Chapter 4 UP!.

Thx yang udah mau review cerita ane ini, semoga kalian makin suka sama cerita ane yang nambah amburadul neh Hehehe.

Ok langsung saja tanpa ba-bi-bu lagi di baca ceritanya.

Summary: Kehidupan baru Keluarga Naruto di Kota Manchester, Inggris. Di mana dia dan kakaknya menemukan 3 wanita cantik yang pingsan di Taman Kota dan mengalami Tragedi mengerikan yang menimpanya.

Genre: Family, General, Mystery, Romance, and Tragedy.

Warning: Normal Life, Original Branded Name, AU, Typo, Abal, Gak nyambung, Real Hooligans, OOC all character, Mild language, dan masih banyak lagi.

Disclaimer: Naruto punya Mas Kis dan HS DxD punya Ichiei.I, ane hanya minjem doank. Peace V (T_T).

Chapter 4: Life With the New Family

Manville Street Way, Manchester, M30 ORA, 22/12/15 14.30 PM

Suasana di Ruang makan Rumah Naruto sedang dalam kondisi tercengang karena akibat perkataan Itachi barusan tentang Rumah tinggal si gadis berambut merah, Rias. Rias dan adiknya cuma menundukkan kepala dan terdiam membisu.

Deidara kemudian memulai pembicaraan dengan nada amarahnya. "Brengsek, siapa yangtega melakukan semua itu?.".

Itachi menggelengkan kepala "Aku belum tahu ini semua masih misteri.".

"Keterlaluan sekali orang-orang ini, tak bisa di maafkan!." kata Sasori yang menggertak marah.

Semua orang termasuk Rias terkejut melihat amarah Sasori yang seperti itu. Sasori menatap ke semuanya lalu menundukkan kepalanya."Ma...maaf aku hanya terbawa emosi.".

"Tenanglah Sas, kita pasti akan mengetahui siapa pelakunya suatu saat." kata Obito memegang pundak Sasori. Sasori kemudian menghela nafas lalu mengangguk.

"Maaf ya, Sasori orangnya memang tempramental." kata Konan ke Rias dan Adik-adiknya. Mereka hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Lalu Itachi menceritakan kejadain mengerikan itu kepada semuanya.

Setelah Itachi menceritakan tragedi yang di alami ketiga Wanita itu, mereka semua lalu kembali ke ruangan nya masing-masing dengan wajah yang marah bercampur sedih setelah mendengar kejadian itu. Apalagi Sasori dengan sifat tempramental nya, dia benci sekali dengan perbuatan kelompok para bajingan itu.

Di kamar Naruto. Naruto sedang duduk di lantai mebel kayunya memandang pamannya, Hidan yang sedang duduk di sisi Kasurnya. "Aku benar-benar benci sekali dengan orang-orang ini, Paman." katanya dengan raut muka kesal dan menggertakkan giginya.

Hidan menjawabnya dengan raut muka datar ke Naruto. "Aku juga tidak suka dengan kelakuan para bajingan itu, Naruto" lalu ia menaruh tangan di dagunya."Aku rasa perbuatan penyerangan yang di lakukan mereka-mereka ini sudah di rencanakan kalau di lihat dari cerita Itachi barusan." katanya dengan menyempitkan mata.

Naruto mengangguk "Mungkin juga apa yang di katakan paman itu benar." katanya melebarkan mata. Hidan tertawa menanggapinya.

Pembicaraan mereka tehenti ketika pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. "Masuklah." kata Naruto. Pintu pun di buka dan menampak kan seorang gadis belia seusia Naruto yang tak lain adalah Asia.

Naruto tersenyum kepadanya. "Asia!, ayo masuk.".

Asia mengangguk kemudian ia memasuki kamar si pemuda jabrik itu. "Ada perlu apa kau kemari?. Ada yang bisa aku bantu?." tanyanya menatap gadis pirang itu yang pipinya memerah.

"Tidak, aku cuma ingin kemari hanya untuk melihat-lihat saja." kata Asia sambil memainkan jarinya.

