.

.

The Rocker that Holds Me

[Sasuke Uchiha x Sakura Haruno] Kakashi Hatake x Naruto Uzumaki x Gaara Sabaku

.

Naruto Masashi Kishimoto-senpai

re-write The Rockers that Hold Me by Terri Anne Browning

.

Warning! : This story does not belong to me, I just change the

characters in it and a few paragraphs to support the

definition of a character in it

.

.

Happy Reading and Enjoy!

.

Tidur siang sangat menyenangkan. Tidur malam adalah surga. Aku tidur lebih banyak dalam dua hari terakhir ini daripada minggu-minggu sebelumnya. Aku tertidur di kursi panjangku setelah makan siang kemarin. Kemudian pagi ini aku tidur hingga siang setelah pergi tidur jam 8 malam tadi malam. Dan sekarang sudah hampir jam 3 sore dan mataku sudah terasa berat lagi.

Menguap, aku melempar bukuku ke handuk pantai di samping kursiku dan meregangkan lenganku hingga ke atas kepalaku. Ketika aku melakukan itu, bahan kain dari atasan bikiniku mengencang dan aku menyadari sesuatu yang tidak aku sadari sebelumnya.

Payudaraku besar. Tampaknya kurang lebih naik satu ukuran lebih besar dari ukuran normalku. Kabar ini menggembirakan hatiku dan aku nyengir saat aku menutup mata. Hal kehamilan ini ternyata tidak begitu buruk juga...

Tetesan air dingin menyentuh kulitku dan aku menjerit ketika aku tersentak dari kursiku, kaget terbangun dari tidur indahku. Sambil melotot pada Sasuke, aku mendorong kacamataku dari wajahku ke rambutku. "Brengsek kau!"

Dia tertawa kecil dengan suara khasnya yang dalam dan seksi lalu menjatuhkan diri di samping kursiku.

Celana renang basahnya menekan paha hangatku yang telanjang dan aku memukul perutnya.

"Kau membeku, Sasuke. Apakah airnya begitu dingin?"

"Tidak. Terasa pas untukku." Dia menarik kacamata dari kepalaku dan memakainya di matanya. "Ini bagus." Dia memindahkan lengannya hingga kepalaku berbantalkan bahunya daripada gulungan handuk pantai yang sebelumnya kupakai. Dadanya sungguh dingin untukku tapi aku meringkuk mendekatinya hingga kepalaku dapat bersandar di dadanya. "Ayo kita membeli sebuah rumah di pinggir pantai. Bukan yang seperti itu, tapi sesuatu yang menyerupainya. Yang lebih besar."

Kubiarkan lengan hangatku memeluk pinggangnya, merasa nyaman di dalam pelukannya. "Sungguh?"

Dia mengangguk. "Aku suka pantai. Dan kau kelihatannya bahagia disini. Kita tidak bisa tinggal selamanya di bus tur dan kamar hotel, Saku. Terutama sekarang." Jemarinya mengelus lenganku naik turun. "Apakah kau ingin tinggal di Florida atau di California?"

"Aku tak perduli." Dan memang aku tidak perduli. Sepanjang aku bersama orang-orang yang kucintai, aku yakin aku bisa tinggal walau itu di kotak kardus.

"Aku akan menelpon Genma nanti dan menyuruhnya mencari seorang makelar. Aku ingin kita mendapatkan rumah sebelum musim panas ini berakhir. Dan aku ingin mengatakan padanya bahwa tur untuk musim gugur ini dibatalkan. Kita tak bisa banyak bepergian dengan usia 7 bulan kehamilanmu."

Kepalaku mendongak. "Tunggu. APA?! Kau tidak bisa membatalkan tur."

"Tentu aku bisa. Kau tidak bisa ikut tur dengan kami selama hamil, Saku. Dan aku tidak ingin meninggalkanmu seperti itu di rumah. Genma akan bisa mengatasinya." Dia membuatnya terdengar seperti masuk akal, tapi itu hanya makin membuatku merasa bersalah. Dia membatalkan sesuatu yang besar, hanya untukku. Aku tak bisa membiarkannya berkorban sebesar itu.

"Sasuke..."

Dia mendorong kacamataku ke rambutnya. "Jangan berdebat denganku, Sakura. Tidak ada satupun yang kau katakan akan mengubah pikiranku. Ada hal yang lebih penting dibanding dengan tur bodoh sialan itu."

Aku rasa aku jatuh cinta sekali lagi padanya saat ini. Aku tak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahku saat aku kembali bersandar di otot dadanya yang keras. "Terserah apa katamu, Sasuke."

"Itu benar, sayang."

Kami berdua tertawa dan kemudian kurasakan bibirnya di rambutku. "Mari kita tidur siang. Aku kelelahan."

"Ide yang bagus." Aku bergeser sehingga kakiku terjalin dengan kakinya.

"Kemudian kita bisa pergi makan malam." Jemarinya tertaut di rambutku sambil dia memijat kulit kepalaku. "Hanya kau dan aku."

Kepalaku mendongak lagi. "Seperti... kencan?"

Ada sebuah senyuman di bibir 'cium aku' nya yang sempurna. "Sama seperti sebuah kencan, baby girl."

Bagaimana bisa aku tidak punya baju untuk di pakai? Aku punya celana jins, dan baju, dan pakaian dalam. Tapi aku tidak punya apa-apa yang dianggap seksi, atau pantas untuk dipakai berkencan. Celana jinsku mahal tapi sudah usang, dengan robekan yang tak seharusnya ada disana, dan berjumbai karena sering di cuci.

Semua bajuku adalah baju kaus T-shirt dan sembilan dari sepuluh dari baju-baju itu memilki logo Demon's Wings. Bra dan celana pendekku adalah katun dan merupakan hal yang paling tidak seksi yang pernah aku lihat.

Dengan tersedu-sedu aku jatuh ke tempat tidur dan memandang ke kamar berantakanku. Semua pakaianku yang terlempar dari tasku berserakan di sekitar kamar. Bahkan ada bra yang tergantung di kepala ranjang. Aku tidak bisa pergi di kencan pertamaku dengan Sasuke.

Sial, kencan pertamaku satu-satunya dengan jins dan T-shirt.

Ada ketukan tajam di pintu kamarku yang tertutup sebelum itu terbuka dan Nik menjulurkan kepalanya ke dalam. "Hai sayang, kau siap..?" suaranya mengecil dan matanya melebar ketika melihat kekacauan yang telah aku lakukan pada kamarku di lima belas menit terakhir. "Saku?"

Isakan lain lolos dari mulutku. "Aku tidak punya apa-apa untuk dipakai."

Alisnya menaik dengan cara yang begitu manis yang sangat aku sukai dan dia melangkah masuk sepenuhnya ke dalam kamar. "Kamarmu memberi kesan dengan berbeda, baby. Ada apa?"

"Semua yang aku miliki adalah jins bodoh dan semua bajuku memiliki logo Demon's Wings. Aku tak memiliki satupun gaun yang mengagumkan. Bahkan satu rok pun aku tak punya. Semua celana dalamku terbuat dari katun dan braku terlihat membosankan." Aku mengambil gulingku dan memeluknya di dadaku.

Dia memiringkan kepalanya kesamping. "Dan kau menginginkan kan sebuah gaun dan rok, dan pakaian dalam yang tidak membosankan? Meskipun aku katakan padamu kenyataan bahwa bra yang tergantung pada tonggak tempat tidurmu itu sangat sangat seksi?"

Aku melemparkan sebuah tatapan tajam padanya. "Aku ingin sesuatu yang bisa aku pakai di kencan kita sehingga kau akan menginginkan untuk melepaskannya dari tubuhku dengan gigimu. Aku ingin jadi seksi!"

Cuping hidungnya mengembang dan dia berbalik menjauh. Sebelum aku bahkan sempat berpikir apa yang sedang dia lakukan, dia mengunci pintu di belakangnya dan tiba-tiba di depanku. "Berdiri, Saku."

Ketika aku tidak bergerak dia mengambil tanganku dan menarikku agar berdiri. Jari-jari lembut mengangkat daguku, memaksaku untuk bertemu dengan pandangan intens biru dinginnya. "Pernahkah aku berbohong padamu, baby girl?"

Menggigit bibirku, aku menggeleng. Sasuke selalu mengatakan kebenaran padaku. Mungkin dia menyembunyikan beberapa hal dariku, tapi dia tidak pernah berbohong padaku. Tidak pernah.

