Balasan singkat :P
To : lupa akun ff
Sasuke mungkin akan author masukan lagi, tapi belum pasti di chapter berapa dan gimana perannya. dinantikan saja ya :D
To : shiina
Wahh bagaimana ya? jawabannya itu masih dipikirkan saja ya :D
Enjoy!
Scheel
Naruto © Masashi Kishimoto
Note : Kemungkinan ada sedikit singgungan dari cerita sebelumnya (Operating in Love). :D
.
.
.
.
-Hinata POV-
Entah perasaan apa yang ku rasakan saat ini, tapi hanya senang yang dapat mewakili ribuan perasaanku saat ini tentunya. Walaupun hanya ku tinggalkan selama 1 hari, terlihat jelas pada raut wajah orang yang ku cintai ini, ia sungguh merindukanku, dan sebaliknya, aku juga merindukannya. Aku bahkan jauh lebih senang lagi karena Sakura tidaklah berpaling dariku, ia dapat menjaga kepercayaanku dengan baik. Baik, bukannya aku terlalu mengekangnya atau memaksanya untuk tidak bersosialisasi dengan teman perempuannya, aku justru memberikannya kebebasan untuk bergaul dengan siapapun, tapi seperti yang ku pikirkan di awal, ia tetap harus menjaga kepercayaanku ini.
"Malam ini kau sibuk?" bisik Sakura tiba-tiba.
"Hmm..tidak. Ada apa?" balasku.
Saat ini posisi kami berada kurang lebih ada di depan rumah Sakura, baru sekitar beberapa puluh menit yang lalu kami bertemu dan membuat drama singkat, Sakura sudah mengajakku mampir ke rumahnya. Oh ya, tentunya ada Naruto yang ikut menemani, entah mengapa, sedaritadi Naruto menatap Sakura penuh keseriusan seolah ada yang sedang mereka sembunyikan dariku, tapi biarkan saja, mereka memang suka sekali ribut kecil tanpa alasan jelas.
"Kita kan akan merayakan satu tahun hubungan kita."
Kuso! aku lupa kalau hari ini adalah perayaan satu tahun hubunganku dengan Sakura, padahal aku lah yang paling ingat dan benar-benar menanti moment itu sampai-sampai aku rela cepat pulang demi mewujudkannya.
"Kau lupa? kan baru saja kau membahasnya, Hinata." sela Naruto.
"A-Ah gomennasai.. aku jadi tidak enak dengan Sakura." balasku malu.
"Sudahlah, Sakura adalah seme yang kuat, benar tidak?" balas Naruto lagi sambil menyikut pelan Sakura yang sempat terdiam.
"Tidak segan-segan akan ku injak wajahmu, Naruto!" sambar Sakura dan mengepal kuat tangannya itu.
Astaga.. mereka memang terlihat lucu kalau sedang berdebat, hehe..
"Jadi, bagaimana kalau malam ini kita makan di restoran mewah dan sisanya menghabiskan waktu di kuil?" kata Sakura setelah berdebat dengan Naruto.
"Restoran mewah?"
"Tenang saja, aku sudah memastikan biayanya cukup. Hehe.." jawab Sakura.
"A-Ah.. T-Tidak usah, sebaiknya kau simpan saja uangnya untuk membeli keperluanmu yang penting-penting."
Walaupun Sakura yang akan mengurus segalanya, tetap saja aku tidak boleh seenaknya saja, aku tidak akan mungkin tega membandari orang yang ku sayangi ini.
"Terima saja, Hinata. Sakura sedang mencoba menjadi seme yang,".. bugg.. "Diamlah!" bentak Sakura dan memberi pukulan kecil pada Naruto.
Lagi-lagi mereka hampir membuatku jantungan karena tawaku yang terlalu lepas akibat debat kecil mereka itu. Membuatku bangga memiliki kekasih seperti Sakura dan sahabat seperti Naruto.
"Baiklah, pukul 7 malam direstoran dekat kuil? Tapi bagaimana kalau kita ketemuan saja pukul 6 sore di rumahmu?" lagi-lagi Sakura menanti jawabanku.
