Disclaimer Naruto sejujurnya milik Kishimoto-sensei

Tapi "Quenchless" milik saya pribadi

Rated : T, jika ada perubahan pasti akan saya cantumkan pada setiap chapter.

Warning : Kesamaan ide (maybe) , OOC,

Alternative universe

" sesungguhnya saya adalah orang yang hobi menulis, namun baru kali ini memiliki keberanian untuk mempublikasikan karya saya di dunia maya. Jadi , saya mengharapkan dukungannya dari pembaca"

……. Chapter Sebelumnya……

"Ha..ha.. ha.. benarkah itu Hikari?" tawa seseorang yang terdengar dari arah ruang makan. Ternyata benar dugaannya, tamu itu adalah teman ibunya.

Gadis itu melangkah menuju ruang makan dan membuka pintu geser dengan malas-malasan. Niatnya untuk mengambil air putih di kulkas dan lalu naik ke kamarnya untuk menghayalkan kencan pertamanya.

"Tadaima, Kaa-chan." Kata Hinata lirih.

Grep.. seseorang wanita berlari dan memeluk Hinata dengan sangat erat.

"Huwa…. Hinata-chan. O Hisashiburi.. kamu sudah besar dan sangat cantik." Ujar wanita itu tanpa ada niatan melepas pelukannya. Hinata mulai merasa sesak dan pandangannya terhalangi oleh rambut merah wanita tersebut.

"Bibi Kushina baru datang. Maaf yah Hina, Kaa-chan tidak memberi tahu lebih dulu. Tou-chan mu bilang lebih baik kepulangan keluarga Namikaze dirahasiakan saja, sebagai kejutan untuk Hina dan Hana." Kata Hikari tetap fokus pada masakan entah apapun itu.

'Tunggu? Bibi Kushina? Keluarga Namikaze? Itu artinya…..'

Dan dugaan Hinata ternyata benar. Setelah Kushina melepaskan pelukannya, Hinata dapat melihatnya. Rambut pirang itu, iris sebiru safir, tanda lahir di kedua pipi , hal-hal yang masih diingat oleh Hinata.

Dunia mendadak hening. Bahkan Hinata dapat mendengar aliran darahnya yang berdesir, atau detakkan jantungnya yang tidak pernah benar-benar

dirasakannya selama 12 tahun terakhir. Mengapa waktu yang telah berlalu begitu lama kini terasa bagaikan baru kemarin. Layaknya hujan semalam yang menghapus kemarau setahun.

"Yo Hinata, Okaeri. Walaupun harunya aku yang bilang tadaima, sih ." Lelaki itu melambaikan tangan.

Tengah terduduk di kursi meja makan, sambil menatapnya. Pria itu, yang telah dirindukannya hampir setiap hari, selama 12 tahun. Kini ada di hadapannya.

Naruto..

Dia Pulang.

….. Haruno Aozora : Quenchless …..

Chapter 4 : Pertemuan

Hinata terdiam, ditatapnya pemuda itu yang sedang manaikkan satu kakinya di atas kaki yang lain. Bocah pemberani yang dulu selalu tertawa bersamanya, sekarang telah menjelma menjadi pemuda yang amat tampan, dengan rambut jabrik pirang yang menambah kesan kekinian.

"Apa kabar Hinata?" Kata Naruto sambil menepuk pundak Hinata.

Hinata sesaat merasa waktu seakan berhenti sesaat. Telapak tangan besar dan hangat itu terasa familiar bagi dirinya. Meskipun prmuda yang berada di depannya kini telah tumbuh begitu menjulang, tapi Hinata masih bias mengenali telapak tangan itu, yang selalu digandengnya ketika dia ketakutan dulu.

"A…Aku baik Naruto." Hinata hanya menunduk, merasa tak mampu bertahan jika harus bertatapan dengan mata seindah safir itu.

"Jadi, sekarang Naruto sudah pulang. Kau tak perlu menangis ,merengek ingin bertemu lagi Hinata." Kata Hikari, membawa senampan kaarage yang diletakkan di meja, setengah meter dari tempat Hinata dan Naruto berdiri.

"Mou.. Kaa-Chan. Jangan bilang begitu. Aku kan tidak pernah menangis." Hinata meletakkan tangan di kedua pinggangnya.

"Heh… lalu siapa gadis cilik yang mengancam mogok makan kalau keinginannya bertemu Naruto tidak dituruti?" Hikari bicara dengan nada menggoda putri sulungnya.

