[4/4]

Previous chapter:

"Aku akan pergi ke tempat lain, Jongin," Kyungsoo berucap lirih. Ia sedikit salah tingkah ketika Seulgi meliriknya dengan tatapan merendahkan. "Kau bisa mengobrol dengan Seulgi-ssi dan yang lainnya disini. Aku akan mencari teman-temanku di tempat lain."

Tanpa menunggu respon dari Jongin, Kyungsoo segera melarikan diri dari sisi Jongin. Jongin masih terus memandang kepergian Kyungsoo, tapi suara Seulgi mengalihkan perhatiannya.

"Kupikir kau tidak akan datang ke acara ini, Jongin. Kau adalah alasanku untuk datang kesini, kalau kau ingin tahu."

Dan setelahnya, Jongin mengobrol dengan Seulgi, berdua.

..

And this is the last chapter


Kyungsoo tak tahu harus pergi kemana setelah ia memutuskan untuk meninggalkan Jongin. Tadi ia berkata bahwa ia akan pergi menemui teman-temannya, tapi sebenarnya ia tak memiliki banyak teman saat SMP. Memangnya siapa yang ingin berteman dengan anak udik seperti Kyungsoo? Hanya sedikit orang yang mau dekat-dekat dengan gadis yang dulu memakai kacamata tebal itu.

Jadi akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk menepi dari keramaian. Ia memilih untuk duduk di sebuah bangku taman yang lumayan sepi, namun tidak gelap karena terdapat lampu yang menyinari tempat itu.

Kyungsoo duduk sendirian disana, merenungi nasibnya yang tak bisa dikatakan baik. Dan ia pun tak mengerti kenapa perasaannya malam ini mendadak terasa sangat buruk.

"Do Kyungsoo?"

Tiba-tiba Kyungsoo mendengar suara dari arah belakangnya, dan ia menoleh ke belakang. Ia melihat seorang pria berkemeja putih berdiri tak jauh di belakangnya.

Kyungsoo harus menyipitkan matanya untuk bisa mengenali sosok itu. "Kau... Im Hyunsik?"

Dan pria yang dikenali Kyungsoo sebagai Im Hyunsik itu tersenyum lebar, lalu berlari mendekati Kyungsoo dan memeluk gadis itu erat-erat. "Oh ya ampun! Aku merindukanmu, Kyungsoo!"

Dua orang itu berpelukan selama beberapa saat, sebelum akhirnya mereka duduk bersebelahan di bangku taman. Hyunsik adalah satu-satunya teman dekat Kyungsoo selama masa SMP-nya. Hyunsik yang terbilang populer itu mau berteman dengan Kyungsoo yang merupakan siswa biasa-biasa saja.

"Kau sudah banyak berubah, Soo," tutur Hyunsik sembari mengamati penampilan Kyungsoo.

"Aku berubah ke arah yang lebih baik, 'kan?" tanya Kyungsoo.

"Ya, kurasa begitu." Hyunsik dengan jahil mengacak tatanan rambut Kyungsoo. "Tapi kau tetap saja pendek. Postur tubuhmu yang tetap pendek itulah yang membuatku langsung bisa mengenalimu tadi."

"Kau menghinaku, huh?"

Hyunsik tertawa karena teman dekatnya berhasil ia pancing emosinya. "Aku hanya bercanda," tuturnya setelah puas tertawa. "Tapi, Soo, aku merasa sakit hati karena kau menikah tanpa mengundangku. Kau sudah melupakanku, huh?"

Kyungsoo langsung merasa bersalah mendengar penuturan Hyunsik. "Maafkan aku. Aku memang tidak mengundang banyak orang saat itu. Dan kudengar kau sekarang bekerja dan tinggal menetap di Jepang, makanya aku tidak mengundangmu. Aku tidak ingin merepotkanmu."

"Kau itu dari dulu memang tidak pernah mau merepotkan orang lain." Hyunsik menghela nafas. "Ngomong-ngomong, aku tadi melihat suamimu mengobrol dengan Seulgi berdua saja. Kau mengizinkannya?"

Entah mengapa Kyungsoo merasa sedikit kecewa mendengar perkataan Hyunsik. Tadi saat ia pergi meninggalkan Jongin, teman-teman Jongin yang lain masih ada bersama Jongin, dan Jongin tidak hanya mengobrol berdua saja dengan Seulgi. Tapi apa tadi yang dikatakan oleh Hyunsik? Jongin mengobrol berdua dengan Seulgi? Mungkin Jongin benar-benar masih menyimpan perasaan untuk wanita itu.

Meskipun merasa kecewa, Kyungsoo tetap mencoba tersenyum. "Aku memberikan kesempatan pada mereka untuk bernostalgia. Aku adalah istri terbaik di dunia, 'kan?"

"Istri terbaik di dunia, katamu? Kau itu bodoh atau apa, huh? Mana ada istri yang mengizinkan suaminya untuk berduaan dengan mantan kekasihnya?"

"Ada, aku contohnya."

Jawaban singkat Kyungsoo membuat Hyunsik menghela nafas berat. Ia tak mengerti pada jalan pikiran temannya itu. Tapi selanjutnya ia memperhatikan ekspresi Kyungsoo lebih dalam, dan ia mengerti sesuatu.

"Seharusnya kau tidak memberinya izin kalau memang kau tidak rela." Kyungsoo menatap Hyunsik dengan sebelah alis yang terangkat, dan Hyunsik bicara lagi, "Awalnya aku tak percaya saat orang-orang berpikiran bahwa kau menikah dengan Jongin karena kau mencintainya, tapi sekarang aku percaya pada pendapat orang-orang itu."

"Apa maksudmu?"

"Kau mencintai Jongin, Soo. Jangan bilang, kau belum menyadari hal itu?"

Kyungsoo terpaku. Tidak pernah sedikitpun terbesit dalam benaknya bahwa ia jatuh hati pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Jongin adalah pria yang pernah ia benci, dan tak mungkin rasa benci itu berubah menjadi cinta. Atau, mungkinkah itu terjadi? Orang bilang, batas antara cinta dan benci itu hanya tipis.

Lamunan Kyungsoo terbuyarkan oleh tepukan ringan di bahunya. Ia kembali menatap Hyunsik, dan pria itu tersenyum padanya. "Seorang istri yang baik akan selalu berusaha untuk mempertahankan suaminya, bukannya merelakannya untuk orang lain. Seorang istri yang baik harus berusaha membahagiakan suaminya dengan cara selalu berada di sisinya, bukannya malah pergi meninggalkannya. Sekarang, kembalilah padanya, atau kau akan menyesal."

Kyungsoo merasa sepertu déjà vu. Kakaknya juga pernah menasehatinya tentang penyesalan jika ia berpisah dengan Jongin, dan baru saja Hyunsik juga menasehatinya dengan hal serupa.

