17 Pledis Entertainment

Jeon Wonwoo x Kim Mingyu with Seventeen member.

Mochi—3. Jihoon hamil?

Sesuai dengan sub-judulnya, jadi ini adalah ff mpreg. Aku warning di awal. Yang nggak suka mpreg silakan close. Terima kasih.

«:•••:»

Pukul delapan malam, Wonwoo mendapat telepon dari Jeonghan. Pria cantik itu mengatakan jika Jihoon masuk rumah sakit karena muntah-muntah. Tanpa basa-basi, Wonwoo langsung bergegas kesana. Dia masih berada di lingkungan sekolah dan jarak rumah sakit tidak begitu jauh dari Hwanja High School.

Di halte depan sekolah masih ada beberapa siswa kelas tiga yang juga menunggu bis. Mereka menyapa Wonwoo dengan sopan dan menanyakan kemana guru mereka akan pergi. Karena tak biasanya Wonwoo pulang sebelum pukul sembilan. Dengan ramah pun Wonwoo menjawab jika dia akan pergi ke Rumah Sakit Hankuk. Tak lama kemudian, bus pun datang untuk menjemput.

Wonwoo tiba pukul 8.10 malam. Kebetulan ketika ingin bertanya ruang inap Jihoon pada bagian resepsionis, dia bertemu dengan Joshua. Mereka berjalan beriringan masuk ke lift menuju lantai tiga.

"Jeonghan meneleponmu?" Joshua membuka suara.

Wonwoo mengangguk. "Dia menelepon saat aku masih di sekolah." katanya.

Joshua mengangkat kedua alisnya. "Kau masih sekolah?!"

"Apa wajahku masih cocok menjadi siswa SMA?" Wonwoo terkekeh. "Aku mengajar kelas musik disana." jelasnya.

Joshua menghela nafas. Untunglah Wonwoo sudah mengajar, bukan seorang siswa SMA yang labil. Ia tak habis pikir jika mengencani anak SMA di akhir pekan nanti. Nah, tiba-tiba dia teringat permainan dare or dare minggu kemarin.

Hening melanda ketika mereka melangkah perlahan untuk menemukan ruang inap Jihoon. Tidak jauh-jauh, mereka sudah menemukan Jun, Seokmin, dan Minghao yang duduk di bangku tunggu.

"Kenapa kalian disini?" tanya Joshua.

"Hoshi belum memperbolehkan kami masuk." jawab Seokmin.

"Jeonghan di dalam?" tanya Wonwoo lagi.

Mereka bertiga hanya mengangguk lemah. Minghao yang duduk di sebelah Jun sudah kelihatan mengantuk. Berulang kali kepalanya tertunduk hingga pertahanannya roboh dan jatuh ke tempat duduk di sebelahnya.

Wonwoo yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Jeonghan mempersilakan mereka untuk masuk. Jun membangunkan Minghao dengan mencubit pinggangnya kuat hingga pria itu meringis kesakitan.

Di dalam, tampaklah Jihoon yang terbaring di ranjang dengan Hoshi yang duduk di sebelah ranjangnya. Jari jemari mereka saling bertautan dengan erat. Yang mengherankan adalah mata sipit Hoshi terlihat memerah dan di sudut matanya masih terdapat sisa-sisa air mata. Dia habis menangis? Kenapa? Apa Jihoon sakit parah? Batin Wonwoo.

Jeonghan yang memakai jas panjang putih menaikkan selimut Jihoon sampai leher kemudian menepuk punggung Hoshi perlahan.

"Ada apa ini?" Joshua yang heran dengan tingkah mereka akhirnya bertanya.

Jeonghan tersenyum tipis.

"Jihoon tidak sakit parah, tenang saja. Dia hanya merasa mual dan muntah dalam beberapa hari belakangan." kata Jeonghan menjelaskan.

Mereka menghela nafas lega. Untunglah bukan sakit parah. Tapi kenapa Hoshi menangis?

"Hoshi...?" Seokmin mengangkat alisnya heran seraya memandang Hoshi dan Jeonghan bergantian.

Jeonghan meliriknya sebentar lalu terkekeh. "Dia hanya terharu."

"Kenapa?" Jun menimpali.

