The One Who Makes Me Smile

Chapter IV

Sudah empat tahun ia berpisah dengan mantan kekasihnya. Namja itu kini dikenal sebagai seseorang yang dingin dan pendiam. Tidak ada yang pernah melihatnya tertawa, bahkan tersenyum pun jarang. Keluarganya pun bingung apa yang harus mereka lakukan untuk mengembalikkan si anak bungsu itu menjadi anak yang ceria seperti dulu. Meski ketampanannya itu tak luntur sama sekali, tapi kemurungannya membuat aura di sekitarnya memburuk.

Sudah seharian ini dia termenung di kamarnya, merasa tidak ada harapan lagi. Hanya rasa putus asa yang kini ia rasakan. Mungkin usahanya untuk bersetu kembali dengan mantan kekasihnya itu sia-sia saja. Ia sudah mendaftar ke berbagai sekolah di amerika, namun semuanya tidak berhasil. Sudah terlalu banyak biaya yang ia keluarkan, meski ia tahu appa nya adalah orang yang kaya. Kini rasanya percuma saja ia menangis. Tak kan ada yang bisa mengobati kekecewannya itu.

Hatinya yang sudah lama tersakiti itu kini sudah merasuki pikiran dan tubuhnya. Ia memang belum sarapan sejak ia bangun tadi pagi. Badannya terasa sangat lemas, perutnya mulai terasa sakit, dan kepalanya pusing. Ia bergelimpangan di atas tempat tidurnya dan merintih kesakitan. Tak lama kemudian, pandangannya mulai kabur. Seseorang berlari menuju ke arahnya sambil menyebut-nyebut namanya. Ia tidak bisa melihat jelas siapa orang itu, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.

~HunHan~

Perlahan ia membuka matanya, melihat ke sekitar yang sangat asing baginya. Ia terbaring di satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Ruangan yang cukup kecil yang mungkin hanya berukuran 9 cm persegi dengan bau obat-obatan disana-sini. Ia tahu persis ia ada di rumah sakit sekarang.

"Kau sudah bangun?" Kata seseorang di sebelah kiri yang berjalan menuju kearahnya. Ia mengelus lembut rambut Sehun.

"Iya, umma. Apa aku di rumah sakit?"

"Iya, sayang. Apa kau lapar?"

"Sedikit"

"Baekhyun dan appamu sedang pergi keluar membeli makanan. Sebentar lagi mereka akan kembali" Sehun mengangguk sebagai jawaban. Pandangannya tiba-tiba berubah sendu. Masih tidak ada senyum di wajahnya.

"Dengar" Kata D.O. Sehun menoleh ke arah ummanya.

"Kau tahu umma dan appa khawatir tentang ini bukan? Kau tahu kami sangat khawatir? Akhir-akhir ini, atau tepatnya setelah hari itu, kau selalu murung. Kau tidak pernah memperhatikan sekitarmu. Bahkan kau tak pernah memperhatikan kesehatanmu." D.O menghelas nafasnya. Ia sangat khawatir, namun ia juga tak ingin menyakiti perasaan anaknya itu. "Berjanjilah pada umma kau akan berubah, berjanjilah kau akan baik-baik saja, meski ia tak bersamamu lagi"

"Itu sulit umma"

"Lalu sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau ingin terus-terusan sakit? Apa kau ingin membuat appa mu miskin?" Kata D.O sambil sedikit membentak. Sehun menundukkan kepalanya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tahu yang dikatakan ummanya itu benar, tapi di lain sisi, hatinya tidak akan pernah menerimanya.

"Ada apa ini?" Kata seseorang yang baru saja masuk sambil membawa dua kantong berukuran sedang berisikan makanan dan minuman. Ia tersenyum ke arah anak bungsunya, lalu menoleh ke arah istrinya. Wajah istrinya murung dan menggelengkan kepalanya.

"Kau sudah bangun rupanya. Aku membelikanmu ramen." Kata Baekhyun

"Terima kasih, hyung."

Suho duduk di samping istrinya. Ia berusaha membuat suasana menjadi lebih baik, dan tentu saja mencari jalan keluar yang terbaik.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Kurasa lebih baik, appa"

"Kau masih mencintainya?" Sehun terlihat sedikit berpikir.

"Iya, appa" Kata Sehun sambil menatap appa nya. Suho tersenyum.

"Berjanjilah pada appa dan umma"

"Tapi appa..."

