Selamat membaca cerita aneh ini, Jangan lupa untuk vote ataupun memberi komentar. Karena penghargaan sekecil apapun dari kalian punya arti seluas lautan bagi author underrated seperti saya. Thanks❤
Saat pagi telah menjelang, satu-satunya orang yang ada di dalam apartemen selain pria tunanetra itu hanyalah Mark. Pria kurus itu bilang, Johnny punya acara penting dengan pihak atasan, termasuk jajaran kepolisian di bidang tertentu. Aroma kimchi yang khas langsung menyapa indera penciuman Ten hingga sosok cantik itu sempat mengernyit selama beberapa detik.
"Kau yangㅡ"
"Bukan. Semuanya hasil karya Johnny hyung. Tiang berjalan itu tidak akan pernah mengizinkan aku memasak apapun kecuali air panas dan mi instan."
"Kenapa begitu?"
"Cerita sebenarnya sangat panjang. Tapi bisa disimpulkan kalau dapur di apartemen ini pernah terbakar karena ulahku. Jika kau ingin melihat bekasnya, aku bisa tunjukkan."
Lelaki cantik itu menggulum senyuman manis, kemudian duduk di atas kursi yang telah Mark siapkan sedari tadi.
Sosok bermarga Lee itu sepertinya butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk kembali menyadari perkataannya. Dengan cepat ia menghentikan pergerakan tangannya yang nyaris menyumpitkan nasi ke dalam mulut, kemudian menaikkan pandangannya ke arah Ten yang fokus dengan makanannya.
"Maafkan aku hyung."
"Jangan khawatir. Aku akan lihat suatu hari nanti..." jawab Ten dengan nada lembut.
"...semoga saja."
Matahari semakin bergerak naik. Jarum jam terus berputar seiring berjalannya waktu. Suara nyaring dari mesin-mesin kendaraan di bawah sana seakan menemani Ten yang masih setia duduk di balkon sejak setengah jam yang lalu, menikmati hembusan angin.
Suhu udara yang semakin panas rasanya sangat sesuai dengan pertengahan musim panas yang tengah mereka lalui di bulan ini.
"Rasanya akan sangat menyenangkan kalau pergi ke kolam berenang."
"Kalau begitu ayo kita pergi."
Suara bariton yang mendadak terdengar dari arah belakang langsung membuat Ten menutup mulut sekaligus menegapkan punggungnya yang semula bersandar pada tembok dibelakangnya. Saat suara langkah terdengar mendekat, pria itu meneguk salivanya dengan kasar, kemudian menahan napas.
"Bersikaplah dengan normal. Kau terlihat cukup tegang."
Ten segera menganggukkan kepalanya, kemudian menggigit bibirnya kasar, kembali menyandarkan punggungnya lalu menutup matanya perlahan. Kembali menikmati angin yang menerpa permukaan wajahnya.
"Apa kau percaya denganku, Ten?"
"Apa?"
"Heol, jangan bertanya balik saat aku bertanya padamu." Ujar Johnny dengan nada yang terdengar seperti seseorang yang tengah merajuk. Terdengar lucu sekaligus menggelikan disaat yang bersamaan.
"Sepertinya aku terlalu terburu-buru. Bukankah begitu?"
"Entahlah."
"Harusnya aku meminta persetujuanmu dengan baik-baik. Bukannya memaksamu tinggal."
"Tidak masalah, hal seperti itu jangan dipikirkan."
"Apa kau percaya kepadaku?"
"Tidak."
Jawaban yang Ten berikan sontak mengundang tatapan Johnny melalui ekor matanya. Pria itu tampak menahan napas, kemudian memalingkan wajah untuk sejenak. Entah kenapa suasana hatinya menjadi kalut hanya dalam hitungan detik.
"Pada awalnya tidak. Rasanya seperti... Seseorang memaksamu untuk pergi ke suatu tempat yang bahkan kau sendiri tidak tahu di mana. Aku terlalu takut dengan orang asing, terlebih setelah kejadian waktu itu." kemudian Ten memasang senyuman kecil, mengambil napas kemudian kembali bersuara.
