LVenge: yup, ini chap terakhir~ :D ga di jabarin soalnya pasti jadi panjang banget ntar *alasan* xD

fanfandck90: maap ga bisa fast update, (sok) sibuk kemaren xD itu emang hobi saya bikin orang penasaran xD

Kirei Thelittlethieves: ini udah lanjut~

Shui Jing: Zizi kan udah ada yang nampung(?)

celindazifan: maaf baru bisa update, hihihi

yuikitamura91: yup, ini chapter final :D

PrincessZitao: maaf baru bisa update ^^ emang abang Naga hantu bikin orang merinding xD *lol

annisakkamjong: baru tau ya x'D *pundung bareng baby Panda*

buttao: demi kolornya bang Naga xD nih udah lanjut :3

aldif.63: ngga ada, hehe. Sip, nih dah lanjut~

akuyanglupasiapadiriku: maaf baru bales review di part 2 kemaren xD sumvah aku ngakak baca id mu XDD ini chap terakhir ^^

WHO Yizi OsHztWyf: itu dia, gw ga bisa bikin cerita drama yang puanjaaaangg, ga jago bikin drama *sad* sebenernya gini, dari awal bikin emang pake pen name SkylarK, tapi karena udah ada yang make *kayaknya* jadi aku ganti O, sekenanya aja xD K itu kepanjangan dari Kanzasky *ga penting* #abaikan

EXO's Happiness: sengaja -_- biar langsung klimaks trus end :v xD #kabur

BabyZi: hohoho, tenang~ gw klo jatuh cinta ma couple pasti setia xDd

huangzifanfan: yup, chap ini tamat :D klo di panjangin judulnya bukan Stay With Me lagi, jadinya Stay With Tukang Bubur Naik Haji, phew *lol XDD

ZhieWu68: yup~ ini chap final~

kthk2: ini di lanjut~ end!

Aiko Michishige: udah di lanjut~

Jisane Kotao: yang gw tau Jung itu Cuma Jessica xD gw ga ngerti k-pop sih, wekekekek

kyndipc: ga tega ma Kevin klo ngeliat mark ciptaan Kris xD nah nah nah~ semua jawaban dari pertanyaan mu ada disini~ :3

luphbepz: jawabannya ada di chap ini ^^ overdose, ada sih, tapi aku bikin NC, ga panjang, hehehe

Xyln: di kasih hadiah Panda berpita xD

peachpetals: bisa2 end dengan tidak elitnya xD hadiahnya ada di chap ini :3

Ammi Gummy: itu yang di dapur udah fluff :D

Firdha858: ini udah lanjut~

HyuieYunnie: Kris yang evil itu hot banget :3

Guest: masalahnya Kris udah anu(?)in si Panda, jadi agak2 gimana gitu Pandanya #diinjek

HZT & Guest: Kris kan udah anu(?)in si Panda jadi gimana yaaa~~ #ditabok

pantao: udah lanjut~

emakjitao: yup, end nya tetep Kristao :3

well, karena ini ff Kristao jadi end nya tetep mereka. Jadi bagi yang sedikit kecewa mohon maaf ^^

.

.

Stay With Me

By: Skylar.K

Pair: Kristao/Kevtao

Cast: Kris Wu/Kevin Wu, Huang Zi Tao

Genre: Drama, Hurt, Romance

Rating: T semi M(?)

Warning: TYPO(S)!

.

.

.

Oh, won't you stay with me?

You can lay with me so it doesn't hurt

'Cause you're all I need

.

"Terima kasih untuk kehadiran para undangan malam ini. Meski cukup menggelikan di usia seperti ini masih merayakan pesta ulang tahun. Percayalah, kami berdua tidak menginginkan pesta seperti ini. Tapi bagaimana pun juga kami berdua berterima kasih pada Ayah kami, Tuan Wu atas perayaan kecil ini" suara tenang Kevin memecah keheningan singkat yang tercipta.