Antara sadar atau tidak, Kyungsoo akhirnya berdiri, lalu berlari meninggalkan Hyunsik tanpa sepatah katapun. Gadis itu kembali mendekati keramaian, mencoba mencari seorang pria tinggi nan tampan yang berstatus sebagai suaminya.

Kyungsoo terus mencari dan mencari, namun sosok tampan itu tak kunjung ia temukan. Ia melihat teman-teman Jongin, tapi mereka tak lagi bersama Jongin. Ia juga melihat Seulgi, tapi gadis cantik itu juga tak bersama Jongin.

Kyungsoo terus kebingungan sampai akhirnya ia dikejutkan oleh sebuah tepukan ringan di bahunya.

"Kau mencari Jongin?" Ternyata Ravi yang menepuk bahunya dan juga bertanya padanya. Dengan ragu Kyungsoo mengangguk, dan Ravi bicara lagi, "Aku tadi melihatnya berlari ke halaman parkir. Kupikir ia sudah pulang bersamamu."

"J-Jongin sudah pulang?"

"Aku juga tidak tahu. Lebih baik kau mencarinya di halaman parkir. Siapa tahu ia menunggumu disana."

Dan akhirnya Kyungsoo mengucap terimakasih, lalu segera berlari lagi ke halaman parkir mobil.

Perlu waktu beberapa menit bagi Kyungsoo untuk tiba di halaman parkir mobil. Gadis itu lalu melarikan matanya untuk menelusuri tempat itu, bermaksud mencari mobil suaminya. Dan Kyungsoo bisa tersenyum lega ketika ia menemukan mobil yang dikenalinya masih terparkir rapi di salah satu ruas parkir. Dengan segera gadis itu berlari mendekati mobil itu, lalu membuka pintunya. Beruntung, pintu mobil itu tidak dikunci.

"Jongin, kenapa kau tidak bilang kalau kau ingin pulang? Kenapa kau meninggalkanku begitu saja?" Kyungsoo menghujani Jongin dengan pertanyaan sembari tangannya mengambil tisu untuk mengusap keringat yang bercucuran di dahinya. Selama beberapa saat ia tidak mendapat respon, dan ia membuka suara lagi, "Jongin?"

Mata Kyungsoo mengamati Jongin. Pria itu bersandar di kursinya dengan mata terpejam, tapi Kyungsoo yakin pria itu tidak sedang tidur.

Dan benar saja Jongin tidak sedang tidur, karena mata sang pria Kim perlahan terbuka, dan mata elang itu langsung menatap mata Kyungsoo dengan tajam. "Kau meninggalkanku karena ingin berduaan dengan pria itu?"

Kyungsoo tersentak karena Jongin tiba-tiba bertanya dengan nada dingin. "A-apa?" ia hanya bisa bertanya dengan sedikit tergagap.

"Kau berduaan dengan seorang pria 'kan tadi? Berada di tempat yang sepi dan hanya berdua saja. Kau pikir itu pantas untuk wanita yang sudah bersuami?"

"Jongin, itu tak seperti yang kau—

"Cukup! Kita pulang sekarang."

"Jongin..."

Jongin tetap dengan pendiriannya, dan ia segera menghidupkan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobil berwarna putih itu.

Selama perjalanan ia hanya diam, dan Kyungsoo di sampingnya pun hanya diam sembari menundukkan kepalanya.

Jongin terus menatap ke depan dan fokus menyetir, tapi fokusnya terganggu saat ia mendeteksi keganjilan pada diri Kyungsoo. Ia sedikit melirik ke arah Kyungsoo, dan ternyata tubuh gadis itu bergetar hebat.

Jongin terkejut, dan ia segera menepikan mobilnya dan menghentikan laju mobil itu. Ia lalu melepas sabuk pengamannya, lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Kyungsoo.

"K-kau kenapa?" Jongin bertanya, tapi Kyungsoo tak menjawab. Pemuda itu memberanikan diri untuk menyentuh pundak Kyungsoo dan menghadapkan tubuh Kyungsoo ke arahnya, lalu ia mendongakkan kepala Kyungsoo. Pemuda itu terkejut mendapati mata Kyungsoo dipenuhi oleh benteng air mata yang belum menetes.

Itulah Kyungsoo. Ia tidak mudah menangis, dan ia sangat pandai menahan air matanya supaya tidak menetes. Tapi konsekuensi yang harus ia hadapi saat menahan air mata adalah tubuhnya akan bergetar hebat seperti sekarang.

Jongin kaget bukan main saat menatap mata basah Kyungsoo. Tiba-tiba dalam benaknya menyeruak sebuah memori yang sepertinya pernah ia alami. Sepertinya ia pernah melihat mata basah seperti milik Kyungsoo, tapi kapan? Seingatnya, ia tak pernah sekalipun melihat Kyungsoo menangis. Gadis itu selalu kuat dan tegar meskipun dulu ia sering mem-bully-nya.

Lalu dimana ia melihat pemandangan serupa seperti sekarang? Ataukah ia hanya sedang berhalusinasi? Mungkin iya. Tidak mungkin ia pernah mengalami saat-saat seperti ini sebelumnya.

Memilih untuk menepis kebingungannya, Jongin akhirnya membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya, lalu menepuk-nepuk punggung sempit gadis itu. "Aku minta maaf, oke? Aku tidak bermaksud marah padamu. Aku tadi kesal karena kau meninggalkanku hanya untuk duduk berduaan dengan pria lain. Kau seperti tidak menghargaiku, itu saja."

"Tapi aku tidak bermaksud begitu. Aku meninggalkanmu karena ingin memberimu kesempatan untuk mengobrol dengan Seulgi. Kau menginginkan hal itu, 'kan?"

Jongin sedikit kaget mendengar pernyataan Kyungsoo. Jadi, tadi Kyungsoo sengaja meninggalkannya karena faktor Seulgi? Bahkan Jongin tidak berpikiran sampai kesana.

Mungkin Jongin juga yang berlebihan. Tadi setelah ia mengobrol dengan Seulgi, ia buru-buru mencari Kyungsoo. Dan ketika ia sudah menemukan gadis itu, ia terkejut karena ternyata Kyungsoo tidak sendirian. Gadis itu sedang berduaan dengan seorang pria yang ia ketahui bernama Hyunsik.

Jongin memang berlebihan. Padahal Kyungsoo dan Hyunsik tidak melakukan apapun tadi, tapi ia malah marah-marah tidak jelas. Ia sendiri tak mengerti kenapa dirinya bisa semarah itu.

