Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Separate Beds © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Wen Junhui (GS)
Rating: M
Warning: GS. AU. OOC.
.
Setelah pulang dari kantor, Mingyu mandi, memakai jeans dan kemeja putih, menata rambutnya dengan pomade, dan tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Ia tersenyum melihat pantulan dirinya di layar kaca. Mingyu keluar dari kamar lalu menuju ruang tamu.
"Noona, aku pergi dulu ya," pamit Mingyu setelah mengambil kunci mobil.
"Hati-hati, jangan pulang terlalu malam."
"Ne~"
Junhui menatap punggung Mingyu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu. Junhui merasa ia berada dalam keadaan yang sangat sulit. Perempuan itu menghela napas. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berlaku bahwa semuanya baik-baik saja dan mengabaikan perasaan aneh yang hinggap di hatinya.
.
"Hao, selamat ulang tahun," ucap Mingyu sambil menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna merah setelah meja mereka bersih dari sisa piring yang baru saja dibersihkan oleh pelayan.
Minghao mengambil kotak itu, membukanya lalu menutupnya lagi. "Kim Mingyu-ssi."
Mingyu meneguk ludahnya. "N-ne?"
Minghao menghela napas. "Kau tahu sekarang sudah masuk bulan berapa sejak pernikahanmu?"
"N-ne… Hao…"
"Hm?" Minghao bersandar pada kursi dan melipat tangannya di depan dada. Ia menatap Mingyu dengan pandangan menuntut.
"Aku tahu ini sudah tiga bulan sejak hari pernikahanku… Mungkin lebih."
"Lalu?"
"Bisakah kau menunggu sedikit lagi?"
Minghao menghela napasnya lagi. "Aku tidak ingin digantung seperti ini terus Gyu. Dari perkataanmu, aku menyimpulkan bahwa tidak semudah itu kau bisa meninggalkan Junhui-eonni."
Mingyu meraih tangan Minghao dan menggenggamnya erat. "Please, beri aku waktu. Aku akan mencari cara untuk menceraikan Junhui-noona dan kembali padamu," ucap Mingyu dengan pandangan memelas.
Minghao menatap Mingyu. Ia ragu, apakah harus membiarkan hubungan mereka selesai sampai di sini ataukah ia harus memberi kesempatan lagi pada Mingyu.
"Hao, jebal~"
"Baiklah, secepat yang kau bisa. Jika tidak ada kemajuan berarti lebih baik kita sudahi saja."
"Hao…" Mingyu tersenyum. "Gomawo."
Minghao tersenyum tipis.
.
Wonwoo berdiri di depan sebuah toko pakaian dengan nama M&M. Sebuah toko yang didirikan Xu Minghao dan kekasihnya, Kim Mingyu. Ia memperhatikan toko itu dengan lekat sebelum masuk ke dalamnya.
Seorang perempuan menghampiri Wonwoo ketika ia masuk dan bertanya. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
Wonwoo tersenyum. "Aku ingin lihat-lihat dulu."
Perempuan itu mengangguk. "Silakan."
Wonwoo menelusuri satu per satu rak pakaian yang ada di sana. Setelah mengelilingi toko yang cukup besar itu sekaligus mencari seseorang tapi tidak menemukannya, Wonwoo bertanya kepada perempuan yang sejak tadi mengikutinya. "Pemilik toko ini Seo Myungho-ssi, benar?"
Perempuan itu mengangguk. "Benar Tuan."
"Apakah dia ada di sini?"
"Ada Tuan, beliau sedang berada di ruangannya."
"Boleh aku bertemu dengannya?"
"Maaf, boleh saya tahu nama Anda?"
"Wonwoo."
"Baik, Wonwoo-ssi, akan saya sampaikan dulu kepada Nona Myungho."
"Terima kasih," jawab Wonwoo sambil tersenyum.
Perempuan itu membungkuk sedikit lalu pergi ke ruangan Minghao. Tak lama kemudian, ia kembali menghampiri Wonwoo dan mengantar lelaki bermarga Jeon itu ke ruangan atasannya. Perempuan itu mengundurkan diri ketika Wonwoo sudah berada di ruangan Minghao.
Dari balik meja kerjanya, Minghao melipat tangannya di depan dada dan memicingkan matanya.
