Previously ...

Krak!

"ARGH!" seru Kyungsoo saat kaki Centaurides itu menginjak kakinya membuat darah segar mengalir dari kaki kanannya. Kyungsoo mencoba untuk menahan rasa sakit di kakinya dan segera ia mengangkat panah yang ia curi dari Centaurides. Kyungsoo memincingkan matanya agar panahnya tak meleset dan tepat mengenai cantik mahkluk itu.

Grr...

Bruk!

Kyungsoo duduk lemas ketika ia berhasil menembakkan anak panah tepat ke jantung Centaurides sehingga makhluk itu seketika mengerang sakit dan ambruk dihadapan Kyungsoo. Kyungsoo memegang kakinya yang tanpa henti terus mengeluarkan darah segar.

"Luhan?" pekik Kyungsoo teringat jika Luhan tak berada di sampingnya. Kyungsoo mengedarkan pandangannya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Luhan yang di dekati oleh sosok iblis yang ia ketahui bernama Thanatos. Kyungsoo ingin sekali menolong Luhan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan kakinya seperti ini. Dan, jangan tanyakan mengenai kekuatan Kyungsoo. Karena, Kyungsoo hanya terlahir sebagai mutan dengan kemampuan merubah bentuk menyerupai siapa saja layaknya bunglon. Kyungsoo sangat pandai menghindar serangan lawan tapi ia tidak bisa melakukan yang lebih dari itu. Sebenarnya ia sama dengan Baekhyun yang hanya seorang vampire dengan kekuatan larinya yang begitu cepat. Itulah kenapa banyak sekali orang-orang yang mengganggu mereka karena mereka memiliki kekuatan yang lemah meskipun mereka selalu menjadi yang terpintar di seluruh angkatan mereka. Dan, Kyungsoo hanya bisa berdoa agar iblis itu tidak mencoba untuk membunuh Luhan di depan matanya.

..

- Stand By You -

..

Luhan hanya bisa berdiri pasrah saat Thanatos itu berjalan semakin dekat kearahnya. Keduanya saling bertatapan dan Luhan tak bisa memungkiri saat rasa takut kembali menghantui dirinya. Tubuhnya gemetar hebat, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk lari saja rasanya kedua kaki Luhan sudah membeku kaku di tempatnya berdiri.

"Makhluk akibat dari keserakahan semua makhluk hidup pantas untuk menjadi penerus iblis!" ujar Thanatos, suaranya menggema di telinga Luhan dan ia semakin dekat dengan pemuda cantik itu.

Tangan tulang Thanatos terulur dan seketika langsung mencekik leher Luhan hingga kedua kaki Luhan tak lagi menapak tanah.

"Argh~" erang Luhan yang membuat Thanatos semakin mengeratkan tangannya pada cekikin di leher Luhan sementara kedua tangan Luhan mencoba untuk melepas tangan belulang Thanatos yang begitu kuat mencekiknya.

Dan, seketika Luhan merasa seluruh jiwanya direnggut secara paksa detik itu juga. Ia juga merasakan jiwa baru yang datang dan menempati jiwanya yang lama. Tapi, Luhan mencoba untuk melawan, menggunakan seluruh kekuatannya untuk tidak membiarkan jiwa lain itu menguasai dirinya.

"Kau tak akan bisa melawanku!" geram Thanatos mengetahui dengan jelas, bahwa Luhan berusaha keras untuk tidak menerima jiwa iblis yang Thanatos berikan padanya.

Luhan memejamkan kedua matanya, pandangannya mulai mengabur dan kedua kakinya mulai melemas mengakibatkan jiwa iblis yang Thanatos berikan padanya perlahan-lahan melingkupi seluruh tubuh Luhan meskipun jiwanya yang asli berusaha untuk melawan. Namun, Thanatos berusaha keras agar ia tidak kalah untuk membiarkan jiwa iblis yang diberikannya menguasai seluruh jiwa Luhan.

Luhan memejamkan kedua matanya, menahan rasa sakit dan bagaimana sesaknya saat pasokan oksigennya mulai menipis. Ia berusaha keras untuk menahan kesadaran dirinya dan sesekali mencoba untuk membuka matanya. Wajah pucat Luhan membiru, mulut kecilnya membuka dan seketika keluar uap dari dalamnya.

"Kau tidak akan menang dariku! Menyerahlah, dan jadilah Diabolos terkuat!" Thanatos itu menyeringai dan tersenyum menang saat jiwa asli Luhan hampir bertukaran dengan jiwa iblis yang saat ini ia berikan namun, tanpa di duganya tiba-tiba saja seekor serigala melompat kearahnya membuat cekikikannya pada Luhan terlepas.

Bruk!

Luhan terjatuh dan seketika pingsan, tergeletak di tanah. Sementara, sosok serigala yang menolongnya kini menggeram marah dihadapan Thanatos yang tak kalah geramnya karena serigala tersebut mengganggu ritual-nya pada Luhan.

"Brengsek!" geramnya dan melayang kearah serigala tersebut.

"Grr~" geram serigala yang langsung melompat kearahnya dan langsung mencakar wajah Thanatos yang berupa wajah buruk rupa dengan separuhnya yang hancur tinggal telung-belulang.

"ARGH!" seru Thanatos saat serigala itu mengoyak wajahnya dengan kuku tajamnya serta mencabik-cabik tubuhnya dengan gigi taringnya.

Wuss~

Dan merasa dirinya semakin terancam, Thanatos itu segera pergi dan merubah dirinya menajdi asap abu agar sosok serigala itu tak bisa mengejarnya. Serigala itu masih menggeram, kemudian ia berbalik badan dan berjalan ke tempat dimana Luhan berada. Serigala itu dengan tenang mendekati Luhan dan mengusak wajah Luhan dengan wajahnya bermaksud untuk membangunkan.

"Kyungie!" dan saat ia mendengar suara rekan kelompoknya yang lain, sosok serigala yang tak lain adalah Sehun itu segera kembali ke wujud manusianya. Ia menoleh dan mendapati Kyungsoo dengan kakinya yang bersimbah darah serta Baekhyun yang berlari kearahnya diikuti Chanyeol dan Kai.

"Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun cemas, ia belum menyadari dengan keadaan kaki Kyungsoo yang terus mengucurkan darah karena Kyungsoo mencoba untuk menutupinya di depan Baekhyun.

"Baek, aku baik-baik saja. Luhan—Luhan yang dalam bahaya!" ujar Kyungsoo setenang mungkin meskipun ia merasakan kakinya yang seperti akan patah.

"Tapi ka—" Baekhyun menghentikan ucapannya saat ia mencium bau anyir yang berada di dekatnya saat ini. Kyungsoo yang melihat Baekhyun tiba-tiba terdiam terlebih ia juga melihat Baekhyun dalam sosok vampire di depannya saat ini.

