka berdua bekerjasama dengan Laramidia, anak tengah Keturunan Ketiga Horus dan Haumea! Tapi semua itu telah berakhir! Di akhir hidupnya Obito telah memilih jalan yang benar, mati demi Kakashi dan dunia, dan Madara dibunuh oleh Laramidia sendiri!"
Aku menyeringai sambil menghindari tebasannya. "Kemudian Naruto, bersama kedelapan Etatheon, memusnahkan Laramidia."
Minato tersenyum kecil, menghentikan serangannya. "Kedengarannya bukan cerita yang buruk," simpulnya, "jadi sekarang kau sudah membela kebajikan dan akrab dengan adikmu lagi?"
Aku tersipu. "Kira-kira begitu. Dan cerita yang tadi baru sebagian kecilnya. Naruto sekarang punya naga lain bernama Kurama, dari spesies Wivereslavia. Begitu banyak peristiwa telah terjadi, Namikaze. Kuakui, aku benci Edo Tensei—jutsu ini menyalahi hukum alam dengan menghidupkan kembali orang yang semestinya sudah tidak punya urusan lagi dengan dunia, tapi ada untungnya juga sebab aku bisa menceritakan kebenaran ini padamu."
.
"Ehm. Kalau kalian sudah selesai bicaranya ... bisakah aku mengambil giliranku bicara sekarang?"
Kami berdua memalingkan pandangan ke wasit turnamen. "Deavvara-san—atau Ortodox, terserah. Silakan ambil honormu di meja pembayaran tepi timur," tudingnya. "Honor dari dua pertarungan pertama."
"Hei!" Protesku—mengesampingkan fakta bahwa dia samasekali tidak terkejut ketika mendengar nama Ortodox. "Secara teknis dan ilmiah, aku mengalahkan Kakuzu."
"Itu kalau tidak ada mayat hidup yang mendadak muncul dari tanah dan mengganggu permainan," kilah Fuu enteng. "Sana."
Aku geleng-geleng kepala, tapi kemudian menarik jubah Minato, berjalan mengambil honor.
"Ayo pergi dari sini," sambarku cepat. "Aku harus makan."
The Hidden Village of Rain
Ruangan itu simpel saja—dinding besi mulus yang dicat tebal dengan warna kuning pucat sampai terlihat seperti dinding semen, dengan panggung kayu pendek, sebuah karpet tebal berwarna ungu, dan beberapa bantal pipih berwarna merah tua untuk duduk tamu. Nyatanya, ruangan itu berada di Menara Tertinggi Amegakure—yang tentu saja seluruh bagian luarnya dipenuhi pipa besi dan tiang-tiang seperti antena. Gerimis terus melukis tanah dengan warna gelap.
"Tablet Batu Uchiha?" Selidik Nagato.
Itachi mengangguk. "Itu benda rahasia yang terletak di bawah tanah rumah kami di Perkampungan Uchiha, Hi no Kuni. Menjelaskan seperangkat informasi penting tentang tatanan dunia dan kekuatan-kekuatan yang ada di dalamnya."
"Untuk membacanya, dibutuhkan Dojutsu," sambung Sasuke, "Sharingan, Mangekyo Sharingan, Eternal Mangekyo Sharingan, dan Rinnegan—maka isinya jadi semakin jelas seiring kuatnya Dojutsumu. Dengan kata lain, satu-satunya yang bisa membaca secara lengkap tablet batu tersebut hanya orang yang mempunyai Rinnegan."
Nagato menyesap tehnya. "Biar kutebak. Kalian memintaku ... menerjemahkannya?"
"Lebih tepat disebut membaca, sih," koreksi Itachi. "Jadi?"
"Aku pemimpin Amegakure sekarang," desis Nagato, "Hanzo dan organisasi gilanya sudah tidak ada—dan aku dan Konan serta beberapa teman lamaku sedang berusaha membangun kembali desa yang tertinggal ini, tapi sampai sekarang kemajuan kami baru lima puluh persen. Lumayan sulit. Aku tidak dibenarkan meninggalkan desa, tapi biar kucek dulu—kenapa kalian mesti menerjemahkannya sekarang?"
Sasuke menggaruk kepala. "Jadi kau belum mendengarnya?"
Nagato mengangkat satu alis.
"Pararryon," Itachi berusaha menjelaskan. "Naga Gatpura tertua, muncul, dan kembali dengan rencana gila. Dia ingin membuat sebuah planet sendiri dan menjadikan bangsa naga hidup dengan damai dan tenteram disana—terpisah dari Dracovetth. Itu menyalahi hukum alam. Dan dia mengembangkan sebuah teknik, mungkin semacam Ryooton atau elemen naga, yang disebut Gaya Koroiois, gaya yang menangkal semua serangan. Kami tidak tahu apakah informasi soal Gaya Koroiois tercantum di Tablet Batu Uchiha, jadi kami minta kau untuk membacanya."
