NARUTO X HIGHSCHOOL DXD FANFICTION
~RETURN~
Genre : Adventure & Supernatural
Rate : M (Lemon?)
Pair : Naruto X ..?..
Warning : Ide Mainstream/ Bikin Sakit Mata/ Dialog Masih Kaku/ Author Newbie/ dll
#NOTE : bagi yang tidak suka tidak usah baca, silahkan tekan tombol Back di layar Smartphone anda… TERIMAKASIH
.
.
.
STORY START…!
69-69-69-69
Malam hari, Ruang Penelitian Ilmu Ghaib.
Jika dilihat dari luar, bangunan tua yang dulunya gedung Sekolah tersebut akan tampak biasa saja. Cahaya bulan purnama menyinari suasana sekelilingnya termasuk dinding – dinding bangunan yang sedikit retak, dengan catnya yang sudah terkelupas di sana – sini. Jika kau termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang takut hantu, maka perintah batin yang pertama kali hinggap dikepalamu adalah untuk segera menjauh dari sana.
Memang, penghuninya termasuk golongan Iblis. Ras yang dipenuhi aura negative, termasuk tipu dayanya dalam menggoda manusia untuk berbuat kejahatan. Surga seakan menjauh dari mereka.
Tapi, adakah yang berfikir. Jangan menilai buku dari sampulnya. Pasalnya, jika kita melihat lebih jauh ke dalam bangunan. Anggapan bahwa ruangan tua tersebut akan terlihat menyeramkan dengan tampilan cahaya remang – remang seperti film horror kebanyakan, Itu semua salah. Penampilan Iblis yang dikira memiliki kulit warna merah dengan tanduk di kepala dan ekor ujung lancip di bokongnya, tongkat di tangan dengan efek kobaran api disekitarnya, itu semua tidak benar.
Ruangan dengan nuansa kebarat – baratan, ditambah sofa mewah yang diletakkan di tengah – tengah ruangan, di ujung ruangan tersedia meja lengkap dengan kursi yang kini sedang diduduki oleh sesosok Iblis. Memiliki ciri – ciri berambut merah panjang, mata hijau cerah secerah rambutnya, pakaian sekolah Kuoh Academi melekat manis ditubuhnya. Dilihat dari penampilannya, tak sedikitpun tampak seperti Iblis. Malah yang terlihat sekarang adalah seorang gadis cantik bertubuh molek yang menjadi fantasi bejat setiap pria sekaligus salah satu dari Duo-Great Onesama Kuoh Akademi. Tentu, kecantikannya bukan kata – kata pujian belaka. Iblis betina tersebut sedang menghadap dua budaknya yang kini duduk di sofa. Dilihat dari gelagat mereka, sepertinya para Iblis tersebut akan membicarakan sesuatu.
Rias Gremory, nama Iblis betina yang duduk di kursi ujung ruangan. Menatap satu per satu budaknya. Tidak ada satupun dari mereka yang buka suara.
Budak Iblis pertama, duduk ditengah – tengah sofa panjang sebelah kiri, berambut putih, bertubuh loli, yang tentunya perempuan, sedang sibuk mengunyah biscuit kesukaannya. Toujou Koneko namanya. mengonsumsi Bidak Rook, Koneko mempunyai pukulan super yang dapat meruntuhkan bangunan dalam sekejap.
Budak Iblis kedua, duduk ditengah – tengah sofa panjang sebelah kanan bersebrangan dengan Koneko, berambut kuning, wajah tampan yang mampu memikat hati banyak gadis, sedang sibuk dengan kegiatannya mengelap pedang yang dirasanya kotor. Yuuto Kiba namanya. Mengonsumsi bidak Knight, Kiba memiliki kecepatan super yang mampu menghilang dalam sekejap jika dilihat dari pandangan manusia biasa dan Iblis kelas rendah.
Kedua Budak Iblis tersebut sibuk dengan kegiatan masing – masing sampai sebuah suara yang sangat mereka kenali terdengar mendekat. "Ara ara, apa aku terlalu lama?" Himejima Akeno, berambut hitam panjang yang diikat pony tail dengan bantuan pita orange. Mengonsumsi Bidak ratu, Akeno memiliki kemampuan sihir yang hebat. Salah satunya mengendalikan petir penghancur. Gadis setengah Da-tenshi sekaligus Miko tersebut terlihat muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi empat gelas teh.
"Kau lama sekali, Akeno." Rias buka suara menanggapi kedatangan ratunya. Pandangan iris hijaunya mengikuti setiap gerak – gerik yang dilakukan Akeno yang kini sedang menaruh gelas teh di depan dua budaknya termasuk didepannya.
"Gomen Bunchou, aku terlalu lama mencari gula." Akeno dengan ringannya menjawab, sebelah tangan diletakkan dipipi ditambah senyumannya yang dibuat – buat. Akeno sudah selesai dengan kegiatannya.
Rias sedikit menghela nafas. Menatap kembali satu persatu Budaknya. "Koneko-chan, bagaimana hasil pengawasanmu terhadap Hyoudou Issei?." Pandangan Rias terhenti pada gadis loli berambut putih. Menunggu tanggapan sosok yang ditanyakan.
Koneko menghentikan aksi mengunyah biscuit kesukaannya, begitu pandangan seluruh penghuni ruangan tertuju padanya. "Dia tidak berubah, masih dengan sifat mesumnya yang menjijikkan…" Tanggapan pedas bernada datar tersebut membuat penghuni lain ruangan sedikit tersenyum maklum. Tapi mereka masih memandang kearah objek yang sama, menunggu kelanjutan kalimat dari Koneko. "Hanya saja…"
"Hanya saja…?" seluruh penghuni ruangan memandang penasaran. Terutama Rias yang kini buka suara.
Koneko memandang penuh kearah Rias. "Kemarin, aku melihat ada seorang gadis yang menyatakan cinta padanya." Lanjutan Kalimat Koneko membuat suasana seluruh penghuni lain ruangan lagi – lagi berubah. Mereka sedikit mengangkat alis mata, merasa tertarik mendengarnya.
Kiba lalu sedikit tersenyum. Pedang yang tadi bersamanya sudah dia hilangkan. "Aku tidak menyangka, ada juga gadis yang mau dengannya. Mengingat kebiasaan Issei-kun."
"Ara ara, Kiba-kun. Apa kau marah saat mengetahui salah satu penggemarmu malah menyukainya?" Akeno dengan nada menggodanya membuka suara. Menanyakan reaksi dari sang ikemen terkenal Kuoh Akademi. Pandangan mata dan cara bicaranya yang sedikit menggoda iman, membuat Kiba lagi – lagi tersenyum maklum menanggapinya. Dirinya yang sudah terbiasa dikelilingi banyak wanita, tak sedikitpun merasa tergoda akan tingkah Akeno.
"Mana mungkin itu akan terjadi, Akeno-senpai. Issei-kun pantas mendapatkannya." Kiba berucap masih dengan senyumannya menanggapi godaan Akeno.
Koneko yang duduk bersebrangan dengan Kiba terlihat menyahut. "Dia berasal dari Sekolah lain, Akeno- senpai. Mana mungkin dia mengenali Kiba-senpai." Ucapnya menimpali, dengan sedikit melirik Akeno yang duduk disampingnya. Dibalas senyuman Akeno yang kini menutup mulut dengan satu tangan. "Hmm? Benarkah begitu?" Akeno bertanya diselingi senyuman jahil.