Setelah Kyungsoo sudah lebih tenang, Jongin melepaskan pelukannya, lalu memegangi dua bahu Kyungsoo. "Lebih baik kita melupakan semuanya." Pria itu menyodorkan jari kelingkingnya di depan Kyungsoo. "Aku janji tidak akan marah-marah seperti tadi lagi. Kau mau memaafkanku, 'kan?"

Senyum tipis akhirnya terkembang di bibir Kyungsoo, dan gadis itu mengkaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Jongin. "Aku memaafkanmu, Jongin."


Jongin dan Kyungsoo sama-sama sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Keduanya berbaring bersisian di atas ranjang, bersiap untuk tidur. Tapi dua insan itu belum juga mengatupkan kelopak mata mereka meskipun menit demi menit terlalui. Mereka masih betah berbaring sambil menatap langit-langit kamar tanpa saling bicara. Itu adalah kali pertama mereka merasa nyaman meskipun tak ada yang berbicara. Biasanya mereka merasa canggung jika terjebak dalam kondisi seperti itu.

"Jadi..." tiba-tiba Jongin memecah keheningan. "Apa hubungan kalian berdua?"

Pertanyaan Jongin terdengar ambigu di telinga Kyungsoo, dan gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Jongin. "Aku tidak mengerti apa maksudmu."

Samar-samar Jongin menghela nafas. "Apa hubunganmu dengan Hyunsik? Aku yakin kalian memiliki hubungan khusus sejak SMP dulu. Aku masih ingat bagaimana kerasnya ia memukulku hanya karena aku mencuri seragam sekolahmu dan menggantung seragam itu di tiang bendera usai pelajaran olah raga. Ia selalu melindungimu, jadi pasti hubungan kalian istimewa."

Kyungsoo terkekeh kecil begitu ia memahami kemana arah pembicaraan Jongin. Pemuda berkulit kecoklatan itu ternyata masih mempermasalahkan pertemuannya dengan Hyunsik di acara reuni tadi. "Kami hanya berteman dekat sejak dulu." Bisa Kyungsoo lihat Jongin menunjukkan ekspresi tidak puas, jadi gadis itu melanjutkan, "Terserah saja kau mau percaya atau tidak, tapi itulah faktanya. Hyunsik sekarang sudah memiliki istri dan seorang anak di Jepang, jadi mana mungkin ia memiliki hubungan spesial denganku?"

Ah, jadi begitu rupanya? Jongin tiba-tiba merasa malu karena ia sudah menuduh Kyungsoo dengan tuduhan yang tidak terbukti kebenarannya. Berarti, kemarahannya tadi hanya sia-sia, ya? Tidak seharusnya ia marah dan terbawa emosi seperti tadi.

"Sebaiknya kau tidur sekarang. Aku tahu kau lelah," Jongin akhirnya mengalihkan pembicaraan.

Kyungsoo tak ambil pusing dengan hal itu. Gadis itu mengangguk, lalu menimpali, "Kau juga harus tidur. Selamat malam, Jongin."

"Selamat malam, Kyungsoo."

Jongin bisa melihat Kyungsoo mulai memiringkan tubuhnya sehingga sekarang gadis itu memunggunginya. Rasa kantuk belum juga menghampiri pemuda itu, bahkan ketika telinganya mulai mendengar hembusan nafas Kyungsoo yang teratur. Itu artinya, Kyungsoo sudah tidur.

Jongin justru bangkit dari posisi berbaringnya, lalu berjalan menuju samping ranjang tempat Kyungsoo tidur. Ia berjongkok di depan Kyungsoo, lalu mengamati wajah Kyungsoo dengan seksama. "Kenapa semakin lama aku semakin merasa tak asing denganmu? Siapa kau sebenarnya?" Jongin berbisik lirih, menyuarakan hal yang mengganggu benaknya sejak beberapa hari lalu, tepatnya sejak Kyungsoo menangkup kedua pipinya dan berkata padanya bahwa ia akan membantunya supaya tidak merasa canggung lagi. Sejak saat itu, Jongin merasa bahwa Kyungsoo tidaklah asing baginya.

Jongin akhirnya menghela nafas, dan pandangan matanya teralih pada sebuah bingkai foto yang selama ini ia anggap sebagai sebuah harta karun. Ya, itu adalah bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto mesranya bersama Taemin. Jongin lalu bangkit dari posisi berjongkoknya tadi, kemudian mengambil bingkai foto berwarna emas itu. "Maafkan aku, Taemin-ah..." kembali pemuda itu berbisik lirih, kali ini sembari mengusap wajah Taemin dalam bingkai foto di tangannya. Entah apa maksud dari kata maaf yang meluncur dari bibir tebalnya.


Pagi ini Kyungsoo bangun saat di kamar hanya ada dirinya saja. Kyungsoo sempat kaget karena Jongin tak ada di sampingnya. Seingatnya, tadi malam mereka tidur satu ranjang setelah mereka pulang dari acara reuni.

Kyungsoo tersenyum malu-malu mengingat kejadian semalam. Bisa-bisanya ia hampir menumpahkan air mata hanya karena Jongin marah padanya, padahal biasanya air matanya itu mahal sekali harganya sampai-sampai ia jarang menangis.

Kyungsoo juga ingat bahwa tadi malam ia dan Jongin sempat mengobrol sebelum ia terlelap ke alam mimpi. Ia sekarang lega karena hubungan mereka sudah benar-benar membaik. Mereka sudah tidak canggung lagi, dan Jongin juga sudah tidak marah padanya. Semua kecanggungan dan amarah sudah dilebur oleh tautan jari kelingking mereka semalam.

Kyungsoo sepertinya sudah terlalu lama bermalas-malasan di atas ranjang. Hari sepertinya sudah cukup siang karena Jongin sudah tidak ada di kamar. Jongin pasti sudah berangkat ke rumah sakit, dan itu artinya, Kyungsoo terlambat.

Eh? APA? KYUNGSOO TERLAMBAT?

Kyungsoo akhirnya menyadari hal itu, dan gadis itu segera bangkit dari ranjang. Ia baru akan melangkah untuk menuju ke lemari pakaian saat matanya menangkap pemandangan secarik kertas berwarna kuning cerah bertengger di atas meja nakas.

Dengan kening berkerut, Kyungsoo mengambil kertas itu, lalu membaca isinya.

Selamat pagi...

Kau bisa berangkat siang hari ini karena tidak ada hal yang harus kau kerjakan. Jangan lupa sarapan, dan jika kau ingin berangkat ke rumah sakit, mintalah sopir untuk mengantarmu. Kau tidak perlu naik taksi. Mengerti?

Sampai jumpa di rumah sakit~

Jongin^^

Kyungsoo tersenyum simpul usai membaca catatan yang ditulis oleh Jongin. Gadis itu meletakkan surat itu kembali ke atas nakas, dan saat itulah ia menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang.

