Chapter : 4
Sebelum mulai ane mau ucapin "sekelangkong" buat semua Reviewer yang telah member suport dan masukan. Karena dengan hal itu ngebuat ane makin semangat buat ngelanjutin fic abal-abal ini.
Dan tak lupa buat Reviewer yang reviewnya gak sempat ane bales, ane mohon ma'ap yee…! Awas kalau ga' di ma'apin #maksa.
Then, Happy Reading Guys.
"The Way Of Love"
Disc : Tanpa Ane sebutin pasti kalian tahu, pan dia Om ane #plaak
Warning : Imaginasi Author agak gak normal.
Mentari pagi baru saja memasuki daratan ketika sang angin menyentuh dahan-dahan rindang dengan dedaunan hijaunya. Cahaya hangat itu pun tak mau luput untuk memasuki sebuah kamar megah dengan dominasi warna lavender itu. Setiap sudut, setiap kain dan apapun yang ada dikamar itu seakan bernuansa sama. Lavender.
Tubuh berpiyama berwarna senada dengan warna ruangan itu nampak menggeliat, sampai beberapa saat terdiam dalam sepi. Gorden kamarnya telah terbuka, menandakan bahwa pelayannya telah memasuki kamarnya tanpa Ia sadari karena terlalu lelap tertidur. Dan seperti biasa, Mereka tidak akan ada yang berani membangunkannya jika itu bukan keinginannya sendiri.
Mungkin, di dunia ini hanya ada tiga orang saja yang berani membangunkannya ketika sejak asyik berlayar pada lautan tanpa ujung yang bernama mimpi. Pertama adalah sang Ayah. Kedua adalah Kakaknya sendiri. Dan ketiga, orang paling special dalam hidupnya.
Tubuhnya masih merasa lelah setelah kemaren seharian Ia berpetualang tanpa pengawalan dari para Bodyguard-bodyguard-nya yang sengaja disewa untuk mengawalnya selama liburan ini. Yah, tapi malang memang tidak dapat ditolak, Ia tertangkap ketika akan kembali ke dalam kamarnya. Dan sebagai hukuman, hari ini Dia dilarang keluar dari kamarnya.
Menyebalkan bukan?
Coba bayangkan. Kau sedang berlibur, tapi Kau akan di hukum seakan Kau seorang anak kecil ketika tertangkap basah sedang pergi seorang diri. Sungguh menyebal Ia rasa. Padahal yang menemaninya kali ini hanyalah sang Kakak, entah apa jadinya jika sang Ayah juga ikut, mungkin liburan ini hanya akan bisa di sebut sebagai acara yang biasa Dia ikuti.
Dan ngomong-ngomong, Kakaknya itu, Dia bukanlah Kakak kandungnya, melainkan anak dari pamannya sendiri.
Sejenak matanya yang terlihat begitu khas terbuka. Ia menatap langit-langit kamarnya beberapa saat seakan mencoba mengumpulkan kesadaran dirinya. Perlahan Ia bergerak bangun, mengedarkan pandangan pada seisi ruangan. Makanan yang masih nampak mengepulkan asapnya tertata rapi diatas sebuah meja yang di persiapkan khusus untuk hukumannya yang tidak di perbolehkan keluar dari kamar.
Hinata Hyuuga. Itulah namanaya. Seorang gadis ceria yang mungkin terlalu pemalu untuk menampakkan keceriaannya di depan orang-orang yang mengenalnya. Sebagai seorang penerus keluarga, Ia sering kali harus menjadi seperti apa yang Ayahnya inginkan. Berdalih untuk kebahagiaan sang Ayah, seringkali Hinata mengorbankan keinginannya sendiri. Tapi entah kenapa kemaren Dia begitu nekat pergi tanpa sepengetahuan orang-orang disekitarnya.
Mungkin jawabnya hanya satu. Keinginannya itu sudah sangat tidak dapat Ia tahan lagi.
Keinginan kecil yang mungkin akan dianggap sebagai hal remeh bagi sebagian orang, tapi bukan baginya. Keinginan itu adalah pergi ke pelabuhan. Aneh bukan? Yah memang. Pelabuhan dan Pantai adalah dua tempat yang selalu ingin Ia datangi seorang diri. Dalam benaknya selalu terbayang akan pemandangan burung camar yang terbang bebas tanpa penghalang. Dan mungkin itu bisa di bilang semacam ironi dalam hiupnya.