"Kau tidak ingin membuat appa kecewa, kan?" Mata si anak bungsu itu kini mulai berkaca-kaca.

"Sehuna..."

"Iya appa, aku berjanji" Ia mengatakannya dengan bibir yang bergetar. Air mata pertamanya pun menetes membasahi pipinya. Ia mulai menyerah dengan keadaannya sekarang. Mungkin Luhan bukan orang yang ditakdirkan tuhan untuknya, atau ia bukanlah orang yang terbaik bagi Luhan. Sekilas di pikiran Sehun, jika ia memang mencintai Luhan, mungkin membiarkannya bahagia bersama orang yang ditakdirkan untuknya adalah hal yang benar. Tapi, semua itu bertentangan dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya. Jika ia mencintai seseorang, ia akan membuat orang itu bahagia karenanya dan akan selalu menjadi orang yang berada di sisinya.

~HunHan~

Ia mengenakan celana jeans hitam, kaos hitam, dan sebuah topi hitam. Topi hitam itu pemberian Luhan di hari ulang tahunnya tahun lalu. Ia merapikan penampilannya sebelum pergi keluar. Mungkin pergi makan bersama Baekhyun akan membuatnya merasa lebih baik. Waktu di rumah sakit, tepatnya tiga hari yang lalu, Baekhyun menceritakan sebuah kedai baru di dekat kantornya, atau tepatnya sebuah rumah makan. Berbagai makanan yang dijual disana adalah makanan kesukaan Sehun. Baekhyun juga berkata, jika Sehun berjanji melupakan Luhan, ia akan mentraktirnya makan di rumah makan itu.

Baekhyun sudah siap di lantai bawah dari tadi, namun ia tak kunjung memanggil Sehun ke atas. Lima belas menit kemudian, Sehun mengunci pintu kamarnya dan turun untuk menemui Baekhyun. Setelah turun dari tangga, ia mendengar sedikit keributan di ruang tamu. Mungkin Baekhyun sedang menemani appa dan umma menjamu tamu. Tapi, suara dari ruang tamu itu terdengar seperti orang yang sedang marah, lebih tepatnya murka. Perlahan, ia mengendap-endap dan mendengarkan apa yang sedang terjadi. Suara berat itu semakin jelas. Sehun kenal dengan suara itu. Ia akrab dengan suara itu, namun ia lupa siapa pemilik suara berat itu. Ia menguping di dekat ruang tamu.

"Kau appa nya, kan? Kau juga harus bertanggung jawab"

Sehun mengintip ke ruang tamu. Sekarang Sehun ingat, suara berat itu milik Kris, appa Luhan.

"Tunggu, Kris. Tidak ada bukti Sehun yang melakukannya"

"Lalu, siapa lagi? Luhan hanya pernah satu kali berpacaran."

"Sehun tidak mungkin..."

"Appa, umma, ada apa?" Sehun keluar dari tempat persembunyiannya. Ia benar-benar penasaran apa yang sedang terjadi. Di ruangan itu, seperti ada dua kubu yang ingin berperang. Keluarganya berusaha melindungi Sehun dari serangan musuh. Muka Suho masih terlihat tenang. Lain lagi dengan D.O yang menangis dengan matanya yang memerah. Di sampingnya, Baekhyun berusaha menenangkan sang umma. Sedangkan musuh yang dihadapinya terlihat sangat marah dan hanya ingin apa yang ia tuntut dituruti. Ya, Kris dengan wajah dingin dan menuduh-nuduh Sehun. Sedangkan Lay terlihat sangat kecewa.

"Ah! Keluar juga kau, busuk!"

"Ahjussi, ahjumma, selamat sore"

"Rupanya tingkah laku anakmu ini buruk sekali" Sindir Kris

"Jangan seenaknya menyindir keluargaku" Suho menahan emosinya. Wajahnya masih benar-benar terlihat tenang.

"Sebenarnya, ada apa ini?" Tanya Sehun polos

"Jadi, sekarang kau berpura-pura lupa apa yang telah kau lakukan pada Luhan?"

"Aku? Luhan?" Sehun terlihat sedikit bingung. Ia tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan Kris. Ia tidak mengerti mengapa Kris menatapnya setajam itu. Suho mulai berbicara dan menenangkan Kris. Kepala Sehun terasa pusing, ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Suho. Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu dengan keras. Seketika ruang tamu hening. Sehun berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia benar-benar terkejut. Kini di depannya berdiri seseorang yang ia cintai, Luhan. Ia mengenakan celana pendek, kaos, dan jaket yang tidak terlalu tebal.