"Bingkai foto Jongin dan Taemin...kenapa tidak ada disini?" Kyungsoo berbisik lirih karena ia masih shock. Selama ia menjadi penghuni kamar Jongin, tak pernah sekalipun bingkai foto itu luput dari meja nakas di samping ranjang Jongin. Tapi kenapa sekarang bingkai foto berwarna emas itu tiba-tiba menghilang?

Kyungsoo sekarang panik. Ia tahu bahwa foto itu sangat berarti bagi Jongin, dan ia yakin Jongin akan sangat marah kalau sampai foto itu hilang. Jangan-jangan, foto itu tidak sengaja dibuang oleh asisten rumah tangga yang membersihkan kamar ini?

Kyungsoo semakin panik, dan ia bergegas keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga dan berlari mendekati seorang maid yang sedang menyapu lantai. "Bibi Lee!" gadis berambut hitam itu sedikit berteriak, dan sang asisten rumah tangga menoleh dengan kaget. "Apa Bibi tahu dimana bingkai foto berwarna emas yang biasanya berada di atas meja nakas di kamar Tuan Muda?"

"Maaf, Nona Muda, saya tidak tahu dimana bingkai foto itu. Saat membersihkan kamar Tuan Muda, saya tidak berani menyentuh barang berharga milik Tuan Muda."

Kyungsoo terlihat kecewa dan menjadi semakin panik. Gadis itu lalu meninggalkan Bibi Lee dan berjalan menuju ruang tengah. Di tempat itu ada ayah dan ibu mertuanya yang sedang duduk santai.

"Kyungsoo? Kau sudah bangun? Jongin tadi bilang pada Ibu bahwa mungkin kau bangun siang karena semalam kalian pulang malam. Kenapa sekarang sudah bangun, hm?" Ibu mertuanya bertanya dengan lembut.

Kyungsoo tersenyum kikuk, lalu mendudukkan tubuhnya di samping sang ibu mertua. "Saya tadi sebenarnya ingin langsung mandi dan berangkat bekerja, Ibu. Tapi ada sesuatu yang hilang, jadi saya mencarinya dulu."

"Sesuatu yang hilang? Apa itu?" kali ini ayah mertuanya yang bertanya.

Kyungsoo menjadi gugup karena pertanyaan pria tua itu. "Y-yang hilang adalah fo-foto Jongin saat bersama m-mantan kekasihnya, Ayah."

Rasanya sulit sekali mengatakan hal itu karena ia tahu bahwa orang tua Jongin membenci hubungan menyimpang Jongin dan Taemin.

Dan sesuai dugaannya, wajah ayah dan ibu mertuanya menjadi muram. Mereka berdua pasti tidak suka mendengar segala hal tentang mantan kekasih Jongin.

"Kami tidak tahu dimana foto itu, Kyungsoo. Mungkin Jongin memindahkannya ke tempat lain. Kau tidak perlu mencarinya lagi," ibu mertuanya yang akhirnya menjelaskan.

"Ah, begitu ya? Saya tadi hanya takut Jongin akan merasa sedih. Foto itu sangat berharga untuknya, jadi ia pasti akan sedih kalau foto itu hilang."

Kali ini ayah dan ibu mertuanya justru tersenyum. "Jongin ternyata memilih istri yang tepat," Ayah Jongin yang menimpali. "Kau sangat peduli pada perasaan Jongin. Kami menitipkan Jongin padamu, Kyungsoo. Kami harap kalian akan menjadi pasangan yang berbahagia."

Kyungsoo mau tak mau merona mendengar perkataan ayah mertuanya. Ia tak ada pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya, ia masih memikirkan bingkai foto Jongin yang mendadak lenyap.


Kyungsoo tiba di rumah sakit dengan perasaan yang masih berkecamuk. Ia belum tenang karena bingkai foto Jongin belum juga ketemu sampai sekarang.

Bagaimana kalau Jongin menuduhnya sebagai orang yang menghilangkan bingkai foto itu? Hari ini hanya Kyungsoo yang berada di kamar, jadi bisa saja Jongin menuduh Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo benar-benar clueless mengenai keberadaan benda itu. Seingatnya, tadi malam bingkai foto berwarna emas itu masih bertengger di atas meja nakas, tapi tadi pagi benda itu sudah hilang. Tidak mungkin 'kan ada yang mencuri benda seperti itu?

Kyungsoo benar-benar frustrasi sekarang. Gadis itu sedang berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju ke ruang kerja Jongin, tapi langkah kakinya otomatis terhenti saat ia baru sampai di dekat ruang operasi. Ia melihat sesuatu di tempat itu, dan ia sampai memicingkan matanya untuk memastikan apakah ia salah lihat atau tidak.

Tapi objek yang ia amati tak juga berubah wujud meskipun matanya sudah memicing. Objek itu tetaplah sama. Disana, tepat di depan ruang operasi, Jongin berdiri berhadapan dengan Seulgi. Seulgi tampak mengoceh tak jelas, sedangkan Jongin terlihat tak nyaman berdekatan dengan wanita itu.

Ah, kenapa Kyungsoo baru menyadari hal itu? Kenapa ia baru sadar kalau Jongin tidak nyaman berdekatan dengan Seulgi? Ternyata ia salah menduga. Sepertinya, Jongin sudah tidak memiliki perasaan pada gadis itu.

Dan tiba-tiba nasehat Minseok dan Hyunsik menyeruak ke permukaan. Kyungsoo mengingat nasehat yang dikemukakan oleh dua orang yang dekat dengannya itu. Ia ingat, ia mungkin akan menyesal kalau melepaskan Jongin begitu saja.

Dengan tekad yang menggebu, Kyungsoo berjalan lagi mendekati objek yang ia tuju, dan ia langsung memposisikan dirinya di tengah-tengah Jongin dan Seulgi. Ia membelakangi Jongin dan menghadap Seulgi dengan ekspresi dingin.

"Apa yang kau lakukan disini?" Sebuah pertanyaan diajukan oleh Kyungsoo dengan sinis.

Seulgi sempat kaget karena Kyungsoo tiba-tiba datang menginterupsi, tapi gadis itu menjawab dengan percaya diri, "Aku menemui Jongin. Apa itu masalah untukmu?"

"Tentu saja itu masalah untukku. Jongin adalah suamiku, dan aku punya hak untuk mempermasalahkan pertemuan kalian."

"Ah, begitu ya? Tapi tadi malam kau meninggalkan Jongin untukku, dan itu artinya, kau menyerahkan Jongin padaku."

"Aku tak menyangka kau benar-benar bodoh, Seulgi-ssi. Tadi malam aku memberimu kesempatan untuk mengucap selamat tinggal pada Jongin, tapi sayangnya kau terlalu bodoh untuk mengerti. Jadi, sebaiknya sekarang aku mewakili Jongin untuk mengucap selamat tinggal padamu. So, goodbye, Seulgi-ssi."

