I do not own the story!
copyright © 2015 Adagio by inkills (AFF)
translated by Xiao Wa (June 25, 2016)
Enjoy~
o
o
o
Luhan bergantung pada kopi yang akan Kyungsoo buatkan untuknya, karena dia terburu-buru. Dia hampir tidak bisa tidur saat malam karena hal soal pesta yang nyonya katakan padanya, dan dia susah payah untuk memilih sonata terbaik yang akan ia mainkan, Luhan kebingungan.
Bagaimana pun juga, dia pikir Mozart merupakan karya agung untuk pesta itu. Tetapi karya-karya lain menarik perhatiannya, dia melihat berbagai lembaran selama makan siang, saat para pelayan mengobrol tanpa henti pikirannya di tempat yang jauh. Dan walau pun dia masih bermain untuk keluarga itu dia bisa merasakan tatapan Sehun padanya beberapa kali, sampai anak laki-laki itu memutuskan untuk masuk ke ruangan, terlihat mempesona seperti biasanya. Ia mulai berjalan di ruangan, mendengarkan permainan Luhan. Sampai si pianis memainkan bagian akhir, menyelesaikan lagunya dengan lembut dan mendongak untuk bertemu mata Sehun. Mereka bisa menunjukan bagaimana ia mengagumi semangat Luhan, dan bagaimana ia sangat terpikat dengan sonata indahnya. "Tadi sangat mengagumkan." Sehun berkomentar. "Terima kasih."
"Aku yang seharusnya berterima kasih, kamu masih bermain dengan semangat tanpa kehilangannya sedikit pun.. dan ini hampir tiga bulan," Luhan tersenyum lembut atas apa yang Sehun katakan, dan menundukan kepalanya, dengan lembut membelai tuts-tuts piano. "Dan aku suka bekerja di sini," Luhan hampir bergumam. "Aku suka datang kemari setiap pagi dan bermain tiga kali sehari untuk kalian." Sedikit senyuman tipis terbentuk di wajah Sehun, menyadari ia juga terlambat untuk berteman dengan pianis ini.
Melalui percakapan kecilnya dengan Luhan dia tahu bahwa Luhan selalu dipuji akan kemampuan pianonya, dia tahu ia menyukai tempat tidur hangat dan mandi busa. Sehun juga tahu bahwa Luhan seorang introvert, ia tidak peduli akan dunia luar sebanyak ia peduli pada pekerjaannya dan piano. Dan Luhan sebenarnya mendapati dirinya mempesona, yang mana Sehun tersenyum dibuatnya. Sehun seorang murid universitas, mengambil jurusan bisnis yang membosankan untuk meneruskan pekerjaan ayahnya. Dia membencinya lebih dari apa pun. "Jika aku tidak mengambil bisnis aku tidak tahu apa yang aku ambil." Sehun mengaku, jari-jarinya memencet tuts serampangan sambil duduk di sebelah Luhan. "Oh.. bisnis sedikit menekan, tapi menyenangkan untuk mempunyai sebuah kantor dan orang yang bekerja untukmu."
Luhan mendapati bahwa dia hanya berkomunikasi dengan nadanya, melodi-melodi yang dia ciptakan karena duduk di sebelah Sehun dan tidak tahu bagaimana untuk menjawab, membuatnya tersadar bahwa sikap introvertnya yang telah membuat isolasi itu, dedikasi lebihnya pada pekerjaan dan sonata daripada dunia. Dan Sehun berpikir bahwa dirinya terlambat untuk berteman dengan si pianis, lucu bagaimana canggungnya dia terlihat ketika dia tidak tahu untuk menjawab apa, dan gigitan kecil di bibirnya yang dia lakukan kapan pun dia menjawab dengan sebuah gumaman, berpikir bahwa itu tidaklah cukup. Tapi hanya piano yang membuat mereka lebih dekat, karena pada hari berikutnya ketika Sehun mengunjunginya, Luhan mulai merasa lebih nyaman di sekitarnya, menyadari bahwa dia bukanlah putera sombong seperti pertama kali mereka bertemu. "Apa ibuku memberitahumu tentang pesta besok?"