"Jadi dengarkan aku, karena aku tidak mau mengulanginya lagi. Oke?"

Aku mengangguk, tertawan oleh caranya menatap kebawah padaku dari tinggi badannya yang 6 kaki 3 inchi. "Kau adalah wanita paling seksi yang pernah aku temui. Kau tak butuh lebih dari sepasang jins robek, baju compang camping, dan pakaian dalam yang kasar dan aku ingin menelanjangimu dengan gigiku. Sial, kau membuatku keras hanya dengan berada di satu ruangan yang sama. Jika aku mencium parfummu, atau apapun yang kau pakai itu membuat aromamu menakjubkan, aku tak bisa berjalan dengan benar."

Aku lupa cara bernapas. Semua kekuatan otak ku hanya terfokus pada bibirnya saat mereka membentuk kata-kata gila bermakna dalam penuh kasih sayang. "Jika kau menginginkan semua itu maka kita akan mendapatkannya. Malam ini, besok. Kapanpun kau mau. Namun, jangan membelinya kecuali jika kau menginginkannya, karena aku lebih menginginkanmu sekarang berdiri disana dalam kaus kebesaran dan jins pendek itu daripada dalam gaun atau lingerie."

"Be-benarkah?" Suaraku keluar berupa desahan.

"Sungguh." Jarinya menyusuri pinggang celana jinsku, membuat isi kepalaku berenang dalam hasrat. "Jadi apa yang kau inginkan, Saku? Mau aku bawa berbelanja?"

"Ya." Karena aku masih merasa tidak seksi meskipun dia berkata begitu. Lidahku menjilati bibir keringku. "Tapi... besok."

"Besok?" Suaranya merendah, menjadi desahan seduktif yang aku ingat dari malam kami bersama. "Jadi kencan kita batal?"

Aku menggelengkan kepalaku "Tidak, aku hanya ingin melewati makan malam dan langsung ke ciuman selamat malam," Dan saat ini aku ingin berbahagia pada fakta bahwa dia benar-benar tahu bahwa akulah yang dia cium. "Dan mungkin melihat seberapa hebat kau menelanjangiku dengan gigimu."

Dia menyeringai dengan ganas, menyebabkanku menggigil nikmat. "Aku pikir aku bisa bersedia melayanimu Nona."

Baiklah, aku akan jadi orang pertama yang mengatakan bercinta dengan Sasuke bukanlah sebuah ide bagus. Tapi sial, jika itu bukan ide terbaik yang pernah aku miliki. Pria itu memiliki talenta, aku tahu ini di malam pertama kami bersama. Pria bisa menggunakan lidahnya dalam banyak cara yang membuatku memohon untuk dikasihani.

Malam pertama kami bersama tidak ada apa-apanya dengan tadi malam. Mungkin karena aku tidak harus merasa bersalah karena memanfaatkannya. Atau harus menyembunyikan bagaimana semua perasaanku tentangnya. Mungkin karena saat ini dia sadar dan meneriakkan namaku ketika dia datang, daripada "baby". Atau mungkin karena setelah itu, sebagai ganti tertidur dia malah berbalik padaku sehingga punggungku berada di dadanya dan memelukku sampai tertidur di lengannya.

Apapun alasannya ini adalah keajaiban dan aku bangun pagi berikutnya dengan perasaan seperti aku bisa mengapung. Dia masih menempel di punggungku, dengan satu tangan meraup payudaraku dan tangan satunya lagi berbaring dengan cara melindungi dimana anak kami bertumbuh di perutku. Ini adalah cara sempurna untuk bangun dan aku menginginkan itu setiap pagi selama sisa hidupku.

Bibir hangat membelai leherku. "Pagi baby," Dia bernapas di telingaku. "Bagaimana tidurmu?"

"Jika aku katakan ini adalah malam terbaik yang pernah aku rasakan akankah kau percaya padaku?"

Aku merasakan senyumannya pada bahuku. "Ya, karena ini juga satu dari malam terbaik yang pernah kurasakan juga."

Aku benar-benar tidak senang dengan jawabannya. Berbalik dalam lengannya aku memegang dagunya dan bertemu dengan mata berbinar miliknya, "Satu dari yang terbaik?"

Dia mengangguk. "Yup."

Mata hijauku menyipit. "Apa yang lainnya?"

Dia menyeringai. "Coba aku pikir dulu... seminggu yang lalu ketika kau merayap disampingku dalam bus. Ketika kau tidak bisa tidur tahun lalu dan menghabiskan malam di kamarku di hotel mengobrol denganku sampai aku tertidur..." Dia mengangkat bahu. "Semua itu kelihatannya melibatkanmu tidur di lenganku."

Oke, jadi aku dengan jelas lebih bahagia dengan jawaban itu. Tidak banyak wanita yang bisa, terutama ketika seorang seseksi seperti Sasuke Uchiha mengatakan semua itu padanya "Aku tidak tahu kenapa aku mempertahankanmu kadang-kadang Tuan."

Dia mengerjapkan bulu mata tebal itu padaku dan aku terpaku sejenak oleh keindahan mendalamnya ketika menggantung di mata biru kelamnya.

Tuhan, aku akan membunuh untuk bulu mata seperti itu. Berwarna lebih gelap dari pada rambutnya, bulu matanya menakjubkan. Ini tidak adil bahwa matanya sangat menawan.

"Ayo mandi, baby. Aku lapar."

Karena saran agar bangun dan makan darinya, perutku berbunyi. Sasuke menyeringai padaku.

"Bagaimana dengan beberapa bacon?"

Aku tertawa. "Aku akan membenci bacon setelah semua ini berakhir."

"Mungkin," dia menciumku, cepat, kuat namun tidak terlalu kuat. "Sekarang angkat pantatmu yang seksi itu sehingga kita bisa makan. Aku butuh makanan, wanita. Makanan."

Aku tidak mempunyai teman wanita. Aku dibesarkan oleh empat rocker. Hal ini sedikit tidak mengherankan jika aku tidak tertarik untuk berbelanja. Kemarin malam untuk pertama kalinya aku ingin memiliki gaun. Bayi ini begitu membuatku kehilangan pikiranku. Semua yang aku inginkan adalah untuk merasa cantik, seksi. Tetapi aku tidak ingin menghilangkan jati diriku. Aku tidak ingin gaun desainer. Aku mungkin akan muntah jika aku menghabiskan lebih dari seratus dollar untuk pakaian. Jadi aku berakhir di mall.

Di sebuah mall pada hari Rabu di kota turis? Yeah, ini adalah ide yang bagus. Tidak. Apakah kamu punya ide berapa banyak gadis remaja berada di sebuah mal pada hari Rabu di musim panas? Aku yakin kau tidak mengetahuinya, dan aku juga yakin bahwa Sasuke juga tak mengetahuinya. Jadi ketika kami masuk ke American Eagle dan gadis pelayan toko berdiri dengan kemeja yang belum selesai di lipat berada ditangannya menjerit aku hampir melompat keluar dari kulitku karena aku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi.

"Oh Tuhanku. Oh Tuhanku. Oh Tuhanku" Gadis itu berada di depan Sasuke bahkan sebelum aku mengetahui darimana teriakan itu berasal.

"Kau.. Sasuke Uchiha?" Dia berteriak lagi, menyebabkan semua orang yang berada di dalam dan di luar toko berhenti dan melihat apa yang sedang terjadi. "Aku ini penggemar beratmu. Aku Ino."

Aku tahu saat itu juga bahwa aku tidak akan berbelanja apapun hari itu. Sepertinya begitu Ino menyebutkan nama Sasuke dengan lantang, seketika itu pula Sasuke dikelilingi oleh gadis-gadis yang terengah-engah.

Salah satu dari mereka benar-benar mendorongku keluar dari jalannya sehingga dia bisa lebih dekat pada Sasuke. Berpasang tangan berada di seluruh tubuhnya, ingin memiliki kenangan menyentuh rocker yang mungkin menatap dalam mimpi basah mereka.

Aku harus menyembunyikan perasaanku untuk Sasuke selama setahun dari sekarang. Walaupun itu membunuhku dari dalam aku tidak akan membiarkan melihat berapa banyak gadis jalang yang menyentuhnya -atau lebih buruk, yang tidur dengan Sasuke menggangguku. Tapi hari ini aku tidak bisa bersembunyi di balik dinding-dinding yang aku bangun untuk saat seperti ini. Aku hamil dengan bayinya, Si Sialan Sasuke menghabiskan berjam-jam membuatku datang ke dalam pelukannya semalam sebelumnya.