Wonwoo membungkukkan badannya dan tersenyum, "Selamat siang, Seo Myungho-ssi."
"Ada perlu apa?" tanya Minghao dingin.
"Begitukah responmu terhadap pembeli?"
Minghao berdeham. "Apa yang bisa kubantu?"
"Aku membutuhkan sebuah jas."
"Baiklah. Ikut aku," ujar Minghao lalu bangkit dari duduknya. Ia pergi dari ruang kerjanya diikuti oleh Wonwoo menuju ke ruangan khusus untuk mengukur bahan yang akan dibuat sesuai dengan pesanan pembeli.
Kali ini, ia sendiri yang turun tangan melayani Wonwoo, karena lelaki itu menolak dilayani oleh pegawai Minghao. Sejujurnya Minghao risih, karena ia terus-terusan ditatap oleh Wonwoo. Demi profesionalitas, ia hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya sampai selesai.
Minghao menghela napas ketika Wonwoo sudah keluar dari tokonya.
"Nona," panggil salah satu pegawai perempuannya yang tadi melayani Wonwoo. Ia menyenggol Minghao sambil tersenyum penuh arti.
Minghao meliriknya malas lalu kembali ke ruang kerjanya.
.
Jihoon baru saja kembali dari ruang direktur. Untuk sampai ke meja kerjanya, ia harus melewati salah satu meja seniornya yang bernama Yoon Jeonghan. Indra penglihatannya menangkap sesuatu ketika ia akan melewati meja itu. Tanpa sadar ia berhenti di depan meja seniornya. Matanya menatap lekat-lekat sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan nama Choi Seungcheol dan Jang Doyoon. Jeonghan yang menyadari Jihoon berdiri di depan mejanya mendongak.
"Jihoon-ah? Wae?"
Jihoon gelagapan dan menggeleng. "Tidak apa-apa sunbaenim. Maaf, aku permisi," pamitnya sambil berlalu.
Jeonghan menatap kepergian Jihoon dengan raut wajah bingung. Ia mengangkat kedua bahunya lalu kembali membaca dokumen yang sedang dipelajarinya.
Tapi rasa ingin tahu Jihoon sangat besar, akhirnya ia kembali menghampiri meja kerja Jeonghan. "Sunbaenim."
"Ya?" tanya Jeonghan sambil menatap Jihoon dan membenarkan letak kacamatanya.
"Maaf bila aku lancang. Tapi apakah Choi Seungcheol yang berada di undangan itu adalah lulusan dari Seoul National University?"
"Ya. Kenapa? Kau kenal?"
"Aku hanya sekadar tahu. Kau kenal dengan calon mempelai perempuannya?"
Jeonghan menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Sunbaenim, aku dengar Choi Seungcheol itu masih memiliki kekasih 'kan?"
"Yang dari China itu maksudmu?"
Jihoon mengangguk.
Jeonghan mengangkat bahunya. "Aku juga kaget tiba-tiba mendapat undangan itu."
Jihoon mengangguk paham. "Boleh aku pinjam undangan itu? Akan aku kembalikan secepatnya."
Jeonghan menyerahkan undangan berwarna emas itu kepada Jihoon. "Bawalah."
"Terima kasih sunbaenim," kata Jihoon. Ia menerima undangan itu lalu pamit kepada Jeonghan untuk kembali ke mejanya. Dengan segera ia mengirim pesan di grup chat untuk bertemu dengan ketiga temannya malam itu juga.
.
Suasana di tempat langganan mereka untuk berkumpul terasa tegang. Tak ada yang berani bersuara. Wonwoo dan Soonyoung hanya saling lirik sambil sesekali melihat Jihoon dan Junhui.
"Kenapa sih?" celetuk Soonyoung yang sudah tidak tahan dengan suasana tegang yang menyelimuti mereka.
Jihoon mengambil undangan milik Jeonghan dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada Junhui.
Junhui mengambilnya lalu membacanya. Ia mengembalikannya pada Jihoon kemudian tersenyum. "Yang namanya Choi Seungcheol 'kan bukan cuma Seungcheol-oppa Ji."
Soonyoung dan Wonwoo saling pandang. Wonwoo mengambil undangan itu dan membacanya bersama Soonyoung.
Jihoon menghela napas. "Sunbaenimku bilang kalau itu Seungcheol yang dulu kuliah di Seoul National University dan punya pacar dari China."
