Disclaimer: Aoyama Gosho
Pair: Shinichi-Shiho
warning: OOC, Plot berantakan, Alur ngebut, ShinRan scene, dll
(bales review dibawah)
Ku mohon
chapter 3
Normal POV
Shinichi membolak-balikan cincin yang sedang dipegangnya, berusaha mencari kekurangan dari benda itu, namun ternyata sama sekali tak ada kekurangan, benda itu terlihat sempurna.
Ya, kini Shinichi dan Shiho telah bertunangan, acaranya baru selesai tadi dan hanya sedikit orang yang menyaksikan, termasuk Heiji Hattori yang notabene adalah teman dekat dan satu profesi dengan Shinichi. Heiji bahkan menginap hanya demi temannya yang selalu cekatan dalam menangani setiap kasus itu.
"Jangan gugup, Kudo." ucap Heiji sambil menepuk-nepuk punggung Shinichi.
"Bo-bodoh, siapa yang gugup?" sanggah Shinichi.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kakak itu, apa dia baik-baik saja?" tanya Heiji.
"Entahlah, tapi kurasa ia baik-baik saja." jawab Shinichi.
Tampak disana sosok Shiho yang sedang duduk menyendiri dan tidak mau diganggu, entah apa yang dipikirkannya, yang pasti berhubungan dengan masalah hatinya. Sedang Yukiko dan Yusaku sedang mengobrol dengan tamu-tamunya, namun Yukiko sempat melirik kearah Shiho dan merasa khawatir padanya.
Akhirnya Shinichi lebih memilih masuk ke kamarnya dan mengunci diri dari keadaan luar, untuk menenangkan suasana hatinya yang masih gundah karena pernyataan Ran beberapa waktu lalu. Untungnya Ran akan berangkat sebulan lagi dihitung dari hari ini, jadi ia masih dapat bersama dengan Shinichi untuk sementara waktu.
...
Keesokan harinya
Di kediaman Kogoro Mouri terlihat wanita yang kelelahan akibat membenahi rumah, dengan berbekal kemoceng ia membersihkan kaca jendela kantor detektif milik ayahnya. Keringat mengucur deras menambah kesan kerja keras yang terlihat dari wajah jelitanya, selain berbenah dia juga sedang menyiapkan keperluannya untuk nanti di tempat kuliahnya yang baru dan masih belum ia kenal.
"Akhirnya sudah semua, sarapan juga sudah kubuat..." namun ia terhenti sejenak memikirkan sesuatu. Tentu saja dia memikirkan seorang detektif maniak kasus yang sudah ia kenal semenjak kecil, bagaimana ia bisa lupa dengannya jika ia selalu mengisi pikirannya setiap saat.
"Mungkin saja dia belum sarapan, lebih baik aku mengantarkan sarapan untuknya." ucapnya sambil tersenyum, membayangkan wajah Shinichi ketika menerima sarapan darinya.
Akhirnya ia memasukan sebagian telur mata sapi dan daging asap yang telah ia buat ke dalam kotak makan yang telah disiapkan olehnya. Dan tak menunggu waktu lama, ia langsung berjalan menuju rumah sang detektif itu dengan gembira dan sesekali diiringi nyanyian.
Begitu sampai di depan pintu gerbang kediaman keluarga Kudo, ia merasa heran, karena ada seorang detektif teman dari Shinichi yang berasal dari Osaka sedang berdiri disana. "heiji? kau sedang apa disini?" tanya Ran penasaran.
"Oh... hei Ran, aku disini berkunjung sebagai tamu Kudo di acara pertunangannya kemarin." ucapnya dengan santai.
DEGG
'Si-sial! bagaimana ini? aku terlalu banyak bicara, apa yang harus kukatakan pada Kudo nanti?' ucap Heiji dalam hati, dengan peluh yang membasahi wajahnya karena saking ketakutan.