"Aku bukan tipikal orang yang mudah percaya dengan orang asing. Sejak aku kehilangan penglihatan, semua orang menjauh, tapi akan mendekat saat mereka menginginkan sesuatu dariku. Hampir semua orang menjalin hubungan simbiosis parasitisme denganku. Tapi kauㅡ ah bukan. Kalian, kenapa?"
"Karena kami punya hati. Saat seseorang terpeleset, ada dua tipe dari respon yang orang lain berikan. Pertama, dia akan tertawa lalu menyumpahi. Lalu yang kedua, dia akan datang dan mengulurkan tangan. Dari dua perbedaan itu kita akan lihat, siapa yang punya hati dan siapa yang tidak."
Lantas Ten terdiam. Netra hitam itu menyiratkan tatapan kosong yang berbeda dari tatapan yang biasa ditunjukkan pria itu. Perkataan Johnny memang ada benarnya. Hanya karena kesalahan satu orang dalam sebuah kelompok. Semua orang di dalam kelompok itu jadi terkena imbasnya. Dalam arti lain, hanya karena beberapa orang tak tahu diri di luar sana, bukan berarti tak ada orang baik di antara mereka.
"Sekarang aku punya alasan untuk percaya denganmu." Ucap Ten sambil menggulum senyuman hangat.
"Ulurkan tanganmu."
"Untuk apa?"
"Setidaknya ulurkan sebentar." Suara bariton itu kembali masuk ke indera pendengarannya.
Saat tangan kanan Ten resmi terulur di hadapannya, tangan hangat yang lain datang memberikan sambutan.
Kelima jemari lentik itu bertautan dengan lima jemari yang lain, kemudian bergerak naik sedikit demi sedikit.
"Sebenarnya kau ini sedang apa?" Ten terkekeh geli saat kulit lembutnya bersentuhan dengan kulit wajah Johnny yang terasa sedikit lebih kasar. Singkat cerita, tangan kanan Ten tengah menangkup pipi tirus Johnny. Si pemilik wajah yang membantu Ten untuk merabai permukaan wajahnya.
"Apa kau bisa tahu bagaimana wajahku hanya dengan menyentuhnya saja?"
Raut wajah Ten terlihat lebih serius. Pria kecil itu lebih suka mengusap pipi Johnny dengan lembut, menimbulkan sensasi geli yang membuat Johnny terkekeh.
"Sepertinya wajahmu benar-benar wajah seorang pria."
"Ya?"
"Yang ku maksud adalah, kau punya wajah yang tampan, bukan sosok pria berwajah manis ataupun cantik."
Ah benar, Johnny akui kalau wajahnya memang wajah asli seorang pria. Rahang tegas, sepasang mata yang tajam, bibir tebal, hidung bangir yang cukup menawan. Setidaknya Johnny cukup bersyukur karena wajahnya yang tampan. Ia bahkan tidak ingin dan tidak bisa membayangkan jika punya wajah secantik Taeyong ataupun para laki-laki cantik di luar sana. Salah satunya adalah Ten.
Ketika tangan Ten semakin bergerak menjelajahi wajahnya, tatapan lembut Johnny jatuh pada wajah cantik milik sosok dihadapannya itu. Diam-diam Johnny memasang senyuman simpul, kemudian tangan kanannya yang semula memegangi pergelangan tangan Ten seketika berpindah menuju surai hitam itu, mengusapnya secara berulang.
"Sangat cantik."
"Apa?"
"Apa?!"
Saat Johnny sadar dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya, pria itu justru balik bertanya dengan mata membelalak. Sebelah tangannya yang semula bertengger di atas kepala Ten seketika Johnny tarik dengan cepat.
Sial.
Perkataannya barusan hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Ia hanya sekadar mengatakan kebenaran, tapi entah kenapa terasa cukup aneh jika diingat kembali.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Uh, ituㅡ kau ingin ke kolam renang, kan?"
"Entahlah, kedengarannya cukup menarik sekaligus asing. Aku tidak pernah ke kolam renang ataupun waterpark. Berendam di bath up saja sudah cukup."
"Kau harus berenang di kolam yang luas. Bath up tidak akan muat untuk kita berdua, kau tahu?" Johnny memelankan suaranya di kalimat terakhir, mungkin karena gurauan pria itu terdengar aneh. Cukup aneh hingga rona merah langsung menghiasi wajah cantik Ten.
"Aku akan ajak Taeyong, Mark, dan juga Jaehyun."