Sedangkan Rias terlihat sedang memijit pelipisnya. Tidak menanggapi apa yang tiga Budaknya bincangkan. "Lalu? Apa kau melihat ada kejanggalan dari gadis itu? Aku yakin gadis itu pasti punya suatu niat, bisa itu niat jahat maupun niat baik. Tapi melihat kelakuan Issei, aku memilih pilihan pertama." Ucapan Rias membuat tiga budak Iblis yang duduk disofa mengalihkan perhatian mereka ke arahnya. Terutama Koneko, yang merupakan sosok yang ditanyakan.
Seluruh pandangan penghuni ruangan kembali beralih kearah Koneko. "Ada satu lagi yang menganggu pikiranku, Bunchou." Koneko lagi – lagi menggantung kalimatnya, membuat tiga Iblis lainnya kembali penasaran.
"Hmm? Apa itu? Katakan."
"…Dia memiliki aura Da-tenshi." Lanjutan kalimat Koneko membuat seluruh penghuni lain ruangan terkejut mendengarnya. Tidak menyangka jika sosok malaikat terbuang sekaligus musuh utama mereka yang menyebabkan terjadinya Great-war mulai bergerak sampai kesana. Atmosfir ruangan kembali berubah. Rias mulai geram dengan mengebrak meja di depannya. Kepalanya semakin pening. Masalah dengan sosok baru yang muncul beberapa hari ini belum terselesaikan, sekarang malah muncul masalah baru lagi. Rias merasa kepalanya ingin pecah.
Lalu Rias kembali melirik Koneko. "Katakan, apa yang sudah dia lakukan terhadap Issei?" Rias bertanya cepat. Intonasi suaranya terlihat sedikit meninggi, merasa jika sekarang situasi sedang serius. Dia tidak sempat memprediksinya, jika para malaikat terbuang itu sampai ikut mengawasi gerak – gerik manusia incaran mereka. Jika dia tahu dari awal akan seperti ini, Rias pasti akan cepat mengambil tindakan.
Sementara Koneko yang ditanyakan membuat ekspresi memegang dagu mencoba mengingat – ngingat. "Hmm.. dari yang kulihat dia belum melakukan hal – hal mencurigakan." Lalu tak lama kemudian dia sedikit tersentak begitu satu ingatan yang hampir dilupakan kembali hinggap di otaknya. "Ah iya, Bunchou. Kudengar besok mereka akan melakukan kencan pertama mereka." Ucapnya melanjutkan.
Sementara Iblis lain yang berada disana sedikit menautkan alis mereka begitu mendengar informasi baru tersebut. Rias mendecih pelan. "Cih! Malaikat kotor itu ternyata sudah memulai rencananya." Rias berucap jengkel merasa didahului. Bukan dalam artian romantic, tapi dalam artian lain. Siapa cepat dia dapat. Sifat alami Iblisnya keluar disaat seperti ini. Anggapan jika Iblis memiliki sikap egois seperti manusia memang bukan kalimat bohongan belaka. "Terus awasi dia, jika ada hal – hal yang mencurigakan segera laporkan padaku." Rias berucap dingin memandang Koneko. Apa yang sudah dia incar harus dia dapatkan. Hyoudou Issei adalah asset yang sangat berharga, manusia dengan Secred Gear tipe longinus, Secred Gear langka yang berisi jiwa salah satu Naga langit Ddraig si Booster gear. Mana mau Rias menyia – nyiakan begitu saja, terlebih Rias punya satu alasan khusus mengapa dia mengumpulkan budak dengan kekuatan super.
Sedangkan Koneko sendiri yang mendapati perintah tersebut hanya mengangguk singkat mengiyakan. "Hai' Bunchou."
Akeno yang berdiam diri dari tadi berniat menimpali, merasa jika apa yang dikatakan Kingnya terlalu gegabah. "Tapi Bunchou, bukankah itu sama saja kita malah balik menantang mereka? Kita belum tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Bisa saja ini adalah perangkap yang mereka pasang untuk kita. Siapa tahu, mereka sudah mengetahui jika pihak Iblis mengincar Hyoudou Issei. Mereka ingin agar pihak Iblis seakan – akan adalah pihak yang memulai. " Ucapnya berusaha membuat alasan. Dia tidak mau, jika gara – gara memperebutkan Hyoudou Issei yang hanya seorang manusia. Mimpi buruk mereka puluhan tahun silam akan terulang kembali. Walaupun mereka yang ada di ruangan tersebut tidak ada yang pernah merasakan pahitnya Great-war. Tapi hanya dengan mendengar namanya saja, mereka sudah tahu efek akibat pertikaian tersebut.
Rias terlihat mangut – mangut menanggapinya. "Apa yang kau katakan ada benarnya juga, Akeno. Tapi kau tenang saja, aku sudah memikirkannya. Kita hanya sekedar mengawasinya saja, aku yakin mereka ingin membunuhnya. Mengingat manusia pengguna Secred gear merupakan ancaman bagi kaum mereka. Jika memang itu terjadi, kita hanya perlu menunggu lalu menghidupkan kembali Hyoudou Issei dan dia akan jadi milik kita. Aku memerintahkan Koneko agar mengawasinya jika ada hal yang mencurigakan. Misalnya mereka ingin mengekstrak Secred gearnya, maka kita dengan cepat akan mengambil tindakan. Kita punya banyak alasan untuk itu.." memang benar apa yang dikatakan Rias. Mengingat jika makhluk supernatural tidak memiliki hak untuk mengambil ataupun merebut paksa Secred gear manusia, kecuali manusia itu dengan sukarela memberi atau menjual jiwanya. Jika memang ras Da-tenshi ingin merebut paksa, maka anggota kelompok Rias punya segudang alasan untuk itu. Misalnya menuduh mereka sebagai ras yang memulai menyulut api Great-war. Tentu, Rias sebagai adik dari Maou Lucifer punya wewenang untuk itu. Ras Iblis dan Ras Malaikat tinggal bersatu untuk memusnahkan mereka…
Kiba memilih diam dari tadi, mendengar dan menyimak apa yang Senpai dan Kingnya bincangkan. Walaupun sikap dan penampilan diluarnya baik – baik saja, namun pikirannya berkata lain. Dia masih mengingat dengan jelas, kejadian gegabahnya dua hari yang lalu. Memang, Kiba terlalu cepat mengambil tindakan waktu itu tanpa menunggu perintah dari Kingnya. Walaupun dia Iblis reingkarnasi, tapi dia dengan jelas bisa merasakan pancaran energy asing dari sosok itu. Kiba merasa muak begitu sosok itu bersikap culun dan cupu dengan menundukkan kepalanya. membuat dia begitu yakin sosok itu sedang menyamar atau menyembunyikan sesuatu.. tapi yang Kiba tidak habis pikir, kenapa sosok itu tak sedikitpun menyembunyikan pancaran energinya. Entahlah,.. Kiba hanya merasa sosok itu seakan menantangnya bertarung. Makanya dia dengan cepat meladeninya..
"Ada apa, Kiba-senpai? Apa Senpai memikirkan sesuatu?" Karena terlalu larut dalam pikirannya, Kiba tidak menyadari seluruh penghuni ruangan sudah memandangnya. Koneko yang duduk bersebrangan dengannya yang dibatasi meja mencoba membuka suara bermaksud menanyakan perihal Kiba melamun.
Rias memandang bingung Knightnya. "Yuuto?" Ucapnya mencoba memanggil.