Luhan mengangguk, tangannya memasukan kertas-kertas ke dalam tasnya. "Dua hari yang lalu," katanya dengan senyuman manis cerah yang mana Sehun mulai dibuat kecanduan, "Apa yang akan kamu mainkan?" Sehun terduduk di sebelahnya di bangku, dan Luhan mendesah, "Jujur saja, aku tidak tahu.. aku sudah memilih beberapa tapi yang lainnya..." suaranya murung, dan Sehun berdengung berpikir. "Kau masih memiliki dua puluh empat jam," Sehun menghiburnya, sambil menekan sebuah tombol. Piano itu mulai memainkan sebuah lagu, dan dia menyeringai. Itu juga merupakan sebuah pianola, dia berdiri, mengulurkan tangannya pada Luhan yang matanya melebar dalam bingung. "Bolehkah aku mendapatkan dansa ini?" Ia terkejut, menatap tangan Sehun sebentar. Dan perlahan ia meletakan tangannya pada tangan yang terulur, berpikir bahwa akan kasar baginya jika meninggalkannya tergantung, melihat bagaimana dirinya ditarik berdiri dengan lembut dan dibawa ke tengah ruang piano membuat jantungnya berdetak cepat.
Jantungnya terus berdegup kencang di dalam dadanya, saat satu lengan Sehun perlahan memeluk di sekitar pingangnya yang kecil, dan sisa tangan mereka di udara. Kaki-kaki mereka berdansa dengan sempurna, setiap ritme dengan setiap gerakan mereka itu seperti mereka dilahirkan untuk berdansa bersama. Dan Sehun menyeringai, "Ini sempurna," Dia berkomentar pada tariannya, karena Luhan hanya seorang pemula. Dia menggenggam tangan pianis itu lebih erat, membuat Luhan mengeluarkan erangan pelan yang lembut. Luhan memberanikan diri untuk mendongak, membuat mata mereka berdua bertemu melalui nada romantis indah yang piano mainkan untuk mereka. Ia bisa melihat kekaguman, apresiasi dan kehebatan berlebihan lewat mata Sehun. Dan Luhan hampir terjatuh pada lututnya, ia merasa lemah tiba-tiba; tapi kakinya tetap bergerak, kakinya berdansa bersama kaki Sehun dan tangannya tetap dalam genggamannya.
Sesaat setelah Sehun membawanya lebih dekat, memaksa tubuh mereka untuk bertemu Luhan merengek, dia menutup matanya sepenuhnya menyerah, kehangatan yang terus dia terima. Lalu dia gemetar, lagunya berkahir dan Sehun berhenti, Luhan bersumpah dia merasakan bibir tuan muda di rambutnya, sebelum dia menarik diri menjauh. Dia bisa merasakan genggaman erat yang Sehun berikan pada tangannya sewaktu mereka berdansa, dan tatapan dalam yang ia berikan padanya. Luhan tiba-tiba merasakan dingin. "Itu tadi hebat." Sehun berkata hampir berbisik, perlahan, dan Luhan menundukan kepalanya. "Benarkah?" Sebuah senyuman kecil terbentuk di bibirnya, dengan jelas menunjukan seberapa gugupnya dia, dan dia perlahan menarik tangannya menjauh dari genggaman Sehun, membawanya mendekat untuk menggosok lengannya dengan gugup. "Ya, aku tidak tahu kamu sebaik itu." Sehun mengakui, melihat Luhan yang gugup, dan bagaimana dia berbalik dengan sebuah senyuman malu-malu. Dia mulai memasukan barang-barangnya ke dalam tas, dan menempatkan talinya di bahu. Saat itu, setiap langkah yang Sehun ambil hanya membuatnya menjadi lebih dan lebih gugup. Sampai dia merasakan lengan yang sama memeluk pingangnya, dia terkejut. "Kau baik-baik saja?" tanya Sehun, rasa khawatir bisa terlihat dalam kedua matanya dan Luhan dengan cepat mengangguk, menggenggam tali tasnya lebih erat.
