.

Naruto milik Om Mashashi Kishimoto

Pairing: Sasuke x Sakura

Warning: Ooc, abal, mainstream, boring, typo berterbangan.

.

Enjoy it

.


Beginikah rasanya menjadi seorang ayah? Aku terkekeh sendiri karena pikiran konyolku barusan. Entah bagaimana bisa aku begitu merasa senang hanya karena melihat bocah lelaki itu tertawa lepas karena baru saja turun dari kuda, mulut pandainya berceloteh ini itu.

"Paman, Daiki senang sekali!" ia berseru seraya memeluk kakiku.

Aku berlutut untuk menyamakan tinggi badan kami, kuacak rambut hitam lebatnya dengan gemas. "Lain kali kita akan ke sini lagi."

Matanya seketika membulat dengan sinar pengharapan, "Benarkah, paman?"

"Hmmm, sekarang kau mau ke mana lagi?"

Bocah itu menautkan jari mungilnya dengan jari panjangku. "Musium!"

"Musium?"

Dia mengangguk semangat, "Dari dulu Daiki ingin sekali pergi ke musium, tapi Kaa-chan selalu sibuk bekerja."

"Oke, let's go!" kugendong tubuh kecilnya kemudian kami pergi menuju parkiran tempan di mana mobilku terparkir. Sakura... andai kau bersama kami, mungkin orang-orang akan berpikir kalau kita adalah keluarga bahagia. Tunggu, sepertinya aku punya ide. Mobil yang semula kukemudikan menuju musium kini putar arah, menuju sebuah kafe di mana Sakura bekerja.

"Paman, kita mau ke musium?" bocah di sampingku kembali bertanya.

"Tidak, kita akan ke tempat kerja Ibumu." Sial! Wajah cerianya langsung berubah murung dan itu membuatku merasa bersalah. "Hey, jangan sedih. Paman hanya ingin menjemput Ibumu agar kita bisa pergi bersama."

Seketika kepalanya yang kecil itu menoleh, menatapku dengan senyum lebar, "Horeeee..." ia bersorak senang.


Aku melihatnya dari balik kaca mobilku, Sakura sedang sibuk membawa nampan menuju meja-meja yang sudah diduduki para pelanggan kafe. Akhir pekan memang sangat mengerikan, pengunjung semakin membeludak masuk ke dalam sana, bahkan sampai ada yang duduk di beranda luar.

"Sepertinya Kaa-chan sedang sibuk, paman." Bocah di sampingku bergumam tak bersemangat, matanya menatap rindu sosok Sakura di dalam sana.

Tch, apa Sakura benar-benar tidak memiliki waktu untuk anaknya ini? bekerja pontang-panting mengorbankan waktu berharganya bersama putranya hanya untuk beberapa lembar ribuan Yen? Bahkan aku bisa menebak, uang yang ia dapat setelah bekerja full time selama sebulan akan habis dalam waktu beberapa jam saja. Untuk bayar tagihan rumah, pengobatan ayahnya, biaya sekolah yang cukup mencekik leher. Masuk akal jika Daiki tak pernah kebagian uang saku.

Memikirkan semua itu tiba-tiba saja membuat hatiku kebas, ingin menyalurkan rasa meletup-letup ini pada sesuatu hingga remuk tak berbentuk. Aku kembali menatap bocah di sampingku, "Daiki, bagaimana kalau acara berlibur ke musiumnya ditunda minggu depan?"

Bocah itu memaksakan senyumnya, "Baik, paman."

Huuuft... kubuka pintu disamping kananku dan mulai berjalan memutar untuk membuka pintu penumpang. "Ayo." Kataku.

"Apa kita akan masuk ke sana, paman?" ia bertanya dengan getaran takut dalam suaranya.

"Hn, kita akan makan siang dan menunggu ibumu sampai pulang kerja, lalu kita pergi ke timezone, bagaimana?" Daiki tak membuka mulutnya, namun hanya dengan melihat binar dikedua matanya saja aku sudah tau kalau dia begitu terlihat senang sekali.