"Tapi mereka pasti sibuk."
"Untuk sekarang mungkin iya. Besok aku juga sudah mulai masuk kerja. Okay, kita akan pergi akhir pekan."
"Apa kau yakin mereka mau ikut?"
"Mark tidak akan mau sendirian saat yang lainnya sedang bersenang-senang. Taeyong jelas lebih memilih pergi ke waterpark, apalagi saat teman barunya ada di sana."
"Lalu bagaimana dengan Jaehyun? Dia seorang polisi."
"Dia akan datang kalau Taeyong memintanya. Seekor anak anjing tidak bisa berjauhan dengan induknya, kau tahu?"
Suasana yang tercipta di salah satu waterpark terkenal di Seoul jelas menggambarkan bagaimana ramainya tempat itu sekarang.
Semua orang pasti kenal Carribean Bay, bahkan sekalipun tidak pernah berkunjung ke sana maka sudah pasti mereka pernah menonton tayangan iklan di televisi ataupun videotron di beberapa gedung tinggi.
Kelima orang itu baru saja kembali dari ruang ganti untuk mengenakan pakaian yang sesuai. Hiruk pikuk yang didominasi dengan suara teriakan kebahagiaan hingga suara dari beberapa wahana air yang saling bersahutan setidaknya berhasil membuat Taeyong dan juga Mark merasa tidak sabar. Dua pria kurus itu terus saja merengek kepada Johnny dan Jaehyun agar berjalan lebih cepat supaya mereka bisa terjun ke dalam kolam, tapi nyatanya kedua tiang listrik itu hanya memberikan respons yang sederhana. Apalagi Johnny.
Johnny akan bilang, "Tidak bisakah kalian diam? Kita kemari karena Ten ingin berenang. Tapi kenapa malah kalian yang tidak sabaran?"
Lalu berakhir dengan Taeyong yang sibuk menarik tangan Ten bahkan bersikeras menggendongnya agar mereka bisa segera sampai ke tepian kolam.
"Astaga, airnya dingin Mark!. Ayo lompat!" teriak Taeyong kegirangan saat telapak kakinya baru saja menyentuh permukaan air yang sedikit bergelombang.
Suara sesuatu yang jatuh ke dalam air langsung membuat Ten menggerakkan kepalanya dengan wajah polos.
"Kalian tidak ingin berenang? Kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli tiket masuk, jadi jangan di sia-siakan. Ten hyung juga harus turun."
"Entahlah, sepertinya aku akan duduk saja di sini."
"Di tempat seramai ini? Apa hyung tidak tahu lelucon seperti apa yang akan dilakukan orang-orang saat melihat seseorang hanya duduk di pinggir kolam? Mereka akan melakukan apapun yang bisa membuatmu masuk ke dalam air.
Well, perkataan Jaehyun memang ada benarnya. Kebanyakan orang seenaknya saja menceburkan orang lain ke dalam air tanpa tahu apakah orang itu bisa berenang atau tidak. Mereka bisa saja meninggal, bahkan jika Ten ingin menunggu di tepian kolam sementara yang lainnya sibuk bermain air, ia juga bisa mati.
"Kau mau turun?"
"Ya."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Pria bersurai hitam itu tak bisa melihat apapun selain mengandalkan indera pendengarannya untuk mengetahui apa yang tengah Johnny lakukan sekarang. Suara sesuatu yang masuk ke dalam air seketika membuat Ten menebak jika Johnny baru saja masuk ke dalam air.
"Naikkan dia ke punggungku Jaehyun."
"Eh tunggu! Kenapa harus naik ke sana?"
"Aku akan menuntunmu masuk, kau tidak tahu kedalaman air jika tidak masuk ke dalam kolam."
"Tapi aku berat."
"Berat badan Johnny hyung lebih besar dibanding berat badan Ten hyung. Naik saja, hyung tidak tahu sudah seberapa jauhnya Taeyong dan Mark dari tepian kolam."
Suara husky Jaehyun kembali terdengar, bahkan berhasil merasuki diri Ten untuk menganggukkan kepalanya pelan, lalu bergerak maju secara perlahan. Kedua tangan Johnny langsung melingkarkan kedua tangan Ten ke lehernya, memaksa sosok itu untuk memeluk lehernya dengan erat supaya tidak jatuh dengan cara yang salah.