Jadi sementara dia tersenyum dan tertawa dan membiarkan mereka menyentuhnya aku berbalik dan pergi. Kecemburuan memakanku seperti penyakit dan aku begitu marah pada Sasuke karena membiarkan mereka menyentuhnya, bahwa dia membiarkan mereka mendorongku keluar seperti aku tidak berarti.

Bagian otakku yang lebih rasional mencoba untuk memahami hal itu. Berusaha untuk membuatku melihat bahwa dia hanya memainkan bagiannya, bermain berlebihan pada penggemarnya. Tetapi sebagian besar penggemar yang datang lebih banyak penggemar perempuan Demon's Wing aku sanksi jika mereka bahkan mendengarkan musik mereka. Atau apakah itu hanya tentang tidur bersama seorang rocker seksi? Dari apa yang telah aku saksikan selama bertahun-tahun alasan yang terakhir lebih mendekati garis kebenaran daripada alasan yang pertama.

Teleponku mulai memainkan Ashes oleh Demon's Wing dan aku mendelik turun pada benda yang berada dalam genggamanku untuk melihat wajah Sasuke tersenyum ke arahku di layar iPhone. Alih-alih menjawab, aku naik ke eskalator dan pergi ke lantai dua. Aku tidak dapat menghadapinya sekarang. Tak ada yang tahu apa yang akan aku lakukan jika aku melihatnya saat ini.

Menampar wajah tampannya? Menendang tepat di bolanya? Mengakui bahwa aku obsesif jatuh cinta padanya? Aku tidak akan melakukan itu. Sudah cukup buruk bahwa ia tahu betapa aku menginginkannya, sejauh aku akan membungkuk hanya untuk masuk ke dalam celananya.

"Saku?"

Aku tidak melihat ke belakang ketika aku mendengar dia panik dan memanggil namaku dari lantai bawah. Biarkan dia khawatir. Beri waktu lima menit dan dia akan dikelilingi oleh gadis-gadis lagi dan aku hanya akan menjadi yang kedua. Persetan dengan itu, dan setubuhi saja dia.

Sebuah toko menarik perhatianku dan aku pergi tanpa berfikir tentang hal tersebut. Sekarang, ini adalah toko yang aku inginkan.

Renda kulit hitam, rantai, sutra dan berlubang. Oh, fvck yeah! Ada seorang gadis yang murung di belakang meja yang cemberut padaku ketika aku masuk ke dalam. Dia mempunyai semacam majalah rock di meja yang berada di depannya dan setelah menentukan bahwa aku tidak layak untuk waktunya, dia kembali ke artikel di depannya.

Aku tersesat dalam membeli pakaian. Celana dalam seksi berwarna hitam, bra yang cocok. Potongan tinggi dan garter. Gaun hitam berteriak bahwa itu dibuat untukku. Sebuah rok dengan rantai di kedua sisinya. Atasan yang memamerkan aset baruku. Sepatu, sepatu, dan sepatu lagi yang cocok dengan semua pakaian gelapku yang seksi.

Aku memastikan untuk mendapatkan semuanya dalam ukuran yang lebih besar jadi aku akan mempunyai sedikit ruang untuk tumbuh karena kehamilanku akan segera terlihat. Dan saat aku mencoba sepatu aku menyadari bahwa satu nomor lebih besar dan lebar-lah yang aku butuhkan, tapi itu tidak mengejutkanku. Aku telah membaca tentang kaki beberapa wanita tumbuh seperti itu ketika mereka hamil. Itu aneh tapi nyata.

Gadis di belakang meja menatapku selama aku melemparkan barang-barangku di atas meja. "Apakah kau menemukan barang yang kau cari?" tanyanya.

Aku melihat rambutnya hitam, tindikan di hidung dan alisnya, tato demon di lengan kanannya dan aku merasa menemukan semacam semangat. Seandainya aku mengenal gadis ini ketika aku tumbuh dewasa, dia akan memiliki kemungkinan besar berakhir sebagai sahabatku. "Semua yang aku miliki adalah celana jins dan kemeja Demon's Wings bodoh itu. Sudah waktunya untuk perubahan."

Mata gadis itu menyempit padaku. "Kemeja Demon's Wing tidak bodoh. Aku memiliki enam dari mereka."

"Maka kau memiliki selera yang sangat bagus dalam musik. Tapi aku butuh sesuatu yang menjeritkan kata seksi, bukan gadis rocker di pintu sebelah."

Dia mulai mengambil pakaianku dan aku berpaling untuk melihat rak perhiasan di belakangku. Ada benda-benda kecil, beberapa dari mereka paling mahal hanya dua puluh dollar. Tetapi mereka sangat indah. Iblis seksi dengan sayap dan tanduk perak bernoda menggantung dari mencuri perhatianku dan aku melemparkan itu ke atas meja dengan barangku yang lainnnya.

Bagian samping dengan cincin pusar yang berikutnya dan aku menemukan beberapa yang aku suka. Beberapa anting hidung dan aku selesai.

Ada delapan kantong penuh saat gadis itu telah selesai memindai barang-barangku ke dalam komputer. Aku menyerahkan kartu kredit dan melihat mata gadis melotot saat dia melihat nama di kartu kredit.

"Sasuke Uchiha?" Dia tergagap dan melihatku lebih dekat. "Itu kau. Aku berpikir kau terlihat familiar. Kau adalah Sakura Haruno?"

Aku tersenyum pada gadis itu. "Ya."

"Kau adalah gadis terkeren di dunia." Dia menggesek kartunya sebelum mengembalikannya. "Aku suka poster Demon's Wings dengan kau menempel pada Kakashi Hatake. Sialan aku akan membunuh untuk menjadi dirimu."

Itu membuat senyumku menghilang. "Tidak. Kamu tidak akan." Aku meyakinkannya. Hidupku mungkin terlihat sempurna sekarang, tetapi tidak ada seorangpun yang berharap untuk hidup seperti ku saat tumbuh dewasa. Tidak ada yang layak mimpi buruk semacam itu memenuhi masa kanak-kanak mereka.

Ada keributan di luar toko dan aku berbalik untuk menemukan tiga penjaga berdiri di luar dengan wajah Sasuke pucat dan panik. Aku melirik teleponku dan melihat bahwa aku telah di toko selama lebih dari satu jam. Sial!

"Sasuke.." Aku memanggilnya saat dia melewati toko.

Kepalanya tersentak dan dia bergerak lebih cepat daripada yang pernah kulihat saat dia memasuki toko dan menarikku ke dalam pelukannya. Seluruh tubuhnya gemetar, jari-jarinya gemetar ketika mereka menyusup ke dalam rambutku dan menyentak kepalaku ke belakang untuk bertemu dengan mata biru kelamnya. "Jangan pernah melakukan itu padaku lagi."

Sebagian besar amarahku pudar saat aku berbelanja, jadi aku berdiri dan memberinya kecupan di pipi. "Aku pikir kau sedang bersenang-senang dengan klub penggemarmu jadi kau tidak akan merindukanku."

Matanya menyipit. "Apakah kau cemburu?"

Aku menjauh darinya dan berpaling pada gadis di belakang meja yang sedang menatap Sasuke dengan heran. Itu tidak mengangguku kali ini, aku tahu gadis itu adalah penggemar sejati dari band, tidak hanya karena wajah tampan para personelnya. Aku melihat name tagnya dan memberikan senyum menghargai. "Terima kasih untuk semua bantuanmu Anko. Sasuke, Anko telah sangat membantu hari ini. Aku menghabiskan tiga ribu tanpa menyadarinya."

Sasuke mengangkat alis tetapi gadis itu mempersembahkan seringai.

"Terima kasih, Anko."

Aku menarik keluar salah satu dari atasan yang baru saja aku beli, yang abu-abu, dan meraih spidol di atas meja samping komputer. Aku menuliskan namaku di belakang dan kemudian menyerahkan spidol ke Sasuke tanpa melihatnya.

"Tuliskan alamatmu untukku dan aku akan mengirimkanmu poster yang paling kamu suka dengan tanda tanda tangan semua personel di atasnya."

