Matahari telah keluar sepenuhnya dari ufuk timur, sudut-sudut kota juga sudah ramai dengan orang yang sedang berjalan-jalan menikmati hari liburnya, jalan pun juga ramai dilintasi banyak kendaraan, bunyi-bunyi klakson juga ikut menghiasi ramainya kota ini pada hari minggu.
Banyak orang memilih menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan dengan keluarga, tetapi juga ada yang memilih tinggal dirumah untuk menghilangkan penatnya bekerja selama seminggu lalu. Namun berbeda dengan perempuan bersurai softpink yang sedang terkena sidang oleh seseorang diapartemennya, lebih tepatnya ia disidang dimeja makan saat sarapan.
"Bagaimana rasanya tidur ditemani oleh pria lain semalam tadi?" Ucap seorang laki-laki yang sedang menatap mata Sakura tajam.
Sakura menyerngit, "Huh? Apa maksudmu? Aku tak mengerti."
"Diselamatkan dua kali oleh pria brengsek itu, dia bahkan mengutarakan alasan konyol." Sasuke mengeluarkan senyum miringnya lalu beranjak pergi tanpa menghabiskan sarapannya.
Sakura mendesah sebal, "Apa sih yang dia maksud? Dasar aneh."
"Sakura kau nanti harus ikut denganku!" Perintah Sasuke tanpa mau dibantah.
Apa-apaan dia hari ini?!
.
Love Line
Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I didn't take any personal commercial advantages from making this fanfiction.
Warning: AU, typo(s), EyD tidak ternotice, tidak ngefeel, membosankan, etc.
.
Don't like, Don't read!
.
.
-flashback-
Sasuke melirik jam yang berada di ruang tengahnya, sudah jam 11 malam. Pikirannya terbang memikirkan Sakura yang sedang sendirian diatap.
Apa dia baik-baik saja? Kemarin baru disekap diruang seni saja dia sudah demam, apalagi kalau disekap di ruang terbuka seperti di atap..
Apa jangan-jangan dia sekarang sedang stres karena sendirian?
Apa jangan-jangan dia depresi lalu dia memilih melompat dari atap sekolah dan besok akan ada berita besar guru bunuh diri karena muridnya?!
AARRGGGGH!
Sasuke berjalan mondar-mandir tiada henti seperti setrikaan. Tampak dari garis wajahnya, dia sedang sangat cemas terhadap Sakura. Bagaimanapun juga Sakura itu adalah istri sahnya Sasuke, jadi jika Sakura kenapa-kenapa itu akan menjadi tanggung jawab Sasuke.
Apalagi kalau Sakura sampai mati, pasti Sasuke yang kena tuduhan pertama kali.
Tetapi setiap dalam lubuk hatinya, Sasuke masih belum menerima Sakura menjadi istrinya, ia masih ingin bebas menikmati hidup tanpa ikatan yang menyebalkan seperti ini.
Pada sisi lainnya dia mencemaskan Sakura jika hal buruk benar-benar terjadi dan pada sisi yang lainnya ia masa bodo dengan Sakura, seakan-akan Sakura itu bukan siapa-siapanya.
Setelah hampir 10 menit ia berdebat dengan hati dan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Sakura pulang. Ia benar-benar tak mau Sakura terkena hal buruk, dengan cepat ia lari kedalam kamarnya untuk mengambil jaketnya dan jaket milik Sakura.
Sesampai disekolah ia memanjat pagar sekolah yang tidak terlalu tinggi itu lalu berlari kearah atap, semoga saja Sakura masih baik-baik saja. Sesaat hampir sampai diatap, dia mendengar suara seseorang sedang berbicara.
"Sensei-"
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Sasuke melihat Sai yang sedang menolehkan kepalanya dan mendapati Sakura sudah tertidur bersandar ke tembok. Sai mengamati wajah Sakura lalu tangannya terangkat untuk menyisir beberapa helai rambutnya yang menerpa wajahnya karena terbawa angin.
Sasuke geram, ia melihat Sai berusaha mencium Sakura.
BRAK. Sasuke membuka pintu itu kasar.