"Ara ara, fu fu fu… Apa tamparan Bunchou dua hari yang lalu masih terasa?" Akeno terkekeh kecil ketika mengatakannya. Dirinya sudah mengetahui pasal tamparan tersebut dari Sona yang berada di TKP. Dirinya juga tidak menyangka Kingnya akan melakukan hal tersebut. Tapi Akeno juga menyalahkan Kiba karena bertindak terlalu gegabah waktu itu. "Atau karena kekalahanmu?" lanjutnya begitu tidak ada tanggapan apapun dari Kiba.
Kiba tertawa hambar sambil mengaruk belakang kepalanya. "Ahahaha… Kau bisa saja Akeno-senpai." Ucapnya setelahnya. Kiba menghentikan tawanya lalu mulai memandang serius ke arah Kingnya. Dia merasa harus membicarakan sesuatu sekarang. Dirinya ingat, ada sesuatu yang ganjil dua hari yang lalu sekaligus penyebab dirinya kalah. "Bunchou, ada yang ingin kusampaikan…"
Kalimat lanjutan Kiba membuat mereka semua mengangkat alis penasaran. Rias mengangguk serius, memperbolehkan Kiba melanjutkan ucapannya. "…Ini tentang Uzumaki Naruto."
"Kenapa lagi dengannya?" Rias bertanya penasaran. Sudah dua hari berturut – turut dia menyuruh budaknya untuk membawa Naruto ke ruangan Klub. Tapi begitu budaknya sampai di kelas 2-A, hanya kekosongan yang didapat. Naruto sudah menghilang seakan menghindar dari mereka. Bukan hanya mereka saja, anggota Osis juga sama. Mereka semua begitu tertarik sekaligus waspada, bisa saja kan? Naruto dikirim oleh fraksi musuh untuk memata – matai mereka. Dia bisa dengan mudah mengalahkan Kiba yang kemampuan berpedangnya bukan usapan jempol belaka, bahkan dia bisa menghilang dengan cepat. Koneko pernah tidak sengaja melihatnya ketika sedang mengawasi. Rias begitu tertarik merekrut jadi budaknya. Sayangnya dia harus bersaing dengan Sona.
Mendapati pertanyaan tersebut, Kiba melanjutkan. "Entah Cuma perasaanku, atau memang kenyataan. Aku melihat suatu perubahan aneh ketika beradu boken disaat terakhir." Kiba menunda kalimatnya, ingin melihat Ekspresi semua disana. Satu yang Kiba dapat, mereka semua memandangnya penasaran. "Matanya, mata kanannya berubah merah." Lanjut Kiba, membuat semuanya menampilkan Ekspresi berbeda – beda.
"Berubah? Bagaimana bisa?" Rias yang menampilkan ekspresi tertarik walaupun tadi sempat sedikit terkejut melempar pertanyaan. Dibalas anggukan dua lainnya yang tadi juga sempat terkejut.
"Aku tidak tahu pasti bagaimana dia melakukannya. Tapi, matanya sungguh aneh. Dengan tiga titik berbentuk koma memutarinya. Aku tidak begitu ingat. Tapi entah kenapa saat memikirkannya, bulu kudukku serasa merinding." Kiba menjawab rasa bingung semuanya. Mencoba mengingat – ngingat kejadian tersebut. Kejadian dimana dia merasa dipecundangi, akibat sosok lawannya tidak membalas serangannya. Kiba merasa dia masih tertinggal jauh.
"Begitu ya? Hmmm.. aku tidak mengerti tujuannya bersekolah disini. Tapi dia sudah memasuki daerah kekuasaan Sitri dan Gremory. Aku sebagai penerus keluarga Gremory harus menangkapnya. Dia bisa jadi ancaman jika dibiarkan." Rias mengatakannya sambil memijit dagu. Lalu direksinya kembali kearah Kiba. "Lalu, apa lagi yang kau ketahui tentangnya?"
Kiba kembali mencoba mengingat – ngingat. "Kurasa tidak ada, Bunchou."
Akeno yang dari tadi diam mendengarkan kembali buka suara. "Apa yang akan kita lakukan, Bunchou?" ucapnya bertanya, memandang kearah posisi Rias duduk menunggu tanggapan sang King.
"Hmmm… Kit_"
"Gomen menyela, Bunchou. Ada kumpulan Iblis liar di pabrik tua bagian selatan Kuoh." Rias tak sempat melanjutkan kata – katanya begitu Koneko yang tadi diam seketika buka suara. Bukan Cuma itu, Rias dan lainnya langsung memasang wajah serius mereka begitu sang Rook telah mengkonfirmasi adanya musuh yang wajib mereka basmi. Koneko sang Youkai Nekotama bisa merasakan adanya energy Iblis liar menggunakan Senjutsunya.
"Kita lanjutkan lain waktu. Akeno! Siapkan lingkaran sihir." Rias bangun dari posisi duduknya lalu mulai melangkah ke pojok ruangan. Diikuti tiga Budaknya dengan sang Ratu yang sedang menyiapkan sihir teleportasi. Mereka semua terlihat berdiri di tengah lingkaran sihir warna merah tersebut.
"Semoga kita tidak terlambat." Kalimat terakhir Rias sebelum mereka semua ditelan lingkaran sihir berlambang Gremory.
:::: 69-69-69 ::::
Beberapa saat sebelumnya, di tempat yang berbeda.
"Hahh.. Kenyangnya..."
Uzumaki Naruto, Remaja berambut hitam spike. Menepuk – nepuk perutnya yang kini telihat sedikit membuncit. Dengan sesekali suara sendawa terdengar dari mulut, Naruto terlihat mulai melangkah keluar dari kedai yang di sampingnya berdiri pamplet bertuliskan 'Kedai Ramen Cepat Saji' tentunya dalam bahasa jepang.
"Arigatou untuk ramennya, Ji-san!"
"Kapan – kapan datang lagi ya, Naruto!" terdengar sahutan di dalam kedai begitu Naruto menyahut dari luar. Mendengar balasan dari sipemilik kedai, sepertinya Naruto sudah sering berkunjung ke tempat tersebut. Ditandai dengan sipemilik kedai yang sudah mengenali namanya. Ditambah sifat Naruto yang ramah, membuat dia bisa langsung cepat akrab dengan siapapun.
Setelah tadi sore jam pelajaran sekolah berakhir, Naruto memilih nongrong di kedai ramen terlebih dahulu ketika merasa jika perutnya minta diisi. Padahal dia selalu membawa bento ke Sekolah, tapi para Iblis penghuni sekolah tersebut tidak memberinya waktu untuk sedikit bersantai bahkan untuk makan. Naruto sudah mengerti sekarang, kenapa dirinya ketahuan dihari pertama. Berterima kasihlah pada Vali. Walaupun dengan tampang acuh tak acuhnya, Vali terbukti begitu pengertian. Vali dengan sabar mencoba menjelaskan jika setiap makhluk supernatural itu bisa merasakan energy yang terpancar dari makhluk supernatural lain. Naruto begitu bodoh dengan berfikir dia bisa menyusup tanpa menyembunyikan pancaran energynya kerena dia manusia. Sekarang dia terkena imbasnya.
Jarak dari Kuoh gakuen ke Apartemen memang cukup jauh, Naruto tahu itu. Bisa saja dia pulang menggunakan Shunshin atau membuat portal lubang hitam yang seminggu ini dia pelajari untuk teleportasinya. Hal itu terbukti ampuh ketika Naruto menghindar dari pasukan Iblis yang mencoba menangkapnya. Tapi Naruto berusaha menahannya, daripada pulang ke apartemen yang dihuni mahkluk tidak jelas. Naruto harus puasa ramen begitu sampai disana. Pasalnya, makhluk jadi – jadian berwujud setengah kucing setengah manusia melarangnya mengonsumsi makanan penuh kuah tersebut, kurang sehat katanya. Naruto mana tahan akan hal itu. Maka dari itu dirinya memilih pulang terlambat hanya untuk menghindar.