"A-ah! Tunggu! Rasanya dingin!"
"Tenang saja, kau akan terbiasa setelah ini."
Kedua pria tampan itu sibuk mengurusi Ten, hendak membawa pria kecil itu ke tempat yang sedikit lebih rendah. Sedangkan Taeyong dan Mark sudah pergi ke tengah kolam. Mereka berdua jelas punya dunianya sendiri.
"Ayo turun."
"Tapi aku takut tenggelam!"
"Tidak akan tenggelam. Airnya hanya sebatas dadaku saja."
"Tapi kau lebih tinggi dariku."
Ya, yang Ten katakan memang benar. Tapi demi Tuhan! Johnny sudah mengukur tinggi badan pria itu, sebelum membawanya ke tempat yang sesuai, jadi tidak akan ada yang perlu Ten khawatirkan. Saat Johnny mulai melepaskan kedua kaki Ten yang semula melingkar di pinggangnya, pria kecil itu sepertinya sudah mulai tenang. Sekalipun Ten tenggelamㅡ Oh bukan, Johnny tidak akan membiarkan pria kecil itu tenggelam meski hanya di dalam pikirannya saja.
Saat kaki Ten sudah sepenuhnya berpijak pada lantai marmer di bawah sana, senyuman antusias muncul di sudut bibirnya. Perubahan mood Ten bisa berlangsung dengan sangat cepat ternyata.
"Aku sudah bilang kalau airnya cuma sebatas dada. Sekarang kau senang?"
"Aku hanya tidak ingin mati sekarang."
Johnny langsung tertawa keras setelah mendengar jawaban konyol yang Ten berikan. Bahkan sekalipun beberapa pasang mata menatap ke arahnya, pria jangkung itu nyatanya tak peduli.
"Apanya yang lucu?"
"Tentu saja kata-katamu. "Aku hanya tidak ingin mati sekarang." Seseorang tidak akan mati kalau belum waktunya, bahkan sekalipun kau memotong urat nadimu sendiri."
"Memangnya kau tidak takut dengan kematian?"
"Tentu saja takut. Pekerjaanku sangat beresiko, kau tahu? Seseorang pernah bilang, nikmati hidupmu meski kau akan mati lima menit setelahnya. Jadi tak ada yang perlu aku khawatirkan. Tapi omong-omong, kita kemari untuk berenang, bukan bercerita tentang hidup dan mati." nada bicara Johnny terdengar mengejek di akhir kalimat.
Karena bagaimanapun Johnny memang benar, mereka bersusah payah datang hanya untuk satu tujuan, yaitu mendinginkan tubuh di tengah terik matahari. Bukan untuk melakukan hal yang lain.
"Ten! Kau aku mau ikut ke wahana lain?" Teriakan Taeyong dari jarak lima meter langsung mengalihkan perhatian Johnny dengan cepat.
Sosok yang paling tua di antara mereka itu kemudian merangkul pundak Ten dengan erat, kemudian membisikkan sesuatu yang sudah pasti tak bisa didengar oleh siapapun kecuali Ten.
"Main disini saja."
Bibir Taeyong seketika menekuk."Tapi disana lebih seru. Aku mau naik seluncuran di atas sana."
Saat jari telunjuk Taeyong mengarah ke salah satu seluncuran tinggi yang jaraknya lumayan jauh, Johnny refleks menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Ten tidak bisa naik itu."
"Kenapa tidak?"
"Terlalu tinggi, setidaknya pergilah dengan Mark atau Jaehyun. Yang jelas kami tidak akan pergi."
"Baiklah, aku akan pergi dengan Jaehyun saja. Setelah itu aku mau makan es krim dengan Ten. Sampai nanti."
Menit demi menit telah berlalu dengan cepat, tapi pasangan kekasih itu masih belum kembali sejak lebih dari lima belas menit yang lalu. Ten sudah naik dari kolam sejak lima menit karena merasa kedinginan, sama halnya dengan Johnny. Sedangkan Mark sibuk bermain dengan anak-anak disekitarnya, kadang menertawakan sesuatu yang tidak lucu tanpa henti.
"Kau tidak lapar?"
"Sedikit."
"Haruskah aku menyusul Taeyong dan Jaehyun? Mereka terlalu lama."