Nagato manggut-manggut. "Menangkal semua serangan. Itu kelihatan seperti kekuatan Tendo milik Rinnegan."
"Mungkin saja keduanya berhubungan," cetus Sasuke, "siapa tahu Gaya Koroiois adalah Tendo versi naga—atau sebaliknya. Hei, sebentar. Bicara soal keturunan Horus dan Haumea ... kudengar Laramidia memperdaya Madara dengan mengubah Tablet Batu Uchiha. Jadi ... yang terdapat di perkampungan kita ... palsu? Kalau begitu siapa bisa jamin informasi yang terdapat di dalamnya sesuai dengan kenyataan?"
Itachi terdiam, baru menyadari kemungkinan itu. "Tidak semua bagiannya dipalsukan, kan? Beberapa peristiwa dan lokasi masih akurat. Contohnya saja Perpustakaan Alexandriana. Bahkan Mugen Tsukuyomi sekalipun tergolong informasi yang bagus tentang sebuah jutsu—maksudku setidaknya itu bukan informasi palsu. Jadi ... sebaiknya kita mengetahui isinya secara keseluruhan lebih dulu, baru mengambil kesimpulan."
"Bagaimana kalau kita tidak menemukan apa yang kita cari?" Selidik Sasuke. "Untuk jaga-jaga pada kemungkinan terburuk saja."
"Tablet Batu diukir sendiri oleh Rikudo Sennin, Dracovetth terhebat sepanjang masa. Dia sudah wafat ribuan tahun silam, jadi kita tidak bisa meminta kejelasan Tablet Batu pada siapapun—kecuali kalau kita mengetahui Sang Sennin mewariskan salinan tablet itu pada siapa, atau menyimpannya di suatu tempat," Itachi beragrumen.
Nagato menengahi. "Itu untuk kemungkinan terburuk, kan? Semoga saja Laramidia hanya mengubah—atau menambah perihal Tsukuyomi Tak Terbatas itu."
"Jadi," kata Itachi akhirnya, "kau bersedia?"
"Tentu," jawab Nagato tanpa berpikir panjang, "hitung-hitung untuk melunasi hutangku pada dunia. Aku akan perintahkan Konan untuk mengambilalih kepemimpinanku selagi aku pergi. Jadi ... kapan kita bisa bertemu tablet mengesankan itu?"
"Sekarang," sambar Sasuke. "Naruto mungkin akan menunggu kabar dari kita. Ayo."
Mereka bertiga menuruni tangga menara—yang entah berapa jumlahnya, tapi belum sampai ke dasar, mereka dikagetkan oleh suara-suara gaduh dari luar. Nagato, Itachi, dan Sasuke saling pandang, kemudian bergegas menuruni tangga.
BRAK!
Begitu sampai di beranda depan, Nagato melihat rekan terdekatnya—Konan, dengan bahu berdarah karena luka gores. Beberapa shuriken, baik dari besi maupun kertas, bertebaran di halaman beton. Gerimis mulai ringan, tapi mereka bertiga sulit mempercayai indera pengelihatan mereka.
"Konan," geram Nagato, "siapa yang berani-berani ..." laki-laki berambut merah itu memutus kata-katanya ketika melihat si penyerang.
"Kau!" Tuding Itachi. "Mestinya kau sudah mati!"
Konan terbatuk. "Aku juga tidak tahu," bisiknya, "tapi mendadak dia muncul disini beberapa menit yang lalu. Beberapa penjaga kita tewas diserangnya. Dia tidak lagi memakai Pinthowra, tapi kurasa sama buruknya. Nagato ... dia ..."
Nagato berusaha tetap tenang. "Pergilah. Kau tidak diterima lagi disini, dan martabatmu jatuh setelah kau kukalahkan."
"Sayang sekali," jawab sosok itu dengan suara sinisnya yang biasa, "sebab aku datang kemari dengan maksud menjatuhkan kekuasaanmu. Akulah pemimpin mutlak Amegakure."
Sasuke mencabut pedangnya dari sarungnya, memancarkan kilatan listrik. "Jadi seperti ini rupa seorang Hanzo no Sashuoo."
Nagato mengacungkan tinjunya ke depan. Tangan kanannya terlepas dari lengannya, membentuk semacam jet tinju, dan tanpa jeda yang cukup untuk dihindari, senjata itu berdesing dan meledak di tempat Hanzo berdiri, meretakkan dan melubangi fondasi beton, mengirim gelombang kejut angin yang kuat.