Para tamu undangan juga Zi Tao tak bisa menahan senyumnya, dengan gelas kristal berisi sampagne, mereka tertawa kecil akan pernyataan Kevin Wu. Meski begitu mereka tetap menyimak apa yang selanjutnya akan di katakan putra Wu itu.

"Pesta ulang tahun di seusia ini rasanya sangat menggelikan" Kris menambahi dengan datarnya, dan lagi-lagi para tamu tertawa kecil.

"Anggap saja ini perayaan terakhir untuk kalian, setelah ini rayakanlah sendiri dengan gaya kalian" Tuan Wu menimpali. Sedikit tersinggung dengan penuturan putra kembarnya.

"Memang sudah seharusnya seperti itu Dad" sindir Kris.

"Bagaimana kalau kita bersulang?" Kevin memulai topik yang lebih menarik. Di jawab anggukan dan kata 'tentu' dengan nada antusias.

Para tamu, termasuk si kembar Wu, senior Wu dan Zi Tao mengangkat gelas mereka ke udara, membenturkan kecil gelas kristal yang di bawa, dan tak lupa mengucapkan 'Happy birthday!' yang di tujukan oleh Kevin dan Kris. Suara denting gelas yang merdu menandakan pesta yang sebenarnya baru di mulai. Kevin menoleh pada Zi Tao yang berdiri di samping kanannya, bertukar senyum dan melakukan cheers dengan gelas masing-masing.

Oh andai saja tidak sedang banyak orang di tempat ini, mungkin mereka akan menegak sampagne dengan cara mereka sendiri. Dengan cara yang lebih romantis mungkin?

Kris yang berdiri bersebelahan dengan saudara kembarnya, hanya diam seribu bahasa memperhatikan tingkah manis kedua orang itu. Sambil menegak sedikit cairan putih di dalam gelas kristalnya, sudut bibirnya tertarik samar.

"Apakah tidak ada hadiah Tuan Wu?" tanya seorang wanita bergaun putih gading. Yang tampaknya memiliki niat akan 'hadiah' yang di singgungnya.

Tuan Wu beralih menatap wanita itu, tersenyum tipis. "Kurasa mereka sudah bisa membeli hadiah untuk diri mereka masing-masing Nyonya Kim" ujarnya.

"Bagaimana kalau aku memberi hadiah pada Kevin? Putri ku sangat menyukainya, anda berminat menjalin hubungan besan dengan ku Tuan Wu?" yeah, wanita ini tampaknya terobsesi dengan putra ketua Wu.

Well, siapa yang tidak ingin memiliki hubungan khusus dengan keluarga Wu?

Zi Tao menggenggam erat kaki gelas kristal yang di bawanya, namun perhatiannya harus teralihkan saat merasakan tangan kirinya di genggam. Ia pun menoleh pada Kevin, lalu menunduk melihat tangannya yang diam-diam di genggam oleh sang kekasih.

"Bukannya saya ingin menolak Nyonya Kim, hanya saja apa anda tahu mana yang Kevin dan mana yang Kris?"

"Eh..." Nyonya Kim bergantian menatap si kembar Wu, dengan satu alis terangkat, dan kerutan samar di dahinya. Cukup menjelaskan jika dirinya tak mengetahui yang mana Kris dan mana Kevin.

Tuan Wu terkekeh kecil. "Saya saja sebagai Ayah nya tidak bisa membedakan mereka Nyonya"

Semua tamu disana mengangguk setuju. Memang si senior Wu tidak bisa membedakan keduanya, terlebih jika mereka sama-dama diam.

Aku bisa. ーuntuk yang pertama kalinya Zi Tao bangga dengan 'bakat'nya itu.

"Jadi benar-benar tidak ada hadiah Tuan Wu?" kali ini pria berkacamata yang bertanya. Pria tampan berusia 50 tahunan bernama Wu itupun beralih menatap sang lawan bicara.

