Disclaimer : Bleach © Kubo Tite.

Author : The Abnormal Kid.

Rated : T.

Genre : Romance, Family.

Pairing : Ichimaru Gin and Matsumoto Rangiku.

Chapter : 04 (END).

Warning : Typo (s), OOC, alur terlalu cepat, gaje, abal abal, and many more.

Terinspirasi dari : Byousoku 5cm (Anime Movie).

Aired: Feb 11, 2007 to Mar 3, 2007

Producers: ADV Films, Bandai Entertainment, CoMix Wave.

NB : untuk Chapter ini akan lebih panjang dari sebelumnya, jadi kalau tak suka baca Chapter yang panjang, boleh membacanya sebagian dulu.

Sudah 1 bulan berlalu sejak mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Jika dilihat diluar, mungkin tak ada bedanya dari sebelumnya.

Mereka juga tidak mengumbar kemesraan seperti yang pasangan lain lakukan.

Mereka seringkali bertemu sehabis bekerja di sebuah apartemen yang Gin miliki.

Membicarakan apa yang seharian mereka lakukan, tak ada pelukan, ciuman atau bahkan aksi di ranjang.

Mungkin satu-satunya tindakan mesra yang mereka lakukan adalah berpegangan tangan, tapi itu juga entah bisa disebut mesra atau bukan.

Hari-hari mereka terus dilalui dengan cara seperti itu.

Tanpa ada rasa bosan sedikitpun.

Hingga suatu hari.

"Gin, mungkin ini sedikit mendadak. Tapi besok aku harus pindah ke Kagamino untuk mengembangkan usaha keluargaku disana."

"Apa? Mengapa begitu tiba-tiba begini?! Apa kau tak bisa untuk menolaknya?" Gin yang tadinya sedang duduk santai sambil minum kopi, kaget dan langsung berdiri sehingga tanpa sadar kopinya tumpah ke lantai.

"Aku sudah mencobanya, tapi ayahku tetap menyuruhku untuk pergi kesana. Menurutnya, aku yang paling tepat untuk mengurus bisnis disana," Rangiku tak mampu melihat langsung Gin yang berdiri di hadapannya dan hanya menatap kopi yang berada di gelas yang dipegang di kedua tangannya.

"Tapi Kagamino sangat jauh dari sini, setelah dulu kita berpisah lalu akhirnya bertemu lagi dan tinggal di kota Karakura ini, sekarang kita harus berpisah lagi? Aku tidak mau, aku tidak mau itu terjadi," pemuda berkacamata ini terlihat sangat Shock, lalu akhirnya duduk dengan kepala yang menunduk lesu.

"Aku tahu, aku tahu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa jika sudah diputuskan oleh ayahku. Aku juga tak mau kita berpisah lagi, aku ingin kita bersama seperti ini seterusnya. Tapi, aku tak bisa," tetes demi tetes air mata meluncur melewati wajah gadis cantik ini, dan terjun masuk ke dalam kopi yang dipegangnya.

"Aku tak ingin kehilanganmu lagi, aku tak mau," malam itu, Gin menangis dan terus menangis sampai keesokan paginya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Rangiku berangkat dari kota Karakura ke kota Kagamino.

Gin tak mengantarnya, dia masih duduk di kamar apartemen itu.

Pandangannya kosong, tubuhnya terlihat sedikit bergetar.

*Cklek*

Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamar tersebut.

Sosoknya terlihat masuk dengan rambut putih spike dan sebuah syal hijau yang diletakkan dilehernya dan sedikit menutupi mulutnya.

"Ayo, Gin. Kita pulang," sosok itu membantu Gin berdiri dan melingkarkan tangan kiri Gin di lehernya untuk membantunya berjalan.

Di pintu masuk apartemen, sudah menunggu sebuah mobil berwarna hitam dengan seorang kakek berjenggot panjang menunggu di depan mobil tersebut.

"Yama, bukakan pintunya!" orang yang membawa Gin tadi, terlihat telah keluar dari Apartemen dan menyuruh si kakek untuk membukakan pintu mobil itu.

Dengan cepat si kakek membukakan pintu mobil lalu menunggu orang itu dan Gin masuk.

Setelah keduanya masuk, lantas si kakek menutup pintu mobil dan masuk ke mobil untuk menyetir.