"Baek~" panggil Kyungsoo, ia tahu Baekhyun tengah menahan hasratnya akan bau darah yang begitu menusuk-nusuk dan menggoda di indra penciumannya yang tajam itu.

"Kyung, kau berdarah—" lirih Baekhyun suaranya tercekat, sungguh ia sedang berperang melawan dirinya dan jiwa vampire-nya untuk tidak berbuat keji pada sahabatnya hanya karena mencium bau darah yang keluar dari kaki sahabatnya. Baekhyun berjalan menjauh meskipun nalurinya ingin mendekat dan mengisap darah anyir Kyungsoo. Dan, tanpa ia sadari Baekhyun mengikuti nalurinya untuk mendekat kearah Kyungsoo yang—tiba-tiba menghilang.

"Argh~" erang Baekhyun, ia bersimpuh di tempat kosong dimana Kyungsoo berada. Gigi taringnya yang muncul dan kedua matanya yang semakin memerah juga wajahnya yang semakin pucat dan dingin belum lagi rasa marah yang begitu menggebu-gebu di dalam jiwanya.

"Baekhyun! Byun Baekhyun!" panggil Chanyeol yang memang sedari tadi berada di belakang Baekhyun mengawasi sementara Kai yang memang sudah pergi membawa Kyungsoo dengan kekuatan teleport-nya. "Byun Baekhyun sadarlah!" seru Chanyeol tak sabar, ia mencoba untuk menggapai pundak Baekhyun namun ia dikejutkan dengan Baekhyun yang tiba-tiba berdiri di depannya dan menatapnya seolah ia adalah santapan makan malamnya. Chanyeol yang merasa tanda bahaya di depannya pun segera mengeluarkan apinya untuk menakuti Baekhyun dan—

"Argh!" Baekhyun mengerang saat ia merasakan bara api yang muncul dari telapak tangan Chanyeol untuk menakutinya dan perlahan Baekhyun mulai untuk menstabilkan kekuatannya dan kembali seperti semula.

"Kau gila, mau membunuh sahabatmu?!" sembur Chanyeol dan menatap Baekhyun tak percaya. "Vampire memang kelas rendahan yang tidak pernah tahu aturan dan tidak bisa mengendalikan diri mereka!" desis Chanyeol, sementara Baekhyun terengah dan masih berusaha untuk menetralkan nafasnya. Merutuki, segala sikap yang baru saja ia lakukan pada satu-satunya sahabat yang selalu ada untuknya. Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun untuk menghampiri Sehun yang tengah menggendong Luhan di punggungnya.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Chanyeol. Sehun mengedikkan bahunya tak peduli.

"Entahlah, lebih baik kita pulang sekarang!" ajak Sehun yang diangguki Chanyeol. Sehun berjalan memimpin, Chanyeol di belakangnya dan Baekhyun berjalan tak jauh di belakang kedua orang yang selalu mengganggunya dan menghinanya setiap saat.

..

..

..

"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Heechul saat ia sibuk memerban kaki Kyungsoo dengan Kai yang berdiri tak jauh di ruang kesehatan untuk melihat bagaimana kondisi Kyungsoo itu.

"Entahlah, hyung! Semuanya begitu cepat, Centaurides tiba-tiba datang di depanku dan Thanatos datang di depan Luhan! Bahkan, aku tidak tahu sejak kapan hutan menjadi berkabut dan mereka berempat sudah tidak ada di depanku!" jawab Kyungsoo takut. Heechul yang selesai memerban kaki Kyungsoo pun mendekati Kyungsoo dan mengelus surai Kyungsoo bermaksud untuk memberika ketenangan pada salah satu adiknya itu.

"Tenanglah, kau sudah aman disini!" balas Heechul tersenyum cantik dan Kyungsoo hanya mengangguk mengiyakan.

"Tapi, itu aneh—maksudku sepanjang perjalanan aku, Sehun, Chanyeol, bahkan si Byun itu tidak melihat adanya kabut sama sekali!" sahut Kai yang juga ikut menyimak cerita Kyungsoo.

"Tapi sungguh aku tidak berbohong!" seru Kyungsoo menatap Kai sebal. Kai pun berdecak.

"Kau dan temanmu itu sangat menyusahkan. Bahkan, dia hampir menerkammu jika aku tidak segera membawamu tadi!" sinis Kai yang membuat Kyungsoo menahan nafasnya.

"Aku tidak menyuruhmu untuk membawaku, lagi pula aku tidak takut pada Baekhyun. Dia tidak pernah meminum darah semasa hidupnya. Maka dari itu, dia menjadi vampire lemah! Jadi, berhenti untuk menggunjingnya!" bantah Kyungsoo yang seketika Kai terdiam dan melengos tak berniat untuk berdebat dengan Kyungsoo ataupun menatap pemuda manis bermata bulat itu.

"Tapi tunggu, kau bilang Thanatos? Untuk apa Thanatos berada di hutan Erythtrina?" tanya Heechul mencoba agar Kyungsoo melupakan perdebatannya dengan Kai dan tidak membuat mood Kyungsoo memburuk dengan kondisinya sekarang ini.

"Aku tidak tahu hyung! Mereka tiba-tiba saja muncul di depanku dan Luhan. Dan juga, Thanatos itu benar-benar mengerikan. Aku baru pertama kali ini bertemu dengan wujud Thanatos secara langsung!" jawab Kyungsoo menunduk takut.

"Tapi, Thanatos tidak berbuat sesuatu padamu kan?" tanya Heechul yang membuat Kyungsoo teringat akan sesuatu.

"Iya hyung, Thanatos itu—"

Brak!

Kyungsoo menghentikan ucapannya saat ia mendengar pintu ruang kesehatan tebukan membuat Heechul dan Kai seketika menoleh untuk melihat siapa yang membuka pintu dengan kasar itu.

"Luhan?" pekik Heechul terkejut melihat Luhan terkulai lemas di punggung Sehun dan segera Sehun langsung membaringkan tubuh Luhan di ranjang yang terdapat di samping ranjang Kyungsoo.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Heechul pada Sehun yang telrihat terengah begitu pula dengan Baekhyun dan Chanyeol yang berdiri di samping Kai tak jauh dari mereka.

"Aku tidak tahu pastinya hyung! Aku hanya melihat Thanatos berbuat sesuatu padanya!" jawab Sehun nafasnya tersengal, ia berbalik badan dan berjalan menuju ke tempat dimana teman-temannya berada.

Heechul memeriksa denyut nadi Luhan yang terdengar lemah. Wajahnya seketika memucat saat ia tidak mendengar detak jantung Luhan yang bersahutan dengan keras.