Dengan sengaja Jeonghan tak menjawab. Dia mengambil jeda sejenak.

"Lee Jihoon positif hamil. Kandungannya memasuki usia dua bulan."

"APAAA?!"

•••••

"Selamat, bro!"

Seokmin menepuk punggung Hoshi dengan begitu kuat hingga rengekannya semakin menjadi-jadi.

"Wah, selamat untuk kalian." Joshua mengangkat dua jempolnya dan menunjukkannya pada Jihoon dan Hoshi.

Wonwoo merasa speechless sendiri disaat yang lain memberi selamat. Tanpa sadar dari tadi dia memandangi Jihoon yang terbaring. Membayangkan bagaimana perut Jihoon mulai membesar dalam beberapa bulan ke depan. Dia jadi bergidik ngeri. Wonwoo tidak mau hamil. DIA TIDAK MAU!

"Won?" Jeonghan menepuk bahunya hingga Wonwoo tersentak. "Kenapa diam saja? Tidak memberi selamat?"

Wonwoo menunjukkan cengirannya sembari mengusap tengkuknya.

"Selamat atas kehamilanmu, Jihoon. Dan kau, Kwon Hoshi, jadilah suami yang baik untuknya!" seru Wonwoo.

Jihoon tersenyum, sedangkan Hoshi tidak menggubris karena begitu sibuk dengan air mata harunya.

"Terima kasih, Won. Kapan kau menyusul?" Jihoon bertanya.

"Heh?" Wonwoo terdiam. Apa pula maksud pertanyaan Jihoon? Apa dia menyinggung Wonwoo?

Jihoon segera menambahkan, "Dalam squad kita, yang belum menikah itu kau, Joshua, Seokmin, dan Mingyu. Bahkan kekasih pun tidak ada." jelasnya.

Baiklah, sekarang mereka yang namanya disebut—kecuali Mingyu, karena dia tidak ada—merasa tersinggung dengan ucapan Jihoon.

"Pengantin baru songong, huh?" —Joshua.

"Aku tidak dengaaaarrr!" —Seokmin.

Wonwoo mengernyit. Jika hanya mereka berempat yang belum menikah, berarti...

"Aku dan Seungcheol sudah menikah setahun yang lalu. Minghao dan Jun bertunangan musim gugur kemarin, lalu ada Seungkwan dan Vernon yang sudah pacaran." jelas Jeonghan. Ia tahu jika Wonwoo bingung, bahkan terkesan tidak peka dengan lingkungan sekitar hingga tidak menyadarinya dengan cepat.

Sungguh Wonwoo tidak menyangka jika Jeonghan sudah menikah dengan Seungcheol. Maaf saja, tapi Wonwoo merasa hubungan mereka tidak ada romantis-romantisnya yang menunjukkan bahwa mereka sepasang 'suami-istri'. Apalagi Jun yang sudah bertunangan dengan Minghao. Padahal saat Minghao tertidur di bangku tunggu tadi, Jun terkesan tidak peduli bahkan dia mencubit Minghao agar terbangun. Kalau Seungkwan dan Vernon itu... Wonwoo tidak tahu. Toh, pria itu kan belum melihat mereka dengan mata kepala sendiri.

"Tapi, bukannya Mingyu sudah punya kekasih?" tanyanya lagi mengingat pagi ini dia melihat Mingyu dipeluk oleh seorang gadis.

Jihoon justru tertawa. "Sejak kapan? Mingyu terlalu sibuk mengurus kafenya dan tidak terlalu memikirkan pasangan. Kurasa dia tidak akan menikah sampai tua nanti." ujarnya.

Wonwoo tidak percaya. "Tadi pagi aku melihatnya bersama seorang gadis."

"Oh, benarkah? Bagus kalau begitu. Ah, ya, karena Wonwoo dan Josh akan berkencan akhir pekan ini, kalian bisa menganggap itu sebagai pendekatan tahap satu. Siapa tahu kalian merasa cocok?"

Ucapan Jihoon yang sembarangan membuat dua orang yang disebutkan tadi merona. Secara fisik, Joshua memang tampan, apalagi wajahnya manis sekali. Wonwoo suka melihat matanya yang mirip kucing lucu ketika tersenyum.

