ALLER SEULEMENT

(Sekali Jalan)

Title:

ALLER SEULEMENT

Author:

Elixir Edlar

Cast :

All Bangtan Boys Member

Main: KOOKMIN

Supporting: NamJin, YoonMin, J-Hope

Genre:

Drama, Fantasy

Rate:

Teenager (T)

Length:

Chaptered

Disclaimer:

All cast belong to God, their parents and Bighit. Ent. I do not own the characters.

This story is originally from my own mind.

Warning :

Boys Love, M-Preg, Typos, EYD-failed, Unbeta-ed, AU, OOC.

Read on your own consent! Thank you~

.

Aller Seulement©2016

.

.

DIMENSI UTAMA

(Seoul, South Korea—07:45 PM)

Jimin—yang surainya telah berganti warna menjadi merah marun—tengah berjalan mondar-mandir di depan sebuah convenient store dengan hati gelisah. Diliriknya layar ponselnya untuk mengecek waktu.

Pukul delapan malam kurang lima belas menit.

Langit telah berubah gelap sejak satu jam yang lalu. Beberapa kilatan cahaya mulai tampak di batas cakrawala yang dipenuhi oleh awan mendung. Sepertinya malam ini hujan deras akan menyambangi kota Seoul.

"Kemana sih Taehyung ini? Katanya hanya membeli kimbab selagi aku mengecat rambut. Kenapa lama sekali? Ini bahkan sudah hampir satu jam," keluh Jimin.

Ponsel Taehyung yang sejak tadi dihubunginya pun tidak aktif. Berkali-kali ia mendengus kasar, merasa lelah dan khawatir apabila terjadi apa-apa dengan sahabat sepanjang usianya tersebut. Diliriknya barang-barang belanjaannya yang berjumlah lima kantung di sekitar tempat duduknya. Jimin mendecak, emosi juga lama-lama karena menunggu terlalu lama.

"Aish, benar-benar. Kemana sih perginya Alien satu itu? Apa dia sudah pulang duluan ya?" Jimin menerka-nerka.

BLARRR!

"Astaga! Astaga! Astaga!" Jimin memekik sambil menutupi kedua telinga dengan telapak tangan kecilnya. Terlalu terkejut oleh suara petir menggelegar yang baru saja menyapa indera pendengarannya.

Jimin takut petir.

Dan benar saja, beberapa detik kemudian titik-titik air mulai meluncur ke permukaan bumi. Hujan yang begitu deras pun mengguyur kota Seoul dan sekitarnya, termasuk convenient store tempat di mana Jimin berada.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Jimin akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah sendirian saja. Daripada harus menunggu Kim Taehyung yang belum jelas rimbanya. Mengingat hujan yang turun akan semakin deras dan hanya akan menjebaknya di tempat ini lebih lama lagi.

"Aigoo, baru saja mengecat rambut malah sudah kehujanan begini. Payah sekali," gerutu Jimin seraya menyibakkan rambut merahnya yang tampak sangat sesuai dengan wajah manisnya. Menggantikan kesan imut parasnya menjadi sebuah keseksian.

Jimin memunguti kelima belanjaannya yang terbungkus rapi di dalam kantung plastiknya masing-masing. Segera berlari menuju halte terdekat untuk menghentikan bus tercepat yang bisa mengantarkannya pulang ke rumah.

"Ah, itu dia busnya! Syukurlah tidak perlu menunggu lama," Jimin berjingkrak riang dan berlari tergesa untuk naik ke dalam bus yang isinya tampak lengang. Mendesah lega karena dirinya tidak perlu memangku barang-barang belanjaannya yang begitu banyak karena banyak kursi kosong.

Dua puluh menit kemudian, Jimin pun sampai di depan kompleks perumahannya. Namun sayangnya ia masih harus berjalan kaki sekitar lima ratus meter lagi untuk sampai di depan rumah orang tuanya.

Sementara itu percikan air langit masih setia mengguyur kota Seoul. Diiringi oleh gemuruh petir dan kilatan cahaya yang saling menyambar di bawah naungan sang mega.

Jimin berjalan setengah berlari di bawah rinai hujan yang menggempur seluruh tubuhnya dengan guyuran titik-titik air yang terasa nyeri di kulit wajahnya saking derasnya. Parahnya, ia tidak memakai pelindung diri apa pun, seperti jas hujan atau payung untuk sekadar menghalau air hujan dan hawa dingin yang menyambangi tubuh mungilnya.

Sebuah melodi musik terdengar dari ponsel Jimin. Nada dering untuk panggilan telepon. Layar ponselnya pun tampak berkelap-kelip. Pertanda bahwa seseorang tengah menghubunginya saat ini.

'Tae-Tae's calling...'

Itu telepon dari Taehyung.

"Yah! Kim Kampret Taehyung! Kemana saja kau baru menghubungiku sekarang, sialan?! Kau tahu? Aku menunggumu satu jam penuh di covenient store setelah selesai mengecat rambut tapi kau tidak muncul-muncul juga!" mendengus sejenak, "Sekarang aku sedang berjalan di area kompleks perumahan sendirian. Kehujanan, kedinginan, dan kerepotan dengan begitu banyak bawaan barang belanjaan!"

"Maafkan aku Jiminnie, ponselku mendadak mati dan aku kelupaan kalau kau masih tersangkut di convenient store itu. Mm, setelah membeli kimbab mataku tiba-tiba melihat sebuah bus berhenti di halte terdekat dan aku pun segera memasukinya begitu saja. Maafkan aku Chim, aku benar-benar lupa kalau kau masih menungguku."