"Beginilah jika hatimu sudah tersentuh oleh cinta, sama sepertiku dulu. Karena itu, setelah kau bangun, jadilah pribadi yang baru yang takkan pernah jatuh lagi pada jebakan cinta di depanmu," ucap orang itu saat mobil berjalan.

*Tiiitt tiiiitt*

Ponsel Gin yang diletakkannya diatas meja berbunyi dan bergetar.

Gin yang mendengar ponselnya berbunyi, berjalan kearah tempat ponsel itu diletakkan, mengambilnya lalu melihatnya.

Ternyata Rangiku yang telah meneleponnya.

Tapi Gin tak menjawabnya lalu meletakkannya diatas meja.

"Jika aku mengangkatnya, berarti aku akan terhubung lagi dengannya. Dan itu berarti aku akan mengalami rasa sakit itu lagi. Aku tak mau merasakan sakit itu lagi, aku tak mau," begitulah pikirnya.

Sudah 6 bulan sejak Rangiku pindah ke Kagamino, Rangiku telah berusaha menghubungi Gin dengan berbagai cara berkali kali.

Dari mulai telepon, SMS, Email dan yang lainnya tapi tak pernah dijawabnya.

Dan entah karena pengaruh seseorang atau trauma atas rasa sakit hati yang dialaminya dulu, Gin kini telah berubah.

Dia menjadi dingin, dan hanya fokus pada pekerjaannya.

Atau mungkin, semakin mirip dengan kakaknya Toushirou.

"Hoi CEO Ichimaru Corps yang baru! Apa kau sudah siap? Kenapa lama sekali?!" sebuah suara dari balik pintu kamar tiba-tiba mengagetkan Gin yang sedang bersiap-siap kemudian membuka pintu tersebut.

"Berhentilah mengganggu orang di pagi hari, paman Kensei. Lagipula, mengapa kau datang kesini?" Protes Gin sambil membetulkan dasi yang dipakainya.

"Tentu saja untuk menjemputmu yang sudah dengan hebatnya menjadi CEO!" Balas pria berambut putih Mohawk bernama Ichimaru Kensei ini.

"Terserah, tapi aku tak mau menaiki motormu yang berisik itu," Gin lalu mengambil jas dan ponselnya kemudian menutup pintu kamarnya.

"Hei, jangan bilang itu berisik! Itu antik!"

"Terserah apa namanya, yang jelas aku tak mau menaikinya."

*Tiiittt tiiitt*

Kembali, ponsel Gin berdering dengan penelepon yang sama pula, Rangiku.

"Hei, ponselmu bunyi tuh."

Tangan kiri Gin yang memegang ponsel itu melihat siapa yang menelepon lalu menjatuhkannya ke lantai.

Lalu dengan seketika, kakinya menginjak keras ponsel itu hingga hancur.

"Hei! Itu kan ponsel yang kuberikan padamu! Jangan dirusak seenaknya dong!" Kensei tak terima setelah ponsel pemberiannya malah dihancurkan dengan mudahnya.

"Belikan saja yang baru, lagipula aku sudah punya penggantinya," Gin merogoh saku kirinya dengan tangan kirinya lalu mengeluarkan ponselnya -yang jauh lebih sederhana bentuknya dan juga sepertinya lebih murah- pada Kensei.

"Bukan soal ponselnya! Tapi ini masalah hati, bro! Orang mana yang tak sakit hati melihat benda pemberiannya dirusak dan digantikan dengan benda murahan seperti itu?!"

"Sudahlah, ayo pergi. Sepertinya kita sudah terlambat, kalau saja kau tak menggangguku mungkin aku bisa berangkat lebih cepat," ucap Gin sambil melihat jam tangan di tangan kirinya.

"Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas penghancuran ini?! Woi! Dengarkan aku!"

Sementara itu, di kota Kagamino.

Sebuah kota yang sangat jauh dari Karakura, di sebuah rumah yang terletak tak jauh dari gedung yang didirikan oleh Matsumoto Rojurou, Rangiku berjalan maju-mundur dengan raut muka cemas.