Dia ingin jalan – jalan sebentar menghirup udara segar tanpa adanya asap kendaraan. Memang, wilayah yang Naruto lewati sekarang tidak menunjukkan satupun mesin pengangkut tersebut. Malah makin lama Naruto melangkah, entah kenapa suasananya semakin terasa mencekam. Jika dilihat kesana kemari, hanya kekosongan yang didapat. Orang – orang yang seharusnya berlalu lalang melakukan tugasnya malah tidak terlihat bahkan satupun. Padahal banyak sekali komplek perumahan diseberang jalan. Naruto merasakan perasaannya tidak enak. Angin malam yang terasa sejuk menusuk kulit membuat Naruto merapatkan Blazer sekolah yang dia pakai.
"Entah hanya perasaanku saja. Atau memang udara semakin dingin." Naruto berucap dengan tampang heran. Dia lebih memilih menghentikan laju langkah kakinya dan memperhatikan suasana sekeliling. Beribu pikiran negative minggat di kepalanya. Naruto yang merupakan sosok paling anti dengan hal – hal berbau horror seketika memegangi bagian kuduknya yang serasa merinding.
Angin malam bertiup pelan membuat rambut hitamnya yang kini tidak lagi disisir rapi seperti di Chapter sebelumnya sedikit melambai liar mengikuti arah angin berhembus. Naruto seketika mengalihkan pandangan ke arah pabrik tua di seberang jalan begitu suara grasak – grusuk terdengar jelas. Naruto menelan ludahnya paksa begitu indra pendengarannya mendengar suara kekehan. Entah hanya perasaannya saja, Naruto merasa jika kekehan tersebut terdengar berat. Maka satu hal yang terlintas di pikirannya sekarang. 'Iblis liar?' batinnya. Selama beberapa minggu terakhir semenjak dia terdampar kemari, belum pernah sekalipun dia melihat langsung rupa Iblis liar tersebut. Maka dari itu, dikuasai rasa penasaran tingkat tinggi Naruto mencoba mendekat ke arah pintu masuk pabrik tua tersebut.
Hal pertama yang dilihat Naruto ketika memasuki pabrik tersebut adalah kosong. Suasana sekelilingnya yang terasa gelap membuatnya tidak bisa melihat lebih jauh kedalam ruangan. Naruto seketika menutup indra penciumannya begitu bau anyir tak sedap berhembus ke arahnya. Dia hampir saja keluar dari sana jika saja dia tidak mendengar adanya suara langkah kaki yang terasa semakin mendekat.
"Aku mencium bau manusia." Suara berat seketika terdengar dari belakang membuat Naruto langsung menoleh ke asal suara tadi. Cahaya bulan perlahan memasuki jendela pabrik, membuat ruangan di dalam pabrik itu sedikit demi sedikit mulai agak terang menampakkan isi di dalamnya.
Naruto agak terperanjat kebelakang begitu melihatnya langsung pertama kali. Tepat dihadapannya, sudah berdiri satu iblis liar berkepala banteng dengan kapak besar ditangannya. Mata merahnya menyala di kegelapan memandang liar ke arah Naruto. 'Inikah wujud Iblis liar itu' Naruto membatin.
Iblis liar itu sedikit menyeringai, membuat air liur menetes deras dari mulutnya. "Hahaha… jangan takut manusia. Kau akan memuaskan rasa lapar kami sebentar lagi." Seringai Iblis liar kepala banteng itu semakin lebar begitu mendapati raut terkejut Naruto. Iblis itu memandang kebelakang. "Apa yang kalian tunggu? Cepat kemari! Kita kedatangan tamu." Iblis itu berucap memanggil teman – temannya. Terlihat dari kegelapan yang tidak disinari cahaya bulan, keluar dua Iblis liar lainnya. Yang pertama dengan kepala singa, cakar tajam tumbuh ditangannya seperti walverin, mulutnya penuh dengan darah. Yang satu lagi berkepala kuda, memakai pedang berkarat, dia sibuk mengunyah sesuatu di mulutnya.
Naruto agak terkejut melihat apa yang sedang dikunyah iblis liar kepala kuda.'T_tangan?' batinnya. Dia mulai geram. Ternyata ini yang menyebabkan orang – orang disekitar komplek jarang keluar rumah. Dia memandang tajam Iblis kepala banteng. "Apa kalian pemakan manusia?" desisnya cepat. Tak mendapat tanggapan apapun, Naruto berniat melanjutkan. "Kutanya sekali lagi, Apa_"
"Kheh! Kau marah? Sayang sekali. Kau akan menjadi korban selanjutnya." Dengusan remeh Iblis liar kepala Singa membuat Naruto menoleh cepat ke arahnya. Iblis kepala kuda langsung membuang tangan kunyahannya begitu merasa mangsa baru ada di depan. "Hahaha… bersiaplah manusia." Para Iblis liar tersebut mulai mempersiapkan senjata mereka masing – masing.
Naruto sedikit menunduk mendengarnya. "Kalian membuatku muak." Desisnya datar. Tak lama kemudian, dia mulai mendonggakkan kembali kepalanya membuat para Iblis liar sedikit terperanjat melihat perubahan matanya yang bersinar di kegelapan. Naruto menyentuh pergelangan tangan kiri. Tak lama kemudian sebuah katana sudah tergenggam manis di tangannya. "Majulah jika ingin memakanku."
Iblis kepala banteng dengan cepat melesat kearah Naruto. Seringai lebar bertenger di wajahnya begitu melihat Naruto tak sedikitpun mencoba menghindar. Begitu sampai di depan Naruto, Iblis liar itu mengayunkan kapak yang dipegangnya dengan cepat. "Matilah!" Namun naas. Mangsa menghilang. Kapak besarnya hanya mengenai kardus kosong bekas pabrik yang tiba – tiba ada disana. 'Kemana dia' Iblis itu sibuk menoleh kesana kemari mencari keberadaan Naruto. Tepat dari atap pabrik, muncul dengan cepat kilatan petir yang langsung mengujaninya. "ARgghh…!"
Bummm
Asap hasil debu berterbangan mengepul lebat menghalangi pandangan dua Iblis liar lain yang dari tadi menonton. Mereka begitu penasaran akan nasip teman mereka setelah terkena kilatan petir tadi. Mata dua Iblis itu sedikit membola begitu asap menghilang.
Terlihat Naruto berdiri gagah dengan kaki kanan berada diatas Iblis liar yang terbaring di bawahnya. Mata merah dan mata ungunya bersinar terang di kegelapan memandang tajam sisa Iblis yang belum dia basmi. Tangan kanannya memegangi gagang katana yang kini menancap tepat ditengkuk leher Iblis liar berkepala banteng tersebut. Sedikit percikan listrik terlihat dari bilah besi pedangnya. "K_keparat kau!" Iblis liar yang terbaring itu berusaha mencaci Naruto, walaupun suaranya sedikit putus – putus. Hal itupun sukses membuat Naruto mengalihkan pandangan kearahnya.
"Hmm? Kau masih hidup ternyata." Naruto berucap pelan. Tak lama kemudian dari tangannya muncul petir biru yang langsung merambat dengan cepat kearah katananya mengingat besi merupakan perantara listrik yang baik.