"Deal.."
"Deal?"
"Tentu saja."
Sakura memasang raut wajah senang dengan senyum simpulnya itu.
"Kalau begitu, sebaiknya Hinata pulang dulu saja." sela Naruto.
"Ehm..benar juga ya, mau ku antar pulang?" tawar Sakura padaku.
Ku gelengkan kepalaku dan mengelus pipi kekasihku ini.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Yakin?"
"Ya.."
Sakura menggaruk rambutnya dan menatapku dalam seolah tidak ingin aku memilih jalur nekat ini.
"Kalau begitu, Naruto tolong antar Hinata pulang." katanya.
"Astaga! kau ini memang payah untuk seorang se..." Sakura menggeratakan giginya, "Apa katamu?"
"Ja.. aku akan mengantar Hinata. Bye."
Naruto menarikku dan mengajakku untuk cepat-cepat pergi, tentunya sebelum Sakura semakin sensi terhadapnya.
Apapun itu, malam ini akan menjadi malam terindah bagiku.
-Sakura POV-
Walaupun aku dan Naruto terlihat lucu dan berdebat kecil seperti biasanya di depan Hinata, sesungguhnya itu hanya sekedar penutup keaslian kami. Saat ini Naruto jelas pasti kecewa dan marah padaku karena aku sudah membohongi Hinata soal aku dan Ino, baik.. aku adalah Haruno Sakura yang to the point untuk masalah besar sekalipun, tetapi kalau untuk hal yang seperti ini, mungkin aku akan mengibarkan bendera putih.
"Kenapa kau tidak mengajak Hinata mampir dulu? padahal ibu sudah menyiapkan makanan kesukaannya." sahut ibuku dan merusak lamunanku.
"Aku dan Hinata akan menghabiskan waktu bersama malam ini, sebaiknya Hinata mengisi tenaganya lagi, baru saja dia pulang, tidak mungkin aku memaksanya mampir dulu."
"Kalau begitu sebaiknya kau juga istirahat dulu. Sekedar tidur siang kan tidak masalah."
Aku mengangguk dan mengacungkan jempolku kepadaku ibuku, ternyata ibuku memang pengertian sekali terhadapku. Walau waktu masih siang hari, tetap saja aku butuh mengistirahatkan tubuhku, setidaknya sampai sore.
Baru aku memasuki kamarku dan merebahkan tubuhku di ranjang, ayahku sudah memasuki kamarku.
"Ada apa, yah?" cetusku kesal.
"Ayah hanya ingin kau benar-benar membuatnya bahagia."
"Maksud ayah itu Hinata? tenang saja, yah."
"Ayah merasakan suatu firasat buruk, Sakura."
Aku yang merebahkan tubuhku dengan santainya, kini terduduk di ranjang karena kaget dengan apa yang ayahku maksud. Tapi sayang, baru aku ingin menanyakannya, ayahku sudah pergi.
Apa maksud ayahku tadi? firasat buruk apakah itu? apa itu ada hubungannya dengan kejadian kemarin bersama Ino?.. Ah.. tidak.. aku tidak boleh berpikir negatif terus, aku yakin itu hanya firasat, maka belum pasti kebenarannya. Sudah..Sudah.. ini waktunya untukku tidur siang.
.
.
.
.
Pukul 17:30 sore
Aku membuka mataku perlahan dan menatap sekelilingku,. kamar? ya.. aku masih di kamarku, baru saja terbangun dari alam mimpiku.
"Sakuraaa..."
Oh yang benar saja? aku baru saja membuka mataku dan masih dihantui oleh rasa ngantuk, tapi ibuku sudah saja memanggilku penuh keseruan.
"Ada apa, ibu?" tanyaku dengan wajah kusut.
"Bersiap-siaplah, Naruto sudah menunggumu."
Naruto? mau apa lagi dia?
"Ya..ya.. aku siap-siap dulu."
Entah apa yang akan dikatakan si rambut kuning bodoh ini tentang masalahku, aku tidak peduli tentunya.