"Bukankah kamu akan pulang ke rumah? Tunggu sebentar," Dia mengeluarkan teleponnya, dengan cepat memanggil supir memerintahnya untuk mengeluarkan mobilnya. Yang mana membuat Luhan menghela napasnya, dan berjalan keluar dengan seorang putera dari keluarga kaya tempatnya bekerja. Dia melihat limo hitam, dan kali ini Sehun membawanya masuk dengan dirinya sendiri. Dan membiarkan supir itu menutup pintu untuk mereka, dia memundurkan lengannya, sekarang menatap pada pianis yang duduk di sebelahnya. Dan seraya mobil mulai bergerak Luhan menghela napasnya. "Oh, aku lupa menanyakannya padamu, apa kau sudah makan malam?"
Luhan sebagai balasan melengkungkan kedua alisnya, memeluk tasnya lebih erat di perutnya dan dia menunjukan senyuman kecil untuk menyakinkan tuan mudanya. "Ada sebuuah restoran China di dekat apartemenku, aku akan baik-baik saja." Tuan muda memberikannya sebuat tatapan lama, sebelum ia melihat lurus ke depan, memerintah supirnya yang menurut dengan sebuah anggukan kepala. "Bawa kami ke Atrio." Luhan bergumam dalam tanya, alisnya melengkung kebingungan saat Sehun hanya menyakinkannya dengan sebuah senyuman kecil. Mereka sampai ke tempat yang sangat mewah, dan Luhan menelan salivanya, karena ketika dia melihatnya itu adalah sebuah restoran. Sehun membawanya masuk, dan dia menolak. "Aku katakan padamu ada sebuah restoran Cina di dekat apartemenku." Dia mengeluh pelan, "Tidak perlu seperti ini," Pada akhirnya, Sehun memeluk pinggangnya, memaksanya masuk dan berhenti ketika seorang karyawan datang untuk menyambut mereka dengan sebuah kalimat pelan, "Tuan,"
"Meja untuk dua orang." Sehun berbisik, dan Luhan menyadari bagaimana karyawan itu bertindak, dia terlihat seperti dia tahu siapa Sehun. Dan untuk Luhan yang duduk di mejanya, memeluk tasnya erat dia melihat ke sekeliling dan mendesah, karena tempat seperti ini tidak cocok untuknya sama sekali. "Silakan," kata tuan muda setelah membuka menunya untuk Luhan yang duduk di seberangnya. "pesan apa pun yang kamu mau."
Sebagai balasannya, pianis itu mengeluarkan helaan napas yang lain. Perlahan membuka menunya, dan hal pertama yang matanya lihat adalah harganya, dadanya hanya kembali mengencang. "Sangat mahal," Dia mengeluh kecil, dan Sehun hanya bersusah payah untuk memanggil pelayan. Makanannya terlihat lezat di menu, tapi tidak mungkin dia akan membiarkan Sehun membayar lebih dari seribu untuknya. Dia mencari yang lebih murah, dan dia memilih sepiring nasi kari. Mendongak untuk bertemu tatapan Sehun, tuan muda berkata, "Kamu harus memesan lagi, aku mendengar bagaimana perutmu berbunyi di mobil." Itu membuat bayangan merah merona langsung muncul di kedua pipi Luhan, dia juga mengelus pelan perutnya di bawah meja. "Ini sudah cukup," protesnya, membuat Sehun mengiriminya tatapan tajam, yang sangat dingin. Matanya kembali ke buku menu sekali lagi, melihat pada harganya dibanding makanannya, dan sekali lagi dia mendesah. "Carbonara?" Matanya bertanya pada Sehun, dan si tuan muda bergumam, "Lalu? Pilih pencuci mulut."