Sai menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang masuk, orang itu menatap Sai dengan tajam dan dingin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke dengan dingin. Tangannya terlihat tengah memegang sebuah jaket tebal. Ya, rencananya Sasuke akan memakaikan jaket itu untuk Sakura lalu membawanya pulang.
Sai tak menjawab pertanyaan orang itu. Sekarang ini, Sasuke terlihat sangat marah padanya. Sai harus siap-siap dibenci oleh Sasuke. Sau bangkit berdiri dari posisi awalnya, ia berjalan mendekat kearah Sasuke dengan senyum mengejek yang menyebalkan dimata Sasuke.
"Hoo, jadi kau adalah pahlawan kesiangannya?" Tanya Sasuke datar, tetapi tatapannya tajam menusuk.
Bukannya menjawab, Sai malah tertawa pelan dan memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Sasuke semakin dibuat emosi melihat tingkah Sai. Sasuke melempar jaket yang sedari ia pegang ke sembarang arah lalu mencengkram kerah baju Sai dengan kasar.
"Jawab aku, bodoh!"
"Ya, kenapa? Ada yang salah?"
"Tsk!" Sasuke melepas kasar cengkramannya sehingga Sai sedikit terhuyung kebelakang.
Sai menyunggingkan senyum menyebalkan seperti biasanya, "Aku benar-benar ingin lulus tahun besok, Sasuke." Ucapnya dengan tatapan serius.
"Apa hubungannya dengan perempuan itu? Kau menyukainya, huh?"
"Tidak. Aku mendekatinya perlahan agar kita bisa lulus tepat waktu besok, dia akan memberikan sedikit otaknya agar kita lulus." Sai menepuk lengan Sasuke pelan.
Sasuke masih menatapnya tajam, "Kita akan segera mengakhiri penderitaan kita di SMA." Sai menoleh sekilas kearah Sakura yang masih terlelap lalu melenggang pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura di atap.
Pembual.
'Aku mendekatinya perlahan agar kita bisa lulus' Sasuke tersenyum miring sesaat mengingat ucapan Sai barusan, "Lulus katamu? Kau pikir aku bodoh. Berusaha menolongnya dua kali dan ingin menciumnya?!"
Sasuke sudah diliputi oleh emosi, "Bodoh sekali dia." Ia mengusap wajahnya kesal, lalu matanya beralih kearah Sakura yang dengan damainya tidur bersandar didinding. Sasuke mendecih kesal lalu balik badan meninggalkan Sakura.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, Sasuke berbalik dengan kesal. Ia tak bisa meninggalkan Sakura. Ia segera meraih jaket Sakura yang tadi saat sedang emosi ia lempar, ia membersihkannya dari debu lalu memakaikan pada tubuh Sakura dan ia segera membawanya pergi pulang.
-flashback end-
Sasuke sedang menunggu seseorang di ruang tengahnya, sudah berkali-kali ia meneriakkan nama orang yang ia tunggu tetapi orang itu bekum muncul juga.
"SAKURA!"
"Aiisssshh!" Sakura keluar dari kamar mereka dengan kesal, "Tidak bisalah kau bersabar sedikit? Kita mau kemana?" Tanya Sakura kesal. Rasanya sedang ganti baju lalu diburu-buru itu tidak enak, apalagi Sakura belum menyisir rambutnya dan terpaksa dikucir ponytail agar tidak terlihat kusut sekali.
Sasuke hanya menatap Sakura datar, "Ayo cepat!" Sasuke berjalan mendahuluinya, meninggalkan Sakura yang masih sibuk mengucir.
"Isssshhh..!" Sakura lama-lama jadi sebal.
Sakura masuk kedalam mobil Sasuke lalu menutup pintunya dengan kasar membuat Sasuke menatapnya sinis, awas saja kalau sampai mobil kesayangan Sasuke ini rusak karenanya, Sasuke akan menjamin seumur hidup Sakura tidak akan pernah damai -walaupun sekarang sudah tidak damai, Sasuke akan menambahnya lagi sehingga hidup Sakura jauh dari kata damai.
