DISCLAIMER : J.K. Rowling

Maunya sih punya saya

Tapi apa boleh buat

Saya minjem aja


Chapter 4

Malfoy Manor, 04.00 PM.

"Dear, apa kita tidak keterlaluan kali ini?" Tanya wanita paruh baya itu kepada laki-laki disampingnya. Lelaki itu tidak menghiraukannya. Dia hanya menatap koran paginya sambil sesekali menatap ponselnya. Helaan napas terdengar keras, membuat laki-laki itu menoleh, lalu meletakkan korannya dan membetulkan letak kacamatanya.

"Apakah kau meragukanku Love? Bukankah kau sudah mulai melihat hasil yang kita rencanakan dari dulu?" Pertanyaan sang suami sekaligus pernyataan itu tidak membuat kegalauan hatinya sirna.

"Tapi aku sangat mengkuatirkan dirinya. Kau tahu, jika sekarang dia mulai menghindariku. Aku tidak bisa berada diluar jangkauannya Lucius. Kau sangat tahu itu." Jawaban sang istri membuat hatinya sedikit bergetar. Tapi dia tidak boleh melonggarkan rencananya. Rencana rapi yang telah disusun sedari jauh. Laki-laki itu kemudian merengkuh bahu istrinya dan mengelus punggungnya lembut.

"Aku tahu ini sangat berat buat kita Love, tapi aku akan tetap menjalankan semuanya. Aku yakin kita telah berada di sisi yang benar. Kau tidak mau kan, jika nanti dia lebih menderita tanpa dia menyadarinya? Kau bisa lihat dia sekarang, dia tidak manja seperti saudara sepupunya yang lain. Betapa bangganya aku ketika dia berhasil diatas kakinya sendiri. Walaupun aku tahu cara kita terkesan kejam. Dan kau bisa melihat, bagaimana dia berhasil mengalahkan aku. Dan aku memang kuatir, tapi aku tidak bisa membuatnya berada di bawahku. Dia harus melebihi aku, walaupun kita mendorongnya di arah yang berbeda" Jelas Lucius panjang lebar. Ada keheningan diantara mereka. Narcissa semakin mengencangkan pelukannya kepada suaminya.

Tidak ada yang mengetahui bagaimana perasaan mereka berdua, saat dihadapkan pada pilihan yang sulit. Yah, Draco Malfoy. Putra kecil mereka telah tumbuh menjadi dewasa. Tidak ada yang tahu, bagaimana kerasnya mereka berdua mendidik Draco. Dan alasan dibalik itu.

"Aku sebenarnya tidak menyukai wanita-wanita yang kita jodohkan untuknya Dear. Kau tahu bagaimana tingkah laku mereka membuatku muak. Mereka menyandang gelar bangsawan, tapi kelakukan mereka tidak mencerminkan hal itu. Aku sangat tidak bisa membayangkan jika putra kita menyetujui perjodohan-perjodohan bodoh itu" Akhirnya Mrs. Malfoy membuka suaranya. Lucius menghela napas. Bagaimanapun juga, apa yang dikatakan istrinya sangat benar. Dia juga bergidik, membayangkan jika saja Draco menyetujui perjodohan palsu yang dibuatnya.

"Aku tahu sayang. Tapi jika kita tidak bergerak seperti ini, dia hanya akan berkutat untuk dirinya sendiri. Cepat atau lambat dia akan menemukannya. Kau tahu dengan baik hal ini bukan?" Jawab Mr. Malfoy tenang.

"Tapi sampai kapan Lucius? Aku hanya ingin memeluk putraku." Narcissa mulai terisak pelan. Lelaki di sampingnya menangkup wajahnya, dengan jemarinya menghapus air mata dari wanita yang telah menjadi hidup dan napasnya.

"Aku tahu. Bersabarlah sebentar lagi. Dan kita akan tersenyum. Sabar Love. Sebentar lagi" Ucapnya menenangkan wanita itu. Ya, sebentar lagi. Dia harus bertahan sebentar lagi, sampai saatnya tiba.


Patronus Enterprisse, 09.00 AM.

