Kaga: minna! Kaga modorimashita! Who miss me? #ge er *plak disini kita mulai sisi misterinya yuk... Kaga akan mengeluarkannya perlahan demi perlahan...

Degel: kau ini belum puas mempermalukan ayahmu ya? *cover badai salju

Kaga: ah, ayah suka malu-malu nih... kan bersama paman Kardia ini, ayah senang kan?

Kardia: yaahh mau dibilang senang atau apa, aku tak peduli. Hanya saja kelihatannya kau akan berbuat sesuatu dengan peranku?

Kaga: daripada tanya sini dan sana, mending kita simak saja yuk ceritanya...

Here we go

Sesosok aneh sedang memperhatikan keempat pemuda yang sedang menginap di sebuah villa mewah pribadi milik Kardia. Pemuda berantakan yang kaya raya dengan kekayaan mengalahkan seorang presiden sekalipun.

The Mysterius Island

"Camus... Milo dan kakakmu ada dimana?" Tanya Kardia sesaat bangun tadi ia edarkan pandangan tapi tak ada seorang pun yang bisa ia temukan.

Camus mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca dan beralih memandang Kardia, "kakak pergi ke laut. Ia bilang mau lihat-lihat sekalian berjemur, kalau Milo, dia bilang mau jalan-jalan di kota mencari pusat perbelanjaan," jawab Camus lalu kembali fokus pada buku yang sedang ia baca.

Kardia terdiam sebentar, "kalau begitu biar kupesankan sarapan ya," begitu hendak mengangkat gagang telepon dan menekan tombol-tombol disana.

Camus berseru, "tidak perlu! Tadi kakak sudah masak untuk sarapan kita, begitu melihat kau belum bangun dia bilang mau ke laut sebentar," ujar Camus masih terfokus pada buku ditangannya.

Kardia kembali diam, ia kembalikan gagang telepon dan beranjak menuju meja makan dimana sudah tersedia begitu banyak makanan siap serbu. Kardia tersenyum simpul, "akan kupanggil Degel sebentar. Kau juga kalau ingin menyusul Milo," Kardia berjalan keluar rumah menuju pantai mencari sosok berambut hijau toska yang ia cintai.

Sedangkan Camus masih tak bergeming dari tempatnya, masih terfokus pada buku ditangannya. Mencari Milo? Sepertinya tidak akan dia lakukan karena pria berzodiak Aquarius ini kelewat percaya dengan si pirang hyperactive itu.

...

Degel berjalan perlahan menyusuri pantai, ombak kecil terkadang merendam kaki putinya yang mulus hingga mata kaki. Rambut hijau toska yang panjang dan lurus tergerai indah terkadang terbang dimainkan angin nakal.

Pemuda terlihat tidak akan pernah bosan menatap hamparan air biru bening sepanjang samudera ini, matanya yang berwarna biru terlihat menikmati indahnya luas lautan.

"Degel..." panggil seseorang dengan lembut membuyarkan lamunan pemuda bersurai hijau toska panjang itu.

Ia menoleh menuju sumber suara dan dilihatnya Kardia berjalan mendekatinya dengan senyum.

"Kau sudah bangun?" Tanyanya saat Kardia sampai dihadapannya.

Kardia mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar ucapan itu, "kau ini memperlakukanku sepeti orang malas saja," protesnya.

"Memang kau malas," singkat namun tajam seperti pisau.

"Kejamnya dirimu," Kardia mengelayut memeluk Degel seperti anak kecil yang merengek. Tapi hanya sesaat, sedetik kemudian raut wajah Kardia berubah dan kembali berubah detik berikutnya, "ah, ayo sarapan. Aku sudah sangat lapar, kau buatkan sarapan untukku tapi kau malah menghilang," Kardia memasang wajah cemberut.

Degel tertawa pelan, "karena kau terlalu puas tidur hingga kukira tak akan bangun sampai siang nanti," Degel mengelus wajah Kardia, sadar bahwa pria inilah yang ia inginkan saat ini.

Kardia tersenyum lembut dengan apa yang dilakukan Degel padanya, ia pun memberi respon yang diinginkan Degel. Ia lingkarkan tangan kanannya di pinggang Degel yang ramping, sebelah tangannya menyentuh pipi Degel. Singkat ia daratkan sebuah kecupan ringan di bibir milik Degel dan dilanjutkan dengan sentuhan yang memabukkan.

Wajah Degel memerah sepeti tomat saat Kardia melepaskan sentuhannya. Melihat itu Kardia terkekeh geli, "kau jadi merah. Semerah wajah orang yang dipukul," ejeknya masih terkekeh geli.

Dilihatnya wajah Degel yang berubah cemberut dan Kardia malah terbahak, tertawa senang. "Ayo kembali, adikmu menunggumu. Dan kupikir Milo juga sudah kembali," di genggamnya tangan Degel dan mereka pun berjalan menyusuri pantai kembali menuju villa.

...

Dan benar dugaan Kardia, Milo sudah kembali dari jalan-jalannya dan sedang mengisengi Camus yang biasanya mendapat penolakkan dari Camus. Tapi kali ini pemuda bersurai merah ini hanya diam diisengi Milo, entah rambutnya yang ia pakai mainan atau mengganggu acara membaca Camus.

Tapi kali ini Camus hanya diam, bahkan mungkin membiarkan pemuda pirang ini memainkan rambutnya.