"Kenapa? Katanya buru-buru, cepat jalankan mobilnya." Sakura tak kalah sinis dari Sasuke.
.
Sasuke memberhentikan mobilnya didepan sebuah hotel bintang lima, Sakura langsung bergidik horor, untuk apa mereka kesini?
Sasuke keluar duluan dan membukakan pintu untuk Sakura, "Cepat keluar!" Sakura hanya diam sambil menatap Sasuke dengan tatapan ada-om-om-mesum-nafsu.
Seakan-akan mengerti arti tatapan Sakura, Sasuke langsung mendesah kesal, "Kita mau makan direstoran hotel ini. Sudahlah cepat."
Sakura dan Sasuke berjalan masuk kearah restoran milik hotek tersebut. Baru menginjakkan kakinya selangkah saat memasukki restoran, Sakura sudah merasakan nanti akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
"Yo, Sasuke!" Panggil seseorang yang Sakura bisa pastikan itu pasti Uzumaki Naruto tanpa melihat orangnya terlebih dahulu, suara berisik menganggu telinga itu sangat khas.
Sakura dan Sasuke telah sampai kemeja mereka, ah bukan, meja yang telah dipesan oleh gengnya Sasuke.
"Haruno-sensei, ayolah jadi guru les kami." Mohon Naruto tanpa basa-basi kepada Sakura,
"Tidak mau. Sudah? Hanya itu kan? Oke aku mau pulang." Sakura beranjak berdiri lalu balik badan. Baru selangkah, tangannya sudah dicekal oleh Sasuke dan ditarik kasar agar kembali ketempat duduknya.
"Kyaa-!" BRUK. Karena tarikan Sasuke yang kasar tersebut membuat Sakura oleng dan terjatuh kebelakang dengan pantat mendarat duluan.
Kebetulan sekali, restoran ini tidak pernah sepi dari pengunjung, selalu ramai, dan sekarang semua pasang mata menatap Sakura yang masih dalam posisi terduduk dilantai itu. Sakura merasa malu, ia menatap tajam Sasuke dan dengan mata yang berkaca-kaca Sakura pergi meninggalkan mereka berempat.
Mereka berempat masih terlihat cengo karena kejadian tadi, setelah Sakura pergi gantian mereka jadi pusat perhatian, orang-orang mengira bahwa empat laki-laki ini yang mencelakai Sakura tadi.
"Ah, kita jadi ditatap sebagai penjahat." Celetuk Shikamaru sembari melirik kanan kirinya.
"Aku tak mengerti kenapa Uchiha satu ini bodoh sekali." Ucap Naruto sebal.
Sasuke mendelik, "Apa?!"
"Gara-gara kau dia pergi." Sai menatap lurus mata Sasuke, sedangkan yang ditatao hanya melirik sekilas, "Dia memang mau pergi, kan?"
"Tapi kau membuatnya malu Sasuke, bisa dipastikan kita tidak jadi lulus tahun depan." Ucap Shikamaru nelangsa sembari menyeruput orange squash-nya.
"Aku ingin lulus~!" Naruto semakin nelangsa.
Sasuke berdecak kesal lalu beranjak berdiri, "Kenapa jadi aku yang salah?! Sejak awal dia memang tidak mau dan ingin pergi dari sini." Ia pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Arrgg, kenapa dia pergi juga?!" Teriak Naruto kesal, ia mengacak-acak rambutnya gemas, sedangkan Sai dan Shikamaru hanya diam menikmati minumannya.
.
Sasuke masuk kedalam mobilnya dengan kesal, ia meraih ponselnya berniat menghubungi Sakura untuk meminta maaf tentang yang tadi tetapi sesuatu membuatnya berhenti. Matanya melihat tas Sakura yang duduk cantik menggantikan sang pemikik dikursi mobilnya.
Alis Sasuke berkedut kesal, "Dia itu pelupa atau memang bodoh? Bisa-bisa dia tidak membawa tasnya saat keluar tadi!?"
Sasuke bisa pastikan Sakura masih berkeliaran disekitar sini karena tak mungkin dia akan naik taksi untuk pulang, tas beserta uangnya saja ada didalam mobil, mau bayar taksi pakai daun?