"Itukan dulu. Sekarang kan aku sudah besar, jangan di ungkit-ungkit lagi dong." Kata Hinata yang pipinya memerah, setengah marah dan setengahnya lagi malu.

"Ha…ha…ha… ternyata kau masih sama menggemaskannya seperti dulu Hinata." Naruto tertawa, dan hinata tersenyum tipis mengingat nada tertawa itu.

"Baiklah, untuk mengakrabkan sahabat yang sudah lama tidak bertemu, bagaimana kalau kalian berjalan-jalan berkeliling komplek? yah sekedar untuk memutar memori yang lama." Kata Kushina sambil tersenyum samar.

"Ide bagus itu. Ayo Hinata, temani aku." Kata Naruto.

" Baiklah, aku ganti baju dulu sebentar."

Dan Hinata pergi, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai kedua. Dia bahkan tidak mengerti harus menari seperti orang gila atau harus menangis sangking bahagianya. Dia senang Naruto telah kembali.

Hinata berganti baju dengan cepat, menyambar apa saja yang paling dekat dengannya. Pengalaman 12 tahun membuat Hinata menyimpulkan bahwa menunggu adalah ketidakpastian yang paling memuakkan. Maka dia tidak ingin Naruto merasakan apa yang dia rasakan selama ini.

Setengah berlari Hinata menuruni tangga, dan hamper terjerembab sangking kagetnya dia berpapasan dengan Naruto. Pipinya menghangat, mengingat tadi keningnya nyaris berbenturan dengan dada Naruto.

"Baru saja aku mau naik ke atas untu menemuimu." Kata Naruto.

"Apa aku lama?"

"Tidak. Hanya saja bibi Kushina berpendapat, sebaiknya aku ke atas. Kalau-kalau ada hal buruk yang terjadi. Oke, kita berangkat?"

"Baiklah."

Kemudian mereka berdua berjalan beriringan, melewati pintu gerbang depan dan terus berjalan santai.

"Jadi, kemana kita?" Tanya Hinata.

"Aku ingin ke taman yang dulu sering kita datangi waktu pulang dari TK." Kata Naruto, memandang kedepan, entah mengapa dia merasa bahwa tatapan Naruto menghangat menatap jalan yang diterangi mata hari senja.

Hinata menatap naruto lekat. Sosok yang selama 12 tahun dia rindukan, kini ada dihadapannya. Hinata sering membayangkannya, namun tidak pernah terfikir olehnya, bahwa pertemuannya akan berlangsung secepat ini. Dia tahu bahwa penantiannya selama ini tidak akan sia-sia.

Mereka berjalan dalam diam, entah apa yang dipikirkan Naruto, Hinata tidak tahu. Yang jelan kini dirinya diliputi pertanyaan. Apakah selama ini Naruto juga merasakan hal yang sama? Merindukannya juga, hingga nyaris membuatnya terjaga semalaman?

"Sampai akhirnya." Kata Naruto tidak bias menyembunyikan keriangan dalam nada suaranya.

Hinata tersenyum. Bagaimanapun juga tempat ini menyimpan banyak kenangan masa kecilnya.

"wah. Ternyata sudah banyak sekali yang berubah." Katanya sambil menuju bangku taman terdekat, Hinata mengekor di belakangnya.

"Tentu saja. Naruto-kun sudah banyak berubah selama 12 tahun, lalu apa yang diharapkan? Taman ini tetap sama? Tentu saja mereka berubah, Naruto-kun." Hinata menatap ramah.

"Benar. Hanya saja terasa aneh, seingatku bangku taman ini terasa lebih besar dari ini."

"Ha…ha…ha… tentu saja. Dulu badan kita kan tidak sebesar sekarang, Naruto." Hinata tertawa kecil.

"Ngomong-ngomong Hinata, apa yang kau lakukan selama aku ada di Ame?" Tanya Naruto langsung menatap mata Hinata.

'Merindukanmu dan menantikan kedatanganmu.' Kata Hinata yang tidak bias didengarkan oleh siapapun, karna dia mengucapkannya dalam hati.

Hinata menatap mata indah itu, menghela nafas panjang. Kata-katanya tadi terdengar bodoh bahkan dalam kepalanya sendiri. Maka alih-alih mengatakan itu, dia memilih untuk mengatakan

"Sekolah, tentu saja Naruto-kun." Katanya dengan tawa yang terkesan dipaksakan.