Melihat itu senyum mengembang di wajah Degel melihat perubahan dari diri adik tercintanya.

"Oh iya, Kardia. Ada yang ingin aku bicarakan nanti," Milo memandang sang kakak yang masih menggenggam tangan Degel.

Dan hanya anggukan pelan yang diberikan Kardia pada Milo, kemudian ia menggiring Degel menuju meja makan untuk sarapan bersama. Dan ikuti oleh Milo yang juga membawa Camus untuk makan bersama.

Degel seperti biasa menyuapi Kardia yang kadang menunjukkan kemanjaannya yang terlalu kelewat batas kalau sedang bersama dirinya. Bahkan ia tak akan segan memeluk kekasihnya itu di depan umum.

Sekali lagi, terlihat perubahan raut wajah Kardia. Ia bahkan menolehkan wajahnya menuju jendela yang berhadapan dengan sebuah bukit dan hutan rimba.

"Kardia... ada apa?" Tanya Degel bingung begitu juga Camus, ia mengalihkan pandangannya menuju apa yang dituju mata Kardia dan kembali menatap kakak iparnya yang mulai bettingkah aneh.

Kardia masih terdiam, lalu kembali tenang dan akhirnya berkata, "aku tidak apa-apa... hanya..." kalimat yang tidak jadi ia teruskan, lebih tepatnya tidak bisa ia lanjutkan. Kemudian tersenyum menatap Degel, "aku tidak apa-apa," ucapnya dengan senyum.

Milo juga terlihat diam memperhatikan yang tadi diperhatikan oleh kakaknya. Tapi segera ia tepis dan kembali bersikap biasa, seperti biasa ia bersikap.

Waktu sarapan dilewati dengan diamnya Kardia, kejadian yang jarang terjadi apalagi kalau Degel ada di sisinya.

...

"Kardia..." suara lembut memanggil nama pemuda bersurai biru bergelombang. Dan suara itu berasal dari Degel, yang berdiri di belakangnya dengan wajah khawatir dan sedih.

Kardia menatap pemuda yang telah menjadi kekasihnya itu, ia paksakan untuk tersenyum dihadapan lelaki bersurai hijau toska. "Ada apa, Degel?" Tanyanya masih dengan senyumnya.

Degel berjalan mendekati Kardia, mendekap di dada bidang kekasihnya. "Harusnya aku yang bertanya begitu... apa yang terjadi, Kardia?" Tanya Degel masih mendekap di dada bidang Kardia.

Kardia terdiam sejenak, "mungkin aku egois seperti apa yang kau katakan dulu. Tapi biarlah semua berjalan sesuai apa adanya saja ya, Degel," Kardia masih memberikan senyum pada Degel berharap lelaki bersurai hijau toska ini membiarkan semua begitu saja, sambil mendekapnya erat.

"Kardia... kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan? Ada yang membuatmu gelisah?" Sadar Kardia sedang berusaha menutupi sesuatu darinya, Degel semakin ingin tahu dan ingin tahu, apa yang sedang disembunyikan kekasihnya itu.

Kardia terdiam, ia terlihat berpikir apa yang harus ia katakan pada kekasihnya yang sedang khawatir padanya ini.

Baru saja Kardia akan berkata jujur pada Degel, Milo muncul dengan raut wajah sedikit masam. Ia memandang Kardia sebentar dan memberikan isyarat untuk mengikutinya.

Degel pun ikut menatap Milo, ia bingung ada apa dengan adik iparnya ini. Sejak naik ke pesawat sampai hari ini sikapnya sedikit aneh.

Kardia melepaskan pelukannya pada Degel, "sebentar... aku akan segera kembali setelah tahu apa yang membuat anak itu bersikap aneh begini," Kardia bergegas mengikuti Milo, meninggalkan Degel sendirian.

...

"Ada apa?" Tanya pemuda bersurai biru bergelombang itu pada adiknya di tepian pantai dengan terpaan angin laut yang sejuk juga deburan ombak sore hari.

"Kau berencana mengatakan semuanya pada Degel? Karena aku juga akan jujur pada Camus sekarang," Milo menatap lekat sang kakak.

Kardia terkejut dengan apa yang dikatakan Milo. Ia diam sejenak, apa maksud dari ucapan sang adik.

Milo masih menatap sang kakak yang terdiam, "warlock... aku bertemu mereka saat sedang jalan-jalan tadi, juga beberapa orang elf..." lanjut pemuda bersurai pirang ini.

T.B.C

Kaga: well.. selesai juga chap 4 ini... Kaga mengelurakan Warlock.. hehe kayaknya seru jika digabung dengan elf dan penyihir... hohoho... tapi mohon maaf jika amburadul, maklum Kaga lagi agak sibuk, jadinya... yaaahh...

Degel: Kaga! Apa-apaan adegan yang kulakukan dengan Kardia itu?! Ganti!

Kaga: ah ayah, kan suka kan kalau dengan paman Kardia? Hehehe

Kardia: dan lagi sepertinya ada yang harus diralat tentang sikapku.

Kaga: aduuuh... ahhh kalau ga gitu ga akan seru...

Kardia and Degel: dikoreksi!

Kaga: ah ahahahahaha... etto... Kaga minta review ya minna... dan KABUUUURR!

KardiaDegel: KAGAAAAA!