"Andwae~" gumam Heechul takut bukan main. Ia menoleh kearah Sehun, Kai, Chanyeol, dan Baekhyun berdiri. "Bisakah salah satu dari kalian memanggil Jaejoong?" pinta Heechul terdengar frustasi.

"Baiklah hyung!" Baekhyun menyetujui dan ia segera berlari untuk memanggil Jaejoong sesuai dengan permintaan Heechul. Seraya menunggu kedatangan rekannya, Heechul menyiapkan segala peralatan medis, entah itu peralatan tradisional maupun modern. Heechul kembali memeriksa denyut nadi Luhan, dan ia mengeryit saat ia merasakan denyut nadinya yang normal namun jarak semenit kemudian ia tak merasakan kehadiran denyut nadi di tangan pemuda cantik yang pucat itu.

"Bagaimana ini~" desah Heechul cemas, ia terus berjalan kesana-kemari mengambil berbagai alat dan mengabaikan tatapan bingung dari Sehun, Kai dan Chanyeol serta Kyungsoo yang sedari tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu.

"Hyung!" panggil Jaejoong yang akhirnya datang diikuti Baekhyun yang berada di belakangnya dan tanpa diduganya juga, beberapa pengajar lainnya yang ikut serta masuk ke ruang kesehatan termasuk si tiga penguasa. Heechul yang melihat Jiyoung ikut masuk pun langsung menghampiri Jiyoung dan menatap Jiyoung nanar.

"Bagaimana bisa kau memberi tugas tanpa memperhitungkan hal bahaya terlebih dahulu?!" bentak Heechul yang membuat mereka semua bertanya-tanya.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Jaejoong yang sudah mendekati ranjang Luhan dan memeriksa tubuh pemuda cantik itu.

"Di—"

"Luhan diserang Thanatos!" Kyungsoo yang menjawab dan memotong ucapan Heechul sebelum terjadi kesalahpahaman diantara pengajarnya. Kyungsoo mencoba untuk duduk namun gagal, dan Baekhyun yang melihatnya pun segera menghampiri sahabatnya dan membantu Kyungsoo untuk duduk bersandar di kepala ranjang.

"Thanatos? Tidak mungkin Thanatos berada di hutan Erythrina!" sahut Jiyoung tak percaya.

"Tapi sosok iblis itu benar-benar berada di depan mataku hyung! Tidak! Di depan kedua mata Luhan lebih tepatnya karena Centaurides yang berada di depan mataku. Mereka tiba-tiba muncul dan menyerang kami! Dan, Thanatos yang terus saja menggumamkan kata-kata menyakitkan pada Luhan!" jelas Kyungsoo menceritakan perihal yang apa yang baru saja dialaminya.

"Apa yang makhluk itu katakan pada Luhan, apa kau mendengarnya?" tanya Leeteuk. Kyungsoo tampak mengingat.

"Suaranya begitu menggema bahkan aku merasakan sakit saat mendengarnya. Dia mengatakan hal semacam—makhluk akibat dari keserakahan lebih pantas untuk menjadi penerus iblis—dan juga, sesuatu seperti—menjadi penerus diabolos terkuat!" Kyungsoo terdiam, begitu pula dengan semua orang yang berada di ruangan itu. Namun, pandangan mereka teralih pada satu sosok. Satu sosok yang sedari tadi masih dengan damai memejamkan kedua matanya dengan wajah pucatnya.

"Jika aku tidak salah perhitungan—Thanatos itu sepertinya sedang menukar jiwa iblis dengan jiwa asli miliknya!" ujar Sehun memecah keheningan dan sontak semua atensi tertuju padanya. "Saat aku datang dan menyerang Thanatos, aku melihat seperti ada jiwa yang keluar tapi aku tidak tahu jiwa mana yang akhirnya keluar!" lanjut Sehun.

Heechul yang sedari tadi berdiri di depan Jiyoung pun berbalik badan dan berjalan menuju ranjang Luhan dengan Jaejoong yang berada di depannya.

"Denyut nadinya berdetak secara tak normal, kadang berdetak kadang juga tidak. Bahkan, sebelumnya aku mengira dia sudah tiada. Namun, sepertinya dia juga sedang berjuang di dalam dirinya sendiri!" ujar Heechul. "Tapi, kami akan berusaha untuk membangunkannya dan memastikan keadaannya. Kita tidak bisa membiarkannya mati seperti ini!"

"Sebaiknya kalian semua beristirahat!" titah Jaejoong merujuk pada Sehun, Kai, Chanyeol dan Baekhyun. Sehun, Kai dan Chanyeol pun pergi meninggalkan ruang kesehatan tanpa banyak bicara sementara Baekhyun masih berdiri di samping ranjang Kyungsoo.

"Hyung, bolehkah aku disini menemani Kyungsoo?" pinta Baekhyun. Heechul berfikir sejenak.

"Akan lebih baik kau beristirahat di kamarmu, Baekhyuna. Kau tak perlu khawatir, kami akan menjaga Kyungi dan Luhan!" balas Heechul membuat Baekhyun enggan untuk menuruti permintaan Heechul.

"Istirahatlah Baek, aku sudah baik-baik saja. Kau bisa kembali besok pagi!" lanjut Kyungsoo seraya memegang tangan Kyungsoo. "Kau pasti lelah!" Baekhyun menghela nafas.

"Baiklah, aku akan tidur sendiri malam ini—tapi, berjanjilah saat besok pagi aku datang kau harus sudah membaik, arraseo?" pinta Baekhyun yang langsung diangguki oleh Kyungsoo. "Aku pamit dulu, hyung!" Baekhyun undur diri dan segera meninggalkan ruang kesehatan menyisakan para pengajarnya yang masih mengelilingi Luhan serta Kyungsoo yang sudah berbaring diatas ranjangnya.

"Istirahatlah Kyung, aku akan menutup gordennya agar kau tidak merasa terganggu!" Jaejoong menutup gorden yang membatasi ranjang Kyungsoo dan ranjang Luhan membuat Kyungsoo hanya diam menurut dan kini, ia hanya seorang diri dengan para pengajarnya yang lain yang masih berdiri mengelilingi Luhan.

"Aku harap—tidak terjadi sesuatu padamu!" batin Kyungsoo, sejujurnya ia merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Luhan saat berada di hutan tadi bersamanya.

..

- Stand By You -

..