"Mana mungkin ada perayaan tapi tidak ada hadiah bukan Tuan Park?" Tuan Wu tersenyum. "Saya memiliki hadiah untuk Kevin, tapi saya ingin memberi pengumuman terlebih dahulu" ia meletakkan gelas kristal nya di meja bulat berukuran lebih kecil yang berada di tengah kerumunan. Kevin mengangkat satu alisnya.

"Apa itu Tuan Wu? Kami harap sebuah pengumuman yang berarti"

"Pengumuman apa dad?" Kevin menatap bingung sang Ayah. Bukannya menjawab pertanyaan sang putra, Tuan Wu berdeham kecil.

"Begini, seperti yang anda semua tahu jika putra saya Kevin dan Kris sudah sangat matang untuk memiliki pasangan hidup. Dan malam ini dengan berat hati saya harus mematahkan hati para wanita yang menginginkan menjadi pendamping Kevin, karena malam ini Kevin Wu telah resmi di tunangkan oleh putri dari keluarga Jung. Jessica!" pidato singkat itu di tutup oleh nada memanggil sang ketua Wu, seraya menengok kearah tangga. Dimana tampak seorang wanita cantik berbalut dress berwarna biru menuruni tangga dengan anggun, senyum manis terukir di bibir tipisnya yang berpoles lipstick soft pink.

Tunggu. Apa maksutnya ini? Tunangan?

Zi Tao membatu di tempatnya, kelereng Onyx nya bergulir seirama dengan langkah wanita cantik bernama Jessica Jung yang menuruni tangga.

Telinganya tidak salah dengar bukan?

"Dad? Apa maksutー"

"Seperti yang kita semua tahu, Jessica dan kedua putra ku sangat dekat. Karena itulah saya memutuskan untuk menyatukan mereka dalam ikatan perjodohan" Tuan Wu tersenyum, menyediakan tangannya untuk di gapai calon menantunya.

Jessica Jung tersenyum menawan, menempatkan dirinya di samping kanan Kevin, tepat di tengah-tengah si kembar Wu. Pria tampan itu semakin mengerutkan keningnya, bergantian menatap Jessica dan sang Ayah.

"Tunggu dad. Apa maksutnya ini? Ini bukan lelucon 'kan?" Kevin mulai gusar.

"Tentu saja bukan Kev. Jessica calon istri yang sempurna untuk mu" Tuan Wu menatap putranya tegas.

"Tidak dad. Aku tidak tahu apa-apa tentang hal ini" wajah tampannya mengeras tak suka.

"Tidak ada penolakan Kevin Wu. Meski kau lahir lebih dulu beberapa detik dari Kris, kau yang akan mewarisi Wu Corp. Dan bukan waktunya lagi untuk main-main" di akhir kalimatnya Ketua Wu menatap Zi Tao yang terdiam seribu bahasa dengan tatapan kosong.

"Tapi dadー"

"Tidak ada penolakan. Kedua keluarga sudah menyetujui perjodohan ini, dan sekarang lebih fokuslah dengan pekerjaan dan juga Jessica" Tuan Wu tersenyum menawan. Seolah kehendak pribadinya itu adalah hal yang wajar.

Kevin mengeratkan genggamannya pada tangan Zi Tao, tapi sayangnya pemuda manis itu sudah menarik tangannya lebih dulu, membuatnya menengok cepat dan mendapati sang kekasih yang bergerak mundur perlahan.

Sepasang Onyx itu goyah, menatapnya dengan embun yang mulai tampak, bibir curvy nya di gigit kuat, menahan getaran. Hingga tak ada satu katapun yang bisa di ucapkannya ketika melihat sang kekasih membalikkan tubuhnya cepat dan menerobos keluar dari kerumunan.

Kepalanya serasa di hantam benda tumpul dengan begitu keras. Merekam bulir air mata yang menuruni pipi halus sang kekasih sebelum sosok itu menghilang dari sampingnya.

"Ku harap semuanya bisa berjalan dengan baik Kev" suara lembut Jessica bahkan tidak bisa menyeret keterpakuannya.

Bahkan dirinya tidak bisa mengatakan apapun saat ini.

.