Naruto menangguk "Ouh, begitu. Silahkan saja!" kata Naruto menatap seluruh ruangannya lalu terkekeh kecil.

Asia kemudian memperhatikan kamar Naruto dengan seksama. Kamar dinding Naruto berwarna putih cemerlang dan di penuhi oleh poster-poster pemain sepakbola idolanya seperti David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, Ryan Giggs, Eric Cantona, dan yang terakhir idola yang paling di sukainya yakni Cristiano Ronaldo.

Di pintu kamarnya terdapat 3 jersey Manchester United yakni musim 1998/1999, 2007/2008, dan 2014/2015 yang di gantungkan di belakang pintunya. Tempat tidur yang empuk dan nyaman berselimutkan putih dan di atasnya terdapat tiga bantal yang sama nyamannya.

Di bawah tempat tidurnya terdapat tiga laci berwarna putih dan juga karpet yang lembut dengan warna yang sama. Alas kamar Naruto terbuat dari mebel kayu berwarna coklat terang. Di dinding atas kasurnya terdapat rak buku Naruto dan juga papan tulis kecil berwarna putih. Lemari baju Naruto berada di pojok kiri berwarna coklat tua.

Di meja belajarnya ada lampu kecil untuk ia belajar, tempat berkas dan juga laptop apple nya agar ia mencari bahan pelajaran untuk pekerjaan rumahnya. Di kolong meja belajarnya juga terdapat lemari kecil berwarna putih.

Asia memandang kagum kamar Naruto dan ia juga mencium dan merasakan aroma parfum laki-laki miliknya tak terasa pipinya kembali merona merah.

"Bagaimana?." tanya Naruto yang terheran melihat wajah Asia seperti itu.

Asia sadar dari lamunannya kemudian berkata "Kamarmu bagus sekali dan juga bersih, aku suka." kata Asia menatap naruto dan tersenyum manis ke arahnya.

Pipi Naruto memerah saat Asia tersenyum seperti itu kepadanya. "Ahaha kau ini bisa saja." kata Naruto menggaruk kepala belakangnya dengan malu.

Hidan yang memandang kedua remaja ini berbicara cuma bisa tersenyum lalu ia berkata kepada mereka. "Ehem Naruto, paman keluar dulu yaa supaya kalian berdua bisa enak ngobrolnya."Hidan menggodanya sambil menyenggolkan sikutnya ke lengan Naruto dan mengedipkan sebelah matanya ke Asia.

"Ya paman." kata Naruto kesal dan pipi yang masih memerah sedangkan Asia hanya terdiam menunduk dengan pipi yang sama seperti Naruto. Hidan kemudian meninggalkan mereka berdua di kamar dengan tawa besarnya.

"Pamanmu sepertinya orang yang menyenangkan." kata Asia memandang Hidan yang pergi.

"Dia orangnya memang seperti itu suka sekali menggoda orang. Dia juga orangnya humoris, makanya setiap aku selalu merasa bosan, aku selalu minta di hibur olehnya dengan cerita konyol dan lucu buatannya." kata Naruto menatap Asia.

Asia menolehkan kepalanya ke Naruto lalu mengangguk. Naruto kemudian bangun dan duduk di kursi belajarnya. "Bagaimana kondisimu sekarang?." tanya Naruto yang bersender di kursi dan menaruh kaki kanan di atas dengkul kaki kirinya.

Asia duduk di sisi kasurnya lalu berkata "Aku sudah sehat Naruto, ini semua berkat sup dan coklat panas buatan Ibumu." kata Asia dengan wajah yang senang.

Naruto tertawa sebentar lalu berkata. "Ibuku memang ahli dalam hal seperti itu. Ibuku tahu sekali apa yang ingin di masak ketika ada seseorang yang sakit dan keesokan harinya pasti akan sehat kembali." kata Naruto memandang luar jendela dan tersenyum.

Asia menundukkan kepalanya lalu ekspresinya berubah menjadi sedih "Kau beruntung sekali mempunyai ibu seperti dia. Aku jadi iri.".