Luhan berjalan menapak jalan yang dipenuhi batu krikil dengan kaki telanjangnya. Luhan mengedarkan pandangannya pada tempat asing yang seluruhnya berawarna putih sama seperti baju yang ia kenakan. Luhan menghentikan langkahnya saat ia melihat sosok berjubah hitam di depannya yang berjalan ke arahnya. Sosok yang mirip sekali dengannya meskipun ada perbedaan jelas yang tertera dari sosok di depannya. Bagaimana wajah cantik itu terpancar tanpa goresan luka sedikitpun. Kedua matanya yang bening dan senyumnya yang menawan. Berbeda dengan dirinya yang saat ini yang terlihat pucat dan tak terawat. Belum lagi, setiap bekas luka, memar, bahkan kissmark yang masih tercetak jelas di beberapa bagian tubuhnya.

Sosok hitam yang berwujud Luhan itu menghentikan langkahnya tepat sekitar lima langkah di depan sosok putih yang juga berwujud Luhan. Sosok hitam itu mengulurkan tangan kanannya di depan sosok putih berwujud Luhan seolah mengajaknya untuk ikut bersamanya. Luhan yang berwujud sosok putih itu baru saja hendak menerima uluran tangan si sosok hitam namun ia dikejutkan saat seekor serigala yang entah datang darimana dan menyerang si sosok hitam di depan matanya. Serigala itu terus mencabik-cabik si sosok hitam dengan gigi tarinyanya yang tajam juga cakar-cakarnya yang tajam hingga sosok hitam itu tiba-tiba menghilang begitu saja.

Seperginya sosok hitam yang berwujud Luhan, serigala itu berjalan mendekati Luhan yang masih berdiri terpaku menatapnya. Serigala itu semakin mendekat hingga sampai tepat berada di depan Luhan berdiri. Luhan berjongkok, tangannya terulur untuk mengelus kepala serigala itu. Dan, tanpa sadar kedua mata Luhan menatap kedua mata sang serigala yang juga tengah menatapnya.

Luhan terperanjat saat serigala itu tiba-tiba berubah wujud menjadi sosok pemuda tampan yang ia tahu betul siapa pemuda yang berdiri tepat di depannya.

"S-Sehun?" pekik Luhan terkejut dan menatap pemuda tampan yang tak lain memang adalah Oh Sehun itu.

Sehun menatap Luhan datar dan tak berniat untuk mengatakan sepatah kata pun padanya. Luhan mengerjapkan kedua matanya saat ia melihat orang-orang di belakang Sehun tiba-tiba muncul, bersamaan dengan satu persatu orang yang sebagian ada yang dikenalnya dan sebagian adalah orang asing baginya. Dan, tanpa ia sadari orang-orang yang mengelilinginya semakin bertambah.

Namun, semuanya tiba-tiba lenyap saat sosok berjubah hitam datang berbondong-bondong dan menyerang semua orang. Luhan terkesiap, namun Sehun tetap diam di depannya menatapnya dingin.

Luhan gemetar ketakutan melihat sosok berjubah hitam itu semakin banyak mnedekat kearahnya dan sontak ingin melenyapkan dirinya. Kedua tangan Luhan terkepal, Luhan memejamkan kedua matanya, keringat dingin mulai mengucur di wajah cantiknya. Terlebih ia semakin merasakan hawa jahat mendekati dirinya.

"Luhan?"

Dan Luhan tersentak saat ia mendengar suara seseorang memanggilnya dengan lembut meskipun ada sirat kecemasan di dalamnya.

"Xi Luhan?"

Luhan tetap enggan membuka kedua matanya meskipun suara itu terus memanggil namanya tanpa henti.

"Luhan?!"

Luhan membuka kedua matanya dan terperanjat menyadari bahwa kini ada wajah Jaejoong dan Heechul yang berada di kanan-kirinya dan menatapanya cemas.

"Luhan, kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan?" tanya Jaejoong lembut. Luhan menelan salivanya gusar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan baru menyadari jika kini ia sudah berada di ruang kesehatan bersama Jaejoong dan Heechul yang menatapnya khawatir.

"Aku—"

"Kau butuh sesuatu?" tanya Heechul memotong ucapan Luhan. Luhan menggeleng.

"Syukurlah kau sudah bangun, kami semua sangat mencemaskanmu karena kau tidak kunjung bangun~" lega Jaejoong seraya mengelus surai Luhan lembut.

"Memangnya aku sudah berapa jam tidak bangun?" tanya Luhan, suaranya serak khas seperti orang baru bangun tidur pada umumnya.

"Minumlah dulu, kau pasti haus!" titah Heechul ia memberikan segelas air putih pada Luhan. Luhan tidak menolak dan menegak setengah air di dalam gelas itu.

"Sudah lebih baik?" tanya Heechul dan Luhan hanya mengangguk. "Kau sudah seminggu tidak siuman."

"Seminggu?" ulang Luhan tak percaya. Heechul dan Jaejoong mengangguk bersamaan.

"Ya, dan beberapa menit lalu kau mengalami kejang hebat dan seluruh tubuhmu yang banjir keringat. Kami semua berusaha untuk membangunkanmu selama seminggu penuh ini, tapi tak satu pun dari kami semua berhasil!" lanjut Jaejoong. Luhan terdiam. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Jaejoong ingin memastikan karena selama seminggu Luhan berada di ruang kesehatan tak banyak yang Heechul dan Jaejoong lakukan karena Luhan tak menderita luka atau sakit apapun membuat mereka bingung bagaimana caranya untuk membangunkan kembali pemuda cantik itu.

"Aku baik!" jawab Luhan singkat.

"Aku akan menyiapkan makanan untukmu! Dan, Joongi kau harus beritahu Leeteuk dan yang lain!" titah Heechul yang diangguki oleh Jaejoong dan segera bergegas meninggalkan Heechul bersama dengan Luhan. "Kau tunggu sebentar, nde?" ujar Heechul ia juga bergegas untuk menyiapkan makan bagi Luhan dan meninggalkan Luhan benar-benar seorang diri disini.

Luhan terdiam di tempatnya. Ingatannya tertuju pada kejadian malam itu dimana sosok iblis Thanatos yang mencekiknya dan hendak menukar jiwanya dengan jiwa iblis yang akan Thanatos berikan padanya. Luhan mendengus, ia tak pernah membayangkan akan bertemu hal semacam itu di dalam hidupnya. Belum lagi, suara-suara Thanatos yang tanpa henti terus menggema di gendang telinganya membuatnya ingin sekali menulikan telinganya sendiri agar ia tak mendengar kata-kata menyakitkan itu lagi.

Oh, ayolah sekeji-kejinya dirinya. Serendah-rendahnya dirinya, Luhan tidak akan membiarkan dirinya menjadi sejahat iblis sehingga ia bisa menyakiti orang lain. Karena ia tahu betul bagaimana rasanya disakiti ataupun dibenci. Ia tahu bagaimana rasanya. Maka dari itu, ia berusaha keras untuk melawan segala hal yang menyangkut kebejatan makhluk apapun yang berniat untuk merubah dirinya meskipun ia harus berakhir lemah tak berdaya seperti ini.