CEO Room

Braaakk. Gebrakan meja terdengar hingga keluar ruangan. Semua yang berada di situ menunduk. Tidak ada yang berani mengangkat kepalanya.

"Aku tidak tahu apa yang kalian kerjakan selama ini. Ini seharusnya bisa kalian kerjakan dengan mudah. Bagaimana bisa kalian diterima bekerja di sini?" Suara menggelegar menyambung gebrakan meja. Mereka semua bertambah ciut. Mereka berpikir jika mereka akan habis hari ini. Pasti. "Mrs. Axton, tolong panggilkan ke Miss Granger Dept. Legal sekarang ke ruanganku!" Lelaki itu kembali membanting teleponnya, setelah menelepon sekretarisnya. Dia menatap berkas laporan yang ada di mejanya. Tangannya memegang kepalanya. Dia yakin, pasti tidak akan lama akan terkena hipertensi jika keadaan terus begini.

15 menit kemudian Hermione datang, dan dengan segera sekretaris CEO barunya, membukakan pintu dan menyuruhnya masuk. Hermione tertegun dengan pemandangan di depannya. Ada tiga kepala departemen di ruangan ini, dan hawanya sangat mencekam. Dia langsung tahu. Mereka membuat pangeran ular Slytherin ini mengamuk, julukan saat mereka di asrama dulu.

"Ya, Mr. Malfoy. Ada yang bisa aku lakukan untuk anda?" Tanya Hermione begitu dia berada di ruangan Malfoy Junior itu. Lelaki itu menyerahkan laporan yang ada di mejanya dengan cepat.

"Maaf, jika aku mendadak memanggilmu Miss Granger. Tapi aku tidak tahu siapa lagi di kantor ini yang bisa membantuku selain dirimu. Untuk seminggu ke depan, buatkan revisi laporan ini dengan benar. Dan aku harap, mereka yang ada di ruangan ini membantumu. Aku harus pastikan mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Atau mereka harus angkat kaki dari kantor ini" Perintah Malfoy kepadaku. Aku mengganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu aku melangkahkan kaki hendak keluar dari ruangan ini. Tapi kembali aku menoleh ke belakang, Draco Malfoy memanggilku.

"Miss Granger, aku masih memerlukanmu." Ucapnya kepadaku. Aku membalikkan badan, dan segera mengambil tempat duduk dihadapannya. Kemudian dengan wajah serius dia menatapku. Wajah ini tidak pernah aku lihat sebelumnya.

"Kau tahu, aku akan merombak habis-habisan para kepala departemen dan manager. Aku ingin kau membantuku mencari orang-orang yang terbaik yang ada di kantor ini. Kau tahu, aku belum lama memimpin di sini. Dan aku tidak begitu mengetahui mana orang yang berpotensi di kantor ini" Lanjut Malfoy.

"Tapi Sir, tidakkah aneh jika aku yang memilihkan mereka untukmu? Seharusnya kau memiliki sebuah tim untuk membantumu." Ucap Hermione keberatan. Dia memiliki segudang pekerjaan, dan awal tahun merupakan bulan yang sibuk bagi departemennya. Banyak kontrak yang harus mereka perbaharui. Itupun staffnya harus sering lembur. Dan jika Malfoy masih memberikan tambahan, Hermione yakin, dia tidak akan pernah kembali ke rumahnya. Poor girl.

"Maaf mengecewakanmu Granger, tapi usulanmu barusan membuatku mendapatkan ide. Kau yang akan memimpin timku menyaring para staff yang berpotensi untuk naik jabatan." Draco tersenyum lebar. Sangat lebar setelah mengemukakan idenya. Demi jenggot Merlin. Hermione tidak mengerti isi kepala Draco. Dan usulannya tadi menambahkan masalah baru untuknya. Seharusnya aku tidak mengusulkan hal yang akan membawaku ke dalam masalah. Rutuk Hermione dalam hatinya. Dia sudah membayangkan bagaimana hidupnya bulan-bulan ke depan. Jika membotaki kepala orang secara brutal tidak dilarang, dia pasti akan menghabisi surai platina kepala pirang di hadapannya ini. Namun sayang, semuanya hanya ada dalam khayalannya.