Dan tanpa basa-basi Kyungsoo menyeret Jongin untuk pergi menjauhi Seulgi. Jongin sebenarnya masih shock. Ia sudah kaget sejak Kyungsoo datang, dan ia semakin kaget saat melihat sikap ganas Kyungsoo pada Seulgi. Ia tahu kalau sejak dulu Kyungsoo memiliki potensi untuk menjadi gadis beringas, tapi ia tetap kaget melihat keganasan Kyungsoo tadi.

Namun sikap Kyungsoo tadi mampu membuat Jongin menggerakkan bibirnya membentuk lengkung senyum. Ia tak tahu sejak kapan, tapi ia ingin selalu berada di dekat gadis itu. Gadis unik itu selalu bisa membuatnya merasa nyaman meskipun dulu mereka sempat saling merasa canggung.


BLAM!

Pintu ruang kerja Jongin dibanting dengan kasar oleh Kyungsoo setelah ia dan Jongin sudah berada di dalam ruangan itu.

Kyungsoo langsung melepaskan cekalannya dari tangan Jongin, dan gadis itu lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia tak menyangka akan mengamuk seperti tadi pada Seulgi. Tapi tadi ia benar-benar kesal, jadi wajar 'kan kalau ia marah begitu?

"Jadi kau mengizinkanku berangkat siang karena kau ingin menghabiskan waktu dengan kucing liar itu?" Kyungsoo bertanya tanpa menatap ke arah Jongin.

Jongin mengangkat sebelah alisnya bingung. "Siapa yang kau maksud dengan kucing liar?" Ia melepas kacamatanya dan berjalan ke meja kerjanya, lalu duduk di kursinya. "Seulgi terus mengejarku setelah pertemuan semalam. Itu salahmu karena kau membiarkanku mengobrol dengannya."

"Apa? Salahku? Wanita itu saja yang terlalu genit padamu! Dan, kau juga masih mau menanggapinya. Kau juga sama genitnya dengannya!"

"Dengan berat hati aku menanggapinya karena ia terus memaksa untuk bicara denganku. Kenapa kau mempermasalahkan itu? Kau cemburu, huh?"

Mata Kyungsoo melebar karena pertanyaan Jongin. Ia menatap Jongin, dan wajah pria itu tampak begitu percaya diri. "Aku tidak cemburu!" Kyungsoo akhirnya menimpali setelah beberapa saat terdiam.

"Kau cemburu, Do Kyungsoo. Kalau kau tidak cemburu, kau tidak akan mengamuk seperti tadi, dan kau juga tidak akan menyeretku untuk men—

"AKU TIDAK CEMBURU!"

Jongin hanya bisa mengedipkan matanya polos setelah Kyungsoo membentaknya. Ya Tuhan, wanita itu benar-benar tak terduga. Wanita itu bahkan sekarang berpura-pura sibuk berkutat dengan majalah fashion, padahal Jongin tahu bahwa Kyungsoo tidak tertarik pada fashion.

Sulit sekali membuat Kyungsoo mengakui kecemburuannya, dan tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Jongin untuk membuat gadis itu mengaku. Tangan Jongin meraih botol air mineral di depannya, lalu membuka tutup botol itu. Dengan sengaja ia menumpahkan isi air mineral itu ke atas mejanya, dan... "Oops!" ia berpura-pura kaget. "Kyungsoo, aku tidak sengaja menumpahkan air ke mejaku. Bisa tolong kau bersihkan ini?"

Kyungsoo dengan malas menoleh ke arah Jongin, dan mau tak mau ia harus menjalankan tugasnya sebagai seorang asisten. Gadis itu akhirnya berdiri, lalu mengambil beberapa helai tisu di atas meja, kemudian berjalan mendekati meja kerja Jongin.

Tumpahan airnya ternyata tepat berada di depan Jongin, dan Kyungsoo terpaksa berjalan memutari meja untuk membersihkannya. Ia terpaksa berdiri di samping Jongin supaya bisa mengelap genangan air itu.

Tak perlu waktu lama, tumpahan air itu sudah dibersihkan oleh Kyungsoo. Kyungsoo ingin menarik tangannya dari atas meja, tapi pergelangan tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Jongin.

"Lepaskan aku," Kyungsoo mendesis menahan emosi.

"Aku akan melepaskanmu, tapi kau harus mengaku padaku kalau kau memang cemburu."

"Kau kekanakan."

"Memang."

Kyungsoo berusaha lepas dari cekalan tangan Jongin, tapi usahanya tak membuahkan hasil. Cekalan tangan Jongin terlalu kuat.

"Tanganmu akan sakit kalau kau memaksakan diri. Lebih baik kau mengaku, dan aku akan melepaskanmu."

Mata Kyungsoo melotot ke arah Jongin. Gadis itu tak menduga Jongin akan memakai cara kotor untuk membuatnya mengaku.

Tapi, Kyungsoo juga tak bisa terus berbohong pada dirinya sendiri dan juga pada Jongin, 'kan? Ia memang cemburu, dan itu bukanlah sebuah dosa.

"Oke, aku memang cemburu! Sekarang lepaskan aku!"

Dan akhirnya cekalan tangan Jongin terlepas seiring dengan terkembangnya senyuman di bibir Jongin.

Kyungsoo memutar bola matanya dengan malas, lalu hendak melangkah menjauh dari Jongin karena ia sudah tak tahan berdekatan dengan pria menyebalkan itu. Tapi lagi-lagi usahanya gagal karena tiba-tiba saja Jongin berdiri dan memegangi kedua bahunya.

Kyungsoo sangat terkejut, apalagi saat ini Jongin sedang menatapnya intens. "Katakan padaku," Jongin berbisik. "Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"

Pertanyaan konyol Jongin membuat dahi Kyungsoo berkerut. "Kau amnesia, ya? Tentu saja kita sebelumnya pernah bertemu. Kemarin kita bertemu, kemarin lusa juga bertemu, dan—

"Bukan itu maksudku," Jongin menyela. "Ada sesuatu pada dirimu yang terasa familiar bagiku. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Sepertinya kau sudah gila, Jongin. Kita pernah bersekolah di sekolah yang sama belasan tahun silam, jadi tentu saja kita pernah bertemu."

"Bukan itu, Kyungsoo. Maksudku, kurasa kita pernah bertemu di waktu yang lain, waktu yang sangat lama. Mungkin kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya?"

Menurut Kyungsoo, Jongin benar-benar sudah gila. Perkataan pria itu benar-benar tidak logis, dan itu membuat gadis itu tertawa. Sebenarnya apa isi kepala Jongin sampai-sampai pria itu memikirkan hal yang tidak masuk akal begitu?