"ha…ha..ha.. benar juga yah." Naruto tertawa dengan canggung.

"Naruto mengapa kau kembali?" Hinata berusaha menatap bola mata itu, menyusuri kedalaman hati pemuda di depannya.

"Kau tidak ingin aku pulang, Hinata?" Alis Naruto menukik tajam.

"Ah, tentu saja aku ingin Naruto-kun." Hinata menunduk, mentap jari-jari kakinya.

"Kakekku meninggal setahun lalu, tahukah kamu?" Hinata mengangguk.

"Lalu ayahku menyelesaikan beberapa urusan di perusahaan pusat. Tapi ayah bilang sebenarnya ayah tidak terlalu suka tinggal di Ame, lalu menyerahkan perusahaan pusat pada sepupunya. Dia bilang, mungkin kita bisa pindah ke Konoha, dan ayah akan mengurus perusahaan cabang disini." Kata Naruto, matanya menerawang seakan-akan mencoba mengingat sesuatu.

"Aku senang sekarang aku bisa pulang menjelang pertengahan musim panas." Naruto kemnali memusatkan perhatiannya pada gadis yang ada di sampingnya.

"Kenapa?" Tanya Hinata polos.

"Tentu saja Hinata, karna aku bisa menunaikan janji pada teman masa kecilku. 12 Tahun lalu. Aku telah berjanji untuk menonton festival musim panas bersamaku,kan? Maaf Hinata, membuatmu menunggu selama ini. Aku tidak tahan menyaksikan 12 tahun festival musim panas di Ame, aku selalu ingin pulang. Menemuimu, Hinata-chan." Naruto tersenyum, bukan cengiran yang biasa, melainkan senyum manis yang melelehkan air mata Hinata.

"Hey… Hinata kenapa menangis? Apa aku salah?" Naruto terlihat agak panic.

Hinata menggeleng, dan tersenyum. Dia merasa ada kebahagiaan yang mengalir bersama dengan air matanya. Gadis itu mengusap air matanya kasar. Menatap ke depan, di tidak tahu apa dia akan sanggup menatap Naruto, tanpa ada air mata yang mengalir lagi.

"Selama 12 tahun ini, aku selalu berpikir, mungkin hanya aku yang begini. Mungkin Naruto-kun sudah lupa denganku, bahkan aku tidak yakin Naruto akan ingat apa yang dijanjikan sebelum Naruto pergi. Aku pikir mungkin di Ame sangat menyenangkan, dan tentu saja Naruto akan popular dan punya banyak teman. Dan tentu saja mungkin aku dilupakan." Hinata berusaha menahannya, namun air matanya terus mengalir bersama dengan perasaannya yang meluap.

"Jangan bodoh Hinata. Tentu saja aku tidak akan pernah melupakanmu. Kamu satu-satunya teman yang dulu aku punya di Konoha, dan tentu saja tidak mudah bagiku melupakan temanku, jika dia sangat manis dan baik hati." Naruto nyengir. Hinata tertawa, merasa bodoh pada dirinya sendiri.

……. Haruno Aozora : Quenchless ……..

Hinata menyiram tubuhnya dengar air hangat yang mengalir dari shower, masih tersenyum-senyum membayangkan pertemuannya yang tidak terduga dengan Naruto. Dia tak pernah menduga bahwa Naruto masih mengingat janji untuk pulang sebelum musim panas datang. Walaupun kenyataannya dia menepatinya musim panas 12 tahun kemudian.

Dia cepat-cepat membilas sisa sabun yang masih tersisa. Mengabil handuk dan berpakaian secara kilat. Ada yang harus disampaikan pada adiknya tercinta.

Dia setengah berlari keluar dari kamarnya setelah menyisir rambutnya dengan kilat. Menyebrangi semacam ruang keluarga kedua yang berisi sofa, meja dan rak buku meskipun tanpa televise, dilantai dua yang biasa dipakai Hinata, Hanabi dan Neji untuk bersantai, bercerita ataupun untuk membaca komik mengingat mereka bertiga tidur di kamar-kamar yang ada di lantai 2.

"Hanabi" Katanya sambil mengetuk pintu kamar adik perempuannya.

"Masuk." Kata suara dari dalam kamar.

Hinata membuka pintu, dan tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyu. Hanabi memperhatikan kakaknya dengan pandangan mencibir.