Naruto menoleh ke Asia terdiam. Asia berkata kembali dengan suara yang gemetar. "Seandainya mereka masih ada, mungkin aku masih bisa merasakan cinta, kasih sayang, dan kehangatan seperti kedua orang tuamu itu." katanya yang mulai sedikit mengembankan air mata.

Naruto menyempitkan matanya menatap Asia kemudian ia beranjak dari Kursinya lalu menghampiri Asia kemudian ia memeluknya dengan erat. Asia teperanjat dan membulatkan matanya ketika Naruto memeluk dirnya tersebut.

"Kau tidak usah bersedih lagi. Aku kan sudah menanggap kau dan kakak mu sebagai keluarga ku sendiri, jadi pasti kau akan selalu merasakan cinta dan kasih sayang di keluarga ku ini." kata Naruto memejamkan matanya dan mengelus rambut pirang Asia.

"Na..Naruto!." Asia terkejut dan terbata.

"Dan aku juga berjanji akan melindungi mu dari para komplotan itu." lanjut Naruto dengan berbisik di telinganya Asia.

Mendengar kata dari Naruto tersebut, perasaan Asia kini menjadi tenang dan juga bahagia. Asia mulai merasakan sesuatu yang muncul dari dalam hatinya semenjak ia berada di sisi Naruto, padahal ia juga baru pertama kali bertemu dengannya dan tidak terlalu mengenalnya tapi entah mengapa ia begitu kagum sekali dengan sikap Naruto yang dewasa seperti itu. Dia juga merasakan kehangatan dalam diri Naruto saat memeluk dirinya.

Asia mengucapkan terima kasih dengan nada yang gemetar "Te..terima kasih, Naruto.".

"Mmm." Naruto berdeham dan mengangguk kan kepala.

Naruto lalu melepaskan pelukan nya lalu memandang Asia yang pipinya bersemu merah. "Wajahmu kenapa memerah seperti itu, Asia. Apa kau masih demam?." tanya Naruto memegang kening Asia.

Asia menggeleng dan melepaskan tangan Naruto dari keningnya "A...a...aku sudah tidak apa-apa kok, Naruto. Aku permisi dulu yaa." kata Asia yang salah tingkah kemudian ia bangun lalu berlari pergi meninggalkan Naruto sendirian.

Naruto terdiam sebentar lalu tertawa kecil melihat kepergian Asia yang seperti itu. Ia kemudian mengambil Laptopnya di meja belajarnya dan menaruhnya di atas kasur lalu ia merebahkan dirinya dikasur dengan posisi tengkurap dan membuka laptopnya untuk ber-chat bersama kawan-kawannya.

MY LIFE IN MANCHESTER

Waktu telah menunjukkan pukul 19.00 malam, seluruh keluarga Naruto bersama Rias dan adiknya berkumpul untuk makan malam. Rias dan Akeno membantu Konan untuk menyiapkan makan malam. Konan tentu menerimanya dengan sangat senang dan terbantu sekali karena selama ini dia selalu kerepotan untuk menyiapkan makan malam maupun sarapan pagi untuk keluarga besar nya ini.

"Terima kasih Rias, Akeno atas pertolongan nya. Aku sangat terbantu sekali." kata Konan menatap Rias dan Akeno dengan sumringah sambil mengaduk-aduk sup kare di panci besarnya.

"Sama-sama Nyonya." kata Rias membalas dengan anggukan sementara Akeno cuma tersenyum manis.

Konan kemudian mematikan kompor gasnya dan memandang Rias sambil memegang pundak kanannya. "Jangan memanggil ku Nyonya, panggil saja aku kakak seperti yang lain karena sekarang kalian sudah ku anggap sebagai bagian keluarga ini." kata Konan mengedipkan sebelah matanya ke Rias.

"I..iya kakak." Rias menjawabnya dengan ragu.

"Nah begitu." kata Konan memejamkan matanya lalu tersenyum. Rias dan Akeno menyeringai kecil dan mengangguk lalu mereka bertiga pun tertawa.