"Aish, sudahlah Tae. Percuma juga aku marah-marah padamu. Lagi pula aku sudah basah kuyup kehujanan begini. Untungnya seluruh barang belanjaanku dilapisi plastik dobel. Kalau tidak kan bisa gawat. Begini saja, kalau sampai aku demam dan terkena—aku tidak mau tahu pokoknya kau harus mengerjakan semua PR dan tugas-tugasku. Bagaimana?"

"Mm, baiklah. Hanya PR dan tugas-tugas kan? Mudah saja. Anggap itu sebagai sarana menebus rasa bersalah dan tanggung jawabku padamu karena telah meninggalkanmu sendirian di tengah cuaca buruk seperti ini. Omong-omong perlu kujemput tidak?"

"Hm, tidak usah Tae. Aku sudah dekat rumah kok. Beberapa menit lagi juga sampai. Jadi, kau tak usah khawatir karena aku...ARRRRGGGHHHHHH!"

BLARRRR!

Seberkas kilat berserta petir menyambar dengan dahsyatnya ke tubuh Jimin yang kini terkulai lemas di bawah jalanan beraspal.

"Halo? Jimin!? Jimin!? JIMIN!"

Perasaan Taehyung tidak enak.

Ia yakin benar bahwa sesuatu telah terjadi pada kawan mungilnya tersebut. Dengan perasaan kalut dan panik luar bisa, Taehyung menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu kamarnya dengan asal. Langsung menghambur ke luar rumah tanpa menghiraukan teriakan ibunya yang bertanya akan ke mana ia malam-malam begini dengan cuaca yang sangat tidak bersahabat di luar sana.

Taehyung begitu cemas dan ketakutan. Ia takut apabila terjadi sesuatu terhadap sahabat sekaligus tetangga sebelah rumahnya itu. Lari tunggang langgang bak orang kesetanan di bawah guyuran hujan yang begitu deras. Ia bahkan tidak ingat untuk sekadar menyambar payung atau jas hujan karena satu-satunya hal yang ada di pikirannya sekarang hanya satu, Park Jimin, sahabat kesayangannya.

Jimin tidak memakai jas hujan atau payung.

Jimin kehujanan.

Jimin basah kuyup.

Jimin meneleponnya.

Jimin memekik keras.

Ada suara dahsyat petir.

Jimin tak lagi bersuara.

Kesimpulannya.

Jimin tersambar petir.

"ASTAGA!"

Taehyung mendapati sosok sahabat mungilnya tengah terkulai tak berdaya di atas permukaan aspal. Beberapa puluh meter saja dari rumahnya. Tidak sadarkan diri. Namun ia dapat mendesah lega karena tubuh Jimin masih utuh dan mulus tanpa adanya jejak-jejak sambaran petir sedikit pun.

Masih putih mulus seperti kue mochi. Hanya basah kuyup dengan surai hitam pekatnya yang mengumpul di salah satu sisi dahinya akibat terkonsentrasi oleh air langit.

Setidaknya Jimin tidak gosong. Pikir Taehyung.

.

.

.

DIMENSI UTAMA

Boston, Amerika Serikat - Massachusetts Institute of Technology

(Prof. Richard's Office—09:25 AM)

"Jadi, Anda menyatakan bahwa gaya tolak-menolaklah yang membuat dua materi identik—dalam hal adalah manusia beserta doppelgangernya dari dimensi lain—tidak dapat berada dalam garis dimensi yang sama dalam satu waktu dan tempat sekaligus. Apabila si A terlempar ke dimensi paralel maka secara otomatis A' (A aksen) akan terlempar ke dimensi utama. Betul begitu Mr. Min?"

"Benar sekali, Prof. Dua materi identik tidak bisa berada pada waktu dan tempat yang sama dalam satu garis dimensi," jelas Yoongi. Diiringi sebuah anggukan kepala dari Profesornya.

"Lalu apakah Anda telah menyusun teori tentang bagaimana caranya agar dua materi tersebut bisa berada di dalam waktu dan tempat yang sama pada satu garis dimensi? Anda pasti tahu bahwa awan sudah tidak asing dengan istilah doppelganger, bukan?"

"Sudah Prof, aku sudah menyusun teorinya. Berdasarkan beberapa teori kosmik yang dikombinasikan dengan beberapa hasil penelitian dari para ahli Astrofisika, aku menggagaskan beberapa teori baru mengenai perpindahan objek dari satu dimensi ke dimensi yang lain."

"Kalau begitu, bisa kau jelaskan padaku mengenai teorimu itu, Mr. Min?"

"Tentu saja, Profesor. Jadi begini—menurut teori kosmik, dua materi identik dengan muatan listrik yang berlawanan dari dimensi yang berbeda tidak akan bisa bertatap muka dalam bentuk materi utuhnya secara fisik. Dalam hal ini adalah tidak bisa bertemu dalam wujud manusia dengan doppelganger-nya dalam satu garis dimensi yang sama. Namun demikian ada suatu titik bernama blank point yang perputaran ruang dan waktunya sangat terbatas. Di mana pada blank point tersebut tidak ada gaya tolak-menolak antara dua materi identik yang berlawanan muatan dari dimensi yang berbeda."

"Jadi, kau mengungkapkan bahwa terdapat sebuah tempat yang perputaran ruang dan waktunya sangat terbatas sehingga memungkinkan dua materi identik dari dimensi yang berbeda berada dalam satu garis waktu dan tempat yang sama—dalam bentuk materi utuhnya masing-masing? Misalnya pertemuan antara dua orang manusia identik yang saling bertatap muka di sebuah blank point di mana nilai gaya tolaknya adalah nol?"

"Precisely. Bahkan teori ini bisa menjelaskan tentang fenomena deja vu. Penjelasannya adalah—dua orang identik dari dimensi yang berbeda dapat menyamakan frekuensi mereka jika secara kebetulan kedua orang ini berkunjung ke tempat-tempat yang berfrekuensi sama dengan tempat-tempat yang pernah dilalui oleh 'kembarannya' di dimensi yang berbeda. Bagaimana menurut pendapat anda, Prof?"