"Aku pikir kakakku tercinta, sudah lupa dengan adiknya. Well, pangerannya sudah pulang sekarang. Tentu saja di sudah tidak perlu teman curhat saat dia galau, mungkin sekarang dia tidak akan pernah galau lagi." Sindir Hanabi sambil kembali tenggelam dalam komik yang ada di tangannya.

"Ne… Ne… Hanabi, Nee-chan ingin cerita." Kata Hinata sambil duduk si sisi Hanabi yang sedang berbaring menelungkup.

Hanabi bangkit, melempar komiknya asal dan kini duduk di hadapan Hinata yang mukanya bersemu terang. Tentu saja tadi dia tidak bersungguh-sungguh marah.

"Ada apa Nee-chan?" Kata Hanabi dengan wajah yang menebarkan aura penasaran.

"Tadi Nee-chan ngobrol banyak banget. Ternyata Naruto-kun punya band loh di Ame, trus juga katanya Naruto-kun akan pindah ke sekolahnya Nee-chan. Dia bilang karna pindah ke Konoha mendadak dan belum ada persiapan apa-apa, jadi mungkin dia baru berangkat sekolah habis liburan musim panas." Kata Hinata tak dapat menahan getar kebahagiaan dalam nada suaranya.

"Waah…. Bagus dong kalau begitu. Trus tadi gimana kencannya?" kata Hanabi dengan mata berbinar ingin tahu.

Muka Hinata memerah terang, lebih menyala dari pada sebelumnya.

"Eh… siapa bilang kami kencan? Aku dan Naruto-kun hanya berjalan-jalan santai." Kata Hinata gugup.

Hanabi mengerutkan keningnya, menatap wajah kakaknya untuk mencari nada atau tanda-tanda kebohongan dari mulut kakaknya. Berharap apa yang tadi dikatakan kakaknya adalah kebohongan.

"Bukan, maksudku bukan jalan-jalan konyol Nee-chan dengan bocah kecil yang sudah enjelma menjadi pemuda tampan. Tentu saja bukan itu." Hanabi menatap kakaknya dengan serius.

Dia terkejut, ketika menatap kakaknya yang menampilkan raut wajah tidak mengerti sama sekali dengan pembicaraan ini. Hanabi menghela nafas kasar.

"Bagaimana dengan Toneri-senpai?"

Bagaikan disambar kilat, Hinata bahkan jauh lebih terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan adiknya. Balon kebahagiaan yang ada dalam hatinya meletus secara tiba-tiba.

"Nee-chan bilang pagi ini mau menemui Toneri-senpai,kan?"

Hinata tertegun. Masih belum bisa mengatasi keterkejutannya, dia hanya mengangguk.

"Trus? Apa jawabannya? Kalau Nee-chan menolak Toneri senpai, pasti akan langsung pulang kan? Lalu kenapa baru pulang sore-sore, pasti kalian melakukan kencan pertama kan?"

Hinata hanya terdiam seperti orang linglung yang baru mendapat kabar kematian, tak mampu menjawab pertanyaan adiknya. Lalu kabut pengertian memasuki kepala Hanabi.

"Aku paham sekarang." Kata Hanabi sambil menghela nafas panjang mengalihkan perhatian Hinata yang mendadak seperti memiliki ketertarikan luar biasa untuk menatap jari-jari tangannya.

"Jadi, Nee-san menerima Toneri-senpai, dan lalu kalian kencan. Mungkin Nee-san pikir tidak ada salahnya untuk menerima cinta dari ketua osis tampan itu. Nee-chan pikir untuk mulai menyukai Toneri-senpai dan mulai menyakinkan diri sendiri bahwa kemungkinan Naruto-Nii kembali sama besarnya dengan kemungkinan Neji-nii memotong rambut panjang kebanggaannya. Begitu,kan?" Kata Hanabi.

Hinata merutuki kebodohannya, juga kepintaran Hanabi untuk menebak jalan pikirannya. Dia menatap Hanabi yang matanya membulat seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh bibirnya sendiri.

" Aku tidak percaya dengan apa yang aku pikirkan, dan aku harap tebakan selanjutnya salah. Aku tidak sanggup menyatakannya, tapi aku harus." Hanabi bergidik ngeri.