"Aku serius, Kyungsoo," Jongin berujar dengan serius karena Kyungsoo malah terus tertawa. "Sepertinya kita benar-benar pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, dan sepertinya di kehidupan itu aku...aku mencintaimu."

Dan pengakuan Jongin mampu membungkam mulut Kyungsoo sehingga gadis itu berhenti tertawa. Sekarang gadis itu justru menatap Jongin dengan pandangan tak percaya.

"Sudah cukup bercandanya? Itu sama sekali tidak lucu, Kim Jongin."

Rasa frustrasi mulai menggerogoti batin Jongin. Memangnya siapa yang bercanda? Sejak tadi Jongin serius. Sejak tadi Jongin bersungguh-sungguh. Tapi kenapa Kyungsoo tak bisa mempercayainya?

"Oke, lupakan saja perkataanku tadi. Lupakan tentang kehidupan masa lalu dan sebagainya. Aku benar-benar ingin bicara serius denganmu." Remasan tangan Jongin di bahu Kyungsoo menguat, mengindikasikan bahwa pria itu benar-benar serius. "Aku memang lelaki brengsek dengan orientasi seksual yang menyimpang. Tapi, Kyungsoo, kau berhasil mengubahku. Kau... Kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu."

Kyungsoo terperanjat. Pengakuan Jongin adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Memangnya apa yang ia lakukan hingga akhirnya Jongin melabuhkan hati pada dermaganya? Ia tak melakukan usaha apapun untuk mengubah orientasi seksual Jongin, tapi tiba-tiba Jongin berkata padanya bahwa ia berhasil mengubahnya.

Kyungsoo mencari celah dusta di mata Jongin, tapi ia tak menemukannya. Ia hanya menemukan ketulusan dan kejujuran pada mata yang kini menatapnya dengan intens itu.

"Kau... Kau serius?" pertanyaan yang sarat dengan nada tak percaya akhirnya disuarakan oleh Kyungsoo.

"Aku sudah berjanji pada Taemin untuk mencintainya selamanya, tapi kau perlahan mencuri rasa cinta itu. Aku bahkan sudah tak memajang fotoku dengan Taemin lagi karena perasaanku sudah berubah. Aku juga tak mengerti, Kyungsoo. Aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan."

Kyungsoo merasakan kepalanya berputar-putar seolah kepalanya itu adalah sebuah bola bumi yang berputar pada porosnya. Apa Jongin sedang mempermainkannya? Tapi Jongin tak mungkin sampai menyingkirkan fotonya dengan Taemin kalau ia hanya ingin mempermainkan Kyungsoo. Ya Tuhan! Ternyata Jongin sendiri yang menyingkirkan bingkai foto yang sejak tadi membuat Kyungsoo kelabakan?

Kyungsoo merasa tubuhnya lemas dan ingin pingsan, dan yang ia lakukan sekarang adalah menjatuhkan kepalanya pada bahu Jongin, bersandar pada bahu itu. "Sepertinya aku akan gila, Jongin," gadis itu berujar lemah.

Jongin malah tersenyum, lalu ia melingkarkan lengannya untuk memeluk tubuh lemas Kyungsoo. "Aku sepertinya juga akan gila. Bagaimana kalau kita menjadi gila bersama-sama? Sepertinya menyenangkan."

Kyungsoo tertawa halus dalam pelukan Jongin. Gadis itu memejamkan matanya karena merasa nyaman berada dalam pelukan pria itu. Ia merasa terlindungi, dan ia tak keberatan untuk mempercayakan dirinya kepada Jongin.

"Aku menerima tawaranmu. Ayo kita menjadi gila bersama-sama."

"Kau benar-benar menerima tawaranku?"

"Ya."

"Termasuk tawaranku untuk menjadikanmu sebagai istriku yang sebenarnya?"

Tubuh Kyungsoo sempat menegang karena pertanyaan Jongin, tapi kemudian tubuh itu kembali rileks dan ia menimpali, "Kau tidak pernah memberi penawaran itu padaku."

"Oh, oke. Kalau begitu, sekarang aku akan memberimu penawaran itu. Maukah kau menjadi istriku yang sesungguhnya?" akhirnya Jongin bertanya dengan serius, dan dadanya berdebar menunggu jawaban Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo justru tersenyum bahagia, lalu menjawab mantap, "Oke, kurasa itu bukan tawaran yang terlalu buruk."

Dan Jongin bisa tersenyum lega mendengar jawaban Kyungsoo. Lelaki itu meletakkan dagunya di atas kepala Kyungsoo, lalu ikut memejamkan matanya. Dua orang itu menikmati moment membahagiakan yang akhirnya bisa mereka raih. Semuanya berjalan cepat dan sama sekali tidak romantis, tapi siapa yang membutuhkan keromantisan jika kebahagiaan sudah berada dalam genggaman? Romantisme hanyalah satu hal semu yang tak selamanya memberi kebahagiaan. Kini mereka sudah memiliki kebahagiaan yang nyata meskipun diraih dengan cara yang sangat sederhana.


"Kau lihat itu 'kan, Noona?"

Di depan pintu ruang kerja Jongin terdapat dua orang yang diam-diam mengintip. Dua orang itu adalah Jongdae dan Minseok. Jongdae tadi sengaja sedikit membuka pintu ruang kerja Jongin supaya mereka bisa mengintip, dan mereka berdua bisa melihat semua yang terjadi di dalam.

"Kau benar, Jongdae. Mereka memang ditakdirkan untuk bersama."

Jongdae menegakkan badannya yang tadi membungkuk, lalu menatap Minseok sambil tersenyum. "Tidak semua orang bisa berhasil dengan cinta pertama, tapi ada juga orang yang pada akhirnya bersatu dengan cinta pertamanya. Jongin dan Kyungsoo adalah contohnya. Mereka melewati lika-liku kehidupan yang menghalangi persatuan cinta mereka, tapi pada akhirnya mereka tetap bersatu. Itulah kekuatan cinta pertama."

"Ya, kau benar. Awalnya aku meragukan ceritamu tentang masa lalu mereka, tapi sekarang aku percaya. Walaupun mereka tetap tak mengingat cinta mereka di masa lalu, tapi mereka kembali menemukan cinta itu di masa sekarang. Bukankah itu indah?"

"Ya, itu benar-benar indah..."


Musim Dingin sedang mencapai puncaknya di Korea. Tak ada satupun orang yang berani keluar rumah tanpa memakai pakaian yang ditumpuk-tumpuk untuk menghangatkan badan. Semua orang takut berubah menjadi manusia salju jika bagian tubuh mereka dibiarkan terbuka begitu saja.

