"Kyungsoo-ya! Bagaimana kabar Sehun?" Baekhyun berlari di koridor rumah sakit ke arah Kyungsoo yang sedang terduduk dibangku tunggu ruang IGD.
"Dokter masih memeriksanya." Kyungsoo bangun dari duduknya dan mendekati Baekhyun, wajah Baekhyun terlihat sangat khawatir.
"Sehun Eommanim." Seorang wanita yang terlihat seusia dengannya berjalan ke arahnya. "Saya Im Mira, wali kelas Sehun, saya menyesal karna pertemuan pertama kita dalam suasana tidak mengenakan ini. Sehun selama ini adalah anak pemberani dan kuat, saya yakin Sehun akan baik-baik saja, Eommanim tenangkan diri dulu." Baekhyun mencoba memberikan senyumnya walaupun masih dengan wajah khawatir.
"Ne, maaf selama ini tidak pernah datang ke sekolah, terima kasih karna sudah menjaga Sehun selama di sekolah." Mira menganggukan kepalanya setelah itu membimbing Baekhyun yang merasa lemas untuk duduk di kursi tunggu.
"Kyungsoo-ya, apa yang terjadi?" Baekhyun merasa tubuhnya semakin lemas.
"Tadi saat kita sedang menyiapkan makan siang, Sehun yang sedang berlari-larian dengan teman-temannya tiba-tiba sesak napas dan jatuh dengan tubuh yang gemetar, saya panik dan langsung membawanya ke rumah sakit ini." Jelas Kyungsoo.
Tiba-tiba Baekhyun tidak bisa menahan air matanya lagi, saat ini Baekhyun yang biasanya tenang tanpa emosi berubah menjadi wanita malang yang hanya bisa menangis, firasatnya tidak enak karna ini pertama kalinya Sehun mengalami sakit yang beruntun, setelah beberapa minggu lalu sempat demam, lalu senin kemarin pingsan dan sekarang sesak napas, pikiran-pikiran negatif menyambanginya.
"Chanyeol-ssi juga akan datang."
"Kau memberitahu Chanyeol?"
"Saya rasa dia harus tau mengenai keadaan Sehun."
"Katakan padanya untuk tidak datang kesini." Baekhyun menundukan kepalanya karna merasa pening.
"Sepertinya dia sedang dalam perjalanan."
"Katakan untuk tidak datang kesini." Baekhyun memegangi kepalanya yang semakin sakit.
"Baiklah." Walaupun sedikit ragu Kyungsoo megambil handphonenya dan berdiri menjauh untuk menelpon Chanyeol.
"Halo, Chanyeol-ssi kau—"
"Aku sudah sampai."
"Ne? Ah, Desainer Byun bilang kau—" Kyungsoo menghentikan bicaranya saat menyadari Chanyeol sudah menutup telponnya dan tidak lama setelah itu terlihat sosok Chanyeol yang berlari terburu-buru ke arah mereka.
Baekhyun terlihat biasa saja dengan kehadiran Chanyeol, sedangkan Kyungsoo panik karna tidak sempat melarang Chanyeol datang, dan wali kelas Sehun terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Chanyeol, bahkan bukan hanya wali kelas Sehun, semua orang yang tadi dilewati Chanyeol dan beberapa orang yang sedang duduk diruang tunggu IGD juga sempat kaget melihat artis populer seperti Chanyeol ada di rumah sakit tanpa pengawalan.
"Baekhyun-ah." Chanyeol menghampiri Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan? Kembalilah sebelum ada wartawan yang menemukanmu disini." Baekhyun merasa sangat lemas untuk memarahi Chanyeol jadi dia mengusirnya secara halus. Belum sempat Chanyeol menjawab seorang dokter keluar dari ruang IGD.
"Keluarga pasien Park Sehun?" Dengan tubuh lemasnya Baekhyun pun berdiri.
"Ne, kami orang tuanya." Chanyeol lebih dulu menjawab pertanyaan dokter dan membuat beberapa orang yang ada disana terkejut, bahkan dokter itu juga terlihat terkejut karna Park Chanyeol bukanlah orang biasa, semua orang mengenalnya. Walaupun kesal Baekhyun tidak dapat melakukan apapun.
"Ah baiklah, ada yang harus saya bicarakan, kita bicarakan di ruangan saya."
..
"Tidak mungkin." Baekhyun menggeleng dan hampir terjatuh dari kursinya, dia merasa seluruh tulangnya dicabut saat itu juga, tubuhnya benar-benar merasa lemas setelah mendengar penjelasan dokter, segala firasat negatifnya menjadi kenyataan. Chanyeol yang melihat Baekhyun yang hampir jatuh dari kursi segera memegang dan merangkulnya.