Kugendong tubuh kecilnya ke dalam kafe yang sangat ramai, tak sampai menunggu belasan menit sampai iris onyx milikku bersirobok dengan emerald indah milik Sakura. Ada keterkejutan dalam dirinya saat melihatku datang, terlebih lagi dengan putranya yang ada dalam gendonganku, namun itu tak bertahan lama karena dengan cepat pula ia bisa menguasai diri dan kembali terlihat tenang.

"Apa masih ada tempat kosong di sini?" aku bertanya padanya yang langsung dia angguki.

"Dilantai dua, meja nomor 18." Katanya seraya memimpin jalan.

Kami duduk setelah menemukan meja dengan nomor 18 seperti yang Sakura katakan beberapa menit lalu, sebuah meja yang terletak di sudut ruangan dengan disuguhi pemandangan jalanan ibu kota yang cukup padat oleh kendaraan roda empat maupun roda dua.

Buku menu sudah ada ditanganku, sengaja kubuat lama dalam memilih makanan agar semakin lama pula dia berdiri di sampingku. Jangan tanya bagaimana geramnya dia sekarang, buku-buku jarinya bahkan sudah terlihat memutih karena ia kepal begitu erat menahan suaranya agar tidak membomku dan tentu saja agar tak menarik perhatian pengunjung lainnya.

"Kaa-chan, ternyata paman ini baik sekali. Tadi saja Daiki habis diajak jalan-jalan naik kuda dan setelah ini akan diajak ke timezone, iya kan paman?"

Oh shit, seberapa terlihat yakinnya bocah ingusan mengucapkan sumpah janji, nyatanya tak ada yang dapat dipegang dari kata-katanya itu. Aku mendongak dan tersenyum pada bocah di depanku, kemudian beralih menatap Sakura yang kini sedang melotot padaku.

"Apa maksudnya itu?" ia menuntut penjelasan padaku.

Kuangkat kedua bahuku tak acuh, "Tidak ada maksud apapun, aku hanya sedang kesepian dan ingin bermain. Jadilah kuajak anakmu keluar, lagipula dia merasa senang, lalu masalahnya apa?"

Sakura semakin berang karena jawaban tololku barusan, ia hendak memuntahkan kata lain untuk memojokkanku namun dengan segera aku stop, kukembalikan buku menu padanya,. "Aku pesan Chococino, sandwich tanpa sayur, satu porsi sosis panggang dan es krim Vanilla."

"Minus es krim," ia memberikan koreksi.

"Aku yang memesan!"

Dia mendengus, "Dan pesananmu itu akan kau berikan untuk putraku, tentu saja jawaanku tidak. Daiki tidak boleh terlalu banyak makan es di bulan-bulan dengan musim yang tidak menentu ini, ada banyak sekali penyakit yang siap menyerangnya jika ia menuruti pola makan serampangan seperti yang kau pesan barusan."

Mulutku terbuka namun tak ada satupun kata yang keluar, terus seperti itu sampai beberapa saat. Aku menghela lelah, "Terserah kau saja," finalku.

"Baiklah, dua nasi goreng sosis tanpa sayur dan dua jus tomat." Setelah membacakan pesanan sepihak darinya, ia segera melenggang pergi untuk memberikan catatan pesanan barusan kepada koki.


Timezone center, benar, kami terdampar di sini berkat rajukan mematikan Daiki. Rupanya Sakura tidak pernah bisa menang kalau anak itu sudah memasang wajah memelas dengan mata yang berkaca-kaca. Aku masih ingat wajah kesalnya saat kugiring menuju bangku penumpang di samping kemudi ferrari kesayanganku.

Sakura menahan ledakan emosinya, serta ekspresi tak sudinya ketika mendudukkan dirinya di sana. Hahaha... aku menyeringai karena baru saja mendapat senjata mematikan untuk membuat Sakura tak berkutik.