"Ibu kenapa mengobrol, sup nya sudah matang belum?." kata Naruto memandang ketiga Wanita itu dengan melipat kedua tangannya di dada.

"ini sudah matang sayang tunggulah sebentar." kata Konan memberikan jempol ke arahnya yang langsung membuatnya menyengir lebar. Konan, Rias, dan Akeno melepaskan celemek dan menggantung nya di paku di samping lemari piring kemudian mereka membawa makanannya ke meja makan.

Konan membawa panci berisi sup kare, Rias membawa Ikan bakar dengan ukuran besar yang di hiasi oleh segala sayur di sisinya sementara Akeno membawa Daging Sapi asap yang di lumuri kecap dan mentega di atasnya. Semua orang takjub apa yang di hidangkan oleh Konan dan juga Rias.

"WAW hari ini masakannya istimewa sekali. Baiklah aku akan start duluan!." kata Naruto dengan semangat.

Saat ia ingin mengambil potongan daging tiba-tiba Konan menjewernya. "Hei apa-apaan kau ini!, kita berdoa dulu sebelum makan." kata Konan dengan kesal.

"A..aduh I..ibu sakit!. I..iya-iya aku lupa, habis aku sudah tidak sabar lagi ingin menyantap masakan Ibu yang begitu luar biasa." kata Naruto merintih kesakitan. Semua orang tertawa melihat itu kecuali Asia yang hanya tersenyum.

Konan kemudian melepaskan jeweran nya pada Naruto yang sedang meggarukkan kepalanya karena malu. Lalu ia menoleh ke arah Hidan "Hey Hidan kau pimpin doa." kata Konan.

Hidan mengangguk "Baik kak."lalu mereka pun berdoa dan memulai makan malamnya.

Setelah mereka selesai makan terjadi keheningan sementara hingga Naruto memulai awal pembicaraan. "Oh iya, besok sore ada pertandingan seru nih!, antara klub kita melawan klub tetangga dalam duel Derby Manchester. Pasti heboh dan menegangkan!." seru Naruto dengan mengepalkan kedua tangannya di atas meja.

"Kau Benar, aku juga mau nonton!." kata Sasori sama hebohnya dengan Naruto kemudian ia menoleh ke Rias. "Kau mau ikut Rias?. pasti akan menyenang kan sekali apalagi kalau derby begini, wah pasti stadion penuh penonton dan bergemuruh dengan suara para suporternya." kata Sasori menatap Rias tanpa berkedip.

"Sepertinya menarik, baiklah aku akan ikut" kata Rias menaruh jari di dagunya lalu tersenyum manis menatap Sasori yang langsung membuatnya tertawa dengan bodohnya.

"Asia, besok kau juga ikut ya, kau pasti akan suka dengan pertandigannya apalagi dengan choreo para suporternya yang menakjubkan." kata Naruto menoleh ke Asia.

"Iya aku akan ikut. aku juga ingin tahu bagaimana rasanya nonton langsung di stadium karena selama ini aku hanya menonton pertandingan sepakbola melalui Televisi." kata Asia dengan rasa penasaran kemudian dia tertawa kecil.

"Aku juga mau nonton ah!. Akeno apa kau juga mau ikut?." tanya Obito menatap Akeno.

"Tentu saja aku mau karena aku menyukai olahraga sepakbola." kata Akeno dan tersenyum senang.

Keluarga yang lain hanya terdiam mendengar pembicaraan rencana nonton bola mereka hingga Konan menyela pembicaraan mereka. "Sudah-sudah, rencana nonton bolanya besok saja di lanjutkan. Sekarang rapikan meja makan ini." kata Konan dengan nada besarnya.

Sasori, Obito, dan Naruto mengangguk kemudian mengangkat piringnya dan menaruhnya di Wastafel. Setelah mereka semua selesai membersihkan meja makan dan mencuci piringnya yang di kerjakan oleh Deidara, mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk pergi tidur kecuali untuk Kisame, Hidan, Yahiko, dan Itachi.