Di Musim Dingin kali ini, Jongin tepat berusia delapan tahun. Kemarin ulang tahunnya dirayakan di rumahnya, dan ia mendapatkan banyak kado dari teman sebayanya. Kemarin ia sempat bingung karena orang tuanya tidak memberinya kado. Saat ia menanyakan hal itu pada orang tuanya, mereka menjawab bahwa kado dari mereka akan diserahkan pada Jongin hari ini. Jongin menyambut hari ini dengan antusias. Ia pikir, ia akan mendapatkan hadiah berupa mainan ataupun sepeda, tapi ia salah total. Hadiah dari orang tuanya adalah kunjungan ke dokter gigi untuk mencabut dua giginya yang sudah goyang.

Jongin benar-benar kesal karena hal itu. Satu giginya baru saja dicabut, dan satu gigi yang lain kini menunggu giliran. Jongin tadi memang menolak ketika pamannya yang berprofesi sebagai dokter gigi berkata bahwa dua gigi Jongin akan dieksekusi bersamaan. Jongin meminta pamannya untuk memberi kesempatan pada satu giginya untuk menenangkan diri sejenak. Bocah kecil itu memang tak pernah kehabisan akal.

Jongin merasa bosan berada di ruang tunggu poli gigi, dan ia meminta izin pada ibunya untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Selain mengenakan jaket tebal dan beanie, lelaki kecil itu juga memakai masker untuk menutupi giginya yang ompong karena baru saja dicabut. Ia merasa malu jika orang lain melihat kekosongan gigi depannya itu.

Langkah kaki kecil Jongin membawanya ke taman rumah sakit. Dari kejauhan ia melihat ada sebuah bangku panjang di bawah pohon, dan ia ingin duduk di bangku itu. Tadi ia sempat ragu karena ia melihat ada orang lain yang menempati bangku itu, tapi pada akhirnya ia tetap bertahan pada niatannya.

Begitu sampai di tempat tujuannya, Jongin segera duduk di bangku itu, tepat di sebelah gadis kecil berambut panjang yang menundukkan kepalanya.

Jongin itu gampang merasa penasaran, dan ia penasaran karena gadis itu terus menunduk. Ditambah lagi, Jongin bisa melihat tubuh gadis itu bergetar hebat.

"Halo?" Jongin menyapa dengan sedikit ragu.

Sapaan itu berhasil membuat si gadis kecil mengangkat kepalanya, tapi Jongin tetap tak berhasil melihat wajah gadis itu karena hampir seluruh wajah gadis itu terbenam dalam syal tebal yang melingkari lehernya. Satu-satunya bagian wajah yang bisa dilihat hanyalah matanya, dan ternyata mata itu digenangi oleh air mata yang belum menetes.

"Ehm, apa kau baik-baik saja?" Jongin bertanya dengan lembut.

Si gadis menggeleng kecil. "Nenekku baru saja meninggal. Padahal nenek sudah dibawa ke rumah sakit ini, tapi dokter bodoh itu tak bisa menolong nenek. Sekarang tak akan ada lagi yang mengajariku menyanyi dan memasak. Aku sangat sedih."

Rasa iba menelusup di hati Jongin. Ia belum pernah merasakan kehilangan. Keluarganya masih lengkap, dan ia tidak bisa merasakan kesedihan gadis itu.

Tapi entah mengapa Jongin ingin menghibur gadis itu. Ia tidak tega melihat gadis itu bersedih dan menahan air matanya.

"Ibuku bilang, sebuah pelukan bisa menghapus kesedihan. Apa kau mau kupeluk?"

Si gadis kecil untuk sejenak terlihat berpikir keras, tapi kemudian ia mengangguk. Ia beringsut mendekati Jongin, kemudian masuk ke dalam pelukan hangat lelaki kecil yang menutupi wajahnya dengan masker itu.

Saat tubuh mereka saling memeluk, tak hanya tubuh mereka saja yang terasa hangat, tapi hati mereka juga terasa hangat. Perasaan asing itu tak bisa dimaknai artinya oleh mereka yang masih bocah. Yang mereka tahu hanyalah, mereka ingin selalu dekat dengan satu sama lain. Mereka merasa nyaman, dan mereka tak ingin berpisah.

Tapi pada akhirnya si gadis cilik melepas pelukannya, dan tangannya yang tadi memeluk Jongin kini berpindah ke dua sisi pipi Jongin, menangkup pipi si lelaki kecil. "Pelukanmu benar-benar membuatku merasa lebih baik. Terimakasih."

Jongin merasa jantungnya berdebar saat diperlakukan seperti itu oleh si gadis. Ia tak tahu makna dari debar jantungnya itu, ia masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Tapi yang jelas, ia merasa sangat senang mendapat perlakuan itu dari si gadis kecil.

"Ya! Ibu mencarimu. Kau tentu tidak lupa 'kan kalau masih ada satu gigi lagi yang perlu dicabut? Sana temui Ibu!"

Sebuah suara nyaring mengusik kebahagiaan Jongin. Ternyata Jongdae yang berteriak. Bocah berumur sepuluh tahun itu saat ini juga memakai pakaian tebal ditambah dengan syal yang melingkar di lehernya dan menutupi sebagian wajahnya. Ia sejak tadi berkeliling rumah sakit untuk mencari adiknya, tapi ternyata adiknya berada disini.

Dengan berat hati Jongin berdiri dari duduknya, kemudian menatap si gadis kecil, lalu berkata, "Sampai jumpa lagi." Dan bocah kecil itu langsung berlari menjauhi taman.

Jongdae tersenyum tipis melihat tingkah adiknya. Ia memang masih kecil, tapi ia peka pada perasaan adiknya. Adiknya sepertinya telah jatuh hati pada gadis yang saat ini masih duduk di bangku taman.

Setelah Jongin hilang dari pandangan, Jongdae beralih menatap di gadis kecil. "Apa kau teman adikku?" tanyanya pada si gadis kecil.

Gadis kecil yang matanya terlihat sendu karena kepergian Jongin itu kini menoleh ke arah Jongdae, lalu menjawab, "Aku baru saja bertemu dengannya. Apa itu bisa disebut sebagai teman?"

Jongdae terkekeh melihat kepolosan gadis kecil di depannya. "Ya, kau bisa disebut sebagai temannya," jawabnya. "Apa kau menyukai adikku?"

Si gadis kecil mengangguk tanpa ragu. "Ya, aku sangat menyukainya. Ia baik, dan pelukannya hangat sekali. Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?"

Kali ini Jongdae yang mengangguk mantap. "Takdir akan mempertemukan kalian kembali. Percayalah padaku."