Hancur. Jantung dan ulu hatinya seperti telah tertohok sebuah benda tumpul yang amat keras. Tak peduli akan aliran air mata yang dengan mulusnya menuruni pipi hingga ke rahangnya. Tak peduli jika nafasnya mulai acak-acakan karena sepasang kaki panjangnya membawanya semakin menjauh dari kediaman megah keluarga Wu.

Zi Tao tak tahu seperti apa keadannya saat ini. Dadanya sesak, akan oksigen yang semakin menipis dan rasa sakit yang semakin menjadi. Rasanya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Tak peduli sudah berapa jauh dirinya berlari kencang, tak peduli jika dirinya mendapat makian oleh beberapa orang yang sudah di tabraknya dan tanpa mengatakan maaf.

Bahkan pria manis itu tak peduli seperti apa orang-orang melihatnya menangis sambil berlari. Masa bodoh, dirinya hanya ingin lari sejauh mungkin, dan bila memungkinkan dapat meringankan sakit di dadanya yang menghimpit.

Grep!

Sret!

Tubuh semampai yang gemetar itu terhuyung ketika sebuah tangan menarik satu lengannya dan membalikkan tubuhnya. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mengenaskan karena air mata, tubuhnya juga setengah membungkuk. Dengan pandangan yang kabur karena air mata, Zi Tao dapat melihat sepasang kaki panjang yang berbalut celana berwarna hitam.

"Kehilangan Kevin bukan akhir dari Dunia mu" kata suara baritone di depannya dingin, namun terselip kelembutan disana. Zi Tao memejamkan matanya erat.

Pria manis itu hendak menarik tangannya, namun Kris lebih erat menahan lengannya. Bahkan rasa nyeri di lengan kanannya itupun tak bisa menggantikan dadanya yang seperti di himpit sebuah batu besar.

"Ini yang kau mau 'kan? Kau bisa senang sekarang" suara Zi Tao bergetar, mengangkat wajahnya dengan pipi basah. Kris menggertakan giginya, wajah tampannya semakin mengeras melihat tumpahan air mata Zi Tao yang tak berhenti mengalir.

"Ya. Ini yang ku inginkan, dan aku senang sekarang" mulutnya memang telah terlatih untuk menyakiti orang lain. Dan Kris tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu.

"Kau...kau pasti tahu...kau sudah tahu tentang hal ini Kris...tapi kenapa kau tidak memberitahu ku!?" suara Zi Tao meninggi. Matanya memerah.

"Apa ada bedanya? Kalau aku mengatakan hal ini padamu apa bisa merubah semua ini? Katakan"

Zi Tao menggelengkan kepalanya kuat. "Setidaknya akan tidak sesakit ini rasanya...kenapa Kris?"

"Kau bukan milik Kevin lagi Zi Tao"

Pria manis itu melepaskan cengkraman tangan Kris di lengan kanannya, dan menghentakkannya kasar. "Terima kasih. Semua rencamu berhasil, jadi kau tidak perlu muncul di hadapan ku lagi" ujarnya di sela-sela tangis. Tanpa mengangkat wajahnya, ia membalikkan badan dan berjalan menjauh.

"Justru ini awalnya Zi Tao! Apa kau tidak juga mengerti?!" Kris mengepalkan tangannya erat. Menahan amarahnya yang selama ini selalu di tahan olehnya. Zi Tao tak sedikit pun melambatkan langkah kakinya.

"Kalau aku hanya ingin merusak hubungan kalian aku tidak akan sampai meniduri mu setiap malam!" suara baritone Kris menggelegar di pedestrian tersebut. Tak peduli jika perhatian banyak orang yang sedang berlalu lalang kini tertuju padanya.

Bagaimana mungkin pria itu dapat mengatakan dengan lantang jika ia meniduri kekasih orang lain setiap malam? Hell...

Zi Tao refleks berhenti berjalan, sejenak menutup matanya yang berair, lalu menggelengkan kepalanya kecil. Ia kembali mengarahkan kakinya maju, semakin menambah jarak antara dirinya dan Kris.