Sementara Ran mencium aroma ketidakjelasan disini, dia sungguh sangat kaget saat Heiji mengatakan Shinichi telah bertunangan, dan itu artinya Shinichi akan menikah sebentar lagi. Dia merasa harus mengetahui fakta yang disembunyikan dari dirinya, dan mamaksa orang didepannya ini untuk menguaknya.
"Apa maksudmu Shinichi bertunangan kemarin? dengan siapa? kenapa dia tak bilang padaku? tolong jelaskan semuanya!" pinta Ran dengan sedikit memaksa.
"S-sabar dulu, aku tak bisa menjelaskan semuanya, lebih baik kau tanya pada Kudo langsung." ujar heiji dengan senyum yang sangat dipaksakan.
Tak disangka, kemudia Ran memukul tembok yang berada disampingnya hingga retak dengan tatapan yang kejam, "cepat jelaskan, kalau tidak..." dia tak melanjutkan kalimatnya karena dilihatnya Heiji sudah sangat ketakutan.
"Ba-baik, a-aku akan jelaskan semuanya." ucap heiji dengan sangat terpaksa.
~oOo~
Normal POV
"Shiho-chan, apa kau mau menemaniku belanja nanti siang?" tanya Yukiko dengan semangat.
"memangnya Kudo-san mau belanja apa?" sahut Shiho menanggapi Yukiko sambil membaca buku tentang kehamilan.
Kemudian Yukiko mengangkat jari tunjuknya dan melayangkan protes pada Shiho,"tidak, tidak.. sudah kubilang padamu jangan memanggilku seperti itu! panggil aku Yukiko-nee."
"Baiklah, memangnya Yukiko-nee mau belanja apa?" Shiho mengulang pertanyaannya.
"Hanya belanja perlengkapan kalian saat resepsi nanti, jadi apa kau mau ikut?" Yukiko bertanya balik.
"baiklah, karena hari ini aku tidak memiliki kegiatan apapun." jawab Shiho, sambil menguap. Dan tampaknya Yukiko kini over protektif terhadap Shiho, mengingat usia kandungannya kini sudah menginjak bulan kedua, bahkan ibu Shinichi ini memaksa Shiho untuk tidak melakukan pekerjaan rumah apapun itu, dan terkadang membuat Shiho jadi merasa bersalah.
Lalu tampaklah disana Shinichi yang baru bangun keluar dari kamarnya dan sambil menguap dia berjalan menuju dapur untuk mencari makanan yang sekiranya dapat ia makan. "Huuuh... dasar anak itu! baru bangun sudah langsung makan!" gerutu Yukiko yang kesal melihat tingkah anaknya.
Tiba-tiba ada yang aneh terjadi pada Shiho, ia merasa mual dan segera berlari ke WC sambil menutup mulutnya dengan tangan, mungkin itu wajar bagi wanita yang sedang hamil, tapi bagi Shinichi itu sangat aneh karena Shiho yang biasanya terkesan kuat dan sedikit cuek kini seperti orang lemah. "Kenapa wanita itu? apa dia telah meminum susu yang sudah kadaluarasa?" tanya Shinichi dengan tampang malas melekat diwajahnya.
"Dasar bodoh, itu adalah hal wajar bagi setiap wanita hamil, itu yang disebut morning sickness. " jawab ibunya.
Dan terlihat Heiji yang masuk secara mendadak dengan wajah gemetaran seakan sedang menyembunyikan sesuatu. "Kau kenapa, Hattori?" tanya Shinichi yang heran melihat tingkahnya.
"G-gawat.. ini sungguh gawat!" ujar Heiji.
"Apanya yang gawat?" tanya Yukiko yang kaget dengan Heiji yang tergesa-gesa.
"R-ran sudah tahu semua! Ran sudah tahu tentang pernikahan Kudo!" Heiji bicara dengan suara yang agak kencang.
