Arigatou buat yang sudah mereview.. saya benar-benar terhura ada yang suka dengan cerita saya... (TwT) mohong mangap saya tidak sempat membalas semua review karena tugas saya menumpuk tidak karuan. (pada dasarnya, saya adalah orang yang malas)
Oke... dari pada berleha-leha (artinya apa ya?) mending lanjut...
~saddenly it's Magic~
Disclaimer: beberapa nama chara yang muncul adalah milik aoyama sensei saja! Dan sebagian lain hanya sumbangan dari pembaca.
Warning:abal, jelek, alur macet, typo entah dimana, no EYD, dan tidak berprikecharaan.
~magic World~
~Shinichi Days~
"ra... RANN?" shinichi berteriak dengan histeris. Sedangkan Tsumi yang berada di depan shinichi hanya membenarkan telinganya yang serasa berdenging.
"pangeran... anda tidak pulang semalam, anda kemana saja?" tanya Ran dengan wajah khawatir.
Shinichi sukses salah tingkah. Dirinya tidak menyangka kalau didunia ini ada KEMBARAN Ran. Ia mengira, hanya keempat pangeran saja yang memiliki kembaran.
"um... semalam dia dan ketiga temannya menginap di tempatku. Sebenarnya, kami berencana pulang nanti sore, tapi dia bilang dia bisa dimarahi oleh baginda yusaku jika terlambat" jelas Tsumi kemudian. 'Hey... bersikaplah layaknya kau seorang pangeran!' Bisik Tsumi pada shinichi.
Shinichi mengubah sikapnya menjadi lebih tegap dan lebih berwibawa. Entah ini memang bakat shinichi, atau itu adalah bakat warisan ibunya.
"kalau begitu pangeran, saya akan menyiapkan makan siang... Tsumi-san... aku duluan ya.." ujar Ran dengan senyum sopan di wajahnya.
Tsumi mengangguk dan membiarkan Ran pergi terlebih dahulu.
"aku sebenarnya bertanya-tanya, kenapa kau bisa sangat dipercaya? Bahkan Ran tidak marah mengetahui aku menginap di rumah seorang wanita." Ujar Shinichi heran.
Tsumi hanya tersenyum kecil. "kita semua kan satu sekolah..." ujar Tsumi pendek. "sekolah kita semua adalah sekolah Magic. Semua murid yang ada disana adalah murid yang bisa bergaul dengan semua jenis tanpa membeda-bedakan, jenius, dan saling percaya" jelas Tsumi.
Shinichi hanya manggut-manggut mengerti. "tunggu! 'semua jenis' apa maksudmu?" tanya shinichi.
"semua jenis. Di dunia ini, ada beragam makhluk, half-blood yang merupakan darah campuran antara hewan dan manusia, ada Thor, ada beberapa jenis Monster, dan beberapa makhluk lainnya. Tapi semua yang ada di sekolah, adalah makhluk yang baik kok... kau hanya butuh saling percaya saja" jawab Tsumi.
Shinichi kembali mengangguk-angguk. "apa yang kita pelajari di sekolah?"
"apa kau bodoh? Tentu saja kita mempelajari sihir!" jawan Tsumi setengah mengejek.
"bukan begitu, aku kan manusia! Mana mungkin bis sihir!" ujar Shinichi
"kalau itu, kau tidak perlu khawatir. Kalian memang akan mempelajari sihir. Tapi, ketika ada praktek, kalian dilarang mengikuti. Kalian boleh ke kantin atau sejenisnya. Yang penting, kalian tidak menggunakan sihir" jawab Tsumi
Shinichi mengangguk-angguk mengerti.
Kecepatan sapu terbang Tsumi meningkat. Tsumi tidak mau membuang waktu lagi. Ia pergi menuju laut biru yang luas dan terbang menuju tengah lautan. Shinichi ingin bertanya mengapa mereka malah ke laut? Tapi shinichi mempercayai Tsumi dan memilih tidak berkomentar.
Sebuah pulau kecil terlihat. Pulau yang hijau. Shinichi tercengang melihat sebuah istana yang megah yang berada di tengah-tengah pulau. Istana dengan empat buah menara tabung dengan atap kerucut berwarna biru di setiap sudut istana. Di istana tengah sangat besar dengan atap berbentuk segitiga (bayangin aja istana di disney. Emang gak kreatif sih...)