"Aku tidak mau membunuhmu dua kali," gerutu Nagato, "tapi mau bagaimana lagi."
.
"Usaha yang bagus."
Mereka bertiga terhenyak. Sosok Hanzo yang tercerai-berai jadi ribuan keping sekarang mulai utuh lagi, beregenerasi. Dia mengacungkan sabitnya. "Alangkah naif. Kalianlah yang akan kucincang-cincang!"
"Kak," desis Sasuke, "jutsu ini."
Itachi mengangguk muram. "Edo Tensei ... jutsu yang membawa orang mati kembali hidup. Tapi ... jutsu ini tidak sempurna dalam hal menghidupkan. Target jutsu mempunyai tubuh abadi ... kebal terhadap serangan apapun dan akan terus memperbaiki diri. Satu-satunya caranya adalah menyegel rohnya atau memblokade gerakannya."
Nagato mengertakkan gigi. Dia melirik Konan dan menyuruhnya berjaga di atas. "Aku tidak begitu pandai soal jutsu segel."
Itachi tersenyum kecil. "Tenang saja."
Mata onyx-nya berubah menjadi merah dengan tiga tomoe, dan dalam sedetik berikutnya berubah lagi menjadi pola shuriken bermata tiga. Aura merah kekuningan tampak di sekujur tubuhnya, dan perlahan membentuk kerangka hingga membungkus dirinya sendiri, membentuk sosok manusia sepinggang dengan hidung lancip, intan di dahi, dan satu tangannya memegang pedang panjang berbentuk tongkat, yang diselimuti api kuning pucat berkobar.
"Totsuka no Tsurugi," cetusnya, "siap mengantarmu ke dunia Genjutsu."
"Susano'o," decih Hanzo, "penggunanya jadi lambat. Barangkali aku tidak punya kesempatan, yah. Tapi ... aku tidak sendirian, sayangnya. Walaupun yang satu lagi itu bertugas mengurusi dua Uchiha brengsek macam kalian."
DRAK!
Sebuah peti polos muncul menembus fondasi beton. Peti tersebut terbuka, dan akhirnya menampakkan sesosok manusia berkulit putih, dengan rambut hitam pendek sedikit acak-acakan, mengenakan pakaian lengan pendek berwarna ungu dengan kerah tinggi, dan sebilah pedang segiempat di pinggang kanannya. Pelan, dia membuka matanya.
Nagato melirik Itachi dan Sasuke. "Biar kuurus Hanzo," sambarnya cepat.
"Sasuke," panggil Itachi kemudian, "bantu Nagato."
Sasuke mendencangkan pedangnya ke lantai. "Cih. Padahal kukira kita bisa melakukan tugas kita dengan cepat. Tak kusangka, diantara kemungkinan satu banding sejuta, kita menjumpainya."
Peti menghilang. Sosok itu menegakkan leher, kemudian mengangkat satu alis, heran. "Ini dimana?"
"Amegakure," jawab Itachi. "Sial. Aku benar-benar tidak suka ini."
"Kalau begitu mari kita selesaikan dengan cepat."
Unknown Mysterious Place
"Sudah kubilang!" Sosok itu memprotes. "Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku hanya tahu kalau dia mati dibunuh. Orang, eh—makhluk ini pasti lebih tahu!"
"Kau kasar juga," tukas sosok di sebelahnya. "Untuk ukuran orang mati."
"Cerewet."
"Itu tidak termasuk informasi, bodoh," sosok berjubah hitam di depannya menimpali. "Ya sudahlah. Sepertinya kita harus pergi ke tempat itu."
"Tidak mungkin bisa ditemukan," sosok di belakangnya bersikeras. "Kujamin. Dia mati tanpa meninggalkan jejak. Bahkan aku tidak tahu pasti siapa yang membunuhnya. Aku bahkan tidak tahu apakah dia mati setelah atau sebelumku, meskipun sepertinya orang sekuat itu mati setelahku."
Sosok itu memalingkan pandangan. "Berhentilah bersikap kekanak-kanakan."
"Hei, aku tidak."
"Kita harus menemukan benda itu lebih dulu," decih si jubah hitam, "aku membutuhkannya untuk memanggil makhluk-makhluk hebat. Sesuatu yang didapat dari penyatuan serpihan kekuatan Delapan Naga Dewa."
"Maksudmu Taiyotsuki no Tsurugi," jelas sosok di belakangnya. "Dia sudah hancur jadi kepingan-kepingan ketika Naruto menghantamnya dengan Rasengan. Entah Rasengan jenis apa itu, tapi bentuknya unik, sih. Kalau begitu caranya bagaimana bisa kita mendapatkan ..."