"Ini memang masih prediksi dilihat dari gejala-gejala yang terjadi, saat ini saya sudah memberikan sample darah pasien ke laboratorium untuk diperiksa, saya rasa kemungkinan pasien mengidap kanker darah sangat tinggi." Dokter mencoba memberi penjelasan kepada Chanyeol dan Baekhyun.
"Ani, saya tidak percaya, selama ini Sehun hidup dengan baik, dia selalu makan teratur dan aku selalu memberikan makanan bergizi untuknya, bahkan aku tidak pernah mengizinkan satu debu pun masuk ke dalam rumah kami. Kanker? Anda gila? Sehun masih kecil!" Baekhyun menjerit diakhir kalimatnya, dia tidak bisa membendung kesedihannya lagi, tangisannya memenuhi ruangan dokter tersebut, dia menangis kencang dipelukan Chanyeol.
"Baekhyun tenanglah." Chanyeol juga sangat shock mendengar perkataan dokter, anaknya, putranya, pangeran kecilnya sedang sakit, disaat dia masih mengutamakan egonya, anaknya sendiri sedang kesakitan, namun disini dia harus menjadi pihak yang paling tabah dan menahan emosinya untuk menjaga Baekhyun yang sedang terpuruk dalam kesedihannya.
"Tenang? Kau bilang tenang? APPA MACAM APA KAU YANG MASIH TENANG SETELAH MENDENGAR ANAKMU SENDIRI SAKIT?!" Sepertinya Baekhyun sudah berada pada titik terlemahnya, setelah berteriak kencang pada Chanyeol tubuhnya lunglai dan dia jatuh pingsan dalam pelukan Chanyeol.
"Baekhyun-ah, Baek. " Chanyeol menjadi panik saat menyadari istrinya ternyata tak sadarkan diri.
..
Hari sudah menjelang malam, Baekhyun terbangun dari pingsannya, dokter sengaja menyuntikan cairan berisi obat tidur untuk Baekhyun atas perintah Chanyeol, hanya dosis kecil yang setidaknya membuat Baekhyun bisa beristirahat.
Alasan dibalik Baekhyun pingsan karna dia dalam kondisi kelelahan, pekerjaan yang banyak membuat dia kekurangan tidur dan makan tidak teratur, apalagi tadi dia mendapat guncangan yang cukup hebat, anak satu-satunya jatuh sakit dan itu bukan penyakit yang biasa.
"Kau sudah bangun?"
"Bagaimana Sehun?"
"Eommaku sedang menjaganya." Chanyeol duduk di ranjang tempat Baekhyun tidur.
"Bukan aku yang sakit." Baekhyun mengangkat selang infus yang menempel ditangannya.
"Kau kekurangan banyak nutrisi karna terlalu sibuk bekerja."
"Aku akan melihat Sehun." Baekhyun melepas infusnya dan berniat turun dari tempat dia tadi berbaring, namun Chanyeol menahannya.
"Diamlah disini dulu, tenangkan dirimu."
"Sehun membutuhkanku." Baekhyun mencoba menghentak tangan Chanyeol yang memegang tangannya.
"Ya, karna dia membutuhkanmu makanya kau tenangkan dirimu dulu, saat ini dia sedang kesakitan dan yang dia butuhkan adalah seorang yang bisa menguatkannya, bukan seseorang yang sama-sama lemah seperti dia. Jika kau belum bisa menenangkan dirimu, bukannya membuat Sehun merasa nyaman, kau malah akan membuatnya menderita karna kesedihanmu, jangan tunjukan kelemahanmu dihadapan orang yang mau kau lindungi." Chanyeol berdiri dan mencoba mendudukan Baekhyun kembali diatas ranjang rumah sakit, Baekhyun terdiam dan memikirkan perkataan Chanyeol, dia merasa dia tidak selemah itu, namun dia pikir dia harus menuruti perkataan Chanyeol.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" Baekhyun mewanti-wanti jawaban yang akan diberikan Chanyeol.
"Leukemia limfositik akut." Baekhyun kali ini benar-benar merasa seperti hidupnya berada dijurang, pangeran kecilnya, Park Sehun,yang selama ini terlihat sehat dan baik-baik saja harus mengidap sebuah penyakit mematikan, dia memang tidak mengerti medis, tapi dia tau leukemia atau kanker darah itu penyakit berbahaya.
