disclaimer.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.

warnings. Berupa fragmen tanpa juntrungan. Disarankan membaca pelan-pelan karena pasti bingung. #dor

.

.

.

fragmen xv.

Bertholdt Fubar mengajak Krista Lenz ke ruangan perawatan Ymir hari ini, ingin membuktikan gurauan sang dara tinggi itu sebuah kebenaran atau hanya sebatas kemampuan repulsif.

"Kenapa kemari, Krista?"

Hanya itu pertanyaan yang Ymir layangkan kepada gadis bersurai pirang itu.

"Dia Krista, kan?" Bertholdt menunjuk. "Kau mungkin bermimpi aneh jadi kau menganggap dia ini bukan Krista. Kita baru mengenalnya, kan?"

"Aku serius Bertl, dia bukan Krista."

"Me, memangnya ada apa dengan kalian berdua?" Krista menginterjeksi, masuk paksa ke dalam argumentasi. "Aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan…"

"Ymir selalu—begitu." Bertholdt memaksakan senyum. "Mungkin daya ingatnya tengah jelek untuk mengingat orang."

"Bertholdt. Krista tidak seperti dia. Krista—benar-benar lain!"


Calypso
[καλύπτω]


fragmen xvi.

Ymir tengah menatap jendela kembali ketika dokter bersurai cokelat kehitaman itu masuk membawa sebuah papan. Ymir segera menyimpulkan waktunya pemeriksaan, tapi—

"Sore." Ia berucap. "Dan… hai. Sudah lama kita tidak bertemu."

"Apa aku mengenalmu, dokter?"

Dokter itu seketika menutup mulutnya, alih-alih salah mengucapkan kata. Perilaku itu menuai naiknya alis sang pasien. Sang dokter lalu memroses untuk duduk di kursi yang telah tersedia.

"Apa kau pernah ingat dengan Armin Arlert?"

"Armin Arlert? Tidak, siapa itu?"

"Baik, apa kau tahu tentang TMA-Program?" dokter itu memancing. "Kalau tidak salah Armin adalah penemu cara pengulangannya."

"Ah, rasanya aku pernah mendengarnya; kalaau tidak salah—ehh—Temporary Memory Alteration Program? Sebuah obat-obatan yang bisa membantu manusia mengingat ingatan yang selektif saja?"

Iris hijau itu berkilat, "…Ternyata kau masih mengingatnya, Ymir."

"Maksud dokter?"

Dokter itu kemudian memperlihatkan tampilan yang ia sembunyikan dalam papannya ke arah sang pasien. Sang pasien membaca kata demi kata yang tertera di papan itu, sebuah data mengenai—

Mata Ymir membulat, "—Kenapa kau melakukan ini semua, dokter?"

x x x

fragmen xvii.

Jean Kirchstein sudah lama tidak bertemu dengan Marco Bodt, sahabat baiknya sejak SMP yang memutuskan pindah kota untuk bersekolah. Karena pekerjaan orangtua, Marco sudah cukup lama terpisah dari mereka semua di Shiganshina. Kali ini Jean sengaja mengundang Marco untuk bercengkerama serta sekedar reuni pendek.

"Jean? Kau tidak ingin menghabiskan kopimu?"

Jean menatap lemas cangkir putih di hadapannya.

Sasha Braus.—Kata-kata; entah nama itu fiksi atau non-fiksi, tetapi sukses membuat otaknya terus berkutat pada sekelumit deretan huruf-huruf yang membentuk nama itu. Tidak ada yang mengenalnya kecuali dirinya, tidak ada. Bahkan ketika Jean mencoba bertanya pada saat menelpon Marco beberapa hari silam seusai kunjungannya ke Ymir.

Sasha Braus.—Ingatannya terus berjalan. Tapi segalanya sama—terus-terusan berputar, tidak berhenti, tak juga menemukan titik awal dan akhir.

"Masih soal Sasha itu, kah, Jean?" Marco mengeluarkan seulas senyum. "Kau pernah bilang padaku kalau kau punya orang yang kau sukai saat SMP, apa mungkin itu dia?"

"Tidak; aku hanya pernah menyukai Mikasa saja." Jean menyanggah, tangannya menopang dagunya di atas meja kafe tersebut.

Pemuda berjerawat itu memutar bola matanya. "Atau, mungkin saja orang itu jauh—jauh lebih berharga dari Mikasa?"

"Heh." Jean menyeringai lebar. "Ayolah, Marco. Jangan. Bercanda.—aku tidak pernah terlalu memikirkan perempuan."

"Dan kini kau melakukannya, Jean."