"Ini sudah cukup, tidak perlu pencuci mulut." Dia bertekad, dan Sehun membuka menunya, seraya bibirnya mengulang pesanan Luhan pada pelayan. "Dan satu blueberry cheesecake." Lalu dia menutup menunya, meletakannya di meja saat pelayan itu berbisik. "Yang biasa untuk winenya?" Sehun mengangguk, "Yang biasa." Pelayan itu pergi, dan matanya menatap mata Luhan. Bibirnya tidak bisa membisikan apa-apa. Luhan merengek. "Tidak perlu sampai semua ini." Dia merengek protes. Restorannya berlampu remang, tenang walau pun hampir terisi dengan orang-orang dan riuh akan dentingan gelas dan garpu bertemu piring. Suasananya membuat dirinya tidak nyaman, kenyataan berada di tempat mewah di kelilingi orang-orang kaya. "Kenapa? Kau kelaparan jadi aku membawamu kemari."
Luhan merengek, menundukan kepalanya sebelum Sehun menempatkan sikunya di meja, tangannya terjulur untuk memegang dagu pianis itu dan mengangkat kepalanya. "Kau tidak membuatku dalam masalah apa pun, aku senang akan hal ini." Matanya menunjukan kejujurannya, dan Luhan mendesah lega ketika makanannya datang. Semuanya terlihat sangat lezat.. dan mungkin karena dia sudah hidup dengan mie untuk makan malam selama bertahun-tahun, dan ini waktunya untuk memegang sendoknya ke atas, mulai makan perlahan dari nasi ayam kari. Sebuah senandung kegembiraan keluar dari tenggorokannya, dan dia dengan cepat mengosongkan piringnya. Sehun terkekeh, "Kamu akan tersedak, hati-hati." Pianis itu melihat bagaimana ia perlahan menyesap winenya, dengan elegan meletakannya turun dan memberikan sebuah garpu untuk Luhan yang mengelap bibirnya, merasa sangat malu saat itu. "Kamu masih mempunyai dua piring yang harus diselesaikan, jangan terburu-buru."
Luhan tidak pernah membayangkan Sehun bisa selembut ini, cukup perhatian untuk membawanya ke sebuah restoran mewah. Mendesaknya untuk makan banyak dan menyakinkannya bahwa hanya dia yang akan membayarnya. Sehun juga meletakan segelas wine di sebelahnya, dan dia tidak ragu untuk meminumnya.
Luhan menyaksikan uang yang Sehun bayarkan, setelah terus-menerus menolak tawaran Luhan untuk membayarnya. Dia duduk di dalam mobil dengan canggung, memeluk tasnya dan terus menundukan kepalanya. "Um, terima kasih banyak atas makan malamnya." Dia tersenyum, "Itu sangat enak." Dia sudah bisa merasakan tatapan Sehun, Sehun bergumam. "Jika aku bisa membayarmu kembali dengan apa pun.." Sehun meletakan tangannya pada paha Luhan, sebelum pianis itu bisa menyelesaikan kalimatnya, dia menepuknya saat limonya berhenti. "Kamu tidak perlu melakukannya." Luhan menggelengkan kepalanya. "Tidak, sungguh! Aku akan merasa lebih baik!" Dia memaksa, dan tuan muda melepaskan sebuah tawa akan hal itu, perlahan dia menganggukan kepalanya. "Aku akan memikirkannya."
Hari itu Luhan hampir tidak bisa tidur, memiliki dua hal yang dia pikirkan dan salah satunya adalah soal pesta. Dia sampai ke ruang dansa lebih awal di pagi hari, setelah pikiran tentang tuan muda dan dansa indah yang ia tawarkan padanya tadi malam menyerbu kepalanya. Para pelayan sudah mulai sibuk, dan dia menyiapkan grand piano emas dan lembaran yang akan dia mainkan. Nyonya dari mansion memastikan semuanya akan berjalan dengan baik, ketika Luhan menelan segelas kopi keduanya. "Kamu baik-baik saja?" Jeongmin bertanya, dan Luhan memberikannya senyuman kecil. "Ya, aku hanya tidak tidur tadi malam." Dia ditawari gelas ketiga pada tengah hari, dan siang hari dia berdiri di depan cermin mansion untuk memperbaiki rambut dan setelannya. Ini terasa sedikit tidak nyaman, saat itulah ketika dia mulai memikirkan tentang tuan muda.
o
o
o
x.w:
Introvert: seseorang yang lebih suka memikirkan dirinya sendiri dibanding orang lain.