Junhui langsung terdiam. Ia sedang berusaha mencoba untuk baik-baik saja. Walaupun dalam hatinya ia merasa hancur dan dikhianati. Bahkan ia sudah tidak ada napsu untuk menghabiskan makanan yang tadi dipesannya dan memberikannya pada Soonyoung.
Acara menghabiskan makan malam diselimuti suasana yang benar-benar canggung. Ketiganya bingung harus menghibur Junhui dengan cara bagaimana, mereka cuma bisa diam sambil menghabiskan makanan masing-masing.
"Kau menyetir sendiri tadi Jun?" tanya Jihoon.
Junhui mengangguk.
"Hati-hati nyetirnya, jangan ugal-ugalan," pesan Soonyoung.
Junhui memaksakan sebuah senyum. "Aku baik-baik saja kok."
Mereka saling melempar salam perpisahan setelah membayar tagihan lalu pulang ke rumah masing-masing dan berharap Junhui baik-baik saja.
.
"Oh, sudah pulang," komentar Mingyu yang sedang duduk di sofa sambil melihat Junhui yang berjalan ke arahnya.
Junhui duduk agak jauh dari Mingyu dan menatap layar televisi. Layar televisi itu sekarang menayangkan pasangan yang sedang berdiri di depan altar untuk mengucapkan janji suci sehidup semati. Junhui diam-diam tersenyum miris, teringat oleh undangan yang ditunjukkan oleh Jihoon beberapa jam yang lalu. Ia memeluk kakinya lalu menangis diam-diam.
Junhui bukan tipe orang yang mengekspresikan perasaannya secara gamblang. Bahkan saat dipaksa menikah pun, ia tidak menangis 'kan. Tapi untuk kali ini ia ingin sekali menangis, tidak peduli bahwa Mingyu ada di sana. Junhui yang awalnya menangis dalam diam kini menjadi sesenggukan.
Mingyu menoleh dan melihat perempuan itu dengan bahu bergetar. Dengan ragu ia memanggil Junhui. "Noona?"
Tidak mendapat respon dari Junhui, Mingyu memanggilnya lagi. "Junhui-noona?"
Junhui buru-buru menghapus air matanya dan mendongak menatap Mingyu. "Ya?" tanyanya dengan suara serak.
"Kau baik-baik saja? Kenapa menangis?"
"Aku tidak—" ucap Junhui, air matanya tiba-tiba turun lagi tanpa bisa ditahannya. "—menangis."`Junhui menghapus air matanya lalu tertawa. "Aku tidak menangis kok." Tapi air matanya tetap saja mengalir.
Mingyu menarik Junhui ke dalam pelukannya. Tangis Junhui makin keras ketika Mingyu mengusap-usap kepala dan punggung gadis itu untuk menenangkannya.
"Sudah tenang?" tanya Mingyu setelah tangisan Junhui reda.
Junhui mengangguk. "Terima kasih."
"Kenapa? Kau bisa cerita padaku kalau mau, aku siap mendengarkan."
Diam sejenak, sebelum Junhui menjawab, "Seungcheol-oppa akan menikah."
Mingyu tidak tahu harus berkata apa. "Noona mau teh? Atau susu?"
"Teh saja tolong."
Mingyu mengangguk. Ia pergi ke dapur dan membuatkan secangkir teh chamomile untuk Junhui agar lebih tenang lalu kembali ke ruang tamu.
"Terima kasih," ujar Junhui setelah menyesap teh buatan Mingyu.
"Noona tidak pernah mencoba menghubungi pacarmu?"
"Aku berusaha menghubunginya tapi selalu terhubung ke kotak pesan," ujar Junhui lalu menyesap tehnya lagi. "Mingyu-ya…"
"Ya?"
"Semoga kau dan Minghao tidak berakhir sepertiku. Segera selesaikan urusanmu, aku akan membantu sebisaku," ucap Junhui sambil tersenyum. Ia bangkit berdiri lalu beranjak ke dapur untuk mencuci cangkirnya.