Tanpa disadarinya, keasyikan menikmati pemandangan air laut serta para camar yang hilir mudik menjatuhkan paruhnya untuk menangkap makanan, membuatnya melupakan waktu. Dan ketika Ia sadar, maka rasa terburu-buru membuatnya secepat mungkin untuk kembali. Hingga tanpa Ia menabrak seorang pemuda yang baru turun dari kapal yang berlabuh. Bahkan, Ia hanya bisa mengucapkan kata "ma'af" tanpa sikap yang sesuai karena terburu-buru.
Dan akhirnya. Tetap saja kini ia terpenjara di dalam ruangan sepi ini karena apa yang di lakukannya tempo hari.
Jika boleh memilih, Dia pasti akan memilih terlahir di keluarga yang lebih sederhana tapi kebebasannya tak terampas seperti saat ini. Sebagai satu-satunya penerus keluarga Ia selalu dituntut untuk tampil sebagai figur yang sempurna dalam setiap hal. Bahkan ketika Ia memilih untuk berlibur ke kota ini sang Ayah dan kekasihnya tidak membiarkannya begitu saja. Memang bukan tanpa alasan, tapi apakah keinginan itu harus terus tertunda hanya karena status keluarga.
Kota ini memang bukanlah tempat yang aman untuk tujuan liburan. Semua itu terbukti dengan nyaris terhapusnya hukum dan segala peraturan di kota yang merupakan salah satu kota besar ini. Maka jadilah di dalam villa ini itu, pengaman yang nampak berlebihan untuk hanya menjaga seorang gadis manis di dalamnya.
Dia beranjak dari atas ranjaknya yang lembut. Melangkah kearah yang dari celahnya, cahaya merambat masuk tanpa permisi.
Dengan balutan kain halus yang hanya menutupi sebagian pahanya, Ia berpegang pada jeruji besi yang melintang kokoh pada bingkai jendela. Tatapan sayu yang Ia edarkan kearah luas cakrawala seakan meneriakkan sebuah seruan tanpa suara.
'Aku ingin bebas. Aku ingin menjelajah cakrawala itu. Seperti burung camar di pantai. Dan seperti ombak di lautan. Aku... aku ingin bebas...'
Konoha City.
Entah apa yang kini Ia rasakan. Detik berlalu begitu cepat hingga Ia tidak menyadari kesia-siaan yang telah Ia lewati selama ini.
Dia telah melakukan kesalahan besar. Kenapa Ia bertahan untuk orang yang belum tentu tercipta untuknya? Dan kenapa Ia mengabaikan seseorang yang nyaris tidak pernah menghilang saat Ia membutuhkan bahu untuk tempat bersandar?
Sejak hari itu. Perlahan sosok hangat yang selalu di sisinya itu berubah. Dan kini, setelah tiada lagi waktu untuknya bertemu dengan sosok hangat itu rindu seakan berdesakan dari dalam dadanya.
Apakah ini karma? Ataukah kesadaran diri?
Rasa bersalah kian menggerogoti hati Sakura. Tidak. Bukan hanya rasa bersalah karena mengabaikan sosok yang selalu mencintainya sepenuh hati itu. Tapi kini, beserta bumbu yang bernama rindu. Dan mungkin, juga cinta.
Beberapa waktu setelah Naruto pergi, Sakura datang kerumahnya. Tapi, hatinya kian terasa rapuh ketika didapatinya di dalam rumah itu hanya ada Ibu dan Ayah Naruto.
Hanya satu informasi yang tanpa kepastian yang di dapatkannya. Naruto pergi ke kota lain. Entah Suna, Iwa atau Kumo. Orang tua Naruto pun tidak tahu pasti kemana Naruto akan pergi.
"Sakura... Sakura..."
Sang pemilik nama tidak bergeming dari lamunannya.
"SAKURAAAAAA...!"
"Aaahhh iya, Naruto..."
"Eh? Naruto?"
Pias merah segera menjadi ornamen penghias pada wajah Sakura.
"eh itu... ano... emmm... Naruto di cafe ichiraku enak maksudku."
Sakura gelapan mencari alasan pada hal yang di ucapkannya.
Ino. Sahabat Sakura itu tersenyum sadis. "Kau benar-benar bodoh dalam berbohong, Sakura!"
"Berbohong? Tidak. Siapa juga berbohong?" Bantah Sakura.
Ino tertawa sebelum kemudian meneruskan ejekannya. "Memangnya sudah berapa lama Aku mengenalmu, Sakura? Sampai Kau berfikir Aku tidak bisa mengerti kegelisahan di hati Sahabatku ini?"