"Itu..." Dia menggelengkan kepalanya. "Itu sangat luar biasa. Terima kasih"

Aku mengangkat bahu menonton coretan tangannya di selembar kertas kecil. "Tidak apa-apa. Aku suka bertemu dengan penggemar sejati Demon's Wing. Terima kasih sekali lagi."

Sasuke mengangkat delapan tas dan mengikutiku keluar toko dengan mengedipkan mata pada gadis itu.

Aku tidur sendirian malam itu. Panggil aku kekanak-kanakan dan tidak dewasa, aku tidak peduli. Aku menyebutnya perlindungan. Setelah peristiwa di mall dan pertempuranku dengan kecemburuan aku tidak bisa menangani menghabiskan satu malam lagi di lengan Sasuke tanpa mengabaikan perasaanku. Jadi aku mengunci pintuku ketika aku pergi ke tempat tidur malam itu dan tidak bergerak ketika aku mendengar ketukan Sasuke.

"Saku, jangan lakukan ini." Dia memanggil, tapi aku baru saja menempati tempat tidurku.

Pagi ini aku sudah mandi dan berpakaian, tapi aku belum siap untuk turun dan bersikap baik kepada semua orang. Jadi aku duduk di tempat tidurku dengan rambutku masih basah dan laptopku terbuka. Ada beberapa email yang aku harus ditangani dari Genma. Dia tidak senang para priaku tidak akan mengikuti tur pada bulan September dan aku tidak terkejut. Aku tidak tahu seberapa banyak Sasuke berbicara kepada manajernya, tapi aku sadar bahwa bajingan itu menyalahkan aku.

Setelah menangani bisnis pada akhir email-emailku aku menyambar ponselku, mengambil gambarku dengan memberikannya jari tengah dan mengirim pesannya ke Genma Shiranui. Ya, aku benar-benar peduli soal apa yang dia pikir tentang aku. Terserahlah.

Aku sedang berselancar di dunia maya mencari ulasan ahli kandungan / kebidanan lokal ketika aku mendapat pesan balasan.

-Kehamilan telah benar-benar TIDAK menenangkan kejalanganmu, Princess-

Alih-alih menelepon untuk berteriak padanya karena memanggil aku 'Princess', aku hanya mengirim kembali gambarku memberinya jari tengah dan melemparkan teleponku ke samping.

Satu jam kemudian aku keluar dari kamarku dan turun ke bawah. Kakashi sedang menonton film zombie menjijikkan pada layar datar di ruang tamu dan aku berharap aku punya waktu untuk duduk dan menonton bersamanya.

"Mau ke mana?" Dia bertanya ketika aku mengambil kunci mobil SUV.

"Aku mendapatkan sebuah janji dengan dokter kandungan yang bagus." Aku berkata melewati atas bahuku. "Mereka mendapatkan pembatalan janji kunjungan siang ini dan mampu menyisipkan untuk masuk. Aku harus segera pergi atau aku akan terlambat."

Dia mengikuti aku keluar pintu. "Dimana Sasuke? Tidakkah kau pikir dia harus pergi denganmu?"

Aku mengangkat bahu. "Dia tidak ada di kamarnya dan aku tidak punya waktu untuk khawatir tentang hal itu." Aku naik ke kursi pengemudi dan mulai mengetuk alamat kompleks medis ke dalam GPS.

Kakashi melompat di sampingku. "Seseorang harus pergi denganmu." Dia memberiku tatapan tajam, yang mengatakan kepadaku untuk tidak berdebat. Bukan berarti aku akan melakukannya. Aku sangat senang untuk memiliki teman dan dukungan dari seseorang yang mencintaiku.

Dengan tersenyum aku mundur dari jalan masuk dan berbalik menuju Panama City.

.

Stafnya ramah dan profesional. Aku harus mengisi formulir yang tak terhitung jumlahnya ketika aku tiba. Asuransi, keluarga dan riwayat kesehatan pribadi. Ada sebuah halaman seluruhnya tentang periode haidku. Kapan periode pertamaku? Berapa hari lamanya periode terakhirku? Seberapa sering siklusku? Di bagian belakang ada lebih banyak pertanyaan pribadi. Berapa banyak pasangan seksual yang Anda miliki? Apakah Anda pernah/sedang menderita STD (Sexual Transmitted Disease = PMS, Penyakit Menular Seksual)?

Kakashi duduk dengan sabar di sampingku sementara aku mengisi semuanya dan masuk denganku ketika perawat memanggil namaku.

Aku tidak melupakan bahwa Sasuke seharusnya bersamaku hari ini. Dan aku merasakan kebutuhan untuk kehadiran saat kunjungan ini melelahkanku. Aku mencoba menelponnya dua kali sementara kami menunggu dokter untuk datang, tapi ia tidak menjawab. Aku menyimpulkan dia membalasku karena tidak membiarkan dia masuk ke kamarku tadi malam.

Ketika Dr. Tsunade melangkah ke ruangan aku terkejut betapa cantiknya dia. Pada akhir usia tiga puluhan, dia memiliki kecantikan yang awet. Aku pikir dia akan menjadi secantik ini ketika dia berusia delapan puluh. Dia memberiku senyum yang menyenangkan dan menjabat tanganku. "Halo Sakura. Senang bertemu Anda," Dia menawarkan tangannya untuk Kakashi. "Apakah kau Ayah si baby?"

"Tidak, Bu. Hanya teman."

Dr. Tsunade mengangkat satu alisnya, tapi tidak berkomentar saat ia duduk dan meletakkan iPad di atas meja kecil di samping kursinya. "Nah.. Sakura, ceritakan sedikit tentang kehamilan Anda."

"Aku sembilan belas minggu dan bayi ini perempuan." Aku tidak yakin apa yang dokter inginkan, tapi itu semua yang aku benar-benar tahu tentang kehamilanku.

"Dan kau baru-baru ini mengetahuinya?"

Aku mengangguk.

"Oke. Nah, biarkan aku memberitahu Anda tentang beberapa hal yang perlu kita lakukan. Kita harus melakukan beberapa cek darah dan aku perlu melakukan Pap smear. Ini semua adalah tes rutin untuk memastikan bahwa Anda dan bayi Anda sehat. Karena Anda sudah begitu jauh dalam kehamilan Anda, aku ingin melakukan USG lain untuk mendapatkan beberapa pengukuran dan untuk mengkonfirmasi tanggal kelahirannya."

"Oke."

"Bagus." Dia menarik sebuah perangkat kecil dari saku mantelnya. "Pertama aku ingin mendengarkan detak jantung bayi apakah baik-baik saja?"

Aku duduk dengan nyaman dan dokter menarik baju kausku ke atas. Sedikit gel kecil di ujung perangkat dan dia mendorong itu pada perut bawahku. Dia menggerakkan alat itu beberapa kali dan kemudian ruangan itu dipenuhi dengan suara yang tidak salah lagi adalah detak jantung bayiku.

"Itu menakjubkan." Kakashi berbisik dari kursinya di seberang dinding.

Aku memberinya senyuman. "Aku tahu."

"Sial! Saku, Ini kenyataan, ya? Kau benar-benar memiliki seorang bayi." Dia mengusap tangannya di atas kepala peraknya yang mencuat.

Dokter tertawa pelan. "Tidak diragukan lagi ada bayi di sana. Kedengarannya bagus. Sebuah detak jantung yang kuat." Dia menjauhkan perangkat itu dan menggunakan kertas tisu untuk menyeka gel dari kulitku. "Sekarang untuk bagian yang tidak menyenangkan, Sakura." Dia menarik keluar sebuah gaun dan selimut kertas dari lemari di bawah meja di mana iPad-nya berada. "Semuanya dilepas. Aku akan melangkah keluar saat Anda melepas baju. Gaun ini terbuka di depan."

Aku menunggu sampai dia pergi sebelum meraih bajuku. Kakashi berdiri dan berbalik sampai aku memakai baju dan selimut kertas menutupiku. Aku tidak malu untuk kehadiran Kakashi disini. Kami merasa nyaman dengan tubuh kami dan sifat alamiah hubungan kami sehingga ia telah melihat aku telanjang lebih dari beberapa kali.

Ketika aku mengalami menstruasi pertamaku Kakashi lah yang membelikanku pembalut dan kemudian menunjukkan bagaimana cara memakainya. Itu mungkin terdengar tidak pantas, tapi tak ada orang lain untuk membantuku. Ibuku telah pingsan setelah malam dengan minuman keras, ganja, dan laki-laki. Sementara aku telah takut apa yang terjadi dengan tubuhku.