Kisame pergi ke tempat geng motornya untuk menemui teman-temannya, Hidan berkunjung ke Bar untuk bermain Billiard bersama teman baiknya. Sementara Yahiko dan Itachi menonton pertandingan liga Jerman di Televisi dengan duel bertajuk "Bavarian Derby" antara F.C Nuremberg VS Bayern Munchen.

MY LIFE IN MANCHESTER

Pagi harinya, Naruto bangun dari tidurnya mengucekkan kedua matanya lalu ia menoleh ke jendela yang sedang di tiup semilir angin musim salju. Jalanan sudah mulai di penuhi oleh tumpukan salju. Kemudian ia melakukan senam agar tubuhnya hangat dengan menggerakkan kedua lengannya ke atas dan ke bawah. Setelah selesai senam ia kemudian ia beranjak dari kasurnya dan langsung menuju ke kamar mandinya.

Sementara itu di kamar Rias. Rias memandang keluar jendela dengan wajah yang ceria. "Saljunya sudah mulai memenuhi jalan. Semua orang pasti senang melihatnya." katanya memandang jalanan yang sudah di padati oleh salju. Akeno berdiri di samping Rias, memegang kaca jendela dengan sebelah tangannya dan menatap salju. "Kakak ingat, ketika kita masih kecil. Kita selalu bermain salju saat di taman bersama Mama dan Papa. Kita selalu membuat manusia salju bersama mereka dan juga bermain perang bola salju dengannya." kata Akeno dengan senyum di wajahnya lalu menolehkan kepalanya ke Rias.

Rias tertawa kecil lalu berkata "Tentu saja aku selalu ingat momen tak terlupakan itu." kata Rias menatap Akeno dan tersenyum manis ke arahnya. Akeno memejamkan matanya dan mengangguk kecil.

"Oh iya, Akeno ayo kita bantu kakak Konan untuk membuat sarapan pagi." kata Rias memegang lengan Akeno.

"Ya, ayo Kak." kata Akeno. Asia hanya terdiam menatap mereka dengan senyum di bibir manisnya. Kemudian mereka bertiga menuju ke Ruang makan untuk membantu Konan.

Di kamar si Trio. "Aku sudah tidak sabar lagi nih ingin nonton pertandingan Derby." kata Sasori dengan semangat. 'Apalagi nontonnya bersama Rias.' tambahnya di dalam hati.

"Aku juga, semoga saja nanti kita menang melawan tim tetangga sebelah." kata Obito mengepalkan tangannya ke dadanya. Keduanya lalu melakukan tos dan saling merangkul.

Deidara hanya memandang mereka dengan aneh kemudian mendesah "Huff..Lebih baik aku mandi saja." kata Dei pergi menghiraukan mereka berdua yang sedang tertawa terbahak.

Di ruang makan semua orang sudah berkumpul. Rias dan Akeno membantu Konan memasak, Yahiko yang sedang menyeruput teh hangatnya, Kisame sedang menelepon kawannya, Hidan bersandar di kursi dan memejamkan mata, Naruto mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya menunggu masakan buatan Ibunya, Itachi sedang membaca koran paginya, sementara Asia diam menunduk kadang ia sesekali menatap Naruto.

Kemudian Naruto menoleh ke arah Konan "Ibu, nanti sore aku boleh kan menonton Bola bersama kak Sasori dan yang lainnya?." tanya Naruto.

"Tentu boleh nak, asalkan..." Konan menghentikan perkataan nya tanpa melihat Naruto, kemudian ia mematikan kompor gasnya lalu mengangkat panci yang berisi kaldu ayam dan menaruhnya di atas meja makan lalu ia duduk di samping Naruto dan memegang kepalanya.

"Asalkan apa Bu?." tanya Naruto penasaran.

Rias dan Akeno lalu datang membawa hidangan lainnya kemudian mereka duduk, Rias di samping kiri Asia sedangkan Akeno di kanan Asia.