"Luhan?" panggil Leeteuk membuat Luhan tersadar dari lamunannya dan ia terkejut saat semua pengajarnya berkumpul di depannya entah sejak kapan. Ketara sekali ekspresi mereka yang kelewat cemas bercampur senang melihat Luhan yang sudah membuka matanya.

"Apa yang kau rasakan?" tanya Ryeowook, yang rupanya sudah berada di samping kirinya. Luhan menoleh dan tersenyum kecil.

"Aku baik!" jawab Luhan singkat namun tentu saja belum cukup puas untuk mereka.

"Maaf tuan-tuan, aku harap kalian menunda dulu sesi pertanyaannya—sang pasien harus mengisi energinya terlebih dahulu!" interupsi Heechul yang menyeruak diantara mereka seraya kedua tangannya yang membawa nampan yang berisi bubur serta segelas ramuan yang ia buat beberapa menit lalu. "Jja, makanlah terlebih dahulu!" ujar Heechul ia meletakkan nampan di atas nakas yang berada di samping ranjang yang Luhan tempati, niatnya untuk membantu Luhan duduk bersandar di ranjangnya namun ia kalah cepat dengan Ryeowook yang sudah membantu Luhan untuk duduk bersandar. Heechul tersenyum dan kembali meraih nampan yang tadi ia bawa. Ia duduk di pinggiran ranjang Luhan untuk menyuapi pemuda cantik itu.

"Buka mulutmu~" titah Heechul lembut seraya menyodorkan sesendok bubut di depan mulut Luhan. Namun, Luhan tak langsung menerima suapan Heechul karena kedua matanya kini menatap takut-takut pada semua pengajarnya yang berkumpul di depannya dan menatapnya intens membuat Luhan tak nyaman karenanya. Luhan menunduk takut.

"Ada apa?" tanya Heechul. Luhan menarik nafas.

"Mianhae~aku tidak terbiasa makan di depan orang banyak." Lirih Luhan, suaranya benar-benar pelan namun masih bisa mereka dengar dengan jelas.

"Ah~begitu, kalau begitu bisa kalian keluar terlebih dahulu? Aku akan memanggil kalian jika sudah selesai!" ujar Heechul, mereka semua menurut hingga menyisakan Heechul dan Luhan berada di ruang kesehatan itu, hanya berdua. Heechul pun mulai menyuapi Luhan, dan Luhan menerima suapan Heechul tanpa banyak berkata.

"Oya, aku lupa bertanya apa—Kyungsoo baik-baik saja?" tanya Luhan akhirnya membuka mulut setelah suapan kelima. Heechul tersenyum.

"Dia pulih lebih cepat. Bahkan, dia sudah kembali ke kamarnya tiga hari yang lalu!" jawab Heechul. Luhan mengangguk mengerti.

"Suapan terakhir, setelah itu kau harus minum ramuan ini! Aku membuat ramuan ini dengan tanganku sendiri, ramuan ini sangat berguna untuk menjaga staminamu!" Heechul menyuapi sendok terkahir dan setelah itu ia menyodorkan segelas ramuan yang ia buat pada Luhan. Luhan menerimanya dan meminum ramuan itu sampai habis. "Aigoo~kau benar-benar anak yang penurut!" Heechul mengacak surai hitam Luhan, gemas.

"Jadi, sekarang—kau ingin aku memanggilkan mereka atau tidak?" tanya Heechul. Luhan berfikir sejenak.

"Mungkin, satu dari mereka tidak masalah. Tapi, aku sedikit merasa tidak nyaman jika banyak orang di sekitarku!" jawab Luhan. Heechul mengangguk paham, ia hendak berdiri meninggalkan Luhan namun ia kembali dan menatap Luhan ingin tahu.

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Heechul lembut dan Luhan mengangguk lemah. "Kenapa, kau tidak pernah memanggil kami 'hyung'?" Luhan terdiam, sungguh ia juga tidak tahu kenapa ia sendiri tidak pernah memanggil para pengajarnya dengan sebutan 'hyung'.

"Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan, bukan apa yang orang lain inginkan!" jawab Luhan telak dan Heechul hanya tersenyum kecil, merasa tertarik.

"Baiklah, kau istirahatlah. Aku akan memanggil salah satu dari mereka!" Heechul mengelus surai Luhan dan ia segera bergegas pergi meninggalkan ranjang Luhan.

"Gomawo—!" Heechul menghentikan langkahnya setelah ia mendengar suara Luhan tercekat mengatakan sesuatu padanya. "—Heechul hyung~" Heechul tak bisa menyembunyikan rasa senangnya serta terkejutnya saat Luhan memanggilnya 'hyung' untuk pertama kalinya. Heechul berbalik badan dan tersenyum cantik pada Luhan, ia mengangguk antusias.

"Tidak masalah, adik kecil!" balas Heechul, ia berlari riang meninggalkan Luhan yang sepertinya sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu.

Luhan tersenyum kecil melihat tingkah Heechul, menyenangkan orang lain itu tidak ada salahnya kan?

Setelah Heechul meninggalkannya seorang diri di ruang kesehatan selama lima belas menit lamanya, Luhan yang masih duduk bersandar di ranjang sempat bertanya-tanya siapa kiranya yang akan masuk menemuinya dan entah apa yang akan mereka tanyakan padanya. Jujur saja, Luhan juga tidak tahu kenapa sebagian orang selalu ingin tahu mengenai dirinya sementara Luhan sendiri masih belum terlalu mengenali dirinya sendiri.

Cklek!

Luhan menoleh saat ia mendengar suara pintu ruang kesehatan terbuka, dan menampakkan sosok yang ia ketahui adalah kepala sekolah dari sekolah ini, Park Jungsoo atau Leeteuk lebih tepatnya. Leeteuk berjalan tenang mendekati Luhan yang masih terdiam kaku di tempatnya, meskipun Leeteuk sudah benar-benar berada di depannya.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Leeteuk. Luhan mengangguk kaku. "Apa yang terjadi di hutan itu?" tanya Leeteuk tanpa basa-basi, sementara Luhan tampak mengingat.

"Kejadiannya sangat cepat, aku tidak begitu mengingatnya!" jawab Luhan berbohong. Sebenarnya ia masih ingat semuanya dengan jelas.

"Benarkah? Untung saja, Kyungsoo sempat menceritakannya pada kami!" Leeteuk tersenyum meskipun ia tahu jika Luhan tengah mengelabuhi dirinya.

