Shizu: "Yosh! Para readers terhormat, selamat datang kembali ke fanfic saia ini. Silahkan dibaca, and Review please!"
~She is My Girlfriend~
~Romance, Friendship, Humor (mungkin)~
~Disclaimer: Tite Kubo~
~This fic: mine~
BRUUK,
"Hosh…hosh…hosh… Uhuk…uhuk…" laki-laki berambut biru itu jatuh terduduk, tubuhnya terasa lemas, padahal ia belum melayangkan satu tinju pun pada lawannya sekarang. Nnoitra Jiruga.
"Khuhuhu…. Bagaimana sekarang, bocah?" tanyanya dengan nada meremehkan. Perut Grimmjow serasa terkocok dengan tidak teratur, ia serasa ingin muntah.
"Ukh…, sial, Grimmjow bertahanlah!" teriak temannya yang juga sedang sibuk berkelahi dengan anak buah Nnoitra.
BUK, DUAK! Dengan cepat dan sikap tenang, Ulquiorra Cifer, menendang lawan di depannya, dan yang dibelakangnya ia sikut dengan tangannya.
"Ichigo, cepat keluar dari situ!" tunjuknya pada Kurosaki Ichigo, untuk keluar dari kerumunan-kerumunan itu, dan menolong Grimmjow. "Di sini biar aku yang urus."
"Ok! Kuserahkan padamu!" Ichigo langsung menerobos dengan liar kerumunan itu, tak peduli punggungnya dipukuli, maupun baju seragamnya ditarik-tarik hingga robek.
BUAGH! Akhirnya Ichigo berhasil meninju Nnoitra yang lengah, dan langsung terlempar ke belakang.
"Hosh…hosh…. Rasakan itu!" nafasnya memburu, lalu Ichigo segera menolong Grimmjow sambil menyentuh pundaknya, "hoi, kau tidak apa-apa?"
Tetapi Grimmjow yang masih diam tertunduk, langsung menepis tangan Ichigo dari pundaknya.
"Jangan ikut campur, ini pertarunganku, kembalilah ke sana!" perintahnya, walaupun tidak dengan nada mengancam.
"Ka-kau bodoh ya? Dia itu kuat! Jangan sembarangan berbicara seperti itu, Grimmjow!" teriak Ichigo penuh emosi, sambil mencengkram kerah baju Grimmjow.
"Hei hei, saat ini bukan waktunya untuk berkelahi sesama teman, bukan?" tanya Nnoitra dengan smirk yang ia pasang di wajahnya.
"Cepat minggir…. Bodoh! Dia datang," ucap Grimmjow, rambutnya yang bewarna biru laut itu sudah berantakan.
Ichigo diam, ternyata temannya yang satu ini memang keras kepala. Tapi mau bagaimana lagi, Ichigo juga bisa merasakannya. Jika ini adalah pertarungan untuk dirinya sendiri, ia pasti tidak akan mau dibantu. Biarkanlah seperti ini, karena jika Grimmjow menang dengan bantuan dari Ichigo, kau yang akan menghancurkan harga dirinya.
BUAK!
Dengan cepat Nnoitra menendang Grimmjow.
"Ichigo! Kenapa kau diam saja!" tanya Ulquiorra dengan sedikit membentak.
Ia diam, sambil mengepalkan erat tanganya. Lalu menengok ke arah Ulquiorra, "kita hajar dulu mereka, Ulquiorra."
Ulquiorra menatap Ichigo dengan kerutan di dahinya. Apa yang ia bicarakan barusan? Kenapa Ichigo bisa menelantarkan temannya, padahal tadi ia ingin sekali membantu Grimmjow.
GREP!
"Maaf…. Aku sudah membuatmu menunggu ya?" Grimmjow memegang tangan Nnoitra yang ingin memukulnya, lalu ia bangkit berdiri. Mata Nnoitra membelalak tak percaya, begitu juga Ichigo dan Ulquiorra.
"Nnoitra-sama! Awas!"
BUAGH!
Dengan mudahnya tangan Grimmjow meninju wajah Nnoitra, sehingga darah langsung berbekas di jarinya.
"Uhuk…uhuk…, si-sialan kau!"
Grimmjow mendekati Nnoitra yang masih jatuh terduduk, anak-anak buahnya sudah rusuh memanggil nama Nnoitra. Lalu Grimmjow berkata kepadanya, "bagaimana? Apakah masih belum cukup?"
Nnoitra diam sambil mengelap darah di ujung bibirnya, lalu membalas omongan Grimmjow, "tentu saja belum, bocah."