Dia tidak meneruskan kata-katanya.
"Hmm," gumam si jubah hitam. "Pedang Matahari-Bulan adalah satu-satunya dari lima pedang terkuat yang punya bentuk gaib—maksudku, dia hanya ada kalau ada orang yang mempersatukan delapan repihan kekuatan itu. Jadi ... kalau sekarang senjata hebat itu sedang memasuki masa dormannya, yang harus kita lakukan adalah membangkitkannya lagi. Untuk itu, kita butuh serpihan kekuatan Delapan Etatheon. Lagi."
"Bagaimana caranya?"
"Kita tidak bisa meminta baik-baik pada mereka," si jubah hitam manggut-manggut. "Kalau begitu ... kita rebut saja secara paksa."
Dinding sebelah mendadak hancur dengan pelan. Sebentuk ular setebal bus merayap keluar, mendengus malas, lantas menatap ketiga orang itu tanpa minat dengan pandangan datar.
"Ah," sahut si jubah hitam. "Parraryon. Mereka hampir siap."
"Kau membuatku menunggu," dengus Pararryon. "Apa lagi yang kau butuhkan, sih?"
"Sedikit," gerutu si jubah, "mereka nggak mau mengambilkannya untukku, jadi terpaksa aku bekerja sendiri, deh."
Sang Gatpura mengernyit.
Si jubah mengangguk. "Aku membutuhkan kekuatan delapan Etatheon. Eh, maksudku ... serpihan kecilnya saja tidak apa-apa. Serpihan kecil saja sudah cukup. Setelah itu aku akan bermain-main sebentar dengan sejarah dunia dan kau bisa lakukan apapun yang kau mau. Bidakku kurang lengkap kalau tanpa dia."
Pararryon menggeram. "Kau? Mencuri kekuatan Etatheon? Mimpi, Bung. Dengan kekuatanmu yang sekarang, mustahil kau bisa mendekati mereka."
"Delapan Naga Dewa semuanya memang amat kuat," timpal salah satu sosok di belakang si jubah hitam, "aku melihat sendiri mereka."
"Ya, ya, ya," gerutu si jubah, "kalau begitu mungkin aku membutuhkan bantuan Anda, Pararryon Yang Agung. Hitung-hitung bertemu dengannya lagi."
"Bodoh," dengus Pararryon. "Akan kulakukan kalau waktunya sudah tepat di tempat yang tepat. Mata-mataku belum melaporkan hasil."
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Author's Note:
Chapter empat selesai! Fyuh.
Hmm? Apa ya yang mau gue sampaikan? Oh, gak ada deh.
Baiklah, untuk chapter-chapter awal mungkin belum tembus 10.000 words, tapi untuk kedepannya saya usahakan words meningkat. Ditambah lagi, saya tidak tahu kapan jadwal rilis, soalnya penggunaan internet terbatas (*BUWAKH*). Jutsu baru kelihatan disini: Edo Tensei! Minato dan Hanzo telah dibangkitkan, tapi siapa yang melakukan ini? Apakah Orochimaru? Apakah Kabuto? Apakah saya? (BUGH). Siapa saja yang terkena imbas jutsu ini? Tunggu jawabannya di chapter-chapter mendatang!
Dan saya ingatkan kembali bahwa review Anda sekalian akan dapat membantu memperbaiki kekurangan yang masih terdapat disana-sini, atau kalau ada saran, tulis saja di kolom review!
See you again on chapter 5!
-(Lagi-lagi)Itami Shinjiru-
-Dragons List in Chapter Four :
Hopocles (Naga OC)
Strength : Sangat tinggi
Ukuran : Panjang 65 meter, berat 50 ton
Kecepatan terbang : Tidak dapat terbang, tapi mampu merayap dengan kecepatan 30-50 km/jam
Spesial : Tiga kepala, armor pelindung, dan ludah lengket
Tipe serangan : Serangan langsung atau menyemburkan api berbentuk kipas dengan jarak serang luas
Kategori : Monstrous
Elemen spesial : -
Level bahaya : Gila
Pemilik : Tidak ada
Scheera (Naga OC)
Strength : Medium
Ukuran : Panjang 6-10 meter, berat 3 ton
Kecepatan terbang : 10-250 km/jam
Spesial : Sengat ekor, gigitan beracun, dan manuver handal
Tipe serangan : Menyengat, menendang dengan kaki, atau mengait dengan sayap, juga menyemburkan api hijau
Kategori : Naga Mirakel
Elemen spesial : Racun
Level bahaya : Jauhi!
Pemilik : Tidak ada