"Jadi aku dengan Mingyu, begitu?" tiba-tiba Seokmin menyahut.

Mereka semua menatapnya heran.

"Memangnya kau mau dengan Mingyu?" tanya Jun. Pria itu masih menahan kepala Minghao yang terjatuh di bahunya.

Seokmin mengendikkan bahu, "Bukankah kita sepakat untuk menikah dengan sesama anggota squad? Jumlah kita memang ganjil, tapi sekarang Wonwoo sudah menjadi bagian dari kita. Jadi jumlah kita genap." tukasnya.

Mereka semua—kecuali Wonwoo—merenungi ucapan Seokmin. Squad mereka memang memiliki beberapa peraturan dan kesepakatan. Salah satunya adalah menikah dengan sesama anggota squad sehingga terciptalah hubungan harmonis serta mudah bagi mereka untuk berkumpul lagi dan saling berkomunikasi.

"Benar juga." kata Jeonghan. "Yasudah kau dengan Mingyu saja kalau kau bersedia berbaring di bawahnya."

Yang lain tertawa dengan ucapan Jeonghan. Wonwoo sendiri yang membelalakkan matanya dengan ucapan pria itu yang terlalu yah, sedikit vulgar. Jadi, apa ini artinya Wonwoo juga harus menikahi salah satu diantara Joshua, Seokmin, dan Mingyu? Ya Tuhan, bahkan dia tidak dekat dengan ketiganya.

Jihoon kembali menegaskan kepada Wonwoo yang masih telihat shock. "Kau juga, Won. Kau sudah menjadi bagian dari squad kami. Yang berarti kau harus memilih antara Joshua, Seokmin, atau Mingyu."

"Kurasa Wonwoo cocok dengan Mingyu." timpal Jeonghan seraya memandangi tubuh Wonwoo dari atas hingga bawah. "Kau mengajar musik di Hwanja High School kan, Won?"

Wonwoo hanya mengangguk.

"Benar-benar tipe Mingyu sekali hahahah!" Jeonghan terkekeh. "Tapi ada satu kriteria penting yang harus dipenuhi jika ingin menikah dengan dia."

Oke, selain Wonwoo, mereka semua sudah tahu apa yang akan Jeonghan katakan perihal kriteria penting untuk menjadi pasangan Mingyu. Jihoon yang paling antusias dengan ekspresi yang akan Wonwoo tunjukkan.

Jeonghan memajukan sedikit tubuhnya, berbisik tepat di telinga Wonwoo. "Kau harus hebat di ranjang."

"MWOYA?!"

•••••

"By the way, Hosh, bukankah kalian baru menikah minggu semalam? Kenapa Jeonghan mengatakan jika usia kandungan Jihoon sudah dua bulan?"

Itu adalah pertanyaan terakhir Wonwoo sebelum mereka bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Hoshi menatap Jihoon yang sudah terlelap, lalu menyengir lebar.

"Kami melakukannya sebelum menikah hehe."

Wonwoo speechless untuk yang kedua kalinya.

"Jadi dua bulan yang lalu kau datang ke apartemenku dengan berantakan karena 'itu'?!"

Hoshi tidak menjawab. Namun, gelagatnya sudah menunjukkan jika itu benar. Apalagi dia terus menyengir hingga mata sipitnya semakin tak nampak.

"GOOD JOB, BRO!"

Seokmin justru menepuk-nepuk punggungnya lagi dengan semangat.

Wonwoo rasa dia harus mulai terbiasa dengan tingkah anggota squad aneh mereka. Semoga saja anehnya tidak tertular padanya.

To Be Continued

Jadi, kalian relanya Wonwoo sama siapa? Mingyu, Joshua, atau Seokmin? Silakan vote di kotak review dan sertakan alasan kalian XD

Pekerjaan Jeonghan itu dokter, pasti udah pada bisa nebak kan?

Terima kasih untuk yang sudah mereview:

kyunie, rizki920, adellares, littleooh, wantwu, 17misscarat, clarahyun, aigyuu, blackberryplatinacool, gyusicakun, yuri-leechan250201, swimmingfoolarva, cheonsamuel.

Jangan lupa review lagi yah hehe.

170726