"Zi Tao!" panggil si tampan itu kehilangan kesabaran. Sang pemilik nama masih berjalan.

"KALAU KAU TIDAK BERHENTI AKU AKAN MENABRAKKAN DIRIKU DI TENGAH JALAN!"

Tetap saja, ancaman itu tidak membuat Zi Tao menghentikan langkahnya. Sedikit pun tidak. Ia sudah bosan, bosan akan segala ancaman Kris yang membuatnya lelah. Lagipula orang bodoh mana yang dengan sadar menabrakkan diri hanya untukー

"Awas Tuan!"

Ciiiiiiitttt!

BRAK!

"KYAAAAAAA!"

Suara jeritan ketakutan itu seketika menghentikan langkah kaki Zi Tao. Pria manis itu membalikkan tubuhnya cepat, mata basahnya menatap pada sekelompok orang yang berlari tergopoh ke tengah jalan. Dengan perasaan takut, ia pun memacu kaki panjangnya, berlari kearah keributan berasal.

Sosok Kris terbaring di aspal dengan mata terpejam, darah segar mengalir dari kepalanya. Zi Tao merasa tubuhnya tersengat listrik dengan daya yang cukup besar melihat pemandangan itu. Dengan jantung berdegup kencang karena rasa takut, ia menorobos ke depan, berlutut di sisi tubuh tegap Kris, meraih kepalanya yang berlumer darah.

"KRIIISS!"

Brak!

Pintu ruang rawat bernomor 26 tersebut dibuka sangat cepat hingga berdeman menabrak dinding. Mata sipitnya melebar tertuju pada sosok tampan yang duduk bersandar di ranjang Rumah Sakit, lebih tepatnya pada balutan perban yang melilit kepalanya, menyembul di balik warna surai pirang gelapnya.

Tentu saja Zi Tao khawatir. Bagaimana dirinya tidak ketakutan? Melihat orang yang di kenalnya tergeletak di jalan dengan kepala berdarah-darah, terlebih hal itu terjadi karena dirinya secara tidak langsung. Sebenci apapun dirinya dengan seorang Kris Wu, tetap saja pria itu kembaran Kevin, wajah mereka sama, dan meskipun mereka berdua berada di posisi yang menindas dan di tindas, tetap saja dirinya khawatir. Bagaimana pun juga dirinya dan Kris pernah berinteraksi, dan juga di sentuh...

Ah! Intinya ia khawatir. Ya, benar.

"Ya Tuhan Kris..." sengal Zi Tao lemas. Kakinya mendadak seperti jelly setelah berdiri di samping ranjang Kris. Dengan kepala tertunduk dan lutut yang tertekuk di lantai, tangannya berada di pinggiran tempat tidur.

Kris menatap Zi Tao yang masih menundukkan kepalanya di pinggir tempat tidurnya, bibir pucatnya tersemat senyum yang amat tipis melihat reaksi khawatir pria manis itu. Bahkan ia sampai tidak mempedulikan sang Dokter yang berpamitan dan keluar dari ruang rawat teesebut.

Pria tampan itu menahan diri untuk tidak menyentuh surai legam Zi Tao yang hanya berjarak beberapa senti dari tangannya. Hingga pria manis itu mengangkat kepalanya, ekspresi wajahnya sangat sulit di artikan. Antara lelah, cemas, dan menahan tangis. Oh, tolong ingatkan Kris untuk tidak tertawa senang saat ini.

"Apa kau sudah gila? Kau tidak punya otak?" desis Zi Tao lemas. Sepertinya rasa takutnya pada pria itu tak berlaku saat iniーmenatap tak mengerti pria tampan yang duduk bersandar di atas tempat tidur.

"Aku memang sudah gila karena mu" kata Kris tenang. Zi Tao mendesah kecil.

"Kau bukan orang bodoh yang dengan bodohnya semudah itu menabrakkan diri Kris. Kemana otak cerdas mu eh?"

"Kau yang membuat ku harus menabrakkan diri Zi Tao, kau lupa?" nada menyebalkan itu lagi.