Shinichi terlonjak kaget, sementara ibunya hanya diam, dia tak merasa kaget karena menurutnya cepat atau lambat berita ini pasti akan tersebar luas. "Bagaimana bisa?" tanya Shinichi yang penasaran, sungguh perasaanya saat ini sangat kalut, bagaimana caranya dia menjelaskan kepada Ran nanti? pasti dia akan dihajar olehnya.
"Dia mengancamku untuk menjelaskan semua padanya." jawab Heiji.
Ayolah! Shinichi terlihat menahan kesal, tapi apa boleh buat, semua telah terjadi, Shinichi hanya bisa pasrah dan berharap dewi keberuntungan berpihak padanya.
"Ya sudah kalau memang begitu keadaanya, mau bagaimana lagi? mungkin nanti aku akan bicara padanya." ucap Yukiko yang kini juga telah pasrah. Shinichi pun hanya mengangguk tanda bahwa ia setuju pada pernyataan ibunya. Dan terlihat Shiho datang kearah mereka karena penasaran pada percakapan mereka, "Shiho-chan, lebih baik kau beristirahat sejenak." ucap Yukiko.
"Tapi..." sanggah Shiho.
"Tidak ada kata tapi! aku takut dengan kondisi kesehatanmu, sejak hamil, kau jadi mudah lelah, jadi lebih baik kau beristirahat dulu di kamarku." ucap Yukiko yang sangat peduli terhadap Shiho karena sudah menganggapnya sebagai anak keduanya setelah Shinichi. Namun sebenarnya maksud lain Yukiko untuk memaksa Shiho istirahat di kamarnya adalah agar gadis itu tak mendengar percakapan mereka, karena tingkat kepekaanya sangat berbeda dengan anaknya, apalagi sebagai sesama wanita dia pasti mengerti perasaan Shiho jika mendengar percakapan mereka itu.
Dan akhirnya Shiho menuruti perintah Yukiko, dia memasuki kamar ibu Shinichi itu dengan wajah heran karena belum melakukan kegiatan apapun dirinya sudah disuruh beristirahat.
...
Shinichi dan Heiji duduk di bangku yang ada di depan butik di sebuah mall di kota Beika. Mereka menunggu dua orang wanita yang sedang asyik memilih berbagai macam pakaian, yang sangat menarik. Sementara Shinichi dan heiji hanya duduk bosan sambil sesekali melirik kearah arlojinya, waktu terasa lama jika kita menunggu seseorang, sungguh menjengkelkan.
"Kau kenapa Kudo? dari tadi kau terus saja melamun." tegur Heiji yang mengajak Shinichi mengobrol.
"Aku masih memikirkan Ran." jawab Shinichi singkat dan kemudia dirinya kembali diam.
"Tenang saja, jangan kau ambil pusing..."
"TENANG SAJA BAGAIMANA? JIKA SAJA KAU TIDAK MENGATAKAN SEMUANYA PADA RAN PASTI SEMUA AKAN SESUAI RENCANA!" teriak Shinichi, hinga beberapa pasang mata yang tengah melintas di dekat mereka melirik sang detektif yang sedang marah tersebut.
Heiji tertegun sejenak dan akhirnya bicara kembali, "bukan salahku, Kudo! dia yng memaksaku! jika saja aku tak memberitahunya mungkin saja aku sudah tak bernyawa sekarang."
Benar juga, jawaban Heiji bisa diterima, itu sangat wajar dan akhirnya ia lebih memilih diam, namun tetap saja tak bisa, dia butuh teman untuk mencurahkan segala permasalahan yang ia hadapi kali ini. "Kau tahu Hattori, kini menurutku harusnya aku mati saja waktu itu, mati di tangan anggota organisasi hitam mungkin lebih baik dari keadaan yang aku alami kali ini."
"Jangan bicara seperti itu, Kudo! mana detektif sombong yang biasa menemaniku untuk memecahkan segala kasus dengan analisis hebatnya?" Heiji mencoba untuk menghibur Shinichi.