Sakura terdiam. Memang bukan waktu yang sebentar sahabatnya itu mengenalnya, hingga Ia bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Sejak kecil mereka sudah bersama, sejak kecil mereka telah menjadi sahabat meski pertengkaran ala anak seumuran mereka sering menjadi acara wajib.
"Sudahlah. Jika Kau hanya melamunkannya, itu tidak akan menjadi apapun. Berbeda jika Kau mau mengejarnya. Sakura, pengorbanan Naruto untuk mu itu tidaklah sedikit. Bahkan jika Aku menjadi laki-laki, belum tentu Aku bisa melakukannya. Menjaga tawamu tetap menghiasi wajah mu meski tahu hati mu hanya untuk orang lain."
Sakura benar-benar takkan mampu berargumen lagi kali ini.
Dia hanya mampu diam. Memory otaknya dipaksa mengulang setiap kenangan usang yang nyaris Ia lupakan. Kenangan yang mungkin bukan hal romantis seperti dalam film yang terkadang kadar romantisnya sampai pada stadium 4. Namun begitu berarti karena adanya lelaki itu. Hey, sejak kapan lelaki bernama Naruto itu berarti dalam hidup Sakura?.
"Tadi Aku baru datang dari Airport, mengantarkan Kiba. Jika Kau mau Kau bisa meminta bantuan Kiba untuk mencari Naruto. Dan jika Aku tidak salah ingat, bukankah Kau memiliki Saudara di Suna City?"
"Yah. Tapi, Aku perlu membicarakan ini dengan Ayah dan juga Ibu, Aku tidak ingin mereka khawatir."
"Baiklah. Ayo!"
"Eh? Sekarang?"
"Tentu saja, Nona. Apakah Kau mau menghabiskan hari ini dengan duduk di taman ini saja? Bukankah lebih baik jika Kau segera memberi tahu Paman dan Bibi, biar bisa segera mengejar Pangeran mu itu?"
Pias merah kembali menghias wajah Sakura kala kata terakhir yang Ino ucapkan.
Apakah ini kegilaan cinta?
Ataukah kadar cinta, eh tunggu. Cinta tidak bisa di takar!.
Ataukah cinta yang kini Ia rasakan melebihi apa yang pernah Dia rasakan pada sosok yang sering menjadi tolak ukur dari pribadi Naruto? Mungkin saja. Karena dahulu ketika sosok itu pergi, Sakura tidak lantas memiliki niatan untuk mencari atau mengejarnya? Atau karena saat itu Dia masih terlalu kecil untuk pergi seorang diri? Oh tidak. Dalam cinta tidak ada alasan semacam itu.
Namun, satu hal yang pasti. Dia telah jatuh cinta pada orang yang pernah di sia-siakannya.
Kiri City.
"Itachi ... Uchiha..." Gumam Naruto ketika pandangannya mulai jelas akan sosok yang tadi
bertepuk tangan atas apa yang di lakukannya.
"Aku harap Kau tidak kecewa dengan penyambutan yang di berikan oleh penghuni ini, Naruto."
"Apa maksudnya ini semua, Itachi?!" Geram Naruto.
"Tidak ada. Karena jejak Sang nomor 1 tidak dapat 'Kami' temukan. Maka, Sang nomor 2 yang 'Kami' rekrut."
"Nomor 1, nomor 2. Kau pikir Kau itu siapa?! Jangan sama-sama kan Aku dengan orang itu, Itachi!" Teriak Naruto.
'Glaaarrrrrr...'
Halilintar bergemuruh.
"Dalam setiap setiap hal, Kau memang kalah darinya. Jadi, tidak salah bukan jika Aku memanggilmu nomor 2?"
"Aku akan mengalahkannya. Jika waktunya tiba."
Itachi tersenyum. "Ikutlah. Kau akan menjadi bagian dari kami. Dan akan cukup kuat untuk
mengalahkan si nomor 1."
Itachi berbalik tanpa menghiraukan Naruto. Seakan Dia tahu jika tidak ada tempat lagi bagi
Naruto selain ikut dengannya.
Naruto masih terdiam ketika Itachi dan pengawalnya beranjak pergi. Entah dorongan dari mana ketika Ia mulai meraih tasnya yang tergeletak diatas tumpukan tubuh tak bernyawa dan mulai melangkah kearah yang sama dengan arah yang Itachi tuju.
Dari jalan ini. Naruto tidak tahu takdir apa yang tengah Ia tuju dan tengah menunggunya.
"To be Continued..."