Jrass
Kepala Iblis tersebut sukses terpisah dari badannya. Tak lama kemudian mulai melebur menjadi kumpulan percikan cahaya.
Sementara sisa Iblis liar yang dari tadi menonton memandang syok kearah Naruto. "Kau! Kau akan merasakan akibatnya!" Iblis liar berkepala singa berseru marah. Dia langsung melesat cepat ke arah Naruto yang kini memandangnya datar. Cakar tajam di tangannya dia lesatkan ke arah Naruto.
Wuss
Naruto mencoba menghindar kesana kemari. Menghindari amukan Iblis tersebut yang semakin gencar mencoba menebasnya. Terlihat jika Iblis singa tersebut begitu marah ketika rekannya mati. Naruto malah menampilkan seringai mengejek begitu tak satupun tebasan yang mengenainya. "Hanya segini saja? Kalian lemah!" ucapnya pedas. Membuat Iblis liar berkepala kuda yang tadi ada dibelakang juga ikutan geram. Terbukti dengan langkah kakinya yang langsung ikut melesat kearah Naruto. Namun terlambat,
"Jangan mengganggu! Musnahlah!"
Tepat ketika ucapan Naruto berakhir, Iblis berkepala kuda langsung dibuat terkejut begitu api hitam mulai muncul entah dari mana mencoba membakarnya. Iblis itu begitu panic dengan mencoba memadamkan api tersebut. "Argghhh…!" Iblis itu berteriak keras ketika badannya mulai tumbang dan perlawanannya mulai lemah. Tak lama kemudian tubuhnya mulai melebur menjadi percikan cahaya meninggalkan api hitam yang masih menyala disana. Api tersebut terlihat sedikit demi sedikit mengecil lalu menghilang begitu Naruto memandangnya.
Merasa sudah beres, Naruto memandang kembali Iblis berkepala Singa. "Sekarang hanya ada kita berdua." Ucapnya ringan dengan seringai lebar yang terlihat menakutkan.
Satu satunya Iblis yang ada disana memundurkan langkahnya takut. Keringat dingin menetes dari kepala singanya. Melihat bagaimana dua temannya mati, dia merasa yakin jika sosok manusia di depannya bukan makhluk sembarangan. Langkah kakinya mulai mundur semakin jauh begitu Naruto juga mulai mendekat. "J_jangan mendekat!" Iblis itu berteriak panic. Begitu penglihatannya menangkap seringai menakutkan dari Naruto. Katana ditangannya diseret – seret untuk menambah kesan horror. "K_kubilang jangan mendekat!" Iblis itu lagi – lagi berteriak begitu Naruto tak mempedulikan ucapannya. Malah dia semakin mendekat hingga tersisa jarak dua meter.
Naruto menghentikan langkahnya, dirinya sedikit mengangkat alis heran. "Hmmm? Bukankah tadi kau berniat memakanku?" Naruto bertanya dengan kepala yang sedikit dimiringkan, berpura – pura heran seakan mengejek sifat pengecut Iblis di depannya. Dirinya terkekeh kecil begitu indra penglihatannya seperti melihat tikus yang terpojok. "Sayangnya kau harus dimusnahkan." Intonasi suaranya kembali berubah datar. Memandang dingin makhluk pendosa pemakan manusia di depannya.
Iblis tersebut geram. Percuma saja dia meminta belas kasihan jika ternyata pada akhirnya dia akan musnah. Mungkin dengan membunuh manusia di depannya dia akan bebas. Maka, dikuasai pemikiran pendek tersebut. Sang Iblis liar kembali melesat mencoba menebas Naruto. "Keparat kau!" cakar ditangannya kembali dia ayunkan ke wajah Naruto. Sedikit lagi sampai mengenai wajah Naruto membuatnya menyeringai lebar merasa sudah menang.
Jrass
Kepala Naruto sukses terpisah dari badannya. Iblis itu terkejut begitu mangsanya sangat mudah dia bunuh. Tak lama kemudian wajahnya mulai terkekeh geli, dilanjut dengan kikikan lalu mulai, "Hahahaha… mati Kau! Hahaha…" dia tertawa lebar merayakan kemenangannya.
Lama Iblis itu tertawa sambil mengangkat cakarnya kelangit – langit pabrik. Sampai sebuah suara seketika menghentikan laju tawanya digantikan wajah terkejut. "Sudah puas tertawanya?" Naruto muncul dari balik kegelapan. Masih dengan mata merah dan ungunya yang menyala liar memandang datar sosok Iblis liar yang kini memandangnya Syok.
"K_kau bagaimana bisa?" Iblis itu lalu sedikit melihat kearah mayat yang dia bunuh tadi. Dia lagi – lagi terkejut begitu bohkahan kayu yang di dapat.
"Cukup main – mainnya." Naruto berucap tanpa menanggapi keterjutan lawannya. Dirinya merasa sudah terlalu lama menghabiskan waktu diluar. Dia ingin segera pulang dan merasakan hangatnya selimut. Kuroka pasti sudah menyiapkan makan malam, Naruto sudah tidak sabar. Padahal dia sudah makan ramen, entah kenapa melihat liur Iblis liar tadi membuat nafsu makannya muncul kembali. Entahlah, hanya Naruto yang tahu.
Dari tangannya muncul petir biru yang perlahan merambat kearah katana. "Akan kutunjukkan tebasan yang sebenarnya. " desisnya pelan. Naruto mulai memasang kuda – kuda andalannya. . Dengan kaki kiri kedepan dan sedikit ditekuk, kaki kanan kebelakang membuat badan mulai sedikit membungkuk, tangan kiri menyilang didepan wajah, beserta tangan kanan yang memegangi katana diposisikan di belakang punggung. Naruto mulai memandang tajam Iblis didepannya mencoba mengunci target.
Kusanagi no Tsurugi_Chidori gatana
Tepat setelah mengucapkan nama jurusnya dengan suara kecil. Naruto tiba – tiba menghilang, meninggalkan asap debu mengepul pertanda cepatnya dia bergerak.
Wusss
Naruto muncul dibelakang Iblis singa tersebut. Pedang ditangannya yang sudah dialiri Chakra petir yang menyambar langsung dia sabet ke arah punggung sang Iblis, membuat Iblis tersebut berteriak kesakitan. Naruto lalu menghilang kembali dan sekarang muncul di depan, diikuti tebasan kuatnya Naruto lagi – lagi menghilang. Naruto terus seperti itu diikuti tebasan sampai beberapa menit lamanya..
Wuss
Naruto muncul terakhir kali tepat di depan Iblis tersebut dan langsung menebas kedua tangannya. Merasa kegiatannya sudah selesai, dirinya menghilang kembali dan muncul tidak jauh dari posisi Iblis itu berada. Posisinya membelakangi Iblis tersebut. Terlihat dibelakang Naruto, Iblis yang masih berdiri mematung dengan anggota badan yang sudah tidak lengkap terutama tangan dan tubuhnya dipenuhi sayatan. Dari bagian tubuhnya sesekali muncul percikan listrik, perlahan tubuh itu ambruk dan mulai melebur menjadi partikel cahaya.
Naruto lalu menghunus katananya yang sudah tak dialiri petir kesamping membersihkan darah yang menempel, dilanjut dengan memegangi pedangnya dengan tangan kiri. Naruto membuat handsell tunggal yang memunculkan asap entah dari mana. Setelah asap menghilang, katana yang tadi Naruto pegang juga ikut – ikutan menghilang. Kedua bola matanya kembali normal.