"Lu... Lu... hyung? Apa yang terjadi padamu?" Sehun benar-benar kaget malihat wajah cantik itu dinodai bintik merah di sana-sini. Mata Luhan membengkak menandakan ia baru saja menangis.

"Sehuna, apa appa dan umma ku ada disini?" Tanya Luhan. Ia terlihat kebingungan dan khawatir. Ia melihat ke lantai. Seperti mencari-cari sesuatu. Saat itu, Sehun menyadari bintik merah itu berada di seluruh tubuh Luhan. Tangannya, kakinya, semuanya.

"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Sehun khawatir. Ia memegang erat kedua lengan Luhan. Ia benar-benar ingin memeluknya. Sayangnya, ikatan yang dulu miliki sekarang sudah tinggal kenangan. Sehun tak berhak memeluk Luhan, dan ia tahu persis itu. Mata Sehun mulai berkaca-kaca, menandakan kekhawatirannya yang besar.

"Nanti saja aku jelaskan" Jawab Luhan sambil melepaskan dengan paksa genggaman Sehun. "Appa.. umma..." Panggil Luhan sambil sedikit berlari menuju ruang tamu. Begitu ia berada di pintu ruang tamu, diikuti dengan Sehun, semua mata tertuju padanya. Keadaan tiba-tiba hening. Luhan terlihat mengatur nafasnya sebelum ia berbicara.

"Dengarkan aku dulu appa umma" Kata Luhan sambil berjalan mendekati orang tuanya.

"Bukan Sehun yang melakukannya appa"

"Lalu siapa lagi?" Tanya Kris dingin

"Kai yang melakukannya"

Suho memegangi kepalanya. Ia terlihat sangat sedih dan kecewa. Sehun bisa melihat jelas air mata appanya yang mengalir di pipi kiri itu. Ini pertama kalinya ia melihat appa kesayangannya itu menangis tanpa alasan yang ia ketahui. Di samping Suho, D.O menangis terisak-isak mengeluarkan semua kesedihan yang ada. Meski Baekhyun masih menenangkan ummanya, kini ia juga ikut menangis. Sehun masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku pulang" Kata seseorang berkulit hitam sambil menutup pintu setelah memasuki rumah. Ia melepas sepatunya dan berjalan menuju Sehun di depannya. "Aku membawakanmu susu" katanya sambil tersenyum. Sehun hanya menatap kosong kearah Kai.

Kai mengerutkan dahinya. Ia menyadari ada seseorang di ruang tamu. Ia menoleh dan akan memberikan penghormatan. Sayangnya, ketika ia tahu siapa yang berada di ruang tamu, ia benar-benar kaget. Matanya terbelalak.

"Lu... Luhan... Hyung?" Tanya Kai gemetar.

"Ada apa ini hyung?" Tanya Sehun pada Kai. Kai hanya diam. Ia melihat ke arah appanya. Sehun bisa melihat dengan jelas tatapan tajam Suho pada Kai yang menandakan ia sangat marah.

"Aku ingin berbicara dengan Sehun appa..." Pinta Luhan ketika ia tahu orang tuanya akan mendiskusikan kasus ini dengan orang tua Sehun.

~HunHan~

Dua namja itu kini duduk di lantai teras samping rumah. Cuacanya sangat cerah. Hangatnya cahaya matahari terasa hampir di seluruh tubuh mereka. Kicau burung sesekali terdengar. Sehun mendekati Luhan dan berusaha memeluknya dari samping. Luhan menepis dengan tangannya.

"Jangan Hunnie. Kau bisa tertular"

"Aku tidak peduli" Jawab Sehun sambil memaksa memeluknya. Ia memeluk Luhan sangat erat.

"Tubuhmu dingin, aku akan menghangatkanmu"

Rasa cinta Sehun yang besar itu kini muncul kembali. Ia ingin memeluk Luhan, melindunginya, menciumnya, membuatnya tersenyum dan tertawa, dan ingin menjadi ayah untuk anak-anaknya. Namun, semua keinginan itu hancur ketika ia sadar keadaan Luhan sekarang. Bintik merah di seluruh tubuhnya yang entah kenapa membuat Sehun sedih dan kecewa merasa ia gagal melindungi Luhan.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sehun dengan mata berkaca-kaca itu.