Tak lama berselang, datanglah dua wanita yang sedari tadi asyik dengan dunia fashionnya. Seperti wanita pada umumnya yang mengandalkan kekutan kaum lelaki, Yukiko dan Shiho menyuruh Shinichi dan Heiji untuk membawakan barang-barang belanjaanya. "Hei, hei, apa-apaan ini?" tanya Shinichi yang kaget.
"Tolong ya Shin-chan, Hattori-san." ucap Yukiko dengan nada memohon dan senyuman yang membuat mereka berdua tidak tahan untuk tidak membantunya.
'Dasar kaa-san, tidak pernah berubah.' keluh Shinichi dalam hati.
"Tolong ya tantei-kun, belakangan ini aku sangat mudah merasakan lelah, kau kan hebat." ucap Shiho dengan nada yang mengejek dan senyum penuh kemenangan.
'Sialan...' umpat Shinichi dalam hati.
Akhirnya mau tidak mau dua detektif itu membawakan barang belanjaan yang tidak terhitung banyaknya itu. Dari toko satu ke toko yang lain, mereka membeli keperluan pernikahan Shinichi, dari yang sangat penting seperti jass pernikahan, sampai yang tidak penting seperti bunga dan beberapa peralatan makan.
Kini mereka berempat sedang berada di sebuah restoran sushi yang terkenal karena kelezatannya. "Selesai makan nanti kita akan ke salah satu butik kenalanku." ujar Yukiko.
"Ayolah Kaa-san! sampai kapan kau mau belanja?" tanya Shinichi, jengkel.
"Ini yang terakhir, Shin-chan." ujar yukiko, meyakinkan.
"memangnya apalagi yang mau kau beli?" tanya Shinichi.
"Gaun pengantin untuk Shiho-chan, aku masih belum menemukan yang pas untuknya." jawab Yukiko, sementara Shiho hanya diam mendengarkan.
Dan akhirnya mereka menuju butik yang disebutkan tadi, dan ternyata benar saja, tidak beberapa lama mereka menemukan gaun pengantin yang cocok untuk Shiho. Gaun berwarna putih dan sedikit berenda di bagian bawah itu membuat Shiho terlihat cukup manis, sekarang tinggal menentukan ukuran tubuh saja, karena tubuh Shiho kini sudah agak membesar, tanda perkembangan perkembangan dari janinnya.
Ketika sedang menentukan ukuran, tiba-tiba Shiho terlihat aneh, seperti sedang menahan sesuatu, semua yang ada disana heran, dan kaget ketika tiba-tiba Shiho ambruk, dan pingsan. Tentu saja suasana menjadi tak karuan, "oh tidak! bagaimana ini?" tanya Yukiko, panik.
"Tunggu dulu... di dekat sini ada klinik dokter Araide!" akhirnya Shinichi mempunyai solusi.
"Cepat kesana!" ucap Heiji dan Yukiko serentak.
Dan akhirnya mereka membaringkan Shiho di dalam mobil untuk membawanya segera ke klinik milik dokter Araide. Sungguh mereka semua mengkhawatirkan keadaan Shiho.
Sesampainya di klinik itu, mereka langsung membawa Shiho ke ruangan sang dokter dan membaringkannya di tempat tidur pasien untuk diperiksa. Shinichi, Heiji, dan yukiko menunggu pemeriksaan dokter, mungkin yang paling merasa panik adalah Shinichi, karena dari tadi ia terus mondar-mandir, seperti seorang ayah menunggu kelahiran anaknya.
Akhirnya dokter keluar untuk memberi tahu keadaan Shiho, mereka pun langsung mengerumuni dokter Araide, "bagaimana keadaannya dokter?" tanya Yukiko sesaat setelah dokter Araide keluar.
"Pasien telah siuman, namun ada kabar mengejutkan." ucap dokter Araide.
"Apa itu?"
"Dia hamil, kini usianya sudah dua bulan." ujar sang dokter, menjelaskan.