"Apa dia bisa sembuh?" Dengan air mata yang tidak bisa dihentikan Baekhyun menunjukan wajah berharapnya.
"Masih ada kemungkinan, dia harus menjalani kemoterapi." Baekhyun kembali menangis kencang dia tidak peduli lagi dengan menenangkan diri, anaknya yang masih sangat kecil harus mengalami pengobatan menyakitkan seperti itu, anaknya yang bahkan baru akan menginjak usia 7 tahun sudah harus hidup dengan obat-obatan kimia.
"Menangislah, luapkan emosimu disini, tapi setelah itu kau harus jadi sosok ibu yang kuat, untuk Sehun." Chanyeol membawa Baekhyun dalam dekapannya dan tanpa Baekhyun sadari bukan hanya dia yang menangis, Chanyeol juga meneteskan air matanya di balik pelukannya dengan Baekhyun.
..
"Apa yang terjadi?" Seorang pria tua dengan wajah tegas dan sedikit menahan emosi masuk ke dalam ruangan kantornya.
"Daepyonim, maafkan aku." Kai menundukan kepalanya kepada bos agensinya tersebut.
"Apa yang dilakukan artismu itu lagi kali ini?" Seseorang yang dipanggil daepyonim itu dengan sedikit emosi duduk di kursi kerjanya, di meja kerjanya terdapat papan nama bertuliskan Shim Byunghan.
"Chanyeol tiba-tiba pergi saat rekaman dan menghilang sampai sekarang." Kai takut-takut untuk menjawabnya.
"Kau sudah mencarinya?"
"Nomornya tidak bisa dihubungi, dan dia tidak ada di apartemennya."
-BRAAKKK-
Byunghan menjatuhkan kertas-kertas yang ada di mejanya dengan emosi.
"Sebenarnya apa yang diinginkan bajingan itu? Dia pasti merasa dia bisa melakukan apa saja karna menghasilkan banyak uang, tidak sadarkah dia kalau uang yang dia hasilkan untuk perusahaan sering berakhir ke tangan para wartawan gila di luar sana, aku sudah berbaik hati merawat dia selama 10 tahun, menutupi semua keburukan dan kebrengsekannya, aku mengeluarkan banyak uang hanya untuk menghapus foto-fotonya dengan banyak wanita, bahkan aku harus membayar mahal agar artikel tentang anaknya tidak keluar, aku mencoba melindungi keluarga kecilnya itu dari berita apapun, tapi ini balasannya?!" Sepertinya tanduk sudah muncul dikepala pemimpin agensi Chanyeol itu.
"Daepyonim sabarlah." Kai mencoba menenangkan sang bos sambil menyodorkan segelas kopi yang tadi dia beli, naasnya kopi tersebut dilempar oleh Byunghan dan berhasil mengotori lantai.
"Bersabar kau bilang? Kurang sabar apa aku selama ini?! Aku membiarkannya pergi dari agensi asalkan setidaknya dia bisa mengembalikan uang yang aku keluarkan untuk foto-foto murahannya dengan album terbarunya itu, tapi dia malah kabur seperti ini! Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah menjadikan bajingan brengsek sepertia dia sebagai bintang besar!"
"DAEPYONIM." Tiba-tiba seorang pria dengan napas tersenggal-senggal memasuki ruangan atasannya itu. "Seseorang menuliskan postingan kalau dia melihat Chanyeol di Rumah Sakit Seoul." Ujar pria tersebut.
"Jinja?" Tanpa aba-aba Kai segera meninggalkan bosnya itu dan bergegas pergi ke rumah sakit.
"YA KAI! KAU MAU KEMANA BRENGSEK?!" Dan sang bos hanya bisa berteriak melihat kelakuan karyawannya yang kurang ajar.
..
"Dokter bilang untuk beberapa hari Sehun harus dirawat disini, untuk memastikan kondisinya baik-baik saja." Chanyeol meletakan tangannya dipundak Baekhyun yang saat ini sedang duduk disamping ranjang rumah sakit Sehun. "Tadi dia sempat bangun dan mencarimu."
Baekhyun menggenggam tangan anaknya dan menciuminya. "Eomma disini sayang." Ujarnya pada sosok tertidur Sehun.
"Baekhyun, lebih baik kau beristirahat saja di rumah." Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi ada di kamar itu memberikan sarannya.
"Aniyeo Eommanim, lebih baik kau saja yang beristirahat di rumah, kasihan Abonim sendirian di rumah, aku yang akan menjaga Sehun."