Semenit kemudian dokter kembali dan aku punya pengalaman pertamaku dengan penyiksaan yang disebut Pap smear. "Ini hanya untuk memeriksa kanker serviks (leher rahim) dan PMS," Dr. Tsunade menjelaskan saat dia melakukan sesuatu yang membuat aku merintih. Pada detik berikutnya itu telah selesai. "Terlihat bagus, Sakura. Leher rahim Anda bagus dan tertutup." Dia melepas sarung tangan dan melemparkannya ke tempat sampah sebelum mencuci tangan.

"Perawatku akan datang dan mengambil darah. Jangan panik karena dia akan mengambil beberapa vial," Dia melirik Kakashi. "Pastikan dia makan dengan segera." Dia mengangguk. "Aku ingin melakukan USG tapi teknisiku sakit hari ini. Bisakah Anda datang kembali besok pagi?"

Aku senang untuk penundaan USG. Aku ingin Sasuke denganku untuk melakukannya. Dia adalah sang ayah, orang yang aku cintai. Dia harus denganku untuk melihat sesuatu yang ajaib itu. Kenangan pertamaku saat USG telah membuatku jatuh cinta dengan makhluk yang aku tidak tahu ada. Aku yakin bahwa pengalaman itu akan meninggalkan kesan baginya.

Setelah kami meninggalkan ruangan itu aku merasa sedikit pusing karena pengambilan darah dan Kakashi membantuku menuju ke SUV.

Aku lebih dari senang untuk menyerahkan kunci sehingga ia bisa mengemudi. Sebuah pemberhentian singkat di McDonalds karena aku ingin Big Mac dengan bacon dan kami dalam perjalanan kembali ke rumah pantai.

Aku senang akan pulang ke rumah. Aku tidak sabar untuk berbicara dengan Sasuke tentang pergi ke dokter denganku esok hari. Rasa antusias melihat anak kami ketika bergerak dalam diriku akan menjadi sesuatu yang akan menjadi salah satu momen terbesar dalam hidupnya. Aku yakin akan hal itu.

Begitu Kakashi memasukkan SUV ke dalam parkiran aku melompat keluar dari kendaraan dan praktis melesat ke dalam.

"Sasuke?" Aku meneriakkan namanya, tapi tidak ada orang di rumah.

Pergerakan dari pantai menarik perhatianku dan aku berbalik untuk melihat Sasuke, Naruto, dan Gaara keluar di pantai dengan sekelompok gadis-gadis berbikini.

Kegembiraanku menguap. Saat aku mendekati pintu Prancis yang mengarah luar ke pantai hatiku retak terbuka. Sasuke memiliki dua dari lima gadis melilit dirinya. Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya pada sesuatu yang Gaara katakan. Buah dada yang ukurannya tiga kali lebih besar dari punyaku mengusap dada Sasuke karena terguncang oleh tawa.

"Apakah kita mengadakan pesta?" Tanya Kakashi di belakangku.

Aku menelan sebuah ganjalan di tenggorokanku. "Sepertinya demikian. Tapi aku tidak berpikir kita diundang." Merasa jijik aku berbalik dan menuju tangga. "Jadi, kau akan pergi denganku besok pagi?"

"Kupikir kau ingin Sasuke untuk pergi denganmu."

"Aku tidak ingin apapun dari Sasuke." Aku meyakinkannya saat aku menaiki tangga.

Hormon kehamilan adalah hal yang menakutkan. Mereka meninggalkanmu pada tumpukan tisu bekas ingus dan bantal lembab. Mereka membuatmu berpikir tentang hal-hal yang kau secara normal tak akan pernah kau pikirkan sebelumnnya. Seperti berlari menjauh dari satu-satunya kehidupan yang pernah kau ketahui, dari orang-orang yang selalu menjaga dan mencintaimu. Mereka membuatmu marah pada dunia.

Aku mengunci diriku sendiri di kamar dan menyalakan komputer. Kami hanya berada di liburan bodoh ini kurang dari seminggu dan aku sudah berharap ini segera berakhir. Aku ingin Sasuke dan yang lainnya menghilang. Aku ingin mereka pergi. Aku ingin...

Aku tidak tahu apa yang aku inginkan, oke. Semenjak aku berumur lima tahun para priaku sudah ada di dalam hidupku. Ketika aku pergi untuk hidup dengan mereka saat berumur lima belas tahun aku tahu bahwa akhirnya aku pulang ke rumahku sebenarnya. Mereka pelabuhan amanku. Aku selalu berpikir bahwa selama aku memiliki empat pria itu denganku, aku tak akan pernah khawatir tentang apapun lagi. Namun sekarang aku merenungkan untuk meninggalkan mereka. Itu adalah pikiran paling menakutkan yang pernah masuk kedalam otakku.

Aku menghabiskan tiga jam mencari apa yang sebenarnya aku inginkan lalu berhenti untuk mengecek rekeningku untuk melihat apa yang aku miliki. Aku punya tiga juta dolar di tabunganku dan sedikit lebih dari sejuta dolar di rekeningku. Ya, Genma membayarku dengan baik.

Sebut aku pengecut. Aku tak peduli. Tapi aku tidak akan bertahan dan diperlakukan lebih dari apa yang aku saksikan ketika aku pulang dari dokter. Aku tidak cukup stabil secara emosional untuk menyembunyikan perasaanku ke lelaki bodoh itu dan aku tidak jadi bodoh jika aku membiarkannya memilki jenis kekuatan itu atas emosiku segera setelah ia menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya.

Mengepak barang-barangku adalah sesuatu yang telah aku kuasai. Hanya kurang dari satu jam untuk memasukkan semua yang aku butuhkan ke dalam koperku. Setelah mandi aku duduk di ujung tempat tidur dan menunggu sampai rumah menjadi sepi.

Disana ada musik mengalun di pantai tapi aku tidak meninggalkan kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dari suara cekikikan wanita dan suara tawa serak pria tak sulit menarik kesimpulan bahwa mereka mengalami waktu yang menyenangkan.

Sekitar jam dua musik berhenti. Sesaat kemudian pintu terbanting menutup dan akhirnya aku keluar untuk memeriksa semuanya.

Rumah gelap. Semua orang di tempat tidur, atau telah pergi semenjak mereka memutuskan bahwa wanita-wanita itu tak akan tinggal di rumah. Aku menolak untuk memeriksa kamar Sasuke untuk menemukan dia masuk dalam kategori apa. Jika aku tak menemukannya di tempat tidur maka aku yakin aku tak akan bertahan.

Kembali ke kamar, aku menelpon sebuah taksi kemudian mendorong koperku ke lantai sepelan mungkin. Pengemudi taksi baru saja sampai di halaman ketika aku melihat lampu menyala di lantai atas.

Jantungku berhenti saat aku menyadari itu adalah kamar Sasuke. Gorden tersibak dan aku melihat wajahnya muncul di jendela. Aku berbalik dan mulai melemparkan barang-barangku ke bagian belakang taksi sebelum si pengemudi keluar. Hanya tinggal tas besarku yang tertinggal. Aku dalam keadaan kalut utuk pergi. Pengemudi baru saja mengangkat itu bersamaan dengan pintu depan terbuka dan Sasuke datang berlari. "Saku.."

"Tolong cepat." Aku memohon pada lelaki tua kecil itu.

"Berhenti!" Sasuke berteriak. "Apa yang akan kau lakukan?"

Aku meraih pintu belakang taksi tapi dia bisa menjangkau ku sebelum aku bisa membukanya. Jari-jarinya mengunci lenganku dan menyentakku untuk berhadapan dengannya. "Kau akan kemana?"

"Jauh." Aku meludahkan kata itu padanya.

Sinar lampu jalan cukup memancarkan cahaya sehingga aku mampu melihat wajahnya pucat karena marah. "Apa-apaan kau Kau tidak akan pergi. Kau tidak bisa pergi." Suaranya pecah dan pegangan tangannya di lenganku mengencang menyebabkan aku meringis kesakitan, tapi dia tidak melepaskanku. "Masuk kembali ke rumah."