"Menurutku itu cukup masuk akal. Dan kurasa aku mulai menyelami jalan pikiranmu, Mr. Min. Sebelumnya tolong koreksi jika aku salah. Berdasarkan penuturan tentang teori kosmik yang kau sampaikan tadi. Aku menyimpulkan bahwa—dua materi yang identik akan selalu memiliki nilai frekuensi yang sama namun memiliki muatan yang berlainan, begitukah?"

"That's correct, Prof! Seluruh koordinat yang ada di seluruh permukaan bumi memiliki frekuensi yang berbeda-beda. Dan apabila secara kebetulan seseorang dari dimensi utama—sebut saja A dari dimensi utama pergi ke tempat yang frekuensinya sama dengan tempat yang ada di dimensi paralel, sedangkan A' (A aksen) dari dimensi pararel pernah pergi ke tempat itu maka frekuensi inti gelombang otak mereka akan terkoneksi satu sama lain dan menimbulkan pengalaman 'seperti merasakan pernah mengalami kejadian sebelumnya' yang disebut sebagai de javu."

"That's very interesting, Mr. Min. Apakah kau telah membuat semacam esai yang telah mencakup esensi dari teori-teorimu itu? Akan sangat membantu untuk mencari sponsor yang akan membiayai penelitianmu apabila kau telah membuat esai sebelumnya."

"Mm, kalau esai jujur saja aku belum membuatnya. Tapi kalau sekadar catatan kerangka konsep atau garis besarnya sudah kurangkum ke dalam beberapa tulisan. Ah, kurasa aku membawa salinannya di tasku. Sebentar Prof, akan kuambil dulu."

Dan Yoongi pun membongkar isi tasnya yang dipenuhi oleh buku-buku tebal, notebook, lembaran file, beserta berkas-berkas yang berkaitan dengan penelitiannya mengenai Teleporting Portal Machine yang digagasnya tersebut.

"Nah, akhirnya ketemu juga!" sorak Yoongi dengan nada riang. "Ini Prof, masih berupa garis besar teori yang masih mentah dan belum diolah untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah artikel ilmiah," menyodorkan lembaran kertas berlapis map biru kepada Profesornya.

.

Yoongi's theory - Teleporting Portal Machine.

Tidak boleh ada dua objek identik yang berada di dalam satu garis dimensi. Apabila si A dari dimensi utama menyeberang ke dimensi paralel sementara A' (A aksen) masih berada di dalam dimensi tersebut—maka A tidak akan termanifestasi dalam wujud materi fisik utuhnya melainkan hanya seberkas cahaya.

Keberadaan A di dimensi paralel adalah anomali. Jika A menjadi materi fisik utuh (wujud manusia) di dimensi paralel maka A' (A aksen) otomatis terlempar ke dimensi utama—yang merupakan dimensi asli dari si A tersebut.

Hal ini bergantung pada hasil resultan frekuensi yang lebih besar. Apakah frekuensi objek A dengan lokasi tempatnya berada saat ini atau A' (A aksen) dengan lokasi di mana objek yang bersangkutan berada saat itu juga.

Ini juga dipengaruhi oleh frekuensi koordinat lokasi di mana tiap-tiap objek berada pada titik tertentu di permukaan bumi di dimensinya masing-masing.

Misalkan si A dari dimensi utama berkunjung ke dimensi paralel dengan nilai resultan frekuensi tempat sebesar 150. Sementara A' (A aksen) berada pada sebuah lokasi yang resultan frekuensinya bernilai 100—maka secara otomatis A' (A aksen) yang akan menjadi objek yang terlempar ke dimensi utama. Begitu pula sebaliknya.

Jadi, antara dua materi identik—dalam hal ini adalah A dan A' (A aksen)—akan menghasilkan gaya tolak antara satu dengan yang lainnya. Sehingga untuk dapat bertemu dan bertatap muka antara dua materi identik dalam wujud manusianya diperlukan suatu blank point. Di mana dalam koordinat tempat tersebut tidak memiliki gaya tolak sama sekali.

Dengan kata lain, nilai resultan frekuensi pada blank point harus nol atau tak terhingga sehingga nilainya bisa diabaikan dan dianggap tidak ada.

Footnote:

Seluruh koordinat di seluruh permukaan bumi memiliki frekuensi yang berbeda-beda dalam satu dimensi. Namun adakalanya titik-titik itu memiliki frekuensi yang identik dengan titik-titik di bumi yang berada di dalam garis dimensi yang lain.

End of Yoongi's theory.

"Well, Mr. Min, teorimu ini cukup menjelaskan tentang gagasan Teleporting Portal Machine yang akan kau rancang itu. Tapi satu aku punya pertanyaan untukmu. Bagaimana cara kita mengetahui suatu koordinat di permukaan bumi memiliki frekuensi yang lebih tinggi daripada frekuensi koordinat yang lain? Apa kau punya contoh kasus yang dapat menjelaskan tentang hal ini?"

"Mm, ini baru hipotesis awalku saja, Prof. Namun masih cukup masuk akal untuk dinalar oleh logika. Well, biasanya tempat-tempat yang ramai akan memiliki frekuensi lebih tinggi dibandingkan dengan tempat yang sepi. Misalnya objek A dari dimensi utama terlempar ke dimensi paralel ke dalam sebuah Mall yang ramai—sementara pada waktu yang sama A' (A aksen) tengah berada di dalam kamarnya yang sepi. Hal inilah yang mengakibatkan objek A' (A aksen) tersebut terlempar ke dimensi utama. Pada tempat yang frekuensinya sama dengan tempatnya semula di dimensi paralel."