"Benarkah?" Luhan berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya. Leeteuk mengulas senyum. "Lalu, untuk apa kau masih ingin bicara padaku?" tanya Luhan tenang. Leeteuk berfikir sejenak.

"Kami sangat cemas saat Sehun mengatakan bahwa ada jiwa dalam dirimu yang keluar~" ujar Leeteuk, Luhan nampak mencoba mengingat.

"Sehun?" ulang Luhan ragu menyebut satu nama asing. Leeteuk mengangguk. "Sosok serigala itu—adalah Sehun?" tanya Luhan memastikan.

"Sehun adalah separuh elves dan separuh mutan. Jiwa elves-nya adalah lytari!" jawab Leeteuk, Luhan terdiam.

"Apakah itu sebabnya dia muncul dalam pikiranku?" batin Luhan merasa berhutang budi pada Sehun.

"Jadi, apa kau hanya ingin memastikan?" tanya Luhan cakap, dan Leeteuk hanya mengulas senyum.

"Kami tidak ingin terjadi sesuatu padamu!" jawab Leeteuk. Luhan mengangguk mengerti.

"Terima kasih sudah mencemaskanku, tapi kau tenang saja aku baik-baik saja dan jiwa iblis itu yang keluar. Thanatos gagal menukar jiwaku dengan jiwa iblis yang ia berikan padaku!" jawab Luhan tenang.

"Syukurlah, aku lega mendengarnya~" ujar Leeteuk menarik nafas lega.

"Jadi, apakah aku boleh kembali ke kamarku?" tanya Luhan. Leeteuk mengangguk menyetujui.

"Heechul tadi berpesan kau sudah pulih dan kau boleh kembali ke kamarmu!"

"Kamsahamnida~" gumam Luhan formal, ia beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri tepat di depan Leeteuk.

"Jika kau masih merasakan sakit, kau bisa katakan pada kami, arraseo?" pesan Leeteuk, Luhan hanya mengangguk dan tanpa berlama-lama lagi ia segera pergi dari ruang kesehatan itu.

Leeteuk menatap punggung Luhan yang semakin jauh dari pandangannya. Ia mencoba berkali-kali untuk menerobos memasuki kinerja otak Luhan, dan berkali-kali pula ia gagal. Leeteuk mendengus. Ia sudah melakukan segala cara untuk mendekati Luhan, bahkan ia sampai berpura-pura untuk mengalah pada pemuda cantik itu. Dan, sampai kapan ia harus mempertahankan batas mengalahnya jika semuanya sudah menipis? Bisa-bisa ia tidak bisa menahan diri dan memaksa Luhan untuk membuka pikirannya. Tidak-tidak! Ia tidak mungkin berperilaku ceroboh. Ia harus mempertimbangkan segalanya dengan matang.

"Siapa yang melindunginya?" gumam Leeteuk, ia memejamkan kedua matanya mencoba untuk mencari jalan keluar atas masalah yang kini tengah ia hadapi. Tapi buntu, tidak ada jalan keluar yang muncul di otaknya membuat Leeteuk mengerang frustasi.

..

..

..

Cklek!

Luhan membuka pintu kamarnya yang tempati bersama dengan Kyungsoo dan Baekhyun. Luhan menghela nafas lega mengetahui bahwa kamarnya dalam keadaan kosong. Ia tebak, pasti Kyungsoo dan Baekhyun sedang sibuk bersama dengan hoobae mereka.

Sret!

Luhan membuka gorden kamarnya yang tertutup serta membuka jendela kamarnya. Luhan merenggangkan lengan ototnya seraya menghirup udara segar dari angin siang menjelang sore dengan langit yang tampaknya berawan. Luhan berbalik badan dan berjalan menuju ranjang tidurnya, tangannya membuka laci nakas yang berada di samping ranjangnya. Kemudian, ia meraih sebuah kunci yang diberikan Jaejoong beberapa waktu lalu yang belum ia sentuh sama sekali. Luhan menggenggam kunci itu dengan tangan kirinya, erat.

"Mungkin—ini waktu yang tepat untuk menggunakan kunci ini~" gumam Luhan menyakinkan dirinya. "Aku tidak bisa berlama-lama berada di tempat ini. Aku harus menemukan asal-usul silsilah keluargaku dan pergi ke China," Luhan memasukkan kunci yang ia pegang di saku mantel yang ia letakkan di ujung ranjangnya. Luhan mengenakan mantel itu dan bersiap keluar. Ia berniat untuk menyelesaikan urusannya saat malam datang nanti. Ia tidak bisa berlarut-larut di tempat ini, karena dimana pun ia berada semuanya adalah sama baginya. Sama-sama berbahaya untuknya. Jadi, ia tidak bisa menetap terlalu lama di suatu tempat meskipun tempat itu aman bagi orang lain—tapi tidak bagi dirinya.

Luhan memasukkan kedua tangannya di dalam saku mantel yang ia kenakan. Langkah kakinya menelusuri setiap koridor kastil dimana masih banyak orang-orang yang berlalu-lalang melewatinya, mengingat sebentar lagi kelas akan dimulai. Luhan yang memang sebenarnya ada kelas sebentar lagi, ia tidak berniat sama sekali untuk ikut kelas yang berisi pelajaran-pelajaran tak bermutu menurutnya. Luhan berjalan melewati taman yang berada di belakang kastil dimana pasti banyak para siswa menghabiskan waktu mereka disana. Termasuk, beberapa orang yang satu kelas dengannya.

"Sehun, Sehun! Bukankah itu Luhan?" ujar Chanyeol menunjuk sosok pemuda cantik yang masih dengan wajah pucatnya berjalan sekitar 200 meter di depannya. Sehun yang merasa Chanyeol memanggilnya dan menunjuk sesuatu, seketika pandangannya langsung tertuju pada objek yang tengah mengalihkan atensi sahabatnya itu. Sehun memincingkan matanya melihat sosok cantik yang ia tolong seminggu yang lalu berkeliaran di depannya.

"Dia sudah sadar?" Kai yang ikut memandang kearah yang Chanyeol tunjuk sebelumnya, ikut bertanya pada kedua sahabatnya.

"Woah, kenapa hyungdeul tidak memberitahu kita? Selama seminggu keita bergilir menjaganya dan sekarang? Dia berkeliaran seolah sebelumnya tidak pernah terjadi sesuatu padanya!" desis Chanyeol tak menyangkan dengan perilaku Luhan yang terlihat tenang dan baik-baik saja.