Mereka tak terkejut, karena tentu saja mereka sudah tahu semua itu. "Apakah sekarang kami sudah boleh melihatnya?"tanya Yukiko. "Ya, kalian sudah boleh melihatnya." ucap dokter Araide, dan tentu saja mereka buru-buru memasuki ruangan tempat Shiho diperiksa. Tampak disana Shiho yang sedang berbaring dan seketik menoleh kearah mereka.
"Maaf, aku membuat kalian repot." ucap Shiho, datar.
"Tidak, kami tidak repot kok." sanggah Yukiko, yang tidak mau membuat Shiho merasa bersalah.
Dan akhirnya setelah membeli beberapa obat-obatan, mereka pulang karena matahari sudah menunggu di ufuk barat.
~oOo~
Normal POV
Akhirnya saat itu tiba juga, dimana upacara sakral itu dilangsungkan, para tamu undangan gegap gempita dan terlihat sangat antusias. Kebanyakan dari para tamu itu Shinichi kenal, seperti inspektur Megure, detektif Takagi, detektif Chiba, bahkan Saguru Hakuba, dan Kaito kuroba pun turut hadir.
Tampak dibangku depan ada Hakase, dan grup detektif cilik tanpa Conan dan Haibara, semenjak Shinichi dan Shiho kembali ke tubuhnya yang semula, grup detektif cilik jarang mendapatan kasus lagi, ternyata memang benar ungkapan yang mengatakan Shinichi adalah magnet mayat.
Lalu pintu terbuka, dan tampaklah Shiho berjalan menuju altar dengan memakai gaun pengantitn yang sudah dipesan beberapa waktu lalu. Shiho sangat cantik, apalagi dia dirias oleh penata rias ternama yang disewa oleh Yukiko. Sementara Shihinichi menyusul dan berjalan dengan gagahnya,, dan dia tak sadar bahwa ada seseorang yang menatapnya sendu dari kursi bagian belakang.
Disana sang pendeta telah menunggu mempelai pria, Dan akhirnya Shinichi telah sampai di altar pernikahan. Dan akhirnya para Tamu pun mulai melihat mereka, Shiho merasa sangat gugup sekarang, masa depannya sedang ditentukan sebentar lagi.
Dan tibalah disaat yang benar-benar mendebarkan, yaitu peneguhan janji pernikahan.
"Untuk Shinichi Kudo, apakah saudara bersedia untuk menerima Shiho Miyano sebagai istri satu-satunya dan menjalani kehidupan bersama untuk selamanya?" tanya sang pendeta.
Suasana menjadi sunyi senyap, menunggu Shinichi mengambil keputusan. Sementara Shinichi sendiri masih bergeming membisu di tempat, sejenak kemudian dia pun menjawab.
"Y-ya, aku bersedia."
"Dan saudari Shiho Miyano, apakah saudari bersedia untuk menerima Shinichi Kudo sebagai suami satu-satunya dan menjalani kehidupan bersama untuk selamanya?" kini sang pendeta bertanya pada Shiho.
Tak beda dengan Shinichi, Shiho pun diam sejenak sebelum menjawab, dia butuh ketetapan hati sebelum memastikan jawaban. "Ya, aku juga bersedia." Jawab Shiho setelah menarik napas dalam-dalam.
Kini semua berbeda, dan kini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Dan mereka pun memasangkan cincin di jari pasangannya, Shiho memasangkan cincin di jari manis Shinichi, begitupun sebaliknya, walaupun samar, tetapi terlihat gurat merah di pipi kedua pasangan itu, seolah keduanya memiliki perasaan yang sama.
...
Dan kini resepsi pernikahan tengah diadakan, berbagai macam makanan dihidangkan disini. Tampak beberapa kolega dari orangtua Shinichi memberi selamat kepada kedua pengantin baru itu, tampak disana juga ada inspektur megure dan istrinya.
"Kudo, sayang sekali ya, setelah ini kau akan pindah dari Beika, tidak ada lagi yang membantuku." ucap inspektur Megure, sambil tersenyum.