"Aku lagi yang di salahkan? Memangnya aku memintamu menabrakkan diri?" ia memicingkan mata.

"Memang salahmu. Kalau kau berhenti dan mendengarkan aku, hal ini tidak akan terjadi"

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan bukan?" kali ini Zi Tao menatap lelah. Perlahan ia bangkit berdiri.

"Sebagian sudah ku dapatkan, sebagian lagi belum"

"Apa?"

"Kau"

Zi Tao menghela nafas berat. "Kenapa dengan ku?"

"Kau sudah bukan milik Kevin lagi. Menurut mu siapa yang memiliki mu?"

"Kenapa aku harus di miliki?"

"Kau bukan orang yang bisa di temukan dengan mudah. Dan kau sekarang milik ku"

"Kenapa aku harus jadi milik mu?"

"Kau ingin aku melakukannya disini?" Kris bersiap menyibak selimutnya, andai Zi Tao tak menahan tangannya cepat. Tentu saja Zi Tao mengerti apa maksut dari kembaran Kevin itu.

"Jangan bercanda Kris. Tidak ada alasan untuk mu lagi melakukan hal itu lagi, dan kau tidak bisa menindas ku lagi" ujar Zi Tao, menatap ke dalam obsidian tajam pria pirang itu.

"Kau masih tidak mengerti juga?" wajah tampan Kris mengeras.

"Ini konyol. Kalau kau sebegitu menginginkan ku, hal itu tidak akan berhasil"

"Kenapa?" satu alis Kris berkedut.

"Kau dan Kevin kembar. Bagaimana bisa kau menahan ku di sampingmu sedangkan wajahmu sangat mirip dengannya?"

"Kau satu-satunya orang yang bisa membedakan kami"

"Aku tahu. Tetap saja kalian itu kembar! Kau ingin membuat ku tersiksa dengan menahan ku di dekat mu?"

"Lalu apa? Kau pikir kau akan bisa melupakan Kevin dan semua ini?"

Zi Tao terdiam. Keahliannya bicara membalas tiap kata-kata Kris seolah lenyap, bibirnya terkatup rapat. Entah kenapa saat mendengar nama itu di sebut, membuat hatinya semakin terasa sesak.

"Sampai kapan pun kau tidak akan pernah lupa Zi Tao" Kris menegaskan.

"Kalau kau sangat yakin dan tahu, kenapa kau masih menginginkan ku ada di sisimu? Kau ingin menyiksa ku? Atau apa?" suaranya terdengar lebih pelan.

"Justru karena aku ingin membantu mu. Kau tidak akan pernah lupa, karena itu kau harus menghadapinya"

"Bagaimana bisa aku menghadapinya kalau di samping mu? Bagaimana mungkin aku bersikap biasa saja sedangkan wajah kalian sama?"

"Seperti yang kau bilang, aku dan Kevin berbeda. Kau bahkan mengetahuinya Zi Tao"

Pria manis itu meremas udara kosong, matanya mendadak kembali panas, tapi ia tidak ingin menangis, menangis hanya akan membuatnya terlihat semakin lemah. Terlebih saat ini dirinya bersama Kris.

Tapi saat ia akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba Kris mengernyit memegangi kepalanya. Pria tampan itu sampai menundukkan kepalanya, menahan rintihan yang hampir lolos dari bibirnya. Zi Tao yang melihatnya pun refleks memegangi kepala Kris, mengusapnya lembut. Kentara sekali jika ia benar-benar khawatir.

"Sakit? Akan ku panggilkan Dokter, kau berbaring saja" ucapnya, mendorong pelan bahu Kris. Pria tampan itu pun menurut saja ketika tangan Zi Tao mendorong bahunya untuk berbaring.

Namun belum sempat pria manis itu beranjak dari samping tempat tidurnya, Kris menahan satu tangan Zi Tao, membuat pria manis itu menatapnya kebingungan.

"Aku tidak butuh Dokter" ujarnya. Zi Tao mengernyit.