Setelah merapikan penampilanku ini, dengan mengenakan celana pendek jeans dan kaos polo putih, serta sepatu kets tanpa ditemani oleh kaos kakinya, aku sudah yakin siap untuk malam ini.
"Cih! kau jauh lebih buruk dari perempuan biasa." ledek Naruto dengan paras wajah datarnya itu.
"Kau sendiri kan yang bilang, kalau akulah semenya.. maka aku tidak perlu memakai dress. Ya kan?" jawabku bangga.
"Ya.. seorang seme yang berhasil membohongi ukenya, tentu saja."
Ku kepal kuat tanganku saat Naruto mengatakan hal buruk seperti itu.
"Aku akan menceritakan segalanya kepada Hinata lain waktu, tapi tidak hari ini, aku tidak ingin melihat senyumannya rapuh. Ku harap kau mengerti, Naruto. Ini malam yang berkesan bagi kami." tukasku kesal.
"Oh ya? dengan membohonginya?. Bila kau jujur kepadanya, kau hanya akan menusuknya sekali, tapi jika kau berbohong, sama saja kau sudah berusaha menusuk Hinata dua kali, Sakura."
Kuso! Peduli setan!
"Lalu apa maumu datang ke rumahku?" tanyaku mengalihkan topik.
"Mengingatkanmu suatu hal."
"Apa?"
Naruto memasang raut wajah seriusnya itu.
"Kau dipertemukan dengan Hinata itu bukanlah hal yang kebetulan."
"Apa maksudmu?"
"..."
Setelah banyak memotong waktu, aku dan Naruto pun berjalan menuju rumah Hinata, disanalah tempat kami akan bertemu.
Sepanjang perjalanan, aku tidak melihat Naruto memasang wajah lugu seperti biasanya atau membuat candaan konyol tidak jelas itu, ia cenderung diam saat ini. Apakah masalahku ini tidak hanya mengancam hubunganku dengan Hinata? melainkan persahabatanku dengan Naruto juga? Tidak!
Karena diam yang terlalu lama, aku pun tidak sadar, aku sudah sampai di depan rumah Hinata. Ku rapikan lagi penampilanku dan mengetuk pintu rumahnya itu. Dan dengan cepat, pintu itu sudah dibukakan.
"Sakura.."
Suara lembut dan sedap didengar itu benar-benar menusuk telingaku, ku arahkan pandanganku pada seseorang yang mengenakan dress bermotif bunga dan rambut panjangnya yang terurai rapi itu. Ku tatap dari ujung kepalanya hingga ujung kakinya, ya Tuhan.. siapakah ia? malaikat? rasanya nyawaku seperti ingin dicabut. Oke..Oke.. ini semakin berlebihan dan menjijikan, tapi intinya aku benar-benar terpesona dengan penampilan orang yang ku cintai ini.
"Ada Naruto juga?" sahutnya.
"Tenang saja, setelah ini aku juga akan pergi bersama Kiba, Lee, dan Shikamaru."
" .. Ja.. aku dan Sakura pergi dulu ya."
Naruto pun pergi dari hadapan kami, mungkin ia benar-benar akan menemui teman-temannya itu.
"Mau langsung ke restoran dekat kuil?" tanyaku membuka obrolan.
"Tidak.."
"Tidak?"
"Aku ingin kita mampir ke rumah Ino?"
"Hwaaa! untuk apa?"
Hinata ada-ada -tiba ia mengajakku untuk mampir ke rumah Ino.
"Kan kau sendiri yang bilang ingin bertanggung jawab karena sudah menyakiti Ino."
Terdengar seperti anak kecil, tapi benar juga, baru saja tadi siang aku mengatakan hal itu kepada Hinata. Yasudah, sebaiknya ku ikuti saja kemauannya.
"Baiklah.."
Hinata tersenyum senang sambil melingkarkan lengannya di lenganku.
Berhubung rumah Hinata tidak terlalu jauh dari rumah Ino, maka dalam waktu beberapa menit, kami sudah berhasil menginjak depan rumah Ino.
