Lucas sangat gemas dengan tingkah Jungwoo. Menurutnya, Jungwoo saat ini sangatlah menggemaskan. Karena tidak tahan akan tingkah lelaki depannya ini, ia tanpa berpikir panjang melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Jungwoo dan meniadakan jarak di antara mereka. Ya, Lucas memeluknya.
'Harum' Jungwoo benar-benar sudah seperti kepiting rebus. Ia bisa merasakan detak jantung Lucas yang berdetak dengan sangat cepat sama seperti detak jantungnya. Seketika ucapan Yuta waktu itu terlintas di pikirannya.
"Hei Jungwoo apakah kau sudah dengar berita hari ini?"
"Berita apa?"
"Lucas gay"
"Aku tidak peduli"
"Lucas gay"
"Lucas gay"
"Lucas... gay"
'Tidak, ini salah aku harus menjauh darinya' Jungwoo berontak tetapi Lucas malah mengeratkan pelukannya.
"AIGOOOO. Jungwoo-ya kau sangat menggemaskaaaaan. OHMYGOD!"
"Lepaskan aku Lucas! Kau bau! Menjijikan!" Ucap Jungwoo berbohong.
"Tidak"
"Lepas atau kau akan menyesal!" Lucas masih tetap pada posisinya dan menggeleng. Tiba-tiba,
DUAAG
Bruk!
"Arrrgghhh oh my, astagaaa. Ya Tuhan-aaarghh tidaak-sshhh masa depanku-ouchh" Jungwoo meninggalkan Lucas yang sudah terkapar tidak berdaya setelah masa depannya diperkenalkan kepada lutut Jungwoo. Beruntung hanya ada mereka dan supir di dalam bus itu jadi tidak akan ada yang melihat seorang Jungwoo dipeluk oleh Lucas.
Jungwoo segera mendudukkan dirinya di dekat jendela untuk menormalkan detak jantungnya yang sedari tadi memompa darah dengan sangat cepat. 'Jungwoo kau kenapa sih? Ayolah kau itu masih normal! Ingat! Ayo tarik nafas dan buang pelan-pelan'
Sementara itu, Lucas sedang berusaha keras untuk berdiri. Daerah bawahnya sangat nyeri. Ia pun dengan susah payah berjalan menghampiri Jungwoo dan duduk di sampingnya.
"Hei, Jungwoo-shhh kenapa kau menendang masa depanku ini sih?" Tanya Lucas.
'Bodoh, siapa suruh masih memelukku saat aku sudah bilang lepas?' Jungwoo terdiam dan lebih memilih untuk menjawab di dalam hati yang sangat tidak mungkin untuk terdengar oleh Lucas. Mereka pun terdiam-tidak, hanya Jungwoo. Sedangkan Lucas masih berjuang menahan rasa sakit di daerah bawahnya.
•••
12 hari telah berlalu semenjak insiden di dalam bus, kini sekolah telah masuk pekan ulangan akhir semester yang membuat seluruh siswa ketar-ketir dengan tugas-tugas mereka yang belum tuntas. Kesempatan emas inilah yang tidak akan dilewatkan oleh seorang Lucas. Ia membuka jasa 'joki' tugas. Yup, jasa mengerjakan tugas dengan bayaran. Ia tahu bahwa bayaran joki di sekolah ini tidaklah sedikit dan ia sangat amat tidak ingin melewatkannya.
Sudah terhitung sekitar 15 siswa yang menggunakan jasa joki tugas Lucas. Dan tentu saja bayarannya sangat amat fantastis untuk ukuran joki tugas. Sekali bayar, ia bisa mendapat 10.000 won. Bukankah itu lumayan? Ya setidaknya begitulah menurut Lucas.
Pekan ulangan akhir semester telah dimulai dari 4 hari yang lalu. Tampak sedikit perubahan pada hubungan Lucas dan Jungwoo. Kini, Lucas tidak lagi mengikuti Jungwoo setiap pulang sekolah dengan ratusan pertanyaan tidak pentingnya. Lucas jadi lebih sering pulang lebih awal dan jarang berbicara pada Jungwoo.
Jungwoo seperti merasa ada yang hilang. Ya, jauh di lubuk hatinya yang dalam ia merindukan Lucas. Lucas yang bawel, cerewet, clingy, konyol, bahkan Lucas yang 'sedikit' romantis. Tapi tetap Jungwoo tidak mau mengakui itu.
Seperti sekarang, bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Lucas dengan segera pergi meninggalkan kelas tanpa sedikitpun menoleh ke arah Jungwoo. 'Sangat aneh, ada apa dengannya?' Batin Jungwoo. Bukan hanya Jungwoo, bahkan Yuta juga menyadari perubahan pada Lucas yang tidak lagi menempel pada Jungwoo.