"Asalkan kau jangan ikut membuat ke onaran dengan suporter lainnya apalagi membuat kerusuhan. Ingat itu!" kata Konan mengangkat telunjuknya memperingatkan.

Naruto mengangguk mengerti "Tentu Bu, aku tidak akan melakukan hal itu.". Konan tersenyum lalu ia menoleh ke Sasori dan Obito. "Kalian juga jangan ikut-ikutan membuat kerusuhan. Awas kalau sampai itu terjadi." kata Konan dengan nada mengancam.

Sasori dan Obito dengan sigap mengangguk mengerti. Itachi menghentikan membaca koran, lalu ia melipat korannya dan menaruhnya di atas meja kemudian menatap Naruto. "Yang Ibumu katakan itu benar Naruto. Bila ada yang mengajak hal seperti itu kau tolak saja." kata Itachi. Naruto kembali mengangguk mengerti.

"Bila sudah selesai menonton, kalian langsung pulang jangan melantur pergi ke mana-mana." kata Yahiko menatap Naruto.

"Ya Ayah." jawab Naruto.

Lalu Konan berkata kembali ke Naruto dan juga mereka berlima. "Yang aku takutkan kalau kalian nanti menjadi korban sasaran para klub suporter liar atau yang sering di sebut Hooligan. Mereka begitu berbahaya dan sangat menyeramkan." kata Konan menjelaskan kepada mereka berenam.

Kisame meminum teh hangatnya lalu berbicara ke mereka. "Dulu, aku dan Hidan pernah ikut melakukan hal seperti itu pada saat tim kita melawan Liverpool di Anfield dan saat pulangnya kami bentrok dengan Hooligan mereka, The Urchins. Menurutku itu sangat menyenangkan, benarkan Hidan." kata Kisame menepuk pundak Hidan lalu ia tertawa.

Hidan menjawabnya dengan mendengus kesal. "Cih, menyenangkan apanya!. Aku mau hampir tewas tahu karena hampir di pukul Bat Baseball dan untung saja ada yang menolong ku memukul bajingan itu dari belakangnya menggunakan Botol. Kalau tidak, kepalaku sudah hancur kali!." kata Hidan menunjuk kepalanya sendiri dan melebarkan matanya menatap Kisame sementara Kisame dan yang lain hanya tertawa mendengar cerita dari Hidan.

Konan kemudian menepukkan tangannya dan berkata kepada mereka semua. "Sudah-sudah, kalian berdua berhenti bicaranya nanti lama-lama Naruto bisa terpengaruh oleh ocehan kalian. Sekarang ayo kita sarapan." kata Konan dengan lantang.

"Baik Kak." kata Hidan sementara Kisame mengangguk dan menyeringai. Kemudian mereka berdoa dan memulai sarapan paginya kecuali Naruto yang hanya terdiam kemudian ia menyeringai kecil dan bergumam di dalam dirinya. 'Itu pasti seru dan menyenangkan.'.

TO BE CONTINUED...

FAKK YEAH! akhirnya kelar juga Chap ke 4. Semoga kalian nambah suka sama cerita ane yang makin ngawur ini. Semoga kalian para pembaca bisa terhibur sama cerita ane ini. Maaf yee kalo kata-kata dari si Naruto yang kurang srekk dari kenyataannya yang ahli dalam merangkai kata karena ane masih newbie dan bingung buat menyusun kate kaya begitu harap di maklumin yee shishishi...

Ok hanya segitu aje dari ane dan untuk Chap selanjutnye, Naruto dan mereka berlima (Sasori, Obito, Rias, Akeno, dan Asia) akan menonton pertandingan sepakbola bertajuk DERBY MANCHESTER antara Manchester United VS Manchester City di Stadion "Theater of Dream" OLD TRAFFORD! jadi tetep pantengin terus fic ane yee.

Ane pamit seperti biasa menggunakan pantun. Dengar ya dengar...

Jalan-jalan ke Bantar Gebang (ngapain coeg :v) sambil membawa Sambel Terasi

Ane izin Pamit Pulang, Sekian dan Terima Kasih...!