"Kaa-chaaan..." seruan Daiki membuatkku kembali terhempas pada kenyataan bahwa Sakura sedang berada di sini, dengan diriku yang paling dia benci di dunia ini.

Sakura melambaikan tangannya ke arah kami dengan senyum miris melihat betapa antusias anaknya itu saat menjajaki berbagai macam permainan yang ada di sini. Sungguh ironis memang, orang yang paling dia hindari dan orang yang ia benci sampai ujung rambutnya justru bisa membuat putra kesayangannya terlihat bahagia sekali. Hha, uang memang memiliki pengaruh yang luar biasa, Sakura.

"Sudah malam, kita pulang sekarang." Hardiknya saat kami datang setelah bermain street basketball.

Mulut Daiki menguncup, kemudian disusul dengan gelengan kepalanya. "Nanti yah Kaa-chan, Daiki mau coba main balapan, tembakan dan-"

"Tidak, besok kau harus sekolah dan ini sudah jam sembilan, Daiki." Sakura memotongnya dengan cepat, diikuti dengan tekanan yang tegas, membuat anak itu dengan sekejap menundukkan kepalanya.

Apakah rasa lelah dapat mempengaruhi hormon seseorang untuk meledak-ledak setiap saat? Aku segera menengahi mereka, tepatnya tak tega melihat si kecil yang menundukkan kepalanya sedih. "Sekali lagi saja-"

"Diam kau! Tahu apa kau tentang kedisiplinan waktu, kau hanya orang luar dan lihat, kau sudah meracuni otak putraku!" katanya murka padaku yang berdiri di sisi putranya.

Hanya orang luar? Sebegitu bencinyakah Sakura padaku? Aku hendak berbicara namun sampai beberapa saat tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Dan Sakura terlihat puas melihatku yang seperti ini, tak berkutik dengan mulut terbuka dalam waktu yang cukup lama.

"Kuantar-" kucekal pergelangan tangannya namun langsung Sakura hempaskan.

"Aku bisa pulang sendiri," ketusnya seperti biasa.

Tch, aku mendengus, kemudian menatapnya dengan tatapan defensif andalanku. "Jangan terlalu naif Sakura, Konoha tak seaman yang kau pikirkan. Dalam satu hari terjadi banyak pemerkosaan di angkutan umum, dan aku tak akan tenang jika harus membiarkanmu pulang menggunakan kendaraan semacam itu."

"Aku sudah biasa pulang-pergi dengan angkutan umum, jadi berhentilah seolah kau benar-benar peduli."

"Jangan keras kepala!" kusentak dirinya yang berusaha mengabaikanku, kemudian dengan cepat kuambil tubuh putranya dan lekas kugendong. Seperti yang sudah kuperhitungkan, dia akan mengekoriku di belakang dengan mulut yang sedang komat-kamit membaca sumpah serapah untukku. Hahaha... siapa peduli! Seorang Uchiha selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tak ada kata penolakan!


Balasan Review

hanazono yuri: ini udah di lanjut hana-san :)

megan091: taraaa aku udah apdet lagi nih wkwkw

kakikuda: yup, semoga sepotong cinta yang tertinggal bisa nyatuin mereka berdua. Btw, aku bikin ini udah lama, sebelum sarada lahir wkwkwk tapi alasannya sih milih Daiki gara-gara dapet feelnya ke anak cowo ketimbang anak cewe.

suket alang alang: alhamdulillah kalo masih nyantol feelnya wkwkw. Yup, tentu dong si karin harus didepak dari kehidupan sasu.

Kikyu: makasih, ini udah di lanjut :)

michi-chan: semoga bisa menjawab penasaran Michi-san yah hehe

Emerald: tentu di lanjut dong, masa engga hehhe

Uchiha Cherry 286 : salken juga uchiha-san hehe... yah gimana ya, namanya juga Sasu masih labil 7 tahun yang lalu itu. Khilaaaap... kalo Daiki anak siapa? Nanti deh bakal dibahas hahaha