Belum ku siap, Hinata sudah berteriak memanggil Ino, tapi aku tidak mungkin menghalanginya, aku hanya tidak tega. Tidak lama, si rambut pirang itu pun keluar dan menyambut kami. Bisa sial aku disini.
"Hinata? ada apa?" tanya Ino.
"Ehm.. Sakura akan mengatakan suatu hal." jawabnya.
Apa?
"Ahh.. bagaimana ya.. " ku garuk kepalaku tanda kebingungan, mungkin Ino sendiri juga kebingungan dengan tindakan anehku ini, "Gomennasai, Ino." jawabku simpel.
Dengan cepat ku berikan wink pada Ino sebagai isyarat, Ino menangkapnya dengan cepat dan seolah ikutan dengan drama aneh ini.
"Hmm.. baiklah." balasnya.
Hinata tersenyum dan menatap kami berdua, "Baguslah kalian sudah berdamai, kalau begitu kami pergi dulu ya, Ino."
Dengan wajah awkward kami berdua, perlahan aku dan Hinata meninggalkan rumah Ino dan bersiap pergi ke restoran. Cih! benar-benar mini drama yang aneh. Hmm..mungkin saja, Ino mengetahui ancaman ini, ya..ancaman yang disebabkan karena kejadian kemarin itu. Huh!
"Ada masalah apa?" lamat-lamat ku dengar Ino berbisik kepadaku tadi, tapi tidak ku respon, karena aku sudah berjalan agak jauh meninggalkan rumah Ino.
"Kau harus banyak bersikap ramah, walaupun dengan sahabatmu yang agresif itu." cetus Hinata.
"B-Baiklah.." sungguh, ini memang canggung.
Kalau bukan Hinata, siapapun yang berani menasehatiku, pasti akan ku habisi, tapi aku tidak mungkin melakukannya kepadanya.
Hinata terdiam sebentar, "Sakura, apa kau ingat?" cetusnya lagi. "Ingat apa?" balasku.
Sayang, aku sudah melihat Hinata ingin berucap, tapi karena restoran indah sudah terpampang jelas di depan kami, itu semua ditunda.
"Kyaaaa..restoran yang sangat fancy. Kau yakin?"
Tanpa mempedulikan kata-kata Hinata lagi, ku tarik tangannya itu dan melihat pelayan sudah menyiapkan tempat yang sudah ku booking. Bisa ku tatap dalam sinar mata Hinata yang larut karena keindahan pemandangan sore menjelang malam ini.
"Mau pesan apa, nona?" tanya pelayan itu.
"Tolong berikan saja hidangan terbaik di restoran ini." jawabku seolah seme (Ya..memang aku seme)
Hinata menyikutku, "Kau yakin?", ku acungkan jempolku dan tersenyum.
"Baik, nona. Tolong ditunggu." pelayan itu pun dengan cepat mempersiapkan pesananku. Selagi menantinya disajikan, aku dan Hinata hanya berbincang-bincang kecil. Sebenarnya sudah lama sejak aku date dengan mantan kekasihku, aku sudah lupa bagaimana caranya date romantis, tapi mungkin karena aku sebagai seme, maka aku harus bersikap lebih maskulin, dan aku tentu saja berhasil.
"Hwaa.. Arigato, Sakura. Ini menakjubkan." seru Hinata heboh sambil menggenggam tanganku.
"Setelah makan, kita bisa melihat pemandangan yang jauh lebih indah lagi di kuil."
Hinata mengangguk sangat senang. Aku pun juga ikut senang kalau melihatnya sebahagia itu, walau mungkin kebahagiaan itu ku pertahankan dengan cara yang salah.
"Ini hidangannya, nona." si pelayan kembali membawa hidangan terlezat itu.
Hinata yang langsung mencicipi sedikit hidangan itu menjadi girang tak karuan, mungkin selain rasanya yang enak, harganya pun jauh lebih enak bukan?
"Enak kan?" tanyaku iseng.
"Ini luar biasa, bagaimana kau tau aku suka ribs? ku pikir kita akan makan makanan Jepang lagi."