Mingyu terdiam mendengar ucapan Junhui. Walaupun awalnya menolak pernikahan dan bersikap cuek, akhirnya ia memilih berteman dengan Junhui dan menganggap Junhui sebagai kakaknya sendiri. Bahkan mereka sudah terbiasa melakukan skinship agar tidak dicurigai oleh kedua orangtua mereka. Menyelesaikan urusannya berarti ia harus menceraikan Junhui dan kembali pada Minghao, yang berarti ia harus meninggalkan Junhui. Entah kenapa ia tidak suka dengan pemikiran itu, ia tidak rela untuk meninggalkan Junhui.
"Noona," panggil Mingyu setelah Junhui keluar dari dapur dan hendak ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Junhui berhenti dan menatap Mingyu, menunggu laki-laki itu untuk berbicara.
"Mau aku temani sampai kau tertidur?" tanya Mingyu. "Kalau tidak mau juga tidak apa-apa," tambah Mingyu buru-buru.
Junhui tersenyum. "Boleh," jawabnya lalu menuju ke kamarnya terlebih dahulu.
Mingyu mematikan televisi, pergi ke kamarnya untuk berganti piyama lalu menyusul Junhui ke kamarnya.
"Kenapa duduk di kursi?" tanya Junhui setelah bersiap-siap untuk tidur. "Di sini saja, masih lebar," lanjutnya sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Tidak apa-apa?"
"Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa sih," ucap Junhui. Ia berbaring lalu menarik selimutnya.
Mingyu duduk di sebelah Junhui lalu berbaring menyamping menghadap gadis itu sambil menyangga kepalanya dengan tangan. Ia tahu ini salah. Memang, ia menyayangi Minghao, tapi untuk kali ini ia hanya ingin menemani Junhui-noonanya.
Junhui berbaring menghadap Mingyu. Keduanya bercerita tentang kejadian yang mereka alami satu hari penuh, cerita random tentang teman-teman mereka, tentang diri masing-masing, hingga Junhui yang menceritakan Seungcheol pada Mingyu hingga gadis itu terlelap.
Mingyu memandangi wajah damai Junhui yang sudah terlelap sambil sesekali mengelus kepala gadis itu. Mingyu yang sudah berada di posisi nyaman di kasur Junhui ditambah dengan ketidak inginan lelaki itu untuk menyudahi aktivitasnya untuk melihat wajah cantik noonanya akhirnya menyusul Junhui ke alam mimpi.
.
Jum'at malam, Mingyu mengajak Junhui untuk menghadiri sebuah pertemuan. Setelah saling menyapa rekan-rekan kerjanya, mereka menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Nih," kata Mingyu sambil menyodorkan segelas wine kepada Junhui.
"Gomawo."
"Kakimu baik-baik saja?" tanya Mingyu setelah menyesap winenya sambil melirik Junhui.
"Eh?" Junhui kaget ditanya seperti itu. Padahal ia tidak bilang kalau kakinya memang sakit karena sepatunya yang terlalu pas di kaki. Ia rasa kakinya sudah lecet. "Ya, baik-baik saja."
"Pegang," ujar Mingyu meminta Junhui untuk memegang gelas winenya.
Ia berlutut di depan Junhui—Junhui kaget sehingga ia mundur selangkah—lalu melepas high heels Junhui dan mengecek kaki gadis itu. "Baik-baik saja apanya?! Lecet begini," omel Mingyu.
Junhui meringis.
Mingyu mengambil plester dari dalam dompetnya lalu menempelkan plester itu pada kaki Junhui yang lecet.
"Terima kasih," ujar Junhui setelah Mingyu berdiri.
"Memang semenyakitkan itu ya untuk berbicara hingga semua harus kau pendam sendiri?"
Junhui cuma meringis lagi.
"Mau pulang sekarang? Daripada kakimu tambah parah jika dibuat berjalan kesana-kemari."
"Jangan berlebihan deh. Aku tidak apa-apa kok."
"Ya sudah, ayo pulang. Masih kuat jalan 'kan? Apa mau aku gendong?" tanya Mingyu setengah menggoda Junhui.
"Apa sih," gerutu Junhui sambil memukul lengan Mingyu. "Jangan menggodaku!" lanjutnya lalu menggembungkan pipi.
"Istriku~ kenapa malu-malu begitu, hm?" goda Mingyu sambil merangkul Junhui dan menariknya untuk pulang.