Selagi Sakura belum jalan jauh dari sini, Sasuke segera menjalankan mobilnya untuk mencari Sakura dan tepat sekali, belum ada 1 kilometer dari hotel itu, Sasuke melihat Sakura sedang berjalan lesu di trotoar, dengan cepat ia meminggirkan mobilnya disamping Sakura persis.
Sasuke membuka kaca jendelanya, "Ayo pulang." Suruh Sasuke sambil mengode untuk masuk. Sakura hanya menatapnya dalam diam lalu segera membuang mukanya dan melanjutkan jalannya.
Sok jual mahal.
"Cih." Sasuke menjalankan mobilnya pelan menyeimbangi langkah Sakura, "Kau tidak mau masuk? Yasudah, jalanlah sampai apartemen, bye-"
"Hei!" Sakura berjalan mendekat kearah mobil dengan kesal, kenapa malah dia jadi plin-plan begini?
Saat Sakura masuk kedalam mobil, Sasuke hanya bisa menahan tawa gelinya melihat Sakura yang masuk dengan mulut manyun, sok merajuk tetapi gagal.
Aku dipermainkan, batin Sakura semakin sebal.
"Kau harus mau menjadi guru les-" belum selesai Sasuke bicara, kalimatnya telah dipotong oleh Sakura, "AKU TIDAK AKAN MAU, SIALAN!" ucapnya berteriak sebal.
"HEI TIDAK PERLU BERTERIAK BEGITU, BODOH!" teriak Sasuke tak mau kalah.
"KAU JUGA BERTERIAK, SIALAN!"
"KAU YANG PALING KERAS!"
"KAU MENYEBALKAN, SETAN!"
"NENEK SIHIR!"
"ES BATU!"
Seketika perdebatan konyol mereka berhenti saat berada di lampu merah, "Ah sudahlah, pokoknya kau harus mau jadi guru les kita."
"Kalau begitu, kau dan gengmu itu harus menurut pada peraturan yang kubuat."
"Menurut? Ah, tidak mau." Tolak Sasuke cepat saat mendengar syarat dari Sakura.
Sakura mendesah pasrah, "Yasudah, cari guru lain saja."
"Iya iya, kita akan menurut dengan peraturanmu." Pada akhirnya, Sasuke setuju juga dengan syarat Sakura tadi.
Sepanjang perjalanan Sasuke mendengarkan omelan Sakura yang sangat berisik, memekakkan telinga Sasuke, "Ihs, kalian itu ya, menyebalkan sekali! Sudah menyiksaku dan melecehkanku lalu sekarang memohon-mohon untuk aku menjadi guru les kalian, sebenarnya kau dan geng gilamu itu sedang mempermainkanku, kan?
Sasuke mendesah kesal, rasanya ia ingin tuli sekarang ini, "Sakura-"
"Kau yang paling menyebalkan diantara mereka! Kau yang paling mempermainkanku, rasanya seperti aku itu tidak ada harganya dimatamu-"
CIT. DUGH. Sasuke dengan sengaja mengerem mobilnya secara mendadak dan berhasil membuat jidat cantik Sakura mencium dashboard dengan romantis.
"HEI-"
CUP. Sasuke mencium Sakura tepat disudut bibirnya dengan sekilas.
Tadinya, Sakura ingin mengomeli Sasuke dengan sumpah serapahnya tetapi mendadak dia menjadi bungkam karena ciuman mengejutkan dari Sasuke.
"Tsk! Kau ini cerewet sekali." Sasuke kembali melanjutkan mobilnya, sedangkan Sakura hanya diam sambil melihat kearah luar melalui jendelanya, dia masih sangat malu, first kiss-nya direbut oleh Sasuke.
Karena sepanjang perjalanan terjadi keheningan dan membuat Sasuke menjadi bosan tiba-tiba ia memiliki sebuah ide untuk memancing kemarahan Sakura lagi.
Astaga, Sasuke tidak bosan-bosannya membuat Sakura marah, hm.