"Tidak butuh apanya ha? Kau bahkan baru saja kesakitan"

"Daripada Dokter aku lebih membutuhkan mu disini"

"Tapー"

"Bagaimana kalau kau pergi setelah memanggil Dokter?" Kris dengan tegas menatap ke dalam Onyx Zi Tao. "Tetap disini, kalau kau mau sakit di kepala ku hilang, tidur lah di samping ku" imbuhnya.

"Apa?" Zi Tao mengernyit. Tak yakin dengan apa yang sudah di dengarnya.

"Naik dan tidur di samping ku" ulang Kris. Zi Tao menggelengkan kepala cepat.

"Tidak. Jangan bercanda Kris" tolaknya tegas.

"Aku seperti ini karena mu, mana rasa tanggung jawab mu? Atau aku harus mengasari mu lebih dulu baru kau akan menurut? Begitu?"

Zi Tao menghela nafas pendek. Lagi-lagi ia menerima ancaman. Apa tidak ada hal lain yang bisa di katakan seorang Kris Wu selain ancaman?

"Kau butuh bahu untuk menangis 'kan? Cepat naiklah" Kris memalingkan tatapannya, memandang lurus ke depan. Zi Tao menggigit bibirnya, menundukkan kepala, dan akhirnya mengangguk samar.

Kris melepaskan cengkramannya, tak lepas memperhatikan Zi Tao yang kini berjalan memutar dan berdiri di samping kiri tempat tidurnya, duduk di pinggiran untuk melepas sepatu. Ia pun menyibakkan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, memberi ruang tempat di sampingnya untuk pria manis pemilik Onyx itu.

Dengan canggung Zi Tao naik keatas tempat tidur, menghindari tatapan tajam Kris ketika ia membaringkan tubuhnya tepat di samping pria tampan itu. Bukan kaerena ukuran tempat tidur yang kecil, tapi karena Kris menarik tangan Zi Tao agar berbaring di dekatnya, dan si manis berbibir curvy itu harus membaringkan diri dengan tubuh saling bersentuhan, dan meletakkan kepalanya di bahu lebar Kris.

Hangat. Zi Tao merasakan kehangatan itu.

Membuat dadanya terasa semakin sesak, dan ia tak kuasa untuk menahan air matanya. Maka iapun menutup mata erat, menyembunyikan wajahnya yang mengenaskan di bahu lebar Kris, membiarkan pria itu mengusap surainya pelan, dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut berwarna biru muda.

Seandainya jika Zi Tao melihat perubahan ekspresi dan sorot mata Kris saat ini, mungkin ia akan yakin sebesar apa rasa ingin memiliki pria itu padanya. Dan percayalah, hal itu benar adanya. Karena pada kenyataannya jika seorang Kris Wu membenci seseorang, ia tidak sekalipun bersikap 'manis' pada orang itu.

"Rasakan, dan kau akan tahu lebih jelas lagi jika aku dan Kevin berbeda peach" bisiknya, menempelkan bibirnya di surai hitam Zi Tao.

Kris bahkan dengan mudahnya mencabut jarum infuse di pergelangan tangan kanannya dengan bantuan mulutnya, lalu memiringkan tubuhnya memeluk tubuh ramping Zi Tao yang kini bergetar kecil karena tangis.

Sungguh, jika mungkin Zi Tao itu adalah sebuah obat. Pasti dia membuatnya kerergantungan, dan akan terus menerus mengkonsumsi obat itu tanpa ingin berhenti. Tak peduli jika rasa candunya membuatnya tersakiti.

Kris sadar betul jika Zi Tao akan membutuhkan waktu yang lama untuk menerima dirinya. Karena bagaimana pun sejak awal, dirinya telah menegaskan jika pria bermata Panda itu adalah miliknya seorang. Hanya miliknya.

Dan Kris akan melakukan apapun untuk menahan Zi Tao agar tetap di sampingnya. Apapun.