Aku tertawa ala penjahat dan menyeringai, "Tentu saja aku ingin memberikan yang spesial untuk orang ku cintai ini."
Menurutku, makan malam hanya sebagai pembukanya saja, mungkin kesannya akan didapat saat kami sudah di kuil. Ku dengar dari Tenten, malam ini kuil sangat dipenuhi oleh lampu-lampu kecil indah dan pemandangan kota yang tidak kalah indahnya, dan tentunya.. kuil sedang sepi.
Setelah menghabiskan hidangan kami, kami pun bersiap untuk pergi ke kuil, tentunya aku harus membayar tagihannya.
"Semuanya jadi 5000yen."
Nani!
Untung saja aku tidak jadi menyemburkan minumanku ini karena kaget. Totalnya cukup tinggi bagi anak hikikomori sepertiku ini dan totalnya juga sangat memukau untuk hidangan dua orang, sedangkan aku baru saja bekerja part time di suatu tempat, butuh waktu 3 bulan untuk mengumpulkan jumlah sebesar itu, sekarang saja aku masih memakai uang ayah dan ibuku.
"A-Ah Sakura.. aku bisa membayar setengahnya." bisik Hinata.
Aku memasang wajah tenang ala seme dan memberikan 5000yen yang menurutku bisa saja berguna untuk segalanya, misalnya aku bisa membeli pakaian baru, atau makan Ramen Ichiraku sepuasnya, atau membelikan kado ulang tahun untuk kawan-kawanku, Ahh.. sudahlah.
"Ayo, kita pergi ke kuil." ajakku dengan wajah kalem.
Huh! setelah ini pasti aku akan diberi hukuman berat oleh ayah.
-Hinata POV-
Aku mengangguk pelan dengan ajakan Sakura, aku hanya merasa baru saja membebani Sakura, kalau aku punya uang sebanyak itu, pasti akan ku gantikan sebagian total bil itu.
Sepanjang perjalanan menuju kuil, ya..berhubung restoran ini tidak jauh dari kuil, Sakura hanya memasang raut wajah setengah panik sambil melihat bil tadi.
"Hmm..Gomen, Sakura. Kalau aku punya uang, aku akan menggantikannya."
Sakura yang mendengar perkataanku itu langsung menghadapkan pandangannya padaku.
"Tentu saja tidak boleh, aku kan yang mengajakmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Hinata."
"A-Ah baiklah.."
Aku senang kalau Sakura tidak menyalahkanku, tapi aku juga jadi tidak enak dengannya, seharusnya aku tidak terlalu membandarinya, walau ia seme, tetap saja ia adalah perempuan, perlu dimengerti.
"Sampai!" teriak Sakura saat kami berhasil sampai tepat di kuil, melihat suasana yang sepi ini sangatlah romantis, mungkin situasi ingin kami menghabiskan waktu berdua saja.
Aku menuju ke tepi pagar dekat kuil, karena kuil ini terletak agak tinggi dengan anak tangga yang dapat dibilang cukup banyak ini, aku dapat melihat pemandangan kota dengan penuh kagum.
"Sugoi!" seruku kecil.
"Keren kan? ini akan memberi kesan yang memorable." cetus Sakura.
Sakura menggenggam tanganku, rasanya air mataku akan mengalir karena terharu dengan situasi ini, aku belum pernah merasakan hal seromantis dan seberkesan ini.
"Hinata, aku mencintaimu." bisik Sakura di telingaku. Suara lembutnya seolah menghembus dengan tenang sampai ke pikiranku, bahkan hatiku juga dapat merasakan ketulusan cintanya padaku.
"Aku juga mencintaimu." balasku juga berbisik.
Aku benar-benar merasa nyaman di dekatnya, mungkin hanya Sakura yang dapat membuatku merasa nyaman, ia juga yang terus mengukir senyuman di wajahku. Bahkan genggaman tangannya tidak ia lepaskan dari tanganku.
"Hinata, bagaimana kalau kita membeli barang yang sama untuk dipakai bersama, hmm..misalnya gantungan kunci, kaos, atau semacam itu?" cetusnya tiba-tiba.