Jurus tadi adalah jurus yang dia gunakan untuk melawan Kiba, tapi bedanya waktu itu Naruto tidak mengalirkan petirnya ke boken mengingat boken bukan penghantar listrik. Naruto mengalirkan petir keseluruh tubuh membuatnya bisa bergerak cepat seperti konsep jurus Raikage A, membuatnya bisa bergerak cepat diluar nalar manusia. Ditambah Sharingan dimatanya, lengkap sudah keefesien jurusnya dalam memusnahkan lawan.
Naruto lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk pabrik. Lama dia memandang ke sana lalu dirinya mulai menggeleng – gelengkan kepalanya entah karena apa. Naruto mulai melangkah menjauhi pintu, seperti dia akan pulang dengan cara lain.
"T_tunggu!" Suara seruan dari arah pintu membuat Naruto menghentikan langkah kakinya. "Jangan gegabah, Yuuto!" muncul suara lain lagi yang terasa lebih feminism. Naruto mulai menghela nafas mendengarnya.
Naruto lalu membalikkan badan menghadap asal suara. "Kalian keluar juga ternyata. Aku pikir kalian akan terus bersembunyi dan hanya menonton." Naruto berucap datar. Dirinya begitu mengenali sosok yang berbicara tadi. Siapa lagi kalau bukan kawanan Iblis yang kerap mengincarnya dua hari terakhir semenjak dia masuk Sekolah. Naruto tahu pasti, Iblis – iblis itu pasti ingin merekrutnya. "Kalau kalian ingin agar aku menjadi budak kalian. Heh! Maaf saja aku tidak tertarik."
Iblis berambut merah mendekat ke arah Iblis berambut kuning didepannya yang tadi bersuara pertama kali. Dia menatap penuh ke arah Naruto, dia sempat sedikit terkejut begitu mengetahui jika Naruto menyadari maksud ajakan mereka dua hari yang lalu. "Bagaimana kau tahu?" Rias bertanya curiga. Pasalnya dia merasa jika dia dan Sona belum sempat memberitahukan perihal tentang Iblis dan segala tetek bengeknya itu. Lalu? Bagaimana sosok didepannya tahu? Satu hal yang dipikirkan Rias. Sosok di depannya, bukan manusia sembarangan.
Naruto sedikit memengangi dagunya memasang posisi mengingat – ngingat. "Hmmm.. tentang pertanyaanmu itu. Anggap saja jika sudah ada kaum Iblis yang mengajukan hal yang sama, dan tentunya kutolak." Naruto menjawab enteng.
Rias sedikit terkejut, begitupun dengan tiga budaknya. Rias sempat mencurigai sahabatnya. Tapi dia langsung menggeleng – gelengkan kepalanya merasa jika itu tidak mungkin. Tapi, tidak ada salahnya kan memastikan. "Apa itu Sona?" Rias bertanya dengan hati – hati. Dirinya harap – harap cemas menunggu jawaban. Jika memang itu sahabatnya, Rias harus menanyakannya besok.
Terlihat Naruto sedikit menimbang – nimbang. "Emm.. kurasa bukan…" Rias sedikit menghela nafasnya. Tapi dia belum sepenuhnya lega begitu mengetahui kalimat Naruto belum selesai. "…Tapi dia juga mengajukan hal yang sama sepertimu. Tentunya dengan cara yang berbeda." Lanjut Naruto. Sepertinya Rias harus menarik kata – katanya. dirinya harus tetap menanyakan Sona.
"Lalu? Kau ini siapa? Apa maksudmu dengan berSekolah di Kuoh? Kau tahu? Kau itu sudah memasuki wilayah Iblis." Rias berucap dengan langkah yang mulai mendekati Naruto. Tepat ketika dirinya sampai di depan Naruto, Rias harus sedikit mendonggak menatap Naruto yang sedikit lebih tinggi darinya. "Apa kau tahu? Dengan menyebar auramu dua hari yang lalu. Kau seakan menantang kami para Iblis untuk melawanmu." Rias melanjutkan ucapannya. Menunggu tanggapan Naruto.
Naruto terdiam. Memang benar itu salahnya yang tidak berhati – hati menjaga pancaran energy. Dia merasa begitu bodoh mengingatnya. Tapi yang berlalu biarlah berlalu. Naruto mulai memasang wajah menantang memandang gadis Iblis yang sedikit lebih pendek darinya itu. "Aku tahu itu. Tapi apakah salah? Seorang manusia. Masih remaja. Menuntut ilmu dengan pergi ke Sekolah? Dan tentang pertanyaanmu yang pertama…" Naruto terlihat berfikir sejenak mencoba menggali ingatan – ingatan di kepalanya. "…Anggap saja kalau aku ini seorang Ninja." Lanjutnya.
""Ninja?"" Semua Iblis yang ada disana menyahut kompak. Sedikit terkejut akan fakta baru yang mereka dengar. "Bukankah populasi Ninja sudah punah? Kenapa kau masih bertahan?" Kiba yang sekarang berdiri bersama Akeno dan Koneko mengambil peran buka suara. Membuat Naruto berkerut jengkel mengingat begitu banyak pertanyaan yang terus terlontar kearahnya.
"Hey.. hey.. hey! Apa kalian ingin menginstrogasiku? Sayangnya aku bukan penjahat yang sedang ditangkap polisi." Naruto berucap lalu memandang Kiba. "Kau juga Pria cantik. Apa kau belum puas dengan dua hari yang lalu?" lanjutnya.
Kiba seketika mengingat kekalahan telaknya itu. Dirinya seketika geram lalu mulai memunculkan pedang ditangan kanannya. "Kalau begitu mari kita duel kembali. Aku tidak akan kalah lagi." Dia berucap cepat sambil menunjuk ujung pedangnya ke arah Naruto tapi tindakan tersebut langsung terhenti ketika pandangannya melihat Rias memberinya tatapan tajam.
Rias lalu menghadap kembali ke Naruto. Dirinya sedikit berdehem mengendalikan suasana. "Baiklah, aku percaya kau seorang ninja. Maka dari itu, kutanyakan sekali lagi apa kau mau menjadi Budakku." Rias lagi – lagi melontar tawaran tersebut. Tawaran yang dua hari yang lalu tidak pernah tersampaikan pada Naruto karena si empunya duluan menghilang. Sekarang dia akan menawarkan sekali lagi, mungkin sosok di depannya akan berubah pikiran. Lama mereka semua berdiri disana menunggu tanggapan Naruto, Rias bersumpah dirinya merasa jika kakinya sudah pegal karena kelamaan berdiri.
15 menit kemudian,
"H_hey! Kenapa kau diam saja?" Rias kembali buka suara, bertanya dengan tampang heran melihat tidak adanya tanggapan sosok di depannya. Mereka semua sudah lama berdiri disana menunggu si empu yang ditanyakan untuk sekali saja buka suara. Misalnya ya atau tidak.
"Ya atau tidak!" Rias sedikit berteriak jengkel.
Naruto masih memegang dagu mangut – mangut mencoba menimbang tawaran tersebut. Banyak pemikiran yang terlintas dikepalanya. Disatu sisi dirinya seakan menjawab iya mengingat percakapannya dengan Ophis, sedangkan disisi lain seakan menjawab tidak. Naruto bimbang dibuatnya. Banyak alasan bertengger manis untuk diiyakan. Tapi Naruto harus memikirkan baik – baik resikonya. Baiklah! Mungkin dia harus mencobanya. Entah dia mungkin akan menyesal nantinya. "Baiklah!" ucap Naruto akhirnya.
