"Ha...Haneuma..."

Lelaki berambut pirang itu tidak menjawab bisikan halus Hibari. Dengan agak segan, Hibari berjalan mendekati Dino yang masih duduk di kursi rodanya tanpa suara. Saat ia cukup dekat untuk mendengar tarikan napas tenang milik Dino, Hibari menyadari boss Cavallone itu tengah tertidur pulas di bawah terik sinar matahari yang hangat.

Hibari menarik napas agak lega melihat ekspresi damai Dino. Namun ia kembali menggigit bibirnya saat melihat sebuah bekas luka dalam yang kini menghiasi pelipis Dino. Begitu pula dengan beberapa luka bakar yang menyembul dari balik kerahnya. Entah apa lagi yang disembunyikan lelaki itu di balik baju lengan panjangnya. Dino kelihatan lebih kurus dan pucat dibandingkan dari Dino yang diingatnya.

Dengan hati-hati, berusaha agar tidak membangunkan boss yang sedang tertidur itu, Hibari berlutut dan dengan sangat perlahan menyentuh tangan Dino. Perlahan sang awan menyelipkan jemarinya di antara jari-jari Dino yang panjang, mengelus tangan besar dan hangat itu dengan ibu jarinya, lalu menempelkan bibirnya halus ke punggung tangan itu.

"Haneuma..." bisik Hibari dengan sedih.

Tiba-tiba, sesuatu yang besar keluar dari danau. Seekor kura-kura raksasa yang dikenal Hibari sebagai Enzio. Kura-kura itu mendelik ke arah dan mengeluarkan geraman pelan, seakan mengancamnya untuk melepaskan genggamannya dari tangan majikannya.

Hati Hibari tercekat. Selama ini, walau Enzio sedang dalam mode raksasanya, tidak pernah sekalipun kura-kura itu berbuat kasar atau menyerangnya. Namun melalui perlakuan makhluk itu Hibari bisa melihat, di mata Enzio Hibari adalah ancaman bagi keselamatan Dino. Musuh.

Tiba-tiba bulu mata Dino yang panjang bergetar dan lelaki itu perlahan membuka matanya. Mata Dino yang cokelat indah tidak terfokus, menandakan pengelihatannya yang telah hilang. Hibari menahan nafasnya, berusaha sebisa mungkin agar Dino tidak menyadari keberadaannya.

Sang Don Cavallone mengerjap-ngerjap matanya yang sudah tidak berfungsi dan mengusapnya perlahan, menghapus kantuk yang masih ada. Lalu dengan suara yang dalam dan lembut pria itu berkata,

"Siapa disitu...?" sapa Dino sambil tersenyum.

Hibari menutup mulut dengan kedua tangannya. Berusaha membendung segala emosi yang ingin dikeluarkannya saat akhirnya mendengar suara yang dirindukannya.

"Ayolah... hanya karena aku tidak bisa melihat bukan berarti aku tidak bisa merasakan keberadaanmu..."

"Siapa kamu?"

Pria berambut hitam itu tetap tidak menjawab. Hatinya pedih melihat sosok Dino yang kini terlihat begitu lemah. Begitu rapuh. Melihat lelaki yang dahulu begitu kuat dan tegar hancur dan terpaksa terjebak dalam tubuh yang begitu lemah. Dan semua itu terjadi di atas tangannya. Tangannyalah yang telah menjadikan Dino seperti ini.

"Hmm? Kenapa kau tidak menjawab? Aku tidak merasakan hawa jahat darimu... Apa kau orang suruhan Romario? Atau orang Varia? Kalau kau mencari mereka, mereka di dalam..."

Lalu, mencoba memberanikan diri, Hibari berlutut di samping kursi roda Dino dan menelan ludahnya,

"...Ha..."

"VOOOOIIII! HANEUMA! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI!" sebuah suara menggelegar, memecah keheningan.

Dengan terkejut kedua pria itu memalingkan muka dan menemukan seorang pria berambut keperakan panjang berjalan cepat mendekati mereka dan seorang pria setengah baya berlari terpogoh-pogoh di belakangnya,

"Squalo? Aku sedang ajak bicara dia..." jawab Dino polos sambil menunjuk ke arah hibari, "Dia siapa sih? Dia tidak mau menjawabku dari tadi..."

Superbia Squalo mendelik tajam kepada Hibari, mengancamnya agar tidak bersuara sepatah katapun. Lalu ia menjawab Dino dengan kasar, " Cih... Jangan dipikirkan... Dia bawahanku... Hei Pak tua! Cepat bawa Haneuma ke dalam! Si sampah ini belum minum obatnya 'kan untuk hari ini!"