Kata-katanya itu membuatku tertawa kecil, entah mengapa, menurutku itu humoris.
"Kenapa tertawa?" tanyanya sambil memasang wajah murung yang kawaii itu.
"Loh? bukannya kita sudah memilikinya ya?" jawabku.
Sakura menggaruk kepalanya kebingungan.
"Benarkah? aku tidak tau."
Astaga.. Sakura ini memang pelupa ya. Ia dengan mudahnya melupakan hal terpenting.
"Kau benar-benar tidak tau?"
"Ya begitulah."
Ku pasang wajah kesal kepadanya.
"Jangan bilang kau menghilangkan cincin kembar kita itu!" gerutuku kesal.
"..."
Sakura hanya memasang wajah bingung dan seolah kaget dengan apa yang ku katakan. Huh!
Jangan sampai hanya karena hal sepele seperti ini, kesan romantis kami memudar.
-Sakura POV-
Cincin?
Oh ya.. aku baru teringat sekarang, aku memang dulu pernah memiliki sebuah cincin dan sampai sekarang masih ku simpan cincin itu.
"Apa yang kau ingat, Sakura?" tanya Hinata dan memasang wajah serius.
"Jangan khawatir, aku ingat segalanya." jawabku santai.
Hinata kembali memasang wajah kalemnya, ia sepertinya sudah tidak ngambek dengan hal sepele itu.
"Kau ingatkan dulu kita pernah berdebat besar." cetus Hinata.
"A-Ah..iya."
Tentu saja aku ingat saat aku dan Hinata berdebat besar, itu semua karena aku dipengaruhi oleh Uchiha Sasuke, dan bodohnya, aku malah tidak percaya dengan Hinata.
"Debat itu juga ada hubungannya dengan si Uchiha sialan itu. Sampai sekarang aku masih tidak menyukainya." cetusku membayangkan kejadian lalu.
"Apa kau masih ingat Fairy-san?" sahut Hinata lagi.
Happ!
Rasanya mulutku baru saja disumbat oleh apel, tiba-tiba saja aku menjadi flashback masa laluku. Masa lalu yang menyakitkan, selalu ditolak pemuda, tidak memiliki teman, dan hanya menghabiskan waktunya di rumah pohon.
"Kuso!" gumamku dalam hati.
Masa laluku adalah masa lalu yang tidak dapat dibanggakan, lebih pantas dibuang jauh-jauh, tapi sebenarnya tidak seluruhnya buruk, melainkan ada suatu hal yang membuat masa laluku masih ada rasa manisnya. Dan itulah yang dimaksud Hinata, Fairy-san, mungkin aku sudah gila kalau ku ceritakan bahwa aku pernah bertemu dengan seorang peri yang memberiku sebuah cincin yang dapat memprediksi siapa jodohku, tapi itulah kenyataannya, kenyataan bagaimana aku bisa bersama Hinata sampai saat ini.
"Hmm..peri gadungan itu? ya.." jawabku lemah.
"Seketika aku menjadi rindu masa lalu ya. Haha.. aku bahkan teringat saat kau dan Sasuke," ku potong kata-kata Hinata dengan menutup mulutnya. Aku ingat segalanya, bahkan saat aku dan si pervert Sasuke itu hampir berhubungan intim. Rrrr..
"Hey! aku sekarang sudah tidak tertarik dengan pemuda tampan lagi tau!" tukasku kesal.
"Haha..iya..iya.. setidaknya kau berhasil melakukannya dengan 'bishoujo'."
Kyaa! Bishoujo?
Aku jadi teringat kejadian kemarin bersama Ino, sampai detik ini, insiden itu masih melekat dipikiranku.
"Bishoujo itu kan.. a-aku."
Pipi Hinata memerah dan berusaha menutupinya, ia sangat lucu!
"Oh.. souka. hehehe.." entah apa yang harus ku jawab, kalau menyangkut soal making love seperti itu, aku bukan ahlinya dalam membahasnya.