Dengan sengaja, Sasuke menambah kecepatan mobilnya saat berada dijalan yang sepi dan membuat Sakura merasa tidak nyaman.
"Sasuke pelankan kecepatan mobilmu!" Ya, emang dasarnya Sasuke anak bandel, bukan mengurang malah ia menambah kecepatannya.
Sakura semakin ngeri, "SASUKE PELANKAN KECEPATANMU ATAU AKU MELOMPAT KELUAR?!" Teriaknya sembari bersiap untuk membuka pintu.
"HEI HEII! KAU GILA! KAU INGIN MATI, HUH?!" terpaksa Sasuke menurunkan kecelatannya perlahan.
"KAU MENGESALKAN UCHIHA SASUKE!"
"TIDAK BISAKAH KAU BERHENTI BERTERIAK, TELINGAKU PANAS MENDENGAR OMELANMU SEJAK TADI!" Sasuke labil.
"TIDAK. MULUT MULUTKU! BUKAN MULUTMU! TERSERAH AKU!"
"APA MAUMU SEBENARNYA?!"
"Eh? Mauku?...ice cream? Hehe"
Setelah kejadian latian seriosa Sasuke dan Sakura di mobil akhirnya dengan terpaksa -agar Sakura diam- Sasuke membelikannya es krim sesuai pesanan Sakura dan menemaninya makan di taman.
Sasuke melihat Sakura dengan padangan yang sulit diartikan, diantara senang, jijik dan sebal.
"Kau puas?" tanya Sasuke yang masih memandang Sakura dengan tatapan yang belum bisa diartikan tadi, sedangkan yang ditanya hanya menjawab dengan menganggukkan kepala dan kembali sibuk memakan es krimnya kembali.
Sekarang dimata Sasuke, Sakura tidak terlihat seperti peremouan berumur 21 tahun melainkan seperti anak kecil yang berumur 10 tahun.
"Apa kalian...itu benar-benar...ingin lulus?" Tanya Sakura sambil menghabiskan es krimnya yang tinggal dua gigitan lagi tersebut.
"Hn."
Sakura mengangguk, "Sesuai kesepakatan kita tadi, kalian akan menurut pada peraturan yang aku buat."
Sasuke menatap Sakura yang duduk disampingnya dengan tatapan tidak enak, tatapan tidak suka.
"Kenapa? Kau menolak?"
"Tsk!"
Sakura mendesah ringan, "Yasudah kalau kau menolak," ia bangkit berdiri dari bangku taman hendak membuang bungkus es krim ke tempat sampah yang terletak cukup jauh dari bangku mereka berdua.
Baru mau melangkahkan kakinya, tangan Sakura sudah ditarik oleh Sasuke -tidak seperti tadi saat di restoran, kali ini Sasuke menariknya sedikit lembut. Sedikit. Jadi Sakura tidak jatuh terjengkang kebelakang, dia hanya sedikit oleng.
Wajah Sakura sejajar dengan dada bidang milik Sasuke, ia mendongakkan kepalanya dan matanya langsung bertemu dengan mata onyx milik Sasuke, sangat tajam, dingin, menusuk, namun entah kenapa atau Sakura sudah terjangkit virus masokis, ia merasa senang ditatap oleh Sasuke karena dibalik sorot matanya yang tajam itu, seakan-akan tatapan Sasuke mengatakan jangan-pergi-dariku.
Sayang sekali, itu hanya imajinasi dari inner Sakura saja, tak mungkin Sasuke seperti itu.
Jarak wajah mereka cukup dekat sehingga membuat Sakura dapat melihat wajah tampan milik suami coretbrondongcoret. Ia akui kalau Sasuke tampan yang kesekian kalinya.
"Baiklah, buatlah peraturan itu...sensei." Sakura hanya mampu mengangguk, ia masih terpesona oleh wajah tampan milik Sasuke yang ada didepannya.
Sasuke tersenyum tipis namun sudah berhasil membuat jantung Sakura yang tadi masih normal menjadi abnormal, rasanya jantungnya ingin keluar dari tempatnya dan meledak.