"Bagaimana? Kita harus menghampiri siapa? Dia atau hyungdeul?" tanya Kai pada Sehun yang sedari tadi hanya diam memandang Luhan yang tengah memandang pohon mapple yang berdiri kokoh di depan pemuda cantik itu berdiri. Atau justru atensi Sehun tertuju pada dua orang pemuda yang selalu ia ganggu yang juga tengah menatap Luhan dengan ekspresi sama terkejutnya dengannya. Secara kebetulan, Baekhyun dan Kyungsoo juga berdiri tak jauh dari Luhan berada. Dan, jika diukur mungkin jarak antara Luhan dengan Baekhyun-Kyungsoo dan Sehun-Kai-Chanyeol adalah sama membentuk garis lurus dengan Luhan yang berada di titik tengahnya.

Baekhyun dan Kyungsoo bertatapan dengan Sehun dan kedua sahabatnya. Tatapan mereka sama terkejutnya melihat Luhan berdiri di depan mereka dalam keadaan jauh dari kata baik, mengingat kejadian mengerikan yang baru saja pemuda cantik itu alami seminggu yang lalu.

Sementara Luhan, sosok yang sedari tadi tanpa ia sadari tengah diam-diam diawasi, tetap pada posisinya dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku mantelnya. Ia berhenti sejenak di depan pohon mapple yang berada di depannya. Luhan menatap pohon itu seolah ia memiliki kenangan tersendiri dengan pohon cantik itu, meskipun pohon di depannya bukanlah pohon yang sama, yang pernah ia kenal. Luhan menghela nafas sebelum memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kolam ikan yang berada di pusat taman. Dimana satu-satunya tempat yang selalu sepi, entah karena apa. Sekaligus satu-satunya tempat yang rutin ia kunjungi selama ia berada di kastil itu.

Luhan berjongkok disisi tegel kolam. Memandangi ikan-ikan yang berenang dengan bebasnya tanpa beban, membuatnya iri melihatnya. Luhan mendengus.

"Jangan sedih karena sebentar lagi, aku tidak bisa mengunjungi kalian~" lirih Luhan, tersenyum cantik dan menatap kearah semua ikan yang berenang kesana-kemari.

"Luhan-ssi?" panggil seseorang mengalihkan atensi Luhan pada ikan-ikan yang berenang di kolam. Luhan menoleh namun tak merubah posisinya untuk menyambut orang asing yang baru saja menyapanya. Luhan menatap sosok pemuda tanpa berniat untuk membalas panggilannya beberapa detik yang lalu. "Aku kemari ingin memberikan ini padamu!" ujarnya memberikan sebuah buku tulis pada Luhan. Luhan menerima buku itu dan meneliti buku itu sejenak.

"Dari siapa?" tanya Luhan datar. Pemuda itu diam sejenak.

"Dari Ryeowook hyung, itu serangkaian tugas yang harus kau kerjakan sebelum menghadapi ujian bulan depan!" jawabnya, Luhan mengangguk.

"Kamsahamnida!" balas Luhan datar, pemuda itu pun mengangguk sebelum akhirnya pergi dari hadapan Luhan.

Luhan membuka buku tulis itu, matanya memincing melihat banyak tulisan tangan yang terlihat berbeda satu sama lain. Kedua bola matanya bergerak, bergilir membaca setiap rentetan tulisan yang tertera di depannya. Mulai dari tugas dari pelajaran Ramalan, yang diajar oleh Shim Changmin. Pelajaran Telepati, oleh Cho Kyuhyun. Pelajaran Mitologi oleh Seungri. Kemudian, Ilmu Semu oleh Choi Minho. Ramuan yang diajar oleh Heechul dan lain sebagainya.

"Asal muasal vampire China?" gumam Luhan yang sedang membaca tugas dari pelajaran Sejarah yang diajarkan oleh Shindong. "Apa aku harus mengerjakan semua tugas ini?" pikir Luhan, ia membalikkan lembar selanjutnya dan tibalah matanya pada tulisan tugas untuk Pengendalian Ilmu Hitam yang diajarkan oleh Ryeowook dan Taekwoon.

Buk!

Dengan kasar, Luhan menutup buku tulis itu dan berdecak.

"Untuk apa aku melakukan semua tugas ini? Lagi pula, ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan!" Luhan meremat buku yang ada di tangannya, berharap bahwa harinya di kastil itu cepat berlalu dan setidaknya ia bisa cepat keluar dari kastil itu setelah menemukan apa yang menjadi tujuan awalnya ia masih berada di tempat tersebut.

..

..

..

Brak!

"Oh Sehun! Dimana sopan santunmu!" seru Heechul geram melihat Sehun yang membuka ruang kerja para pengajarnya dengan kasar yang kebetulan tengah berkumpul dihadapannya. Sehun menatap para hyung-nya itu satu persatu diikuti Chanyeol dan Kai yang berdiri di belakang tak jauh darinya, bahkan entah sejak kapan Baekhyun dan Kyungsoo ikut serta berada di belakang mereka dan menatap para pengajarnya penuh intimidasi.

"Sejak kapan kalian menjadi dekat?" tanya Seungri heran.

"Sejak makhluk itu berada disini!" desis Sehun sarkas.

"Makhluk apa maksudmu?" tanya Jaejoong tak mengerti.

"Makhluk rendah dan hina yang sudah kehilangan harga dirinya!" lanjut Sehun dingin.

"OH SEHUN!" seru Yunho merasa jika omongan Sehun sudah kelewat kasar.

"Sebenarnya apa yang kalian inginkan darinya?" tanya Kyungsoo lembut dan menengahi perdebatan pelik antara teman sekelasnya dan pengajarnya.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Heechul balik bertanya membuat Sehun, Chanyeol, Kai, Baekhyun bahkan Kyungsoo berdecak sabar.

"Kenapa kalian membiarkannya keluar dari ruang kesehatan tanpa memberitahu kami?" tanya Baekhyun tak sabar.

"Kami bergilir untuk menjaganya dan menunggunya siuman setiap pagi hingga malam tapi dengan mudahnya kalian membiarkannya pergi tanpa memberitahu kami?!" lanjut Kai, emosinya yang sudah mendidih sejak melihat Luhan berkeliaran di depannya.

"Dan lebih buruknya meskipun kalian tidak mengatakan alasan yang spesifik pada kami—kalian semua terus saja memohon agar kami mengawasinya!" balas Chanyeol ikut menyerang semua hyung-nya yang masih diam dan mendengar segala bentuk protesan mereka.

"Kalian menganggapnya seperti alat. Kalian sama saja seperti mereka yang mengincarnya dan 'menidurinya'!" sarkas Kyungsoo kasar membuat para pengajarnya itu tergelak tak menyangka jika mereka harus mendengar sindiran keras dari murid-murid kesayangan mereka.

"Sudah selesai bicaranya?" tanya Jiyoung setelah kelima adiknya itu kehabisan kata-kata dan tak lagi melanjutkan kata-kata protes mereka masing-masing.