"Baiklah, kurasa aku sependapat dengan teorimu, Mr. Min. Namun aku masih memiliki ganjalan terhadap tempat bernama blank point yang kita bahas tadi. Berdasarkan teori yang kausebutkan di awal, kedua materi identik baik A maupun A' (A aksen) bisa bertatap muka dalam bentuk materi utuh ketika keduanya bertemu di sebuah blank point yaitu tempat di mana nilai resultan frekuensinya nol maupun tak terhingga sehingga kedua objek dapat berada pada tempat dan waktu dalam satu garis dimensi yang sama. Nah, apakah hal ini juga dapat menjelaskan fenomena doppleganger yang kerapkali dianggap sebagai fenomena supranatural—secara ilmiah?"

Yoongi menggaruk kepalanya yang mulai berdenyut-denyut. Dilempari berbagai pertanyaan yang memaksanya menyambungkan aliran listrik ke seluruh penjuru sel neuron di setiap jalinan otaknya yang berkelok-kelok dengan pola rumit tentu saja membuat kepalanya semakin pening dan isinya serasa tengah mendidih saat ini.

"Ehm! Aku tidak yakin mengenai hipotesisku mengenai fenomena doppleganger, Prof. Tapi—mungkin teori tentang nilai frekuensi koordinatku bisa sedikit menjelaskan tentang hal ini. Mm, pada hakikatnya ketika dua materi identik tengah berada pada dimensinya masing-masing di sebuah koordinat yang secara kebetulan nilainya sama dengan 'kembarannya'—terkadang akan menimbulkan suatu visualisasi bagi salah satu objek. Dan..."

"Dan visualisasi tersebut hanya disadari oleh salah satu dari kedua objek. Sehingga seolah-olah objek itu tengah melihat dirinya sendiri dalam kostum dan penampilan yang berbeda. Padahal pada dasarnya keduanya tengah berada di dimensi mereka masing-masing—hanya saja nilai resultan frekuensi kedua objek tersebut kebetulan sama persis antara satu dengan yang lainnya yang menimbulkan kesan bahwa seseorang tengah mengalami pengalaman supranatural. Benar seperti itu?"

"Astaga! Itu persis dengan apa yang baru saja ingin kukatakan, Prof! Apabila blank point merupakan tempat dengan nilai resultan frekuensi nol atau tak terhingga—dapat membuat dua materi identik dari dimensi yang berbeda bertatap muka dalam wujud utuhnya maka tempat di mana resultan frekuensi antara dua objek identik dari dimensi yang berbeda bernilai sama akan menyebabkan keduanya mengalami fenomena doppelganger. Sesederhana itu saja!" Yoongi bersorak di akhir kalimatnya.

"Tentu saja kita harus membuat segalanya menjadi lebih sederhana. Itulah gunanya teknologi diciptakan. Baiklah, kembali ke blank point. Apakah kau sudah tahu bahwa seluruh koordinat di permukaan bumi tidak ada yang resultan frekuensinya bernilai nol? Hanya ruang hampa saja yang nilai resultan frekuensinya nol. Dan tempat seperti itu tidak ada di mana pun di seluruh permukaan bumi. Kecuali kau membuat sebuah ruangan sebesar lapangan sepakbola hampa udara atau menembus batas atmosfer dan menuju ke ruang angkasa, tentu saja."

"Benar juga ya, Prof? Mana mungkin seseorang harus menjelajah ke ruang angkasa terlebih dulu untuk dapat menyeberang ke dimensi lain menggunakan alat Teleporting Portal Machine. Selain merepotkan dan memakan biaya yang begitu besar, juga tidak akan efektif penggunaannya. Karena dalam hal ini diperlukan perhitungan matematis beserta pengaturan koordinat yang ekstrapresisi di luar angkasa supaya menemukan sebuah titik yang tepat untuk memasang alat tersebut itu. Hm, aku tak ada ide lagi, Prof. Maafkan aku," Yoongi menampilkan wajah kusutnya. Menyiratkan keputusasaan yang tercetak jelas di wajah pucat yang kini bersemu kemerahan. Rasa panas menjalari kedua pipinya akibat berpikir terlalu keras.

"Kau melupakan satu hal krusial di sini. Ingat bahwa blank point tidak hanya berlaku untuk lokasi untuk nilai frekuensi nol tapi juga berlaku untuk nilai frekuensi tak terhingga sehingga nilainya bisa diabaikan dan dianggap tidak ada, benar?"

Yoongi menganga. Tertawa dalam diam. Dalam kekaguman yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. "Ya ampun! Kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya ya? Kenapa aku melupakan hal satu itu ya?" Yoongi menggigit bibir bawahnya. Merasakan aliran dopamin yang menjalari ke seluruh sel-sel tubuh hingga ke ujung jemari kakinya. Membuatnya merasakan kebahagiaan yang tak terperi dalam dirinya.

"Nah, pertanyaannya. Di mana kita dapat menemukan tempat seperti itu di permukaan bumi?" Prof. Richard menatap Yoongi. Membuat senyuman lebar yang terbingkai di wajah sang mahasiswa mendadak lenyap seketika. Mulutnya yang terbuka pun mendadak terkatup. Memasang muka cemberut sebagai gantinya.

"Aku belum menemukannya, Prof. Tapi aku pasti akan segera memikirkan cara agar segera menemukan tempat itu!" kata Yoongi dengan penuh optimisme yang tinggi. Satu hal yang disukai Prof. Richard dari mahasiswanya tersebut. Semangat dan optimisme yang menggebu-gebu.