Semua Iblis yang ada disana tersenyum senang mendengarnya. Tapi senyuman mereka tidak bertahan lama begitu mendengar lanjutan kalimat Naruto. "…Aku akan menjadi Iblis sesuai permintaan kalian. Tapi aku punya satu syarat." Naruto lagi – lagi menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi para Iblis.
"Apa itu? Katakan!" Rias menyahut cepat. Dirinya merasa tidak terlalu sulit untuk mengabulkannya. Mengingat sosok didepannya adalah seorang manusia. mungkin semua manusia itu sama, pikirnya.
Mendapati pertanyaan tersebut. Naruto dengan wajah menantangnya mulai melanjutkan. "Kalian harus mengalahkanku. Jika aku menang, kalian harus berjanji untuk tidak mengajakku masuk anggota keluarga kalian lagi." Ucapnya sambil menyeringai.
"A_apa?" semuanya lagi – lagi terkejut. "Kau meremehkan kami!?" Kiba menyahut marah. Dirinya lagi – lagi merasa geram jika diremehkan. Sosok di depannya memang harus diberi pelajaran.
"Kalau kalian tidak mau ya sudah. Aku pergi dulu~"
"Tunggu!" Rias berseru cepat. Menghentikan langkah Naruto yang ingin pergi. Dia merasa inilah salah satu kesempatan mereka. Rias berjanji akan membungkam mulut sosok di depannya nanti. Lihat saja. Walaupun Hyoudou Issei belum dia rekrut, tapi dia yakin kekuatan budaknya sekarang lebih dari cukup untuk mengalahkan Naruto. "Aku terima tantanganmu" lanjutnya membuat Naruto menyeringai senang begitu mendengarnya.
Rias mulai mundur dan melangkah mendekati tiga budaknya. Entah apa yang sedang mereka bincangkan Naruto tidak tahu, tapi Naruto melihat ada perubahan penampilan dari mereka, terutama gadis berambut hitam pony tail sudah berganti pakaian menjadi busana gadis miko lalu mulai melayang terbang. Naruto sedikit mendonggak melihatnya. Gadis loli rambut putih yang tadi memasang wajah datar mulai memandang tajam kearahnya dengan sarung tangan kucing imut terpasang manis ditangannya. Naruto merasa familiar dengan itu. Terakhir ada sang pangeran kuoh yang dari tadi sudah mensummon pedangnya. Naruto terkekeh kecil begitu melihat tampang serius Kiba yang entah kenapa membuatnya mengingat kejadian di klub kendo.
Semuanya sudah siap, tapi Naruto masih berdiri santai. Dia tak berniat mensummon pedangnya. Biarkan pedangnya beristirahat setelah sebelumnya memangsa Iblis liar. Naruto begitu pengertian.
Untuk serangan pembuka, tidak ada salahnya kan kalau dia yang memulai,
Katon_Gokakyu no Jutsu
Bola api berukuran raksasa melesat cepat kearah kawanan Iblis begitu Naruto selesai menyebut nama jurusnya. Tidak ingin jadi Iblis bakar, para Iblis melompat menghindar kesamping kecuali Akeno yang kini di udara.
Baru saja disebutin namanya, Akeno mengangkat tangannya keatas lalu menghentakkan ke bawah membuat kumpulan percikan petir melaju cepat membelah asap api tadi ke arah Naruto. Sementara Naruto hanya diam, menatap dengan seringainya ke arah Akeno berada.
Bummm
Debu berterbangan begitu petir Akeno menyambar target. Asap tebal menghalangi pandangan semua Iblis yang ada di sana. 'Berhasilkah?' batin mereka kompak.
Sementara dibalik debu. "Apa kau gila nona kuil? Petir adalah salah satu kemampuanku. Kau seperti memberiku makanan gratis, kau tahu?" Ucap suara dibalik debu menyentakkan para Iblis. tepat setelah debu mengepul menghilang. Terlihat Naruto masih berdiri santai tanpa lecet sedikitpun sambil tangannya memegangi kumpulan petir yang menyambar liar. Sepertinya itu adalah petir Akeno tadi.
Kiba berdecih begitu musuh masih terlihat sehat. Dia melesat cepat seperti menghilang menuju ke arah Naruto berniat menebasnya. Sementara Naruto yang melihatnya hanya tenang – tenang saja. Dia sedikit melirik petir ditangannya, lalu tiba – tiba petir tersebut terlihat memanjang membentuk sebuah pedang.
Wuss
Kiba muncul di depannya berniat menebas lehernya, tapi Naruto cepat tanggap. Naruto menggunakan pedang petir tersebut untuk menahan ayunan pedang Kiba. Adu pedang terjadi disana, dengan Kiba yang sibuk menyerang dan Naruto yang hanya bertahan. "Kau masih terlalu lemah." Naruto berucap singkat ditambah seringai mengejek diwajahnya begitu tak satupun tebasan kiba yang mengenainya.
"Sialan!" Kiba tentu saja geram merasa diremehkan. Dia makin membabi buta menyerang Naruto. Tebasan vertical terakhir Kiba yang mengincar kepala Naruto terhenti begitu Naruto dengan mudah menahannya. Seringai Naruto semakin lebar mendapati wajah marah Kiba. Persis seperti sebelumnya di klub kendo. Kiba agak terkejut, begitu pedangnya sedikit demi sedikit mulai terpotong oleh pedang petir Naruto.
"Kiba-senpai!" Seruan dari belakang membuat Kiba sadar dari acara terkejutnya dengan langsung melompat kebelakang menjaga jarak, mempersilahkan mascot Kuoh Gakuen menunjukkan kebolehannya.
Koneko mengarahkan tinjunya ke wajah Naruto dengan kekuatan penuh.
Bummm
Asap lagi – lagi mengepul menghalangi pandangan. Semua Iblis yang ada disana harap – harap cemas menunggu hasilnya. Rias yang berdiri paling belakang mulai menyiapkan power of destruction. Terlihat sedikit kerutan ragu – ragu diwajahnya mengingat jika sampai Naruto terkena teknik pemusnahnya, maka bisa dipastikan jika Naruto akan lenyap.
Lama mereka menunggu asap mereda pertanda kuatnya hantaman Koneko. Akeno yang melayang di udara terkejut pertama kali, penglihatannya memandang lama sesuatu yang merah dibalik asap sampai tiba – tiba setelah asap sedikit mereda, Akeno terjun bebas jatuh dari ketinggian 10 meter. Kiba yang pertama kali sadar berusaha menangkapnya.
Semua pandangan Iblis kembali terkejut, begitu asap mulai hilang sepenuhnya. Koneko yang berdiri paling dekat dengan Naruto sudah dari tadi memasang wajah shok. Tinju kekuatan penuhnya yang dialiri energi senjutsu, bisa dipastikan mampu meruntuhkan menara Eiffel dalam sekejap. Sosok didepannya bisa menahannya dengan mudah tanpa terkena lecet sedikitpun maupun berkeringat. Energy warna ungu membentuk rusuk entah datang dari mana menahan tinjuannya. Koneko seketika merinding melihat perubahan mata beda warna sosok tersebut.
Sementara Naruto yang menjadi karakter penghasil rusuk tersebut hanya mendengus remeh. "Tinjumu tidak akan pernah mampu mengenaiku. Kau tahu? Setiap hari aku merasakan tinjuan yang lebih menyakitkan dari ini." Naruto berucap santai. Tentu saja dia ingat, gara – gara makan ramen kesukaannya, Kuroka malah meninjunya dengan kekuatan penuh. Malah di elemental Nation, Naruto juga merasakan tinjuan yang lebih menyakitkan lagi. Tentunya dia tidak ingat. Melihat tidak ada tanggapan apapun dari si loli, Naruto melanjutkan. "Kau lihat? Kau bahkan tak mampu untuk sedikit meretak pertahananku. Setidaknya jika ingin melawanku, kau harus memunculkan telinga imut itu dulu di rambutmu." Memang benar apa yang dikatakan Naruto, Susano'o yang masih membentuk rusuk tersebut tak sedikitpun retak.