"jangan kaget... ini istana kecil" jawab Tsumi yang hanya bisa sweatdrop melihat wajah terpukau Shinichi.
"ini? kecil?" tanya Shinichi heran.
"istana utama di tengah kerajaan, sepuluh kali lebih besar" jawab Tsumi.
"APAAA?"
"diamlah! Aku mau maundarat!" perintah Tsumi
O.o.O.o.O.o.O
Pintu besar di depan istana terbuka. Shinichi bisa melihat jelas ruangan yang benar-benar indah. Semuanya nyaris sebening kristal dan serba biru selayaknya kaca. Keadaan udara sangat sejuk di dalam istana. Padahal Shinichi yakin tidak ada AC di istana ini.
"istana ini sepi juga..." ujar Shinichi. "kukira istana ini penuh dengan prajurit-prajurit berbadan kekar seperti di drama-drama eropa yang ditonton ibu. Ternyata malah tidak ada prajurit sama sekali" ujar Shinichi.
"kau bercanda? seluruh lautan yang kita lihat itu adalah prajuritmu bodoh! Ketika diperlukan, prajurit-prajurit itu akan dibangunkan. Kalau tidak salah hitung, sedikitnya ada 12 juta prajurit" ujar Tsumi sweatdrop
Shinichi hanya bisa tercengang "benarkah?" ujarnya bingung.
"shin-chan!" ujar suara yang sangat familiar dan ceria. Shinichi melongo mendapati ibunya dengan gaun khas eropa abad pertengahan berwarna kuning yang cocok dengan kulitnya yang putih dan rambutnya yang cokelat.
"i... ibu!?" ujar Shinichi terkejut.
"kenapa kau begitu terkejut?" ujar Yukiko dengan wajah bingung. "ah! Tsu-kun! Apa kabar?" ujar Yukiko ceria.
"kabar baik nee-chan!" ujar Tsumi dengan senyum kekanakan dan bertos ria dengan Yukiko. "mana Yusaku-jii san?" tanya Tsumi.
"uuh... dia sibuk dengan pemerintahan. Dia sibuk menandatangani beberapa surat keluhan" ujar Yukiko dengan wajah cemberut.
Tsumi hanya tersenyum kecil. "nee-chan, boleh aku main dengan shinichi sebentar!?" ujar Tsumi ceria.
Yukiko tersenyum manis dan sopan lalu mengangguk "silahkan" ujar yukiko
Dengan kecepatan kilat, Tsumi langsung menarik shinichi ke kamar shinichi. Ia berusaha menjelaskan apa-apa yang bisa dan tidak boleh shinichi lakukan.
"dengar! Aku tau kau terkejut, tapi seluruh yang ada di dunia ini adalah cermin di dunia nyata. Bukan hanya dirimu yang memiliki kembaran disini" jelas tsumi.
"ta... tapi, itu... ibuku..."
"ya! Aku mengerti" potong Tsumi "dia mungkin memang ibumu di dunia nyata. Kau harus bersikap biasa dan tidak mudah terkejut atau lehermu yang akan dipertaruhkan! Kau bersikaplah biasa, dan jika ada bagian yang tidak kau mengerti, kau bisa menanyakan padaku" jawab tsumi
"bagaimana caranya? Kau kan ada di sana dan mungkin aku yang ada disini membutuhkanmu" jawab shinichi heran.
Tsumi memandang sekelilingnya. Ia mencari benda yang mungkin bisa disihir menjadi alat komunikasi efektif. Akhirnya, panjangannya tertuju pada bunga anggrek bulan yang berada di dalam vas di meja kecil di samping tempat tidur shinichi.
"gunakan ini!" ujar Tsumi sambil memberikan setangkai anggrek bulan yang berwarna putih itu. "selalu bawa ini kemana-mana, maka aku akan selalu mendengar apa yang kau ucapkan dan aku bisa berkomunikasi padamu. Mungkin seperti alat penyadap" ujar Tsumi.
Shinichi mengangguk dan menaruh tangkai anggrek itu di saku dada kirinya.
"bunga itu takkan layu" jelas Tsumi "aku harus pulang atau Ran akan curiga. Disini, anggap saja ran menjadi saudarimu sendiri" ujar Tsumi singkat.