"Venezuela, daerah sekitar sungai Catatumbo dan danau Maracaibo. Tempat di mana terdapat fenomena berupa sambaran petir abadi yang telah terjadi sejak abad ke-16. Daerah di mana terdapat 3600 sambaran petir yang terjadi dalam satu jam. Satu sambaran petir untuk satu detiknya dan berlangsung selama 300 malam dari 365 hari. Dan kita butuh alat penangkap petir untuk dapat menjinakkan sekaligus memanfaatkan energi listrik dari petir itu sendiri, Mr. Min."

"Mega-kapasitor, Prof? Untuk mengidentifikasi bagaimana perputaran energi listrik yang dihasilkan dari petir abadi tersebut. Kemudian mempelajari prinsip dan cara kerjanya untuk diterapkan ke prototipe Teleporting Portal Machine sehingga bisa dilakukan manipulasi nilai resultan frekuensi tanpa harus repot menuju ke ruang angkasa atau berkunjung ke Catatumbo dan Maracaibo di Venezuela lebih dulu. Begitukah, Prof?"

"Well, i think you got the point already. Good job, Mr. Min! Ah, satu lagi tambahan untukmu. Ini adalah analisis pribadiku mengenai teorimu. Aku berpikir bahwa setiap manusia baik dari dimensi utama maupun paralel memiki blank point yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, bisa saja antara A dan A' (A aksen) lokasi blank point-nya suatu ketika berada di sebuah kedai teh di dekat kediaman mereka—sementara pada saat yang sama objek B dan B' (B aksen) lokasi blank point-nya ada di sebuah toilet pusat perbelanjaan."

"Uhm, ada kemungkinan besar untuk itu, Prof. Tapi aku masih belum bisa memberikan analogi mengenai gagasan Anda itu, Prof. Maafkan aku, kurasa otakku mulai macet dan tidak mampu bekerja sebagaimana mestinya. Aku belum sarapan pagi ini dan berdiskusi dengan Anda benar-benar menguras pikiranku hingga ke inti terdalamnya. Aku akan memikirkan mengenai hal itu setelah makan, aku janji," Yoongi menunjukkan wajah memelasnya. Ia memang tampak kelelahan sekaligus kelaparan saat ini.

"Ah, kau belum sarapan ternyata? Jam berapa sekarang? Astaga sudah pukul sebelas rupanya. Kita berdiskusi selama tiga jam tanpa terasa. Mm, kalau begitu ikutlah denganku untuk have a brunch. Lagi pula ini sudah mendekati jam dua belas. Mendekati waktu makan siang. Kau pasti sangat lapar sekarang."

"Dengan senang hati, Prof. Kurasa aku juga takkan mampu menolak tawaran dari Anda," Yoongi terkekeh pelan di akhir kalimatnya. Sementara Prof. Richard hanya tersenyum simpul sebagai respon.

"Oke, kita berangkat sekarang, Mr. Min."

"Siap Profesor!"

.

.

.

DIMENSI PARALEL

(Seoul, South Korea—08:15 AM)

Jimin merasakan hantaman palu godam yang begitu kuat di bagian belakang kepalanya. Tidak—dia tidak sedang mengalami kekerasan fisik. Hanya saja kepalanya terasa begitu pening dan berat. Bahkan untuk sekadar membuka kelopak matanya pun menjadi tugas yang begitu sulit baginya.

Dengan gerakan yang amat perlahan, Jimin berusaha membuka belahan kelopak matanya. Visinya masih buram dan pemandangan yang tengah tersaji di hadapannya tidak terlalu jelas. Semuanya masih tampak samar dan ia masih kesulitan memfokuskan pandangannya.

Lamat-lamat akhirnya Jimin dapat menangkap suasana yang begitu asing di matanya. Tempatnya berada saat ini jelas bukan kamarnya. Semua yang berada dalam jangkauan indera penglihatannya hanyalah warna putih yang menghiasi seluruh perabotan yang ada di ruangan itu.

"Jimin?!" sebuah pekikan lega menyambangi gendang telinganya. "Syukurlah! Akhirnya kau sadar juga! Terima kasih Tuhan," sosok itu menggapai salah satu tangan Jimin yang bebas dari selang infus untuk digenggam.

Benar sekali. Lokasi Jimin berada saat ini adalah sebuah rumah sakit.

Jimin menatap sosok yang tiba-tiba menggenggam tangannya itu lamat-lamat. Sepertinya ia kenal dengan orang ini. Namun rasanya sangat aneh dan cukup sulit untuk dinalar. Mengapa orang ini menggenggam tangannya dengan begitu erat seolah tidak ada hari esok lagi?

"Jungkook..," dengan suara lemah, Jimin berucap.

"Iya sayang, ini aku Jungkook, suamimu," Jungkook mengecupi punggung tangan Jimin yang berada dalam genggaman telapak tangan besarnya.

"Su-suamiku?" Jimin menatap Jungkook heran. Beberapa kerutan tampak muncul di dahinya. Meskipun pandangan matanya masih tampak lemah namun tidak dapat menutupi keterkejutan yang terukir jelas di wajahnya.

"Iya sayang, aku Jeon Jungkook suamimu," Jungkook menatap Jimin dengan manik yang berbinar-binar.

"Kapan kita menikah? Bukankah baru kemarin malam kita menandatangi surat perjanjian yang kaubawa itu?" Jimin bertanya dengan wajah polos. Membuat Jungkook langsung tercengang dibuatnya.

"Hah? Surat perjanjian?"

Jungkook terpaku. Ekspresi wajahnya berubah cemas kali ini. Ia bingung, takut, dan tidak tahu harus menjawab apa. Jungkook benar-benar khawatir apabila Jimin mengalami hilang ingatan atau semacamnya.

Cklek

Belum sempat Jungkook menjawab, pintu ruangan tempat rawat inap Jimin mendadak terbuka. Menampilkan seorang wanita paruh baya beserta balita mungil di dalam gendongannya. Di belakangnya seorang lelaki paruh baya tampak mengikuti langkah wanita itu. Sepertinya lelaki itu adalah suami dari sang wanita.