"Kenapa?" Tuntutku. "Kenapa aku harus bertahan disini? Agar kau bisa menyiksaku dengan semua pelacur itu? Dengan begitu kau bisa menyombongkan padaku sesuatu yang tak pernah akan aku punyai?" Tawa kering lolos dari mulutku. "Terima kasih, tapi tidak. Aku lelah dengan semuanya. Lelah melihat perempuan yang berbeda masuk dan keluar dari tempat tidurmu. Lelah memimpikan sesuatu yang aku tahu tidak akan pernah bisa aku miliki."

"Apa yang kau bicarakan?" Dia menuntut. "Tak ada seorangpun di tempat tidurku selama berbulan-bulan. Demi Tuhan, Sakura. Apa kau buta? Tak bisakah kau melihat bagaimana perasaanku pada mu?"

Pertanyaannya membingungkanku. Aku tidak menahan kerutan muncul di keningku. "Perasaan apa?"

Dia menutup matanya dan menggelengkan kepala. "Kumohon, Saku. Kembalilah masuk ke rumah dan mari bicara. Jangan pergi, sayang. Kumohon jangan pergi."

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Otakku berteriak padaku untuk masuk ke dalam taksi dan pergi. Ini bukan kehidupan yang ingin aku berikan pada anakku. Bagaimana mungkin aku membawa seorang anak ke dalam kehidupan kami yang tidak ada apa-apa selain pesta dan wanita untuk para priaku? Namun hatiku bertengkar dengan otakku, menyuruhku diam dan pergi dengan Sasuke.

Melihat kebimbangan di wajahku, Sasuke menatap supir taksi dan menyuruh pria itu membongkar barang-barangku. Dia memberi banyak uang tip pada supir itu lalu memegang tanganku sampai taksi itu keluar dari halaman dan menghilang ke dalam malam sebelum meraih koperku.

"Ayo, baby." Dia mendorongku pelan.

Dengan diam aku mengikutinya ke dalam rumah pantai. Dia menjatuhkan tas-tasku di ruang masuk dekat pintu kemudian menggenggam tanganku. Sasuke menarikku ke lantai atas dan masuk ke kamarnya dimana ia mengunci pintu dan mendorongku duduk di ujung tempat tidurnya. Masih menggenggam tanganku dia membungkuk di depanku, memaksaku untuk melihatnya.

"Kemana kau akan pergi, Saku?" dia berbisik dengan suara serak.

Aku mengangkat bahu. "Di suatu tempat disana tidak ada fans fanatik dan pelacur di semua tempat aku berjalan."

Sasuke meringis. "Apa mereka benar-benar mengganggu untukmu? Sekarang, setelah sekian tahun kau hidup bersama kami?"

Aku membelalak padanya. "Apa yang kau pikirkan? Haruskah aku ingin memiliki bayi ini dan menempatkannya pada pelacur-pelaur itu di kehidupan sehari-hari? Haruskah aku membiarkannya melihat seperti apa kau sebenarnya? Rocker angkuh yang harus memiliki semua penggemar yang memujanya bergelayut di lengannya ketika aku, ibunya harus melihat dari samping?"

Kepalanya tersentak seolah aku secara fisik menamparnya. "Itu yang kau rasakan? Seolah kau menonton dari samping?" Dia melepaskan tanganku dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Tidakkah kau tahu bahwa aku ingin kau disampingku Saku? Kau dan hanya kau."

Dengusanku suaranya tidak indah. "Itu sungguh sulit untuk membayangkannya, Sasuke. Dengan apa yang terjadi kemarin dan semua pelacur itu memdorongku menjauh darimu begitu cepat. Dan hari ini dengan dua pelacur yang menempel padamu seperti mereka sangat kepanasan."

"Jadi kau cemburu," Dia menyeringai dan aku ingin memukulnya. Atau bahkan mungkin menendangnya di tempat yang akan sangat dia rasakan. Aku berdebat antara dua hal itu ketika dia tertawa benar-benar gembira dan aku memutuskan bahwa tamparan terasa lebih baik. Tamparan itu menghilangkan senyuman di wajahnya. Dia menatapku terkejut sepenuhnya, jari-jarinya menyentuh jejak merah di wajahnya.

"Aku sangat senang bahwa kau menganggap menyombongkan semua pelacur itu padaku lucu. Siapa yang peduli jika sekeping demi sekeping hatiku mati setiap aku melihat itu, benarkan?"

"Oh sweetheart." Dia menggelengkan kepala. "Kau harus benar-benar membuka mata hijau indahmu itu." Dia mengambil tanganku yang memerah berdenyut karena menamparnya dan mencium bagian pusat yang sakit. "Satu-satunya alasan semua gadis itu di pelukanku adalah agar aku bisa menemukan kebenaran. Kemarin aku hanya menduga, tapi hari ini aku memastikannya."

"Apa yang kau bicarakan?"

Sebuah senyuman miring menghiasi di bibirnya. "Aku harus tahu untuk meyakinkan. Bahwa perasaanmu sama dalamnya seperti yang kurasa padamu. Saku, kau membuatku gila dengan kecemburuan. Tahukah kau bahwa aku hampir membunuh sahabat terbaikku beberapa kali sejak enam bulan yang lalu?"

Mataku melebar terkejut. "Kakashi? Kenapa kau melakukan itu?"

"Untuk alasan yang sama kenapa aku menggila ketika kau mengatakan padaku kau hamil. Aku tidak ingin siapapun bisa menyentuhmu selain aku. Kau milikku, Saku. Butuh waktu selamanya bagiku untuk mengakui itu pada diriku sendiri, tetapi ketika aku bisa mengakuinya, aku tak bisa menerima ide bahwa Kakashi atau Sasori atau orang lain memegang tanganmu apalagi menyentuhmu." Dia menggelengkan kepalanya. "Malam saat Saso membawamu ke rumah sakit? Dia sudah menelponku sepuluh kali sebelum aku mengangkatnya. Aku harus melihatmu membiarkannya menciummu. Sial! aku tak bisa memandang lurus aku sangat cemburu. Kemudian aku menyanyikan lagu itu dan berharap kau melompat ke pelukan ku ketika aku berjalan turun ke bawah panggung...

"Namun kau menghilang. Aku menggila akan kemarahan. Kabur dan menolak untuk menjawab telponku ketika pertama kali Sasori menelpon. Aku tak tahu apa yang telah terjadi padamu. Jadi ketika akhirnya aku mendengar satu pesan yang dia tinggalkan, aku..."

Dia tiba-tiba berhenti, menelan ludah dengan susah. "Kau sangat sakit dan disana aku berakting seperti anak kecil pemarah karena kau tidak jatuh kepelukanku seperti yang selalu aku mimpikan."

Mengingat lagunya membuat hatiku perih. Aku telah mencoba untuk melupakan bahwa Sasuke telah jatuh cinta. "Aku tidak tahan terlalu lama untuk mendengar lagumu. Aku mulai menjauh ketika aku menyadari bahwa kau... jatuh cinta." kata terakhir keluar sebagai sebuah bisikan dan aku menggit bibirku agar tak bergetar.

Sasuke maju ke depan sambil berlutut sampai aku merasakan napasnya di leherku. "Sweet, sweet Sakura." Dia bergumam. "Masih saja buta. Bagaimana bisa aku membuka matamu, baby girl? Kau butuh aku untuk mengucapkannya? Apakah aku telah menjadi seorang bodoh untuk tidak menyadari bahwa kau tidak bisa melihat apa yang telah kau lakukan padaku?" bibirnya menyentuh bagian sensitif di bawah telingaku, menyebabkanku menggigil.

"Ya, aku jatuh cinta. There is this Sakura in my heart that has hold of me and won't let go. (Ada Sakura di hatiku yang menggenggamku dan tidak akan terlepas)"

Dia menyanyikan bagian akhir lagu itu dan air mataku tumpah. Aku menolak untuk melihat itu sementara aku mencoba dengan putus asa untuk menyembunyikan perasaanku pada Sasuke, dia sedang mencoba untuk memperlihatkan perasaannya sendiri padaku. Semua hal tak pernah sama antara aku dan dia seperti antara aku dengan Kakashi, Naruto, atau Gaara.

Selalu ada benang tak terlihat yang menghubungkan kami, yang terikat ke dalam hatiku di tempat yang berbeda dari dimana yang lainnya berada. Aku mengetahui itu ketika aku ikut hidup dengan mereka saat aku berumur lima belas. Aku tahu itu dan aku menolak untuk melihatnya karena ketika kau tak punya apa-apa kau akan berjuang untuk apa saja yang kau punya dan terlalu takut untuk kehilangan itu.