"Baekhyun-ah, kondisimu sedang tidak baik, kau harus tidur dan beristirahat, jika kau disini, kau tidak akan bisa tidur." Sang mertua mencoba meyakinkan Baekhyun.
"Dimanapun aku, aku tetap tidak akan bisa tidur nyenyak sedangkan Sehun sedang kesakitan di sini." Baekhyun memberikan senyuman lemahnya kepada sang ibu mertua.
"Sudahlah Eomma, biarkan Baekhyun yang menjaga Sehun, aku akan mengantar Eomma pulang." Chanyeol mencoba memahami keingan Baekhyun yang tidak mau meninggalkan Sehun.
"Baiklah, tapi kau harus menjaga kesehatanmu juga, jika kau sakit siapa yang akan menjaga Sehun?"
"Tenang saja Eommanim, aku sudah lebih baik."
"Baiklah Eomma, aku akan mengantarmu pulang." Chanyeol mengambil tas milik ibunya.
"Aniya, kau jagalah Baekhyun dan Sehun, Eomma masih kuat untuk pulang sendiri." Ibu Chanyeol mengambil tasnya dari tangan sang anak.
"Tapi ini sudah malam, sangat berbahaya."
"Memangnya siapa yang mau dengan wanita tua sepertiku? Sudahlah, kau jaga saja anak dan istrimu, Eomma bisa pulang sendiri. Baekhyun-ah, Eomma pulang dulu ya." Ibu Chanyeol mencium kedua pipi menantunya dengan sayang lalu mencium kening cucunya dengan lembut.
"Aku akan mengantarmu sampai bertemu taksi."
"Tidak, kau disini saja, semua orang akan bertanya-tanya mengenai keberadaanmu di sini jika kau keluar. Sudahlah, aku pergi dulu, jaga istri dan anakmu dengan baik." Chanyeol juga mendapatkan ciumannya dipipi.
"Eomma hati-hati."
"Eommanim hati-hati dijalan."
"Ne."
Setelah kepergian ibunya Chanyeol, suasana di kamar tersebut menjadi hening, Baekhyun hanya diam sambil menggenggam tangan sang anak dengan lembut.
"Kasur itu muat untukmu bahkan untuk kita bertiga juga terlihat muat, tidurlah disana." Chanyeol menunjuk ranjang rumah sakit kamar vip yang lumayan muat jika ditempati dua orang itu dengan matanya.
"Aku tidak ingin membangunkan Sehun."
Chanyeol duduk terdiam di sofa, dia memandangi Baekhyun lama.
"Kau pasti tidak nyaman."
"Huh?" Baekhyun bingung dengan perkataan Chanyeol.
"Pakaianmu." Baekhyun segera melihat ke arah bajunya, dia mengenakan sebuah baju terusan dengan bagian bawah yang ketat dan membuat dia sedikit sulit bergerak. "Aku akan ke rumah untuk mengambil barang Sehun dan juga pakain untukmu." Chanyeol bangkit dari sofanya.
"Terima kasih." Baekhyun menunjukan senyum tulusnya.
"Ah iya, kau belum makan, apa yang kau inginkan? Aku akan membelikannya."
"Bawakan saja sesuatu yang bisa dimakan."
"Ok." Chanyeol pun pergi meninggalkan Baekhyun dan Sehun.
..
"Chanyeol-ah!" Kai terlihat meneriaki Chanyeol dengan napas tersenggal-senggal, teriakan itu cukup menarik perhatian beberapa orang yang ada di lobi rumah sakit, ini masih pukul 9 malam, masih banyak pengunjung yang datang di rumah sakit terbesar di Korea itu. "Untung saja aku langsung menemukanmu, rumah sakit sebesar ini akan sulit menemukan berandalan sepertimu." Kai berujar sambil mencoba melancarkan pernapasannya yang tersendat usai berlari.
"Bagaimana kau tau aku disini?"
"Hey tuan, tidak sadarkah kau siapa dirimu? Saat kau bersin saja semua orang akan membicarakannya, apalagi ini, kau berkeliaran dirumah sakit sendirian, apa kau sakit parah?" Kai segera memegang tubuh Chanyeol dan memutarinya. "Kau keliatan sehat."
Chanyeol tiba-tiba melempar kunci mobilnya, dengan refleks Kai menangkap kunci tersebut. "Antarkan aku ke rumah, nanti aku ceritakan di mobil." Chanyeol segera berjalan mendahului Kai.
..