Koneka berdiri mematung. Beribu pemikiran hinggap dikepalanya. Kenapa sosok di depannya mengetahui tentang dirinya? Tentang masa lalunya yang dia coba kubur dalam – dalam. Padahal hanya dia dan kakaknya saja yang masih tersisa dari ras nekotama, apa sosok didepannya mengenal kakaknya? Koneko berniat bertanya langsung jika saja tidak ada seruan dibelakangnya.
"Koneko-chan!"
Rias melempar energy pemusnahnya kearah Naruto berada, setelah tadi berseru menyuruh Rooknya untuk menjauh dari sana.
Bummm
Semua pandangan Iblis kembali mengulangi hal yang sama yaitu harap – harap cemas. Kecuali Akeno yang kini sudah terbaring pingsan ditanah. Mereka bertiga tidak mengerti kenapa Akeno bisa pingsan.
Lama mereka menunggu asap mereda. Setelah asap semuanya hilang, tinggallah kekosongan alias semuanya musnah. Kawah lebar tercetak pertanda kuatnya kekuatan bola penghancur tersebut. Rias memandang kesana kemari mencari keberadaan Naruto. Namun nihil, Naruto tak berada dimanapun. Maka satu pemikiran dari mereka semua,
"Apa dia mati?" Rias pertama kali buka suara mewakili kebingungan dua lainnya. Bukan wajah senang yang mereka perlihatkan, bukan pula wajah arogan merasa jika musuh sudah takluk dengan hanya satu jurusnya. Mereka semua memandang khawatir terutama Rias yang memiliki keinginan merekrutnya jadi keluarga.
Lama mereka semua memandang ke arah kawah tersebut hingga,
"Bunshou, bagaimana_" Kiba yang berdiri disamping Akeno pingsan tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya begitu matanya membola terkejut melihat ke arah sang King. Terlihat di pandangan Kiba, Rias sedang disekap oleh Naruto yang memeluknya dari belakang tak lupa di tangan kanannya sudah ada sebatang besi hitam yang ujungnya bisa saja menggores leher mulus Rias jika dia sedikit bergerak.
Naruto tersenyum lebar dengan Rinnegan dan Sharingan menyala liar dimatanya begitu mendapati raut terkejut dua budak Rias terutama Koneko yang berdiri tidak jauh dari Rias. Sedangkan Rias sudah berkeringat dingin begitu kulit lehernya terasa perih menerima tekanan tangan Naruto. Padahal awalnya dia ingin berteriak, tapi begitu merasakan rasa perih dileher serta bisikan diam dari Naruto membuat dia terpaksa menurutinya. Rias merasa kalah telak sekarang.
"Apa kalian semua menyerah?" Naruto bertanya santai sambil menaikkan alisnya menunggu jawaban dua Iblis tersebut. Naruto yakin, jika Rias yang dia ancam maka kemenangan akan ada ditangannya. Walaupun Rias adik sang Mauo sekalipun, Naruto mana peduli. Kekuatannya lebih dari cukup untuk membuat seorang Maou bertekuk lutut di kakinya. Kecuali jika keempat Maou bersatu, Naruto harus berfikir dua kali untuk menantangnya. Naruto sudah memikirkan, dirinya masih ingin jadi manusia. Mengenai misinya dari Ophis yang menyuruh masuk Fraksi Iblis, Naruto punya beberapa rencana untuk itu. Mengingat keadaan tiga Fraksi sekarang. Naruto sudah tidak sabar ingin menjalankannya, terbukti dengan seringai menyebalkannya yang semakin lebar.
.
.
.
.
.
:::: TBC ::::
Balasan Review :
=Fay : Saya tidak terlalu menanggapi anggapan anda yang menyatakan fic saya tidak menarik, pasaran, menjijikan, atau apapun itu. Satu hal yang ingin saya katakan, bukankah saya sudah menulis diatas dengan huruf tebal metallic. "bagi yang tidak suka tidak usah baca, silahkan tekan tombol Back di layar Smartphone anda… TERIMAKASIH." Adakan?
=Guest : Hmmm.. saya belum tahu pasti karena saya tidak tahu sampai mana kekuatan Ophis, Trihexa, maupun Great-red. Akan saya pikirkan. Terima kasih karena telah membaca dan mereview… :D
=Reinmaru Bernvoureth Darkberry : Jawabannya sudah ada di Chapter ini. Dan untuk Azazel, nanti anda akan tahu sendiri. Ikuti terus ya!... Terima kasih karena telah membaca dan meriview… :D
= .31 : Jawabannya sudah ada di Chapter ini… Terima kasih karena telah membaca dan meriview… :D
=Satria Baju Biru : Hahaha… anda terlalu banyak menebak Reader-san. Meskipun Naruto punya evil piece, mana mungkin Ophis bisa jadi ratunya. Ingat di Chapter sebelumnya, Ophis hanya berkeinginan untuk kembali ke kampung halamannya. Kalau dia jadi ratunya Naruto berarti dia sudah terikat. Terima kasih karena telah membaca dan meriview… :D
=Shinobi no kami : Itu memang sengaja saya buat seperti itu. Kurama tahu dia tak punya banyak waktu. Jadi yah! Penjelasannya kacau balau.. Terima kasih karena telah membaca dan meriview… :D
=Sang Pembunuh374 : Akan saya pikirkan.. ide anda memang keren :D. Terima kasih karena telah membaca dan meriview… :D
=Namikaze Yohan396 : Jawabannya udah ada di Chapter ini.. Terima kasih karena telah membaca dan meriview… :D
Terima kasih untuk semuanya yang sudah meluangkan waktu untuk membaca dan mereview.
Buat yang kepikiran Naruto mau berubah jadi Iblis reingkarnasi, Hahahaha…!. Sayang sekali, saya tidak punya keinginan untuk itu. Masak, Narutonya yang badas dan kuat dengan kekuatan tempur setara dengan maou, masuk keluarga Sona atau Rias? Yaelah… saya punya tujuan tersendiri untuk itu..
Alasan Naruto tidak jadi Iblis :
~Naruto itu dari Dimensi lain
~ingatannya hilang dan belum kembali untuk memutuskan apakah dia akan menetap di Dxd atau pulang ke Elemental nation.
~Naruto belum ingin terikat.
~Naruto belum tahu nasip kampung halamannya seperti apa. Makanya dia harus pikir panjang dulu sebelum mengambil tindakan.
~Naruto tak mau jadi Iblis selamanya. Dia takut sisi kemanusiannya akan hilang. Kalau Naruto jadi Iblis, apa bedanya sebutan bocah iblis dari Konohagakure yang dibenci warga desanya.
~Oke itu saja cukup. Kalau perlu Reader tambahkan sendiri….
Hargailah sedikit usaha Author yang susah payah menulis ribuan Words, dengan minimal 1 Words dari Reader sekalian. Review anda para Reader merupakan bahan semangat buat Author untuk melanjutkan karyanya…
Sampai jumpa di Chapter depan,
Sh1r0yasha
Log out,
REVIEW HERE!
VVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVV
VVVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVV
VVV
VV
V