Romario yang sejak tadi memandangi Hibari dengan pandangan panik dan seakan tidak percaya akan keberadaan, langsung mendatangi bossnya dan membuka kunci kursi rodanya, "Ayo Boss... Hari sudah mulai dingin... Sebaiknya kita masuk..."

"Heee? Aku masih mau di luar Romarioo..." rengek Dino

"VOOOIII! JANGAN BANYAK PROTES DEH! KALAU KAMU SAKIT LAGI KITA REPOT TAHU!" Squalo mendamprat Don Cavallone yang kekanakkan itu dengan keras, dan dengan seketika dibalas dengan bibir Dino yang cemberut.

"Huuh... Iya deh Squalo... Ayo Romario..."

Romario, setelah menganggukan kepalanya kepada Squalo dan melirik segan pada Hibari, mendorong Dino kembali ke dalam rumah. Setelah Dino dan Romario jauh dari jarak dengar, Squalo memalingkan pandangannya kepada Hibari,

"Apa maumu? Dari mana kau tahu tempat ini heh sampah?"

Hibari hanya menundukan kepalanya lalu berkata, "Bukan urusanmu... Superbia Squalo..."

Squalo mendecakkan bibirnya, "Yah maaf-maaf saja ya! Kalau keberadaanmu di sini ada hubungannya dengan si Haneuma bodoh itu, itu urusanku! Sekarang aku tanya, apa maumu!"

Hibari memelototi lelaki berambut panjang itu tajam. Lalu dengan suara berbahaya dia menjawab, "Memang apa hubunganmu dengan Haneuma? Kenapa kau begitu peduli dengannya?"

Mendengar kata-kata Hibari, Squalo terdiam. Lalu tiba-tiba ia tertawa keras-keras, "Saat si bocah berkacamata itu menelponku dan mengatakan kalian sudah kembali seperti biasa..." sengalnya di antara tawanya, "Kukira ia bergurau... Agaknya aku salah... Kau benar-benar sudah kembali... Dasar bodoh... Kalau aku ada hubungan seperti itu dengan kuda ceroboh itu bisa-bisa kami dibakar habis oleh bossku yang brengsek itu!"

Saat tawanya habis, wajah Squalo kembali berubah serius dengan seketika. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hibari,

"...Tapi jangan harap kau bisa semudah itu mendekati Haneuma lagi bocah! Aku tidak akan membiarkannya kau sakiti lagi! Dia sudah terlalu rapuh untuk terjatuh lagi!"

Hibari menghela napas. Hatinya berkecamuk mendengar perkataan teman lama Dino tersebut.

"Itu... Boleh tidaknya aku kembali di sisi Haneuma... Bukan keputusanmu... Biarkan aku menemui Haneuma... Biarkan dia yang memutuskan..."

Squalo hanya tertawa mengejek, "Kau pikir Haneuma akan lebih mementingkan dirimu daripada keluarganya sendiri? Selama setahun ini kau tahu apa yang kalian, bocah-bocah Vongola, lakukan pada kami dan keluarga Cavallone? Jangan terlalu banyak berharap kau sampah!"

"...Baiklah... Aku akan pergi hari ini... Namun jangan harap aku tidak akan kembali untuk mencoba menemui orang itu lagi..."

"Aku ingin melihatmu mencoba, bocah sampah! Hanuema berada di bawah perlindngan Varia! Kami tidak akan membiarkanmu mendekatinya!"

"...Bagaimana kalau yang datang adalah boss keluarga Vongola, datang secara resmi dengan maksud perdamaian?" Tiba-tiba sebuah suara memotong percakapan kedua lelaki tersebut.

Sawada Tsunayoshi, didampingi oleh guardian of the mist nya berdiri di pinggiran hutan dengan wajah tegar.

"Lama tidak jumpa Squalo-san... Tapi... Bolehkah kami menghadap ke Dino-san sekarang?"

TBC

A/N Ini chapter terbaruuu~ maaf ya pendek, soalnya untuk nyempil-nyempilin waktu nulis aja susaah =_=

Maaf juga yaa chapter yang lalu juga banyak salah, karena emang buru-buru banget nulisnya, begitu juga dengan chapter ini... orz mohon maaaaffff

Maaf kalo ada yang OOC yaaaa (Aduh maaf ini A/N isinya permohonan maaf semua... =_=vv)

Tapi semoga suka sama chapter ini dan bersedia baca cerita ini terus ampe selesai yaaa