"Kenapa kau Gin, kenapa tak mau menjawab panggilanku? Sudah 6 bulan berlalu, tapi kau tak pernah menghubungiku. Pasti kau marah padaku ya? Pasti begitu. Ini memang salahku yang tak pernah mengunjungimu karena terlalu sibuk dan tak pernah ada waktu luang untukku. Tapi hari ini, aku tak peduli tentang segala pekerjaan, aku akan pergi ke kota Karakura dan mengunjungimu!"

.

.

.

Senja hari di kota Karakura.

Semua pegawai Ichimaru Corps telah pulang sekarang, di depan pintu masuk terlihat dua orang berambut putih sedang berbincang.

"Selamat atas pengangkatanmu menjadi CEO."

"Tak perlu mengucapkan selamat padaku, posisi itu juga takkan kudapatkan jika kau tak memberikannya padaku."

"Kau tak puas?"

"Tentu saja, aku ini ingin mendapat sesuatu atas hasil kerja kerasku bukan didapatkan dengan mudahnya seperti ini."

"Kau ini, tak usah bertingkah seperti itu. Itu sudah hakmu untuk mendapatkannya, dan sebagai kakak aku hanya memberikannya padamu. Itu saja," ucap pemuda berambut putih dan bersyal hijau ini.

"Huh, terserah. Aku mau pulang."

"Hei, mana motormu?"

"Motorku dirusak oleh paman Kensei, katanya itu sebagai pembalasan atas ponsel pemberiannya yang telah dirusak. Jadi, aku akan berjalan saja, lagipula rumahku dekat dari sini," jawab Gin lalu berjalan pulang meninggalkan kakaknya itu.

Gin terus berjalan hingga terlihat sebuah rel kereta api dengan palang yang sudah tertutup.

Gin kemudian berdiri disana dan menunggu palangnya terbuka.

Di saat yang bersamaan, di seberang sana ada seorang wanita dengan rambut bergelombang berjalan menuju rel kereta itu.

Setelah kereta lewat dan palangnya terbuka, terlihatlah wanita itu yang ternyata adalah Matsumoto Rangiku berjalan mendekati Gin, begitu pula Gin yang berjalan kearah Rangiku.

Tapi setelah mereka berdua berjalan berhadapan, Gin melewatinya dan terus berjalan kedepan.

Rangiku kaget melihatnya, lalu berbalik.

"Gin! Apa kau masih marah padaku?!" Seru Rangiku pada Gin di depannya.

Mendengar Rangiku berbicara begitu, Gin berhenti tapi tanpa berbalik.

"Aku tidak marah," jawab Gin.

"Lalu kenapa? Kau bahkan tak menatapku!"

"Aku hanya sadar, bahwa jika aku berhubungan lagi denganmu, aku hanya akan mengalami rasa sakit itu lagi."

"Apa?! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?!"

"Kakakku yang mengajariku, dan aku sekarang tahu bahwa apa yang dia ajarkan adalah yang terbaik untukku."

"Sejak kapan kau mempercayai kakakmu?! Bukannya dari dulu kau tak menyukainya."

"Sejak kau meninggalkanku. Aku memang tak menyukainya, tapi aku mengikuti ajarannya."

"Jadi kau memang marah padaku, kan?!"

"Sudah kubilang aku tidak marah."

"Lalu kenapa-"

"Sudahlah, hentikan pembicaraan yang tak berguna ini. Jika kau butuh kejelasan, baiklah akan kuberikan. Hubungan kita berakhir saat ini juga, dengan kata lain, putus. Sampai jumpa," belum selesai Rangiku berbicara, Gin memotongnya. Kemudian berjalan pulang.

Rangiku berdiri disana melihat Gin yang lama kelamaan semakin menghilang, lalu air matanya mengalir deras dari permata birunya.

"GIN!"

Awan-awan putih kejinggaan bergerak perlahan diatasku.

Burung-burung ikut terbang melintas menemani gumpalan permen kapas di langit.

Namun sekarang, matahari tak lagi melihatku.

Mataku tak lagi melihatnya.

Hanyalah angin yang membawaku pergi, bersama seruannya yang lama-lama menghilang.

Oh matahari, akankah kau menatapku kembali?

Bersamaan dengan daun-daun berwarna kemerahan yang berguguran, aku menghilang dengan hatiku yang membeku.

- The End -