Rasanya Junhui ingin melempar Mingyu dengan sepatu hak tingginya. Tidak tahu apa ya kalau jantungnya jadi berdetak tidak karuan karena perlakuan manis dan godaan dari Mingyu. Dalam hati kecilnya, Junhui ingin egois dengan berharap Mingyu berada di sisinya dan tidak kembali pada Minghao.
Junhui menggerutu dalam hati dan mengikuti Mingyu yang tengah menggandeng tangannya untuk meninggalkan ruangan.
.
Hari bahagia untuk Seungcheol dan calon mempelainya yang bernama Jang Doyoon tiba juga. Junhui dilema antara ingin datang atau tidak. Tapi jika ia tidak datang, ia tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menghubungi Seungcheol untuk ke depannya.
Junhui meminta bantuan salah satu pelayan di sana untuk memberi tahu Seungcheol bahwa ada seseorang yang mencarinya. Dan saat itu tiba, ketika Seungcheol dengan wajah terkejut menatap Junhui yang berdiri di depannya.
"Oppa, selamat ya." Kalimat pertama yang keluar dari mulut Junhui disertai dengan senyuman.
"Jun, kenapa kau bisa berada di sini?"
"Seorang temanku memberi tahu kalau hari ini adalah hari pernikahanmu. Kau memang berniat untuk menyembunyikannya dariku ya?" Junhui tertawa kecil. "Jahat sekali."
Seungcheol terdiam. "Maaf Jun."
Junhui menggeleng. "Setidaknya jika memang tidak ada niat untuk menikahiku sejak awal, bilang saja padaku. Kau tidak perlu menggantungku dan menghilang tanpa kabar."
"Jun, maaf."
"Tidak perlu minta maaf oppa. Kau tidak mau memutuskanku? Kau benar-benar jahat telah membohongiku dan perempuan itu," ujar Junhui sambil tertawa kecil.
"Jun…"
"Oppa—"
"Jun! Dengarkan aku!" seru Seungcheol sambil meremas kedua bahu Junhui. "Tolong dengarkan aku. Kau mau 'kan?"
Junhui terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Aku minta maaf, oke? Aku benar-benar minta maaf karena pernikahanku sangat mendadak. Aku sangat, sangat ingin menikahimu. Tetapi keadaan tidak mendukung. Appamu tidak menyetujui dan eommaku menyuruhku menikah dengan perempuan ini. Lalu melihat appamu yang seperti itu, jika kalian nantinya akan bercerai pun apa appamu akan dengan mudah menyetujuinya?"
"Kau pengecut, oppa," lirih Junhui.
"Jun," ucap Seungcheol. "Maafkan aku, lebih baik kita sudahi saja sampai di sini."
Junhui menghapus air matanya kemudian mendongak. "Ya, sampai jumpa oppa. Semoga kau bahagia."
Seungcheol tersenyum sedih dan menatap kepergian Junhui dari gedung itu hingga ia menghilang lalu kembali ke dalam ruangan.
.
Waktu berlalu begitu cepat hingga Minghao meminta Mingyu untuk bertemu di restoran favorit mereka. Habis sudah semuanya, pikir Mingyu. Ia cuma bisa pasrah dan berdoa agar ia bisa kembali pada Minghao.
"Kau tahu dengan jelas apa yang ingin aku bicarakan," ucap Minghao tanpa basa-basi.
Mingyu mengangguk.
"Aku tidak mau menunggu tanpa kejelasan."
"Tolong Hao…"
"Kau pikir sudah berapa lama aku menunggu?! Hampir setengah tahun Mingyu… Dan sampai saat ini tidak ada kemajuan. Dan kau masih memintaku untuk menunggu. Micheosseo?!"
"Mianhae Hao… Aku masih berusaha untuk mempertahankan hubungan ini."
"Hubungan apa maksudmu? Suami yang terlibat dalam pernikahan kontrak dan masih memiliki hubungan dengan pacar yang belum diputuskannya? Tidakkah kau merasa itu terlalu drama dan terdengar sangat salah?"
Mingyu hanya diam. "Baiklah," katanya akhirnya setelah memikirkan matang-matang keputusannya. "Aku terima apapun keputusanmu."
"Selamat tinggal, Kim Mingyu," ucap Minghao lalu meninggalkan Mingyu.
.
"Sudah Gyu," ucap Seokmin sambil menjauhkan sloki berisi soju dari tangan Mingyu.