"Jungwoo, apa kalian sedang bertengkar? Kenapa Lucas belakangan ini tidak menempel padamu?" Tanya Yuta. Jungwoo hanya menggedikkan bahunya tidak peduli.
"Benar kan kalian sedang bertengkar? Well, kau tahu? Belakangan ini Lucas terlihat tidak sehat. Kantung matanya sangat hitam seperti panda. Apa dia pemakai narkoba?" Lanjut Yuta lagi.
Karena Jungwoo kesal pada Yuta yang mengganggu siang indahnya, ia pun terpaksa untuk membalasnya.
"Berisik! Aku tidak peduli padanya. Lagipula bukankah itu bagus? Jangan menjadi seperti Lucas, Yuta!" Seperti biasa ia meninggalkan Yuta dan lebih memilih untuk pulang.
•••
Besoknya,
Bel berbunyi, Lucas dengan segera melangkahkan kakinya keluar kelas. 'Aku merindukanmu, Jungwoo.' Lucas membatin. Ia sadar bahwa belakangan ini ia tidak melakukan hal-hal yang menjadi favoritnya yaitu menempel pada Jungwoo.
Ia memiliki alasan untuk itu. Setelah insiden penendangan masa depan Lucas, ia pun bertekad untuk bekerja lebih giat untuk mencapai keinginannya itu. Alasan sebenarnya mengapa ia bekerja.
Kim Jungwoo
Lucas tahu ia tidak akan mungkin sepadan dengan Jungwoo yang notabenenya adalah seseorang yang lahir dengan Silver Spoon di mulutnya. Karena itu, dia ingin setidaknya sedikit saja dilirik oleh Jungwoo. Ya, selama ini Lucas memang menahan rasa sakit yang ditorehkan secara tidak sengaja oleh Jungwoo.
Dengan Jungwoo yang selalu menolak adanya Lucas di sampingnya, Jungwoo yang tidak pernah berkata lembut padanya, Jungwoo yang seperti membencinya. Baginya itu belum seberapa.
Semua karena Lucas terlalu mencintai Jungwoo. Ia tidak bisa membencinya. Ia juga tidak mau berhenti untuk mengejar Jungwoo. Ia tahu bahwa dibalik topeng, Jungwoo sebenarnya adalah pribadi yang hangat dan rapuh, Lucas sangat ingin melindungi itu.
Untuk Jungwoo, Lucas rela melakukan apapun. Jadi, keinginan terbesarnya saat ini adalah membeli motor. Kenapa? Karena Lucas ingin selalu dekat dengan Jungwoo. Dengan motor, ia bisa mengantar dan menjemput Jungwoo dengan mudah. Ia memang sudah tahu bahwa Jungwoo memiliki supir pribadi. Tetapi apa salahnya untuk mencoba? Lucas hanya ingin sedikit dilirik oleh Jungwoo, ingat?
Semenjak itu ia memutuskan untuk mengambil extra shift di Caffè pada hari sabtu dan minggu sampai dengan jam 11 malam.
Lucas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju caffè. Ia ingin cepat-cepat sampai di caffè bukan untuk memulai shift pebih awal, tetapi ia ingin mengerjakan tugas-tugas joki-nya di ruang pegawai. Dengan ini ia tidak akan terlambat untuk memulai shiftnya.
•••
05.15 p.m.
Seperti biasa Jungwoo akan mampir ke perpustakaan kota. Tempat favoritnya. Jungwoo menyukai perpustakaan karena tempat itu sangatlah tenang. Ia menyusuri jalanan yang sudah sangat ia kenal. Tiba-tiba wajah Lucas melintas tanpa permisi di pikirannya. Lucas yang sedang tersenyum hangat. Seketika pipinya merona. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
'Apa-apaan Jungwoo!. Ada apa denganmu? Teruslah berjalan sebentar lagi sampai' batinnya.
Entah kenapa dirinya tidak berada dalam mood yang baik semenjak beberapa hari yang lalu. Tepatnya setelah Lucas meninggalkannya. Itulah yang selalu menghantui pikiran Jungwoo. Lucas yang akan meninggalkannya. Tetapi ia tetap berusaha untuk tidak peduli.
Ia mengambil ponsel di sakunya dan mengetik nomor ponsel yang sudah ia hafal di luar kepala dan menempelkannya di salah satu telinganya.
"Halo, paman jemput aku di jalan yang biasa kulewati jila ingin ke perpustakaan kota. Sekarang kumohon"
"Maaf, Tuan Muda. Saya hendak mengantar Tuan Besar ke kantor client. Jaraknya lumayan jauh dari perpustakaan kota. Apa anda ingin menunggu?"