Dengan gigi yang menggertak, Grimmjow bersiap memukul Nnoitra lagi.
"Hentikan!"
Sebuah suara yang cukup keras, membuat gerakan mereka semua terhenti, dan tentunya mengarah ke arah suara itu.
"Ta-tatsuki, Renji?" tanya Ichigo, melihat 2 temannya yang sudah selesai ikut klub karate itu. Tapi bukan hanya berdua saja, ada satu perempuan yang keluar dari belakang punggung Renji. Itu Nelliel.
"Yo! Lagi berpesta ya?" sapa Renji dengan santainya.
"Kalian ini apa-apaan sih? Untung aku diberitahu oleh Nelliel, kalau ada perkelahian di sini. Kalau tidak segera dihentikan, mau sampai kapan, hah?" bentak Tatsuki dengan garangnya.
'Dia memang cocok jadi kakak OSIS,' batin Ichigo dengan sweatdrop.
"Cih! Dasar pengganggu!" desis Nnoitra sambil bangkit berdiri. Lalu matanya menatap ke arah anak buahnya yang masih mengerumuni Ichigo dan Ulquiorra.
"Kita hentikan ini semua! Ayo pergi!" perintahnya tegas.
"Tu-tunggu!"
BUAK!
"Kau mau apa lagi sih Ichigo? Sudah bagus mereka mau menghentikan perkelahian ini, kalau tidak, nanti tidak akan selesai-selesai!" bentak Tatsuki sambil menyikut pinggang Ichigo. Sampai tulangnya encok. (?)
"Ugh! Baik…baik… aku minta maaf."
Akhirnya keadaan yang panas itu bisa kembali terselesaikan dengan datangnya Arisawa Tatsuki dan Abarai Renji. Tentunya dengan bantuan Nelliel, kalau tidak, mungkin akan banyak kaca yang sudah pecah berkeping-keping.
"Kau tidak apa-apa, Grimmjow-kun?" Nelliel segera menghampiri Grimmjow. Nafasnya masih memburu, hawa panas masih dikeluarkan dari pori-pori di kulitnya.
"A-aku baik-baik saja, tenanglah," ucapnya lembut, walaupun dari pancaran matanya ia masih menyimpan kekesalan.
Yang lain segera membereskan kekacauan itu. Untung tidak ada guru-guru yang mengetahui dan mendengar perkelahian ini. Kalau iya, pasti mereka semua akan di 'Drop Out' dari sekolah.
"Kalau sudah merasa baikan, kita langsung ke rumahku. Istirahat di sana juga tidak apa-apa," ucap Ichigo. Ia mengenakan jaket, karena baju bagian belakangnya sudah robek. Mana mau Ichigo pulang jika ia harus memberikan tontonan gratis bagi para banci yang selalu berkeliaran di dekat rumahnya?
"Terimakasih, teman-teman." Grimmjow menatap ke 3 sahabat satu gengnya.
"Tentu saja, kami akan selalu membantumu."
"Dan terimakasih juga, Nelliel." Ia memberikan senyumnya pada Nelliel, dan tentu saja wajahnya memerah.
"Sama-sama, Grimmjow-kun."
Akhirnya mereka pulang ke rumah Ichigo—karena ingin mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh seorang guru sesat—. Tatsuki pulang ke rumahnya sendiri, bagaimana dengan Nelliel? Ia memaksakan dirinya untuk ikut ke rumah Ichigo, agar bisa mengobati luka-luka Grimmjow. –Bae banget =.="—
"Oke, kita sampai!" Ichigo membuka pintunya, kemudian mereka semua berhamburan masuk. Karena tidak ada siapa-siapa, jadi mereka bebas melakukan apapun. Termasuk membakar rumah Ichigo. –GELEPAK!—
"Jadi…, mau dikerjakan sekarang, apa istirahat dulu?"
"Terserah pemilik rumahnya," ucap Renji dengan santai, tidak merasa kalau ia ditatapi oleh Ichigo dengan deathglarenya.
Akhirnya karena tidak ada yang menjawab, Ichigo memutuskan untuk beli minuman teh bot*l di warung. –Ichigo: "Gak nyambung!"—
Maksud saia, akhirnya si anak pemilik rumah ini, memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ichigo selaku pembokat rumah, –Shizu kabur—memberikan minuman untuk mereka, dan beberapa snack.
"Bagaimana? Sudah enakan?" tanya Nel, yang duduk di sebelah Grimmjow.
"Iya, kamu tidak pulang, Nel?"
"Ehmm…." Nel menunduk malu, lalu melanjutkan, "tidak, aku khawatir jika terjadi apa-apa denganmu, Grimmjow-kun. Jadi aku ikut bersamamu ke sini."