~o~

Hari itu adalah tiga hari sesudah ulang tahun Sehun. Luhan berniat mengejutkannya karena ia tidak bisa mengucapkannya pada hari ulang tahunya. Di hari itu, Luhan masih berada di luar negeri membantu ayahnya yang sedang dalam tugas dan baru pulang keesokan harinya. Entah mengapa saat itu Luhan ingin menonjolkan sisi kewanitaannya. Ia terlihat lebih cantik dari biasanya. Ia membawa sebuah kotak kado dihias pita berwarna merah berisi topi hitam. Ia mengetuk rumah Sehun dan menunggu jawaban. Beberapa saat kemudian, seseorang membukakan pintu. Luhan terkejut melihatnya, Kai yang shirtless menunjukkan tubuhnya yang sexy di depannya. Namun, menurutnya itu kurang sopan.

"Ah~ Luhan hyung! Ada apa?"

"Apa Sehun ada?"

"Ia sedang mengantar appa, sebentar lagi ia pulang tunggulah di dalam"

Luhan pun menuruti apa kata tuan rumah. Ia menebarkan senyumnya yang manis itu sambil berjalan menuju ruang tamu. Kai mengunci pintu dan menemani Luhan di ruang tamu. Luhan duduk di sofa sebelah kanan dan meletakkan kadonya di atas meja. Tiba-tiba saja, Kai duduk di sampingnya sambil merangkul pundaknya. Luhan yang risih berusaha melepaskan diri.

"Kau terlihat kepanasan" Kata Kai sambil tersenyum. Senyum itu benar-benar penuh dengan nafsu. Perlahan, tangannya memegang kancing kemeja Luhan yang paling atas.

"Aku tidak kepanasan, jangan dekat-dekat denganku"

Kai malah tertawa mendengarnya. Ia melepas semua kancing kemeja Luhan dengan paksa. Luhan memang melakukan perlawanan, namun tenaga Kai jauh lebih besar. Karena merasa terlalu lama, Kai merobek kemeja Luhan. Ia dapat melihat bagian atas tubuh Luhan yang putih dan mulus itu. Nafsunya kini semakin menjadi-jadi. Ia memaksa melepas seluruh pakaian Luhan. Ia memperkosa Luhan.

Selama hampir lima belas menit. Ruangan itu terisi desahan Kai dan tangisan Luhan dalam keaadan naked. Luhan kini berada di sudut ruangan berusaha menutupi tubuhnya. Rambutnya acak-acakan. Ia menangis dan meminta Kai menghentikan semua ini. Kai tidak menghiraukan perkataan Luhan. Menurutnya, ini waktu yang sangat tepat. Luhan tidak bisa kabur. Ia memojokkan Luhan, mendorong tubuhnya kuat, dan memasukkan miliknya.

Setelah puas menikmati tubuh kekasih adiknya, ia mengambil kemeja Luhan yang robek dan membawanya ke kamar. Setelah itu, ia kembali membawa kemeja miliknya dan memberikannya pada Luhan. Kai sudah berpakaian rapi saat itu.

"Pakailah, sebelum ada yang tahu."

Setelah Luhan berpakaian sempurna. Ia pamit pada Kai.

"Aku titip kado ini untuk Sehun aku harus pulang" Ia berbalik dan berlari pulang

~o~

Sehun memeluk Luhan erat. Harapannya kini semua telah musnah. Ia ingin menjaga Luhan, namun semua sudah terlambat. Kakaknya sendiri yang merebut Luhan darinya. Ciuman Sehun waktu itu tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan Kai. Ia terluka, sangat terluka. Sedih dan marah kini merasuki dirinya.

"Maafkan aku Sehun. Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak bisa..."

"Sudahlah, semua sudah terjadi"

"Dan sekarang kau membenciku?"

"Tidak. Tentu, tidak"

"Maaf. Waktu itu, aku sering marah padamu"

"Waktu itu?"

"Waktu kau memintaku menemuimu di taman"

"Ara..."

"Waktu itu aku bingung Sehun, aku menyayangimu dan tentu saja aku mencintaimu. Namun, beberapa hari sebelumnya, aku merasa sangat lelah dan aku sering sakit. Aku memeriksakan diriku dan hasilnya aku terjangkit AIDS, dan penyebabnya..."