"Maaf Sir, bukan aku bermaksud tidak sopan. Tapi departemenku sedang dalam sibuk-sibuknya. Para staffku pun selalu lembur. Aku tidak mau menambah beban mereka." Hermione akhirnya buka suara. Malfoy berpikir sebentar, alisnya bertaut. Tampan. Shit! Apa yang kupikirkan.

"Begini, aku tahu kau akan keberatan. Tapi aku menyerahkan kepadamu siapa saja yang akan masuk ke dalam timmu. Aku percayakan semua kepadamu. Untuk urusan pekerjaanmu dan staffmu, aku akan memperbantukan staff senior dari perusahaanku. Aku serius Granger. Hanya ini cara yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan perusahaan ini." Jawab Malfoy serius ketika aku melotot menatapnya. Great! Hermione tahu, perusahaan ini berada dalam masalah pelik. Harga saham yang jeblok, membuat para pemegang saham menarik saham mereka. Dan disaat kritis itu, perusahaan Malfoy mengajukan penawaran yang tidak dapat mereka tolak. Selama ini Hermione tahu, bahwa banyak manager dan kepala departemen yang bertindak seenaknya. Tapi dia menutup mata. Karena dia tidak bisa menghadapi mereka semua. Selain itu, CEO mereka yang lama juga tidak peduli.

"Bagaimana Granger? Kau setujukan?" Tanya Malfoy lagi. Aku bingung harus menjawab apa. Tapi akhirnya aku mengangguk. Dia menjabat tanganku, dan kuterima jabatan tangannya dengan pasrah. Aku sebenarnya ingin menjawab tidak, tapi posisiku tidak memungkinkan. Dia atasanku. Dan sudah seharusnya aku membantu pekerjaannya. Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya.


Akhir-akhir ini merupakan waktu yang berat untukku. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku hanya untuk pekerjaanku. Dan sepertinya ide liburan cukup menggiurkan. Mengingat aku sudah lama tidak bersenang-senang. Bagaimana aku bisa bersenang-senang, sedangkan tanggung jawabku di kantor terus bertambah. Well, aku tidak memungkiri. Jika CEO baruku ini memberiku bonus yang besar sebagai kompensasi atas apa yang aku kerjakan. Aku bisa melihat sisi Draco Malfoy yang tidak aku temui semasa sekolah dahulu. Dia berbeda. Jika dulu, ketika kami berpapasan yang ada hanya lontaran makian, sekarang kami lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk urusan pekerjaan dan baik-baik saja. Kuakui dia orang yang profesional, dibalik tingkah menyebalkan dan sok bossynya. Dan dia bos yang royal. Selama ini kami bisa bekerjasama dengan baik. Tanpa ada makian diantara kami. Tidak termasuk yang aku ucapkan dalam hati. Semakin hari aku banyak mengerti dirinya, hal yang tidak pernah dia perlihatkan selama ini. Atau memang aku yang tidak pernah mengenal dirinya lebih baik.

Tok..tok. Elise menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

"Miss, staff Mr. Malfoy dari Big M Inc sudah datang. Mereka sedang berada di ruang meeting CEO. Mr. Malfoy menyuruh Anda untuk secepatnya berada di sana Miss" Kata Elise membuyarkan lamunanku. Aku menggangguk dan segera melangkah keluar. Aku menggelengkan kepalaku. Bisa-bisanya aku melamun saat sedang sibuk. Bukan seperti kebiasaanku. Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini pikiranku selalu teralihkan. Padahal banyak yang harus aku selesaikan.

Tbc


Hai, saya datang lagi.
Minggu-minggu ini saya sibuk banget, dan hampir melupakan buat update chapter ini.
Kejar setoran laporan di kantor dan didera batuk+ pilek T.T. Jadi kalo ada typo yang bertebaran, saya minta maaf yaa #alasan.

Terimakasih buat yang udah ninggalin jejak di kolom review. Aku terharu ada yang menanti Brave *kiss**kiss* =D

Selamat membaca, jangan lupa buat review, saran dan kritik selalu diterima.