"Abeoji? Kenapa abeoji tidak membawa mobil sendiri? Lalu apakah eomonim ada di rumah?"
"Mobil Tuan Besar tadi tidak bisa dinyalakan ada gangguan pada mesinnya. Jadi beliau meminta saya untuk mengantar beliau. Nyonya Kim ada di rumah beliau bilang padaku bahwa beliau sangat merindukan anda, Tuan"
"Baiklah aku akan menunggu. Berapa lama? Tapi aku tidak mau menunggu di perpustakaan pamaaan aku tidak mood untuk kesana" terdengar suara kekehan di seberang.
"Anda ingat kedai kopi yang waktu itu? Jaraknya lumayan dekat dari kantor client Tuan Besar. Apakah anda mau menunggu disana? Saya pikir akan mempercepat waktu untuk menjemput anda dan sampai di rumah"
Jungwoo terdiam. 'Kedai kopi yang waktu itu? L-lucas? Kedai kopi tempat Lucas bekerja? Tidak, tidak! jika aku kesana maka ia akan mengira aku mengikutinya. Tapi kalau aku menunggu disini maka aku tidak bisa pulang lebih cepat-tapi'
"Tuan Muda? Kami akan segera berangkat. Baiklah saya akan menjemput anda dalam waktu setengah jam lagi. Selamat sore." telepon dimatikan sepihak dan mau tidak mau Jungwoo segera berjalan menuju ke kedai kopi yang pernah sekali ia kunjungi. Tidak sampai 10 menit berjalan, ia sudah sampai di kedai bertuliskan Lee's Coffee Bar.
Lonceng berbunyi menandakan bahwa ada pelanggan yang masuk. Tidak seperti kemarin, kedai kopi ini sedang ramai pengunjung. Ia melirik jam di dinding yang menunjukkan angka 05.14 p.m. 'Waktu itu aku bertemu Lucas jam berapa ya? Ya Tuhan jangan sampai bertemu dengannya di jam ini' Jungwoo membatin.
Well, sayangnya harapan Jungwoo kali ini tidak dapat terpenuhi karena Lucas sudah memulai shiftnya dari jam 5 sore. Jungwoo segera memesan satu Americano untuk Paman Jang tentunya. Besok masih pekan ulangan dan Jungwoo tidak mau mengambil resiko.
Setelah memesan, ia mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong. Matanya tertuju pada meja di dekat jendela. Well, familiar enough? Yup, tempat dimana Jungwoo bertemu seorang Lucas yang sukse membuat dirinya kini menjadi aneh.
•
"Lucas! Ayo bergerak cepat kita sedang ramai pelanggan! Cepat! Cepat! Antar ini ke meja 6,3,5,dan 9. Cepat!"
Lucas menerima sebuah nampan berisikan pesanan-pesanan beberapa pelanggan. Ia mengantar pesanan-pesanan tersebut satu persatu dengan gerakan yang cepat. Sampai pada pesanan terakhir di meja nomor 9, gerakan Lucas perlahan melambat seiring dengan tatapan terkejut yang diberikan oleh Jungwoo. De Javu. Itulah yang dirasakan oleh keduanya.
"Selamat sore, silahkan pesanan anda" Jungwoo seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi,
"Lucas! Sedang apa kau disana?!Kemari!" Mendengar teriakan Park Sajangnim, Lucas membungkuk dan meninggalkan Jungwoo tanpa sepatah kata. Itu sedikit membuat Jungwoo merasa tertusuk. 'Apa Lucas membenciku? Apa yang selama ini ku lakukan padanya sudah keterlaluan?' Ia berkata dalam hati sembari menyentuh dada kirinya yang terasa sedikit nyeri.
Jungwoo tenggelam dalam pikirannya dan semakin membuat moodnya hari ini menurun drastis. Tidak lama kemudian, Paman Jang menelpon Jungwoo hendak memberi tahu bahwa ia sudah sampai. Karena berada di dalam mood yang buruk, Jungwoo tidak mengangkat telponnya dan membawa kopi yang dibelinya ke dalam mobil.
"Aku lelah. Ayo pulang" singkat dan padat. Tipikal Jungwoo yang sedang badmood. Itulah yang disimpulkan oleh Paman Jang. Ia menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan caffè menyisakan Lucas yang diam-diam menatap mobil Jungwoo yang kian menjauh.
•••
Kedatangan Jungwoo di rumah langsung disambut oleh pelukan hangat Nyonya Kim-ibunya. Ia tahu bahwa Jungwoo sedang tidak berada dalam mood yang bagus. Ia tersenyum lalu menggiring Jungwoo ke taman belakang dan mendudukkan anaknya di sebuah kursi dengan meja yang terisi dengan makanan ringan serta teh madu yang mengeluarkan bau manis.