"tunggu! Tak bisakah kau menginap atau sejenisnya disini?" tanya shinichi memohon, dia sungguh tidak tau harus berprilaku seperti apa di dunia ini.
"dasar bodoh! Kalau hanya bertemu denganmu sejam dua jam masih bisa dimaafkan. Tapi, jika aku sampai menginap di istana ini, maka aku akan dianggap melakukan salah penggunaan jabatan sebagai temanmu! Seharusnya kau tau 'pangeran'" ujar tsumi menekan kata 'pangeran'nya.
Shinichi hanya memasang wajah frustasi.
"tenang saja, bunga itu akan menjadi diriku" ujar Tsumi sambil segera keluar dari kamar shinichi.
Begitu Tsumi keluar dari kamar shinichi dan menutup pintunya. Shinichi hanya bisa mengerang. Ia lantas berjalan-jalan di kamar 'kembarannya' itu dan mencari petunjuk. Mungkin dengan ini membuat shinichi bisa menganalisis dimana kembarannya itu.
Shinichi mendapati bahwa kamar itu sangat rapi. Entah karena dia pangeran sehingga ia harus bisa menjaga kebersihan kamar atau pembantu istana itu yang membersihkan kamar tiap hari. yang jelas, kamar itu terlalu rapi untuk ukuran seorang pria.
"hm?" shinichi menemukan sebuah buku harian bersampul biru di laci meja yang berwarna putih bersih itu.
Shinichi memandangi sampul bukunya. Sampulnya cukup kusut karena sering dibuka tutup, itu berarti pemiliknya sering dan suka menulis buku harian. Halamannya cukup rapi dan tulisannya terkesan sangat santai.
"pangeran?" suara lembut yang sering didengar shinichi terdengar. Begitu shinichi berbalik, ia mendapati ran tengah berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar. "makan siang sudah siap pangeran" ujar ran melanjutkan sambil menunduk hormat.
Shinichi mengangguk mengerti lalu menaruh buku harian pangeran yang asli kedalam laci. Ia lantas mengikuti ran menuju ruang makan.
Di ruang makan, seluruh jenis hidangan sudah melewati batas kewajaran. Walau yang makan hanya sekeluarga, tapi makanan yang disiapkan lebih dari untuk seratus orang. Mulai dari masakan eropa sampai asia semuanya ada dengan lengkap. Shinichi haya terbengong-bengong melihat banyaknya makanan yang menggiurkan itu.
"kenapa bengong? Ayo duduk! Kita makan..." ajak yukiko yang sudah duduk di tempatnya
"mana ayah?" tanya shinichi sambil mengambil posisi yang sama dengan posisi makannya jikalau di rumah. Ran nampaknya juga ikut duduk di seberang shinichi dan akan ikut makan.
"dia masih sibuk dengan urusannya... tumben sekali kau menanyakannya?" tanya yukiko
"tidak" jawab shinichi singkat sambil mengambil makannya. Entah akting dari ibunya atau memang bakat alaminya, shinichi bisa memerankan peran seorang bangsawan dengan sangat baik dan benar.
"shin-chan... kau sudah lama tidak main ke rumah Hakuba... apa kau bertengkar dengan shiho-chan lagi?" tanya yukiko polos yang sukses membuat shinichi hendak menyemburkan kembali makannya.
"shiho?" tanya shinichi histeris. Ia tidak habis pikir kalau orang seperti shiho juga memiliki kembaran di dunia ini.
Yukiko mengangguk membenarkan. "setiap kali kau bermain ke rumah saguru, kau selalu bertengkar dengannya." Jelas yukiko
'bahkan tidak jauh berbeda dengan dunia manusia' ujar shinichi dalam hati sweatdrop
"malas" jawab shinichi ketus. Memerankan layaknya seseorang yang tengah kesal.
"hati-hati lho shin-chan... bisa-bisa kau malah jatuh cinta padanya" ujar yukiko menggoda
Dengan sukses shinichi dan ran tersedak...
Yeeeey... akhirnya bagian shinichi di dunia sihir selesai! Buat yang udah Review ataupun yang baca gratis, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya... saya benar-benar terhura #PLAK saya benar-benar terharu... (TTwTT)