Itulah kenapa malamku dengan Sasuke sungguh mudah diterima dan tersimpan di hatiku. Itulah kenapa begitu mudah untuk mencintai janin yang sedang tumbuh di tubuhku ini. Sasuke dan aku ditakdirkan untuk bersama.

"Aku mencintaimu, Saku. Dengan seluruh jiwaku aku mencintaimu. Kau adalah mimpi terindahku yang menjadi nyata dan aku tak akan pernah membiarkan kau pergi." Bibirnya membelai mataku, menghisap air mataku. "Aku membutuhkanmu untuk bernapas. Kau menjaga duniaku tetap melayang ketika semuanya menjadi gila."

"Aku sudah mencintaimu sejak lama Sasuke," Aku berbisik. "Kau adalah pengeran kegelapanku yang berbaju baja ketika aku kecil. Sekarang kau jadi alasanku untuk bangun setiap pagi. Beberapa tahun terakhir, melihatmu masuk dalam lingkaran hubungan satu malam, secara perlahan membunuhku. Aku dengan segera membenci semua wanita yang memandangmu."

"Oh baby, aku sungguh minta maaf. Aku tak tahu," Dia menangkup wajahku. "Mereka tak berarti untukku, Saku. Aku bersumpah. Mereka hanya sesuatu yang mengalihkanku dari melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan. Ketika kau datang untuk hidup bersama kami, aku telah menginginkanmu. Aku pikir aku berubah menjadi seorang pedofil yang gila dan aku benci diriku sendiri."

Sasuke mengeluarkan sebuah desahan frustasi, dan aku mengerti alasannya benci pada dirinya sendiri untuk semua perasaan itu. Aku bukanlah satu-satunya yang memiliki masa kecil yang mengerikan...

"Kemudian aku menyadari itu hanya dirimu, namun itu tak membuatku merasa lebih baik. Jadi aku menggunakan gadis lain untuk mengambil pikiranku–dan hal lainnya–menjauh dari apa yang paling aku inginkan."

"Mimpi-mimpi itu dimulai beberapa tahun yang lalu. Aku akan terbangun tengah malam dengan kejantananku sangat keras dan membutuhkan segenap kekuatanku untuk bertahan dari mencari kehangatan dari pelukanmu sehingga aku bisa membuat mimpiku menjadi nyata." Satu jari panjang mengusap bibir bawahku. "Itulah kenapa malam kita bersama tidak mengejutkanku. Aku mengabaikannya sebagai mimpiku yang lainnya."

"Aku pikir kau tidak tahu itu adalah aku. Aku membenci diriku sendiri karena mengambil keuntungan darimu seperti itu. Tapi aku hidup oleh kenangan itu." Aku menjalinkan jari-jari ku di rambut tebalnya. "Malam itu lebih daripada apa yang pernah aku harapkan."

Dan malam ini... malam ini dia membuat semua mimpiku menjadi kenyataan. Sasuke menyapukan sebuah ciuman lembut di bibirku, bertahan untuk sesaat sebelum menarik diri. "Ketika kau pergi menjauh dariku di mall itu aku sedikit gila. Aku tak bisa menemukan mu dan itu adalah perasaan terburuk yang pernah aku alami. Sampai malam ini.. Melihat taksi itu dan menyadari bahwa kau akan meninggalkanku... Jantungku benar-benar berhenti, Saku."

"Aku tak bisa menangani semua gadis itu bergelayut padamu, Sasuke. Aku sangat mencintaimu dan aku pikir..." air mata menyumbat tenggorokanku dan aku tak bisa berbicara.

Dia menciumku lagi.

"Hanya satu cara untuk melihat bagaimana kau cemburu, cintaku. Tak lebih. Segera setelah aku melihatmu menjauh dari pintu aku melepaskan mereka dan mendorong mereka ke Kakashi segera setelah dia keluar. Aku tidak bertahan setelah itu. Aku menghabiskan sisa malam menonton Sport Center dan meminum bir di ruang tamu sementara aku merencanakan langkah berikutnya untuk membuatmu melihat bahwa aku jatuh cinta padamu."

Kata-katanya menyembuhkan setiap retakan dalam hatiku. Tak pernah terpikir aku akan sebahagia seperti aku di momen ini. Tak pernah aku bermimpi bahwa Sasuke dan aku akan bersama, dan disini dia memberikan ku segalanya yang pernah aku inginkan. Cintanya.

"Saku, kau tidak akan pergi meninggalkan aku, bukan?" Dia berbisik di bibirku. Dia terasa begitu nikmat, aku mengerang.

Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, takkan pernah."

Sasuke menyentuhkan hidungnya pada hidungku "Dan kau mencintaiku, iya kan?"

"Ya." Aku mendesah saat dia menangkup payudaraku.

"Maukah kau menikahiku, Sakura-ku?" Jari-jarinya bermain dengan jari-jariku. Terjalin, membelai.

Sebuah sentakan kebahagiaan melalui tubuhku. Napasku tertahan di dadaku dan aku tak bisa menghentikan air mata yang mengalir dari mataku. "Ya."

. THE END .

~EPILOG~

"Sungguh luar biasa bisa tampil disini untuk kalian, New York"

Keramaian menggila, berteriak meminta lebih ketika Sasuke mengakhiri konser. Ini adalah konser satu hari, yang merupakan tipe konser-konser Demon's Wings akhir-akhir ini. Jarang di tur singkat seperti ini mereka melakukan sebuah pertunjukan malam. Namun para fans masih tetap kuat. Hanya karena mereka merubah gaya hidup bukan berarti bahwa Demon's Wings kehilangan penggemar mereka.

"Kalian tahu bahwa kami mencintai kalian semua dan tidak bisa melakukan ini tanpa kalian." Itu adalah cara Asuke setiap mengakhiri konser. Menunjukkan penghargaan dan memastikan bahwa seluruh anggota band mendapat sorotan.

"Kakashi Hatake pada drum mencintai kalian, Gaara Rei pada bass memuja kalian, saudaraku Naruto disini tergila-gila pada kalian," Sasuke menyentuhkan sebelah tangan ke dadanya. "Dan kalian tahu bahwa dengan pengecualian dua perempuan istimewaku di dunia kalian adalah hidupku."

Aku tersenyum lebar ketika ia berbalik dan meniupkan sebuah ciuman padaku, cincin perak di tangan kirinya mencerminkan cahaya matahari. Tuhan, aku jatuh semakin dalam pada lelaki itu setiap hari "Maka, dengan satu lagu terakhir kami akan meninggalkan kalian. Namun ketahuilah bahwa kalian akan selalu berada di hati kami."

"Kalian tahu lagu ini. Telah diminati seluruh dunia, menjadikannya nomor satu selama empat bulan berturut-turut. Bantulah aku, bernyanyi bersama."

Hatiku luluh saat aku mendengarkan untaian kata-kata yang sudah menjadi bagian dari rutinitas malam kami selama dua tahun terakhir.

Sleeping Angel adalah lagu pengantar tidur malaikat kecil kami dan Sarada tak bisa tidur tanpa ayahnya menyanyikan lagu itu untuknya. Tapi jangan berpikir bahwa hanya karena Sasuke menjadi seorang ayah sekarang ia berubah menjadi lembut. Beberapa orang bertanya-tanya apakah dia kehilangan sifat rockernya ketika Sleeping Angel terkenal. Semua orang gusar karena mereka takut Demon's Wings hanya akan menyanyikan semua lagu tentang cinta yang terlalu sentimentil untuk wanita-wanita di kehidupan mereka.

Mereka tidak perlu khawatir. Sasuke masih memiliki banyak inspirasi untuk ditulis. Hanya karena Sleeping Angel menjadi nomor satu pada daftar lagu rock tidak berarti bahwa itu adalah lagu hits satu-satunya yang mereka miliki di album terbaru mereka. Musik mereka bisa menjadi gelap seperti juga sebelumnya yang begitu sentimentil.

Mendengar Sasuke menyanyikan lagu favoritnya, balita dalam pelukanku menggeliat dan aku meletakkannya untuk berdiri di kakinya sendiri.