"Mereka sudah kembali, lihat kesana hyung." Perkataan Mark benar, Jaehyun dan Taeyong sedang dalam perjalanan sambil berpegangan tangan sekaligus membicarakan sesuatu yang terlihat menyenangkan.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai selama ini?"
"Kami naik seluncuran sebanyak tiga kali. Butuh waktu lama untuk naik ke atas."
Johnny langsung menarik napas, kemudian menepuk pundak Ten dan meminta sosok itu untuk bangkit. Kelima pria itu masuk ke dalam ruang ganti yang terpisah. Kecuali Taeyong yang mengajukan diri untuk membantu Ten berganti pakaian. Jadi dalam arti lain, Ten dan Taeyong berada dalam satu ruangan.
"Apa kau merasa risih saat bersamaku?" tanya Taeyong dengan sedikit berbisik.
"Tidak. Kau orang yang menyenangkan."
"Sungguh?"
"Apa aku terlihat membohongimu?"
Saat netra hitam milik Taeyong menatap netra Ten dengan lekat, pria kurus itu langsung tersenyum, kemudian menangkup wajah cantik milik sosok di hadapannya dengan gemas.
"Tidak. Kau sangat jujur. Wajahmu sangat cantik untuk ukuran seorang pria. Oh ya, apa kau pernah memiliki kekasih?"
"Tidak."
Air muka Taeyong langsung berubah masam."Ah benar, pasti karena kau tidak bisa melihat. Cih yang benar saja, siapa yang tidak tertarik dengan wajah ini heung?"
Ten terkekeh sambil menyentuh kedua tangan Taeyong dengan lembut. "Semua orang tidak akan tertarik."
"Tapi aku sangat tertarik. Kalau aku bukan kekasih Jaehyun, aku akan menjadikanmu kekasihku. Oh ya, apa kau tertarik dengan seorang pria? Atau seorang gadis?"
Senyuman Ten sedikit menipis.
"Ah..." kemudian ia memotong perkataannya sendiri.
"Aku tertarik dengan seorang gadis."
Respon yang tak terduga dari si pria tunanetra.
"Saat kau tahu aku dan Jaehyunㅡ"
"Aku tidak punya masalah dengan itu. Semua orang bebas mencintai siapapun."
"Lalu apa kau pernah menyukai seseorang?"
"Tidak."
Pergerakan tangan Taeyong sedikit terhambat saat pria bermarga Lee itu tengah memakaikan sweater rajutan berwarna hitam ke tubuh Ten yang sedikit berisi. Dengan mata yang memicing ke arah netra hitam itu, ia bisa melihat sebuah senyuman yang terlampau tipis masih terpatri di sudut bibir milik yang lebih muda.
Rasanya kekosongan bukan hanya ada dalam tatapan mata ataupun kehidupannya saja, melainkan juga hatinya. Sebuah alasan yang sama seakan menjadi tembok bagi Ten untuk bisa dekat dengan orang-orang di sekitarnya.
Pria itu memang buta, tapi Taeyong yakin jika hatinya tidak. Tapi orang-orang di sekitarnya punya hati yang dibutakan oleh kesempurnaan.
Maknanya, matanya memang buta, tapi hatinya tidak akan buta saat ia bisa menerima kekurangan. Tapi hati seseorang yang sempurna bisa menjadi buta saat mereka haus akan kesempurnaan, buta atau tidak rasanya akan sama saja.
TBC
Sampah banget ga sih? Rasanya kasian bat karena yg review cuma 1 orang, yg baca bahkan gak sampe 20 orang :')) 1 orang pembaca setia sudah cukup mengubah mood. Rasanya pen berenti dari ffn dan pindah ke wattpad. Kek author lainnya. Tahukah kamu perbandingan antara ffn sekarang dan wattpad? Ibarat 1 : 100. 1 untuk ffn dan 100 untuk wattpad :') Sedih, but thank you so much~ Wp yuyut PreciousJT. IG... Ada deh :'' intinya sering ditag akun dazed_eyes02 uwwwwwuuuuuuu
Ngetik apasih anjay. :''
Chapter depan mulai konflik kecil2an(?) berkaitan dengan Job seseorang.
Krik.
Aminin aja author nya tetep di ffn
Krik.