"Kembalikan~ Seokmin-ah~" ujar Mingyu yang sudah mabuk akibat dua botol soju. "Aku benci Junhui~" gumam Mingyu.
"Iya, kau sudah bilang itu berulang kali."
"Aku benci Junhui~" ujar Mingyu setengah berteriak.
"Tenang Gyu. Aku tahu kau patah hati, tapi jangan seperti ini. Ayo pulang."
"Tidak mau~ Mau bertemu Minghao."
"Mingyu…"
Mingyu meletakkan kepalanya di atas meja.
Seokmin geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabat sekaligus atasannya di kantor ini. Ia meletakkan beberapa lembar uang di meja lalu meletakkan tangan Mingyu di lehernya dan menyeretnya ke mobil.
Seokmin duduk di balik kemudi setelah mendudukkan Mingyu di kursi depan dan memakaikan sabuk pengaman pada atasannya itu. Ia melajukan mobilnya menuju kediaman Mingyu. Setelah sampai, Seokmin turun dari mobil dan menekan bel rumah Mingyu.
"Sajangnim, maaf mengganggu malam-malam," ucap Seokmin sambil membungkukkan badannya ketika Junhui membuka pintu gerbang.
"Ne, apa yang membawamu kemari Seokmin-ssi?"
"Suamimu mabuk, aku mengantarnya pulang. Dia ada di dalam," kata Seokmin sambil menunjuk mobil di belakangnya.
Junhui memasang wajah tidak enak. "Maaf merepotkanmu."
Seokmin tersenyum. "Tidak masalah. Dia juga temanku," katanya lalu membuka pintu mobil dan menarik Mingyu yang setengah sadar untuk turun dari mobil.
Kini Mingyu sudah dipapah oleh Junhui. "Terima kasih, Seokmin-ssi," kata Junhui.
"Aku pulang dulu, sajangnim," pamit Seokmin.
"Hati-hati," ujar Junhui. Ia menunggu mobil Seokmin menghilang dari pandangan lalu mengunci pagar dan membawa Mingyu ke kamarnya. Junhui menidurkan Mingyu di tempat tidurnya. Ia melepas kedua sepatu serta kaus kaki lelaki itu.
"Jun-ie~ Mau kemana~?" tanya Mingyu ketika Junhui hendak meninggalkan kamarnya.
"Eh?" Junhui terdiam di tempatnya dan membalikkan badan untuk melihat Mingyu.
Mingyu bangun lalu dengan oleng berjalan ke arah Junhui. "Jun-ie~" gumamnya lalu memeluk Junhui dengan erat.
Junhui terpaku di tempatnya. "Mingyu, kau mabuk."
"Tidak, aku baik-baik saja~"
"Tidurlah Gyu, sudah malam," kata Junhui sambil berusaha lepas dari pelukan Mingyu yang semakin lama semakin erat.
"Junhui-ya. Jangan pergi~" ujar Mingyu. Sebelah tangannya menelusuri tulang belakang Junhui sampai ke bokongnya.
Junhui otomatis mendorong Mingyu. Ia berbalik hendak pergi dari kamar itu.
Mingyu menarik Junhui dan membanting tubuhnya ke ranjang. Ia menumpukan kedua tangannya di kanan dan kiri kepala Junhui. "Aku bilang, jangan pergi 'kan?"
Junhui menatap Mingyu ketakutan. "G-gyu."
"Hari ini Minghao memutuskanku."
Junhui menatap Mingyu iba.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau tahu 'kan siapa penyebabnya," kata Mingyu lalu menyeringai.
"G-gyu…"
Mingyu terkekeh lalu mendekatkan kepalanya pada telinga Junhui. "Aku sangat membencimu, kau tahu." Ia menjauhkan kepalanya dan tersenyum. "Bagaimana kalau kuberi hukuman~?" ujarnya lalu membuka piyama Junhui dengan paksa.
"M-Mingyu!" seru Junhui ketakutan sambil berusaha untuk menepis tangan Mingyu.
.
TBC
.
Ya… Jadi gitu kenapa pake Seungcheol jadi pacarnya Jun
Selamat buat Seventeen yang menang Worldwide Favorite Artist~ mana performnya indah banget.
Btw, masih adakah penghuni di sini? :')
Krisar? Terima kasih sudah mampir!