3 sahabat Grimmjow yang lainnya langsung jawdrop. –Bisa bayangin gak tuh Ulquiorra jawdrop kayak gimana, huahahaha—
'Nelliel ternyata so sweet banget,' batin ke tiganya.
"Hehe… tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu, Nelliel. Aku baik-baik saja, kok," ucap Grimmjow sambil mengacak-acak rambut Nelliel.
"Ta-tapi, Grimmjow-kun—
"Jangan panggil aku dengan embel-embel 'kun', panggil saja Grimmjow."
"Ba-baiklah. Lagipula aku juga ingin berterimakasih kau sudah mau menolongku tadi, kau tahu dari mana aku sedang ada di sana bersama Nnoitra?"
Grimmjow menatap Nelliel yang memasang wajah bingungnya itu. Jantungnya terasa ingin berteriak, 'Aaaah! Wajah Nelliel imut sekali jika sedang bingung seperti itu! Aku serasa ingin mencubitnya!' Tapi, ia urungkan niat itu. Kalau Grimmjow sudah memilikinya sebagai pacar, barulah ia lakukan.
Eh, sebentar…. Pacar? Dari awal wajah serta kelakuan Grimmjow itu tidak cocok untuk memiliki seorang gadis cantik yang menemani hidupnya. Ia lebih senang berkutat dengan gengnya daripada harus berpelukan mesra dengan kekasihnya seperti yang ada di film-film itu. Tapi, kenapa sekarang di otak Grimmjow terlintas sepatah kata yang disebut 'Pacar'?
"Hoi! Nelliel bertanya padamu, jadi jawablah!" Ichigo membuyarkan lamunan Grimmjow dengan menjentikkan kedua jarinya.
"Ah, eh? Oh iya, kamu bertanya apa tadi, Nelliel?" Grimmjow pura-pura lupa dengan pertanyaan Nelliel tadi, supaya ia bisa melihat wajah bingung Nelliel yang baginya imut itu.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau Nelliel ada di sana tadi?" ternyata Renji yang malah bertanya dan mendekatkan wajah sangar banyak tatonya di wajah Grimmjow.
"Baka! Jangan dekat-dekat! Aku sudah tahu itu!" spontan Grimmjow menabok wajah Renji sampai penyok. (?)
"Sialan kau! Lalu kenapa tadi kau bertanya, kalau sudah tahu?" akhirnya karena kehabisan kata-kata, Grimmjow diam. Ketahuan deh, wajahnya yang sudah memerah itu.
"Hayooo! Mikirin siapa hayoooo?" tanya Ichigo dengan nada jahil.
"Pasti ia memikirkan gadis yang nanti akan menjadi calon pacarnya," sahut Ulquiorra, sambil meneguk minumannya dengan tenang.
"Ti-tidak! Itu bukan apa-apa, aku…aku hanya memikirkan tugas kita saja!" Grimmjow langsung membantah mereka bertiga. Tapi mereka malah menatapnya dengan senyum licik yang mengembang di wajah masing-masing.
"Ba-baiklah! Lebih baik kita langsung mengerjakan tugasnya!" Grimmjow berhasil mengalihkan topik pembicaraan. Lalu mereka berempat dengan Nelliel—dia hanya ngeliatin aja kok—mengerjakan tugas itu. Penuh canda tawa yang memenuhi ruang tamu itu. Memang walaupun awal-awalnya mereka harus babak belur, tapi akhir-akhirnya mereka dihajar oleh tertawaannya masing-masing.
Hari semakin sore, murid-murid Karakura High School itu masih mengerjakan tugas kelompok dengan ramainya.
"Yosh! Akhirnya selesai juga!" teriak Ichigo sambil membanting penghapus karet yang dipegangnya sedari tadi.
"Hehehe!" Nel hanya tertawa kecil. Ia tidak diberikan tugas kelompok dari wali kelasnya. Jadi dia sih santai-santai aja.
"Nel, kau mau kuantar pulang? Hari sudah sore lho," ucap Grimmjow sambil menunjuk ke jendela.
"Eh? Memang tidak merepotkan Grimmjow?"
"Tentu saja tidak," cerocos Renji. "Masa hanya mengantarkan pulang saja pakai acara repot-repor? Santai saja."
"Oi! Itu kata-kataku tahu!" sela Grimmjow.
"Hahahaha!" yang lain tertawa. Lalu akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing, kecuali Grimmjow yang harus mengantarkan Nel pulang terlebih dahulu.