"Jika kita tidak membiarkannya disini, mungkin dia sudah menjadi bahan percobaan diabolos!" ujar Leeteuk yang akhirnya angkat bicara setelah sedari tadi hanya diam menyimak.

"Dan kenapa dia harus berada disini?" tanya Sehun menantang. "Apa keuntungan bagi kita jika dia berada di tempat ini? Bahkan, kalian langsung menempatkannya di kelas tahap akhir! Kalian tidak pernah berniat untuk memberikan pelajaran padanya sejak awal. Karena, kalian hanya ingin dia berada disini dan menjadi perisai untuk sekolah ini! Dari awal, kalian mencarinya untuk membuktikan bahwa kita semua siap kapan saja jika para diabolos itu tiba-tiba datang dan menyerang, atau berniat untuk mengambil adik-adik kami dan menjadikan mereka sebagai budak mereka. Kalian sama saja menjadikannya sebagai bahan kelinci percobaan!"

"Kenapa kalian malah menjadi salah sangka pada kami?" Jaejoong menatap Sehun tak suka yang seketika langsung Sehun balas dengan tatapan tajam miliknya.

"Hyung—tidakkah kalian tahu jika keberadaannya disini juga membahayakan dirinya dan juga kita semua?" tanya Baekhyun tak bisa lagi menutupi rasa kecemasannya. "Jika kemarin Thanatos yang tak pernah muncul di lingkungan sekolah kita saja bisa muncul dihadapannya, bagaimana dengan makhluk asuhan diabolos yang lain? Kalian terlalu mengambil banyak resiko tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain! Bagaimana jika makhluk serupa Thanatos tiba-tiba juga muncul di kastil ini dan menampakkan dirinya dihadapan adik-adik kita? Itu terlalu membahayakan!"

"Lalu, apa mau kalian?" tanya Leeteuk menyerah, sejujurnya ia sudah buntu dengan permasalahan yang selalu muncul akibat satu orang yang keberadaannya entah untuk apa dan kenapa selalu menyulut emosi semua orang.

"Pindahkan dia di kelas pemula, hyung!" pinta Sehun melembut.

"Kau bercanda?!" seru Jiyoung tak terima. "Dia bisa mengendalikan kekuatannya lebih baik dari kalian. Dia juga bisa mengontrol semua cakra yang ada dalam dirinya. Bahkan, dia bisa membatasi antara setiap power yang ia miliki dengan sisi alaminya. Itulah kenapa kami semua langsung memasukkan ke tahap akhir. Tidak ada yang harus ia pelajari dari awal karena secara alamiah, ia sudah mahir dalam segala hal!"

"Bukankah kalian ingin membuka pikirannya?" tanya Sehun tersenyum miring. Para pengajarnya pun mengangkat sebelah alisnya tertarik. "Di kelas pemula, bukankah ada pelajaran wajib untuk membuka pikiran kita agar jauh dari kekuatan iblis?" lanjut Sehun menyeringai.

"Jadi, itu maksudmu bersikeras agar ia berada di kelas pemula?" tanya Yunho tertarik dengan rencana Sehun.

"Kelas pemula adalah satu-satunya kesempatan dimana kita bisa diam-diam membuka pikirannya tanpa ia ketahui, dengan begitu kita bisa mengetahui semua yang menyangkut tentang dirinya hingga kekuatannya. Dan dengan begitu akan lebih mudah bagi kita untuk menyakinkannya untuk berada di tempat ini!" lanjut Sehun.

"Aku kira, kalian tidak menyetujui keberadaannya disini. Kalian semua selalu menentang kami!" salut Changmin menatap kelima murid kesayangannya yang hanya berekspresi diam.

"Kami memang tidak suka keberadaannya. Tapi, kami juga tidak bisa memungkiri rencana kalian untuk menjadikannya 'perisai' dari para diabolos!" balas Kai malas.

"Bagaimana pun juga kami tetap memikirkan tugas yang kalian berikan pada kami!" sahut Kyungsoo angkat bicara.

"Jadi, kami mohon jangan menutupi apapun mengenai dirinya. Kami sekarang sedang berusaha keras untuk mengawasinya diam-diam bahkan kami rela harus bekerja sama dengan mereka bertiga!" ujar Baekhyun tenang.

"Kalian hampir membuat kami jantungan!" desah Heechul lega.

"Kami hanya memberi peringatan pada kalian," canda Chanyeol terkekeh.

"Aigoo~lihatlah sekarang—kalian benar-benar sudah berani mempermainkan kami ya?" sebal Seungri menatap kelima muridnya yang hanya mengulas senyum kecil diikuti kekehan canda dari beberapa pengajarnya.

Dan, tanpa mereka sadari ada seseorang pemuda cantik yang mendengar semua pembicaraan mereka dari awal. Pemuda cantik itu menunduk, berusaha untuk menyembunyikan air matanya yang entah kenapa harus menetes setelah ia mendengar rencana yang menyangkut mengenai dirinya. Ya! Pemuda cantik yang sedang berdiri di balik pintu ruang pengajarnya itu adalah sosok yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu. Tanpa sadar, tangannya meremat buku tulis yang beberapa waktu lalu diberikan padanya.

Luhan, pemuda cantik yang tanpa sengaja menguping dalam diam menarik nafas mencoba untuk mencari ketenangan dalam dirinya. Luhan mendengus. Bahkan, di saat ada orang-orang baik yang hadir di depannya apakah mereka juga termasuk orang keji yang selalu menginginkan dirinya? Mengincar dirinya? Seharusnya ia tahu, keberadaannya di tempat itu memang bukanlah tanpa alasan. Mereka menginginkannya dan membutuhkannya, namun kemudian setelah semua selesai mereka akan membuangnya. Luhan bisa menebak hal semacam itu pasti akan terjadi dalam hidupnya karena memang itulah siklus hidup yang memang harus ia hadapi.

Luhan melangkah menjauh dari pintu itu sebelum ada orang lain yang mengetahui keberadaannya. Luhan bertekad, malam ini ia harus sudah keluar dari kastil ini dan pergi sejauh mungkin dari mereka semua.

TBC


Makasih sebelumnya yang udah ngorekso typo di chapter sebelumnya. Aku lupa, padahal udah beberapa kali aku cek sebelum publish tapi masih aja ada yang kelewat. Dan, semoga ini lanjutannya gak mengecewakan ya...

Dan, maaf buat reader-nim semua mungkin aku gak bisa mastiin buat update seminggu sekali karena akhir-akhir ini aku agak sibuk. Tapi, aku usahakan. Terima kasih udah mau baca dan nyempetin waktu kalian. Terima kasih udah suport ff ini, see you in next chapter...

I'am sorry for typo :)

-Jee-