"Jungwoo-ya, bagaimana sekolahmu? Ada apa? Kenapa kau terlihat murung begitu hmm?" Tanya Nyonya Kim.
"Tidak apa-apa eomonim" jawab Jungwoo seadanya.
"Ayolah, ceritakan padaku? Yayaya? Aku ini ibumu Jungwoo" wanita yang dipanggil eomonim oleh Jungwoo itu pun tersenyum dan mengelus kepala putera kesayangannya.
Jungwoo sedikit enggan untuk bercerita. Tetapi karena rayuan dan bujukan maut ibunya, ia berakhir dengan menceritakan semuanya. Saat bercerita, Nyonya Kim hanya tersenyum dengan penuh arti lebih ke jahil yang di balas ucapan ketus Jungwoo.
"Kenapa tersenyum begitu, eomonim? Tidak ada yang lucu!" Jungwoo merajuk dan Nyonya Kim hanya tertawa. Ia sangat berterimakasih kepada seseorang yang telah membuat Jungwoo menjadi seperti ini karena dengan ini ia dapat melihat Jungwoo mode merajuk yang sangat amat dirindukannya.
"Ehmm, tidak ada hehe" jawab Nyonya Kim simple.
"Astagaa"
"Kau tidak pernah menunjukkan sikap merajukmu itu padaku lagi semenjak kau lulus sekolah dasar dan sekarang kau melakukannya! Bukankah anakku ini sangat menggemaskan?" Nyonya Kim tertawa sembari mencubit pipi anaknya tersebut.
"Aah sakit eomonim!"
"Aigoooo anakku sedang jatuh cinta lucunyaaaa" Nyonya Kim sangat gemas pada Jungwoo dan mengencangkan cubitan di pipinya.
"Apa?!"
"Katakan siapa anak itu? Apakah kau akan mengenalkannya padaku?" Nyonya Kim hanya tersenyum jahil yang dibalas tatapan bingung Jungwoo.
'Jatuh cinta? Aku? Pada siapa? Lucas? Tidak mungkin! Eomonim pasti salah mengira'
"Benarkan? Kenapa kau tidak menyatakannya saja?"
"Tidak! Aku lelah, selamat malam" Jungwoo berjalan meninggalkan ibunya yang kini sedang tertawa senang karena telah berhasil membuat puteranya tambah merajuk.
•
09.22 p.m.
"Haaaah, akhirnya bertemu dengan ranjang tercintaaaa" Lucas menjatuhkan badannya ke ranjang dan tenggelam dalam pikirannya.
'Maafkan aku Jungwoo, kumohon jangan salah paham aku sangat sibuk tadi hehe. Ahh ingin sekali menemanimu minum kopi tadi' Lucas tersenyum dan tak lama kemudian ia tertidur.
•
10.35 a.m.
'Yatuhan aku tidak bisa fokus. Kenapa jantungku berdebar setiap melihat Lucas? Ayo Jungwoo soal di depanmu sangat mudah! Kerjakan! Waktumu sisa sedikit lagi'
Well, berdasarkan rolling tempat duduk, hari ini Jungwoo duduk tepat di belakang Lucas. Jungwoo benar-benar gugup dan gelisah. Ia tidak bisa fokus kepada kertas ulangannya. Jungwoo menghela napas. Ia mencoba untuk tidak menatap ke depan dan hanya fokus kepada kertas ulangannya saja.
45 menit kemudian, bell pun berbunyi menandakan waktu ujian telah selesai. Para siswa segera meninggalkan kelas tetapi tidak dengan Jungwoo. Ia masih berusaha untuk menetralkan detak jantungnya. Biasanya, saat Lucas berada di depan Jungwoo, ia akan membalikkan kursinya menghadap Jungwoo lalu mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol. Tetapi hari ini, Lucas melenggang pergi tanpa sekalipun menengok pada Jungwoo.
Jungwoo yang melihat itu pun merasakan hatinya sedikit tergores. Ia lebih memilih untuk tetap tinggal di kelas dan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
'Apa Lucas membenciku? Kenapa rasanya sakit saat ia seolah seperti tidak mengenaliku? Apakah ini yang dirasakan Lucas selama ini? M-maaf... tapi Lucas, aku sedikit... merindukan..mu'
•••
Hi! Agaaain, feel free to ask or criticize in the comment box guys!
Sorry for some typos :)
Last chapter in the next chapter or nah?
oiya, aku mau minta pendapat dong, jadi kira-kira kalo story ini udah selesai kalian setuju aku buat project ff luwoo lagi ga?
Udah gitu aja hehe, makasih!
xxxx