Tangan Sasuke yang sedari tadi mencengkram kini perlahan menjadi menggenggam tangan halus milik Sakura dan sekarang rasanya Sakura ingin mati saja. Jantungnya sangat berisik, ia takut Sasuke bisa mendengarnya, ia juga merasa tiba-tiba sesak nafas.
Entah ada angin apa, Sasuke memajukan wajahnya, menghapus jarak antara wajahnya dan wajah milik Sakura. Nafas panas milik Sasuke pun terasa menyapu kulit wajah Sakura. Mungkin karena terlalu grogi, Sakura memundurkan kepalanya sedikit dan menunduk.
Tangan Sasuke yang masih bebas meraih dagu Sakura untuk mendongak dan mematap wajah Sasuke. Ternyata baru hitungan detik belum menit, sejak Sakura menunduk lalu mendongak lagi, wajahnya sudah berubah menjadi kepiting rebus. Merah menahan malu, grogi.
Sasuke segera menempelkan bibirnya pada bibir tipis Sakura yang dari tadi menjadi target utama Sasuke. Melumatnya lembut, tanpa paksaan. Sedikit memancing Sakura untuk membuka mulutnya, dan akhirnya ia berhasil, Sakura perlahan membalas permainan Sasuke.
Sakura sudah jatuh dalam permainan bibir Sasuke. Ini adalah pengalaman pertama Sakura tentang lumat-melumat, jadi terkadang Sakura tidak bisa mengimbangi permainan Sasuke karena semakin lama, lumatan Sasuke semakin liar.
"..."
"KAA-SAAAANNN, ADA OM SAMA TANTE LAGI CIUMAN!" Bocah laki-laki yang sedang berlari-larian ditaman itu tiba-tiba melihat tontonan yang tidak senonoh dari Sasuke dan Sakura, ia segera berlari menuju ke arah ibunya untuk melaporkan kejadian yang baru saja ia lihat.
Sakura dan Sasuke langsung membelalakkan mata mereka, lalu sedang sekali gerakan, mereka saling mendorong untuk menjauhkan diri, dorongan dari Sakura paling kuat sampai membuat Sasuke terjatuh.
"KAU BODOH?!" Teriak Sakura sambil menunjuk wajah Sasuke.
Sasuke menyerngit, "Kenapa aku? Kau yang memulai!"
"Kau yang menciumku duluan!"
"Huh? Kau menuduhku? Kau yang mulai pertama."
"Cih, pakai mengelak segala. Tuan Uchiha kau yang menciumku duluan."
"Apa? Tidak. Maaf saja aku sudah tidak sudi menciummu. Kau yang mulai tadi!"
"Sialan! Baiklah, kalau begitu jangan pernah menciumku lagi!"
"Oke."
"Anggap tadi itu sebuah kecelakaan semata!" Setelah mengucapkan itu, Sakura menyambar tasnya yang berada dibangku taman tersebur lalu berjalan menjauh dari Sasuke. Ia sudah lelah berdebat dengan Sasuke dan begitu pula Sasuke, ia pergi berjalan menuju mobilnya untuk pulang.
.
Sudah hampir 3 jam ia berjalan-jalan tanpa arah, beginilah akibatnya jika sedang bertengkar dengan Sasuke, membuat ia malas untuk pulang tetapi jika tidak pulang nanti ia mau tidur dimana, karena sudah terlalu lelah berjalan kesana kemari tanpa tujuan akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja sebelum hari menjadi malam. Ia berjalan menuju halte bus.
"Ahhhh, capek sekali." Sakura memukul-mukul pelan betisnya yang sudah sangat kelelahan ia ajak jalan terus tanpa duduk. Ia menatap jalan didepannya, cukup ramai. Pada sebrang jalan ia melihat dua anak laki-laki yang sedang berjalan bersama, mengingatkannya pada teriakan anak kecik saat ditaman tadi.
Sungguh tontonnan yang memalukan. Dasar Sasuke mesum!
Sakura terkejut saat suatu benda yang dingin menyentuk pipi kirinya, ia segera menolehkan kepalanya dan mendapati seorang dengan senyum manis tercetak pada bibirnya.