Sehun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia mengerti betul apa yang dimaksud Luhan. Ia mulai meneteskan air matanya perlahan tenpa sadar.

"Lalu..." terus Luhan sambil mulai menangis.

"Aku bingung dengan hubungan kita. Aku takut aku akan melukaimu lalu kau membenciku karena hal itu. Namun di lain sisi, aku benar benar mencintaimu. Hingga akhirnya, aku memutuskan hubungan kita dan berharap itu jalan keluar yang terbaik"

"Yang terbaik? Kau tidak tahu aku sangat terluka karena hal itu? Bahkan aku berusaha menemuimu hingga ke Amerika"

"Maaf Sehun, aku tak ingin kau mengetahui hal itu. Itu saja. Dan sejujurnya, aku tidak pergi ke Amerika."

"Lalu?"

"Aku hanya berdiam diri di rumah dan..." Luhan terlihat takut meneruskan perkataannya.

"Aku berkomunikasi dengan Kai lewat sms. Aku meminta ia merahasiakan semua ini darimu"

"Kai? Kenapa harus Kai? Kenapa bukan aku yang benar benar mencintaimu dan tidak menyukaimu hanya karena nafsu"

Air mata Luhan mulai mengalir deras mendengar perkataan Sehun. Ia bingung, sedih dan marah. Mengapa ini harus terjadi padanya dan bukan orang lain saja. Ia hanya ingin pelukan Sehun yang hangat tapi tidak seperti ini. Ia memang mendapatkan pelukan itu, tapi ia tidak mengharpkan tangisan yang pilu ini sama sekali.

"Iya, Kai memang terlihat bingung akhir-akhir ini..." Kata Sehun

"Hingga appa ku mengetahui perubahan fisik padaku, aku mulai menceritakan semuanya. Namun, aku tidak mengatakan siapa yang melakukanya. Sekarang, ia menuntut tanggung jawab pada orang tuamu..."

"Kenapa harus seperti ini? Apa aku tidak boleh memelukmu, menciummu, dan menjagamu. Aku mencintaimu, sayangku.."

"Dengar..." Kata Luhan sambil mengelus pelan pipi kiri Sehun.

"Ini takdir, sayang. Sekuat apa kau mengelak, ia akan datang padamu. Sekuat apa kau melawan, kau tidak akan bisa mengubah apa yang telah terjadi. Tapi, kau bisa mencari jalan keluar dan melakukan yang lebih baik. Mungkin aku tidak bisa menjadi pendamping hidupmu. Mungkin aku tidak bisa melahirkan anak-anakmu dan membuatmu tersenyum setiap saat. Mungkin aku bukan jodohmu..." Luhan tersenyum

"Kau benar-benar akan menikah dengannya?"

"Kalau itu kaputusan appaku... aku tidak bisa menolak..."

"Kalau begitu... kurasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan..."

Keduanya terdiam. Hati keduanya benar-benar sakit. Mereka tahu takdir yang pahit ini tidak bisa mereka ubah dan mereka tahu mereka tidak bisa bersama sebagai sepasang kekasih. Mereka mendekatkan kepala satu sama lain hingga akhirnya mereka berciuman, berharap kesedihan yang mereka rasakan bisa sedikit berkurang

"Kau bisa tertular"

"Aku tidak peduli"

~HunHan~

Mereka pergi ke ruang tamu menemui orang tua mereka dan berharap mendapatkan keputusan yang terbaik. Mereka berdiri di dekat pintu ruang tamu. Suho mulai berbicara.

"Kita sudah sepakat... untuk menikahkan Luhan... dengan Kai..." Kata Suho sambil tersenyum ke arah Sehun. Senyuman yang tidak biasa dari appanya. Senyum itu manis seperti biasa, namun pandangannya yang sayu merusak semuanya.

Beberapa hari kemudian. Luhan dan Kai menikah, mereka resmi sebagai pasangan suami dan istri. Luhan kini tinggal di rumah Suho. Memulai kehidupan barunya bersama sang suami. Sehun hanya bisa menjaganya dari jauh. Ia sudah tidah ber hak lagi menyentuh Luhan seenaknya. Kini semua yang ada pada diri Luhan milik Kai, kakak laki-lakinya. Ia tidak membenci Kai, karena ia pikir itu hal bodoh. Ia hanya bisa menyayangi dan mencintai Luhan sebagai kakak iparnya. Hingga malaikat maut mengambil nyawa Luhan.