Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Bintang Timur

AU. OOC. Ficlet. Family.

.

4

.

"ANAK SIAL!"

Sakura hampir saja terlonjak saat mendengar suara bentakan marah dari dalam rumah keluarga Uchiha. Sakura mengenal suara itu, sebagai suara Om Fugaku, suaminya Tante Mikoto, dan Bapaknya Itachi-Sasuke.

Dia terdengar sangat marah.

Sakura yang siang itu mendapat tugas dari Mama, untuk mengantar pesanan bolu ke Rumah Tante Mikoto, jadi merasa enggan mengetuk pintu rumah keluarga Uchiha. Mendadak dia mau kabur, balik ke rumahnya sendiri.

"PAPA NGGAK PERNAH NGAJARIN KAMU BUAT JADI ANAK NGGAK BERGUNA MACAM INI! KAMU NYADAR NGGAK SIH, KALAU KAMU UDAH MALU-MALUIN PAPA?!"

Sakura berdiri gelisah. Dia bingung, mau mengetuk pintu rumah keluarga Uchiha, atau langsung kabur dari sana.

Gila. Om Fugaku kalau marah serem. Udah muka jutek permanen gitu, batin Sakura ngeri.

"GARA-GARA CEWEK BERANTEM DI SEKOLAH, SAMPAI PAPA DIPANGGIL GURU. DAN ANAK BODOH, APA KAMU TAHU? KELUARGA HOZUKI SUDAH MEMBAWA MASALAH INI KE KANTOR POLISI."

PLAKKK!

Suara tamparan disertai isak tangis Tante Mikoto membuat Sakura gemetar.

Itu yang kena gampar siapa sih? Itachi atau Sasuke? Perkataan Om Fugaku tadi membuat Sakura ingat mengenai perkelahian seru yang terjadi di koridor utama sekolah, yang melibatkan anak-anak kelas sebelas. Dan tadi siang, Sakura hanya tahu kalau yang berkelahi itu Hozuki Suigetsu, anak Sebelas IPA dua, dan teman sekelasnya. Sakura baru tahu kalau yang berkelahi dengan Hozuki itu Sasuke.

"Udah Pa, jangan. Kasihan Sasuke," tangis Tante Mikoto. Entah apa yang ingin dilakukan Om Fugaku pada anak bungsunya itu. Sementara Sasuke, masih tak bersuara.

Terdengar suara helaan nafas keras dari Om Fugaku. "Sudahlah. Pergi sana. Papa nggak mau ngeliat muka anak nggak berguna seperti kamu. Kelakuan udah macam preman terminal. Contoh tuh Kakakmu, Itachi."

Sakura mendesah. Dia menyayangkan kalimat terakhir dari Om Fugaku. Seandainya para orang tua tahu, kalau di dunia tidak ada anak yang suka dibanding-bandingkan, apalagi dengan saudara sendiri.

Sekitar sepuluh menit, setelah suasana dirasa cukup tenang. Sakura akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

.

.

Sasuke berjalan marah menuju kamarnya. Dia tahu dia salah, tapi Papanya tidak harus memperlakukan dia seperti itu. Dalam hati Sasuke bertanya, apa Papa sempat bertanya pada guru-guru di sekolah, mengenai pokok permasalahan yang membuat dia menghajar Suigetsu habis-habisan.

Awalnya Sasuke hanya menegur Suigetsu karena dia terus menggoda Hinata, teman sekelas mereka, sampai gadis itu mau menangis. Tapi Sasuke berani bersumpah, dia berkelahi dengan Sui bukan karena ingin berebut perhatian Hinata, tapi karena perkataan cowok itu yang melecehkan profesi Papanya.

"Apa? Anak polisi korup nggak usah ikut campur deh," itu perkataan Sui yang membuat Sasuke naik darah.

Dan sekarang, Sasuke makin marah karena Papanya bahkan tidak mempedulikan alasan kenapa dia berkelahi.

Sasuke mendengar suara ketukan dipintu depan, lalu suara Mamanya berbicara dengan seorang perempuan. Kemudian hening.

Mendesah, Sasuke lalu menyambar jaket dan kunci motornya. Dia ingin menenangkan diri. Teguran keras Papa dan Mamanya, yang duduk di ruang tamu, dia abaikan.

.

.

"Hei."

Sasuke baru saja akan menghidupkan motornya, ketika suara sapaan lembut itu terdengar. Sasuke menoleh, dan mendapati cewek merah muda, anak tetangga sebelah, di pagar tembok pendek pembatas halaman mereka.

"Hn?"

"Ini." Dia menyerahkan kotak mika transparan berisi bolu cokelat pada Sasuke.

"Pesanan Mama?" tanya cowok itu.

Sakura menggeleng. "Buat kamu."

Sebelah alis Sasuke terangkat tinggi. "Aku nggak suka manis."

Tak menanggapi perkataan Sasuke, Sakura hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Lalu dia berbalik dan masuk ke rumahnya.

Sasuke menatap punggung Sakura sebentar. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum tipis, "Terimakasih," ucapnya pelan sambil menatap kotak mika berisi bolu cokelat itu. kemudian dia menghidupkan motornya untuk pergi ke tempat kos Juugo.

Makan bolu cokelat bareng teman, mungkin bisa mengurangi kesedihan.

.

FIN