Pemilik surai cokelat susu itu terperangah, sulit menjawab argument karena tepat di titik potongnya. Untuk apa Jean memikirkan seorang yang tidak jelas—baik fisik maupun deskripsi harafiahnya? Ingin membenamkan kepala dalam air, rasanya.

Sungguh—siapa itu Sasha?

"Lebih berharga ya…" bisik Jean dengan suara kecil. "Sasha—siapa?"

Marco menelengkan kepalanya, "Mungkin jawabannya tidak jauh, Jean."

x x x

feat./ prolog.

Selamat tinggal—Bertholdt.

Tidak, Reiner, jangan.

Bertl.

Sudahlah Bertl.

Aku—sudah tidak punya apapun.

Aku, hah, aku sama ya, seperti yang lain?

Selamat tinggal—

Reiner.

Tidak, Reiner, jangan.

Jangan—

.

Hei, hei; begitukah kau menghalangi temanmu yang ingin pergi?

.

.

.

Bertholdt membuka matanya untuk menemukan dirinya terbangun di tengah-tengah sofa ruang tengah dengan peluh penuh membasahi wajahnya.

Mimpi—entah mimpi apa lagi. Kerap kali ia bermimpi hal-hal yang sama. Kematian yang sama, kehilangan yang sama dan—

(Kini pun hal itu terulang lagi.)

Bertholdt terbangun menemukan dirinya berada di atas sofa, televise tengah menyala, dan gadis bersurai pirang yang kebetulan lewat menuju dapur terkaget karena bangunnya sang pemuda tinggi itu dari tidurnya. Mimpi. Ya, sebuah mimpi yang sama.

"A, ada apa?"

Gadis itu—Krista Lenz—yang kini menghuni bekas kamar Reiner, juga mengadopsi ponsel bekas Reiner, tengah menuju dapur untuk kepentingan mengambil sesuatu entah apa. Bertholdt menelan ludah, mencoba menyusun jawaban atas raut wajahnya yang pasti kelam.

"Aku… mimpi buruk." Bertholdt memaksakan senyum. "Maaf, aku tampak selalu menyembunyikan sesuatu, ya?"

"Tidak apa-apa kok, kalau kau tidak mau cerita sih…"

"—Kau mau mendengar ceritaku?"

.

.

.

Bertholdt menceritakan tentang Reiner pada Krista, segalanya tentang Reiner. Ia menceritakan mereka yang dulu tergabung dalam satu ekskul baseball, juga kegiatan mereka yang kerap berhubungan dengan panjat gunung dan trekking, kebiasaan mereka di sekolah dan—

Ah.

"Aku lupa bagaimana Reiner pergi, maafkan aku."

"Tidak usah memaksakan dirimu." Krista member seulas senyum kecil. "Reiner sepertinya sangat baik."

"Begitu, ya?" Bertholdt pun ikut tersenyum, dirinya mencoba melipur lara yang meliputinya akibat mimpi dan mimpi itu lagi. "O-oh ya, kalau tidak salah kami punya foto ketika tengah foto kelas saat kelas satu SMA."

Bertholdt mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang menunjukkan seisi kelas yang tampak berbahagia diwakili dengan pose mereka masing-masing. Krista seketika mengenali Bertholdt dari posturnya, sementara Reiner pasti pemuda besar bersurai pirang di sebelahnya dan—

"Gadis ini…?"

Krista menunjuk sosok pendek yang tampak membuang muka dari kamera, namun senyum dan rona merahnya kentara; ia diapit juga oleh Mikasa dan beberapa sosok yang ia tidak pernah tahu—seorang dengan rambut pirang dan temannya yang berambut cokelat. Ada juga Jean, Connie dan Ymir.

"Dia? Itu Annie Leonhardt. Ia teman kecil Reiner dan aku."

"Annie—Leonhardt?" Krista mengulang nama itu sambil memperhatikan foto tersebut lamat-lamat.

("Surai pirang itu, sungguh tidak asing. Ia pernah melihatnya.")

[tbc.]


A/N. Hanya tiga fragmen, karena mungkin chapter berikutnya bakal banyak. Saya bersyukur kalau-kalau ada yang sudah tidak bingung lagi #apa semoga pembaca sudah mulai bisa menebak—lol. (?)

Soal Mikasa, mungkin fragmen tentang dia akan banyak muncul di saat-saat berikutnya :9

Sekian dulu dari saya dan stay tuned!


{next chapter preview}

"Mikasa Ackerman, ya?"

"Gadis itu bukan Krista, Bertl."

"Aku dikirim oleh seseorang bernama Eren."

"Yeager Institute!"

"Jean—"

"Connie, tunggu. Jangan bawa aku ke sana."

"Kau Krista, kan?"

"Tolong aku—"

[berikutnya :: fragmen xviii – xxxii]