"Lalu kemudian setelah kencan pertama yang indah, Nee-chan pulang. Dan tebak siapa yang ditemuinya di dapur? Naruto-nii! Kemudian sangking bahagianya karena bertemu dengan cinta pertamanya. Nee-chan lupa bahwa dia sekarang, sejak beberapa jam lalu telah resmi menjadi pacar murid terpopuler di sekolah. Kemudian dia disibukkan dengan kebahagiaan dan berbagai kemungkinan untuk kembali meneruskan cinta yang lalu. Mungkin rasanya cinta itu seperti beruang yang sedang berhibernasi, dan sekarang terbangun kembali setelah musim semi datang. Begitu kah?" kata Hanabi dengan tatapan mata menuntut jawaban.

Tenggorokan Hinata menjadi kering. Dia tak yakin bahkan mampu mengucapkan sepatah kata pun. Maka dengan gerakan yang putus-putus, Hinata menganggukan kepalanya, yang tak pernah terasa seberat ini sebelumnya.

"Aku tidak percaya!" Kata Hanabi sambil menutup mulutnya karena syok.

"Aku tidak ingin ikut campur. Tapi dengarkan aku. Aku tahu mungkin Nee-chan begitu menyukai Naruto-nii hingga melupakan fakta bahwa Nee-chan sekarang sudah memiliki kekasih. Tapi , jika apa yang dikatakan Nee-chan benar. Bahwa Toneri senpai sudah menyukai Nee-chan sejak lama, dan aku yakin itu benar. Dia sangat menyukai Nee-chan! Kalau tidak begitu, mustahil dia berlarian mengejar wanita bodoh di bawah guyuran hujan untuk menyatakan cinta." Kata Hanabi dengan tegas.

"Aku tidak peduli. Tapi , karna ini menyangkut masa depan kakakku satu-satunya. Maka aku akan bertanya. Bagaimana selanjutnya? Apa Nee-chan akan memutuskan Toneri-senpai yang jelas menyukaimu, lalu kembali suka diam-diam pada orang yang menghilang 12 tahun, dan tidak jelas perasaannya bagaimana. Atau Nee-chan akan memulai hidup yang baru, tanpa pengharapan cinta yang berlebihan?"

Hanabi , baru 15 tahun dan belum pernah berpacaran, dan hanya mendapatkan ilmu cinta dari novel picisan, menanyakan hal yang bahkan tidak pernah terpikirkan di kepala Hinata.

"Jawab aku Nee-chan." Hanabi mengguncang bahu kakaknya dengan raut wajah khawatir.

"Akuu…." Hinata menemukan kembali suaranya, Hanabi menatap kakaknya seakan ingin tahu, cengkraman tangannya melemah pada kedua bahu kakaknya.

"Aku pikir, aku akan…."

Ceklek.

Pintu kamar Hanabi terbuka. Kedua kakak beradik itu menatap pintu, bertanya-tanya siapakah pengganggu yang datang. Neji dengan hair dryer di tangannya mengintip, dengan wajah bersalah, memahami bahwa mungkin dia telah menggangu percakapan penting.

Neji membuka pintu sedikit lebih lebar, hingga kini kedua kakak beradik itu dapat dengan jelas melihat seluruh badannya.

"Aku hanya mau memberi tahu. Ji-san bilang, kita sekeluarga diundang untuk makan malam bersama keluarga Namikaze. Aku diminta menyampaikan bahwa kalian seharusnya bersiap-siap. Baiklah, itu saja."

Brug, pintu ditutup perlahan. Hinata dan Hanabi kembali berpandangan.

……. Haruno Aozora : Quenchless ……..

TBC

Yatta! Akhirnya chapter ini selesai juga. Author pribadi mohon maaf karna telat update. Jujur saja terlalu banyak kesibukan dan tugas sebagai pelajar akhir tahun. Dan Try out serta persiapan masuk Perguruan tinggi yang bikin sakit kepala. Akhirnya Fanfic ini terlupakan sejenak, Author (dengan bodoh) berpikir untuk menghentikan penulisan FF ini, karna mungkin agak kurang diminati. Tapi , beberapa hari yang lalu setelah dicek, ternyata masih ada yg support FF ini. Bahkan mengancam akan memenggal leher author kalau ngak Up lagi.

Maka author mengucapkan Terima kasih banyak. Dan akan terus berjuang untuk menyelesaikan FF ini. Jadi Mohon dukungannya, Minna. Reviewnya… karna dengan mereview maka author akan tahu kalau masih ada yang menantikan kelanjutan Quenchless (/)

Doumo Arigatou Gozaimasu! Yoroshiku Onegai Shimasu!

Jaa… Mata ne….