"Masih banyak detektif yang hebat, inspektur." ucap Shinichi, seraya menerima jabat tangan sang Inspektur, yang kemudian berlalu.
Lalu setelah itu ada Heiji tanpa didampingi Kazuha, dia hanya sendiri, "Selamat ya Kudo, dan Miyano-san." ucap Heiji sambil merangkul Shinichi. Shinichi dan Shiho pun sweatdrop, dan akhirnya Heiji juga berlalu.
Kaito pun juga menyalami mereka, "jadi sang detektif sok tahu akhirnya menikah juga heeeh." ucap Kaito, mengejek. Sementara Shinichi hanya mengumpat dalam hati, Kaito pun berlalu dengan cepat, begitu pun tamu lainnya.
Sampai Kogoro Mouri dan Eri Kisaki juga datang, tampaknya mereka biasa saja menyikapi pernikahan Shinichi, mereka juga mengucapkan selamat. Kogoro dan Eri lewat, namun yang membuat Shinichi menelan ludah adalah karena ada seseorang yang mengikuti kogoro dan istrinya di belakang.
Dan orang itu adalah Ran.
"Shinichi selamat ya atas pernikahanmu, aku turut senang atas semua itu, aku harap kalian menjadi pasangan yang paling hebat." ucap Ran dengan senyumnya, bahkan Shinichi dan Shiho pun tahu senyum itu terlalu dipaksakan.
Ran cepat-cepat berlalu, mungkin karena dia benar-benar tidak tahan melihat teman masa kecilnya itu. Sementara Shinichi benar-benar merasa bersalah, ingin rasanya dia mengakhiri acara ini, sementara Shiho yang melihat Shinichi seperti itu hanya diam walau hatinya turut merasakan perasaan sang detektif.
Shinichi hendak mencari tempat pelampiasan atas kemarahannya, tetapi kepada siapa? dia tak tahu, hingga dia melihat wanita disampingnya itu, dia benar-benar muak sekarang.
'Ini semua gara-gara kau, Miyano! kini aku kehilangan Ran! sialan kau!' umpat Shinichi dalam hati.
Bersambung...
oke, waktunya bales review
HayaaShigure-kun: kamu benar-benar mengerti aku :) aku emang punya niat bikin alur kayak gitu.., jangan sedih, akhirnya pasti ShinShi kok, tapi untuk sementara aku buat Shinichi jadi benci sama Shiho
Guest: pairnya ShinShi kok, oke, Shiho gak bakal terlalu stres, tenang aja :)
Mimin: oke, ini udah lanjut
KiraScarlet1412: oke ini udah update :)
Parkjy18: Shihonya OOC banget ya? aku juga ngerasa kayak gitu sih hehehe... tenang aja aku usahain supaya Shiho terlihat seperti aslinya :)
Rini Desu: sama, aku juga, ini udah update kok :)
Blackpearl: oke ini udah update :)
Aishah: ini udah update :)
Author Note
Oke, dengan keringat yang mengucur deras akhirnya chapter ini kelar juga, pertama-tama aku mau ngejelasin banyak hal...
1. Emang Shinichi sama Shiho kayaknya OOC banget ya, tetapi aku berusaha agar jadi mirip seperti aslinya
2. Pasti di chapter ini kalian agak kurang suka, karena diksinya monoton banget sorry ya soalnya ulangan di depan mata jadi ini dikerjakan dengan buru-buru
3. Mungkin kalian bingung kenapa Shinichi marah sama Shiho, jadi dia tuh nyari tempat pelampisan amarahnya, dan dia melihat Shiho sehingga dia menumpahkan segala amarah padanya, tapi tenang aja, nanti pasti Shinichi sadar kok, dan akhirnya berbalik mencintai Shiho (spoiler)
oke, akhirnya tiba juga saat mengatakan "Jangan lupa review ya ^^"
ngomong-ngomong, sekarang detective conan udah nyampe mana?