"Oh iya, pertanyaan ku yang tadi belum di jawab lho, Grimmjow."
"Ehmm, oh yang tadi ya. Aku mengetahui kamu ada di sana, dari seorang senpai yang sudah aku kenal sejak kelas 1."
"Benarkah? Siapa namanya?"
"Ichimaru Gin. Katanya dia tidak sengaja melihatmu berduaan dengan Nnoitra, dan kelihatannya kamu butuh bantuan. Jadi ia yang menyuruhku," jelas Grimmjow.
"Oh, begitu ya. Nanti sampaikan ucapan terimakasih ku padanya ya! Nnoitra itu memang laki-laki yang menyebalkan, hampir setiap hari ia menggangguku. Ingin sekali cepat-cepat lulus dari sekolah ini, sehingga tidak bertemu lagi dengannya," ucap Nelliel sambil memandang ke langit yang sudah bewarna kejingga-jinggaan itu.
Grimmjow mendengar cerita Nel dengan antusias, rasanya ia juga ingin melindungi Nelliel dengan tangannya. Sehingga ia bisa bebas berteman dengan siapa saja, termasuk dengan laki-laki.
Kenapa dada Grimmjow serasa berdetak? Bukankah seharusnya jantung yang berdetak. Ah lupakan, maksudku, perkataan yang barusan terlintas di kepala Grimmjow, 'termasuk dengan laki-laki', sedikit aneh baginya. Jika ia mengulangi kata-kata itu lagi, perasaan cemburu terlihat mulai mendatanginya. Heh, aku baru tahu kalau Grimmjow bisa merasakan kata 'cemburu' juga, dia kan laki-laki yang tidak terlalu tertarik dengan urusan percintaan, atau kisah-kisah romantis lainnya. Sayangnya Author buat nih genrenya romance. –Woi! Kagak nyambung!—
Oke, kita luruskan saja, kelihatannya Grimmjow bisa merasakan apa artinya 'jatuh cinta pada pandangan kedua.' Lho? Kenapa pada pandangan kedua? Karena pandangan pertamanya ia hanya menyukai Nel,—yang waktu di perpustakaan itu—, dan sekarang yang keduanya saat ia menyelamatkan Nelliel.
"Yak! Sudah sampai!" tak disangka lamunan Grimmjow sudah membuat Nelliel sampai di rumahnya. Untung kakinya masih bisa berjalan dengan lurus, kalau tidak, pasti wajah Grimmjow yang penyok itu, makin penyok ketabrak tiang. –Shizu kabur sebelum disambet Grimm—
"Baiklah Nelliel, sampai berjumpa besok!" ucap Grimmjow sambil mengangkat tangan kanannya.
"Iya, terimakasih untuk semuanya ya, Grimmjow!" Nel tersenyum hangat, mata blue aqua milik Grimmjow yang melihat wajah Nel, langsung meledak saat itu juga. (?)
"Ah i-iya, tak usah sungkan. Ba-baiklah, aku pulang dulu ya!" Grimmjow menggaruk-garuk pipinya, lalu langsung berlalu pergi. Tak disangka ia bisa bersikap segugup ini di depan seorang gadis… yang benar-benar dicintainya.
'Perasaan apa ini?'
~TO BE CONTINUED~
Shizu: "Hoo! Akhirnya chapter 4 nya di publish juge." –menghela nafas—
Shizu: "Tapi pertama-tama, dan yang utama, kita balas Review dari Readers dolo!"
Pertama dari Mi-Cha-Cha, hehehe, maklum lah, saia itu anak ndeso. Wah kalo kali ini Nelliel nyerah dulu ngelawan Nnoitranya, soalnya dari manganya juga dia menang terus kan? Jadi gak adil dong. –Digaplok—Oke terimakasih atas Reviewnya! ^^
Kedua dari retrogami, wah kalo yang itu sih masih belum romantis. Mungkin chapter kali ini yang menurut saia romantis, ehehe. Terimakasih atas Reviewnya! ^^
Terakhir dari Resha, oh tenang aja kok, senseinya udah pada saia sekap di gudang. Jadi pada kagak tau, hahaha. Masa sih Grimmjow keren? Gak mungkin. –Ditendang—Oke, ini udah di update, semoga terhibur ya! Arigatou! ^^
Shizu: "Gomen sebesar buah nanas yang nangkring di kepala Renji, jikalau updatenya super-super lelet! T.T. Bahkan masih cepetan siput lari kali."
Shizu: "Well, gak banyak cingcong, silahkan di Review. As always gak nerima 'Flame', dan sampai jumpa di chapter berikutnya!"