"Apa?! Leukemia?!" Kai benar-benar terkejut mendengar cerita Chanyeol. "Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" Kai yang berniat menculik Chanyeol kembali ke perusahaan memutuskan untuk membatalkan niatnya dan melanjutkan jalannya ke arah apartemen Chanyeol.
"Dokter mengatakan dia harus menginap dirumah sakit untuk beberapa hari." Kai melirik Chanyeol sekilas, Chanyeol hanya memandang lurus ke jalanan.
"Kau tidak apa-apa?"
"Baekhyun sangat terpuruk."
"Aku turut sedih untuk kalian." Tidak ada yang tau selain Kai mengenai perasaan Chanyeol kepada Sehun, walaupun terlihat cuek dan tak perhatian, Kai dapat memastikan 100% bahwa Chanyeol sangat menyayangi Sehun lebih dari apapun, tapi Chanyeol tetaplah seorang laki-laki egois, dan tsundere.
"Aku akan berhenti dari proyek album ini."
"APA?!" Kai menghentikan mobilnya mendadak ditengah jalan dan hampir mencelakai mereka berdua.
"KAU GILA?!" Kali ini Chanyeol yang berteriak, dia rasa mati bukanlah saat yang tepat untuk saat ini, istri dan anaknya sedang membutuhkan orang untuk menjaga mereka disaat buruk seperti ini. "Kau tau? Kau hampir membuat Sehun menjadi yatim dan Baekhyun menjadi janda?!"
"Aahh, maafkan aku." Kai terlalu shock tadi, dia tidak ingin mendapat surat pemecatan secepat ini.
"Keluarlah, telpon taksi, aku akan ke rumah sendiri."
"Tidak, aku akan mengantarmu." Kai kembali melanjutkan jalannya. "Emm, kau tau kan Shim Daepyonim akan sangat marah?"
"Aku akan memutuskan kontrak." Kai mencoba menahan keterkejutannya agar mereka bisa sampai ke apartemen Chanyeol dengan aman. "Aku akan ganti semua kerugian perusahaan."
"Perusahaan bisa saja mengungkapkan keberadaan Sehun."
"Saat ini tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya."
..
"Kau tau wanita ini kan?" Seorang wanita dengan gaya elegan dan terlihat seperti wanita dari kalangan atas menunjukan sebuah foto wanita lain di handphonenya kepada sang suami yang baru saja sampai ke rumah.
"Aku baru pulang Tao, tidak bisa kah kau membiarkan aku bernapas?" Kris, pria yang ditodong pertanyaan oleh sang istri, Tao, dengan lunglai berjalan tanpa menjawab pertanyaan todongan itu.
"Jawab aku." Tao mengikuti Kris ke dalam rumah mereka sambil tetap menunjukan foto seorang wanita pada Kris.
"Kau akan menuduhku selingkuh?"
"Lihat dulu fotonya." Kris pun mengambil ponsel yang disodorkan Tao dan melihat foto tersebut.
"Do Kyungsoo?"
"Dia asisten Desainer Byun kan?"
"Ya." Kris terlihat heran dengan sang istri, namun dia tidak terlalu memperdulikannya dan mulai membuka dasinya.
"Kau tau Desainer Byun punya anak?" Kris menghentikan gerakan jarinya yang sedang melepaskan jamny a.
"Kau dengar darimana? Desainer Byun belum pernah menikah."
"Tadi saat piknik, temannya Luhan ada yang pingsan dan sesak napas, dia ikut piknik ditemani wanita ini, Luhan mengatakan bahwa dia adalah asistennya ibu anak tersebut, dan aku sudah memastikan bahwa dia asistennya Desainer Byun."
"Jangan berpikir negatif, tidak mungkin Desainer Byun punya anak."
"Mengapa kau mengelaknya? Jangan-jangan itu anakmu?"
"Zitao!" Tao tidak memperdulikan suaminya dan berjalan ke arah kamar mereka, dia segera menekan sebuah kontak diponselnya.
"Halo, ... ya Nyonya Choi ini aku Wu Zitao,... ya,... oh hahahha,... iya tentu, oh iya aku menelponmu karna aku ingin mengusulkan sesuatu,... hmm bagaimana jika besok kita mengunjungi Sehun dirumah sakit?... iya Sehun, teman Luhan dan Jisoo yang tadi pingsan."
Jika besok terbukti dia anak Byun Baekhyun, kemungkinan itu anak hasil perselingkuhan Kris dengannya dulu sangat tinggi. Itulah yang ada dipemikiran Tao saat ini.
..
..
TBC