Sebelum kau panik dan berpikir bahwa aku membawa balitaku pada sebuah pertunjukkan rock, tenanglah. Kami baru saja meninggalkan bus pribadi kami – bis yang telah di rancang untuk perjalanan sebuah keluarga dengan seorang bayi – sesaat yang lalu setelah Sarada bangun dari tidur siangnya. Namun Sarada selalu ingin melihat akhir pertunjukan ayahnya. Untuk mengatakan bahwa dia adalah gadis ayahnya merupakan pernyataan yang terlalu sepele.

Hal ini sedikit menghancurkan hatiku bahwa dia lebih memilih ayahnya daripada aku, tapi aku belajar untuk menerimanya. Sasuke dan aku telah berbicara tentang memiliki bayi lagi. Namun itu adalah sesuatu yang ingin aku tunda sedikit lebih lama. Bahkan jika aku hanya terbaik kedua bagi Sarada, aku tak pernah lelah memanjakan gadis kecilku ini. Memiliki bayi lagi sekarang akan menghilangkan itu.

Dia bergelung di kakiku, masih sedikit ketakutan dengan keramaian yang selalu ada di konser Demon's Wings. Tapi karena ayahnya duduk disana, di panggung dikelilingi oleh semua lelaki di hidupnya yang Sarada tahu tak akan pernah membiarkan dia tersakiti, dia melepaskanku. Sebelum aku bisa beranjak dia telah berlari, kaki kecil montoknya bergerak cepat daripada yang pernah aku lihat sebelumnya.

"Pappa.. Pappa.. Pappa.." Melemparkan dirinya sendiri ke lengan terbuka ayahnya dan memeluknya erat sambil melanjutkan bernyanyi hanya untuknya.

"Tidurlah bidadariku." Nada suara Sasuke melembut yang hanya dia berikan untuk Sarada seorang ketika dia bernyanyi untuknya saat tidur di pelukannya setiap malam.

Aku menggelengkan kepalaku, tahu bahwa pemandangan seorang rocker besar dengan replika mungil dariku di dalam pelukannya telah membuat wanita di keramaian jatuh cinta lebih dalam padanya dalam sesaat. Namun itu tak masalah untukku.

Karena dengan pengecualian dari putri kami, aku adalah satu-satunya wanita yang menggenggam hati Sasuke.

. Really THE END .

Akhirnya selesai syuuudah fuuuhhh! Terimakasih untuk all readers yang telah membaca fic re-write novel terjemahan dari Ms. Anne :D maafkan saya jika sudah membuat kalian terlalu lama menunggu hehe.. Setelah melalui wabah WB yang mematikan, ditambah dengan kendala yang membuat saya sempet drp dan stress. Akhirnya FINISH! dengan begini utang fic saya berkurang satu.. hehehe.. dan itu membuat saya tambah semangat untuk menyelesaikan beberapa fic yang masih nggantung di jemuran hehehe..

Sekali lagi saya berterimakashi dan minta maaf apabila ada kesalahan yang saya sengaja atau tidak dalam pengupdatean fic re-write ini. Semata saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Big Hug and Thanks to :

Alexandra Keith : ahaha.. terimakasih buat koreksinya :D hehe.. kelupaan sama kelewatan dikit hehe..

ai uchiharunochan : terimakasih sudah menunggu :D nah chapter terakhir ini bagaimana? Hehe.. sudah full moment sasusakunya? Hehe..

cherrytomatosalad : aahh.. gomen, ternyata malah lama banget updatenya.. hehe yang penting udah updet yah yah :D #digampar bagaimana chapter ini momen mereka berduanya? Terimakasih sudah menunggu :D

Jamurlumutan462 : terimakasih sudah,menunggu.. bagaimana chapter kali ini? Hehe.. untuk yang Really Share masih dalam proses yah :D soalnya waktu saya bener-bener lagi trrbatas buat nyelesaiin satu chapter hehe.. tapi nggak bakal saya gantungin kok :D *cling #meringis.

hiruka uchiha : aaahh.. maafkan daku ini T^T terimakasih sudah menunggu yah?

Asiyah Firdausi : nah di chapter ini bagaimana mereka? Hehe..

wowwoh geegee : aahh.. gomen.. asapnya keguyur ujan deres.. jadinya nggak bisa terbang dengan kilat.. wkwkw.. oke santai aja wowoh-san.. saya sangat berterimakasih malah sama anda. Saya malah seneng banget bisa bertukar pikiran atau dikasih kritik dan saran. Saya terbuka kok.. jadi saya menganggap itu sebagai masukan atau kritik yang bisa membuat saya,lebih baik lagi hehe.. terimakasih sudah menunggu.. chapter ini bagaimana?

frozen Quen : aaahh.. gomenasai.. lama sekali yah updatenya :D tapi yang penting udah updet yah hehe..

setyanajotwins : yaps.. terimakasih sudah menunggu :D

Dyn Adr : terimakasih :D maaf nggak bisa updet kilat yah dan trimakasih sudah menunggu hehe..

nuniisurya26 : naaah.. bagaimana chapter ini? Hehe :D terjawab sudah bagaimana perasaan Sasuke sama si Sakura :D terimakasih sudah membaca dan menunggu ya *clingcling

Angsa Putih : nah karena ini saya re-write dari novel terjemahan, saya nggak berani ngeganti plot ceritanya hehe.. kalo dari awal saya berniat buat remake dengan plot cerita sedikit ditambahkan mungkin bisa sampe chapter yang panjang.. tapi.. utang fic saya masih banyak, jadi keburu satu fic selesai baru nyelesaiin yang lain dulu hehe.. terimakasih sudah membaca :D

Hyemi761 : yooossh.. saya ucapkan banyak terimakasih sekali hyemi-san T^T *sroooot #lapingus. Saya ada rencana mau re-write juga yang Sasuke pov nya.. tapi banyak yang setuju nggak gitu.. mungkin akan saya re-write kalo salah satu fic saya udah selesai.. jadi saya nggak pusing gitu kebanyakan utang. Hehe.. menurutmu bagaimana? Untuk Really Share masih dalam proses pengetikan.. kemarin sempet ilang muncul idenya.. jadi malah pusing sendiri.. tapi tenang aja, nggak bakal saya gantungin kok :D terimakasih yaaa..

Lhylia Kiryu : wkwkw.. sayangnya abang kakashi banyak yang ngantri dibelakang kayak uler tangga gitu. Banyak fansnya hehe..

pinktomato : udah,lanjut, terimakasih sudah menunggu :D bagaimana chapter ini?

hanazono yuri : yosh! Sudah lanjut yaah yahh..

kiyoi-chan : sudah apdet.. terimakasih sudah menunggu ya :D

yudi arata : yosh! Bagaimana chapter ini yudi-san :D semoga memuaskan yah ..

Guest : sayangnya di chpter ini momen mereka berdua.. gimana? Terimakasih suda menunggu :D

caesarpuspita : terimaksih sudah,menunggu.. dan gomenasai yah.. kemarin mau kasih note dibawahnya, tapi waktunya terbatas hehe.. gimana pendapatmu chapter ini? :D

RenArdhika : sip :D udah apdet.. terimakasih sudah menunggu ya..

neko : yosh.. ini last chapternya :D

uchiha della : cieeeehhh.. terimakasih banyak yah :D terimakasih juga sudah menunggu :D ciee.. tapi yang gantengnya kayak mereka berempat sayangnya cuma dalam anime aja.. selebihnya bayangin sendiri wkwkw..

kumirin : terimakasih :D sudah,lanjut yah.. terimakasih sudah menunggu :D

Yuliita : nah sudah apdet nih.. gomenasai kalo ngaret banget ya T-T

lana : oke, saya sudah kasih disclaimer di bagian paling atas sejak di chapter 1.. saya hanya re-write saja tanpa mengubah alur cerita. Saya hanya mengganti chara dan beberapa kalimat untuk mendukung larakter saja.. dan dari awal saya tidak mengatakan bahwa fic ini karya saya :D terimakasih hehe..

Temennya TEME : hah? Love? Saya hampir gagal fokus wkwkw..

Rencana saya juga mau re-write yang Sasuke pov, tapi... nunggu fic-fic saya berkurang yah :D

Akhir kata.. #ojigi arrriiigaaaatoooou gooozaaaimmmaassssuuu minna-san! Terimakasih yang sudah memberikan apresiasi berupa foll, fav, review dan read fanfic re-write ini.. jika banyak kesalahan dan kekurangan, mohon dimaafkan dan jangan lelah untuk saling mengingatkan :D

Jaa see in next fanfiction :D