Jongdae yakin si gadis kecil tersenyum meskipun ia tak dapat melihat wajah gadis itu. Lengkung mata si gadis kecil yang membuat Jongdae yakin bahwa ia tersenyum. Kemudian alis Jongdae berkerut ketika gadis itu tiba-tiba melepas sarung tangannya, lalu juga melepas sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Ini adalah cincin pemberian nenek saat aku berulang tahun beberapa hari yang lalu. Kata nenek, ini hanyalah cincin murahan dan tidak ada harganya bagi sebagian orang. Tapi nenek bilang, cincin ini akan menjadi jimat keberuntunganku di masa depan. Aku tidak tahu apa itu jimat, tapi aku ingin memberikan cincin ini pada anak laki-laki yang tadi. Ia adikmu, 'kan? Bisakah kau memberikan cincin ini padanya?" tanya si gadis sembari menyodorkan cincin peraknya pada Jongdae.

Jongdae dengan ragu menerima cincin itu. "Ini adalah jimat keberuntunganmu, kau yakin akan memberikan ini pada orang lain?" tanyanya.

Si gadis langsung mengangguk tanpa ragu. "Kau tadi berkata padaku bahwa kami berdua bisa bertemu lagi, 'kan? Suatu saat nanti, saat kami berdua bertemu lagi, aku akan meminta kembali cincin itu."

Jongdae akhirnya ikut tersenyum setelah ia dapat memahami maksud si gadis. Gadis itu rupanya ingin mengikat Jongin dengan cincin perak berukuran kecil itu. "Aku mengerti sekarang," tuturnya. "Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya satu hal padamu. Siapa namamu?"

"Namaku Kyungsoo. Do Kyungsoo."


Dan itulah kali pertama Jongin dan Kyungsoo bertemu. 22 tahun lalu mereka pernah bertemu, dan mereka langsung jatuh hati pada pertemuan pertama itu. Sayang, mereka berdua sama-sama tak mengingat pertemuan bersejarah itu.

Tapi hal itu berbeda dengan Jongdae. Sulung Kim itu mencatat pertemuan adiknya dengan si gadis kecil di buku catatannya. Ia mencatat tanggal pertemuannya, serta mencatat nama gadis kecil itu. Sayangnya, Jongdae sama sekali tak membagi catatannya itu pada Jongin. Yang dilakukan oleh Jongdae hanyalah memberikan cincin perak milik si gadis kepada Jongin, tapi ia tak memberi tahu nama gadis itu pada Jongin (karena ia percaya suatu hari nanti Jongin dan gadis itu akan bertemu lagi, dan Jongin bisa menanyakan nama gadis itu secara langsung). Jongin juga tak menanyakan nama gadis itu pada kakaknya karena ia mengira kakaknya juga tak tahu siapa nama gadis itu. Jongin sudah cukup senang karena bisa memiliki satu benda berharga milik si gadis. Jongin terus menyimpan cincin itu dalam kotak harta karun miliknya, dan ia juga menyimpan memori tentang si gadis dalam otaknya. Ia berharap suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan gadis yang mencuri hatinya itu.

Tapi waktu terus berlalu, dan ingatan Jongin tentang gadis itu perlahan pupus karena ia tak kunjung bertemu lagi dengan gadis itu. Wajah-wajah baru datang dan pergi di kehidupannya, dan itu membuatnya semakin mudah melupakan memori masa kecilnya. Hingga akhirnya Jongin tak mengenali gadis itu saat mereka bertemu lagi di bangku SMP, saat usia mereka 14 tahun. Lagipula, baik Jongin maupun Kyungsoo sama sekali tak pernah melihat wajah satu sama lain saat pertemuan perdana mereka. Mereka saling jatuh cinta bukan karena penampilan fisik, tapi karena sebuah pelukan hangat yang menenangkan. Tanpa tahu rupa, tanpa tahu nama, mereka jatuh cinta.

Dan untung sang takdir berpihak pada mereka. Setelah tak bertemu selama hampir 14 tahun—setelah lulus SMP, mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang tak terduga.

Pertemuan mereka itu sebenarnya tidak disengaja. Iya, memang Jongdae yang memilih Kyungsoo untuk menjadi asisten Jongin, tapi semua itu juga tidak direncanakan. Jongdae tak pernah lagi mendengar tentang Kyungsoo sejak mereka bertemu di rumah sakit 22 tahun silam. Saat masih SMP, Jongin juga tak pernah bercerita apapun tentang sosok Do Kyungsoo yang menjadi 'teman' sekelasnya. Jongdae baru tahu tentang Kyungsoo saat Minseok merekomendasikan adiknya untuk menjadi asisten Jongin. Jongdae sangat kaget karena nama adik tiri Minseok ternyata adalah Do Kyungsoo. Maklum, Jongdae selama ini memang tidak banyak tahu mengenai keluarga Minseok.

Tapi setelah tahu tentang Kyungsoo, Jongdae membuat sebuah mega proyek untuk menyatukan Jongin dan Kyungsoo. Ia tentu mengajak Minseok untuk menjadi partner-nya. Dan rencana Jongdae berjalan lancar. Ia sudah menduga bahwa Jongin akan meminta Kyungsoo untuk menikah kontrak dengannya, dan hal itu dimanfaatkan oleh Jongdae. Jongdae melihat peluang besar dari pernikahan yang tidak berlandaskan cinta itu. Untungnya, Kyungsoo juga tak mengenali Jongdae sehingga gadis itu tidak berpikir macam-macam.

Hari demi hari berlalu dalam pernikahan Jongin dan Kyungsoo, dan cinta yang telah lama terkubur dalam akhirnya muncul kembali. Meskipun selalu dihiasi dengan hinaan dan ejekan, tapi benih cinta yang memang sudah tertanam di hati mereka sejak 22 tahun lalu itu akhirnya bersemi kembali. Sekarang, buah dari benih cinta itu dapat mereka tuai. Buah dari benih cinta itu adalah... Kebahagiaan.

END


Glad's Note:

Wow, akhirnya FF ini selesai juga. Aku yakin banyak yang nggak puas dengan endingnya karena nggak ada kissing scene dan nggak ada moment yang 'wah' di endingnya. Hehe, maafkan aku untuk masalah itu. Aku pusing mikirin happy ending buat FF ini :D

Tapi gimana kalo aku bikinin sequel buat FF ini? Jadi, dalam sequelnya Jongin dan Kyungsoo bakalan tahu soal masa lalu mereka. Kira-kira mereka bakal gimana gitu abis tahu tentang semuanya. Mau nggak aku kasih sequel? Aku bakal bikinin sequel kalo review FF ini di FFN lebih dari 100. Mungkin nggak dalam waktu singkat aku bikinnya, tapi aku usahain paling lambat awal Februari aku udah publish sequelnya. Gimana?

Aku tunggu respon dari kalian ya! See you next time!

With love,

Gladiolus92