"Kris..." suara Zi Tao terdengar sengau. Isak kecil masih terdengar. Kris yang baru saja memejamkan mata pun hanya diam.

"...boleh aku bertanya sesuatu?"

"Hn?"

"Kau...apa kau tidak khawatir hal yang terjadi pada Kevin akan terjadi padamu juga?"

Kris masih setia memejamkan matanya, seraya mengeratkan dekapannya pada tubuh Zi Tao yang terasa sangat pas di pelukannya.

"Tidak" hanya 1 kata yang keluar dari mulutnya.

"Kenapa?"

"Aku besar di Kanada dan Kevin besar di China. Sejak dulu dia sudah di persiapkan untuk menjadi penerus, sedangkan aku memiliki bisnis ku sendiri di Kanada saat berada di kelas menengah pertama"

"Itu keren"

"Yeah. Sejak dulu aku terbiasa membiayai hidup ku sendiri, karena itulah Ayah tidak pernah mencampuri urusan hidup ku"

Hening.

Tubuh Zi Tao di dalam dekapan Kris sudah tidak bergetar lagi, dan tak terdengar isakan lagi. Mungkin si manis bermata Panda itu sudah mulai bisa mengendalikan diri.

Kris menundukkan kepalanya, menyentuh leher Zi Tao dengan hidung mancung dan bibirnya. Meresapi aroma yang menguar dari tubuh tersebut, dekapannya pun semakin posesif. Dan anehnya Zi Tao tak menolak hal tersebut, pria manis itu hanya diam, memejamkan mata dengan nafas yang beraturan, seolah dirinya sedang berusaha menerima perlakuan lembut pria yang sudah membuat batinnya terluka.

"Dengarkan aku Zi Tao. Mulai sekarang kau adalah milik ku, mulai sekarang kau hanya boleh menatap ku. Meski saat ini hatimu belum menjadi milik ku, suatu hari akan ku buat kau mencintai ku dengan cara ku. Jadi bersiap-siaplah peach" Kris berbisik rendah di telinga Zi Tao.

Pria manis itu menahan nafas, bulu-bulu halus di tubuhnya meremang merasakan nafas Kris yang berada di telinga dan turun ke lehernya. Namun, di balik dekapan posesif dan peringatan cinta dengan nada mengancam itu terselip sebuah kehangatan yang membuat Zi Tao tak ingin mengakhiri pelukan ini, situasi ini.

Maka dengan anggukan kecil, Zi Tao merespon pernyataan cinta Kris yang secara tidak langsung, sangat egois dan juga posesif. Mencoba menyamankan diri di dalam kungkungan hangat itu, perlahan ia membalas pelukan Kris dan semakin menenggelamkan wajahnya di bahu lebar pria tampan itu. Berharap rasa sakit dan sesak di dadanya dapat tergantikan dengan rasa yang baru, tanpa harus melukai perasaannya lagi.

END

Finnaly tamat juga! Yeaaaaahhh!

Sumvah gw udah kehabisan ide ma cerita ini, maaf kalau bosen, dengan alur yang kecepetan dan garing bin geje. Gw ga bakat bikin cerita drama panjang2. Jadi siapapun yang baca cerita ini, silahkan tinggalkan jejak :3 ada yang ngeh ga klo lyric bahasa Inggris itu lagunya Sam Smith – Stay With Me? Cuma aku ambil beberapa bagian yang pas sama fic ini aja, aslinya lagunya sih ga pas ma ini fic, wwkwk

Yah, i know, cerita ini end dengan tidak elitnya, hahaha #ketawagaring

Eh iya, ini id line gw → otsu_k

Mungkin aja ada yang mau ngborol2 seputar ff :3 #okabaikan

Oh ya, mungkin gw bakal bikin epilog nya, tapi ga tau kapan di post, hehe. Soalnya gw sendiri juga ga puas sama endingnya -_-)"

Buat ff I We Never Meet Again, kayaknya peminatnya kurang ya klo ga ada yang minat ya ga gw post sekuelnya *meringis*

With love, Skylar

©Skylar.K