"Hai, Sakura-sensei." Sapanya sopan.
"Sai..kenapa kau ada disini?" Tanya Sakura sambil sedikit bergeser agar Sai dapat duduk disebelahnya.
Sai menunjuk sebuah cafe disebrang, "Dari cafe itu dan aku melihatmu, yasudah kuhampiri saja, ini untukmu, sensei." Sai memberikan satu cup milkshake strawberry pada Sakura, "Kau pasti sangat haus, kan?"
Tanpa pikir panjang lagi, Sakura menerimanya dan segera meminumnya, ia sudah haus bandel sejak tadi, "Kau kenapa bisa ada disini?" Tanya Sai pada Sakura.
Sakura menghentikan acara minumnya sementara, "Aku terdampar disini karena laki-laki kurang ajar."
"Uchiha Sasuke?"
Sakura melirik Sai malas, ia sedang tidak mau mendengarkan nama itu, "Menurutmu?" Jawab Sakura gampang.
Sai terdiam sesaat, selang beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis, ia sedikit berterima kasih pada Sasuke karena telah meninggalkan Sakura disini.
"Lalu kau ingin kemana?" Tanya Sai memecahkan keheningan yang sempat terbentuk.
Sakura menggidikkan bahunya, awalnya dia ingin pulang namun setelah ia pikir-pikir sekali lagi, jika ia pulang ia akan bertemu dengan Sasuke sialan itu dan malah akan bertengkar lagi. Jadi, sebaiknya ia tak pulang saja. Sekali-kali ia akan menginap dihotel sendirian.
"Hmm, ayo ikut aku saja."
"Ke?"
Sai meraih tangan Sakura, "Sudah ikut saja." Ia menarik Sakura berdiri lalu mengajaknya untuk berjalan menjauh dari halte bus.
.
Sasuke sedang menikmati acara talkshow di televisi, sesekali sambil menyeruput softdrink-nya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Sakura belum sampai rumah juga. Sepertinya kali ini Sasuke masa bodo dengan keadaan Sakura.
Namun masa-bodo-nya itu hanya bertahan 5 menit saja, setelah itu, ia merasa cemas dengan keadaan Sakura.
"Perempuan itu, apa dia sudah lupa dimana arah apartemennya sendiri?" Sasuke mematikan televisinya dengan kesal. Ia segera meraih ponselnya dan membuka kontaknya, mencari sebuah nama yang pernah ia simpan beberapa hari yang lalu.
'NENEK SIHIR'
Akhirnya nama kontak yang ia cari ketemu juga. Tiba-tiba Sasuke dilema.
Ditelpon apa tidak ya...
Kalau tidak ditelepon, ia tidak tau apa yang terjadi pada Sakura, siapa tau ia sedang pingsan lalu tercebur selokan dan tidak ada yang menolongnya, kasian kan. Tapi kalau ditelepon nanti dikira Sasuke mulai naksir sama Sakura lagi.
Karena sudah lelah berkecimuk dengan pikirannya sendiri akhirnya Sasuke memutuskan untuk menghubungi Sakura saja, nanti kalau diangkat tinggal bilang kalau ibu Sasuke mencemaskan Sakura. Alasan kan banyak.
Sasuke masih dengan sabar gantengnya menunggu telepon itu diangkat. Ia berdecak sebal karena telepon darinya tidak diangkat, lalu ia mencobanya sekali lagi, baru bunyi 'tut' yang ketiga, telepon itu sudah diangkat.
"Moshi moshi,.."
"..."
"..."
Sasuke mencoba mencerna suara siapa yang ada disebrang sana, ia sadar itu bukan suara istrinya.
"Dimana Sakura?!"
Terdengar disebrang sana suara tawa pelan yang membuat emosi Sasuke meluap-luap.
"Dia ada bersamaku."
.
TBC
.
hayooo Sakura dibawa kemana ituuu...author gatau loh (?)
Maaf ini apdetnya agak lama hehehe... saya harap kalian suka smaa chapter ini... terima kaish atas riview dan fav dan follow nya...