"Ya, Tuhan! Jiminnie!? kau sudah sadar, sayang? Akhirnya setelah sekian lama kau bangun nak!" wanita paruh baya itu menampakkan air muka yang begitu cerah. Dibimbingnya balita dalam gendongannya mendekat kepada Jimin. "Nah, karena sekarang Eomma Jungmin sudah bangun. Ayo sekarang Jungmin sapa Eomma lebih dulu!"

"Celamat pagi, Eomma!" balita di gendongan wanita paruh baya itu menyapa Jimin.

"Ss-siapa yang kaupanggil Eomma, adik manis?" Jimin menatap balita kecil itu dengan tatapan nanar. Belum habis keterkejutan akibat mendapati seorang Jeon Jungkook yang tiba-tiba mengaku sebagai suaminya, tiba-tiba seorang balita mungil nan lucu datang menyapanya dengan sebutan Eomma.

Lelucon macam apa ini? Batin Jimin bertanya.

Jimin menatap kalender yang terpajang rapi di dinding ruangan itu. Tidak mungkin ia sedang dikerjai dengan dalih April Mop karena sekarang adalah bulan Oktober. Seharusnya bulan ini adalah bulan perayaan Halloween dan bukan April Mop.

"E-eomma? Bagaimana bisa? A-aku hanya anak SMA tahun terakhir yang bahkan tidak punya pacar," seloroh Jimin dengan tergagap-gagap. Membuat ketiga orang dewasa selain Jimin di ruangan itu menampakkan keterkejutan pada air muka mereka masing-masing. Ketiganya bahkan saling mencuri pandang antara satu dengan yang lainnya. Mulai menciptakan berbagai spekulasi yang beputar di dalam otak ketiganya.

Jimin bingung. Ia benar-benar tidak mengerti situasi apa yang tengah dihadapinya sekarang. Ia bahkan tidak memilki gambaran atau petunjuk sedikit pun yang bisa membantunya mendapat pencerahan mengenai drama apa yang tengah dilakoninya saat ini.

Bagaimana tidak?

Rasanya baru kemarin malam ia menandatangani surat perjanjian pernikahan dengan Jungkook, tahu-tahu sesosok balita mungil sudah main brojol saja. Memangnya mengandung dan melahirkan itu bisa dilakukan dalam waktu sekejap malam?

Apa mungkin Jungkook hanya sedang menjebaknya agar ia tetap berada dalam pengawasan dan penguasaan diva narsis tersebut? Atau mungkin Jimin tengah bermimpi yang terlalu nyata rasanya sehingga ia tak kuasa bangun dari tidurnya sehingga membuat kepalanya menjadi terasa begitu pening?

Bermacam-macam spekulasi bermunculan dan berputar-putar secara acak di kepala Jimin. Kalau begini terus, lama-lama ia bisa gila karena terlalu banyak menerka-nerka.

Bagaimana mungkin kehidupannya tiba-tiba berubah dalam semalam?

Memangnya ini negeri dongeng?

Jimin bukan Chimderella bukan?

Jungkook dan kedua orang tuanya masih betah geming. Sekadar saling melempar tatapan terhadap satu sama lainnya. Ketiganya berpikir bahwa sesuatu yang tidak beres tengah berlangsung saat ini. Ada yang salah dengan seorang Jeon Jimin. Lagi pula Jimin yang sekarang tampak jauh lebih ramah dan sopan dibandingkan sebelum kecelakaan tiga hari yang lalu terjadi.

.

.

Jimin mengalami kecelakaan ketika tengah bersama sahabatnya, Kim Taehyung. Pada awalnya keduanya tengah menjalani treatment pengecatan rambut di sebuah stand hairdo and stylist ternama di pusat kota Seoul. Namun karena keasyikan berbelanja, mereka baru bisa melakukan hair-dying ketika hari menjelang petang.

Jimin yang sudah selesai di-treatment memutuskan untuk keluar dari tempat itu sejenak untuk mampir ke toko pastry. Sebagai oleh-oleh yang bisa dibawanya pulang ke apartemen. Bukan dengan maksud untuk membelikan Jungmin. Hanya untuk sekadar mengisi lemari pendingin tiga pintu yang ada di apartemennya saja.

Jimin memutuskan untuk menunggu Taehyung di dalam mobil ketika ia telah selesai berbelanja kue. Di dalam mobil jauh lebih baik daripada harus menanti di ruang tunggu salon dan harus melayani berbagai pertanyaan dari orang-orang yang selalu ingin tahu; terang saja Jimin adalah selebritas papan atas Korea Selatan yang sedang naik daun saat ini. Sehingga ia akhirnya lebih memilih duduk diam di dalam mobil sambil mendengarkan musik.

Lagi pula cuaca malam itu benar-benar mengerikan. Tepat ketika Jimin selesai membeli kue, hujan tiba-tiba turun dengan deraian yang begitu deras. Diiringi oleh sambaran halilintar dengan gelegar yang teramat dahsyat dan didahului oleh retakan cahaya yang membelah angkasa.

Namun karena yang ditunggu tidak kunjung datang setelah menunggu selama satu jam lamanya. Akhirnya Jimin pun memilih keluar mobil untuk kembali ke dalam bangunan tiga lantai itu. Sayangnya jarak antara parkiran mobilnya dengan gedung itu ternyata cukup jauh sehingga Jimin harus berlari menembus derasnya hujan sembari menutupi rambut barunya kini berwarna segelap aspal.

BLARRRRR!

"AAARRGGGHHHHH...!"