"Kenapa kita jadi membahas masa lalu? ayo bincangkan hal lain." cetusku bosan.
"Baiklah, kalau begitu, bagaimana kau ceritakan aktivitasmu saat aku pergi?"
Lagi-lagi serangan jantung yang ku rasakan, aku tidak mampu membohongi Hinata lagi kalau seperti ini, tapi secara tidak langsung, Hinata memaksaku untuk berkata jujur.
"Kok diam? yasudah, aku duluan yang cerita ya."
Ku anggukan kepalaku tenang.
"Saat aku berbincang dengan ayahku, awalnya ku kira ayahku akan menyuruhku mengakhiri hubungan denganmu, dari tatapan tajam ayahku, aku yakin kalau apa yang ku pikirkan itu akan terjadi. Tapi.."
"Tapi apa?" cetusku penasaran.
"Ayah merestui hubungan kita, ayah tidak jadi menjodohkanku dengan pemuda itu, karena ayahku tidak ingin aku menderita dengan orang lain. Terdengar berlebihan sih, tapi aku senang karena ayahku bisa menerimaku dengan keadaan seperti ini, aku juga tidak ingin berpisah darimu."
Hinata dengan mudah dan lancarnya menceritakan segalanya, sedangkan aku? hanya bisa terdiam.
"Nah..sekarang giliranmu, Oh ya, kalau perlu ceritakan apa saja yang kau lakukan dengan Ino. Tenang saja, aku tidak cemburu kok. Hehe.."
Shoot! hatiku serasa ditusuk.
"Setelah aku mengantarmu, aku pulang ke rumahku, lalu keesokannya Ino mengajakku untuk menemaninya dirumahnya, jadi aku memutuskan untuk menemaninya sebentar. Dirumah Ino, aku.. ehmm.. memasak, dan," bohong! , "Melihat-lihat bunga," bohong lagi!, "Dan.."
Terlalu banyak berbohong, sampai-sampai aku tidak mampu berkata-kata lagi.
"Dan apa?" cetus Hinata menanti jawabanku.
Baiklah, sekarang konflik batin yang ku rasakan, aku tidak ingin membohongi Hinata lagi, aku tidak ingin menutupinya lagi, karena itu pasti akan diketahui olehnya suatu waktu, maka hari inilah kesempatanku.
"Sakura.."
Sekarang apa yang harus ku lakukan? menceritakannya? atau berbohong lagi?
Ahh..tidak.. aku harus memilih salah satu jalan dengan cepat.
"Doushite?" Hinata terus memberiku tekanan. Aku tidak tau harus bagaimana lagi, satu-satunya cara adalah untuk berkata jujur kepadanya. Bagaimana ini?
"Hinata, gomennasai.." kataku dengan suara samar-samar.
"A-Apa?"
Oke, baiklah, aku akan jujur, walaupun akan menyakitkan, tapi kali ini aku siap menghadapi segala konsekuensinya. Oke.. aku benar-benar siap.
"A-Ah.." mulutku mulai terbuka.
"Ya?" Hinata menjawab dengan senyuman tulusnya itu, senyuman tulus yang siap ku rapuhkan. Gomennasai, Hinata!
"G-Gomennasai.." kataku setengah berbisik.
"Eh?"
"A-Aku.. berhubungan intim dengan Ino."
Ya.. to the point ku katakan hal itu sambil memejamkan mataku dengan erat sekali, tapi ku intip sedikit dari celah tutupan mataku.
Hinata berjalan pergi meninggalkanku.
.
.
.
Phew! chapter ini kelar juga :D
Maaf ya kalau author lama update, karena ada beberapa kendala.
Oke, mungkin chapter ini dan kedepan akan mulai mengikuti genrenya, yaitu Fantasy yang sebenarnya belum terlalu mencolok di chapter sebelumnya. Tapi karena sengaja author singgung cerita sebelumnya (Operating in Love), jadi author menambahkan bumbu genre Fantasy didalamnya, semoga readers suka ya :D
Yosh! Next! Chapter 5 comingsoon!
Mind to review? :D