Jimin tersambar petir dalam perjalanannya dari parkiran menuju ke gedung salon tempat Taehyung melakukan treatment. Ia ditemukan pingsan oleh orang yang kebetulan lewat di sekitar parkiran. Kebetulan sekali Taehyung juga baru saja keluar dari pintu utama salon. Ia mendekati kerumunan cukup ramai dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri saat ini. Dan panorama yang tersaji di hadapannya saat ini sungguh di luar ekspektasinya sama sekali.

"ASTAGA! JIMIN!"

Taehyung memekik tatkala mendapati sosok sahabatnya terkapar lemah tak berdaya di atas aspal basah. Surainya yang basah akibat air hujan bahkan tampak begitu mencolok dengan warna sepekat darah.

.

.

"Jiminnie, ini Jungmin. Anakmu dengan Jungkook. Jangan katakan kalau kau lupa dengan anak kandungmu sendiri, sayang?" wanita paruh baya yang alih-alih diketahui sebagai ibu Jungkook berujar sambil tersenyum. Cantik. Parasnya begitu mirip dengan Jungkook.

"A-apa!? Anakku dengan Jungkook? Bagaimana bisa? Memangnya aku pernah melakukan 'itu' dengan Jungkook?" dengan polosnya Jimin menanyakan sebuah pertanyaan bodoh. Membentuk gestur tanda kutip dengan kedua tangannya ketika menyebutkan kata 'itu'.

Semua orang selain Jimin, lagi-lagi hanya saling berpandangan dengan ekspresi terkejut sekaligus geli. Antara prihatin dan ingin tertawa mendengar pertanyaan dari Jimin. Ayah Jungkook bahkan berulang kali menggaruk belakang kepalanya. Canggung akibat mendengar pertanyaan kelewat polos yang diutarakan menantunya terhadap mereka bertiga.

"Ehm!" Jungkook berdehem sebelum lanjut berbicara, "Tentu saja, Jiminnie. Kita adalah pasangan menikah. Adalah hal yang wajar apabila sepasang suami istri melakukan 'itu', bukan? Dan hasilnya, ehm—ya Jungmin ini," jelas Jungkook panjang lebar.

Jimin melongo sambil mengangguk-angguk. "Apa aku juga yang mengandung dan melahirkan Jungmin?" takut-takut Jimin bertanya. Tanpa sadar ia tengah mengelus perutnya sendiri dengan tangan kanannya yang bebas dari selang infus.

"Iya Jiminnie, kaulah yang mengandung dan melahirkannya," Jungkook menjawab. Diambilnya ponsel pintarnya dari saku celananya untuk disodorkannya kepada Jimin, "Nah, lihat ini. Ini adalah foto-fotomu ketika mengandung Jungmin."

Jimin menatap ponsel Jungkook lekat-lekat. Di layar ponsel itu terpampang potret dirinya dengan perut agak buncit, mengenakan sweatshirt rajutan berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam yang longgar. Foto itu diambil candid, saat Jimin sedang membaca buku di sofa.

"Ini ada lagi Jiminnie, ketika kau akan dioperasi. Beberapa saat sebelum melahirkan Jungmin," Jungkook menunjukkan fotonya yang lain kepada istrinya tersebut.

Sebuah foto seorang pasien yang diyakininya adalah potret dirinya sendiri dengan perut yang sudah benar-benar bulat sempurna—tengah berbaring di sebuah ranjang ruang operasi. Tepat sebelum ia melakukan operasi c-section.

Jimin menyerahkan ponsel dalam genggamannya kembali ke tangan pemiliknya. Sebagai gantinya ia menatap Jungmin. Jeon Jungmin yang dikatakan sebagai anaknya dengan seorang Jeon Jungkook.

Bocah kecil itu memiliki tekstur wajah yang sangat mirip dengan Jungkook. Hanya kulit seputih mochi dan alis hitamnya saja yang mirip dengan Jimin.

"J-Jungmin..." Jimin hendak berkata-kata namun lidahnya terasa kelu.

"Jungmin, sini sama Eomma," akhirnya Jimin dapat bersuara dengan lancar. Menjulurkan kedua tangannya untuk menyambut putra kecilnya yang manis.

Jungkook tampak terperanjat. Bagaimana bisa seorang Jeon Jimin yang notebene selalu menolak keberadaan Jungmin tiba-tiba saja berubah begitu keibuan dan bersikap lembut terhadap sang putra. Apakah Jimin benar-benar mengalami amnesia? Jungkook mulai bertanya-tanya dalam hati.

Jimin memeluk Jungmin dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dielusnya surai kelam selembut sutra sang putra sembari mengecupi pucuk kepala anaknya tersebut.

Pemandangan yang sungguh membuat hati Jungkook terenyuh seketika. Setelah sekian lama ia berdoa, akhirnya Tuhan mengabulkannya juga. Istri cantiknya itu tampaknya sudah bisa membuka hati dan menerima Jungmin yang notabene putra kandungnya sendiri. Dan Jungkook sangat bersyukur akan hal ini.

'Kalau Jimin benar-benar amnesia, aku berherap dia takkan pernah mendapatkan ingatannya kembali asalkan Jimin bisa menjadi sosok ibu yang menyayangi Jungmin seperti sekarang ini,' batin Jungkook.

"Aigoo! Tak kusangka aku telah melahirkan anak semanis dan setampan ini. Daebakk! Mimpiku langsung menjadi nyata hanya dalam sekejap mata. Terima kasih banyak Tuhan. Kau mengabulkan doaku dalam waktu yang begitu singkat dan tak terduga sama sekali," seloroh Jimin dengan nada riang.

Kali ini Jungkook tidak terkejut lagi dengan segala racauan tidak masuk akal dari Jimin. Sebagai gantinya ia hanya tersenyum lembut menyaksikan interaksi ibu dan anak di hadapannya yang membuat buliran sebening kristal terbentuk di masing-masing pangkal manik kelamnya tanpa sepengetahuannya.

"Huweee... Eommaaa!" tiba-tiba saja Jungmin menangis.

"Eh? Jungmin kenapa menangis?" Jimin membelai kedua pipi lelaki kecilnya itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.

"Jumin hiks kangen cama Eomma. Eomma hiks jangan pelgi cinggalkan hiks Jumin lagi ya?" kata Jungmin di antara isak tangisnya.

"Astaga, Jungmin sayang. Kau ini bicara apa, nak? Tentu saja Eomma takkan pernah meninggalkan anak kesayangan Eomma yang begitu manis dan imut ini. Jangan menangis lagi ya sayang? Sini cium pipi Eomma dulu," menyodorkan salah satu pipinya untuk dikecup oleh anaknya.

"Chu~ Eomma cancik! Chu~ Jumin cuka cama Eomma! Chu~ Jumin cayang cama Eomma!" Jungmin mengecupi pipi Jimin sambil terus memuji Jimin dan mengatakan kata-kata sayangnya.

"Hahaha! Kau lucu sekali, Jungmin-ah. Eomma juga sayaaaang sekali sama Jungmin. Nanti kalau kita sudah pulang, Eomma akan memasakkan makanan yang super enak untuk Jungmin di rumah."

Cup!

Dan Jungkook pun ikut mengejutkan Jimin dengan mendaratkan kecupan singkat di dahi Eomma Jungmin tersebut. Kedua pipi tembam Jimin pun merona seketika. Malu sekaligus tersipu akan tindakan Jungkook yang begitu tiba-tiba terhadapnya.

Cup!

Kali ini giliran bibir penuh kemerahannya yang dikecup oleh Jungkook. Membuat Jimin seketika membolakan kedua manik cemerlangnya lebar-lebar. Tidak habis pikir dan tidak terlintas sedikit pun dalam benaknya kalau ia akan diberi dua buah kecupan di dahi dan di bibir oleh seorang Jeon Jungkook.

'Apakah aku sedang bermimpi? Kalau iya, aku rela tak pernah bangun selamanya jika semua ini benar-benar terasa nyata,' batin Jimin. Jantungnya bertalu-talu tidak keruan dan percikan sensasi kebahagiaan menjalari ke seluruh pusat syarafnya. Ia merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia saat ini.

Sementara si pelaku pengecupan yang mendapati istrinya tengah tersipu malu pun hanya tersenyum lucu sembari menampilkan kedua gigi kelincinya yang tampak begitu imut di mata Jimin.

'Jimin, teruslah menjadi Jimin yang seperti ini. Aku sangat mencintaimu dan juga Jungmin,' seru Jungkook dalam hatinya.

.

.

.

NONEDIT

(Maafkan saya)

Minggu, 16 Oktober 2016

10:20 PM

.

.

NOTE:

Adakah yang masih berkenan membaca dan mereview fiksi gaje ini?

Rekomendasi FF Kookmin baruku: BLOOD SWEAT and TEARS

(Cuma fantasy dan anti mikir. Ringan! Dijamin!)

.

.

Special thanks to:

JH-Daughter atau TGughter yang selalu setia menantikan fiksi ini. Aku menyayangimu wahai cucuku tersayang ^^ maaf karena updatenya sangat lama seperti ribuan tahun telah berlalu begitu saja. Kasih peluk dan cium untukmu.

ChiminChim yang selalu memberikan support dan review panjang yang bikin aku bahagia setengah hidup. Kata-katamu benar-benar antimainstream, kece parah, cetar membahana, dan lucu dalam waktu yang bersamaan. Saranghae! Bbuing bbuing! ^^

Park RinHyun-Uchiha yang sudah menyempatkan review dan memberi semangat ^^ love you.

minsoo. Kim yang selalu penasaran dengan chapter selanjutnya dan selalu terdistraksi dengan teori-teori yang tersaji di fanfiksi ini. Aku menyayangimu ^^

monniemonnie yang sudah menyempatkan review dan memberi semangat ^^ love you.

Allsoo the legend yang selalu review di awal-awal dan kasih review membangun yang kadang bikin aku ketawa ngakak karena dia ikut curhat hahaha. Aku sangat menghargai dan menyukai seluruh review darimu. Saranghae! Bbuing bbuing! ^^

Jungienuna maafkan aku karena gak bisa kasih NC di chapter ini. Mungkin di akhir cerita ya? Makasih banyak atas reviewnya ^^ love you!

Hobie yang sudah menyempatkan review dan memberi semangat ^^ love you.

Scarlet yang sudah menyempatkan review dan memberi semangat ^^ love you.

Me yang sudah review dan penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Maaf ini pendek Kookmin moment-nya. Tapi yang penting mereka udah ketukar kan? Hehehe. Gomawo dan thank you ^^

Heyoyo yang sudah review dan kasih tanggapan tentang fiksi ini. Terima kasih dan saranghae ^^

Whaleme160700 yang udah kayak udara di sekitarku. Dia ada di mana-mana. Di seluruh fanfiksi yang aku tulis. Aku gak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaanku terhadapmu. Kamu benar-benar membuatku bahagia dan semangat wahai dedek Whalien plus Me. Btw, aku juga whalien kok ^^ I LOVE YOU!

Nananchiminkook yang sudah review dan kasih tanggapan tentang fiksi ini. Terima kasih dan love you bae ^^

HanataSha yang tadinya penname-nya beruang ya? Atas reviewnya yang membuat aku semangat untuk melanjutkan ff ini. Makasih banyak ya? Berkat kamu aku jadi semangat nulis lagi. Maaf kalau chapter ini tidak bisa memuaskan rasa penasaranmu. Saranghae and Gomawo ^^

.

.

Maafkan aku dengan chapter 4 yang jelek ini ^^ yang penting update kan?